Tampilkan postingan dengan label PUTRI KELABU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUTRI KELABU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

PELANGI HITAM PUTIH -10-

RAIHAN


“Bangun!”
“Aku sudah bangun.”
“Tapi kau masih memejamkan matamu!” aku mendesah pelan kemudian membuka sebelah mataku, mengintip wajah cantiknya yang tampak lebih segar pagi ini. “Aku bilang bangun!” teriaknya lebih kencang.
“Tapi ini masih terlalu pagi…” gerutuku sungguh-sungguh. “Dan aku kurang tidur semalam.” tambahku, mencoba memberikan alibi agar aku memiliki kesempatan untuk bisa memejamkan mataku lagi.
“Kau seharusnya menerima sebuah hukuman karena perkataanmu! Kau sakit dan malah sengaja tidur larut malam. Sekarang aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Kau harus bangun dan menghabiskan sarapanmu sekarang juga, lalu minum obat-obatan ini.” Tutur Zahra dalam satu tarikan nafas sambil membuka bungkusan obat-obatan bertuliskan namaku. Aku meringis lelah melihat butiran kapsul yang cukup besar itu.
“Kau berlebihan, kemarin obat ku tidak sebanyak itu. kau pasti salah.” Bisikku lemah. Sedetik kemudian aku menyesali perkataanku, karena tatapan yang ku terima selanjutnya sangatlah meresahkan jiwa. Mata bulat Zahra menyipit, bibir tipisnya membentuk sebuah garis lurus yang tampak sangat kokoh, dagunya sedikit terangkat, dengan sebelah alisnya naik. Benar-benar wajah sinis yang sempurna.
“Aku yang merawatmu. Apa kau meragukanku?!”
“Tidak, tentu saja tidak. Tapi kau benar-benar berlebihan. Bahkan perawat biasa pun akan membiarkan pasiennya beristirahat sebanyak mungkin,” untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa gugup. Dan ini sungguh menggelikan, mengingat aku tidak pernah merasakan semua rasa ini sebelumnya.
“Oh,” ujarnya datar. “Asal kau tau, aku ingin agar kau segera sembuh. Karena aku juga masih banyak pekerjaan selain merawatmu di sini! aku harus mengajar ke panti, menyelesaikan kuliahku. Dan banyak hal lain yang lebih penting yang harus ku lakukan dari pada hanya sekedar merawatmu!” tuturnya geram.
“Kalau begitu berhenti merawatku!”
“Oh, tentu. Dengan senang hati. Lagi pula sepertinya kau lebih nyaman dirawat oleh perawat biasa!” bentak gadis itu sambil meletakan bungkusan obat yang tengah di bukanya. Kemdian meraih tas tangannya yang tergeletak di atas lemari es. Aku terbelalak tidak percaya ketika gadis itu benar-benar membuka pintu dan berlalu pergi.
Ya Tuhan!!!
Lagi-lagi aku menyesali perkataanku beberapa saat yang lalu. Tapi, jika dia memang tidak pernah ingin benar-benar merawatku, untuk apa ia mencegahku pergi beberapa hari yang lalu?!
Aku mengacak rambutku dengan frustasi ketika otakku tidak bisa menemukan titik temu tentang gadis itu.
“Nasi sudah menjadi bubur, kau tidak perlu menyesalinya, karena tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mengubahnya lagi menjadi nasi.” Aku menoleh kearah pintu, kakek berdiri di sana dengan senyuman tuanya yang menunjukan sosok sok tahunya. Kedua tangannya tersembunyi di balik saku celananya. Perut buncitnya menyembul sedikit di balik jas hitam yang ia kenakan. “Tadi kakek lihat Zahra di tempat parkir.”
“Jadi dia benar-benar pergi?!” tanyaku frustasi. Kakek terkekeh dan mengangguk.
“Gadis itu tidak pernah main-main dengan perkataannya.” Ujar kakek sambil berjalan mengitari kamar rawat inapku. Ia berdiri sejenak di samping meja kecil di depan sofa, sudah ada vas baru di sana dengan buket mawar merah yang sangat cantik. “Ia benari mengambil keputusan, bahkan yang terekstrim sekalipun.” Tambahnya, dengan perlahan ia memetik daun yang mulai menguning pada salah satu tangkai mawar itu. “Tapi di balik itu semua, ia juga seorang gadis biasa. Yang begitu rapuh… dan butuh perlindungan. Ia hanya terlalu angkuh untuk sekedar menyadari kerapuhan dirinya sendiri.”
Aku terdiam sejenak, mencoba meresapi seluruh kata-kata pria tua yang biasanya selalu menjadi sainganku dalam setiap hal itu. “Hanya pria bermental baja yang akan bisa bertahan dengannya.” Ujar kakek dengan senyuman miringnya yang bijaksana. “Kalau saja kakek tidak mencintai almarhumah nenekmu sedalam ini, mungkin kakek sudah mendekatinya.”
Aku terkekeh sarkastis. “Jadi kakek merasa memiliki mental yang kuat?” ejekku.
“Wah, nenekmu tidak jauh berbeda dengannya. Dia juga seorang wanita yang sangat keras kepala. Tapi dia adalah wanita yang paling berharga.” Mata tua kakek menerawang jauh ke luar jendela. Senyuamannya mengembang dengan mimic yang begitu tenang, mimic yang selalu muncul ketika ia mengingat tentang nenekku yang sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu pergi dari muka bumi ini. Aku termenung sejenak, jika suatu saat nanti Tuhan mengambil gadis itu dari muka bumi ini, bisakah aku tersenyum tenang seperti yang kakek lakukan saat ini? Bisakah aku merelakannya?
Pemikiran itu langsung mengubah suasana hatiku. Ketakutanku akan kehilangannya membuat seluruh tubuhku menggigil. Tidak, aku bukan kakek, aku tidak mungkin bisa dengan tenang melewati kelamnya malam tanpa sosok gadis itu. Jadi mungkin aku memang bukan pria bermental kuat seperti yang dimaksudkan kakek.
“Apa yang seharusnya ku lakukan?” bisikku pada akhirnya, mulai menyerah pada egoku yang biasanya ku junjung tinggi. Namun ketakutanku akan kehilangannya membuat jiwaku menciut ketakutan.
Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa hidup tanpanya. Sedang dia adalah gadis yang sangat kuat, dan aku bersyukur karenanya. Karena jika pada akhirnya waktuku habis, dia pasti akan tetap kuat menjalani hidupnya. Ya, dia harus kuat.
“Perjuangkan cintamu.” Ujar kakek dengan tatapan penuh semangat. “Kau pasti bisa meluluhkan hatinya.”
“Bukankah kakek tau sendiri jika ia adalah gadis yang sangat keras.” keluhku, kakek tertawa hambar sambil menggaruk kepalanya yang hampir botak dengan perlahan.
“Kau benar juga…” ujarnya miris.
“Lalu bagaimana?!” tanyaku frustasi.
“Cari tau titik lemahnya, masuki zona nyamannya.”
“Kakek tau?” tanyaku mulai menemukan secercah harapan. Namun ketika kakek menyeringai sambil mengangkat bahu, aku menyerah.
Aku berpikir sejenak sambil menatap buket mawar merah itu. “Ah! Aku tau…” ujarku berapi-api.
***

Kamis, 03 Januari 2013

PUTRI KELABU -Epilog-


Vero menatap kesal pada pemuda di hadapannya yang dengan bodohnya menumpahkan segelas sampanye. pemuda itu sedikit gelagapan di bawah pandangan adik atsannya. Vero memutar bola matanya kemudian meraih tisu di dalam tasnya. Dengan cekatan ia membersihkan noda sampanye itu. wajah cantiknya masih mengeras.
Luna tersenyum manis menatap sosok cantik di hadapannya.
“Ibu pelinya cantik ya bunda…” bisik Rachel dalam gendongan Fabian. Luna tersenyum dan mengaguk mantap. Ia memang selalu menjadi gadis tercantik di matanya.
Keysa melongo  menatap paparazzi yang berkerumun di depan hotel itu. astaga, kalau bos sampai tau… desisnya ngeri, namun kemudian senyumannya mengembang ketika melihat atasannya itu tersenyum lebar dengan buket di tangannya. Ternyata pria itu yang membuatnya murung selama ini?well, itu memang wajar. Ketampanan dan karismatiknya tentu mampu membuat gadis sedingin Valerinapun menangis. Tapi bagaimana dengan dokter tampan itu??
“Apa acaranya masih lama?’ Tanya Raka pelan. Gadis cantik di sampingnya memutar bola matanya kesal. Acaranya baru saja di mulai dan pria ini sudah ingin pergi?? Yang benar saja??!

Aku tersenyum manis menatap seluruh mata yang berbinar di ruangan ini. Aroma mawar dan lily menyeruak memenuhi udara. Aku tidak bisa menahan air mataku, namun ini adalah hariku. Mereka sudah seharusnya melihat senyumanku bukan tangisku.
Aku menatap orang-orang terkasihku penuh haru. Kakek, tante dan om Arya, -yang kini sudah resmi ku panggil mom dan dad-, bibi Mariana, paman Harri, Lily, Vero dan… Ben?? Aku memberikan tatapan nakal pada adik iparku yang begitu cantik dengan balutan gaun rancangannya sendiri.
Luna berjalan mendekatiku. Senyumannya begitu indah. Ia memelukku erat kemudian memeluk Raka. “Jaga dia selalu,” bisiknya.
“Ya, tentu,” ujar Raka. Aku tersenyum penuh haru. Fabian tersenyum padaku. Dan gadis kecil itu, Rachel kecil kami. Ia tersenyum manis, menggemaskan.
Kirana ikut menghampiriku. Mataku membulat ketika melihat gadis kecil di sampingnya. “Kikan?” tanyaku tidak percaya. Kemudian aku bisa melihat seringaian lebar sahabatku.
“Aku sudah belajar menjadi ibu yang baik selama ini,” ujarnya seraya melirik keluarga kecil Luna. Aku mendesis sarkatis. Astaga bocah kubis ini!!!
Leo berjalan tidak jauh di belakangnya. Aku tersenyum kikuk padanya, namun kemudian merasa lega juga menatap keluarga kecil di hadapanku. Akhirnya mereka semua mendapatkan apa yang mereka cita-citakan. Luna dengan cinta Fabian yang takkan pernah terbagi, Kirana dengan cinta sejatinya, yang tentu saja, Leo adalah salah satu pria sukses di bidangnya. Dan aku… ku lirik pria tampan di sampingku penuh kasih. Wajah Australinya begitu tampan, berwibawa dan hangat. Membuatku ingin merengkuhnya. Astaga, kini aku mulai kesal dengan semua susunan acara ini. Ups…
Tiba-tiba hatiku terpilin  mengingat sosok lain yang sekali lagi ku lukai. Aku mengedarkan pandanganku. Kemudian melihatnya berdiri disana, dengan gelas sampanyenya. Ia membetulkan letak kaca matanya, kemudian mengangkat wajahnya. Menatap tepat padaku. Ia tersenyum manis, mengangkat gelasnya dan mengaguk. Aku menatapnya penuh haru, sedih dan penuh terima kasih. Kemudian perlahan namun pasti aku melihat sosok cantik Keysa berjalan menghampirinya. Well, sepertinya semuanya mulai benar-benar membaik.
“Apa kita masih belum bisa pergi?” Bisik Raka. Aku meremas jemarinya. Menatapnya penuh rindu. Ia mendesah dan menggeleng. “Ah, aku tidak peduli dengan semua acara membosankan ini,” ujarnya seraya menarik jemariku. Sontak para tamu menatap kami bingung. Vero melongo di samping Ben. Kakek terkekeh pelan. Kirana refleks menutup mata Kikan dan Rachel yang berada di sekitarnya. Luna hanya tersenyum tipis.
Aku sendiri masih melongo di hadapannya. Namun kemudian aku merangkulkan tanganku ke lehernya. Membalas ciuman lembutnya.
“Mama… nanti kalau aku menikah aku mau seperti ibu peri,”’ ujar Kikan pelan. Kirana melirik Luna bingung. Luna hanya mengangkat bahunya dan menggeleng dengan senyumannya.

The End

Tangerang
Jum’at oktober 19, 2012. 12:57 AM 

PUTRI KELABU -32-



Prang…
Nafas Valerina tercekat. Matanya nanar menatap jalan dibelakang tubuhnya. Suara itu begitu keras. Mengejutkannya dengan berbagai cara. Ia menatap ngeri kobaran api yang semakin membesar. Are yang sedari tadi hanya terpaku di tempatnya langsung mengambil ponselnya.
“Suster, kirim ambulan sekarang juga! Ada kecelakaan!” teriak Are. Valerina menggeleng ketakutan. Ia tidak lagi mendengar kata-kata Are yang selanjutnya. Matanya terfokus menatap lurus mobil yang terbakar itu dari jendela butiknya. Kemudian ia melihat Are berlari ke luar butik. Beberapa orang turut mengerumuni kecelakaan itu. berteriak ramai.
Valerina keluar dari butiknya dengan langkah tertatih. Jantungnya mulai berdetak kencang ketika melihat serpihan mobil itu dari dekat. Nafasnya tercekat ketika melihat sebuah benda berwarna pink di balik jendela belakang mobil itu. benda itu tidak lagi berbentuk sempurna. Namun ia bisa mengenalinya. Sebaik ia mengenali pemilik boneka itu. ya, ia tau, itu adalah boneka Barbie Rachel yang ada di mobil Raka.
Astaga…
Valerina mendesis perih. Hatinya sakit menerima kenyataan itu. ingin rasanya ia berlari menerobos api itu. namun tubuhnya lemah tak lagi bertenaga, hingga akhirnya ia merasakan gelap di sekelilingnya.
                                                ***
Keramaian khas sumah sakit mengusik ketenangan Valerina. Ia membuka matanya perlahan. Kemudian entah bagaimana, air mata itu kembali menetes.
“Rachel sudah siuman,” teriak Kirana. Brian dan Vero langsung berjalan menghampirinya.
“Kimi, kau baik-baik saja?” Tanya Vero khawatir. Valerina menatap gadis itu penuh luka.
“Kimi bicaralah, kau membuat kami semua sangat khawatir,” ujar Brian. Dengan susah payah gadis itu menoleh pada kakeknya.
“Ra… Raka..” bisiknya tergagap.
“Tenanglah, kau bisa melihatnya jika kau sudah lebih baik.” Ujar Kirana. “Aku ingin kau menguatkan dirimu dulu.” Vero mengaguk perih.
“Aku ingin melihatnya, ku mohon.” Bisiknya pelan. Brian mengaguk pada Vero dan Kirana. Kemudian Vero mengambil sebuah kursi roda.
“Kau benar-benar sudah merasa lebih baik?” Tanya Kirana masih khawatir. Valerina mengaguk lemah. Hatinya benar-benar penuh ketakutan.
“Biarkan aku yang membawanya,” ujar Vero. Kirana dan Brian mengaguk setuju. Kemudian membiarkan Vero mendorong kursi roda Valerina. “Tunggu disini,” ujar Vero ketika mereka sampai di depan sebuah ruangan. Kemudian gadis itu berlalu pergi. Velarina tidak bisa menahan gemuruh hatinya lagi. Ia hanya ingin menemui pria yang paling disayanginya. Ia meraih pintu itu, membukanya dan berjalan perlahan. Air matanya menetes perlahan ketika melihat tubuh yang terbalut perban di setiap sudutnya. Valerina menggeleng perih. Ia menangis sesenggukan di samping ranjang itu. meraba perban yang menutupi seluruh wajah yang terbaring kaku di hadapannya.
Tuhan, apa lagi ini??!! Tangisnya tak lagi terbendung. Setelah sahabatnya, kini pria terkasihnya pun harus terbaring lemah di hadapannya.
“Rachel,” panggil Vero terkejut. Di belakangnya Kirana, Luna dan Thalia ikut menatapnya terkejut. Valerina menatap mereka perih.
“Hey, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Kirana bingung.
“Ra… Raka…” bisik Valerina perih. Thalia mengerutkan keningnya, meski ia begitu merindukan gadis itu, namun melihatnya menangis meraung-raung seperti itu tak elak membuatnya ikut menatap bingung.
“Kakak… bukan itu…” bisik Vero pelan. namun bisa membekukan semua orang yang ada di sana. Valerina menatapnya tidak mengerti. Kemudian wajah Kirana, Luna dan Thalia mencair ketika menyadari duduk masalahnya. Baru saja Valerina akan menyangkal, sosok jangkung Raka sudah menerobos kerumunan kecil itu. wajahnya begitu tampan, meskipun tampak dingin. Ia masih mengenakan kemeja putih dengan dua kancing paling atasnya terbuka, serta celana bahan yang sama dengan yang kemarin ia gunakan.
“Ka..Kau…” bisik Valerina tidak percaya. Raka menatapnya dingin.
“Ya, aku.” Ujarnya sinis. Thalia melirik putra sulungnya tidak suka dengan cara bicaranya. Bukankah, beberapa menit yang lalu ia yang menangis di samping ranjang putri itu.
“Maaf sudah membuatmu khawatir.”
“Aku…”
“Kau tidak perlu menjelaskan apapun. Aku sudah melihat semuanya. Kau dengan Are,” kini ketiga wajah lainnya menatap Valerina yang masih membeku. “Dan kecelakaan itu… well, itu kebodohanku. Tapi ya, pada akhirnya aku bisa menghindar, dan berdiri di sini bersama kalian. Jadi kau tidak perlu menangis untukku lagi.”
“Ka..kau…” Valerina berjalan tertatih mendekati sosok angkuh di depannya. Raka memiringkan sedikit kepalanya terkejut ketika Valerina mengangkat tangannya. Teringat akan tamparan gadis itu dulu. Namun alih-alih menampar, sosok cantik itu malah memeluk erat tubuh Raka. “Kau bodoh,” ujarnya lemah. Dengan cekatan Raka menahan tubuh Valerina. Kemudian dengan mudahnya menggendong tubuh itu. Valerina sedikit terkejut namun ia tidak menolak. Ia memang benar-benar lelah.

Valerina menyandarikan kepalanya pada dada bidang Raka. Menghirup aromanya dalam-dalam dan memejamkan matanya. Hatinya begitu tenang mendengar detak jantung Raka yang berirama.
“Aku akan membawanya pulang, sepertinya ia sangat kelelahan.” Samar-samar Valerina bisa mendengar jawaban dari yang lainnya. Namun Raka benar, ia merasa tubuhnya memang begitu lelah. Terlebih setelah menangis meraung di depan orang yang salah. Astaga… wajah Valerina memerah ketika mengingat semua itu. ia merasakan ayunan lembut dari langkah kaki Raka.
“Lain kali kalau kau mau menangis, pastikan dulu siapa orangnya,” bisik Raka. Wajah Valerina kembali memerah. Ia membuka matanya sedikit.
“Itu buka…” kata-katanya terhenti saat dengan santainya Raka mencium bibir Valerina.Mata Valerina langsung terbuka lebar.
“Masalah Are…” bisiknya ketika Raka mengangkat wajahanya sesaat. Matanya mendelik kemudian ia tersenyum tipis.
“Tidurlah,” bisiknya, mempererat gendongannya. “Aku sudah tau semuanya, dan lagi pula, kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?!”ujarnya sungguh-sungguh. Valerina tersenyum tipis penuh arti, kemudian kembali memejamkan matanya.
Inilah tempat terindah yang ingin kutinggali seumur hidupku. Mendengar detak jantungnya, mendengar desahan nafasnya, aroma maskulinnya, sentuhannya, dan seluruh cintanya. 


PUTRI KELABU -31-



Luna tersenyum tipis melihat tingkah lucu putri kecilnya. Disampingnya Valerina tampak turut tersenyum lebar. “Putrimu akan menjadi gadis yang mengagumkan kelak,” bisiknya. Luna mengaguk perlahan.
“Ya, seperti dirimu,” ujarnya. “Aku sangat senang kau berada disini. Kau tau, banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu,” Valerina menggeleng perlahan, kemudian memeluk bahu sahabatnya dengan sayang. “Kau sudah melakukan banyak hal untukku,”
“Ssst… kau tidak perlu berkata apa-apa lagi. Kesembuahanmu dari kanker itu adalah anugrah terbesar untukku,” Luna mengaguk pelan. “Dan tentang cintamu, aku minta…”
“Tidak,” potong Luna cepat. “Aku yang minta maaf. Bagaimana mungkin aku bisa melukai hatimu.”
“Tapi kau sangat mencin…”
“Tidak,” potongnya lagi dengan senyuman manisnya. “Atau mungkin iya, aku memang mencintai Raka. Tapi pada akhirnya aku sadar, aku lebih mencintaimu…” bisiknya. Valerina menangis pelan. “Sekarang tudak ada lagi alasan untukmu menghindarinya lagi.” Valerina mengaguk perlahan.
                                                ***
“Wow, jadi kau adalah pemilik brand GreyLine itu??!!” pekik Kirana tidak percaya. Sudah seminggu mereka tinggal di rumah Luna. “Astaga aku penggemar beratmu!!” teriaknya lagi. Luna mengerutkan keningnya.
“Apa yang sudah ku lewatkan?” tanyanya bingung.
“Temanmu yang satu ini sudah menjadi designer kondang di Perancis, dan baru saja pindah ke Indonesia.”
“Dan kau baru mengetahuinya?” Tanya Luna kesal.
“Jangan salahkan dia. Aku memang menyembunyikan jati diriku pada publik. Aku bahkan menggunakan nama Valerina ketika tinggal di Perancis,” tutur Valerina. Luna menatapnya perih. “Dan ini bukan salahmu. Ini adalah kesalahanku yang terlalu pengecut menghadapi kalian semua, maaf.”
“Sudahlah, apa kalian akan terus berduka seperti itu. oh, ayolah, kita harus merayakan semua ini!!” ujar Kirana kesal. Luna dan Valerina saling pandang kemudian terkekeh pelan. Entah apa jadinya mereka tanpa sahabat-sahabat terkasihnya.
“Kau harus membawa kami berkeliling butikmu,”
“Tentu,” janji Valerina sungguh-sungguh. Kemudian tawanya berhenti saat merasakan ponselnya bergetar. Ia menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.
“Siapa?” Tanya Kirana. Namun bukannya menjawab Valerina malah berlalu pergi menjauh.
“Maaf guys, aku harus kebutik sekarang. Asistenku baru saja menelepon.” Ujar Valerina sedikit tergesa.
“Perlu ku antar?” Tanya Kirana.
“Ah tidak usah, kau jaga saja dia. Aku akan segera kembali secepat yang ku bisa.” Ujarnya kemudian mengecup pipi Rachel yang tengah bermain asyik dengan barbienya. “Oya, katakan pada Raka aku pergi ke butik.” Luna dan Kirana mengaguk sebelum sosok itu menghilang di balik pintu.
“Apa dia baik-baik saja?” Tanya Luna.
“Dia akan baik-baik saja, tenanglah.” Jawab Kirana tanpa keraguan.
***
Valerina menatap sosok di hadapannya tidak percaya. Are??!! Pekik hatinya riang. Pemuda itu tampak tertunduk di depan pintu butik. Meski malam sudah menjemut, tapi Valerina bisa melihat kekhawatiran di wajah pria tampan itu. namun untuk sesaat, entah bagaimana caranya, semua pandangannya akan ketakutan Are sirna, ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Are. Tentang Luna, Rachel kecil, Kirana dan raka.
“Are!” panggil Valerina. Are mengangkat wajahnya tampannya dan memeluk Valerina erat.
“Tutup matamu,” ujarnya dingin tiba-tiba. Valerina sampai bergidik karena terkejut. “Jangan banyak bicara, sekarang tutup matamu!” bisiknya lagi. Valerina merasakan tubuhnya gemetar. Namun ia tetap menuruti perintah Are. Ia menutup matanya dan membiarkan Are menuntunnya kesuatu tempat, yang ia yakini ke dalam butiknya. “Kau boleh membuka matamu sekarang,” bisiknya, kemudian Valerina membuka matanya. Betapa terkejutnya ia melihat tumpuka lily indah di hadapannya. Begitu banyak hingga menggambil setengah tempat dari luas butiknya.
“Wow!!” desis Valerina tidak percaya. Tiba-tiba matanya mendelik ketika melihat bunga mawar yang dirangkai menjadi sebuah pertanyaan. “Apa ini?” tanyanya kaku. Are tersenyum puas di belakangnya. Kemudian berjalan mengitari tubuhnya dan berlutut.
“Rachel Valerina Kimberly will you marry me?” Tanya Are pelan. Valerina menatapnya tidak percaya. "Selama di Malaysia aku sudah banyak berfikir tentang ini. Dan aku tidak bisa menunggu lagi, aku ingin kau menjadi pendamping hidupku sampai nanti…”
“Are…” bisik Valerina pelan. Ia mundur beberapa langkah. Kemudian air mata itu menetes. “Aku…aku…” Valerina tergagap.
“Tidak ku mohon,” Are berdiri memeluknya. “Kumohon jangan menangis,” bisik Are, namun semuanya terlambat. Tangis gadis itu pecah begitu saja. Are membelai lembut kepala Valerina penuh kasih. “Kumohon jangan menangis. Biarkan aku membebaskanmu dari kelabu itu,” Dan gadis itu terus menangis, membasahi kemeja depan dokter kesayangannya, pria terbaiknya… sahabatnya
                                                ***
Raka menghentikan langkahnya di depan pintu. Wajahnya mengeras, tubuhnya membeku. Hatinya terpilin melihat sosok gadis terkasihnya di dalam pelukan orang lain. Namun kekuatannya seakan menghilang. Sikap angkuhnya mulai hancur. Kemudian ia tersenyum perih, menggeleng perlahan dan mencengkram kepalanya sendiri.
Ia benar, aku sudah terlalu banyak menorehkan luka pada gadis itu… batinnya. Bagaimana aku bisa membiarkannya kembali terluka? Bagaimana jika nanti ia tidak bahagia bersamaku? Sifat percaya diri yang selama ini selalu ia tunjukan mulai menghilang. Dengan lambat Raka berjalan menuju mobilnya. Ia memukul stirnya dengan keras. Melampiaskan seluruh amarahnya. Ia muak pada dirinya sendiri. Ia muak pada seluruh kisah konyol yang membuatnya terpuruk sedalam ini. Ia adalah seorang CEO, dan kini harus terisak karena kata klise bernama cinta itu!!
Raka memejamkan matanya perlahan, dan wajah itulah yang muncul. Wajah tertawanya, wajah tersenyumnya, wajah menangisnya…
Ia masih bisa merasakan lembutnya rambut gadis itu di jemarinya. Harumnya aroma kulit halusnya, bahkan ia masih bisa mendengar dentingan tawa gadis tercintanya. Namun matanya terbuka perih ketika mengingat isak tangis Valerina untuknya, wajah terlukanya, ketakutannya dan kekecewaannya.
“Aku sudah banyak melukainya. Jadi tentu saja sangat wajar jika ia memilih pemuda itu. seharusnya aku mengerti!” namun nyatanya ia sama sekali tidak mengerti, atau memang tidak ingin mengerti. “Sudahlah,” bisiknya mencoba tenang. Kemudian dengan perlahan ia mulai menjalankan mobilnya. Namun kenangannya akan kejadian di butik itu membuat gemuruh hatinya kembali menggebu-gebu. Membutakan matanya. Hingga akhirnya ia tersadar oleh suara klakson panjang dan sorotan lampu di depan wajahnya.
                                                                   ***
 INDEKS 

PUTRI KELABU -30-


Valerina membulatkan matanya, menatap Raka tidak percaya. Ia tidak mengerti dengan apa yang tengah pemuda itu katakana. “Hey kau baik-baik saja?!” Tanya Raka khawatir. Valerina mengerjapkan matanya beberapa kali. “Astaga, kau membuatku takut,” ujarnya seraya memeluk gadis cantik di hadapannya. Membuat Valerina kembali merasakan debaran jantungnya yang tidak menentu. Ia hampir saja mendorong keras pemuda itu. namun toh ia hanya bisa terdiam di dalam pelukannya.
“Tunggu dulu, jelaskan padaku apa maksud kata-katamu tadi.” Tanya Valerina. Raka melepaskan pelukannya, namun masih meletakan tangannya di atas bahu Valerina. Valerina menatapnya sinis.
“Kumohon, jangan menatapku seperti itu. semua ini atas kehendak Luna. Dia memintaku meninggalkannya.” Valerina semakin tidak mengerti. “Dia tau aku mencintaimu,” tambahnya. Valerina menggeleng perih. Ia tidak kuasa menahan tangis, membayangkan bagaimana perasaan Luna. “Sstt… jangan menangis,” Raka menghapus air mata Valerina dengan lembut.
“Tidak, jangan membodohiku. Bagaimana dengan putrinya, Rachel?” tudingku. Raka tersenyum lembut.
“Rachel memang putrinya, tapi bukan putriku.” Ujar Raka. Dan saat itulah mereka mendengar suara bel berbunyi. “Itu pasti Fabian, suaminya, dokter yang dulu ku bayar untuk merawatnya.”  Valerina menggeleng tidak percaya. Air matanya kembali menetes. “Kumohon, jangan menangis…” Raka memeluk gadis itu penuh kasih. Bukan, tentu saja bukan hanya untuk mengobati kerinduan gadis itu padanya, tetapi terlebih untuk mengobati rasa rindunya sendiri. “Aku sangat merindukanmu,” bisiknya di atas rambut Valerina.
                                                ***
Kirana tersenyum tipis saat melihat sosok sahabatnya keluar dari kamar tidur tamu. Matanya masih terlihat sembab, namun wajahnya tampak begitu segar dan rona itu, ya rona yang dulu ia lihat pun kembali muncul. “Bagaimana tidurmu?” Tanya Kirana, ia tersenyum nakal pada sahabatnya. “Mana Raka?”
“Masih tidur,” jawab Valerina. Ia menuangkan secangkir kopi untuknya. “Mengapa kau tidak menceritakannya padaku?” tuding Valerina.
“Apa?” Tanya Kirana polos.
“Pernikahan Luna dan Fabian,” Kirana terkekeh pelan.
“Aku lupa, hehehe…” tawanya. “Lagi pula bukankah menyenangkan ketika kau mendengarnya langsung dari Raka?” wajah cantik Valerina memerah. “Tapi aku ingin mengetahui cerita selengkapnya. Apakah Luna marah padaku?”
“Ah, selalu saja ingin tau!” Kirana mendesah sarkatis. Kemudian kembali tersenyum penuh rahasia. “Kau dan Luna begitu mirip. Ia juga sangat khawatir dengan perasaanmu, terlebih ketika kau akhirnya pergi. Aku rasa hal tersebut sangat mengguncangnya.” Kirana menghela nafas sebentar. “Kemudian ia meminta Raka pergi meninggalkannya, dan menikah dengan Fabian.” Valerina menatap Kirana perih. “Dan ketika mengandung Rachel, kami semua sudah memintanya untuk menggugurkannya sejak awal. Namun ia begitu takut. Ia memanggilnya dengan namamu, dan selalu berkata kalau ia takut kau akan marah jika ia menggugurkannya. Ia selalu memikirkanmu,” Valerina menatap cairan hitam di cangkirnya dengan pilu.
“Mama…” bisik gadis kecil itu tiba-tiba. Rambut kritingnya berantakan, ia berjalan pelan sambil mengucak matanya. Valerina menatapnya penuh haru kemudian memeluk sosok mungil yang menggemaskan itu penuh kasih.
“Sayang, ayo kita ke tempat bunda,”
“Tapi kalau ibu peli ketemu bunda, nanti bunda mati…” ujar gadis itu lugu. Valerina menatapnya perih, kemudian ia menggeleng perlahan.
“Tidak sayang, bunda akan bangun saat bertemu dengan ibu peri,” ujar Kirana. Raka yang baru saja keluar dari kamarnya tersenyum tipis. Wajah segarnya tampak begitu lega ketika melihat sosok terkasihnya masih ada di rumah itu. ternyata ini memang bukan sebuah mimpi.
Raka menggendong Rachel. “Ayo kita beri salam selamat pagi pada bunda,” ujarnya. Valerina tersenyum tipis melihat kehangatan Raka pada gadis kecil itu. Kirana tidak bisa menyembunyikan senyuman harunya.
                                                ***
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Kirana. Fabian menoleh sesaat dan tersenyum.
“Dia sudah lebih baik,” selalu itu yang menjadi jawabannya. Fabian membelai lembut wajah Luna penuh kasih. Valerina berdiri kaku di ujung kamar itu. masih merasa takut untuk menghampiri gadis yang selama ini sangat di rindukannya. Raka tersenyum dan merangkul sosok cantik itu dengan lembut. Ia mengaguk mantap ketika Valerina menatapnya penuh ragu.
“Hai Na,” bisik Valerina pelan. Ia mencium kening sahabatnya penuh kasih. Air matanya menetes perlahan. “Apa kabarmu hari ini? Aku sangat merindukanmu,” bisiknya perih. Sekelebat kenangan tentang indahnya persahabatan mereka mulai memenuhi benaknya. “Kirana bilang kau ingin menemuiku, dan aku disini sekarang, bisakah kau membuka matamu… aku ingin melihatmu tersenyum,” Kirana menatap Valerina dan Luna dengan sedih. Kedua sahabat kecilnya, teman mainnya dalam segala tingkah konyol yang selalu mengundang tawa bahagia.
“Dan, terima kasih karena telah menungguku. Kau tau, putrimu sangat cantik sepertimu.” Valerina menyentuh pipi Rachel perlahan. “Kau harus bangun dan melihatnya sendiri.” Raka merangkul pundak Valerina yangs sedikit terguncang.
“Ra…chel,” semua mata terbelalak mendengar suara lemah itu. Fabian langsung mendekati sosok istrinya. Ia memeriksa beberapa alat yang menempel di tubuh Luna, kemudian memeriksa pupil matanya. Kirana mengambil Rachel yang kembali meronta, merengek Karena di jauhkan dari sosok bundanya. Raka menarik tubuh Valerina menjauh, memberikan akses yang lebih luas untuk Fabian. Mata Valerina nanar menatap sosok Luna.
“Aku mendengarnya mengucapkan namaku.” Ujarnya serak. Raka menggaguk.
“Kami semua juga mendengarnya sayang,” bisiknya. Ia pun turut berharap cemas akan kesadaran Luna. Dan ketika Fabian mundur beberapa langkah, kemudian menoleh, seluruh wajah itu memucat ketakutan. Kecuali Rachel yang masih menangis di pelukan Kirana.
“Ini adalah sebuah keajaiban,” bisik Fabian tidak percaya. Kemudian mendekatkan wajahnya pada sisi kiri wajah Luna. “Sayang, kau bisa mendengarku?” tanyanya pelan. Namun tidak ada apapun yang terjadi.
“Mengapa ia diam saja?” Tanya Kirana mulai panik.
“Koma selama dua tahun akan membuat seluruh tubuhnya kaku,” ujar Fabian. “Luna, kau tidak perlu bicara. Dengar, jika kau bisa mendengar suaraku, cukup tarik nafas panjang saja,” ujarnya. Dan sedetik kemudian tubuh Luna merenggang, ia menarik nafas lebih lama. Valerina menatapnya tidak percaya. Ia menangis haru di pelukan Raka yang juga terpaku menatapnya. Kirana memeluk Rachel erat. “Syukurlah,” bisik Fabian. “Aku akan melepaskan alat-alat ini, kau harus tetap bersamaku, oke?” kemudian ia menoleh pada orang-orang di belakangnya. “Bisakah kalian keluar sebentar, aku akan melepas alat-alat bantunya.”  Meskipun enggan akhirnya mereka semua berlalu dari kamar Luna.
Raka meremas jemari Valerina ketika gadis itu masih menangis sesenggukan. Rachel tampak sudah teralihkan sepenuhnya dengan mainan barunya. Kirana duduk cemas di samping Valerina.
“Aku tau ia akan sadar,” bisik Kirana. “Terima kasih Tuhan, terima kasih Hel. Ini semua karena dirimu.” Ujarnya. Valerina menyandarkan kepalanya di bahu Kirana. Ia menangis pelan penuh kebahagiaan.
Dua jam berlalu, dua jam yang begitu menyiksa bagi mereka. Kemudian Fabian keluar kamar dengan wajah cerahnya. “Kalian sudah bisa menemuinya,” ujar Fabian. Valerina dan Kirana langsung berlari masuk ke kamar Luna. Raka tersenyum tipis kemudian menggendong Rachel dengan lembut.
“Akhirnya kau sadar,” bisik Kirana. Luna menatap mereka bahagia. Matanya tampak masih belum terbiasa dengan cahaya.
“Ka… kalia..n..” bisiknya lemah.
“Sstt… tidak perlu bicara. Kau hanya perlu tetap bersama kami, selamanya…” Valerina menggenggam jemari Luna penuh kasih. Membuat gadis itu meneteskan air matanya perlahan.
                             

PUTRI KELABU -29-


Kirana menundukan kepalanya, menangis perlahan. “Tapi kemudian kau malah berlalu pergi meninggalkan kami.” Ujarnya. Valerina tersenyum, namun bukan senyum menawan seperti biasanya, senyuman itu begitu perih.
“Aku tidak tau lagi apa yang bisa ku lakukan saat itu,” jawab Valerina akhirnya.
“Kau benar,” bisik Kirana saat bisa mengendalikan tangisnya. Ia kembali menatap hujan yang kian membesar. “Kami sudah berusaha mencarimu kemana-mana,” Kirana memejamkan matanya sesaat, seakan mengenang kembali masa tiga tahun yang lalu. “Aku, Om Arya, Tante Thalia, Vero, Are, dan Raka.” Nafas Valerina kembali tercekat. Ia menggeleng pelan. Jijik pada dirinya sendiri yang masih merasa perih mendengar nama terakhir itu.
“Ki…” panggil Valerina pelan. Ia menatap sahabatnya penuh kasih. “Maukah kau menceritakan padaku apa saja yang sudah terjadi selama ini?” tanyanya. Kirana tersenyum tipis dan mengaguk.
                                                            ***
Ben menatap layar laptopnya dengan seksama. Beberapa kali berdecak kagum dengan apa yang ia lihat.
“Bagaimana dengan hasilnya?”
“Sempurna!” desis Ben.
“Rio melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Kita bisa menggunakannya lagi nanti.” Ujar suara di belakangnya.
“Bukan,” bisik Ben. “Bukan karena Rio,” tambahnya. Pemuda jangkung di belakangnya mengerutkan kening, kemudian berjalan menghampiri Ben yang masih terpaku pada layar laptonya. “Lihat, gadis inilah yang membuatnya tampak begitu sempurna,” ujar Ben antusias. Tanpa ia sadari sosok di sebelahnya membeku tak bergerak. Menatap tawa gadis cantik itu tidak percaya. Sosok indahnya tampak begitu menawan di sekeliling bocah-bocah kecil yang tertawa riang di padang rumput bersamanya.
“Rachel…” bisiknya dingin.
“Ah ya, mereka juga bilang ada masalah kecil dengan Rachel, dia merengek ingin pu…” Ben menghentikan kata-katanya ketika Pria itu meraup kunci mobilnya dengan tergesa. “Hey Raka!! Aku belum selesai bicara!!” teriaknya kesal. Namun ia terlambat. Sosok tampan sahabat sekaligus rekan kerjanya sudah berlalu pergi. Ia mendesah dan kembali menatap layar laptopnya.
                                                ***
“ketika mengetahui kepergianmu dari Vero, semuanya jadi kacau balau. Luna begitu syok dan Raka pergi begitu saja. Ia terlihat begitu kalut.” Valerina mencengkram lengan sofa di sampingnya. Menahan emosi yang muncul akibat kenangan itu. “Dan setelah itu Luna kritis…” Kirana memejamkan matanya perlahan, membiarkan air matanya menetes. “Aku begitu kalut. Ketakutan akan kehilangan sahabat-sahabatkku. Kau tidak tau bagaimana takutnya diriku saat itu. kau sudah pergi, dan Luna sakit. Kau pikir aku bisa berdiri dengan tenang di sana? Sendirian?!” Kirana begitu terguncang. Kemudian setelah menghela nafas beberapa kali ia kembali tenang. “Ah Rachel, sudahkah kau bertemu dengan Raka?” Tanya Kirana kemudian.
Pandangan Valerina berkabut karena air mata. Ia menggeleng perlahan. “Aku tidak ingin menemuinya,” bisik Valerina.
“Kau tidak ingin menemuiku?”
Deg.
Kedua gadis itu tercekat. Valerina berbalik dan menatap sosok tampan di hadapannya tidak percaya. Sosok yang selalu memenuhi relung hati terdalamnya. Sosok  yang selalu menjadi mimpi buruknya yang begitu manis. Sosok yang selalu ia rindukan.
“Papa…” bisik Rachel memecah keheningan yang sempat tercipta diantara mereka. Dan saat itulah Valerina merasa tubuhnya terjatuh membentur bebatuan terjal. Mengoyak seluruh hatinya. Kerinduannya, rasa cintanya dan keperihannya menjadi satu. Perasaan yang sejak tiga tahun yang lalu ia coba untuk musnahkan. Hatinya terpilin mengingat semua kenyataan yang ada di hadapannya.
Kemudian dengan perlahan Raka berlutut membelai sosok Rachel kecil. Ia tersenyum tipis padanya. “Kau belum tidur?” tanyanya lembut. Valerina menggigit bibir bawahnya sendiri, muak pada perasaan yang kini meliputi hatinya.
“Ah Rachel, sudah malam sayang, ayo tidur dengan mama Kirana.” Kirana menggendong tubuh kecil Rachel yang meronta. Kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Valerina memalingkan wajahnya ketika sosok tampan itu kembali menatapnya. “Hai,” sapa Raka.
“Hai,” balas Valerina dingin.
“Aku ingin bicara denganmu,” ujarnya tenang. Valerina mendengus. Memutar matanya, kemudian mengangkat bahu. “Ikutlah denganku,” Valerina ingin menolak. Namun lengan kekar itu sudah terlebih dahulu meraih lengannya dan menariknya ke sisi lain rumah ini. Mereka menaiki tangga tersembunyi, menuju sebuah taman mungil yang terletak di lantai atas rumah itu. Raka menarik lengan Valerina hingga ia duduk di sampingnya, menghadap langit malam Jakarta yang baru saja berhenti menumpahkan isinya. Valerina menarik tangannya perlahan dari genggaman Raka. Membuat pria muda itu sedikit terkejut. Namun wajahnya masih tampak begitu tenang.
Aroma maskulinnya mulai memenuhi paru-paru Valerina. Ia mengirupnya dalam-dalam, seakan ini akan menjadi hari terakhirnya untuk bernafas lega. “Bagaimana kabar mu?” Tanya Raka memecah keheningan.
“Baik,” jawab Valerina. Ia melirik wajah tampan Raka dari balik bulu matanya. Betapa rindunya ia pada sosok di sampingnya. Namun yang ia dapat lakukan hanyalah duduk mengagumi dalam diam semua keindahan itu.
“Aku mencarimu kemana-mana,” bisiknya, pandangannya menerawang jauh ke depan. “Aku pikir tidak akan pernah bertemu lagi denganmu,” kini suara itu terdengar begitu rapuh. Hati Valerina terpilin mendengar kata-katanya. Terlebih nadanya yang begitu perih. “Aku sangat bahagia melihatmu baik-baik saja,” Valerina tergagap ketika Raka tiba-tiba memandangnya. “Aku selalu berdoa agar kau baik-baik saja,” ujarnya tulus. Mata abu-abunya mencair. Ia membelai lembut pipi kiri Valerina, membuat gadis itu merasakan kesedihan yang mendalam. Namun kemudian ia memalingkan wajahnya, menjauhi jemari Raka.
“Terima kasih,” bisiknya dingin. Inilah saatnya, inilah saatnya ia untuk tegar dan menerima semua kenyataan itu. “Terima kasih juga untuk menjaga Luna, dan menjadi suami yang baik untuknya,” bisik Valerina tercekat. Ia tersenyum perih mendengar kata-katanya sendiri.
“Aku tidak pernah menikah dengan Luna,”

PUTRI KELABU -28-


Valerina mendelikan matanya. Mengehentikan pencariannya pada ibu gadis itu. ia melirik takut pada wajah gadis kecil yang memerah itu. kata-katanya memang tidak begitu jelas, namun Valerina bisa memahaminya dengan sangat baik. Kemudian ia merengkuh wajah mungilnya. Meneliti setiap aspek wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan rambutnya… semuanya begitu sama.
“Ibu peli…” bisik gadis itu. air mata Velarina perlahan menetes. “Ini,” gadis kecil itu memberikan sebuah jepit berbentuk bunga lily. Valerina menggeleng tidak percaya kemudian memeluknya erat. Hatinya perih menahan tangis dan isak.
Kau… ini tidak mungkin, tapi kau… ya Tuhan… Luna…
Ia terus memeluk sosok mungil itu penuh kerinduan. Hatinya perih dan bahagia dalam waktu yang bersamaan. “Sayang, di mana ibumu?” Tanya Valerina setelah menghapus air matanya. Dan betapa terkejutnya ia melihat sosok mungil itu turut menangis.
“Rachel?!” teriak seseorang penuh khawatir. Dan kedua wajah itu menoleh. “Astaga…” bisiknya tidak percaya. Ia mematung beberapa meter di depan kedua orang yang tengah ia cari dan sangat ia rindukan. Valerina berdiri menatap sosok di hadapannya penuh kasih.
“Mama Tilana, Lahel sudah menemutan ibu pelinya, tetalang kita bisa membanunkan bunda,” ujar Rachel kecil di samping Valerina, memecahkan kesunyian yang tiba-tiba tercipta diantara mereka. Kirana menghapus air matanya dan berlutut di hadapan Rachel.
“Iya sayang, kita sudah menemukan ibu perinya,” bisik Kirana penuh kasih. Valerina tidak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk Kirana dan Rachel secara bersamaan, menumpahkan seluruh kerinduannya.
                                                ***
“Bunda, atu sudah beltemu ibu peli,” teriak Rachel ketika ia memasuki sebuah kamar di sebuah rumah besar di bilangan Jakarta pusat. Valerina dan Kirana berjalan di belakagnya. “Bunda, ayo banun…aku tudah bawa ibu pelinya…” rengek gadis itu. Valerina menghentikan langkahnya di ambang pintu kemudian mundur menjauh. Kirana menatapnya tidak mengerti.
“Apa yang terjadi dengannya?” Tanya Valerina perih.
“Kau bisa melihatnya sendiri,”
“Katakan padaku!” desis Valerina. Kirana memalingkan wajahnya.
“Dia koma setelah melahirkan Rachel,” bisik Kirana. “Hampir dua tahun lamanya,” tambah Kirana perih. “Rachel adalah sebuah mukjijat yang tak terkira. Dan kau tau, seharusnya saat ini aku marah kepadamu yang menghilang selama tiga tahun. Tapi ternyata aku malah berterima kasih padamu, karena kepergianmu Luna seakan-akan memiliki kekuatan untuk menunggumu kembali, meski dalam keadaan koma.” Tuturnya. Hati Valerina mencelos. Bibirnya bergetar tak bersuara. “Sekarang kau di sini, kau sebaiknya menemuinya, ia sudah menunggumu.” Ujar Kirana. Valerina menggeleng, membuat Kirana heran dan terkejut.
“Aku tidak akan menemuinya,” bisik Valerina. Kirana menatapnya tidak percaya.
“Dia sudah menunggumu!!” bentak Kirana kesal. Valerina menghempaskan cengkraman Kirana di tangannya dengan kasar.
“Itu dia masalahnya!” balas Valerina. “Tidakkah kau mengerti Ki?” bisik Valerina lebih pelan. “Aku tidak ingin ia mati,” kirana tercekat menatap Valerina.
“Apa maksudmu?”
“Setelah bertemu denganku, kau pikir apa lagi yang akan menahannya pergi?” tanyanya. Kirana membeku di tempatnya. Melirik sedikit kea rah kamar.
“Tapi bukankah ada kemungkinan untuknya kembali sadar karena bertemu denganmu. Seperti biasa, kau akan menjadi kekuatan untuknya.” Bisik Kirana. Valerina menggeleng perih.
“Aku tidak bisa mengambil resiko apapun,” bisiknya. Kemudian menangis terduduk. Tanpa mereka sadari Rachel kecil tempak terpaku menatap pertengkaran mereka. Ia memang tidak mengerti dengan semua perkataan kedua orang dewasa di hadapannya. Tetapi entah mengapa ia tetap meneteskan air matanya. Kemudian ia kembali beranjak ke ranjang bundanya. Naik dengan susah payah dan meringkuk di samping tubuh Luna yang kaku.
“Bunda…” bisiknya pelan. “Apa bunda atan mati?” tanyanya. Namun kemudian ia menangis sesenggukan. Menarik lengan bundanya hingga memeluknya sedemikian rupa. “Lahel tayang bunda,” isaknya.
                                                ***
Kirana duduk termenung di samping Valerina. Mereka hanya terdiam beberapa saat melihat hujan dari belik jendela di ruang tamu. Kirana sudah melihat Rachel tertidur pulas disamping ibunya. Dan ia merasa sedikit tenang.
“Kirana,” bisik Valerina pelan. “Bagaimana dengan perasaanmu?” tanyanya. Kirana masih termenung menerawang jauh kedepan.
“Sama perihnya denganmu.” Bisik Kirana akhirnya. “Hel, apa kau menginginkan Luna mati?” pertanyaan itu berupa bisikan, namun bisa menghancurkan dinding ketakutan diantara kedua gadis itu.
  “Apa maksudmu?” Tanya Valerina tanpa memandang Kirana.
“Tidak apa. Aku hanya merasa sangat senang ketika akhirnya istri Leo bercerai dengannya, pergi menjauh.” Valerina menatapnya tidak percaya.
“Kau mengetahui hal itu?” tanyanya. Kirana mengaguk pelan.
“Aku merasakan perih yang sama denganmu saat Leo menikah. Atau mungkin beberapa tingkat di bawahmu karena istri Leo bukanlah orang yang ku kenal, terlebih sahabatku. Namun aku begitu senang ketika akhirnya mereka berpisah.” Kirana menarik nafas panjang. “Dan selama ini aku selalu bertanya-tanya apakah kau menginginkan kematian Luna ketika ia akan menikah dengan Raka tiga tahun yang lalu?” tanyanya. Tubuh Valerina menegang ketika mendengar nama terakhir itu. air matanya mengalir perlahan tanpa kompromi. Membawanya kembali menatap memori yang begitu menyedihkan itu.
“Ya,” bisik Valerina.