Tampilkan postingan dengan label HUJAN KEMARIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUJAN KEMARIN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2012

HUJAN KEMARIN -Epilog-


Epilog-


“Itu putriku,” bisikku pelan. wanita di sampingku tersenyum dan mengangguk bahagia. “HeLena Saira Mahardika,” tambahku dengan kebanggaan yang tiada tara. Ku genggam erat jemari wanita di sampingku dengan penuh kasih. “Ku harap kau mengerti, bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakanmu, kau selalu di hatiku,” ujarku tulus. Wanita itu menatapku penuh haru. Air matanya mengalir perlahan.
“Terima kasih…” bisikknya tertahan. Aku memelukknya erat.
“Aku yang seharusnya berterima kasih,” bisikku. “Terima kasih karena telah mengizinkanku memberikan nama indahmu untuk putriku,”
Gadis itu mengangguk di bahuku. Membuatku merasakan tetesan air matanya yang mengalir perlahan. “Terima kasih karena telah menjadi sahabat terbaikku Lena…”
***
“HOREE!!!!!!!!” sorak sorai itu langsung terdengar memenuhi ruang tamu rumah mungilku. Tepukan tangan, dan siulan terdengar dari seluruh penjuru ruangan ketika gadis kecilku meniupkan lilin berbentuk angka 4 nya. Savanna kembali menekan tombol kameranya, ia bergerak keberbagai sisi untuk mendapatkan sudut yang pas untuk fotonya.
“Mari peluk nenek sayang…” ujar mama lembut.
“Biarkan ia memotong kuenya dulu!” tegur papa. Aku terkekeh memandang mereka berdua. Akhirnya, mereka kembali menikah. Well, lucu memang, tapi aku bisa melihat cinta itu kembali merekah diantara papa dan mama.
Seorang bocah kecil berumur 5 tahun berdiri tepat di samping putri kecilku. “Jangan menyentuhnya,” bisik bocah itu ketika tangan Ethan terulur untuk menyentuh wajah putriku. Aku langsung melongo menatap sikapnya, kemudian menyeringai kikuk pada wanita lemah lembut yang tersenyum –sama kikuknya- sepertiku.
“Ayolah, bocah kecil. Kita tidak mungkin bersaing, aku lebih keren dari pada dirimu,” ejek Ethan sarkastis. Bocah itu menatap sosok jangkung Ethan dengan geram. Aku sampai geli menatap tingkahnya.
“Ethan! Yang benar saja,” ujar Kyna seraya menarik daun telinga pemuda itu. “Kalau kau masih bertingkah konyol aku akan membatalkan pernikahan kita!” ancamnya. Ethan meringis, dan kami semua tertawa lebar. seluruh sahabatku, seluruh keluargaku, kerabat pantiku, masa laluku dan masa depanku. Aku memang kehilangan ingatanku tentang mereka, namun aku terus bersyukur karena tidak pernah kehilangan cinta mereka.
“Apa aku terlambat?” kami semua langsung terdiam dan menoleh kearah pintu. Kak Stefan berdiri disana dengan boneka teddy bear yang sangat besar. Aku tersenyum dan menggeleng. Anak-anak  yang menjadi tamu putriku langsung berdecak iri ketika kak Stefan memberikan boneka itu pada putriku.
Ethan tersenyum kepadanya.
“Kalian mendapat salam dari Romi,” ujarnya santai. Aku mengangguk. Kemudian sosok duplikat sahabatku itu duduk bersama Galang dan yang lainnya. Aku mendesah perlahan.
“Izzi…”
“Kak Lita,” bisikku.
“Ia pasti sangat bahagia disana,” bisiknya lembut. Aku menatapnya sedih. “Ia selalu bersama kita, kau ingat?” aku mengangguk perlahan. “Ia akan selalu bersama kita,” ulang kak Lita, pandangannya menerawang jauh. “Ia pasti bangga melihat putri cantik ini,” bisiknya sambil mencium pipi kiri putri kecilku. “Semua orang sangat menyayanginya, bahkan putraku…” ia mendesah ketika melirik bocah kecil yang berdiri di samping putriku. Aku terkekeh.
“Aku tau…” bisikku bahagia.
Kau lihat, hidupku begitu indah. pelangi itu telah ku temukan, meski setelah melewati hujan badai yang begitu deras. Tapi kau lihat? Aku bisa tersenyum kini. Aku bahagia bersama orang-orang yang paling ku kasihi, kau tentu harus bahagia juga di sana. kau harus baik-baik saja.
Aku merindukanmu. Setiap hari, setiap detik, setiap desahan nafasku.
Kau adalah anugrah terindah dalam hidupku. Terima kasih karena telah menjagaku selama ini. Terima kasih karena telah menuntunku menuju pelangi yang indah ini. Terima kasih banyak.
Aku mencintaimu…
Sahabatku…

“Ayah… bunda menangis lagi!” teriakan itu membuatku terlonjak dari lamunanku. Buru-buru ku hapus air mata yang mengalir itu dengan cepat. Kemudian menyeringai pada sosok tampan yang tengah duduk bersama papa. Ia berjalan perlahan kearah kami. Matanya mengunci mataku yang sedikit basah.
“Tangisan bahagia,” bela kak Lita. Aku mengangguk mengiyakan.
“Sudahlah Lita,” desis pria di hadapanku dengan dingin. “Apa kau tidak bisa menahan air mata itu?” tanyanya padaku. “Bahkan di hari ulang tahun putri kita?” aku mencibir. Selalu angkuh, selalu menyebalkan, selalu dingin, dan sialnya selalu mendapatkan cintaku yang terbesar. Sebenarnya siapa penghianat disini??!!
“Uhuk!” tiba-tiba aku terbatuk, kemudian dengan cepat aku berlari kebelakang karena tiba-tiba perutku mual.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Kak Sam dengan panik. Ia memegang rambutku agar tidak ikut terjatuh kedalam westafel. Aku mencoba menggeleng. Namun mual itu terus menghampiri perutku.
“Apa bunda baik-baik saja tante?” aku meringis ketika mendengar suara ketakutan putri kecilku.
“Bunda baik-baik saja sayang,” bisik Savanna lembut. Kemudian ia tersenyum. “Kamu hanya akan mendapatkan adik baru dari Bunda,” tambahnya.
Aku terdiam, mual itu masih memenuhi perutku, namun entah mengapa aku malah ingin tersenyum mendengar kata-kata adik yang diadopsi orang tuaku itu. ku lirik pria berkaca mata di sampingku. Ia masih menunjukan wajah khawatirnya, namun aku bisa melihat binar bahagia di balik mata coklat mudanya yang indah.
Ah… betapa indahnya pelangi itu….
The end


TANGERANG, 12 12 12. 1.04 AM

INDEKS

HUJAN KEMARIN -28- ending -


BAB DUA PULUH DELAPAN
Pelangi itu 



“Aku mencintaimu,” bisik pria di sampingku. Tangannya memeluk pinggangku dengan erat. Menempelkan tubuhku ketubuhnya. “Tapi kalau kau ingin meninggalkanku sekarang, kau boleh pergi,” ujarnya lagi. Aku mendengus. Mataku perih karena terus menangis dan menatap layar besar di hadapanku tak berkedip. “Aku membuat film ini untuk kado pernikahan kita,” ia terdiam. Matanya terpaku kearah tv. “Aku ingin menunjukan seluruh cintaku semenjak kita kecil,” tambahnya.
“Semua ini tentang diriku?” tanyaku ragu. Ia mengangguk.
“Iya, aku sengaja membuat kehidupanmu dari sudut pandangku agar aku bisa menunjukan betapa besar cintaku untukmu,” tubuhku membeku. Tapi kini film itu seperti sebuah catatan documenter tentang diriku. Catatan masa laluku yang begitu indah. “Apa kau mengingatnya?” tanyanya.
“Tidak ada satu hal pun yang ku ingat,” bisikku. Ia terdiam. Dengan perlahan melepaskan tangannya dari pingganggku, kemudian menegakan tubuhnya di sampingku. Ruang tamu itu terasa mencekam dengan kebisuan kami.
“Dengar Isabella. Aku sakit,” ia memulai. Aku masih menatap layar tv itu walaupun air mataku mulai kembali mengalir. “Suatu saat nanti aku akan meninggalkanmu, dan kau tau, kau akan beresiko memiliki anak yang sakit jika terus bersamaku,” aku mendengus kesal. Ketatap wajahnya yang begitu dingin dengan geram. Entah bagaimana hatiku tetap menyimpan cinta yang terlampau besar untuknya, meskipun aku benar-benar ingin membencinya.
“Dengar Sam!” ujarku tegas. Ia menatapku dengan kening berkerut. “Aku memang kehilangan ingatanku, dan film manis mu ini sama sekali tidak membantuku untuk mendapatkanya kembali. Tapi satu hal yang ku rasakan adalah, ini terasa seperti déjà vu untukku. Duduk di ruang tamu rumah ini, berdebat tentang hal yang tidak bisa kita ingkari. Rasa cinta itu.” ia menatapku dengan tatapan tidak percaya. Aku bergerak perlahan ke atas pangkuannya. “Mungkin kau lupa.” Bisikku seraya merengkuh wajahnya dengan kedua tanganku. Menatap matanya dalam-dalam. “Tapi bukankah aku sudah mengatakan padamu, jika aku benar-benar mencintaimu. Aku mencintaimu kak Sam…” bisikku tulus. Matanya terbuka lebar.
“Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku. Jadi berhenti beranggapan jika aku selemah itu. Aku tau akan resiko kehidupan kita kelak. Tapi asalkan kau selalu di sampingku, menemaniku, bersama denganku dalam setiap keadaan, semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku mencintaimu kak…” aku menempelkan keningku di keningnya. Mencoba merasakan desahan nafasnya.
“Terima kasih,” bisiknya sebelum memelukku dengan sangat erat. Aku tersenyum dan membalas pelukannya.
“Aku tidak perlu kata terima kasihmu,” ujarku seraya melepaskan pelukannya. Aku menegakan tubuhku di atas pangkuannya. Ia mengernyit menatapku. “Yang ku butuhkan adalah, kau mengembalikan cincin itu padaku,” tuturku tegas. Ia menatapku tidak percaya, kemudian mendesah dengan wajah angkuhnya yang super menyebalkan dan sialnya entah mengapa terlihat begitu tampan!!!!
“Kau benar-benar perusak suasana,” desisnya dingin. Aku menatapnya geram.
“Perusak suasana??! Aku hanya meminta apa yang seharusnya menjadi milikku!” teriakku kesal. Ia mencibir, kemudian dengan malas merogoh kantong celananya. Aku bersidekap di pangkuannya. Menunggu dengan tidak sabar. “Mana?!” tanyaku mulai kesal.
“Tidakkah kau bisa bersabar?!”
“Isshh!” aku mendesis kesal.
“Bangunlah dulu!! sangat sulit mencarinya dengan kau duduk di pangkuanku,” ia menatapku dengan tajam. Aku memutar bola mataku padanya, kemudia beranjak dari pangkuannya, duduk di sampingnya dengan kesal.
Kemudian wajah angkuh itu menyeringai. Aku mendengus tidak percaya. “Sepertinya aku meninggalkannya di rumah,” ujarnya pelan. Aku memalingkan wajahku darinya. Benar-benar kesal dengan apa yang ia lakukan. “Isabella…” panggilnya lembut. Tapi aku masih tidak ingin melihat wajahnya. “Hey…” tiba-tiba ia berbaring di sampingku. Dengan kepalanya berbantalkan pahaku. Aku terlonjak menatapnya. Ia terkekeh pelan, kemudian meraih jemariku. Aku membulatkan mataku ketika ia mengingatkan benang merah di jari manisku.
“Aww!” pekikku ketika mencoba menarik jariku yang sudah terikat. Ternyata ia mengikat jari manisnya juga dengan sisi lain benang merah itu. Ia menatapku dengan pandangan meminta maaf, kemudian meraih tanganku, membelai lembut jari manisku dan menciumnya.
Aku merasakan hatiku melambung. Aku benar-benar mencintainya. Pria menyebalkan ini, pria berwajah angkuh ini, pria yang berkali-kali membuatku menjauh darinya, pria yang dengan dinginnya menyakitiku, adalah pria yang paling ku cintai. Pria yang ingin ku habiskan sisa hidupku dengannya.
Aku tersenyum manis, meraih kaca mata tak berbingkainya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Ia menatapku sejenak, kemudian dengan cepat mengangkat wajahnya. Mataku terbelalak ketika ia mencium bibirku.
“Jangan coba-coba untuk melakukan serangan mendadak lagi,” bisiknya. Aku menatapnya sinis. Astaga!!!!! Pria ini benar-benar….
Ia terkekeh pelan, dan kembali duduk di sampingku. Aku mendengus, dengan cepat ku letakan kaca maatnya di meja dan meraih wajahnya, menciumnya tepat di bibirnya. Ia tampak terkejut. Namun aku sama sekali tidak menghentikan ciumanku, hingga akhirnya aku terpekik kaget ketika ia mengangkat tubuhku ke atas pangkuannya. Ia tersenyum tipis karena keterkejutanku. Kemudian kembali menciumku dengan lembut.
Ahh… akhirnya aku menemukan pelangi itu…



****

Aku tersentak dalam tidurku. Nafasku tersenggal-senggal, semilir angin berhembus menerpa wajahku yang memucat. Aku merasakan perih memenuhi relung hatiku, menyesakan dadaku. Ruangan itu begitu gelap, dan sepertinya diluar sana sedang hujan, karena aku bisa mendengar tetesannya yang bising, merasakan hawa dinginnya yang mencekam. Merasakan kegelapannya.
Aku duduk diatas kasur, menekuk lututku dan memeluknya dengan erat. Ku katupkan bibirku untuk menyamarkan bunyi gemeletuk gigiku. Tiba-tiba air mataku mengalir. Hatiku semakin sesak. Aku hilang dalam kegelapan malam itu. Aku tenggelam.
Seluruh kisah itu sepeti mimpi. Atau memang hanya sebuah mimpi? Bukankah selama ini aku memiliki masalah dengan psikologi dan batasan antara dunia nyataku dan alam bawah sadarku? Bukankah itu sebuah hal yang nyata?
Aku mulai terisak. Aku mencintainya. Aku merindukannya. Dan yang bisa ku lakukan hanya bermimpi tentangnya. Memimpikan hal yang tidak bisa ku sentuh. Tapi mimpi itu sungguh nyata. Aku masih bisa merasakan kebahagiaan ketika ia memelukku, ketika ia menciumku, ketika ia seolah-olah mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.
“Isabella…” suara itu seperti lonceng yang begitu nyaring. Aku terpaku dengan mata yang masih basah karena air mataku. Tiba-tiba sebuah tangan merangkulku, kemudian seseorang memelukku. “Ada apa sayang?” tanyanya lembut. Nafasku tercekat karena syok. “Apa kau mimpi buruk?” tanyanya lagi. Aku terisak.
Aku tidak bermimpi buruk. aku bermimpi sangat indah, dan aku takut akan terbangun kemudian kehilangan semua mimpi itu. Aku ingin terus bermimpi.
“Isabella, tenanglah… ceritakan padaku tentang mimpimu,” pintanya. Suaranya terdengar begitu khawatir. Aku memeluk tubuhny erat-erat.
“Kau,” bisikku perih. Tubuh dipelukkanku membeku. Terdiam untuk beberapa saat, kemudian mencium puncak kepalaku. Ia masih terdiam hingga ku pikir ia kembali tertidur. Atau pergi. Namun detakan jantungnya membuatku merasakan keberadaannya. Membuat hatiku sedikit tenang.
“Aku bukan mimpi,” bisiknya begitu pelan. “Ini adalah kenyataan Isabella,”
“Berjanjilah padaku,” pintaku lirih. Ia terdiam dalam gelap. menunggu kata-kataku. “Berjanjilah kau tidak akan pernah pergi lagi,” bisikku.
“Aku tidak pernah pergi. Selalu kau yang meninggalkanku,” ia tersenyum tipis.
“Kalau begitu berjanjilah untuk tetap menjagaku disisimu apapun yang akan terjadi kelak,” tubuh itu membeku. Matanya menerawang jauh, pikirannya mungkin melayang-layang entah dimana. Bibirnya terkatup rapat. Aku meneteskan air mata lagi ketika menyadari tidak adanya jawaban akan pertanyaanku. Dan pertanyaan malam itu tidak pernah terjawab.

****

“Aku pikir kau kau tidak akan pernah meninggalkanku?” tudingku keesokan paginya ketika melihat sosoknya sudah rapih dengan stelan kasualnya. Ia menatap cairan hitam di cangkirnya.
“Aku hanya akan pergi sebentar,” bisiknya.
“Kemana?” tanyaku, berdiri mematung di ambang pintu kamar. Ia tersenyum ramah.
“Untuk memenuhi janjiku padamu, aku harus menjaga diriku dengan baik.” Tuturnya. Ia meletakan cangkir kopinya di meja kemudian berjalan kearahku. “Aku akan kerumah sakit, mungkin melakukan beberapa check up, lalu kembali pulang kepelukanmu,” ia mencium keningku dengan sangat lembut. Aku mendesah. “Aku sakit Isabella…” bisiknya tercekat.
Aku menggigit bibir bawahku untuk menguatkan diriku. “Kalau begitu aku ikut,” ia mengerutkan keningnya padaku. “Aku adalah seorang dokter, dulunya.” Tambahku. “Dan bukankah kita sudah berjanji untuk menghadapinya bersama-sama apapun hasilnya nanti?” kak Sam tidak menjawab. Namun aku bisa melihat pancaran kepedihan dari matanya. “Kau tidak perlu khawatir, aku bukan lagi gadis lugu yang rapuh. Aku sudah banyak berubah. Dan aku bersumpah untuk berdiri setegar mungkin untuk melihat kejutan yang dibawa oleh masa depan,”
“Berjanjilah padaku kau tidak akan menangis ketika akhirnya aku meninggalkanmu,”
Aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak ingin.
“Karena jika saat itu tiba. Aku tidak akan bisa menyeka air matamu lagi.” Ia merengkuh kedua sisi wajahku. Menatapku dari balik kaca matanya. “Tapi aku ingin kau tersenyum ketika mengantarku ketempat peristirahatan terakhirku,” air mataku menetes. Namun bibirku masih terkatup rapat. Khawatir jika aku membuka mulutku sedikit saja, isakan itu akan menerobos keluar. “Berjanjilah padaku Isabella…” pintanya lirih. Aku tidak tau harus mengatakan apa. Aku sendiri ragu atas permintaannya. Bagaimana mungkin aku bisa berdiri tegar ketika ia pergi kelak?? Memikirkannya saja membuat dadaku sesak.
Jika sampai waktunya nanti. Aku bersumpah akan membunuh diriku sendiri!!! Kau pikir sekuat apa diriku tanpa dirimu?
“Aku berjanji,” bisikku parau. Air matanya menetes perlahan, kemudian ia memelukku erat.
“Terima kasih,” bisiknya. “Isabella,” ia melepaskan pelukannya dan berlutut di hadapanku. “Maukah kau menikah denganku. Menjadi pendamping hidupku. Menemaniku dalam setiap langkahku. Menyongsong hari esok bersamaku. Maukah kau menerima cintaku?” aku menutup mulutku yang terbuka karena terkejut dengan kedua tanganku.
Pria ini Tuhan… pria inilah yang selalu ku inginkan…
“Ya.” Satu kata, dan aku pikir itu semua bisa mewakili seluruh perasaanku padanya. Karena kemudian aku melihatnya tersenyum, ia memasangkan cincin indah itu di jari manisku. Mengecupnya penuh kasih dan berdiri memelukku. Menenangkan gemuruh hatiku.
Aku mencintainya. Melebihi apapun dalam hidupku. Ialah yang ku inginkan, dalam dekapannyalah tempatku. Untuk inilah aku tercipta. Untuk dirinya. Untuk mencintainya. Pria dinginku yang tampan. Pria dinginku yang angkuh. Pria tercintaku yang begitu indah.
Ku mohon Tuhan, jika sampai waktunya kelak. Jagalah ia tetap bahagia di sisimu, karena hanya dengan cara itulah aku bisa memenuhi janjiku untuk tersenyum tanpanya.

Meskipun itu hal yang sulit, tentu saja. 

Tapi setidaknya, untuk saat ini dia bersamaku.  Mencintaiku. 


-the end-

HUJAN KEMARIN -27-


BAB DUA PULUH TUJUH
I Miss You


Aku membanting pintu kamarku dengan keras, menguncinya. Kamar ini tidak terlalu besar, bahkan terlampau tua. Namun aku begitu tenang di sini. Begitu aman menangis disini. Begitu terlindungi.
Ketukan pintu itu terdengar. Aku berjalan perlahan ke depan mejaku, memandang mendung di balik jendela kamarku yang usang. Kupeluk erat-erat lututku. Menekan seluruh keperihan dalam dadaku.
Ketukan itu kembali terdengar. Tapi aku tidak ingin menoleh. Aku tidak ingin membukanya. Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak ingin merasa tercampakan lagi.
Aku tidak pernah mengerti dengan semua jalan ini. Bukankah ini yang ia inginkan. Bukankah ia ingin agar aku menjauh. Bahkan dengan piawai ia menuliskan sebuah skenario yang dengan jelas menghapuskan peran dirinya dalam kehidupanku. Menghapuskan cinta yang kini menyisakan lubang besar dalam hatiku. Aku membenci diriku sebesar aku membenci dirinya. Membenci kerapuhanku. Bukankah aku kehilangan seluruh ingatanku? Tapi mengapa aku tidak juga kehilangan perasaan perih itu? mengapa aku masih merasakan sakit ketika melihat sosok tampannya?
“Izzi… aku tau kau di dalam,” bisiknya. “Aku ingin bicara denganmu, ku mohon.” Kata-katanya begitu lirih, penuh pinta yang mungkin bisa membuatku luluh. Tapi aku sudah mengunci hatiku, seperti aku mengunci pintu tua itu. ia terdiam cukup lama, hingga membuatku berpikir ia sudah pergi.
Dan mungkin dia memang sudah pergi. Toh aku memang tidak penting untuknya, buktinya ia membuangku dengan mudahnya. Memanfaatkan amnesiaku untuk meninggalkanku. Tapi kemudian aku menangis, merasa begitu sedih dengan pemikiran itu. Aku merindukannya.
“Maafkan aku,” bisikkan itu terdengar begitu pelan. namun bisa membuat tubuhku terlonjak. Ia masih disana! ia masih di depan pintu kamarku!! Sorakku dalam hati. Dengan segera aku beranjak dari kursiku dan berjalan menuju pintu. “Maafkan aku karena telah melakukan semua kebodohan itu. Tapi kau memang harus pergi dari hidupku,” kata-katanya membekukan tubuhku didepan pintu. Kutarik kembali uluran tanganku yang hampir saja menyentuh handle pintu. “Aku pikir, aku yang akan meninggalkanmu. Namun kemudian selalu kau yang meninggalkanku,” ia terdiam sejenak. Suaranya terdengar serak dan lelah.
“Aku pikir itu adalah yang terbaik untuk hubungan kita. Untuk dirimu…”
Tidak!!!
Hatiku meronta. Aku tidak bisa menerima kebaikan apapun jika itu berarti harus membuatku kehilangan cintaku.
“Kau benar, aku memang sangat bodoh. Aku minta maaf atas semua skenario itu. Aku minta maaf atas semua kebohongan itu. Tapi orang tua mu benar-benar mencintaimu, mereka mencarimu.”
Dan kau tidak??? teriakku dalam hati. Apa kau tidak mencintaiku? Apa kau tidak mencariku?
“Dan Ethan juga sangat mencintaimu.” Bisiknya dingin. Kini aku tidak lagi menyeka air mataku. Aku lelah dengan semua ini. Semua orang tampak mencintaiku, tapi orang yang ku rindukan malah tidak mencintaiku. Apakah itu hal yang adil?
“Aku minta maaf…”
Berhenti meminta maaf!!! Tidak bisakah kau hanya mengatakan bahwa kau mencintaiku. Kau menginginkan hubungan kita kembali?? Tidak bisakah aku mendengar itu???
Aku tersenyum mengejek. Apa-apaan aku ini, aku bahkan tidak mengenalnya, bagaimana mungkin aku sangat menginginkannya? Ada apa dengan pria ini? Siapa dia? Sebesar apa cintaku padanya?
“Aku mengerti jika kau memang tidak bisa memaafkanku. Aku memang tidak pantas menerima maafmu. Aku sudah terlalu banyak menyakitimu. Aku terlalu sering mengecewakanmu. Aku memang terlalu bodoh karena telah menyia-nyiakanmu,” ia meninju pintu di hadapanku, hingga aku terlonjak. Hatiku perih mendengar semua pengakuannya. Aku bisa mendengar isakannya yang samar-samar dari balik pintu itu. “Tapi aku sangat merindukanmu…”
Deg…
Hatiku mencelos.
“Aku merindukanmu. Aku ingin bertemu denganmu, aku tau ini sangat memalukan. Tapi aku benar-benar ingin melihatmu. Kumohon, bukalah…” aku menutup mulutku erat-erat untuk menahan isakan itu. “Aku mencintaimu Isabella,” isaknya. “Aku selalu ingin bersamamu. Aku selalu ingin menjagamu,”
Tapi mengapa kau mendorongku menjauh???
“Aku benar-benar merindukanmu. Aku tidak bisa melupakanmu, sekeras apapun usahaku untuk itu. tapi aku tau ini adalah jalan yang terbaik. Ini hanya masalah waktu, dan suatu saat kita akan benar-benar terpisah.” Aku menyandarkan keningku di pintu tua itu. menangisi kebodohanku. “Maafkan aku,” bisiknya. “Aku pergi,”
Dan duniaku menghilang.


“Semudah itu?” tanyaku ketika membuka pintu dengan segera. Sosok itu hanya lima meter di hadapanku, namun aku merasa ia begitu jauh. Tak akan pernah terjangkau walau aku berlari untuk mengejarnya. Ia membelakangiku, sudah siap untuk pergi meninggalkanku. “Semudah itu kau akan meninggalkanku?” tanyaku perih. ia tidak berbalik, namun dengan jelas menghentikan langkahnya. “Aku tidak mengingatmu, aku tidak tau siapa dirimu, aku tidak tau apa yang sudah terjadi di antara kita. Aku tidak tau apapun! Tapi entah mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkan dirimu. Aku bahkan masih merasakan perih itu di sini!” aku menekan dadaku dengan keras. Meresapi seluruh kekosongan yang menyakitkan itu.
“Siapa dirimu??!!!! Mengapa kau lakukan ini kepadaku??! Mengapa kau terus menyakitiku??? Bahkan dengan semua omong kosong itu! mengapa kau terus membuatku  perih? siapa kau? Sepenting apa dirimu untukku? mengapa aku selalu merindukan dirimu??!!!!!” aku berteriak keras. Menumpahkan seluruh perih dan lukaku yang sejujurnya membuatku benar-benar muak.
“Sebesar apa cintaku untukmu hingga aku tidak bisa membenci orang yang jelas-jelas mencampakanku?” aku menangis keras. Tidak lagi menutupi seluruh isakan itu dengan tanganku. Aku ingin ia mendengarnya. Aku ingin ia tau!
Tapi sosok itu masih terdiam untuk beberapa saat. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Mungkin ia marah kepadaku, mungkin ia ingin memukulku, mungkin ia akan kembali menyakitiku. Tapi aku tidak peduli, asalkan ia tetap berada di sampingku.
“Aku merindukanmu,” bisikku pelan. Ku coba untuk menenangkan gemuruh hatiku. mencoba berdiri setegar mungkin. Meskipun aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk sekedar mengangkat tanganku. Aku lelah Tuhan. Teramat lelah. Aku ingin menyerah, mungkin untuk beberapa alasan, kematian akan menjadi sesuatu yang lebih baik.
Kemudian tubuh jangkung itu berbalik dengan cepat. Mataku terbelalak ketika ia memelukku. Menekan tubuhku ke tubuhnya. Aku kehilangan kontrol atas tubuhku ketika luapan emosi dalam diriku meledak. Ia memelukku erat. Menekan seluruh luka itu semakin dalam. Membuatku semakin perih ketika memikirkan jika ia mungkin akan melepaskan pelukannya dan berlalu pergi.
Aku masih terpaku tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Tubuhnya keras dengan aroma maskulin yang begitu memabukan. Tangannya dengan erat mengunci punggungku. Tiba-tiba aku merasakan tetesan air di bahuku. Ia menangis.
“Maafkan aku, maafkan aku Isabella, maafkan aku…” ujarnya parau. Aku terisak di bahunya. Ia membelai kepalaku dengan lembut. Seluruh perasaan itu terasa seperti mimpi. Seluruh kerinduanku yang tak masuk akal. Seluruh asaku tentangnya.
“Aku merindukanmu,” bisikku di tengah-tengah isakanku. Ia mengangguk.
“Aku tau.” Ia mengecup rambutku.
Tuhan… aku merindukannya, aku merindukan pria ini dengan alasan yang tidak ku mengerti. tapi aku tidak ingin ia pergi. Aku tidak ingin pergi darinya. Aku tidak ingin ia jauh dariku. Tuhan…  ku mohon…

“Aku mencintaimu,” bisikku tercekat. Ia tertegun sejenak, kemudian memelukku semakin erat. Memelukku seperti ia benar-benar mencintaiku, membalas kasih yang memenuhi relung hatiku.
Tuhan… ku mohon… jagalah ia…


              ****



Rabu, 12 Desember 2012

HUJAN KEMARIN -26-


BAB DUA PULUH ENAM
Emptyness


Hembusan angin menerpa wajahku yang membeku. Tubuhku kaku tak bisa bergerak. Berkali-kali ku coba untuk mengeja ulang nama itu. merasakan setiap satuan katanya, mencoba meresapi seluruh makna dalam nama itu. Kylenn Stafella Army, nama yang begitu indah, menggambarkan sebuah keceriaan yang takkan pernah menghilang, sebuah penyemangat yang selalu optimis akan masa depan.
Aku merasakan jiwaku hampa, pandanganku kosong, otakku bahkan tidak bisa berpikir sama sekali. Kuraba jemariku yang terasa asing tanpa cincin itu sekarang, dan kemudian ku sentuh dadaku, mencoba merasakan ketiadaan hatiku. Semuanya begitu asing, namun sejujurnya kepedihan itu sudah lama menghilang. Yang kini kurasakan hanyalah kehampaan dan kekosongan.
Tapi toh, bukankah selama ini kehidupanku memang hanya sebuah kekosongan belaka. Aku hanyalah sebuah boneka yang tak tersentuh. Boneka yang mereka pikir tidak memiliki perasaan, kemudian dengan mudahnya mereka menghancurkan asaku dalam sekali hentakan.
Setetes air membasahi pipiku. Tapi itu bukan air mataku, itu adalah setetes air hujan yang mungkin turut menangisi kebodohanku. Dengan perlahan ku letakan buket bungaku di depan nisannya.
“Lena…” bisikku pelan. kuulurkan tangaku, meraba nisannya yang sudah usang. “Hai,” sapaku. “Aku ingin menanyakan kabarmu, tapi itu pertanyaan yang sangat bodoh. Tapi aku tidak memiliki pertanyaan lain. Aku tidak tau harus berkata apa,” hatiku mulai terasa perih. kepalaku seakan berputar-putar. “Tapi ya. Terima kasih untuk semuanya, untuk semua yang telah kau lakukan selama ini. Yang saat ini sedikit terlupakan olehku. Tapi aku tau kau adalah gadis terbaik. Bahkan kau sudah membantuku membongkar semua skenario menjijikan itu,” aku terdiam sejenak. “Dan saat ini aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal,” bisikku akhirnya, kemudian dengan perlahan ku langkahkan kakiku menjauh dari kompleks pemakaman yang sepi itu. meninggalkan seorang gadis cantik yang menatapku dengan penuh kepedihan.

                                                            ****

“Lalu??!” Tanya seorang bocah kecil di sampingku. Aku terkesiap dari lamunanku dan menatapnya linglung. Aku bahkan lupa apa saja yang sudah ku atakana pada mereka. Ada lebih dari 20 anak di ruangan kelas yang mungil itu. Tatapan mereka penuh pengharapan. Aku tersenyum dan menepuk tanganku perlahan.
“Nah, belnya sudah berbunyi. Sekarang kalian bisa pergi ke kamar masing-masing. Cerita tentang putrinya akan di lanjutkan besok,” ujarku seriang mungkin. Beberapa bocah langsung berteriak memprotes. Sedangkan yang lain hanya terdiam meski dengan jelas aku bisa melihat tatapan kecewa mereka. tapi setidaknya mereka mengikuti kata-kataku, membereskan buku-bukunya dan bersiap untuk pulang.
Seorang bocah berkaos biru berdiri menyiapkan teman-temannya, aku tersenyum manis dan membalas salam mereka. kelas pun bubar. Untuk sesaat hatiku terpilin karena merasa takut akan kesendirian yang mengancamku.


“Kisah itu…” aku tertegun di ambang pintu kelasku yang sepi. Seorang wanita cantik sebayaku bersandar di dinding diluar kelasku. Matanya menatap lantai kramik yang kusam. Aku menatapnya penuh Tanya. “Kisah yang kau ceritakan kepada mereka, adalah kisahmu kan?”
Aku terdiam.
“Kita semua memiliki masa lalu,” bisiknya. Aku tersenyum sarkastis. “Meski mungkin dalam kasusmu sedikit berbeda.” Ia menatapku dengan matanya yang sendu. “Kini aku mengerti mengapa seorang gadis cantik sepertimu datang ke panti asuhan tua ini di hari berhujan beberapa bulan yang lalu.” Ia tersenyum tipis. “Tapi aku ingin tahu apa yang kau lakukan setelah kau bertemu dengan koki masakan prancis itu?”
Aku mendesah. “Aku mengirim undangan makan malam kepadanya,”
“Mengapa kau mengundangnya?”
“Bukankah sudah ku atakana? Aku hanya ingin memiliki momen yang indah dengan keluarga kecilku sebelum akhirnya aku menikah,” aku merasakan diriku tersenyum mengejek ketika mengucapkan seluruh perkataan itu.
“Lena tentu sudah mengingatkanmu akan sesuatu,”
“Tidak. Dia tidak mengingatkanku tentang apapun. Tapi dia menunjukan semuanya padaku. Menuntunku untuk menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam rumah ku sendiri.”
“Aku tidak mengerti,”
“Lena selalu datang. Lena selalu hadir menemaniku, sebanyak apapun aku mengucapkan kata selamat tinggal padanya.” Aku terdiam sejenak. “Dan kemudian semuanya terasa begitu mudah. Malam itu aku mengendap-endap ke kamar Savanna yang gelap. aku tidak tau mencari apa, namun tangaku terus sibuk membuka laci demi laci. Mencari sesuatu yang mungkin menarik. Kemudian setumpuk kertas jatuh begitu saja dari dalam lemari. Aku tau itu perbuatan Lena, terkadang ia selalu tidak sabar dengan sikapku yang lambat.”
Aku bisa merasakan tubuh wanita di sampingku menegang. “Itu adalah skenario kehidupanku. Skenario yang ditulis saat aku siuman dari komaku, dan dengan tegas dokter menjelaskan bahwa aku kehilangan seluruh ingatanku.” Wanita itu menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. “Sejujurnya, itu adalah naskah yang sangat sederhana dan indah. Tapi kau tau, itu terlalu indah untuk menjadi sebuah cerita di dunia yang fana ini. Savanna bukan adikku. Dia artis pendatang baru yang entah bagaimana bisa begitu mirip denganku.” Aku tersenyum tipis ketika membayangkan sosok ceria Savanna. Andai matanya tidak seindah itu…
“Bagaimana kau mengetahui jika itu adalah dirinya? Pemilik cincin itu?”
Aku membeku. Tanpa sadar tanganku menggenggam erat jemari yang kosong itu. “Sejak pertama kali melihatnya, aku bisa merasakannya. Klise memang, tapi aku melihat semuanya dari balik tatapnya yang dingin. Ia menyimpan rindu yang sama sepertiku. Namun ia begitu pandai menyembunyikannya, sedangkan aku hanya bisa menghirup aroma hujan dan menanti suatu keajaiban akan datang.
“Saat pertama kali melihatnya, aku sadar itu adalah dia. Cincin itu memang masih membisu. Namun aku merasakan hatiku mulai sesak. Aku tidak mengingatnya, tapi jemariku ingin menyentuhnya. Merasakan sosoknya, merasakan keberadaannya. Tidak peduli sedingin apa tatapannya padaku. Tidak peduli seangkuh apa sikapnya. Aku hanya ingin memeluknya, membisikan kata rindu yang tidak ku mengerti. Mungkin aku akan menganggap diriku sudah gila jika ia tidak memalingkan pandangannya dariku. Karena sejujurnya, saat itulah aku benar-benar sadar, bahwa ia lah yang ku tunggu selama ini, kepingan hatiku yang hilang.
“Tapi sebagian dari diriku tidak ingin mempercayainya. Aku masih berharap jika Ethan memang pemilik cincin itu. karena… sungguh, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia berusaha menyingkirkanku dengan skenarionya. Ia berusaha meninggalkanku, ia berusaha menghancurkanku,”
“Isabella…” tangan gadis itu terulur kearahku, namun ia tidak pernah menyentuh pundakku. Ia malah kembali menariknya.
“Ini seperti sebuah drama yang begitu panjang dan mengharu biru. Terutama ketika akhirnya aku menulis surat panjang untuk mereka yang ku tinggalkan,” aku menyeka air mataku yang mengalir perlahan. “Sudahlah.” Bisikku.
“Kau tentu sangat merindukannya,” bisiknya ketika aku berjalan perlahan di koridor sekolah yang sepi. Aku terdiam sejenak.
“Aku kehilangan ingatanku, seluruhnya. Bahkan ingatan tentang seluruh perasaanku. Termasuk perasaan cinta itu.” gadis itu berdeham. “Aku hanya merasa kosong,” tambahku seraya menekan dadaku erat-erat. “Hanya itu,”

****

Daarr!!!
Aku terhenyak ketika mendengar suara letusan balon itu. seorang gadis kecil tampak menangis di sudut ruangan. Beberapa anak berdiri mengelilinginya. Kami sedang mempersiapkan acara ulang tahun panti, dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati beberapa balon pecah.
“Ada apa?” tanyaku. Mereka semua terdiam, membisu karena takut di salahkan. Aku mendesah dan berjalan mendekati sosok mungil berkaca mata itu. “Leona, ada apa?” tanyaku lembut. Namun gadis kecil itu malah menangis semakin keras.
“Aku hanya mencoba melindunginya,” bisik seorang bocah bernama Alvin. Aku menatap Alvin tidak mengerti. “Balon-balon itu akan merusak rambutnya, jadi aku memecahkannya,” tambahnya ragu-ragu. Aku mengernyit. Masalah apa yang akan diberikan oleh sebuah balon kepada tatanan rambut yang hanya di sisir lurus ini? Aku menggeleng lelah.
Tapi seseorang mengetuk pintu hatiku. Bukan itu fokusnya, tapi kepedulian si bocah itu lah yang harusnya ku lihat.
Aku tersenyum. “Tenanglah, sebentar lagi bu Silvia dan bu Riana akan segera pulang dari pasar. Mereka pasti membawa balon lagi. Kau harus membantunya meniupkan sebuah balon berwarna warni,” ujarku pada bocah kecil itu. dengan antusias ia menggangguk setuju.
“Bu guru!!!” teriak Andini, seorang gadis berusia 10 tahun. Wajahnya yang bulat tampak di penuhi oleh tetesan keringat. Aku mengerutkan keningku bingung. “Bu guru ada di… hh… hh…” aku menepuk-nepuk punggungnya ketika gadis it uterus berbicara di tengah-tengah nafasnya yang tersenggal-senggal.
“Tenanglah dulu,” bisikku pelan.
“Ibu guru… hh… ada di bioskop,” ujarnya. aku terpaku menatapnya, apa yang sedang ia katakan? Apa maksudnya?
“Isabella,” suara itu terdengar penuh kekhawatiran. Aku menoleh, Silvia berdiri di sampingku. Tangannya masih mendekap kantong belanjaan. “Ini….” Bisiknya seraya menyerahkan sebuah majalah.
Seorang gadis cantik tampak berpose indah di bagian depan majalah itu. rambutnya yang ikal ia biarkan tergerai. Menutupi sebagian bahunya yang hanya berbalut kain tipis. Bibirnya yang indah tidak tersenyum sama sekali, bahkan tampak seperti sedang mencibir, atau… menahan tangis. foto itu begitu cantik, begitu ekspresif, bahkan kedua mata indahnya dengan jelas menyiratkan luka yang begitu dalam.
“Savanna…” desisku pelan. Silvia menatapku sedih. Kemudian aku membuka-buka halaman majalah itu. sebuah berita menarik perhatianku, berita tentang dunia perfilman.
“Film itu sudah diputar di bioskop kota,” bisiknya. “Aku sudah menontonnya, itu tentang dirimu, seluruh masa lalumu,” Silvia menyentuh pundakku. “Kisahmu,” tambahnya. “Dia mencarimu,”
“Aku tidak memiliki masa lalu,” ujarku dingin. Ku belai wajah polos Andini dengan sayang. Beberapa anak masih sibuk dengan kegiatan mereka menghias aula panti asuhan itu. mereka begitu bersemangat, begitu bahagia.
“Isabella,” aku terdiam. Hatiku terpilin ketika mendengar suara dingin itu. Ku pejamkan mataku, mencoba meresapi seluruh keangkuhan yang mengalir dari suaranya. Anak-anak itu langsung terdiam. Bagai sebuah bunyi wuzz yang menghentikan setiap langkah. Aku tidak ingin menoleh kebelakang, dan kemudian mengutuki kebodohanku karena mengharapkan keberadaannya di belakangku. Aku tidak ingin bergerak. Aku hanya ingin terus bermimpi.
“Ibu guru…” Andini menyentuh wajahku, membuat mataku terbuka. “Ini bukan mimpi,” bisiknya. Dan kata-kata singkatnya spontan meruntuhkan seluruh kekuatan diriku. Aku menoleh ke pintu aula.
Ia berdiri di sana. dengan salah satu tangannya mencengkram daun pintu. Rambutnya berantakan, namun entah bagaimana ia tetap terlihat tampan dengan stelan jas abu-abunya. Ya, ia masih begitu tampan meski dengan wajahnya yang terlihat begitu lelah. Mata coklat mudanya menatapku tajam di balik kaca matanya. Wajahnya begitu rapuh, membuatku ingin merengkuhnya. Mengutarakan rasa rindu yang tidak ku mengerti.
Untuk sesaat kami hanya terdiam. Hingga hembusan angin itu menerpa wajahku, menyadarkanku untuk kembali ke dalam nyataku.
“Kita harus bicara,” bisiknya. Aku melirik Silvia yang menatapku dengan tatapan memohon maaf. Bahkan bocah-bocah itu turut terpaku di tempat mereka. “Kita perlu bicara,” ulangnya tegas. Aku menundukan kepalaku.
“Maaf tuan, tapi saya harus pergi,” ujarku sebelum berjalan melewatinya. “Kita tidak perlu membicarakannya lagi.” Desisku kaku. Ia terdiam, membeku dalam pikirannya.
“Izzi…” panggilnya. Ia menyentuh tanganku, yang secara spontan mengalirkan perasaan aneh dalam hatiku.
“Kumohon. Tinggalkan aku,”
“Aku tidak bisa,”
“Kalau begitu biarkan aku pergi!” aku menghempaskan cengkramannya dan berjalan menjauh. “Tidakkah kau mengerti perihnya menjadi yang terbuang?” bisikku pelan. bahkan terlampau pelan hingga rasanya telingaku tidak bisa memahaminya. Tidakkah mereka mengerti?


Sabtu, 08 Desember 2012

HUJAN KEMARIN -25-


BAB DUA PULUH LIMA
Heart of Stone


Cinta pertama itu mereka bilang adalah cinta yang takkan pernah bisa dilupakan, kalaupun cinta itu takkan berakhir dengan kebersamaan, namun cinta itu akan selalu membekas di hati. Entah menyisakan luka atau tawa. Tapi bagiku semuanya berbeda. Aku bahkan tidak bisa mengingat satu detailpun tentang cinta pertamaku. Aku masih terus berusaha untuk mengingatnya, aku bersumpah. Namun nyatanya, hingga detik ini aku masih buta akan diriku dan semua kisah tentangku.
4 bulan setelah kecelakaan itu sepertinya tidak membantuku menemukan jalan kembali ke ingatanku. Semuanya masih sama, gelap dan kosong. Mungkin sudah waktunya aku menyerah. Toh aku memang tidak memiliki penyemangat untuk kembali mencapat ingatanku.
Penyemangat?
Kata-kata itu terkadang menggelitik hati kecilku. Aku merasa diriku memang lemah. Bahkan dalam mencapai tujuan hidupku. Namun bagaimana mungkin aku masih berdiri setegar ini sampai sekarang? Aku tau, tidak ada gunanya menanyakan hal yang takkan pernah ku temukan jawabannya, tapi setidaknya aku sudah berusaha. Aku sudah mencoba.
Aku tersenyum tipis ketika melihat surat pemberitahuan yang datang atas namaku. Ini bukan surat istimewa, namun setidaknya surat ini menawarkan hal lain untukku. Hal yang sama sekali tidak menyentuh sisi kelabu dalam kehidupanku.
Telepon disampingku tiba-tiba berdering.
“Ya,” ujarku setelah deringan pertama. Telepon dari Kikan, sekretaris Ethan. “Ya aku mengerti, terima kasih Ki,” ujarku singkat sebelum menutup telepon itu. Kulirik jam tanganku, sepertinya memang sudah waktunya.


Berkali-kali ku tarik nafas dalam-dalam untuk meredakan detak jantungku yang menggebu. Aku benar-benar tidak ingin terlihat gugup. Namun belum apa-apa tanganku sudah terasa dingin. Perutku melilit karena tegang.
Kikan tersenyum manis ketika melihat kedatanganku ke studio. Ia adalah gadis Jakarta yang sangat modis, dengan dandanan minimalis namun menawan, dan busana kerja yang formal namun –sekali lagi- tampak menawan pada dirinya.
Aku memandang ke sekeliling, mempelajari lobi studio itu dengan seksama. Sebuah sofa panjang berwarna putih menjadi poin utama pada ruangan itu. Dengan cermin-cermin panjang yang menjadi dinding sisi kiri dan kananya. Sedang dinding depannya terbuat dari ukiran batu berwarna coklat muda yang begitu indah dan artistik. Beberapa tanaman dalam pot menambah kesan alami tempat itu.
Kikan memberikan isyarat dengan tangannya agar aku langsung masuk ke dalam. Aku membalas anggukannya dan berlalu. Ada banyak ruangan lain di balik lorong panjangnya yang cukup sempit. Sebuah toilet tersembunyi di balik tangga menuju lantai dua. Beberapa ruangan berpintu kaca tampak tertutup rapat. Aku tidak pernah memasuki studio Ethan, karena ku pikir aku tidak perlu melihatnya bekerja. Hasil jepretannya yang kini sudah merambah ke dunia international membuktikan seluruh talenta yang dimilikinya.
Aku merapihkan tatanan rambutku dan menyiapkan goresan senyum termanis yang bisa ku tunjukan. Namun semakin lebar senyuman itu terukir, semakin perih hatiku terasa. Tapi aku tidak akan berhenti di sini. Aku akan terus berjalan apapun resikonya. Setelah berkali-kali aku menghela nafas panjang, akhirnya debaran jantungku bisa sedikit normal. Kemudian aku membuka pintu ganda yang bertuliskan studio satu.
Kilatan blitz kamera membuatku menyipitkan mata. Kemudian setelah mampu menyesuaikan mataku barulah aku mulai melangkah. Ruangan itu besar dan terang menderang. Sisi sampingnya di penuhi oleh tumpukan barang-barang, deretan kostum tergantung di bagian atasnya. Tidak ada jendela di ruangan itu. Semua cahaya di ambil dari lampu sorot yang begitu terang.
Beberapa orang tampak terpaku di sekeliling pemuda tampan berkaos abu-abu. Aku tersenyum tipis. Itu dia. Sosok menawan yang tampak begitu hidup dengan kamera di tangannya. aku berjalan perlahan, menghampiri kerumunan itu, namun sebisa mungkin tidak menarik perhatian mereka. Dihadapan Ethan, seorang gadis cantik tampak tengah bergaya dengan gaun putih yang begitu anggun. Sebuah jendela buatan menjadi propertinya. Semuanya serba berwarna putih bersih, kecuali bunga mawar yang berada dalam vas Kristal di jendela itu.
Aku benar-benar suka dengan caranya memotret, dengan gerakan indah sang model, bahkan dengan decakan kagum dari orang-orang yang menontonnya. Namun tiba-tiba mata model itu melebar. Pose indahnya terhenti, tatapannya mengunci pada diriku. Membuat seluruh orang di hadapanku turut menoleh. Otomatis aku mundur beberapa langkah, hingga punggungku menabrak dinding di belakangku. Kakiku mulai terasa selembek jeli.
Perasaan gugup ini menyesakan dadaku. Terlebih ketika seorang pria botak menyentuh pundak pemuda tampan itu. Menyadarkannya dari keterkejutannya. Aku merasakan air mataku tergenang. Mulai memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.
“Hai…” sapa Ethan dengan nada takjub dan bahagia. Sebisa mungkin aku mempertahankan senyuman yang sudah ku persiapkan dari tadi. “Kau datang?” tanyanya, masih dengan ekpresi bahagia. “Aku pikir kau tidak akan pernah datang ke studioku,” tambahnya.
“Ini tempat yang indah,” ujarku tulus. Ethan tersenyum lebar. Pancaran kebahagiaan tampak dari sorotan matanya.
“Sav… ah maksudku Isabella,” bisik gadis bergaun putih itu ragu-ragu. Aku melirik kebelakang tubuh Ethan, dan mendapati gadis itu menatapku tidak percaya. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah semua orang akan bersikap seperti itu?
“Hai,” balasku. Ethan bergeser kesamping dan berdiri di sampingku.
“Hai, aku Kyna. Aku pernah bermain film dengan Savanna. Kalian berdua benar-benar mirip. Aku tidak bisa mempercayai ini,” ujarnya. Tatapannya dengan jelas menunjukan ketidak percayaannya. Savanna memang duplikat diriku, kecuali mata kami yang jelas berbeda. Matanya terlalu indah untuk menjadi duplikat mataku. Namun secara keseluruhan kami memang mirip, bagai saudara kembar yang tidak identik.
“Aku tidak percaya akhirnya bisa bertemu denganmu,” bisiknya. Aku tersenyum senormal mungkin. Kemudian tatapan gadis itu berubah, lebih lembut dan sendu. Ia menautkan jemarinya, wajahnya sedikit berkerut, kemudian dengan cepat memalingkan pandangannya.
“Isabella!!” teriakan itu memecah keheningan yang sempat terjalin di antara kami. Aku mengerutkan keningku ketika melihat sosok ‘cantik’ lain yang tersenyum lebar padaku. Tubuhnya jangkung, dan jelas berotot. Namun riasan wajahnya begitu indah. Aku menatapnya dengan sedikit ngeri.
“Dia Lexa, stylish di sini,” bisik Ethan di telingaku.
“Nama aslinya?” tanyaku balas berbisik.
“Alex,”
“Ah… kau benar-benar cantik…” puji Alex, atau Lexa. Atau siapapun namanya. Ia menunduk untuk mensejejarkan wajahnya dengan wajahku. Matanya berbinar indah, hidungnya mancung dan bibirnya penuh. Aku merasa ia benar-benar di takdirkan menjadi wanita jika tidak mengikut sertakan otot-ototnya. “Kulitmu sangat halus, bahkan bibirmu juga lembut,” tangannya terulur dan menyentuh bibir bawahku. Refleksku langsung menarik wajahku dari tangannya. karena walau bagaimanapun diakan pria.
Ethan terkekeh di sampingku ketika melihat Lexa sedikit merenggut karena reaksiku. “Dia tau kau pria Lex.” Ujarnya. Lexa memutar bola matanya kemudian menegakan tubuhnya.
“Ah… pasti gara-gara ini,” tuturnya seraya menunjukan otot tangannya. Aku meringis, dan tawa itu meledak. Tawa orang-orang yang sebelumnya hanya memandang kami dalam diam.
“Aku Rahul,” seorang pria berkemeja biru kotak-kotak mengulurkan tangannya padaku. Aku menaikan salah satu alisku ketika mendengar namanya. “Aku dari Dubai.” Katanya menjawab keanehanku.
“Aku Clarisa, panggil aku Icha.” Ujar seorang gadis mungil berkaca mata. “Aku asisten Alex.”
“Lexa. Mousy!” ralat Lexa gemas. Ia mengacak rambut gadis itu dengan kesal.
“Berhenti memanggilku Mousy! Aku bukan tikus!” berntak Icha. Aku kembali terkekek. Mereka begitu berbeda, namun jelas kompak.
“Jangan dengarkan mereka,” pria botak yang tadi menyadarkan Ethan dari lamunannya mendekatiku. “Aku Fabian,” tuturnya. Suaranya berat dan aksennya ramah. Aku membalas uluran tangannya dengan senang hati.
“Jadi Kyna, Fabian, Rahul, Icha, dan Lexa…” aku menunjuk mereka satu persatu. Lexa tertawa pelan sambil menepuk tangannya perlahan.
“Ah kau bahkan memiliki suara yang sangat enak didengar. Tidak heran jika Ethan tidak bisa berhenti membicarakanmu,” tutur Lexa. Wajahku memerah. Ethan menatap Lexa dengan geram.
“Kami sampai bosan mendengarnya,” sambung Icha. Nah sudah ku bilang bukan, kalau mereka itu begitu kompak. “Aku pikir Ethan itu selalu mengada-ngada, tapi ketika akhirnya melihatmu, aku mengaku salah.” Ujarnya sambil tersenyum manis.
Aku tidak tau harus menjawab pujian mereka dengan sikap seperti apa. Namun tentu saja, wajahku sudah semerah tomat karena malu.
“Well, terima kasih atas sambutan hangat kalian semua. Aku benar-benar senang karena ternyata Ethan di kelilingi orang-orang yang baik seperti kalian,” tuturku tulus.
“Kau belum mengenal mereka sayang,” bisik Ethan yang langsung mendapat tatapan garang dari wajah-wajah di hadapan kami. “Oke, oke… kalian memang yang terbaik,” ujarnya berpura-pura mengangkat sebelah tangannya dan menyerah. Sedangkan tangannya yang lain masih memeluk pinggangku dengan erat.
“Oya, aku membuat makan siang untuk kalian. Aku harap kalian suka pasta,” ujarku seraya mengangkat barang bawaanku. Seluruh mata di hadapanku langsung melebar penuh takjub. Membuatku kembali tersenyum kikuk. Apa aku melakukan kesalahan sekarang?
Kemudian aku merasakan tubuhku terangkat, dan terjebak dalam sebuah pelukan yang sangat erat. Buru-buru aku meletakan tanganku di pundak Ethan, meskipun tentu saja sangat sulit dengan sekotak besar pasta di tanganku. Dengan sigap Fabian langsung mengambil alih pasta itu dari tanganku.
“Terima kasih,” bisik Ethan. Ia menempelkan keningnya di keningku. Matanya menatap kedalam mataku dengan sangat intens. Aku menggigit bibir bawahku menahan lonjakan emosi dalam diriku. “Terima kasih banyak,” ujarnya tulus. Aku ingin mengangguk, tetapi kening Ethan tetap menjaga wajahku untuk diam. Kami berpelukan untuk beberapa saat hingga akhirnya aku mendengar tepukan tangan dari Lexa.
“Ah… kisah yang begitu romantis. Aku sangat suka film melodrama. Selalu membuatku ingin menangis,” ujarnya seraya mengusap air matanya. Aku mengernyit dan tertawa. Ethan menurunkan tubuhku perlahan, kemudian mencium keningku untuk beberapa saat. Membuat Fabian tertawa dan bersiul. Aku yakin kini wajahku sudah menghitam karena terlalu malu. Namun seperti biasa Ethan tampak nyaman dengan keadaan itu. Dia memang selalu mampu membuat dirinya sendiri nyaman dalam segala keadaan.
“Baiklah, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi ini. Baunya sangat harum.” Ujar Rahul yang berjalan mendekati Fabian.
“Oke, aku akan panggilkan Kikan!” Icha langsung melesat keluar ruangan. Dalam hati aku mulai tidak menyalahkan Lexa yang memanggilnya tikus.
Tidak lama kemudian Icha kembali bersama Kikan dengan beberapa piring kertas dan sendok plastik. Fabian sudah membuka kotak besar itu. Lexa membuat ruang makan darurat dengan menyingkirkan beberapa barang di tengah ruangan dan membentangkan sebuah kain berwarna kuning kemerahan. Kami semua duduk mengitari sekotak pasta yang memang sengaja ku buat. Mungkin itu cukup untuk 10 atau 15 orang, namun melihat tatapan kelaparan dari mereka, aku ragu apakah pasta ini akan cukup.
Ethan tidak pernah melepaskan rangkulannya dari pinggangku. Sesekali ia membelai lembut punggungku dan mengecup keningku, atau rambutku, atau terkadang pipiku. Tubuhku sengaja ia dekap erat di samping tubuhnya. Dan aku sama sekali tidak keberatan. Merasakan detak jantungnya yang seirama membuatku tenang. Ia sehat dan baik-baik saja.
“Ini benar-benar enak!” puji Rahul dengan mulut yang penuh. Kami semua tertawa. Sesekali Icha memotret kami.
“Kau mau?” tanyaku pada Ethan.
“Tentu saja!” ujar Ethan.
“Kalau begitu lepaskan tanganmu,” bisikku. Icha terkikik melihat kami. Kemudian dengan enggan ia melepaskan rangkulannya. Aku bergerak maju dan mengambilkan sepiring pasta untuknya. “Ini,”
“Tidak bisakah kau menyuapiku?” tanyanya manja. Aku mendengus tidak percaya. “Oh ayolah sayang. Kita akan membuat mereka iri,” Rayunya. Aku memandang wajah-wajah serius di sekelilingku dengan ragu. “Atau mungkin kita bisa membuat mereka iri dengan menunjukan gaya ciuman kita…” Ethan mengedipkan sebelah matanya padaku. Membuatku spontan tersentak. Kikan dan Icha langsung meringis dan terkikik.
“Lebih baik kau makan!” ujarku seraya memasukan sesendok pasta ke dalam mulut Ethan yang langsung memutar bola matanya karena merasa gagal. Aku bisa mendengar desahan nafas kecewa Lexa dan siulan Rahul.
“Tapi sungguh, ini sangat enak. Kau pasti pandai memasak.” Puji Kikan. Aku terdiam dan menggeleng.
“Aku tidak tau. Aku kehilangan seluruh ingatanku,” bisikku pelan. dan ruangan itu mendadak hening. Semuanya terpaku pada pasta yang membisu di piring mereka. Kecuali gadis yang masih mengenakan gaun putih. Pandangannya mengunci tatapanku. Bibirnya sedikit berkerut, seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun hingga akhirnya kami selesai tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis itu.


“Aku akan mengantarmu pulang,” ujar Ethan setelah kami menghabiskan pasta itu. Aku tersenyum dan menggeleng. Saat ini baru pukul 3 siang, dan Ethan terbiasa pulang pukul 6 sore.
“Aku bisa pulang sendiri,” ujarku sungguh-sungguh.
“Tenanglah. Urusan pemotretan hari ini serahkan saja padaku,” ujar Fabian.
“Tapi hari ini kita ada meeting.” Potong Kikan ragu-ragu. Aku tersenyum lembut pada sosok tampan di depanku.
“Aku bisa pulang sendiri, tenanglah.”
“Atau mungkin aku bisa mengantarnya,” usul Lexa yang langsung mendapat tatapan sarkastis dari Icha.
“Tidak,” jawabku. “Aku bisa pulang sendiri. Aku memang hilang ingatan, tapi setidaknya untuk saat ini, aku tau jalan menuju rumahku,” ujarku santai. Rahul terkekeh dan mengangguk.
“Aku harap kau benar-benar mengetahui jalan menuju rumahmu,” Ujar Kyna pelan. Mereka semua tertawa pelan. Namun aku bisa melihat bahwa gadis itu tidak sedang bergurau. Aku hanya tersenyum tipis sebagai jawaban kata-katanya.
“Hati-hati,” ujar Ethan. Aku menatap wajahnya dengan seksama. meraba tulang pipinya yang begitu keras, matanya yang berwarna abu-abu melembut di bawah sentuhanku. Bibirnya mencium buku jariku.
“Selamat tinggal,” bisikku pelan sebelum berlalu pergi.


Aku menggigit bibir bawahku keras-keras untuk menahan tetesan air mata yang hampir saja tumpah dihadapan mereka. Entah kebiasaan sejak kapan, namun setidaknya itu cukup efektif. Berkali-kali ku tarik nafas dalam-dalam untuk menengangkan gemuruh hatiku. Ini keputusanku, dan inilah jalanku.
Aku berjalan perlahan menuju mobilku yang terparkir tidak jauh dari mobil Ethan. Air mataku kembali menetes ketika melihat mobil berwarna putih itu. ingatanku akan sang pemilik membuatku terpaksa menutup mulutku karena khawatir isakkanku akan mengundang perhatian orang-orang yang berlalu lalang.
Tapi ini adalah keputusanku, jalanku.
                                                            ****
Aku menahan nafasku untuk sesaat. Tubuhku membeku diambang pintu ganda yang terbuka lebar, dadaku mulai terasa sesak, namun aku tidak ingin berbalik, tidak peduli sesakit apa hatiku. Dengan susah payah kulangkahkan kakiku mendekati meja yang berada di bagian sudut restoran itu. Seorang pria jangkung duduk membelakangiku. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menatap jalanan dari balik jendela restoran. Salah satu tangannya menahan dagunya.
“Hai,” sapaku setenang mungkin. Sosok itu sepertinya cukup terkejut dengan kehadiranku. Ia langsung menegakan tubuhnya dan menatapku tidak mengerti. “Maaf telah membuatmu bingung, akulah yang membuat janji denganmu di sini,” ujarku seraya duduk di hadapannya. Suasana restoran sore itu tidak terlalu ramai. Hanya ada tiga atau empat meja yang terisi selain meja kami. “Aku tau ini benar-benar tidak sopan,” ujarku mulai meracau. Namun ketika mata coklat keemasan itu memandangku, seluruh kata-kata yang sudah ku rangkai, menghilang begitu saja.
Pemuda di hadapanku menatap mataku. Dengan mudah ia mempelajari wajahku. Dan aku bisa melihat rahangnya mengeras. Mata coklat mudanya tampak menggelap.
“Aku masih belum mengingatnya.” Ujarku memecah keheningan, dan dengan cepat pemuda itu memalingkan wajahnya. “Aku masih belum mengingatmu,” tambahku pelan. sosok dihadapanku menegang. Jemarinya mengepal di samping cangkir kopinya yang masih mengepul. “Ku mohon jangan sakiti dirimu,” aku mengulurkan tanganku dan menyentuh jemarinya. Pemuda itu tersentak, ia langsung menarik tangannya menjauh dariku. Lagi-lagi aku menggigit bibir dalamku untuk menahan seluruh emosi dalam diriku.
“Maaf,” bisiknya pelan. Aku menggeleng.
“Aku yang minta maaf,” bisikku. “Sepertinya kita tidak memiliki banyak waktu,” tambahku perih. Sosok itu terdiam, membeku bagai patung. Aku ingin menyentuh wajahnya, merasakan apakah ia sedingin dan sekaku kelihatannya. Atau itu hanyalah kamuflase belaka. Namun kemudian aku menggeleng pada pemikiran konyolku sendiri. Aku tidak ingin merusak seluruh kekuatan yang sudah ku persiapkan beberapa hari ini.
“Kau benar, waktu kita tidak banyak.” Ujar sosok itu dingin. Aku mengangguk perlahan. berusaha sebisa mungkin menahan air mataku tetap di tempatnya.
“Maaf, aku hanya ingin memberikan ini,” ujarku seraya mengeluarkan setumpuk kertas dari dalam tasku. Sosok itu kembali menegang. Namun dengan mudah ia kembali menyembunyikan ekspresinya di balik wajah angkuhnya. “Ini skenario yang kau buat untuk keluargaku.” Bisikku perih. “Skenario yang indah, tapi kau tau, ini terlalu sempurna.” Aku menatap beberapa bocah yang tengah tertawa di luar restoran. Andai aku mengingat bahagianya masa kecilku. “Aku memang masih belum mengingat semua masa laluku, atau mungkin tidak akan pernah mengingatnya. Tapi aku cukup mengerti bahwa hidup tidak selalu seindah itu,” tanganku mulai terasa membeku.
Hening untuk sesaat. “Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sungguh, jika kau ingin menyingkirkanku, kau berhasil.” Sosok di hadapanku tersentak mendengar kata-kataku. “Aku mengerti jika kau tidak mencintaiku. Aku sangat mengerti. namun ku mohon, berhentilah mengelabuiku dengan semua skenario ini. Ku mohon…” pintaku sungguh-sungguh. Air mataku mulai menetes. “Kau tidak pernah tau bagaimana perihnya hidup dalam kebohongan yang indah. Semuanya memang indah, namun itu semua hanya akan terasa perih saat kau tersadar dari kebohongan itu,” aku mengatupkan kedua tanganku di hadapannya. Memohon dengan teramat sangat. Namun tidak sekalipun wajah itu menoleh padaku. Matanya masih setajam dan segelap  sebelumnya. Wajahnya masih mengeras dengan ekpresi dingin yang begitu angkuh.
“Aku tidak tau apa salahku padamu. Tapi ku mohon berhenti menulis skenario kehidupanku. Aku bukan boneka. Aku mempunyai perasaan. Aku mungkin hilang ingatan, tapi tidakkah kalian berpikir bahwa suatu saat nanti aku akan mendapatkannya kembali? Tidakkah kalian berpikir tentang kemungkinan itu? sekeras apapun usaha kalian untuk menjauhkanku dari semua masa laluku?” aku menggeleng perlahan. Membuat air mataku menetes ke berbagai arah.
“Waktu kita sudah habis,” suara itu begitu dingin dan tajam, menusuk tepat di jantungku. Menekan seluruh kepedihanku semakin dalam. Aku menghapus air mataku yang tidak pernah berhenti mengalir dan mengangguk perlahan.
“Aku mengerti,” bisikku sinis. “Aku mengerti tuan.” Ulangku mencoba setegar mungkin. “Aku hanya ingin mengembalikan ini,” tambahku seraya meletakan benda berkilauan di hadapannya. Itu hanya sebuah benda kecil, benda asing yang tak bernyawa. Namun ketika akhirnya aku melepaskannya dari jari manisku, aku merasakan hatiku ikut terlepas. Sakit yang mendalam menghimpit dadaku, menyesakan rongga pernapasanku.
Aku bangun dari kursiku dan berjalan melewatinya. Sisi kecil dalam hatiku berharap ia akan berbalik dan menahan kepergianku. Namun bagian logis diriku menertawakannya, hingga akhirnya aku menyerah. Setidaknya yang perlu ku lakukan sekarang adalah mengganti kepingan hatiku dengan bebatuan yang keras, agar kelak tidak akan terluka lagi.

                                                            ****

You can take everything I have, You can break everything I am.

Like I made of Glass, like I made of paper.
Go on and try to tear me down, I would be rising from the ground.
Like a skyscraper.
                                                                        -Skyscraper—Demi Lovato—