Aku tersentak kaget ketika melihat sosok-sosok itu tepat beberapa
senti di depan mobil yang tengah ku kendarai. Dengan reflex aku menginjak rem,
karena lupa menginjak kopling dan memindahkan gigi, mesin itu pun mati.
Aku tersenyum kikuk pada kedua sosok yang tersenyum ramah sambil
mengangguk kepadaku. “Hati-hati.” Kata bapak paruh baya yang mengenakan jaket
abu-abu itu. bocah perempuan, yang tampaknya baru berumur 9 atau 10 tahun di
sampingnya, menatapku tanpa berkedip. Rambutnya yang panjang sebahu menari-nari
terbawa sepoi angin yang lembut siang itu.
Dengan sigap aku langsung menyalakan mesin mobil lagi dan kembali
memasuki rute yang benar, kembali fokus pada latihan menyetirku lagi. Setelah
kurang lebih setengah jam aku mendengar ocehan ayah tentang apa yang harus dan
tidak boleh dilakukan ketika menyetir, akhirnya ia membiarkanku tinggal sendiri
di mobil, sedang ia pergi melihat pertandingan burung yang diadakan tidak jauh
dari rute belajarku.
Tentu saja aku senang bukan main, selain bosan mendengar petuahnya
yang tidak pernah ada perubahan sejak hari pertama aku belajar hingga kini
menginjak hari ketiga, aku memang ingin memberanikan diri sendiri hingga aku
terbiasa dengan mobil itu. Sesekali aku kehilangan control di beberapa
tikungan, tapi aku berusaha tenang, berusaha menyesuaikan diriku dengan keadaan
sekitar.
Rute tempatku belajar menyetir adalah sebuah jalanan tak terpakai,
yang dulunya dibuat untuk menjadi pelengkap di lahan perumahan, namun entah
karena alasan apa, perumahan itu tidak pernah terealisasi. Hanya menyisakan
petakan-petakan tanah lapang yang di kelilingi jalanan aspal yang mulus. Sangat
cocok untuk orang-orang yang ingin belajar menyetir sepertiku.
Siang itu, ada sekitar 6
mobil yang tengah berlatih; sebuah jeep, dua sedan, satu carry, satu avanza,
beserta mobilku. Cukup sedikit jika di banding sore hari, yang biasanya bisa
mencapai 8-10 mobil. Suasana yang terik membuatku membuka jendela mobil lebar-lebar, beberapa kali aku belajar
memindahkan gigi, dan itu berjalan sukses. Yang masih membuatku kikuk adalah
ketika harus tiba-tiba berhenti. Otakku akan dengan senang hati
melupakan kata-kata ayah yang mengharuskanku menginjak kopling, memindahkan
gigi dan menginjak rem! Ah betapa cerdasnya aku!! Batinku sarkastis.
Pantas saja pelajaran ayah tidak pernah berubah.
Aku membagi rute itu menjadi dua rute; rute dalam dan rute luar. Rute luar berarti
aku akan melewati jalanan yang mengitari seluruh tempat itu, persis seperti
jalan monopoli yang berbentuk segi empat; sedangkan rute dalam adalah rute
berkelok-kelok yang mengitari petak-petakan tanah lapang.
Biasanya aku hanya akan berada di rute dalam untuk melatih
refleksku membelokan setir, karena rute luar hanya ku gunakan untuk belajar
mengoper gigi, tapi saat itu, aku ingin mencoba hal baru, setelah mengitari
rute dalam sekali, aku mulai memasuki rute luar, mengoper gigi hingga gigi
tiga, mencoba menyeimbangkan laju mobil dan fokusku. Dengan perlahan ku injak
rem ketika melihat sosok bapak dan anak yang kini tengah berjalan di hadapanku.
Walau bagaimanapun aku masih belum terbiasa dengan keberadaan hal lain di
dekatku, salah-salah aku malah akan menabrak mereka.
Bocah itu meloncat-loncat kecil sambil memainkan ujung-ujung baju
coklatnya, mungkin ia tengah menyenandungkan sebuah lagu. Aku tersenyum tipis
sambil menoleh sesaat ketika melewati sang bapak, namun sepertinya bapak itu
tidak melihatku. Ia terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan, mungkin
memandang putrinya. Tapi siapa peduli juga.
Aku mengitari rute luar untuk yang kedua kalinya, dan untuk yang
ketiga kalinya aku memutar balikan arah mobilku, mencoba melawan arah. Aku
yakin ayah akan memarahiku jika dia duduk di kursi penumpang mendampingiku,
tapi toh saat ini dia tidak ada.
Dan kau bisa mengatakan mungkin aku memang benar-benar sial. Karena
terlalu santai aku tidak memperhatikan keadaan sekitar, hingga ketika melihat
sebuah mobil lain yang melaju dengan cepat ke arahku, aku mulai panic. Dengan
cepat ku belokan mobilku ke tikungan yang membawaku ke jalur dalam, tikungan di
mana pertama kali aku melihat sosok bapak dan anak perempuannya itu.
Masalah otakku, tentu saja, dengan kepanikan seperti itu
tidak mungkin aku ingat untuk menginjak kopling dan memundurkan gigi, jadilah
mobil yang ku kendarai berjalan tersendat.
“Pindah giginya!” aku tersentak ketika mendengar suara itu, sesaat
sebelum mesin mobilku mati. Aku tersenyum kikuk lagi, dua kali sudah mereka
melihatku terjebak dalam permainan mesin ini. Dan untuk kali ini aku mulai
merasa malu. Dengan segera aku menyalakan mesin dan berlalu pergi dari hadapan
mereka. Bapak itu masih tersenyum, sepertinya umurnya belum terlalu tua,
mungkin berkisar 30-40 tahunan.
Ketika sampai ke tikungan pertama di rute dalam, aku mulai merasa
aneh. Aku menghentikan laju mobilku dan menoleh kebelakang, ke tempat yang
seharusnya aku bisa melihat kedua sosok itu. Tapi mereka tidak ada.
Aku memindahkan gigi, hingga menekan angka satu, kemudian dengan
laju perlahan aku mulai memikirkan kedua sosok aneh itu.
Well, mereka sebenarnya tidak aneh, mereka berpenampilan biasa,
dengan si bapak yang memiliki sedikit jenggot itu menggunakan celana bahan
hitam dan jaket kaos abu-abu, dan bocah perempuan itu mengenakan baju selutut
berwarna coklat tua. Tapi selama ini aku memang tidak pernah memperhatikan
wajah bocah perempuan itu dengan seksama.
Tapi jika dipikir-pikir lebih jauh lagi, sepertinya aku mulai
menemukan beberapa keganjilan dengan keberadaan mereka. Saat itu pukul 2 siang,
saat matahari benar-benar menampakan sinar terik yang membakar kulit, dan
mereka berdiri di sana, di rute luar yang paling jauh dari keramaian, berdiri
di balik semak di tikungan tajam yang menghubungkan rute luar dan rute dalam
dengan santai, ku rasa hanya orang yang sedikit tidak waras yang mau berolah
raga di hari seterik itu.
Yang kedua, sejauh mata memandang aku tidak menemukan motor di
parkir di dekat-dekat daerah mereka berdiri, jadi mungkin kah mereka itu
berjalan kaki ke sana?
Dan yang paling membuatku tak habis pikir adalah, keberadaan
mereka. Pertama kali aku melihat mereka memang di tikungan itu, dan yang kedua
kali mereka sudah berjalan jauh dari tempat itu, menelusuri jalur luar menuju
tempat diadakannya pertandingan burung, dan yang ketiga kalinya, aku kembali
melihat mereka di tempat semula, dengan posisi yang sama seperti yang ku lihat
pertama kali.
Aku mulai mengerutkan keningku ketika memikirkan perhitungan waktu,
aku memang tidak begitu mahir dalam matematika. Namun aku tidak juga terlalu
bodoh hingga tidak bisa memastikan bahwa laju mobilku lebih cepat dari pada
langkah kaki mereka. Bahkan meski mereka berlari.
Untuk ke dua kalinya aku mengitari jalur luar dalam di sekitar
tikungan tajam itu, mataku mulai tidak fokus memandang jalan, karena aku sibuk
menoleh ke arah semak-semak yang menutupi rute luar bagian itu. Tidak ada
siapapun di sana, kecuali seorang bapak berkaos merah yang mengumpulkan kayu
bakar. Selebihnya, sejauh mata memandang, hanya semak belukar berwarna hijau
yang ada di sana.
Kata-kata bapak itu masih terngiang-ngiang ketika memerintahkanku
untuk memindahkan gigi sebelum berhenti, dan entah bagaimana itu membuat bulu
kudukku sedikit merinding.
Ciiitttt….
Ku injak dalam-dalam rem di bawah kakiku ketika hampir saja mobilku
menabrak mobil lain yang melaju berlawanan arah denganku. Aku meringis memohon
maaf, meskipun ini bukan sepenuhnya salahku. Untunglah semak di sekitar itu
cukup tinggi, hingga ku yakin ayah tidak akan melihat kejadian ini.
Seorang pemuda jangkung keluar dari mobilnya dan membantu ibu yang
mengendarai mobil di depanku untuk keluar dari rute yang mematikan itu. hahaha,
aku bersyukur dia yang harus mengalah, karena kalau aku yang mengalah berarti
aku harus mundur, dan sejauh ini aku belum pernah belajar memundurkan mobil.
LOL!
“Sudah?!” teriak ayah dari kejauhan. Aku mengangguk dalam diam,
masih merasa syok dengan rentetan kejadian yang tidak bisa masuk ke dalam
nalarku. Dan kejaidan ‘hampir’ tabrakan beberapa saat yang lalu tentu saja.
“Kita pulang?”
Lagi-lagi aku hanya mengangguk, lidahku terlalu lemas untuk sekedar
mengatakan iya. Ayah mengambil posisinya, dan aku pindah ke kursi penumpang di
sampingnya.
“Tadi hampir tambrakan,” bisikku dengan nada datar setelah cukup
tenang. Ayah tampak tidak bergeming, matanya fokus memandang jalan. Mungkin ia
tidak peduli selama aku menambahkan kata ‘hampir’ yang berarti tidak terjadi.
Kemudian sekali lagi aku menoleh ke belakang, mencoba mencari kedua sosok aneh
itu. “Tadi pas di tikungan itu, ada bapak-bapak yang selalu mengingatkan untuk
memindahkan gigi,” ujarku sambil mengangkat bahu, berpura-pura tidak acuh
dengan apa yang ku katakan. Ayah mengerutkan keningnya kemudian melirik ke kaca
spion, “Tapi tadi aku cari lagi, mereka sudah menghilang.” Ujarku sambil
membetulkan dudukku. Ayah hanya terdiam, tampak tidak tertarik dengan apa yang
ku ceritakan, dan aku pun tidak ingin melanjutkannya. Memikirkannya membuatku
merasa bodoh karena tidak bisa menemukan titik temu dari semua teoriku.
***
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali ketika mendengar kata-kata om
ku dari earphone yang tengah ku kenakan. Saat ini aku sudah lancar
menyetir, jadi aku bisa dengan leluasa pergi ke ke kampus menggunakan mobil.
Biasanya ada beberapa teman yang akan ikut bersamaku, namun kali ini aku pulang
sendiri, benar-benar membosankan, untungnya salah satu adik ayahku menelepon.
Meski heran dengan maksudnya meneleponku malam-malam begini, aku tetap
mengangkatnya.
“Jadi kamu sudah bertemu mereka?” tanyanya setelah berbasa-basi
menanyakan kabar. Aku mengerutkan keningku tidak mengerti.
“Siapa?” tanyaku.
“Bapak dan anak korban perampokan itu.” ujarnya.
“Maksudnya?”
“Kamu nggak tau kabar yang menggemparkan di kota kamu itu? padahal
beritanya sampai tersiar kemana-mana,” tuturnya, aku terdiam, mencoba
mengingat, namun akhirnya menyerah. “Beberapa tahun yang lalu, ada seorang ayah
dan anaknya yang mau pergi ke suatu tempat, karena macet maka melewati jalan
yang biasa kamu gunakan untuk latihan menyetir, sialnya mereka tidak tau jika
di daerah itu sering terjadi perampokan. Dan akhirnya mereka disergap perampok
itu. pada awalnya sang ayah langsung meminta anaknya untuk bersembunyi di bawah
jok mobil bagian depan. Sedangkan ia berusaha melawan, dan mengelabui mereka sambil
mencari bantuan. Malam itu, mungkin ada 4 atau 5 orang pria yang menghadang
mereka.
“beberapa diantaranya membawa senjata tajam, bahkan sebuah pedang
panjang pun mereka bawa. Si bapak berdiri di samping pintu penumpang, untuk
melindungi putrinya, dan ketika perampok itu memintanya menyingkir tentu saja
si bapak tidak mau, ia bersikeras menjaga pintu itu, hingga salah satu dari
mereka menariknya menjauh, membuka kasar pintu mobil itu dan dengan cepat
menebaskan pedang panjangnya ke dalam mobil, pada awalnya mungkin ia hanya
sekedar ingin menunjukan kepada teman-temannya bahwa tidak ada apapun di sana,
namun ketika mendengar suara teriakan histeris dari bapak itu, pria berpedang
panjang itu langsung menoleh ke arah ujung pedangnya yang sudah bersimbahkan
darah. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok gadis kecil yang tergeletak
tak bergerak di bagian bawah jok penumpang, bagian yang dulunya menjadi
wajahnya sudah rata berwarna merah karena tebasan pedangnya yang sangat tajam.
Darah mengalir dengan sangat deras, membuat mereka semua kalang kabut, dan
tentu saja, dengan sekali tusukan, mereka membunuh ayah anak itu juga, dan
membawa kabur mobil berdarah mereka.
“Keesokan harinya mobil itu di temukan hangus tidak jauh dari
tempat tinggalmu, dengan 5 orang terpanggang hidup-hidup di dalamnya.”
Aku tersenyum miris ketika akhirnya ia menghentikan kisahnya.
Jalanan tol malam itu cukup lenggang, dan itu justru membuatku tambah merasa
ketakutan, karena kalau terjadi apa-apa tidak akan ada orang yang bisa membantuku.
Aku mengernyit ketika menyadari sesuatu yang sempat terlupakan,
“Bagaimana om bisa mengetahui kisahnya sampai sejelas itu?” tanyaku dengan
lugu.
Aku bisa mendengar suara tawanya yang renyah dari sebrang sana,
“Karena saat ini aku sedang bersama bapak dari anak itu,” ujarnya santai. Ah
sial! Tentu saja… desisku sinis. Aku meringis sambil mengutuki nasibku. “Ia
hanya ingin mengatakan, bahwa kau tidak perlu takut pada putrinya. Gadis itu
hanya ingin menemanimu, memastikanmu selamat sampai rumah.” Tambahnya. Aku
tertawa hambar dan melirik kaca spion sebelah kiri. Air mukaku semakin tidak
menentu ketika melihat sosok bocah yang cukup familiar di mataku tengah
berjalan di samping mobilku. Berjalan?! Ya, tentu saja. Atau mungkin
terbang, mengingat kecepatan mobilku yang sampai 80 km perjam.
“Om, bisakah kau tanyakan pada ayah anak itu, apakah putrinya masih
tidak memiliki wajah?” tanyaku pelan.
“Ya, dia masih berwajah rata.”
Oh ya Tuhan…
Aku meringis pasrah dan memusatkan pandanganku ke jalanan yang kini
terasa benar-benar sunyi. Bagaimana mungkin sejenak yang lalu aku bisa
melupakan kapasitas om ku yang bisa berkomunikasi dengan mereka. Bukan! Om ku
bukan seorang yang indigo, hingga bisa berbicara dengan mahkluk selain manusia.
Kalian tidak usah heran, karena sebenarnya omku sejenis dengan mereka, jadi
tentu saja dia bisa dengan leluasa berbicara dengan mereka.
“Jangan lupa pindahkan giginya,” aku meringis pasrah sambil
memandang kaca spionku, kemudian tersenyum dan mengangguk pada sosok bapak dan
om ku yang tengah duduk di kursi belakang mobilku dengan handphone yang masih
menempel di telinganya.
Ah, kadang menjadi gadis indigo memang bukan hal yang mudah.
6 komentar:
ngeri amat mukanya rata zi.. >.<
cheeeeerrrrrr serem tau,,,
cheeeeerrrrrr serem tau,,,
Huuuuaaaa zia mengingatkan pada siswaku...
Dia biasa kaya gitu...
Sekeluarga malah biasa ngmng sama makhluk2 itu...
ehm... ini sebagian kisah nyata loh...
aku ampe merinding mulu klo inget...
hiiyyyy
Ngeri bgt!!! Kyaaa!!!
Mbak Zia tw drimna tw kisah???
Hiiii..:& *mrinding ak*
Posting Komentar