Tampilkan postingan dengan label cahaya cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cahaya cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2013

CAHAYA CINTA -16-




Mendung sudah berlalu… membawa kelabu itu hingga ke angkasa…
Tetesan hujan terakhir sudah berhenti sejak beberapa saat yang lalu, menyisakan sisa-sisa air di udara, menawarkan kesejukan yang begitu nyaman terasa...
Dan ketika matahari itu muncul malu-malu di balik kabut tipis sang senja, aku tau… cahayanya akan segera hadir… cahaya cinta yang akan menunjukan pesona menawan sang senja. Cahaya cinta yang akan membantuku untuk kembali menjadi sosok yang akan tersenyum menatap seluruh ciptaan-Mu ya Allah…
***
                                                                                          20 Januari 2009

Assalamualaikum saudariku,
Semoga Allah selalu memberikan seluruh limpah nikmatnya padamu.
Sebelumnya, maafkan aku karena baru sempat membalas surat terakhirmu hari ini…
Kau tidak perlu berterima kasih padaku, kau tidak pantas melakukan itu. kau lah yang melakukan seluruh kebaikan itu dan seharusnya aku yang berterima kasih padamu, atas segalanya… semua yang telah kau lakukan untukku, untuk kami…
Dan kau tidak perlu meminta maaf. Aku yang harusnya meminta maafmu, betapa naifnya diriku berada di antara kalian berdua. Betapa jahatnya aku…
Aku harap kau mau memaafkanku.
Maafkan aku…
Aku memang mencintai Raka, dan aku tidak ingin membohongi diriku sendiri tentang rasa itu. Namun, bukankah kau pernah mengatakan, sejauh apapun cinta itu terpisah, jika Allah sudah mentakdirkan mereka untuk bersama, mereka akan bersama. Begitu pula dengan kalian.
Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Dan janganlah kau menyalahkan Raka karena semua keputusan ini. Sebenarnya aku lah yang memintanya untuk melakukan shalat istikharah, dan kau lah yang diberikan sang Khalik sebagai jawaban dari doa-doanya, dan aku ikhlas.
Aku bahagia atas kebahagiaan kalian.  Tersenyumlah saudariku, maafkanlah semua kesalahanku di masa lalu. Aku mencintai kalian, dan aku akan terus mencintai kalian karena Allah.
Karena Allah tidak menyukai umatnya yang saling membenci.
Maafkan aku yang sudah membuatmu terluka di hari yang lalu, namun aku berjanji untuk tidak akan mengulang kesalahanku lagi.
Berbahagialah kalian dalam pernikahan yang indah itu, berbahagialah, karena aku akan bahagia ketika melihat kebahagiaan di matamu…

Gadis itu menyeka air matanya dengan perlahan, bibirnya terkatup rapat untuk menjaga isakan itu agar tidak menembus pertahanannya. Buru-buru di hapusnya tetesan air mata yang jatuh tak sengaja mengenai kertas itu. kertas berwarna putih bersih yang belum selesai ia baca, namun sudah mampu menumpahkan seluruh air matanya.

Raka mencintaimu, dia sangat mencintaimu. Aku bisa melihat hal itu dari matanya meski ia berkali-kali mengelak. Tapi cinta itu terlalu murni, cinta itu terlalu indah untuk disembunyikan, dan aku tau kau juga sangat mencintanya. Jangan menyangkal. Kau sudah melewati banyak kisah yang menguras air matamu, mungkin kini waktunya kau sedikit tersenyum. Tidak perlu kau pikirkan tentang diriku, sudah ku katakan aku akan baik-baik saja. Aku adalah gadis yang kuat.
Cintailah cinta Ann…
Cintailah cinta…
Aku mendoakan kebahagian kalian.
                

saudarimu, 
Sybila Bilqis Az Zahra                                                                 

***
“Kak Raka akan menginap di sini?” Tanya Aisah sambil menatap lekat-lekat sosok tampan yang sejak dua jam yang lalu duduk tenang di ruang tamu rumah mereka. Raka menatap sosok mungil itu sambil tersenyum tipis, hanya berselang enam bulan, namun rasanya gadis itu sudah terlihat begitu dewasa.
“Tidak sayang, kakak hanya menyampaikan surat yang dititipkan kak Zahra, setelah itu kakak akan pergi.”
“Pulang ke Indonesia?” Tanya Aisah, matanya sedikit membulat tidak percaya. “Mengapa kakak tidak bilang,” keluhnya cemas. “Bisakah kakak tinggal sebentar lagi, aku ingin menulis surat untuk Anisa, lusa adalah hari ulang tahunnya. Dia pasti akan sedih jika tidak menerima kado dariku.” Ujar Aisah. Raka kembali tersenyum dan mengangguk perlahan.
“Tidak Aisah,” ujar Anna tiba-tiba. Aisah menatap ibunya dengan pandangan memohon. “Sudah larut, kau harus beristirahat.”
“Tapi bunda…”
“Masih ada hari esok, kau harus tidur sekarang. Dan lagi pula kak Raka akan bermalam di sini, besok kau bisa menulis kartu ucapanmu di pesawat.”
Mata Aisah membulat tidak percaya. Sosok Luna yang sedari tadi hanya terdiam pilu di kursinya, ikut menatap sosok Anna.
“Anna…” bisik Raka.
“Tidurlah,” katanya pada Aisah.
“Apa kita akan pulang?” rajuk Aisah. Anna duduk di samping putrinya, membelai lembut kepala gadis berumur 9 tahun itu penuh kasih. Mata indahnya menatap gadis itu dengan pandangan meminta maaf yang teramat dalam, membuat sosok mungil Aisah menggigil di kursinya. “Aisah tidak ingin pulang jika tidak bersama bunda…” ujarnya mulai terisak. “Aisah akan menulis surat untuk Anisa, dan akan terus menemani bunda di sini. Nenek dan kak Raka boleh pulang, tapi Aisah akan tetap bersama bunda di sini, Aisah sudah berjanji pada ayah untuk menjaga bunda…”
“Aisah…”
“Tidak bunda… jangan suruh Aisah pulang… apa bunda sudah tidak sayang Aisah?” air mata gadis kecil itu terus menetes, meski sang ibunda sudah memeluknya erat-erat.
“Anna, pulanglah bersamaku. Aku tidak akan mengartikan kepulanganmu seperti yang mereka pikirkan. Kau berhak tidak menerima kehadiranku, tapi setidaknya pulanglah. Semua orang merindukanmu.”
Anna mempererat pelukannya pada sosok mungil Aisah sebelum merasakan pertahanannya akan semua rindu itu mulai hancur.
***
            Bandung 4 Januari 2009
Hujan di luar sana masih mengguyur raya dengan derasnya, namun tetap tidak bisa membaurkan suara isak tangis yang terdengar dari sebuah kamar gelap di panti asuhan itu. Gadis itu menanggis tergugu di atas sajadahnya, ia baru saja menunaikan shalat subuhnya, dan kini, ketika hujan di luar sana turun dengan begitu derasnya, ia pun ikut menangis dengan begitu perihnya.
“Zahra,” panggil Amy pelan. Ia menatap sedih sosok sahabatnya yang masih menangis di atas sajadahnya. Zahra menoleh perlahan, menunjukan mata sembabnya. “Raka sudah datang.” Bisik Amy. Zahra mengangguk perlahan dan bangkit dari duduknya, tubuhnya sekit limbung karena terlalu lemah, namun dengan bantuan Amy ia bisa berdiri dengan tegak.
Berulang-ulang Zahra melafalkan salawat nabi untuk menenangkan hatinya. Ia sudah membuat keputusan. Sudah begitu lama, bahkan sejak hari pertama ia mendengar kabar kecelakaan Raka 6 bulan yang lalu, tepat di malam hari pernikahannya, dan semuanya semakin terasa mantap hingga ia melihat mata pemuda itu kembali terbuka.
Raka langsung berdiri ketika melihat Zahra yang datang bersama Amy, dengan cepat ia menggantikan Amy untuk menahan tubuh Zahra dan mendudukannya di sofa sebelahnya.
“Aku baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan.” Ujar Zahra seraya melepaskan genggaman Raka dengan perlahan dari lengannya. Kemudian dengan lemah ia mengedarkan pandangannya pada sosok-sosok lain di ruangan itu. Bibinya, Amy, Arya, Darmawan dan Raka yang duduk di sebelahnya.
“Ada apa Zahra?” Tanya Ummi. “Mengapa kau meminta kami berkumpul sepagi ini di sini?”
“Tidak apa-apa ummi, aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Aku sudah membicarakan sebelumnya hal ini dengan kakek,” ujarnya seraya menatap sosok tua Darmawan yang mengangguk mengiyakan. “Aku pikir, sudah waktunya Raka untuk menjemput Anna.”
Tubuh Raka membeku di sampingnya. Wajahnya mengeras, menunjukan bahwa pemuda itu tengah berusaha untuk menahan emosinya.
Dengan lembut Zahra menyentuh kepalan jemari pemuda disampingnya. “Raka…” bisiknya lembut.
“Sudahlah Zahra, kau sedang kelelahan. Kau terlalu banyak berpikir, sebaiknya kau istirahat.” Ujar Raka. “Jangan bicarakan hal yang tidak penting lagi. Kita akan segera menikah.”
“Tidakkah kau mengerti…” potong gadis itu lemah. “Kita tidak akan pernah menikah, tidak akan pernah bisa. Kau bukan untukku, kita tidak akan pernah bersama.”
“Zahra…” tegur Amy.
“Tidakkah kau mengerti Raka? Aku bukan jodohmu, sebesar apapun cintaku padamu. Tapi Anna. Dia lah yang diciptakan Tuhan untukmu.”
“Kau bukan Tuhan. Kau tidak bisa menentukan siapa jodohku atau siapa jodohmu. Kita semua hanya mahluk-Nya yang bisa berserah diri pada semua takdir-Nya.”
“Begitu pula dirimu.” Zahra menatap lekat-lekat pemuda di sampingnya, kemudian dengan perlahan ia melirik ummi yang mengangguk kepadanya. “Dan kalau begitu, beristikharah lah…”
“Zahra aku tidak ingin memilih.”
“Itu bukan pilihan. Itu adalah cara seorang muslim untuk menentukan jalannya.”
“Tapi aku akan menikahimu.”
“Kenapa?”
“Zahra—“
“Katakan kenapa kau akan menikahiku?”
“Karena aku mencintaimu.” Ujar Raka setelah diam sejenak. “Dan aku tidak perlu melakukan istikharah untuk itu. keputusanku sudah bulat. Aku akan menikahimu.”
“Kau tau, rasanya hatiku begitu bahagia mendengar kau akan menikahiku. Sangat bahagia, hingga bahkan aku berpikir, kalaupun aku mati sekarang aku tidak akan menyesal. Aku sangat mencintaimu, aku tidak tau mengapa, namun rasanya begitu mudah untuk menanamkan rasa itu. Meski itu hal yang salah…”
“Itu bukan hal yang salah Zahra, aku juga mencintaimu.”
“Kalau begitu kau tidak perlu takut melakukannya, jika sebesar itu cintamu padaku, kau tidak perlu takut menerima jawaban lain dari-Nya.”
Raka terdiam, dan kebisuan itu membuat Zahra tersenyum tipis. Ia menyeka air matanya dengan perlahan. “Aku minta maaf bibi, kakek… dan kalian berdua. Tapi aku harus melakukan ini. Aku tidak meragukanmu, aku tau kau adalah sosok terbaik.” Ujar Zahra seraya menatap sosok di sampingnya lagi. “Tapi aku ingin kau kembali menegaskannya. Untuk dirimu sendiri. Demi Allah Raka, aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Tapi jika kau bukan jodoh yang dituliskan Allah untukku. Aku tidak bisa memaksa.”
“Aku akan melakukannya jika itu maumu.” Ujar Raka akhirnya, Zahra tersenyum tipis dan mengangguk.
“Terima kasih.” Bisik Zahra penuh kepedihan.

Dan begitulah permintaan Zahra di pagi hari berhujan itu. Hingga beselang tiga minggu kemudian, Zahra tidak sama sekali menantikan kedatangan Raka untuk menjelaskan jawaban atas segala doanya. Tubuhnya yang sempat melemah belakangan ini sudah kembali membaik. Ia sudah kembali mengajar di madrasah-madrasah panti, dan kini mulai di sibukan dengan kuliah S2 di salah satu universitas islam negri di Bandung.
Hingga hari itu, senin 19 januari 2009, tanpa di sangka-sangka Raka datang menemuinya. Langkah Zahra yang baru saja keluar dari kelasnya mengajar langsung terhenti. Setetes air mata mengalir bersamaan senyuman manisnya yang mempesona. Ia mengangguk santun penuh hormat.
“Tunggulah sebentar, aku ingin menitipkan sepucuk surat untuk Anna.” Ujarnya seraya berjalan melewati sosok Raka yang berdiri di ambang pintu. Raka menangkap pergelangan tangan gadis itu, hingga Zahra menghentikan langkahnya beberapa kaki di belakang Raka.
“Aku mencintaimu.” Ujar Raka.
“Aku juga mencintaimu kak,” bisiknya sebelum melepaskan pegangan Raka dan berlalu ke kamarnya untuk menangis.
***
Sore itu juga Zahra dan yang lainnya mengantar Raka ke bandara untuk menyusul Anna ke Kairo dan memintanya pulang. Bahkan sosok Raihan pun datang ketika mendengar kabar keberangkatan Raka. Ia tersenyum tipis dan berdiri di samping Zahra yang tersenyum manis pada Raka.
“Pergilah,” ujar Zahra dengan senyumannya yang tulus. “Aku akan baik-baik saja di sini, bawalah kembali gadis itu pulang ke tanah airnya. Dia pasti sangat merindukan semuanya.”
“Aku akan tetap menjagamu.” Ujar Raka sungguh-sungguh. Zahra mengangguk pelan.
“Kau harus menjagaku, harus. Sebagaimana seorang kakak menjaga adiknya…” ujar Zahra. Aminah tersenyum tipis penuh haru.
“Pergilah, atau kau akan ketinggalan pesawat,” ujar Raihan. Raka tersenyum dan menepuk pundak pemuda itu.
“Tolong jaga adikku.” Katanya sebelum mengucapkan salam dan berlalu pergi.
“Mengapa kau membiarkannya pergi?” Tanya Zahra kepada Raihan tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Raka yang semakin jauh. Raihan menaikan sebelah alisnya dan menoleh pada gadis di sampingnya. “Kenapa kau tidak menahannya?”
“Kenapa aku harus menahannya?” Tanya Raihan tidak mengerti.
“Bukahkah kau tau jika Raka pergi kesana, maka mereka akan kembali bersama.”
“Aku tau.”
“Lalu mengapa?”
“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu.”
Zahra menggeram gemas, “Bukankah kau mencintai Anna? Tapi kenapa kau membiarkan Anna bersama dengan Raka?! Mengapa kau tidak menahan kepergian Raka?!”
Raihan menatap gadis di sampingnya dengan kening yang berkerut, kemudian ia tertawa lebar. Hingga membuat beberapa orang menoleh, tertarik mendengar tawanya.
“Aku memang menyayangi Anna, tapi itu semua karena aku menghormati kak Alan. Well, Anna memang sosok yang sempurna untuk dijadikan pendamping hidup. Tapi bukan gadis seperti itu yang ku inginkan. Aku mempunyai sebuah ego yang menggunung tinggi, dan Anna tidak akan bisa mendakinya. Aku membutuhkan seorang gadis yang lebih kuat. Bukan berati dia tidak kuat, Anna sangat kuat, dia sudah membuktikannya dengan ketegarannya selama ini. Tapi pada dasarnya, bukan Anna yang bisa membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama…”
“Kau berbelit-belit. Aku tidak mengerti. Tapi yang jelas, kau melakukan semua ini untuknya.”
“Aku tidak melakukan apapun untuk siapapun. Dan kalaupun aku melakukan sesuatu, itu untuk diriku sendiri. Aku sangat mendukung perpisahanmu dengan Raka karena aku mencintaimu. Karena aku… bukan karena Anna, dan kalaupun kebetulan itu juga berakibat positif untuknya, aku senang.”
“Apa?!” Zahra terpekik dengan mata membulat.
“Ah, bodoh. Aku mencintaimu, apa kau tidak mengerti juga?!” tanyanya kesal.
“Tapi aku tidak mencintaimu.” Desis Zahra dengan nada sedikit mencibir.
“Aku tidak memintamu untuk mencintaiku,” Raihan mengangkat bahunya tak acuh. Kemudian kembali menatap orang-orang yang terus berlalu lalang di hadapan mereka. “Aku tidak peduli. Cinta atau tidak, kau akan menjadi milikku.” Ujarnya tegas, membuat sosok Zahra memerah marah di sampingnya. “Dan lagi pula, sudah terbukti bukan, jika kau dan Raka memang tidak di takdirkan bersama, jadi mungkin kau memang digariskan untukku.”
“Kau terlalu sombong. Bagaimana jika ternyata Anna menolak kehadiran Raka?”
“Jangan mengelak. Bukankah kau sendiri sudah mengetahui jawabannya dari shalat istikharahmu sebelum kau memintanya melakukan hal yang sama?” tuding Raihan dengan senyuman geli, namun pandangan yang begitu serius. Tubuh Zahra benar-benar mendidih.
“Apa kau cenayang?!” pekiknya.
“Bukan, tapi aku memiliki informan terpercaya.” Ujarnya seraya mengedip pada kakeknya yang terkekeh-kekeh melihat perseteruan mereka.
“Kakek…” desis Zahra putus asa.
“Raka!!! Astaga… aku terlambat…” pekik Amy yang baru saja sampai di bandara. Ia terengah-engah menatap pintu yang baru saja dilewati Raka.
“Amanda Christie…”
Zahra mengerutkan keningnya ketika mendengar suara bisikan dari pemuda di sampingnya. Ia langsung menoleh dan menatapnya dengan pandangan ‘apa’. Tapi pemuda itu masih diam, matanya tertuju pada satu arah, terpaku ke depan dengan mulut yang sedikit ternganga. Sebuah mimic terkejut yang mendapatkan nilai 9.9 dari skala 1-10.
“Raihan?” tegurnya ketika pemuda berkemeja cokelat itu tidak juga tersadar dari keterkejutannya. Hingga tegurannya yang ke tiga kali, sosok Raihan masih membeku di sampingnya, bagai seorang kolektor prangko yang takjub ketika menemukan prangko asli sebesar Koran di hadapannya.
Tidak. Tapi mimiknya lebih dari sekedar takjub. Mimiknya lebih menyerupai ekspresi terkejut yang sangat ‘terkejut’. Zahra mulai panik, kalau-kalau ternyata pemuda di sampingnya terkena serangan jantung dini. Karena mendadak wajah itu tampak sangat pucat dengan mata kosong dan bibir yang membiru.
“Apa kita bisa memanggilnya kembali?” Tanya Amy di sampingnya. “Aku juga ingin menitipkan sebuah surat untuk Anna.”
“Tenanglah,” ujar Zahra, memutuskan tidak peduli pada apapun yang terjadi kepada sosok pria di sampingnya. “Kau akan bisa memberikan surat itu langsung kepadanya,”
“Apa dia akan pulang?” Tanya Amy dengan mata berbinar. Di genggamnya erat-erat kertas yang baru ia tulis beberapa saat yang lalu.
Zahra mengangguk dan tersenyum, matanya kembali menatap jauh ke depan. “Ya, mereka semua akan segera pulang, secepatnya.” Bisiknya penuh keyakinan. Seyakin ia pada cahaya indah yang perlahan muncul di antara kabut-kabut tipis selepas hujan hari itu.
-the end-
Funny how the heart can be deceiving
More than just a couple times
Why do we fall in love so easy
Even when it's not right

Where there is desire
There is gonna be a flame
Where there is a flame
Someone's bound to get burned
But just because it burns
Doesn't mean you're gonna die
You've gotta get up and try try try
Gotta get up and try try try
You gotta get up and try try try

Ever worried that it might be ruined
And does it make you wanna cry?
When you're out there doing what you're doing
Are you just getting by?
Tell me are you just getting by by by

Where there is desire
There is gonna be a flame
Where there is a flame
Someone's bound to get burned
But just because it burns
Doesn't mean you're gonna die
You've gotta get up and try try try
~~~~~~~~~~
tangerang 17032013. 12;16 AM

Senin, 11 Maret 2013

CAHAYA CINTA -15-



Sosok cantik itu terluka… dan semua orang melihatnya, hingga semua orang turut menangis untuknya. Meskipun tentu saja tidak ada yang bisa menyelami kesedihan sosok itu. Ia terluka sedemikian dalamnya, hingga rasanya tubuhnya sudah lelah untuk bertahan.
Sekali lagi Anna memejamkan kedua mata indahnya, mencoba menahan getaran dari isak tangis yang seakan berniat mengoyak tubuhnya. Ia menetapkan hatinya dan menghela nafas panjang. Menatap lurus pada sajadahnya yang tampak buyar di pandangan matanya yang penuh air mata. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat untuk menenangkan gemuruh hatinya, dan memulai shalat tahajudnya malam itu.
“Ya Allah, hamba sepenuhnya berserah padamu… hamba hanya seorang manusia penuh dosa. Hamba mohon ampunanmu Ya Allah, atas kedua orang tua hamba yang begitu hamba cintai, dan seluruh umat muslimin dan muslimat di dunia ini…
“Ya Allah, hamba hanya seorang wanita penuh nista, hamba melakukan banyak kesalahan. Hamba melakukan banyak kebodohan. Tapi hamba tidak memiliki tujuan lain di kehidupan ini selain berserah diri pada Mu. Ampunilah dosa-dosa hambamu ini ya Allah. Ampuni hamba…
“Hamba berserah diri pada semua takdir Mu, hamba ikhlas ya Allah… hamba Ikhlas… hamba ikhlas…”
Isakan Anna terdengar begitu memilukan, memecah keheningan malam yang dingin dan kelam, membuat seorang gadis kecil yang tengah tertidur di ranjangnya terbangun dan menghampiri sosok yang tengah berdoa di atas sajadahnya itu.
“Bunda…” bisiknya pelan. Buru-buru Anna menghapus air matanya, dan menoleh pada sosok Aisah. “Ada apa?” tanyanya.
“Tidak apa-apa sayang, kembali tidur lah. Besok kita akan segera berangkat setelah pemakaman ayah…” ujarnya lembut seraya membelai kepala gadis kecil yang langsung menegang di hadapannya, kemudian tangis itu pun pecah.
Air mata Aisah menetes perlahan, meski sang bunda terus mengatkan jangan menangis. Tapi gadis itu tetap menangis tergugu, kedua punggung tangannya menutupi matanya yang terus meneteskan air mata. Ia terus menangis pilu hingga akhirnya Anna menariknya dalam dekapannya, mencium keningnya, menghujani wajahnya dengan air matanya sendiri.
“Ayah akan baik-baik saja. Dia akan menanti kita di sana dengan sangat sabar. Ayah adalah sosok penyabar yang baik hati, sudahkah bunda bercerita tentang itu? Ia akan segera membangun sebuah istana indah di surga dan menanti kita dengan damai. Ia berbudi baik, ia akan mendapatkan tempat terindah di sisi Allah. Ia akan bahagia putriku… ia akan bahagia…”
Tangisan Aisah tidak kunjung mereda. Ia terus terisak di balik mukena yang di kenakan ibunya.
“Tapi Aisah mencintai ayah…” isaknya pilu.
“Kita semua mencintai ayah… kita semua…” Anna mencium kening putrinya penuh sayang, kemudian meletakan pipinya di kening gadis kecil itu. “Ayah juga pasti sangat mencintaimu. Bunda tau itu, tapi ini sudah jalannya sayang. Ini sudah takdirnya. Kita harus mengikhlaskannya…”
“Aisah ikhlas bunda… Aisah ikhlas…” suara gadis itu begitu pelan, tertutup isakan perihnya. Baru beberapa hari yang lalu ia merasakan kebahagiaan itu. merasakan kebahagian memiliki keluarga yang utuh dan mencintainya sepenuhnya. Ia memang tidak pernah menemukan mata itu terbuka, ia bahkan tidak tau bagaimana suaranya, namun ia mencintainya, ia mencintai ayahnya sejak ia melihat cinta indah itu di mata bundanya.
“Terima kasih sayang.” Bisik Anna pelan.
***
Suasana rumah sakit pagi itu terasa begitu hening bagi Anna, meski ia bisa melihat puluhan orang-orang berlalu lalang di hadapannya. Namun di benaknya, semua itu tidak lebih dari sebuah gambar pada layar tv hitam putih yang tidak bersuara. Semuanya begitu sunyi dan mencekam. Ia mengenakan gamis tercantiknya, ia juga mengenakan sedikit make up yang sebelumnya tidak pernah tersentuh. Semua orang yang melihat sosoknya akan tercengang karena beranggapan melihat patung yang biasa di pajang di etalase-etalase toko mahal menjadi hidup.
Namun wajah itu tampak begitu kosong. Ia berjalan perlahan di samping Luna dan Aisah. Darmawan berjalan selangkah di hadapan mereka. Dan setegap apapun langkah pria itu, baik Anna maupun Luna bisa melihat getaran-getaran di punggung tuanya yang menahan isakan tangisnya.
Akhirnya itu lah saatnya. Ketika akhirnya Anna harus kembali mengantar suaminya yang tidak pernah membuka matanya itu kembali ke rumah sakit. Pada akhirnya ia harus kembali mengenakan baju operasi lagi untuk menemui suaminya di ruang oprasi. Pada akhirnya ia harus menahan isaknya lagi saat yang sebenarnya ia inginkan adalah menangis kencang di ruangan steril itu.
Anna tidak menghentikan langkahnya ketika melewati orang-orang yang tengah menunggu Raka di depan ruang operasi itu. Ia terus melangkahkan kakinya, melewati pintu ganda yang beberapa tahun yang lalu pernah di lewatinya juga. Ia mengganti sendalnya dengan sandal khusus rumah sakit.
“Anak itu tidak boleh masuk.” Ujar seorang perawat sambil menunjuk sosok Aisah yang masih sesenggukan di samping Anna. Aisah meremas tangan Anna ketakutan.
“Ia ingin melihat ayahnya untuk yang terakhir kalinya.” Ujar Anna begitu dingin, perawat itu melirik dokter yang berdiri di meja lebar di depan ruang ganti dan mengangguk. 
Seorang perawat menyerahkan pakaian steril berwarna hijau pada Darmawan, Luna, Anna dan Aisah. Anna berlutut di hadapan gadis kecil itu ketika membantu menggulung tangan bajunya yang terlalu panjang. Sebisa mungkin ia menghindari kontak mata dengan sosok Aisah di hadapannya, hingga kedua telapak tangan gadis itu merengkuh wajah bundanya. Matanya yang berwarna coklat indah menatap mata ibunya. Mencoba mengatakan bahwa bukan hanya ia yang ketakutan di sini. Tapi gadis kecil itu juga ketakutan. Mereka semua ketakutan.
“Anna…” Luna menyentuh pundak Anna perlahan, memintanya segera bergerak. Anna mengangguk dan mengikuti kakeknya yang sudah terlebih dahulu melewati pintu ganda berkaca buram sebagai batas steril di ruang operasi itu.
Anna meremas kencang tangan kecil di genggamannya, namun tampaknya sosok itu sama sekali tidak merasa sakit. Karena yang kini hatinya terasa lebih sakit dari pada kulitnya tersayat-sayat pisau sekalipun. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya. Dada dan tenggorokannya terasa begitu sakit karena menahan tangis.
Setelah Darmawan dan Luna, akhirnya Anna dan Aisah melangkah mendekati sosok yang terbaring lemah di ranjang kamar operasi untuk yang terakhir kalinya.
“Assalamu’alaikum kak Alan.” Anna mencium punggung tangan suaminya, begitu pula Aisah. Dan ketika mulutnya terbuka, bersiap mengatakan sesuatu, tangisnya pun pecah. Aisah menatap perih ibunya dan berjalan ke samping wajah Alan, mengecup kening ayahnya dengan penuh kasih.
“Assalamualaikum ayah. Ini Aisah…” ujarnya pelan, ia terus menggenggam erat gamisnya untuk membantunya menahan genangan air itu. “Ayah tenang saja. Eyang, nenek dan bunda baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja, jadi ayah tidak perlu khawatir. Aisah akan menjaga semuanya. Aisah berjanji, jadi ayah tidak perlu cemas.” Aisah menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Kemudian mengecup pipi pria itu. terasa dingin di bibirnya. “Aisah sayang ayah. Tapi kata bunda Aisah harus mengikhlaskan ayah pergi ketempat yang jauh. Bunda juga bilang, ayah akan menunggu kami di sana sambil membuatkan istana untuk kami. Tapi Aisah tidak ingin istana… Aisah hanya ingin ayah baik-baik saja di sana. Aisah akan mengirimkan doa-doa untuk ayah. Kata ummi itu adalah kado terindah untuk orang-orang yang akan pergi ke surga…
“Dan Aisah akan terus mengirimkan kado terindah itu untuk ayah. Aisah harap dengan itu ayah tau bahwa Aisah sangat mencintai ayah…” Aisah kembali mencium pipi ayahnya lebih lama, kemudian mengusap air matanya yang menempel di pipi ayahnya dengan ibu jarinya yang mungil. “Aisah sayang Ayah…”
Anna berhambur memeluk putrinya. Ia menangis penuh haru di balik pundak gadis itu. “Ayah… kami semua mengikhlaskan kepergian ayah… Eyang, nenek… aku dan bunda…” bisiknya lebih tenang. Anna mengangguk perlahan, dan melepaskan pelukannya.
“Iya kak, tenanglah di sana. Kami semua mengikhlaskanmu. Kami akan baik-baik saja di sini. Kami mencintaimu.” Anna mencium kening suaminya penuh kasih. “Aku mencintaimu kak. Alan…” bisiknya di telinga pria itu sebelum membacakan dua kalimat syahadat di telinganya. “Assalamualaikum kak, selamat tinggal.” Bisik Anna sebelum berlalu dengan keluarga kecilnya yang kini menunjukan setitik senyuman indah di wajah mereka.
“Kau tidak ingin menemui Raka dulu Ann?” Tanya Luna. Anna tersenyum dan menggeleng.
“Tidak ibu, aku harus segera pergi. Raka akan baik-baik saja, lagi pula… sudah ada gadis lain yang mengkhawatirkannya, dan akan menjaganya. Aku tidak perlu cemas akan sahabatku.” jawab Anna pelan.
Sekali lagi ia menoleh pada sosok kaku di balik pintu kaca ganda itu, dan tersenyum tipis sebelum berlalu pergi. Tanpa di sadarinya, setetes air mata tampak mengalir di kedua sisi mata yang sudah dua tahun lebih itu tidak pernah terbuka.
“Selamat tinggal suamiku, do’aku menyertaimu.” Bisiknya sebelum keluar dari ruangan operasi itu.


            “Anna…” tubuh lunglai Anna langsung mundur beberapa langkah ketika seorang wanita tua memeluknya dengan begitu erat. Beribu kali Aminah mengucapkan kata terima kasih dan maaf tanpa kata-kata lain yang menyertai kedua kata itu. Namun Anna sendiri tidak berharap mendengarkan kata lain. Toh kini hatinya mulai terasa kebas.
“Mana Zahra?” Tanya Anna susah payah.
“Zahra berada di panti bersama Ummi dan Amy,” jawab Arya yang berdiri tidak jauh darinya. Anna mengangguk pelan, kemudian melepaskan pelukan wanita itu.
“Ibu… sudahlah, aku ikhlas. Dan semoga Raka akan segera sadar. Aku harus segera pulang, ada banyak hal yang harus aku persiapkan.”
“Tidakkah kau menunggu hingga operasinya selesai?” Tanya Aminah sambil mengusap air matanya.
Gadis itu menggeleng perlahan. “Tidak bu, aku akan menunggu jenazah kak Alan di rumah, Assalamu’alaikum.” Air mata Anna kembali menetes ketika mengucapkan kata-kata itu, Luna merangkul pundaknya, sedangkan Darmawan memutuskan untuk pulang bersama Alan setelah operasi Raka selesai.
***
Raihan membanting pintu rumahnya dengan kasar. Wajah tampannya tampak memerah karena marah dan tangis yang tertahan. Dulu ketika umurnya lima tahun, ketika senyumannya selalu mengembang indah di wajahnya yang selalu mereka bilang lebih tampan dari Alan, ia pernah masuk dengan wajah seperti ini juga, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak dianggap cengeng oleh bocah-bocah lain yang tengah mengoloknya. Ban sepeda barunya bocor karena ulah anak-anak kampung itu, dan Raihan kecil tidak berani membalas mereka. Tubuh mereka terlampau besar, dan mereka berjumlah 4 orang, sedangkan ia hanya sendiri.
Raihan kecil begitu marah, ia meninggalkan sepedanya sambil berlari, namun ia tidak menangis, tidak sama sekali karena ia menahan air mata itu sekuat tenaga. Hingga Alan menghampirinya.
“Ada apa?” Tanya Alan.
“Mereka merusak sepeda baruku.” Ujar Raihan sambil menggigit bibir bawahnya. Alan mendesis kesal dan melirik kearah gerbang dengan marah. “Kakak mau kemana?” Tanya Raihan cemas ketika Alan keluar dari rumahnya. “Mereka berbadan besar dan mereka berempat, kakak pasti kalah.”
“Kau diamlah di rumah. Jangan katakan pada ibu aku pergi kemana. Aku akan segera kembali.” Jawab Alan sungguh-sungguh. Raihan mengangguk kecil, matanya menyiratkan ketakutan dan harapan pada sosok Alan.
Raihan menepati janjinya, ia tidak pernah mengatakan pada siapapun jika Alan berkelahi dengan bocah-bocah itu. Meski tentu saja Luna sudah mengetahuinya ketika melihat memar-memar di wajah putra sulungnya ketika ia pulang dengan menuntun sepeda baru adiknya yang sudah diperbaiki. Raihan bersorak riang dan langsung menaiki sepedanya mengitari halaman rumahnya yang luas, sejenak melupakan sosok kakaknya yang terluka di beberapa bagian wajah dan tubuhnya.
Dan selalu begitu, selalu Alan yang menjadi pelindungnya, selalu Alan yang menjadi kambing hitam dalam setiap kelakuan buruknya. Bahkan Alan pernah mengakui jika ia lah yang mencuri uang di dompet ibunya, padahal tentu saja semua orang tau Alan adalah sosok yang sangat penurut dan tidak pernah melakukan hal buruk seperti itu. Bahkan mungkin sosok Alan tidak pernah memikirkan hal seperti itu sedikitpun, dan itu membuat Raihan jengah. Menuntutnya untuk melakukan hal-hal buruk agar bisa menarik perhatian ibu dan kakeknya. Namun siapapun tau itu tidak berhasil.
Selalu Alan yang menjadi pahlawan, dan ia pencundang, selalu begitu.

“ANNA!!” teriak Raihan, suaranya begitu lantang hingga rasanya mampu meruntuhkan rumah itu dengan hanya sekali teriakan lagi. Sosok kecil Aisah mengintip dari balik tangga. “Mana Anna?!” Tanya Raihan pada gadis itu, namun Aisah hanya terdiam, menatap takut kepadanya.
“Tuan muda, tidak baik berbicara membentak seperti itu pada anak kecil,” ujar bik Sumi pembantu rumah tangga mereka.
“Ah, persetan! Mana Anna?!” geramnya marah.
“Bibi tidak tau, mungkin ada di kamarnya.” Ujar bik Sumi seraya melirik pada sosok Aisah dan menyuruhnya pergi dengan gerakan tangannya. Namun gadis itu tidak bergeming, ia tetap berdiri di sana sambil mencengkram pembatas tangga. Matanya membulat penuh ketakutan, namun jelas tidak ingin berpaling. Beberapa orang yang tengah mempersiapkan kedatangan Alan tampak melirik iba pada sosok Raihan.
“Anna!!!” panggilnya lebih kencang.
“Raihan…” Luna berdiri di depan pintu kamarnya di lantai satu. Mata tuanya menyiratkan luka yang amat mendalam. “Ada apa? Mengapa kau mencari Anna? Ibu ada di sini jika kau perlu bicara.”
“Aku tidak perlu bicara pada ibu! Tidak ada gunanya!! Tidak ada gunanya berbicara pada seorang ibu yang membiarkan anaknya mati!!” pekiknya kesal. Wajahnya semakin memerah.
“Astagfirullah Raihan…” Luna menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Hatinya begitu perih mendengar perkataan putra bungsunya itu. “Raihan, ibu—“
“Jangan menyangkal!!! Kalau bukan karena Anna yang menangis siang malam di sisi kak Alan, ibu pasti sudah membiarkan kakek menyuruh dokter untuk memberikannya suntikan mati kan?!”
“Raihan!!!” pekik Luna tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Kalian semua mengharapkan kak Alan pergi. Kalian semua!! Bahkan si kakek busuk itu!!!” Raihan menendang salah satu guci porselen yang terdapat di sisi ruang tamu hingga pecah berantakan. Kemudian dengan masih menggenggam kemarahan itu ia naik ke lantai atas. Ia sudah muak dengan segala kisah klise di hadapannya. Ia sudah muak dengan scenario busuk yang di buat orang-orang sekelilingnya.
Aisah menatap sosok jangkung Raihan sambil mencengkram mukenanya ketika pemuda itu berjalan tergesa melewatinya. “Bunda sedang shalat,” bisik Aisah. Namun Raihan tidak peduli, dengan keras di bantingnya pintu kamar Anna.
Gadis itu duduk di atas sajadahnya, dengan dua tangan mengadah ke atas, wajahnya yang cantik tersembunyi di balik mukenanya yang sedikit basah. Samar-samar terdengar tasbih yang tiada putusnya ia lafalkan. Begitu pelan, begitu lembut, dan menyayat hati. Ketika mendengar pintu kamarnya di buka dengan sangat keras, ia menoleh perlahan. Matanya yang indah tampak basah.
“Apa jenazah suamiku sudah datang?” tanyanya pelan.
Bruk.
Raihan menjatuhkan tubuhnya di ambang pintu, duduk berlutut, kehilangan seluruh kekuatannya. Dengan perlahan ia menunduk, membiarkan tetesan air matanya mengalir. “Mengapa selalu ia yang menjadi pahlawan di setiap kesalahanku? Mengapa selalu dia?! Dia tidak bersalah. Aku yang bersalah, aku yang bersalah. Namun kenapa dia yang berkorban. Kenapa dia yang memilih mati?!”
Anna menatap adik iparnya penuh kesedihan, namun yang ia khawatirkan adalah sosok Aisah yang tampak terguncang di belakang pemuda itu. “Harusnya aku yang bertanggung jawab atas semua kesalahanku. Harusnya aku! Harusnya aku yang di rumah sakit, bukan kak Alan. Tapi kenapa lagi-lagi dia?!”
“Karena Alan tau… ibu tidak akan pernah bisa kehilanganmu.” Bisik Luna pelan. “Alan tau betapa besarnya cinta ibu untukmu, hingga ia selalu ingin melindungimu, ia ingin selalu membahagiaakan ibu dengan menjagamu, meski itu artinya dia akan mempertaruhkan dirinya sendiri…”
“Ibu tidak pernah mencintaiku! Ibu selalu mengatakan kalau ibu mencintai satu-satunya putra ibu, dan itu kak Alan!”
“Alan bukan putra kandung ibu, kaulah satu-satunya putra ibu.” Raihan terpaku menatap sosok ibunya. “Tapi ibu tidak pernah tau bagaimana caranya untuk menjelaskan semua itu padamu. Ibu mencintai kalian berdua. Kalian adalah harta ibu yang paling berharga, kalian adalah semesta dalam kehidupan ibu. Ibu sangat menyayangi kalian, ibu mencintaimu. Tapi kau selalu menghindar, kau selalu menutup mata akan kenyataan itu, kau selalu beranggapan jika Alan adalah segalanya, padahal kau salah. Kau dan Alan adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Dan demi Allah putraku, ibu tidak pernah menginginkan kepergian Alan. Ibu juga mencintainya… ibu sangat mencintainya, namun ketika Allah ingin mengambil lagi apa yang telah Dia titipkan pada kita makhluknya, apa yang bisa kita lakukan lagi selain mengikhlaskannya?
“Raihan… hidup dan kematian seseorang itu sepenuhnya ada di tangan Allah. Bagaimanapun caranya, kapanpun… dan bahkan di manapun, semuanya sudah digariskan. Kita hanya makhlukNya yang buta, yang bisa saja diambil kembali oleh-Nya sewaktu-waktu. Yang bisa kita lakukan hanya bertawakal dan berserah diri, melakukan kebaikan selagi kita sempat, menyiapkan bekal hingga akhirnya waktu kita tiba…
“Begitu pula dengan Alan. Ibu juga merasakan kepedihan yang sama dengan kalian semua, tapi apa lagi yang bisa ibu lakukan? Apa nak? Ibu hanya bisa mendoakan putra ibu, hanya itu yang bisa dilakukan seorang ibu.” Luna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika tangis itu pecah. Hatinya begitu perih. Ia mencintai Alan, namun ia tidak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan putranya ketika sang pencipta memutuskan untuk mengambilnya kembali.
“Ibu… maafkan aku…” bisik Raihan seraya memeluk ibunya.

Sabtu, 09 Maret 2013

CAHAYA CINTA -14-





Hujan… Hujan turunlah… pinta katak itu di samping danau yang mengering.
Anna masih mengingat kisah katak dan hujan yang memilukan itu. Ia tidak terlalu yakin di usia berapa tepatnya sang ibu mengisahkan cerita katak dan hujan itu. Namun hingga saat ini ia masih bisa mengingat seluruh detailnya. Bagaimana katak itu tidak pernah berhenti berdoa akan turunnya hujan di kala kemarau panjang yang mematikan. Hingga akhirnya katak itu sakit. Ia tau dia akan mati, meski saat itu juga hujan turun membasahi raya. Namun ia tetap berdoa dan meminta hujan pada sang kuasa. Katak-katak lain mencemoohnya yang tidak pernah berhenti berdoa. Dan ketika hujan itu turun tepat di hari kepergian sang katak malang, katak-katak yang lainnya baru tersadar, jika doanya selama ini bukan diperuntukan bagi dirinya sendiri. Namun bagi saudara-saudaranya yang lain.
Anna kecil akan menangis tersedu jika mendengar kisah itu, dan mempertanyakan mengapa katak malang itu tidak hidup saja? Mengapa begini dan mengapa begitu? Namun dengan lembut ibunya akan mengatakan bahwa semua itu adalah takdir Illahi. Tidak ada yang mampu mengubahnya, tidak ada yang mampu mengubah takdir yang sudah di gariskan sang Khalik untuk makhluknya.

Isakan tangis Zahra begitu pelan dan samar, namun bisa mengeruk seluruh isi hati Anna hingga berdarah. Ia sendiri tidak tau apa yang kini ada di dalam hatinya, apa yang tengah ia rasakan. Ia mencintai Raka, sangat mencintainya, namun ia tidak pernah ingin menyakiti hati lain. Bukan hal itu yang ia inginkan. Anna sudah lama memahami semua itu, sebesar apapun cintanya pada pemuda tampan berbudi baik itu jika ia memang bukan jodoh yang ditakdirkan Allah untuknya, maka semuanya akan sia-sia belaka. Menghilang dan tenggelam.
Remasan tangan Aminah pada jemarinya kembali membangunkan Anna dari lamunan semunya. Mata tua itu berbinar penuh harap. Senyumannya mengembang, dan hati kecil Anna mulai ragu, mampukah ia menyakiti wanita yang begitu disayanginya itu. Tapi hatinya benar-benar terpilin mendengar isakan Zahra yang begitu samar, ia pernah merasakan bagaimana perihnya semua kekecewaan dan ketakutan itu, dan sejujurnya ia pun masih merasakannya hingga saat ini. Dan ia tidak ingin membiarkan wanita lain merasakannya. Meski harus ia akui, sebagian kecil dirinya merasa begitu tersanjung ketika wanita tua di hadapannya menyebutkan namanya.
Dengan perlahan namun pasti Anna menggelengkan kepalanya pada Aminah, wajahnya menyiratkan kepedihan yang teramat sangat ketika mata tua di hadapannya mendadak sayu.
“Aku bersedia.”
Ruangan yang hanya berisikan lima jantung manusia yang berdetak itu langsung hening seketika. Aisah menatap keponakannya dengan pandangan yang menyiratkan kecemasan.
“Aku bersedia jika Raka akan menikahi Anna. Aku bersedia.” Jawabnya sambil meremas roknya semakin keras, membuat kerutan-kerutan di sekeliling genggamannya semakin jelas terlihat.
“Zahra?” bisik Raka, matanya menatap tajam sosok gadis itu.
“Aku tau kalian saling mencintai. Bagaimanapun aku berusaha, aku tidak pernah bisa menjadi pengganti Anna. Aku hanya akan menjadi bayangan di antara kalian. Dan aku lelah. Aku sangat lelah. Tapi aku juga mencintaimu…” ia memandang Raka dengan wajahnya yang dipenuhi air mata luka. “Aku tidak bisa hidup tanpamu. Maafkan aku, aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Namun aku bersedia menjadi yang kedua. Aku bersedia menjadi bayangan kalian…”
Anna menatap gadis itu penuh kepedihan. Betapa kejamnya ia hingga membuat gadis secantik Zahra merasa tidak aman dengan perasaannya sendiri. Betapa jahatnya ia…
“Aku tau, aku sangat egois. Aku ingin melihat kalian bahagia, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi… maafkan aku…”
“Zahra hentikan.” Tegur Raka begitu dingin.
“Maafkan aku…” bisik Zahra sambil terus menggeleng-geleng hingg tetesan air matanya jatuh ke sembarang arah. Saat itu juga Anna langsung memeluknya, mendekapnya dengan penuh kasih.
“Tidak Zahra, kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah, rasa cintamu sama sekali tidak bersalah. Aku yang telah mengacaukan semuanya. Aku yang salah karena berdiri diantara kalian berdua. Aku yang telah melukaimu, jadi ku mohon terimalah maafku ini,” Anna menangis sesenggukan di balik pundak Zahra. “Dan kau tidak perlu takut lagi… aku akan pergi…” bisiknya seraya melepaskan pelukannya pada gadis itu. “Aku akan pergi jauh, entah untuk sementara atau selamanya dan aku ingin kau kembali merasa tenang. Raka sangat mencintaimu, dia akan menjagamu.” Suara Anna terdengar seperti bisikan yang begitu lirih.
“Kalian akan menjadi pasangan yang sangat menawan. Kau akan menjadi mempelai yang paling cantik, jadi lupakanlah ketakutanmu akan wanita bodoh yang tidak tahu diri ini. Aku akan pergi—“
“Tapi kau mencintai Raka.” Bisik Zahra.
Anna tersenyum manis dan menoleh pada sosok Raka yang masih membeku menatap perih kepadanya. “Dia adalah sahabat terbaikku. Dan akan selalu begitu. Mungkin sampai nanti, sampai kami akhirnya menutup mata.” Setetes air mata menghiasi pelupuknya ketika mengatakan semua itu. “Sudahlah, hapus air matamu, bersiaplah untuk menjadi pengantin tercantik. Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian.” Anna menyeka air mata yang menghiasi wajah cantik Zahra dengan jemarinya kemudian menghela nafas panjang. “Sudah waktunya aku pergi, Assalamu’alaikum ummi, ibu maafkan aku…” bisiknya ketika mencium punggung tangan wanita itu. “Selamat tinggal Raka, jaga ia baik-baik.” Tambahnya.
“Biarkan aku mengantarmu,”
“Tidak!” seluruh wajah di tempat itu langsung menoleh ke arah pintu. Seorang pria jangkung dengan jas abu-abu tampak berdiri di sana. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang teramat sangat.
“Raihan?” bisik Anna.
“Aku yang akan membawanya pulang.” Ujar Raihan dingin, kata-katanya tampak jelas ditunjukan pada Raka, namun tatapannya tidak pernah terlepas dari sosok Zahra yang kini tengah mematung menatapnya.
Anna berjalan perlahan menuju pintu. “Aku akan memanggil Aisah dulu.” Ujarnya ketika melewati sosok Raihan.
“Dia sudah di mobil.” Jawab Raihan tanpa memandangnya, suaranya terdengar begitu lirih, namun wajahnya tetap menunjukan sisi tegas dan liciknya yang jelas sangat berbahaya. Anna mengangguk, dan untuk yang terakhir kalinya ia menoleh sambil mengucapkan salam sebelum akhirnya berlalu pergi dengan Raihan yang berjalan tepat di belakangnya.
Ketika melihat sosok mungil Aisah tengah tertidur di kursi belakang, Anna hanya tersenyum tipis dan duduk di samping kursi kemudi. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa berat dan kosong, mata indahnya terus memandang jalanan yang padat dari jendela mobil Raihan.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Raihan memecah keheningan. Anna mengangguk sangat pelan, kemudian air mata itu mengalir perlahan. “Bisakah kau tetap tinggal di sini?” Anna menoleh dengan pandangan penuh Tanya pada sosok tampan di sampingnya. “Aku ingin melihatmu bahagia, tapi jika kau berada sejauh itu… akan sangat sulit rasanya untuk menjagamu.”
“Kau tidak perlu menjagaku Raihan,” bisik Anna. “Aku sudah memikirkannya matang-matang, kakek dan ibu sudah menyetujui. Kami juga sudah mempersiapkan rumah sakit untuk kak Alan.”
“Anna…”
“Aku tau ini sangat buruk, ini seperti aku tidak bisa menerima kenyataan, menerima takdir yang sudah dituliskan Tuhan untuk kita semua. Tapi aku hanya ingin memulai hidupku kembali, sudah terlalu lama aku terpuruk dalam kepedihan itu. kini aku memiliki Aisah, aku harus tegar untuknya, untuk menjaganya.”
Raihan mencengkram erat kemudinya, mata elangnya menatap jalanan tanpa berkedip. “Apa kau akan kembali?” tanyanya. Anna kembali menyandarkan kepalanya pada kursi penumpang itu, ia tidak mengangguk atau menggeleng, karena sebesar apapun keinginannya untuk kembali, ia tetap tidak akan pernah bisa melangkah lagi.
***
Zahra tersenyum malu-malu ketika mendengar pujian beberapa ibu-ibu yang datang untuk membantunya menyiapkan pesta pernikahan yang di percepat dua minggu itu. Wajah cantiknya tidak pernah berhenti tersenyum, membuat suasana panti yang ramai itu kian semarak dengan canda tawa. Sudah satu minggu ia tidak bertemu Raka dengan alasan sedang dipingit, dan sejujurnya itu benar-benar membuat hatinya resah karena merindu.
Pesta pernikahan itu akan diadakan sangat sederhana. Namun kebahagiaan Zahra adalah kebahagian yang tiada tara. Ia berdiri mematung di balik jendela, menatap halaman panti yang sudah berhiaskan tenda putih dengan warna emas di setiap pusatnya, kursi-kursi plastik yang di tutupi sarung yang senada dengan warna tendanya di buat melingkari meja bundar yang juga bertamplakkan kain putih dengan renda berwarna emas yang begitu romantis dan elegan. Pelaminannya sendiri sudah di atur sedemikian rupa hingga bisa terlihat dari berbagai sudut tenda itu. Ada taman buatan di hadapannya, lengkap dengan air mancur mini yang begitu manis, pot-pot untuk potongan bunga hidup sudah diletakan di kedua sisi pelaminan, meski masih kosong namun rasanya Zahra bisa merasakan semerbak aromanya, mawar, melati, krisan, sedap malam dan lainnya.
Meja untuk makanan pun sudah di persiapkan, semuanya bernuansa putih dan emas, begitu sederhana namun jelas istimewa. Seperti cintanya pada pemuda tampan itu. Ia kembali merasakan mual karena gugup ketika mengingat bahwa sebentar lagi ia sudah akan menjadi istri sah dari pangeran impiannya. Pemuda tampan yang sudah membuatnya menghabiskan sebagian besar stok air matanya.
“Zahra, di sini kau rupanya,”ujar Amy. “Ada telepon untukmu, aku tidak tau dari siapa. Segeralah.” Tambah gadis berkerudung hijau itu. Zahra mengerutkan keningnya, kemudian berjalan perlahan ke ruang tamu yang kini pun telah berhiaskan kain-kain putih yang mengkilap di setiap sisinya.
“Hallo, Asalamu’alaikum,”
“Batalkan pernikahan itu sekarang juga!”
Suara di sebrang sana begitu dingin penuh dengan nada ancaman yang mampu membuat tubuh Zahra merinding meski ia masih belum paham dengan apa yang didengarnya.
“Apa?” tanyanya bingung.
“Batalkan pernikahanmu!” bentak suara itu.
Zahra mendengus. Siapa dia? Apa-apaan ini? Mengapa ia harus membatalkan pernikahannya sendiri? “Siapa ini?” Tanya Zahra.
“Dengar. Batalakan semuanya, atau aku akan membuat semuanya batal dengan caraku.” Suara itu begitu kejam, penuh ancaman. Namun Zahra tidak bergeming, hati kecilnya malah memaki siapapun yang berada di sebrang telepon itu. Ia benar-benar tidak mengerti, dan sampaik kapanpun ia tidak akan membatalkan pernikahannya. Terlebih karena penelepon asing yang aneh itu.
“Aku tidak akan pernah membatalkannya!” Zahra menekankan setiap kata-katanya.
“Kau akan menyesalinya…” bisik suara itu lebih kejam. Dan teleponnya terputus begitu saja sesaat sebelum Zahra ingin menumpahkan amarahnya. Ia menghela nafas panjang sambil menatap pesawat telepon di genggamannya. Kemudian mendengus jijik sebelum berlalu pergi ke kamarnya untuk menenangkan hatinya dengan melihat kebaya cantik yang kini masih tersimpan rapih di dalam lemarinya.
***
Hingga menjelang malam Zahra masih tidak bisa berhenti tersenyum, lupa sudah kisah penelepon asing siang itu. Ia merasa begitu gugup selayaknya calon mempelai lain pada umumnya. Ia berjalan mondar-mandir ke seluruh arah, namun tidak ada satu hal pun yang benar-benar ia lakukan. Sosoknya akan menjadi resah sendiri dalam duduknya, kemudian ia akan tersenyum dan meletakan apa yang di sentuhnya begitu saja, lalu berlalu pergi. Amy terkikik pelan ketika melihat Zahra berjalan di hadapannya untuk yang kesekian kalinya. Ia menggeleng-geleng mewajarkan, karena dulu, dulu sekali… ia pun pernah merasakan hal yang sama… bahagia-gugup-tidak sabar-takut-bahagia-tidak sabar- gugup- dan gugup… meski akhirnya kisahnya tidak seindah itu. Tanpa sadar Amy membelai perutnya perlahan, kemudian memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. Sebuah kebiasaan baru yang selalu ia lakukan ketika kenangan pahit itu menghampirinya.
“Melamun lagi,” tegur Arya dari belakang. Kemeja hijaunya di gulung sampai siku dengan telapak tangan yang kotor setelah membereskan jalanan untuk tamu yang datang esok hari.
“Aku tidak melamun.” Jawab Amy sambil terus melipat tisu untuk diletakan di meja tambahan.
“Arya!” baik Arya maupun Amy langsung menoleh ke asal suara itu. Zahra tampak berdiri dengan wajah yang sedikit memerah. Kerudung birunya berkibar karena sepoi angin dari kipas yang berada tepat di sampingnya. “Aku ingin berbicara padamu sebentar.” Ujarnya sedikit kikuk dan gugup. Amy yang duduk bersama beberapa gadis kecil langsung menaikan sebelah alisnya penuh Tanya. “Tapi tidak di sini.” Bisik Zahra seraya melirik sosok Amy dari balik punggung bidang Arya.
Amy terkekeh dan melambaikan tangannya, mempersilahkan mereka pergi. “Pergilah.” Katanya sambil tersenyum.
“Kami pergi dulu Amy, mungkin gadis ini ingin menanyakan keberadaan calon suaminya untuk kesekian kalinya.” Ujar Arya santai, yang langsung mendapatkan tatapan geram dari Zahra. Amy tertawa lebar.
“Aku kan sudah bilang jangan beritahu pada siapapun!” geram Zahra.
“Sudahlah Zahra, kau tidak perlu malu karena merindukan calon mempelaimu di hari sebelum pernikahan kalian.” Ujar Amy gemas sambil menjawil hidung indah Zahra dan berlalu ke dapur dengan sekardus tisu yang sudah rapih. Meninggalkan sosok Zahra yang masih melongo – malu.
“Kurasa Amy benar.” Gumam Arya sambil menatap kepergian Amy dengan pandangan terpesona. Zahra menggeram pelan dan memutar bola matanya pada pria itu.
“Apapun yang dikatakan Amy kau akan selalu membenarkannya!” sergah Zahra jengah. Kemudian seakan beru tersadar akan sesuatu, ia langsung menatap tajam sosok yang masih terpaku menatap kepergian Amy, meskipun tentu saja gadis itu sudah menghilang di balik dapur. “Kau menyukai Amy?” tuding Zahra.
“Apa?? Aku??? Tidak mungkin!!” Arya menggerak-gerakan tangannya di depan dadanya, menegaskan penyangkalannya, matanya sedikit menyipit ketika ia mengatakan semua kata-kata sangkalannya sambil tersenyum kikuk.
“Oh,” bisik Zahra santai. “Tadinya ku pikir jika kau mencintai Amy, aku akan mengambilkan sebuah melatiku ketika acara ijab qabul besok. Kau tau mitosnya? Mereka bilang gadis yang mendapatkan melati itu akan segera menyusul menikah.” Zahra mengangkat bahunya tak acuh, kemudian memutar tubuhnya bersiap pergi.
“Benarkah?” Tanya Arya antusias dengan mata yang berbinar penuh harapan. Zahra sampai tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terpingkal di hadapan pria itu, hingga membuat beberapa orang yang berllau lalang menatap heran padanya.
“Ya Allah Arya, itu hanya mitos, aku tidak percaya. Dan apakah kau percaya?” tanyanya di sela tawanya. Arya langsung menegakan tubuhnya sambil mendesis. “Maaf… maaf…” bisiknya susah payah. “Tapi aku akan mengambilkannya untuk Amy.” Ujarnya dengan mata jahil yang begitu hidup. Meski masih kesal, namun akhirnya Arya mengangguk antusias, menepiskan rasa malunya.
“Terima kasih…”
“Eh, tapi itu tidak cukup dengan kata terima kasih. Sekarang kau harus meneleponkan Raka untukku, aku ingin mendengar suaranya.”
“Tapi kalian akan bertemu besok…” desah Arya lelah. “Mengapa kau tidak istirahat saja agar besok bisa bagung dengan keadaan segar bugar.” Tuturnya. Zahra menatapnya dengan menaikan sebelah alisnya. Menunjukan kata ‘Mau tidak?’ dengan tatapannya. Akhirnya Arya menyerah dan meraih ponsel di saku celananya.
Tepat pada saat itu seorang bapak paruh baya yang sedari sore menyiapkan keperluan-keperluan terakhir pesta pernikahannya besok, memasuki ruang tamu dengan nafas terengah.
“Raka Kecelakaan!”
***
“Raka kecelakaan.”
Deg…
Setetes air mata jatuh begitu saja, meski sang pemilik mata indah itu masih belum kembali ke bumi dari keterkejutannya. Dengan susah payah ia menelan ludahnya, menghela nafas panjang, kemudian menutup matanya, membuat air matanya semakin deras menetes.
“Astagfirullah… Inalillahi wa inailaihi rajiun…” bisiknya perih.
“Ibu baru saja mengetahuinya dari kakek, sekarang kakek sedang berada di rumah sakit. Mobil yang dikendarai Raka tertabrak truk dan masuk ke jurang pukul setengah delapan. Bagian sisi mobilnya hancur. Tapi ia masih selamat, hanya saja bagian kiri perutnya terluka, terluka parah, hingga merusak sebagian ginjal dan hatinya. Dia harus segera melakukan transplantasi Anna, atau dia tidak akan selamat…” wanita itu menangis terisak di sofa, di depan sosok cantik yang kini tampak bagaikan mayat hidup, dengan wajah yang pucat pasi, mata yang menatap kosong pada kegelapan malam dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir. Tubuhnya sudah lemas, ia sudah tidak bisa bergerak, meski hanya untuk mengedipkan kelopak matanya, hatinya terlalu sakit.
“Anna… Raka membutuhkan persetujuanmu sayang…” Luna meremas tangan menantunya dengan perlahan, Anna menoleh kaku padanya, matanya menatapkan luka yang sangat mendalam. “Ibu sudah mengikhlaskan Alan—“
“Tidak…. Tidak bu… tidak… ku mohon…” Isakan Anna langung pecah berkeping. Matanya kembali hidup dengan segala luka yang semakin dalam dan dalam. Air matanya terus menetes, kepalanya menggeleng-geleng pelan sambil terus mengatakan satu buah kata ‘tidak’ berulang kali. “Tidak bu… ku mohon… tidak kak Alan… tidak…”
“Anna tapi mungkin inilah alasan Alan bertahan sampai hari ini nak. Mungkin inilah takdir yang dituliskan Allah untuknya. Agar dia tetap berguna bagi orang-orang di sekelilingnya.”
“Astagfirullah… ibu… ku mohon… jangan lakukan itu… tidak… tidak suamiku… tidak suamiku ibu… tidak…” ujar Anna penuh ketakutan sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.
***