Tampilkan postingan dengan label semua berhak bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semua berhak bercerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

Broken Bride



“Apa maksudmu!?!” suara di telepon itu begitu keras. Membuat mataku sedikit menyipit ketika mendengarnya. “Tiara, apa yang kau lakukan, kau tidak bisa membatalkan pernikahan kita.” Ujarnya penuh kepanikan. Aku masih terdiam dengan ponsel yang masih menempel di telingaku. Aku tidak tau harus berkata apa, terlebih aku merasa khawatir jika sekali saja aku membuka mulutku, maka isakan itu akan mendobrak seluruh pertahananku.
“Tiara kau dengar aku?” tanyanya berusaha setenang mungkin. Namun aku jelas tau jika ia tengah berusaha keras menahan emosinya. “Pernikahan kita tinggal beberapa menit lagi. Jangan main-main.” Desisnya penuh ancaman. Air mataku menetes perlahan. “Sekarang katakan padaku kau ada di mana?” tanyanya.
Aku menggeleng, meski sadar jika ia tidak akan melihat gelenganku. Namun aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun padanya. Hatiku terlalu sakit menahan semua kenyataan yang pahit itu.
“Tiara…” panggilnya pelan. ia terdengar lelah, suaranya serak dan berat. Aku menjatuhkan tubuhku di atas lantai. Menangisi semua kebodohanku. “Katakan padaku kau ada dimana… ku mohon. Ini adalah hari pernikahan kita, impian kita berdua.” Ujarnya lirih.
“Tidak.” bisikku tercekat. “Kita tidak bisa menikah,”
“Apa maksudmu? Kenapa?” tanyanya frustasi.
“Karena semua itu palsu. Semua cinta itu hanya sebuah kebohongan belaka. Kau tidak pernah mencintaiku.”
“Ti—“
Klik. Secepat kilat ku matikan teleponku kemudian melemparkannya jauh-jauh ke taman di belakang gedung pernikahanku. Aku menangis terisak, mengutuki kebodohanku untuk sesaat. Tapi aku tau, kisahku sudah berakhir. Namun aku bahagia, setidaknya aku mengetahui kisah cinta itu sebelum semuanya terlambat. Lagi pula siapa yang tidak bisa melihat tatapan penuh cinta mereka. Bakhan aku bisa merasakan sakit mereka karena terpaksa membuang jauh-jauh rasa cinta itu. dan semuanya karena diriku. Sungguh ironis.
Aku tersenyum tipis.
Hm… setidaknya aku hanya tinggal menunggu laporan dari orang yang ku minta menyerahkan sepucuk surat kecil untuk sahabat baikku. Kemudian ia akan tau bahwa aku lebih menyayangi persahabatan kami, dan tidak akan pernah berniat untuk melukainya. 






Senin, 14 Januari 2013

Soulmate



‘Elena kau harus bertahan!!’ aku tersentak ketika mendengar teriakan penuh rasa khawatir itu, jelas tersimpan ketakutan pada diri pemilik suara itu. aku bisa merasakannya. ‘Kau dengar aku Elena?? Kau harus bertahan! Kau dengar??!’ ia berteriak lagi.
Aku mengernyit. Ya aku mendengarnya! Begitu jelas hingga rasanya aku bisa merasakan ketakutannya. Tapi nalarku masih terus bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat pemilik suara tajam itu terdengar begitu khawatir.
‘Ku mohon… kau harus tetap bersamaku,’ pintanya. Aku mendelikkan mataku sarkastis, tanpa ia memohon-pun aku akan tetap bersamanya, selamanya. ‘Kau harus bertahan,’ suaranya berubah lirih. Aku mulai merasa cemas, takut jika suara itu akan menghilang.
Dentingan beberapa benda mulai mengusik pendengaranku,namun lagi-lagi nalarku tidak bisa menerka apa yang tengah terjadi. Aroma aneh mulai menusuk indra penciumanku, membuatku ingin menutup hidungku, menyembunyikan diriku dari udara berbau aneh itu. Tapi tubuhku membeku tak bergerak. Aku mulai merintih ketakutan.
‘Kau tidak boleh mati Elena,’
Deg…
Tiba-tiba tubuhku membeku mendengar kata-katanya, namun aku bisa merasakan tetesan air di sisi mata kiriku, tapi itu bukan air mataku, aku tidak bisa menangis. Otakku seakan tidak bisa memerintah mataku untuk menangis seperih apapun hatiku. ‘Kau tidak boleh mati…’ ulangnya pelan penuh kepedihan. Ia menggenggam erat jemariku dengan jemarinya yang dingin. Aku ingin membalas genggamannya dan menenangkannya, mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja. tapi tubuhku kaku, aku tidak bisa menggerakan tubuhku sama sekali.
‘Aku mencintaimu…’
Aku juga mencintaimu!!! Aku ingin berteriak, meyakinkannya bahwa perasaanku padanya memang benar. Aku mencintainya dan akan selalu begitu.
‘Bertahanlah Elena ku mohon…’ pintanya lirih. Hatiku perih menahan isak tangis. aku ingin mengangguk kepadanya dan mengusir seluruh ketakutannya. Aku ingin menghapus air matanya yang terus menetes di wajahku.
Tiba-tiba aku merasakan sebuah tekanan di dadaku. Beberapa orang tampak berteriak di sekelilingku, namun yang ingin ku dengar hanyalah suara itu, suara yang mampu mengusir laraku.
“CLEAR!” teriakan itu kembali terdengar di susul oleh tekanan lainnya.
Aku meringis ketika akhirnya bisa merasakan sisi lain tubuhku. Kemudian perih itu menghantam setiap centi tubuhku. Rasanya seluruh tulangku remuk tak berbentuk. Kepalaku berdenyut-denyut dengan rasa sakit yang tiada tara.
‘Elena…’ aku meringis perih mendengar kegetirannya. ‘Kau adalah anugrah dalam hidupku. Aku mencintaimu, dan aku ingin kau bertahan. Bertahan untuk terus hidup dan bahagia,’ aku bisa merasakan air mataku menetes perlahan. Aku ingin bertahan… tapi…sungguh perih itu terasa begitu menyakitkan. Bahkan tetesan air mataku menyesakan jejak panas di pipiku. ‘Kau harus bertahan…’ ia terus mengucapkan hal itu bagai mantra. ‘Elena…’ bisiknya pelan ketika rasa sakit di sekujur tubuhku mulai bertambah parah.
Aku menggeliat kesakitan, meringis dalam diamku, berteriak dalam gelapku.
Kemudian genggaman tanggannya mengendur, aku mulai merasa panik. ‘Ssst…tenanglah, aku di sini…’ bisiknya di telinga kiriku. Perih itu masih memenuhi tubuhku, namun jiwaku merasa tenang karena suaranya. ‘Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu,’
Tidak!! jangan katakana itu. kecalakan ini bukan salahmu, tapi kesalahanku.
‘Aku sangat mencintaimu… sejak awal kita bertemu,’
Aku juga!
‘Kau adalah jawaban dari semua doaku, hadiah terindah dalam kehidupan keculku,’
Begitu pula dengan dirimu!
‘Kau harus tau hal itu,’ ia terdiam untuk sesaat. Kemudian mencium keningku dengan sangat lembut. Sedetik kemudian aku merasakan perih pada tubuhku mulai terangkat. ‘Aku selalu ingin kau bertahan. Terus hidup dan bahagia. Tapi jika kau harus pergi… pergilah…’ aku mengernyit ketika mendengar kata-katanya. Air mataku mulai kembali menetes. ‘Tidak, tentu saja aku tidak menyerah atas kesembuhanmu,’ bisiknya cepat seraya menghapus air mataku. ‘Namun jika sudah tiba waktumu, aku tidka ingin menahanmu, aku tau ini menyakitimu,’tambahnya lebih lembut. Aku terisak dalam diamku. Menangisi seluruh kisahku.
Namun ia benar, mungkin ini adalah saatnya aku menyerah pada takdir dan kenyataan…
***
‘Terima kasih karena telah mengizinkanku untuk terus bersamamu,’ bisikku. pemuda tampan di sampingku hanya terdiam. Wajah tampannya membeku bagai pahatan yang begitu menawan.
‘Aku selalu ingin kau hidup dan bahagia.’ Katanya dingin.
Aku mendesah. ‘Mungkin aku bisa terus hidup, tapi aku takkan pernah bisa bahagia,’ ia mendelikan matanya kearahku. ‘Apa kau lupa? Bahagiaku adalah bersamamu. Hidup atau mati. Kau adalah nafasku, bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpamu,’ rajukku lembut.
Wajah itu masih mengeras namun aku bisa merasakan dekapannya semakin erat di bahuku.
‘Hm, sudahlah, setidaknya kita di makamkan bersampingan,’ ujarnya. aku terkekeh dan memeluknya lebih erat, untuk sesaat lupa akan orang-orang yang menangis di sekitar pusaran kami.

Senin, 07 Januari 2013

Sosok Ketiga



‘Kau mau meninggalkanku kan?! Kau mau mencampakanku kan?!’ aku berteriak histeris. Ia hanya duduk diam di hadapanku. Matanya tampak gelap menatap diriku. Aku memalingkan wajahku dengan sedih.
Aku mencintainya, aku menyayanginya, dan aku tau dia-pun memiliki perasaan yang sama, aku yakin itu. aku bisa melihat dari sorot matanya, dari caranya menatapku, caranya menyentuhku.
Tiba-tiba tangannya terulur kepadaku, meraih diriku. Aku ingin menghindarinya, tapi tubuhku terlalu kaku, dan lagi pula… sesuatu dalam diriku memang menunggu snetuhannya, merindukan dekapannya. Oh Tuhan.. . aku sangat mencintainya!
“Maafkan aku,” bisiknya lembut penuh kepedihan. Aku mulai menggigil karena isak tangisku. Inikah saatnya? Inikah saatnya untukku tersingkirkan dari kehidupannya?? Inikah saatnya??
Aku berteriak dalam diam, menangis penuh kepedihan. ‘ku mohon… ku mohon jangan lakukan ini padaku,’ isakku perih. Ia terus memandangku dengan matanya yang indah. ‘Tidakkah kau ingat tentan hari-hari kebersamaan kita? Hari-hari indah kira? Kenangan kita? Cinta kita??’ aku bertanya dengan kalut. Ia hanya terdiam dan terdiam. ‘Kau mencintaiku. Setidaknya, kau pernah mencintaiku…’ aku menghentikan kata-kataku ketika ia tetap bersikukuh dengan kebisuannya.
“Maafkan aku.” Katanya lagi.
Ya, aku mengerti,’ bisikku pada akhirnya. Mungkin ini memang sudah waktuku. Sudah saatnya aku mengalah dan membiarkannya memilih yang lain. Menemukan cintanya yang sempurna. Lagipula aku pun sudah mulai lelah dengan sikapnya yang selalu menunjukan kekagumannya pada sosok itu, bahkan ketika ia tengah berjalan bersamaku.
Sosok ketiga. Sungguh ironis. Tapi aku tidak bisa berbuat apapun untuk mengingkarinya. Orang ketiga dalam hubunganku dengannya memang luar biasa indah, luar biasa mempesona, dan luar biasa sempurna. Bahkan ia mendapatkan julukan smartphone dari orang-orang di sekitarnya.
Aku mengerti, viturku memang masih terbatas sebagai ponsel keluaran beberapa tahun yang lalu, dan aku juga mengerti jika pada akhirnya ia berpaling ke lain hati. Tapi aku mencintainya, dan akan selalu begitu.
Aku sadar, ini adalah yang jalan yang terbaik untuknya. Aku ingin melihatnya bahagia, dan tidak tertinggal oleh waktu. Aku hanya belum bisa melihatnya berpaling dariku, mendekap sosok lain, menyentuh dan menyayanginya. Akupun pernah menjadi yang terbaik di masaku, tapi ya, itu dulu…
“Maafkan aku N70, aku menyayangimu,” bisiknya lembut sebelum memasukan diriku kedalam kotak tempatku pertama kali melihatnya.
Aku mendesah pasrah. Dan setelah ini, aku akan melalui perjalanan panjang ke kota Cirebon. Aku hanya berharap aku bisa menjadi kado lebaran yang sempurna untuk sepupunya di sana. Dan dengan begitu, aku akan meninggalkannya dengan sosok ketiga itu, sosok smartphone terbarunya..
‘Aku juga menyayangimu,’ bisikku untuk yang terakhir kalinya sebelum ia menutup kotakku, seperti ia menutup pintu hatinya untukku. 

Rabu, 02 Januari 2013

MIMPI ITU...


“Apa aku mengenalmu?” tanyaku ragu. Wajah di hadapanku tersenyum tipis. Matanya yang indah berbinar lembut penuh kasih.
“Seharusnya, iya.” Jawabnya, masih dengan senyuman manis yang menghiasi wajah lembutnya. Aku mengangkat sebelah alisku, sedikit bingung dengan wanita ini. Wajah itu begitu familiar di mataku, namun otakku tidak bisa mengumpulkan informasi apapun tentangnya. Tentang sosok cantik yang begitu lembut di hadapanku.
“Maaf?” bisikku benar-benar tulus. “Tapi aku tidak mengenalmu,” bisikku. Ia masih tersenyum.
“Kau pernah mengenalku,” ujarnya. “Ketika kau masih memiliki mimpi itu,”
Aku terdiam.  Kemudian menggeleng. Mimpi??  Aku tidak pernah memiliki mimpi. Well, kalaupun ada mungkin sudah ku kubur dalam-dalam.
“Ya, saat kau belum mengubur semua mimpi indah itu,” bisiknya. Aku tersentak ketika mendengar kata-katanya. Apakah wanita ini bisa membaca pikiranku?
“Kau memiliki mimpi yang indah, kau memiliki harapan terbesar. Semangatmu, senyumanmu, semua keindahan itu…”
“Aku tidak pernah memilikinya,” potongku cepat. Wajah di hadapanku membeku, namun binarnya tidak menghilang.
“Kau memiliki mimpi itu. sebuah kepercayaan bahwa kau akan mencapai seluruh mimpi dan anganku,”
“Itu adalah diriku yang bodoh. Diriku yang menutup mataku sendiri dari kenyataan. Bersembunyi di balik mimpi-mimpi semu,”
“Tapi kau pernah memiliki kepercayaan itu,” wajahnya berubah sedih. Aku mencibir sarkastis.
“Itu adalah diriku yang bodoh,” ulangku sarkastis. Wajah cantik itu menatapku dengan padandangan anehnya.
“Apa aku terlihat bodoh?” tanyanya pelan. “Apa aku yang mempercayai mimpi itu terlihat bodoh?” ulangnya lagi ketika aku hanya terdiam. Perlahan namun pasti gadis dihadapanku menyentuh pergelangan tanganku yang memerah. Aku membeku tak bisa bergerak. Air mataku menetes perlahan.
“Kau terlihat indah. begitu manis dengan binar penuh kepercayaan akan masa depan. penuh harapan,” bisikku perih.
“Kalau begitu, jadilah begitu. Kembalikan kepercayaan itu,” bisiknya. Aku menggeleng perlahan. untuk sesaat genggamanku pada benda tajam itu mengendur.
“Maafkan aku, tapi aku lelah bermimpi, aku lelah memiliki harapan yang akhirnya hanya menjatuhkanku semakin dalam. Maafkan aku, tapi kini aku sudah kehilangan semua harap itu,” bisikku perih, lebih perih dari pada sakit yang timbul karena sayatan dalam di pergelangan tanganku.
Wajah dihadapanku membeku, matanya menatapku perih. aku tersenyum mengejek. Tertawa sinis pada sosok dalam diriku yang masih ingin bermimpi, namun maaf, seluruh kenyataan ini begitu pahit, seluruh jalan hidupku terlalu berliku. Hingga aku lelah untuk kembali bermimpi.
Karena aku tau, sekeras apapun usahaku untuk mempercayai bahwa suatu hari nanti aku akan bisa terbang, semuanya hanyalah omong kosong, sia-sia belaka. Karena semua orangpun tahu jika kucing tidak pernah bisa terbang.
Tapi ya, aku mengakui, aku memang pernah memiliki mimpi itu…





CINTA ITU


Aku berdiri menatap hujan, menyerah lelah karena tidak bisa menghitung tetesan itu. Samar-samar ku dengar petir mulai bersahut-sahutan, menemani hujan yang kian membesar. 

Aku masih terdiam, bukan enggan berbicara, namun memang tidak tau apa yang harus ku katakan. Aku mencintainya, teramat dalam. Aku mencintainya sejak pertama kali kami bertemu di perpustakaan kota hari itu. Aku mencintainya tidak peduli dengan wajah kusutnya karena hujan yang mengguyur raya. Aku mencintainya sejak pertama kali ia tersenyum. Aku mencintainya sejak itu...

Aku tidak pernah mempercayai tentang cinta sejati. Tidak pernah ada cinta yang tulus. Selalu ada maksud lain di balik semua kata semu berbunyi cinta itu. Seperti yang dilakukan orang tuaku, yang dengan jelas menikah untuk menutupi aib akibat hormon remaja mereka. 

Ironis memang, tapi ya, semua orang juga tau, aku anak diluar nikah. 

Ah tapi itu hanya sepintas masa laluku, sepintas lembaran gelap yang 'sialnya' tidak bisa ku hapuskan. 

Tapi ketika mata itu menatapku, aku tau, cinta itu memang ada. Binar matanya yang indah, senyuman bibirnya yang menawan, seketika itu juga membekukanku. Aku mencintainya. Aku tau itu. 

"Kau mau kemana?" suara itu mengagetkanku. Aku menoleh ragu-ragu. Menatap sosok imamku. "Kalau kau ingin menemuinya lagi, aku tidak akan melarangmu," bisiknya tenang, namun aku bisa merasakan kegetiran dari suaranya. "Aku hanya tidak ingin kau terluka," bisiknya lagi. Aku tertegun untuk sejenak, namun entah mengapa aku malah berlalu meninggalkannya. 

"Maafkan aku, tapi biarkan aku pergi kepadanya sekali ini saja," bisikku. 

"Ya, pergilah. Tapi ku pikir kau sudah tau kalau dia alergi kucing," bisiknya. Aku tertegun, ingatanku kembali berputar pada hari berhujan kala itu. Bagaimana indahnya senyumannya, binar matanya yang begitu bahagia... namun sayangnya bukan untukku. Karena sedetik kemudian ia mencibir ketakutan menatapku. Menunjukan rasa jijiknya. 

Namun cinta itu membutakanku, menutup naluriku, hingga tega-teganya aku berniat meninggalkan kucing manis yang menjadi pendamping hidupku. 

"Maafkan aku sayang," bisikku seraya menjilat wajahnya. "Aku hanya berselingkuh sekali itu..." 

Kamis, 27 Desember 2012

Bumiku


Hujan perlahan turun. Aku berdiri terpaku memandang tetesan itu dari balik kabut tebal. Asap hitam memenuhi seluruh sudut pandangku. Nafasku mulai terasa sesak. Hatiku sakit menahan isak tangis.
“Kau harus kuat,” ujar ibuku. Aku ingin menggeleng, aku tidak ingin mengiyakan permintaannya. “Ibu akan melindungimu,” ujar ibu. “Hanya sebentar lagi dan semuanya akan segera berhenti, kau harus bertahan,” ibuku terus mengulang-ngulang perkataannya bagai mantra yang memiliki kekuatan magis. Aku menangis dan menggeleng, merengek bagai bocah lima tahun.
“Aku tidak ingin ibu pergi,”
“Ibu tidak akan pergi, ibu hanya ingin melindungimu,” dan selalu itu yang ia katakan, menguatkanku. “Lihat, sebentar lagi bantuan akan datang. Kau hanya perlu bertahan sedikit lagi. Kau tau banyak orang membutuhkan dirimu, kau harus bisa membantu mereka. kau harus terus hidup untuk membantu mereka.”
Dan ibu akan pergi meninggalkanku?
Aku tercekat. Namun tidak bisa meneriaki pertanyaan itu. aku hanya bisa terdiam dan terdiam, bahkan ketika akhirnya lautan warna merah membara itu menutupi sosok ibuku hanya sedetik sebelum mereka datang.
Suara sirine mengaung-ngaung disekelilingku, namun tidak bisa mengalihkan pandanganku dari sosok ibuku yang menghitam dibalik kilauan membara si jago merah. Aku ingin menangis, dan memberontak. Namun tubuhku terlalu kaku.
Orang-orang mulai sibuk menumpahkan air, mencoba meredam amuk api itu. aku hanya terdiam, kaku tak bisa bergerak. Tiba-tiba hujan mulai turun bertambah deras. Entah membantu para pemadam kebakaran atau menumpahkan tetesan air mata kesedihan…
Samar-samar ku dengar seseorang berteriak. “Mohon bantuan, ada kebakaran hutan,” katanya lantang. Aku tersenyum miris. 
Ku tatap sosok ibuku yang sudah menjadi abu. “Apa yang harus ku lakukan bu? Haruskah aku melindungi orang-orang yang menyebabkan bumiku hangus seperti ini? Haruskah aku hidup untuk melindungi mereka yang membuat langit negriku menangis sedemikan derasnya?”
Teriakan itu kembali terdengar, kini tampak bertambah panik. “YA, BANYAK POHON YANG TERBAKAR!”
Dan salah satunya adalah ibuku…




Unforgotten woman




Wanita itu, dia pelitaku. Cantik bukan?
Ia begitu baik hati, wanita itu. kau akan langsung jatuh hati ketika pertama kali melihatnya. Ia memiliki mata terindah, dengan senyuman yang luar biasa menenangkan. Papa sangat menyayanginya, begitu pula diriku. Ia adalah penerang hidupku, wanita itu.
aku ingat, aku sering melakukan hal bodoh selama ini. Hal nakal yang kerap menggores hati wanita itu. tingkah yang terkadang seharusnya tidak berhak menerima maaf. Tapi ia, wanita itu, tidak pernah berhenti menyayangiku. Ia tidak pernah berhenti tersenyum padaku. Seakan aku memang pantas mendapatkannya setelah apa yang ku lakukan padanya.
Terlalu banyak kesalahan yang ku perbuat, namun kau tidak akan percaya dengan seluruh cinta yang ia berikan padaku. Wanita itu…
Wanita itu, penyejuk hatiku, akan selalu menjadi yang terbaik dalam hatiku.
Mama, terima kasih, maaf telah membuatmu terluka. Terima kasih untuk cinta itu. 

Jumat, 21 Desember 2012

Yang Terbaik



“Kau puas?!” teriakan itu begitu mengejutkanku. “Gara-gara kau dia memutuskanku!” amuknya keras. Aku terdiam di tempat, bingung harus berkata apa. “Dasar sialan!!” maki gadis itu frustasi. “Kau tau sendiri aku sudah mengincarnya sejak lama. Tapi kemudian kau datang entah dari mana dan mengacaukan semuanya!”
Mungkin jika aku bisa menangis, aku sudah menangis dengan keras. Tapi tubuhku terlalu kaku. Masih teramat syok karena teriakannya.
Aku ingin meminta maaf, -meskipun aku masih ragu, apakah itu benar-benar kesalahanku?
Aku ingin meminta maaf, menjelaskan padanya, jika aku-pun tidak pernah berharap untuk diciptakan. Aku tidak ingin menghancurkan harinya, mengecewakannya. Tapi apa daya, ini adalah jalan Tuhan untukku, untuknya, untuk kami.
“Elena ada apa?” Tanya ibu dari gadis itu. aku membeku, bersiap menerima makian berikutnya.
“Aku kesal ma. Nathan memutuskanku!” isak Elena sedih penuh emosi. Aku menunduk dalam.
“Sudahlah…” bisik ibunya menenangkan seraya melirik diriku untuk sesaat.
“Aku sudah tidak tahan! Aku akan melakukan facial untuk menghilangkan jerawat sialan ini!” teriaknya sambil menunjuk tepat pada diriku. 
Aku mengejang. Mungkin inilah akhirnya. Inilah yang terbaik untukku, untuknya dan untuk kami…

Tik-Tok



Tok tok tok.
Ah itu pasti Nathan, Emily, Jose, atau siapapun yang tidak mempercayaiku. Aku kesal dan tidak ingin bertemu dengan mereka. mereka secara terang-terangan meragukan kewarasanku ketika aku berkata, aku melihat wanita yang mati tertabrak itu semalam. Aku tau itu hantu, tapi sialnya teman-teman ‘kota’ ku tidak percaya.
Peduli setan dengan mereka!
Tok tok tok.
Ketukan itu kembali terdengar. Aku membenamka wajahku lebih dalam lagi ke bantal. Malas mendengarnya. Mereka mungkin ingin meminta maaf, tapi aku tau mereka akan tetap tidak mempercayaiku.
Tok tok tok.
Kini suara itu melembut. Aku mulai merasa aneh. Kemudian semilir angin menerpa tubuhku. Aku langsung mengangkat wajahku, dan melihat kipas angin gantung di kamarku menyala. Ah… akhirnya mati lampu itu selesai juga…
Tok tok tok.
Aku membeku. Suaranya bukan dari pintu kamarku. Itu adalah bisikan seseorang. Sialnya, suara itu terdengar begitu jelas, bahkan terlalu jelas, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya ketika ia berbisik di telinga kiriku. “Jangan buka pintunya,” bisiknya dingin dengan senyuman keji yang menyeramkan. Aku mengejang tak bisa bergerak.
Brak brak brak!
“Elena buka pintunya!” itu suara Nathan. Aku melirik kearah pintu dengan susah payah. Itu sahabatku. Mereka tidak akan mengetuk terlalu lembut. Aku tau itu.
Tok tok tok.
Bisikan itu terdengar lagi. Berbarengan dengan gebrakan teman-temanku di pintu. Namun aku hanya bisa berteriak ketika akhirnya kipas angin gantung itu jatuh tepat diatas tubuhku.