Tampilkan postingan dengan label one sheet of feelin' blue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label one sheet of feelin' blue. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Agustus 2013

INVISIBLE LOVE




Pelangi itu berwarna cantik, melengkung sempurna di atas atap-atap rumah yang mulai memenuhi setiap sudut kota kelahiranku. Warnanya yang cantik sejenak tampak begitu kontras dengan warna langit senja kala itu. aku tersenyum tipis, mencoba menghitung warna yang bisa ku lihat, merah, jingga, kuning, sedikit hijau, biru, nila, seberkas magenta…

Magenta…

Kuraba permukaan gaunku yang berwarna magenta, namun terlalu tua untuk disamakan dengan salah satu warna pelangi itu. Gaun off shoulder itu membungkus tubuhku dengan apik, bahannya yang lembut dan nyaman membuatku dengan begitu mudah jatuh cinta padanya. Semudah aku jatuh cinta pada pelangi itu, dan pada pemuda yang membawa pelangi itu masuk ke kehidupanku.

“Cinta itu indah…” bisik gadis di sampingku dengan senyuman yang mengembang. Mata indahnya turut menatap biasan warna pelangi di langit senja. Kedua tangannya saling bertautan di depan pinggangnya yang ramping, seakan tengah menggenggam sesuatu yang tidak bisa ku lihat.

Aku menghela nafas panjang kemudian tersenyum tipis, “Cinta itu menyakitkan.”

“Itu karena kau belum pernah menemukan cinta yang sebenarnya.” Pembelaannya akan cinta mau tidak mau membuatku ingin tersenyum geli, mencibir pada kenyataan yang tak tersirat. “Suatu saat nanti, ketika akhirnya kau menemukan cinta itu, kau pasti akan sangat bahagia.” Ujarnya begitu tulus.

Aku mengangkat bahu tak yakin, “Aku pernah merasakan indahnya cinta itu, tapi saat ini aku hanya ingin melupakannya…” ujarku santai. Saat itu, semilir angin menerpa wajah kami, menerbangkan helaian rambut hitamku.

“Sebenarnya ku rasa kau terlalu kejam pada dirimu sendiri. Sering kali kau mengerjakan sesuatu yang diluar kemampuanmu, aku tau kau gadis yang penuh ambisi, tapi terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa kita lakukan, dan meninggalkannya adalah hal terbaik,”

Aku terkekeh geli, “Aku sudah mengerti hal itu, dan itulah yang sekarang tengah ku lakukan pada kata bernama cinta di dalam kehidupanku.”

“Bukan begitu maksudku…” ujarnya tampak serba salah. Aku menatap wajah cantiknya dengan penuh kasih.

“Aku mengerti. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa bertahan,”

“Tapi kau bilang kau sangat mencintainya, kalau begitu mengapa kau tidak mempertahankannya,”

“Mungkin cintaku kepadanya tidak sebesar itu.”

“Jangan bergurau, aku sahabatmu, sahabatmu sejak kecil. Aku mengenalmu dengan sangat baik, dan meski hanya membaca dari email-emailmu selama ini, aku tau kau sangat mencintai pria itu. Aku sangat yakin…”

“Mungkin iya, tapi dia tercipta bukan untukku. Sebesar apapun usahaku untuk mendapatkannya, aku pasti akan gagal. Dia bukan jodohku…”

“Persetan dengan pemikiran konyolmu itu. Memang kau ini Tuhan?! Sampai sampai kau bisa menentukan siapa jodohmu, dan siapa jodohnya. Berhenti bergurau, kalau kau mencintainya kau harus mempertahankannya!”

Lagi-lagi perkataannya membuatku ingin tersenyum geli, “Tapi masalah terbesarnya di sini adalah kenyataan bahwa pria itu tidak mencintaiku.” Ujarku tegas. Gadis di hadapanku melongo, kedua matanya membulat dengan kemarahan yang tampak jelas.

“Kalau begitu mengapa kau masih saja mencintainya?! Kau seperti bukan dirimu yang ku kenal!”

“Mungkin itu karena cinta.” Bisikku datar. Tiba-tiba gadis itu merangkulku dengan sangat erat.

“Kau pasti akan menemukan kebahagiaan itu,” ujarnya lembut.

“Aku tau.” Ujarku tenang. “Sudahlah, jangan bersedih lagi, aku tidak ingin menjadi pengiring pendamping pengantin yang jelek sehabis menangis. Ayo tersenyum, tunjukan padaku kecantikanmu, yakinkan aku bahwa kau memang pantas untuknya. Agar kelak aku tidak menyesal karena tidak mempertahankan cintaku kepadanya.”

Semilir angin lagi-lagi menerpa wajah kami, namun kini lebih keras, menghantarkan sebuah keheningan yang membekukan suasana. Wajah gadis di hadapanku sedikit memucat, matanya menyiratkan ketidak percayaan akan kata-kataku, kemudian aku bisa melihat genangan air matanya.

“Dia…” bisiknya pelan, aku tidak yakin apakah itu sebuah pertanyaan atau bukan.

“Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Kau sahabatku, sahabat terbaikku. Ingat ketika kita mencintai pria yang sama ketika SMP dan SMA? Selalu begitu, bukan? Tapi pada akhirnya, selalu kau yang dipilih mereka… selalu begitu…”



Kamis, 24 Januari 2013

Karena Ku CINTA



Aku mematung di ambang pintu, menatap sosok yang tengah terbaring lemah itu dengan perih. Ingin rasanya aku menyentuh wajah itu, membelainya perlahan. Menunjukan kepadanya bahwa aku tidak seperti gadis yang lainnya.
Sesekali ia meringis perih, mungkin beberapa pukulan itu telah melukai otot dalamnya, atau mungkin memecahkan beberapa pembuluh darahnya. Hatiku terpilin ketika memikirkan hal itu. Dengan perlahan aku berjalan mendekatinya. Mencoba melihatnya lebih dekat. Aroma aneh dari cairan yang berada diatas meja itu membuatku mengernyit. Belum lagi warna merah yang membaur dengan air di dalam  wadah kecil itu.
Ia pasti kesakitan. Aku tau itu. Ada lebam besar di bawah mata kirinya, dan di dekat pelipisnya. Bibir bawahnya tampak sedikit sobek meski darah sudah mengering di sana. lagi-lagi hatiku meringis ketika mengingat bahwa luka itu tercipta karena ulahku. Betapa bodohnya aku sampai menantang musuh-musuhku itu.
Dia, pemuda itu, dengan gagah berani datang bersama sahabatku. Ia mencoba melawan mereka, demi melindungiku.
Setetes air mata membasi pipiku. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, atau katakan padanya. Sebuah kata terima kasih tidak akan pernah cukup.
Dan sejujurnya, jika boleh memilih dan pasti di kabulkan, aku berharap aku lah yang terluka saat ini. Bukan dia… bukan pangeranku.
Aku mundur selangkah ketika tubuhnya bergerak gelisah di atas ranjang. Aku tau dia tidak menyukaiku, tapi aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku mencintainya. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Dan cinta itu tidak akan pernah pudar, meskipun aku tau, hanya luka yang ku dapatkan dari rasa cinta itu.
Tapi aku mencintainya, sekarang dan seterusnya.

Tiba-tiba matanya bergerak, dengan perlahan ia membuka matanya, dan sesaat kemudian teriakan itu kembali terdengar. Aku sempat tersentak, namun dengan cepat berlalu dari sisinya. Aku tidak ingin melukainya.
“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa pemuda itu alergi kucing,” tegur seekor kucing yang sedari tadi berdiri di balik pintu ketika aku berjalan keluar kamar itu. aku terdiam.
“Aku tau, tapi aku mencintainya,” bisikku pelan. Hatiku mulai mengeras ketika mendengar erangan kesakitannya. Kemudian sel-sel dalam benakku mulai mengatur rencana untuk membalaskan dendamku pada musuh terberatku yang sudah melukainya, ya… anjing tetangga sebelah.

Jumat, 18 Januari 2013

MELIHAT SURGA



“Putriku…” aku membulatkan mataku ketika melihat seorang gadis kecil yang sangat ku rindukan. Putri kecilku, bintang kehidupanku…
Tangan mungilnya terulur kepadaku, senyumannya begitu lembut dengan binar mata yang begitu indah. aku merasakan keperihan yang teramat sangat karena rasa rinduku kepadanya. Gadis kecilku yang sempat bersemayam dalam rahimku selama 9 bulan, dna memberikan cahayanya selama 6 tahun lamanya kepadaku.
Gadis kecil yang begitu berate dalam hidupku, yang membuatku percaya atas keberadaan Tuhan. Buah cintaku dengan kekasih hatiku.
“Sayang… mama sangat merindukanmu,” bisikku dengan deraian air mata. Gadis kecil itu mengangguk dan menatapku, menunjukan kerinduannya pada diriku.
“Aku juga rindu mama,” balasnya dengan suara seorang bocah yang begitu lucu.
“Kemarilah nak…” bisikku, dan ia menghampiriku dengan perlahan. aku memeluknya erat-erat, khawatir ia akan kembali menghilang.
“Ma…” bisiknya seraya menyentuh kedua pipiku yang basah dengan jemari kecilnya. “Jangan bersedih, aku baik-baik saja di sini,” ujarnya, namun air mataku tidak bisa berhenti menetes. Kerinduanku pada sosok mungil ini membuat jiwaku terguncang sedemikian dalamnya. Aku mencintainya, aku bersedia untuk melakukan apapun agar memiliki kesempatan kedua bersamanya… bersama bintang kecilku…
“Maafkan mama, tapi mama tidak bisa berhenti menangis ketika mengingatmu yang menutup mata ini,” aku menyentuh sisi mata kanannya dengan ibu jariku. Mencoba merasakan guratan-guratan lembut kulitnya. Kemudian dengan perlahan ku kecup keningnya, mencoba merasakan dirinya dalam diriku.
“Mama… aku bahagia disini. Dan justru dengan mata tertutup itulah aku bisa melihat surga,” ujarnya pelan. Tubuhku tersentak sesaat, air mataku terus menetes ketika aku mengangguk kepadanya.
“Iya sayang, mama tau…” ujarku seraya membelai kepalanya dengan perlahan. “Titipkan salam mama pada Tuhan, sampaikan rasa terima kasih mama kepada –Nya karena sudah menitipkan permata seindah dirimu ke dalam kehidupan mama…”
“Tuhan menyayangi mama…” bisiknya perlahan. Aku memeluk tubuh mungilnya erat-erat. Mencoba kembali meraih sisi logisku.
Tuhan… terima kasih karena anugrah terbesar yang telah Kau berikan pada diriku yang lemah ini… terima kasih…
Aku tau, ia sudah bahagia bersamamu. Ia sudah terbebas dari perihnya kanker yang menggerogoti tubuh kecilnya, dan dia sudah bisa melihat surgamu, terima kasih…
Aku terus memeluk putri kecilku. Menghirup aromanya yang lembut sebelum akhirnya aku merasakan kehampaan dalam diriku. “Mama menyayangimu Nak…” bisikku sebelum semuanya menghilang.
***
“Elena… sst…. Tenanglah,” aku masih memejamkan mataku ketika sepasang tangan itu memelukku dalam kegelapan malam. Tubuhku menggigil karena tangis yang begitu menyesakan dada.
“Putriku…” isakku parau. “Dia sudah bisa melihat surga,” tambahku. Sosok di hadapanku mendekapku semakin erat, menawarkan kehangatan di dadanya, memberikan ketenangan yang susah payah ia pertahankan.
“Iya sayang… aku tau, dia juga sudah mengatakannya padaku,” ujar sosok itu. Aku tersenyum di dadanya. Mencoba menenangkan gemuruh hatiku, meyakinkan diriku bahwa ia sudah bahagia di sana. Bintang kecilku… putri terkasihku… mama mencintaimu nak…

Senin, 14 Januari 2013

Bad Memories

"Ya aku yang membakarnya," ujarku pada pria paruh baya yang duduk di balik meja besar berwarna coklat itu. Seluruh ruangan mendadak hening. "Dan aku tidak membutuhkan pengacara. Mungkin aku lebih baik tinggal di penjara dari pada di dalam rumah yang menjijikan itu." tambahku. Lagi-lagi semua orang tampak tercekat mendengar perkataanku. 

"Apa yang mendasarimu membakarnya?" tanya pria itu lagi. aku mengernyit. 

"Kebencian, dendam mungkin, atau kemarahan..." aku terdiam sejenak. "Atau mungkin mencari kepuasan," ujarku dengan senyuman manis yang anehnya membuat orang-orang di sampingku bergidik ketakutan. aku mendesah jijik pada mereka. 

Betapa munafiknya, betapa menyedihkannya hidup mereka!

"Lalu apa kini kau sudah mendapatkan kepuasan itu?" tanya pria itu lagi. aku memutar bola mataku kearahnya. 

"Sulit dijelaskan," bisikku sungguh-sungguh. "Tapi ya, rasanya aku cukup puas dengan semua itu." Aku tersenyum tipis. "Melihat rumah besar itu akhirnya hangus tampak begitu menyenangkan!"

"Tapi kau memiliki banyak kenangan di rumah itu," aku tidak yakin apakah wanita itu sungguh-sungguh mengucapkan pertanyaannya, karena sesaat kemudian ia tampak gugup seakan tidak sengaja melontarkan apa yang tengah ia pikirkan. 

Lagi-lagi aku tersenyum. "Ah nona, anda tidak tau bagaimana bahagianya dapat memusnahkan seluruh kenangan burukmu. Membakarnya dengan tegas. Melihatnya hangus di balik debu itu."

"Bagaimana dengan keluargamu?" tanyanya lagi. Aku mendelik. 

"Apa aku belum mengatakan jika keluargaku adalah bagian dari kenangan burukku?" 







My little Girl


"Ayo menari!" teriakku pada bocah kecil dihadapanku itu. "CEPAT!" bentakku lagi. Namun lagi-lagi ia hanya terdiam. Aku mendesah kesal, apa dia tuli???!!!!

Bruk!
aku membanting buku-bukuku ke lantai. berharap bisa mendapatkan fokusnya. Namun lagi-lagi bocah itu hanya terdiam. Terduduk di depan lemari kusam dengan wajah tertunduk. Kakinya tertekuk kebelakang dengan posisi yang jelas akan membuatmu keram jika terus seperti itu. 

"Bangun atau aku akan memukulmu lagi!" aku mengangkat tongkat panjang di tangan kiriku. Mencoba menakuti-nakutinya. Mencoba sekali lagi mendapatkan perhatiannya. 

Tapi bocah itu hanya terdiam. Begitu angkuh dengan kebisuannya. Dasar bodoh! ia pikir siapa yang bisa menghentikan diriku?! Bocah Tolol!!

BUG!
aku memukulkan tongkat panjangku ke bahunya, menciptakan guratan merah yang lainnya di tangan kirinya. Aku tersenyum kejam, mulai merasa puas dengan apa yang ku lakukan. 


Lihatkan, sudah ku katakan tubuh bocah ini akan lebih terlihat indah dengan seluruh goresan merah, tanda dari tongkat panjangku. 

"Cepat menari!!!!" teriakku tidak sabar. Tapi entah mengapa ia masih terus saja terdiam, tidakkah ia sadar jika itu hanya akan memancing kemarahanku lebih besar lagi??!
Aku melemparkan sebuah bantalan kearahnya. Membenturkan kepalanya dengan keras ke pintu lemari. 

"CEPAT MENARI BOCAH BODOH!!!!!!" teriakku membabi buta. Dengan marah ku guncang-guncangkan tubuhnya yang hanya berbalut kulit. Ia benar-benar bocah yang keras kepala. Ia bahkan tidak peduli dengan kemarahanku yang sudah sampai di puncak kepalaku. Ia masih terus terdiam, Terdiam dan terdiam. 
Kaku tak bergerak. bahkan ia bisa menghentikan detak jantungnya. 

Oh... mungkin bukan dia yang menghentikannya. Bukan... bukan dia... tapi aku... 


DEAD AND GONE!


Aku lelah,
ku pikir kau bisa melihatnya dengan jelas di wajahku.

Aku lelah menjadi diriku, aku muak pada setiap detil tentang hidupku. Aku muak!!!
Tidak bisakah Tuhan mengubah lembaran hidupku? Atau aku harus menelusuri jalan terjal itu lagi?

Aku benar-benar lelah, aku lelah terhadap diriku yang terus ketakutan pada hal kecil yang tak kasat mata. Aku lelah menjadi seseorang yang selalu khawatir akan masa depanku. Aku lelah, aku benar-benar lelah.

Tidak bisakah kalian hanya membiarkanku mati?
Aku hanya ingin pergi.
Aku benar-benar lelah...

Ah... dongeng... dongeng... mengapa kisah itu dibacakan oleh para ibu kepada anak-anaknya??!!! Tidak tahukah mereka itu hanya menyisakan mimpi yang tak tersentuh!!

Mimpi... ah iya, rasanya aku pernah mendengar kata itu. Namun otakku sudah lupa dengan definisi dan fungsinya. Hingga rasanya begitu aneh ketika aku melihat bocah itu tersenyum dengan mata berbinar ketika menceritakan mimpinya.

Apakah semua orang selalu berbinar ketika menceritakan mimpi mereka??

Terkadang aku ingin menyerah atas diriku sendiri, merasa tidak kuasa dengan emosi aneh dalam diri itu. Bagai dua jiwa yang tak kasat mata, bagai dua sosok yang mengisi setiap relung tubuh itu. Menggoreskan kisah, menebar tawa, dan menancapkan luka.

sialnya, aku tidak bisa menghentikannya.
Sama sekali tidak bisa.... kecuali mungkin... hingga saatnya aku tertidur dan mati....



Minggu, 13 Januari 2013

Hey You!



Hai kau…
Hari ini aku merombak kamarku, membuka barang-barang masa laluku. Klise memang, namun aku merasa seperti membuka lembaran masa laluku.
Masa lalu kita…
Saat itu, tiga atau empat tahun yang lalu, aku masih menjadi seorang gadis yang gemar mengutarakan isi hatiku pada sebuah buku berwarna.
Jangan tertawa!
Oh… ayolah, semua gadis seumuranku juga melakukan hal yang sama…
Kebanyakan hal yang ku tulis membuatku malu dan menyesali kelakuanku saat itu. tapi sisi yang lainnya membuatku tidak bisa berhenti tersenyum. semua kisah remaja yang tertulis itu menunjukan betapa manisnya cinta pertamaku, betapa kau menyayangiku, betapa indahnya kisah kita…
Ya ya ya… aku tau, itu memang hanya ada di halaman-halaman pertama buku berwarnaku. Karena halaman-halaman selanjutnya dipenuhi dengan intrik dari pada tawa.
Tapi seperti yang selalu ku katakan, tidak ada yang tau tentang masa depan. begitu pula tentang dirimu, diriku dan kita…
Buku berwarna itu adalah benda mati. Tapi ia menyimpan begitu banyak kisah, namun hanya memiliki satu inti, yaitu kenyataan betapa aku sangat menyayangimu.
Aku tidak akan membuang buku berwarna itu, meski perih ketika akhirnya aku merindukan masa lalu itu. tapi aku akan menyimpannya, hingga tiba saatnya nanti aku hanya ingin kau tau. Bahwa hanya namamu lah yang tertulis di buku berwarnaku..
Ya, buku diariku…
Terima kasih atas kenangan indah yang mengurai tangis itu. Aku bahagia atas kebahagiaanmu, meskipun mungkin hanya tangis yang bisa ku tunjukan di hari pernikahan kalian kelak…

Penuh kasih,
Adikmu. 

Rabu, 09 Januari 2013

Never Gettin' Back Together



“Hai,” aku membeku mendengar suara itu, hatiku mencelos mengingat pemilik suara tenang yang begitu tegas dan dengan jelas menunjukan sosok wibawanya yang luar biasa tampan. Tanganku yang terulur pada pintu kaca di hadapanku membeku tak bergerak, bagai adegan slow motion dalam film aksi. Aku ingin membalas sapaannya, memutar tubuhku dan tersenyum manis padanya, mengucapkan kata ‘hai’ yang sama dengan nada santai dan tenang, seakan aku baik baik saja, dan sama sekali tidak terluka. Namun nyatanya, aku terlalu pengecut untuk sekedar menoleh kepada sosok jangkung di belakangku. 
“Kau mau pergi?” tanyanya ketika aku hanya terdiam di depan pintu kaca. Aku tidak bisa menjawab, bukan tidak ingin, namun tidak mampu. Lidahku kelu bagai es krim yang beku, yang sekali saja ku gerakan maka es krim itu akan patah menjadi dua.
“Di luar hujan masih terlalu deras, kalau kau mau pulang setidaknya tunggu lah hujan mereda,” usulnya. Begitu perhatian, begitu baik, begitu mempesona. Aku hampir saja berbalik dan menghambur ke pelukannya. Namun aku sudah meneguhkan hatiku, aku tidak akan pernah berbalik padanya. Tidak akan pernah. Dia pikir aku domba yang bodoh, yang dengan mudah akan kembali jatuh ke pelukannya??!
Sialnya, bagian lain dalam tubuhku memang menginginkan hal itu. Aku merindukannya. Aku mencintainya, bahkan meskipun akhirnya hanya luka yang ku dapatkan dari rasa cinta ini. Tapi demi Tuhan, aku memang sangat mencintainya. Aku mencintainya bahkan ketika mataku terpejam.
Tapi itu hanya kisah lama. Kisahku, dia dan hujan yang membeku.
“Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi,” katanya seraya berjalan kesampingku. Aku terdiam. Aku juga berpikiran yang sama. Hingga rasanya aku begitu terkejut ketika melihat sosok tampannya berbalut tuksedo hitam di pesta sahabatku ini. “Hm, sudah lima tahun,” desahnya seraya menatap hujan dari balik pintu kaca di hadapan kami.
Ya, sudah lima tahun, dan tidak ada yang berubah. Rasa cintaku, rasa sakitku….
“Aku sangat merindukanmu,” suaranya berupa bisikan, namun mampu membuat tubuhku hancur dalam sekali kedipan. “Aku harap kita bisa mengulang lagi semua kisah kita,” tambahnya pelan. Aku ingin memakinya, mengatakan padanya bahwa itu adalah mimpi terbesar dalam hidupku. Namun nyatanya aku hanya terdiam. 
“Maafkan aku, aku mencintaimu,” bisiknya. Aku sudah tidak tahan dengan semua lelucon ini. Aku juga mencintainya, lebih dari apapun.
“Elena, Alvin!” panggilan itu membekukan tubuhku. Kami menoleh bersamaan. Kemudian seorang gadis cantik berjalan kearah kami. Senyumannya begitu indah, menunjukan kebahagiaannya di hari pernikahannya. Aku tersenyum dan sekali lagi mengucapkan selamat untuknya. Ia menggangguk dan berterima kasih.
“Alvin, mama dan papa ingin bertemu denganmu sebelum kita berangkat bulan madu,” kata sahabatku kepada pemuda itu. aku tersenyum dan mengangguk ketika gadis itu memandangku. Kemudian menarik pria bertuksedo hitam itu menjauh.
Aku tersenyum dalam kesunyian hatiku, menangis dalam diamku. “I love you too Alvin, but we are never ever getting back together,” bisikku sebelum berlalu menerjang hujan.

Sabtu, 29 Desember 2012

PERIH


Kau tidak pernah ta bagaimana perihnya menjadi yang terbuang. Menjadi seorang yang benar-benar tidak berguna dalam kehidupan ini.
Kau tidak pernah tau.
Kau tidak pernah merasakan bagaimana pahitnya air mata itu. kau tidak pernah tau betapa sakitnya dirimu ketika melihat air mata itu mengalir penuh kekecewaan pada dirimu.
Kau tidak pernah merasakan.
Aku hanya ingin sedikit menoleh kebelakang. Mengatakan bahwa akupun lelah, aku lelah berharap. Aku bukan seperti mereka yang bisa menggapai seluruh cita dan cinta mereka dengan mudah. Aku hanya gadis biasa yang kurang beruntung dalam hidup ini.
Aku hanya gadis biasa…
Tapi aku menyayangi kalian,
Aku sangat menyayangi kalian. Aku juga ingin membuat kalian bangga, membuat kalian tersenyum akan keberhasilanku. Klise memang, tapi itu mimpiku.
Tapi toh aku hanya bisa bermimpi.
Aku minta maaf, untuk seluruh air mata dan tetesan keringat itu. aku minta maaf, karena tidak bisa mengganti semua waktu yang terbuang itu.
Tapi kalian harus tau, aku menyayangi kalian, juga.
Hanya mungkin aku terlalu naïf untuk menunjukannya.  Bahkan hingga kini akhirnya aku pergi meninggalkan kalian.

  
Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah

Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu

Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan

Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati


(CINTA SEJATI ost. habibie & ainun -BCL)

Jumat, 21 Desember 2012

Yang Terbaik



“Kau puas?!” teriakan itu begitu mengejutkanku. “Gara-gara kau dia memutuskanku!” amuknya keras. Aku terdiam di tempat, bingung harus berkata apa. “Dasar sialan!!” maki gadis itu frustasi. “Kau tau sendiri aku sudah mengincarnya sejak lama. Tapi kemudian kau datang entah dari mana dan mengacaukan semuanya!”
Mungkin jika aku bisa menangis, aku sudah menangis dengan keras. Tapi tubuhku terlalu kaku. Masih teramat syok karena teriakannya.
Aku ingin meminta maaf, -meskipun aku masih ragu, apakah itu benar-benar kesalahanku?
Aku ingin meminta maaf, menjelaskan padanya, jika aku-pun tidak pernah berharap untuk diciptakan. Aku tidak ingin menghancurkan harinya, mengecewakannya. Tapi apa daya, ini adalah jalan Tuhan untukku, untuknya, untuk kami.
“Elena ada apa?” Tanya ibu dari gadis itu. aku membeku, bersiap menerima makian berikutnya.
“Aku kesal ma. Nathan memutuskanku!” isak Elena sedih penuh emosi. Aku menunduk dalam.
“Sudahlah…” bisik ibunya menenangkan seraya melirik diriku untuk sesaat.
“Aku sudah tidak tahan! Aku akan melakukan facial untuk menghilangkan jerawat sialan ini!” teriaknya sambil menunjuk tepat pada diriku. 
Aku mengejang. Mungkin inilah akhirnya. Inilah yang terbaik untukku, untuknya dan untuk kami…

Tik-Tok



Tok tok tok.
Ah itu pasti Nathan, Emily, Jose, atau siapapun yang tidak mempercayaiku. Aku kesal dan tidak ingin bertemu dengan mereka. mereka secara terang-terangan meragukan kewarasanku ketika aku berkata, aku melihat wanita yang mati tertabrak itu semalam. Aku tau itu hantu, tapi sialnya teman-teman ‘kota’ ku tidak percaya.
Peduli setan dengan mereka!
Tok tok tok.
Ketukan itu kembali terdengar. Aku membenamka wajahku lebih dalam lagi ke bantal. Malas mendengarnya. Mereka mungkin ingin meminta maaf, tapi aku tau mereka akan tetap tidak mempercayaiku.
Tok tok tok.
Kini suara itu melembut. Aku mulai merasa aneh. Kemudian semilir angin menerpa tubuhku. Aku langsung mengangkat wajahku, dan melihat kipas angin gantung di kamarku menyala. Ah… akhirnya mati lampu itu selesai juga…
Tok tok tok.
Aku membeku. Suaranya bukan dari pintu kamarku. Itu adalah bisikan seseorang. Sialnya, suara itu terdengar begitu jelas, bahkan terlalu jelas, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya ketika ia berbisik di telinga kiriku. “Jangan buka pintunya,” bisiknya dingin dengan senyuman keji yang menyeramkan. Aku mengejang tak bisa bergerak.
Brak brak brak!
“Elena buka pintunya!” itu suara Nathan. Aku melirik kearah pintu dengan susah payah. Itu sahabatku. Mereka tidak akan mengetuk terlalu lembut. Aku tau itu.
Tok tok tok.
Bisikan itu terdengar lagi. Berbarengan dengan gebrakan teman-temanku di pintu. Namun aku hanya bisa berteriak ketika akhirnya kipas angin gantung itu jatuh tepat diatas tubuhku.

ITU PUTRIKU



Itu putriku. Pelita kecilku, hadiah terindah dalam kehidupan kecilku. Kau tidak perlu menanyakan sebesar apa cintaku padanya. Karena kau tau, tidak ada yang bisa mengukurnya, begitu pula aku sendiri.
Itu putriku. Gadis mungil bermata indah seperti ayahnya. Kami menantinya selama bertahun-tahun, jadi kau tidak perlu meragukan kerinduan kami akan kehadiran sosok mungilnya.
Itu putriku. Ia penyuka benda langit bernama bintang. Awalnya aku tidak sadar jika coretan yang ia buat ketika mulai bisa memegang pensil adalah cikal bakal sketsa bintang yang begitu indah. Tapi kemudian waktu menunjukannya padaku. Ketika teman-temannya menggambar gunung dengan sekotak sawah dan jalanan panjang, ia tetap bersikukuh dengan bintang-bintang cantiknya.
Itu putriku. Bintang hatiku. namun ia ingin menjadi bintang di langit. Untuk pertama kalinya aku tidak menuruti permintaannya. Ia sudah bersinar, ia tidak perlu menjadi bintang di langit itu.
Namun ketika malam menjemput, hembusan angin membisikan sebuah kisah padaku. Kisah putri dan bintang, bulan dan bintang, atau bahkan hanya bintang itu saja. Putriku semakin mengaguminya, dan aku tidak kuasa menahannya ketika binar bahagia terpancar dari matanya setiap kali menyebutkan nama benda berkilauan itu. Aku hanya mengangguk dan menyembunyikan air mataku darinya. Menjanjikannya bahwa ia akan segera menjadi bintang di langit. Merelakannya…
Tapi aku tidak pernah memperkirakan jika perihnya sedalam ini. Aku tidak pernah tau, karena memang tidak ingin tau.
“Elena bersabarlah…” bisik Dr. Hana, dokter spesialis kanker putriku.

Itu putriku. Bintang terindah di langit yang kelam. Berkilauan bagai berlian, bersinar bagai pelita.
“Tunggulah nak, mama akan segera datang menemuimu. Teruslah bersinar, berikan petunjuk arah untuk mama. Mama menyayangimu nak.”






Kamis, 20 Desember 2012

BINTANG



Aku menyukai bintang. Sejak pertama kali aku bisa memegang pensil dengan kaku, hanya bentuk lima sudut itulah yang  ingin aku ciptakan. Walaupun tentu saja hasilnya malah seperti coretan tak beraturan.
Hingga aku duduk di sekolah dasar, aku mulai mempelajari cara membuatnya. Selalu berantakan, selalu tak beraturan, dan selalu tidak nampak seperti bintang. Ketika anak-anak lain menggambar pegunungan lengkap dengan sekotak sawah dan jalanan panjang, aku masih sibuk dengan bintangku yang tidak beraturan.
Aku masih menyukai bintang. Bahkan dengan sengaja mama membelikanku segala sesuatu berbentuk bintang. Dari penghapus, baju, bahkan hingga sprei bermotif bintang. Mama pandai bercerita, ia banyak mengisahkan tentang putri dan bintang, atau bulan dan bintang, atau meski hanya kisah bintang saja.
Aku semakin mengaguminya.
“Aku ingin menjadi bintang,” mama tersenyum.
“Kau adalah bintang hati mama,” katanya dengan lembut.
“Tapi aku ingin menjadi bintang di langit,” rengekku. Mama mendekapku.
“Iya sayang, suatu hari nanti kita semua akan menjadi bintang,” bisiknya masih dengan suara yang sangat lembut. Aku tersenyum puas.
“Aku ingin menjadi bintang secepatnya,” bisikku sebelum terlelap.

***
Aku menyipitkan mataku ketika cahaya kemilau itu memenuhi pandanganku. “Hai bintang,” sapa seseorang. Aku membuka mataku perlahan. Dan ternyata itu adalah rembulan.
“Aku seorang bintang?!” pekikku tak percaya. Benda bulat itu mengangguk. Aku berteriak riang. “Hore!!!! Aku menjadi bintang!!!!!” aku benar-benar bahagia. Akhrinya mimpiku menjadi nyata.
Namun kemudian tarian gembiraku terhenti. Mataku menyipit ketika mendengar suara tangisan yang begitu akrab ditelingaku. Aku membulatkan mataku pada benda berbentuk lingkaran berwarna aneh jauh dariku. “Itu bumi,” bisik bulan seakan bisa menjawab pertanyaanku. “Dan yang menangis itu adalah ibumu,”
“Mengapa ia menangis?” tanyaku mulai ketakutan.
“Karena ia kehilanganmu,” bisiknya. Aku terdiam lama. “Tapi kau tidak perlu bersedih, setiap manusia akan menjadi bintang ketika kematian menjemput. Sekarang kau hanya perlu bersinar terang untuk menyinari hati ibumu, dan seluruh orang yang menyayangimu. Katakan pada mereka jika kau bahagia disini, dan menunggu mereka dengan sabar hingga waktu mereka datang,”

GAUN MERAH






“Kau akan menikah?” suaraku terdengar begitu parau. Namun tidak ada jawaban dari sebrang sana. Aku tau ia masih disana, aku bisa mendengar desahan nafasnya yang lelah. Air mataku mulai menetes. “Mengapa kau tidak member tahuku?” tudingku perih. Masih belum ada jawaban.
Semenit… lima menit… hingga sepuluh menit kemudian…
“Aku takut kau akan terluka.”
“Lucu. Kalau takut membuatku terluka mengapa kau tetap akan menikahinya?” ia kembali terdiam, namun tidak terlalu lama.
“Karena aku mencintainya,” bisiknya. Aku terdiam. Air mataku tidak berhenti mengalir, tapi hatiku mulai mengeras penuh kebencian.
“Baiklah, kalau begitu aku akan datang,”
“Tidak.” potongnya cepat, bahkan tampak terlalu cepat. “Dress codenya adalah merah, kau tidak menyukai warna itu. Kau tidak memiliki satu gaunpun yang berwarna merah. Dan kau tidak akan sempat membelinya,” aku terdiam lagi. Ia benar. Aku membenci warna merah.
“Baiklah,” hanya itu yang kuucapkan kemudian menutup teleponku.

***
Aku tampaknya sedikit keliru, pesta pernikahan itu begitu meriah, ramai oleh tamu berbaju merah dan berjas hitam. Aku tersenyum, sebuah pilihan tema pernikahan yang sangat berani. Kemudian seseorang mulai berbisik-bisik sambil mencuri pandang kearahku. Dan bisikan-bisikan itu meluas, hingga akhirnya sampai ketelinga sang mempelai. Karena sedetik kemudian ia berdiri disana, beberapa meter di depanku dengan tuksedo hitamnya yang begitu indah.
“Elena…” desisnya. Aku tersenyum manis padanya. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya gugup dan penuh ketakutan. Lagi-lagi aku tersenyum.
“Menghadiri pernikahanmu,” bisikku. “Lihat aku sudah memakai gaun merah,” ia menggeleng.
“Ini bukan gaun merah,” katanya seraya meraba bagian lengan gaun itu yang masih berwarna putih. Aku mendesah, ternyata masih ada yang terlewat. Kemudian aku mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku.
“Ah, iya aku tidak menyadari bagian itu,” bisikku dan mulai menyayat kulit dibagian bawah gaunku. Matanya terbelalak.
“Apa yang kau lakukan?!” bentaknya keras.
“Menghadiri pernikahanmu dengan gaun merah,” bisikku pelan, sebelum ambruk karena kehabisan darah. 


HALLOWEEN




Aku benci diriku sendiri. Sangat teramat benci. Aku tidak ingin dilahirkan di keluarga ini. Well, aku tau itu mungkin akan menjadi hal terkonyol yang pernah ku katakan. Keluargaku, keluarga terhormat –setidaknya itulah yang selalu orang-orang katakan-. Aku tidak mengingkarinya. Kedua orang tuaku memang sosok-sosok terpilih dari kelompoknya. Tapi sungguh, aku lelah menjadi diriku.
Mungkin kau akan tertawa mendengarnya. Tapi aku tidak suka dengan cara orang memandang suka pada diriku, berdecak kagum ketika melihatku, bahkan walaupun aku baru saja terbangun dari tidurku. Aku tidak suka dengan cara mereka memperlakukanku, memanjakanku dan menyayangiku.
Aku ingin mandiri, aku ingin bebas seperti burung. Aku ingin ditakuti, bukan dicintai. Aku ingin mendominasi, bukan didominasi. Aku ingin…. Dan aku ingin… selalu ada keinginan dalam benakku. Namun tidak satu pun dari hal itu yang menjadi nyata.
Tapi hari ini berbeda, hari ini tanggal 31 oktober, dan aku ingin menikmatinya. Menikmati hari halloweenku dengan kostum unik yang bisa mengubah jati diriku untuk sesaat. Menyembunyikan sosok asliku dalam sebuah topeng menyeramkan yang akan mereka takuti.
Aku tau ini hanya gurauan, tapi Halloween kali ini aku akan mencoba menunjukan pada semua orang, jika aku tidak seperti yang –selalu- mereka pikirkan. Aku bisa menjadi sosok yang jahat, aku bisa menjadi sosok yang menyeramkan.
Tapi kemudian aku menyerah, senyuman orang-orang yang melihatku dengan kostum –yang kupikir menyeramkan- malah semakin lebar. mereka memujiku, mengelus tubuhku dengan lembut, bedecak kagum penuh penghormatan.
Elena sahabatku, tersenyum manis kepadaku ketika teman-temannya memuji diriku. “Mereka benar Leona, kau adalah kucing yang manis.”

Rabu, 19 Desember 2012

Call Me Maybe


Aku tidak tau sejak kapan,
tapi rasanya aku sudah menyukainya begitu lama, sejak pertama kali ia berjalan di hadapanku.
Ia mungkin tidak melihatku, tapi aku jelas tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Ia benar-benar keren, benar-benar pemuda masa kini yang dingin namun menggoda.

Aku masih menatapnya, sesekali mengedip centil padanya. Tuhan... ia sangat indah....
Aku ingin menghentikan langkahnya, menyapanya, tersenyum padanya, dan mungkin ia bisa membalas senyumanku.. kemudian kami akan berkencan. Ah... mimpi yang menakjubkan...

Tapi aku bukan seorang yang cantik, aku tau itu. Dan aku tidak bisa memaksakan diri untuk itu. Aku pernah melihat adegan di film-film, mungkin aku bisa menirunya. memberikan nomer handphoneku pada pemuda itu, dan memintanya meneleponku dengan tatapan genit.
Ya, itu adalah ide yang cemerlang.

Kemudian aku melesat ke kamarku, mengambil kartu nama dan kembali berlari ke ruang tamu, dimana ia sedang duduk bersama sahabatku, Elena.

Tapi kemudian ia terpekik melihatku, menjerit jijik sambil mengibaskan tangannya. Elena menatapku sedih.
"Hush Leona, pergilah. Mathew alergi kucing." katanya pelan. aku tertunduk lesu. kemudian melepaskan gigitanku pada kartu nama itu. Gagal sudah! aku bahkan belum sempat mengedip genit sambil mengatakan call me maybe kepadanya...



Rabu, 05 Desember 2012

For a Second...




Masa itu adalah masa keemasan acara Hitam Putih di layar kaca tvku. Aku tidak pernah melewatkannya barang seharipun. Aku menyukainya, walau terkadang tidak memahami apa yang mereka katakan. Namun jika seorang anak 14 tahun diundang keacara itu, tentu saja mereka memiliki alasan yang kuat. Karena aku tau mereka tidak hanya mengundang orang-orang yang tidak berperan penting, mereka tidak pernah.
Aku tersenyum manis sesuai instruksi, kemudian acara pun dimulai. Suasana studio yang cukup ramai membuatku sedikit kikuk. Apalagi aku tau wajahku akan segera tersiar keseluruh penjuru Indonesia.
“Ananda Lousiana, atau Anna…” pembawa acara berkepala gundul itu memulainya. “Jadi kamu yang menulis surat untuk presiden itu?” tanyanya. Aku mengangguk. Ah iya, surat presiden rupanya yang membuatku berada disini. Untuk sesaat aku memang melupakan hal itu. Well, aku memang gadis pelupa, gadis lemah –bukan hanya dalam ingatan-, tapi dalam setiap hal di kehidupanku.
Aku tidak ingat sejak kapan mama mulai melarangku main ku luar rumah, namun yang ku ingat adalah seluruh masa kecilku hanya berpusat dilingkungan rumahku sendiri. Jangan salah paham, mama dan papa sudah menyiapkan berbagai mainan yang terbaru untukku, mungkin mereka harap putri mereka akan tetap bahagia meski tidak memiliki teman. Padahal tidak semudah itu kan??!
Ketika umurku 5 atau 6 tahun, sepertinya aku sempat memakai seragam SD yang sama dengan yang kulihat di tv-tv. Aku tidak terlalu ingat, namun kemudian yang kutemukan saat ini adalah papan tulis pribadi, buku-buku pelajaran yang terbaru, segala tekhnologi yang mutakhir, dengan guru-guru terpintar di dalam bidang mereka. Ya, ya… aku memang mengikuti home schooling tanpa alasan yang ku mengerti. Tapi aku menikmatinya, ya mau tidak mau.
Cahaya lampu studio yang menyilaukan terkadang membuatku menyipitkan mata. Tapi aku bersyukur karena cahaya itu juga, aku tidak terlalu bisa melihat wajah-wajah yang duduk di kursi penonton.
“Iya, aku sendiri yang menulisnya,” jawabku pelan. Pria berpakaian serba hitam itu menganggung-ngangguk. Kemudian kembali menatapku dengan tatapan tajamnya. Sebisa mungkin aku membalas tatapannya. Tapi seperti biasa orang-orang yang berhadapan denganku pasti akan menampakan tatapan iba yang menjengkelkan. Bukan tanpa alasan mereka menatapku seperti itu. Well, tubuhku memang masuk kedalam kategori sangat mungil untuk gadis 14 tahun pada umumnya. Namun aku merasa mama dan papa memang sengaja membuatku tetap kecil.
“Mengapa kamu menulisnya?” tanyanya lagi. Aku mengerutkan keningku, dan berpikir. Mengapa? Bukankah kita semua memiliki alasan yang sama? Atau tidak?!
Hidupku tidak sebebas itu. jika boleh di kata, mungkin hidupku seperti burung di dalam sangkar emas. Kau tidak akan menemukan mainan terbaru yang paling mutakhir di Indonesia kecuali di rumahku. Kau tidak akan menemukan guru-guru dengan nilai sempurna dalam bidang mereka kecuali di jam belajarku. Kau tidak akan menemukan apa yang ku miliki di lingkunganmu, seperti aku tidak memiliki apa yang kau miliki.
Itu tidak sepenuhnya benar. Mama selalu memberikan apapun yang ku inginkan. Atau membuatku merasa kurang lebih seperti itu. Hanya satu hal yang benar-benar tidak bisa ku sentuh. Ya kebebasanku sendiri.
Aku terkurung. Bukankah sudah ku katakan?? Ya, aku memiliki segalanya, tapi aku terkurung. Aku tidak bisa bermain layaknya anak-anak yang lain. Aku terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak ku inginkan. Aku memantau keadaan luar rumahku dengan jaringan internet dan tv. Kemudian aku mulai ketergantungan dengan layar-layar datar itu. dan disana juga lah aku berkenalan dengan segala macam kekerasan yang terjadi di negaraku. Aku akan menangis setiap melihat tayangan berita yang menunjukan sisi anarkis orang-orang di luar sana. Aku akan menangis ketika melihat berita tentang kekerasan pada anak-anak. Bahkan kecelakaan-kecelakaan menyeramkan itu…
Semua itu menjadi alasan untukku mulai menulis.
Miss. Clara adalah guru bahasa indonesiaku. Ia begitu cantik dengan rambut hitam pekat yang selalu ia sanggul. Matanya berwarna coklat muda, dengan kaca mata berbingkai yang indah. Ia adalah guru yang paling ku sukai, karena mungkin dialah yang termuda atau dialah yang mengajariku untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku. Salah satunya dengan surat ini, yang pada akhirnya ku putuskan untuk mengirimkannya pada pak presiden.
Ketika kecil aku pernah mempertanyakan tentang rembulan. Bagaimana mungkin kita bisa melihat bulan yang sama di setiap penjuru kota. Maksudku, tidakkah itu berarti bulan selalu mengikuti kita?
Well, itu hal terkonyol yang pernah aku pertanyakan. Tapi toh ketika akhirnya aku mempelajari tentang tata surya, pendapatku tentang bulan mengikuti kita tidak pernah berubah. Aku tau itu salah, namun terkadang menyimpan kesalahan bukanlah hal yang buruk di masa ini. Masa yang selalu di katakan masa edan oleh supir papaku.
“Aku pikir kita semua memiliki alasan yang sama,” jawabku sambil mengangkat bahu. Menunjukan bahwa aku tidak terlalu peduli, atau mungkin ragu. “Semua kejadian yang ku lihat di tv itu, menunjukan sisi yang menyedihkan di daratan yang mereka bilang adalah tanah air kita,” tambahku. Semuanya masih terdiam. Tidak ada satu orang pun yang bertepuk tangan. Atau memang belum saatnya?
Tapi belakangan aku mulai melihat sesuatu dari sudut pandang yang aneh. Aku tidak melihat pelangi sebagaimana orang-orang melihatnya. Aku mempelajari pelangi itu, bukan hanya mengaguminya. Dan semakin otakku berkembang, semakin jelas pula sisi intuitif dalam diriku. Terlebih aku selalu menilai seseorang atau sesuatu dengan caraku sendiri. Aku bukan hanya mengenal orang itu, tetapi juga mempelajari orang.
Membaca karakter bukanlah keahlianku, namun aku lebih senang melihat seseorang dalam berbagai sudut. Kau pasti tidak akan mengerti. Tapi yah, begitulah cara kerja otakku. Semakin dewasa, aku semakin jelas melihat sisi munafik dari orang-orang di sekitarku. Well, walaupun aku tidak terlalu yakin, apakah itu yang di sebut dengan saling menghargai atau toleransi, tetapi bagiku, itu adalah kemunafikan yang selalu di tunjukan setiap orang.
Coba saja kau menggambar sesuatu yang jelek, atau tiru gambarku –yang juga jelek-. Kemudian kita akan menunjukan kepada orang-orang yang sama. Aku yakin, orang-orang yang melihat itu akan mencemooh gambarmu dan memuji gambarku. Lucu bukan, tapi ya begtulah cara kerja otak-otak penjilat. Kalau bukan karena keluargaku yang terpandang dan kaya raya, mereka juga akan mencemooh gambarku, jadi kau tidak usah khawatir. gambar kita memang jelek, hanya saja orang-orang bodoh itu yang tidak bisa menghilangkan kemunafikan mereka.
Kembali lagi ke keheningan itu. Aku merasa tubuhku menciut dibawah tatapan mereka. Ah, tapi aku tidak peduli dengan tatapan mengintimidasi mereka. Toh aku dan mereka sama-sama manusia. Tidak ada perbedaan bukan?
Lucu memang, tapi hanya orang bodoh yang tidak melihat perbedaan antara diriku dengan orang-orang pada umumnya. Sudah ku katakan tubuhku terlampai kecil jika di katakan berumur 14 tahun. Sepatuku masih berukuran sepatu anak SD. Dengan hanya tulang berbalut kulit. Tapi aku hidup, aku bukan zombie!
“Hm…” pria botak itu berdeham, menarik fokusku lagi. “Sejak kapan kamu tau, kalau kamu mengidap hemophilia?”
Wuuzz….
Aku pernah membaca beberapa buku dongeng. Semuanya berceriita tentang putri-putri yang cantik dan lika-liku kehidupan mereka. Semua anak selalu ingin menjadi seorang putri. Seorang putri yang cantik dan menikah dengan pangeran tampan lalu hidup bahagia selamanya. Belakangan ini aku mulai berpikir tentang beberapa hal mengenai dongeng itu. Setiap dongeng memiliki akhir yang bahagia. Dan wajarlah jika mereka menginginkan posisi putri untuk menjamin kebahagiaan mereka. Namun mengapa mereka bersedih ketika mendapatkan segala macam rintangan dalam kehidupan mereka? apakah mereka lupa jika kisah dongeng itupun diawali dengan kegetiran sang putri dalam kehidupannya?
Cinderella harus berjuang ditengah tekanan ibu dan saudara tirinya. Putri salju terpaksa tinggal dengan 7 kurcaci karena diusir oleh ibu tirinya, bahkan Belle harus menerima sosok menyeramkan sang pangeran yang tersembunyi di balik tubuh singa. Bukankah semuanya tampak begitu nyata?!? Tapi mengapa yang anak-anak itu ingat hanyalah akhir dari kisah itu? mengapa mereka tidak mengingat bahwa sebelum menikah dan hidup bahagia, para putri juga harus hidup dalam kesulitan mereka masing-masing. Mengapa?
Dan tentang hidup bahagia selamanya… well, itu adalah kebohongan besar. kebohongan yang semakin lama semakin ku benci. Kata ‘selamanya’ itu sangat ambigu. Namun itu adalah diksi yang paling tepat untuk menyembunyikan hal lain yang seharusnya tertera di sana. ah… penulis dongeng itu sepertinya lupa, jika orang-orang yang membaca karya mereka hanya menyukai akhir yang bahagia. Tanpa memikirkan hal yang harus mereka tempuh sebelum mandapat kebahagiaan itu. Dan kata ‘selamanya’ mungkin sebaiknya segera diganti sebelum semua orang menuntut Tuhan ketika akhirnya kematian menjemput dan merobek semua prosa klise tentang kebahagiaan selamanya.
Aku merasakan udara membuldak disekelilingku. Bukan karena kantong udara yang bocor dan memenuhi sisi ruangan itu. Ayolah… itu hanya lelucon konyol. Tapi karena orang-orang disekitarku menaha nafas mereka untuk sesaat. Mata mereka melebar dengan mulut –yang entah disadari atau tidak- ternganga lebar. Aku ingin tertawa melihat reaksi mereka. Aku ingin menertawakan mereka. Namun akhirnya aku malah terdiam seribu bahasa ketika melihat wanita cantik di ujung kursi penonton menangis.
Isakannya bagai ketukan palu dalam hatiku. Tidak begitu keras, namun bisa menggetarkan seluruh tubhuku. Wanita itu adalah ibuku. Wanita cantik yang memiliki berjuta prestasi membanggakan. Namun siapa yang tahu kalau pada akhirnya ia akan menangis seperti itu.
Biologi adalah salah satu bidang kesukaanku. Meskipun dengan guru yang sangat menyebalkan, namun aku menyukai pelajaran itu. Bab terakhir yang kupelajari minggu ini adalah tentang genetika. Aku membaca bab itu 4 kali, dan baru memahami beberapa kata ketika itu. Tapi aku sudah mempelajarinya. Tentang kromosom X dan kromosom Y, tentang jumlah normal dan tidak normal, dan tentang penyakit yang dibawa dan di derita akibat genetika, atau mereka sebut penyakit turunan.
Ketika akhirnya aku merasakan udara di sekelilingku mulai normal kembali, tubuhku malah membeku. Jiwaku kosong, dengan tatapan yang membaur. Aku sedang tidak ingin menangis, namun aku juga tidak ingin berbicara lebih. Aku merasa tubuhku lelah… sangat teramat lelah dengan kepura-puraan yang selama ini ku jalani.
Aku sehat, aku baik-baik saja, aku bahagia, aku bisa tersenum, aku disayangi, dan banyak lagi kata-kata klise yang indah. Namun kau tau, itu hanya kepura-puraan semata, atau itu adalah pengharapan mereka.
Mereka ingin aku sehat, aku baik-baik saja, aku yang bisa tersenyum, dan aku yang merasa di sayangi. Well… terkadang hidup dalam kepura-puraan memang indah. Tapi setidaknya kau harus sadar, jika suatu hari nanti tirai sandiwara itu akan tertutup. Dan mau tidak mau, kau akan kembali menemui kehidupan aslimu. Kau tentu tidak ingin melewati sisa hidupmu di atas panggung yang kosong bukan?
Itu yang kurasa saat ini. Terkejut ketika layar panggung sandiwara keluargaku tertutup. Ah… aku ingin bertepuk tangan. Tapi mengapa mereka hanya terdiam? Apa masih belum saatnya?
Aku masih mengingat dengan jelas obat-obatan yang kuminum selama ini. Aku tidak pernah tau apa yang salah dengan tubuhku. Namun aku selalu menurut. Hanya saja, satu yang ku pahami adalah, obat-obatan itu seakan menekan pertumbuhanku.
Aku berumur 14 tahun. Dan aku belum pernah jatuh cinta secara normal. Jika kita memiliki definisi normal yang sama. Namun yang ku lakukan selama ini hanyalah mengagumi pria-pria tampan di layar tvku. Dan tentu saja gadis-gadis itu juga. Bukan karena mereka cantik, bukan hanya karena itu, tapi karena mereka tumbuh sehat dan normal.
Aku berumur 14 tahun. Dan setiap hari aku akan melihat mama semakin murung menatapku. Seakan-akan aku adalah bom yang akan segera meledak dan… wuzzzz…. Menghilang. Aku belum pernah menstruasi seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Ya, kini ku tau, semuanya adalah skenario mama dan beberapa dokter yang sengaja menekan pertumbuhanku. Karena itu akan menjadi salah satu tombol merah untuk memulai peledakan dalam diriku sendiri.
“Anna…” suara itu kembali menarik perhatianku. Matanya melebar penuh rasa ingin tahu akan jawaban atas pertanyaannya. Aku bahkan sudah lupa tentang apa yang ia tanyakan.
“Aku…” aku kembali melirik mama. “Mengetahui jika aku mengidap hemophilia sejak sepersekian detik yang lalu, ketika anda menanyakannya padaku,” kataku datar. Dan kemudian wajah-wajah itu semakin pucat.
Ahhh… kehidupan. Mengapa masih tidak ada yang bertepuk tangan? Mengapa? Bukankah kita semua tau jika kebanyakan orang tergila-gila untuk dipuji? Mengapa tidak ada satu orang pun yang memuji diriku? Apa masih belum saatnya?
Namun aku takut, aku tidak memiliki waktu untuk menunggu tepukan tangan mereka. karena kemudian aku sadar, tangisan mama tidak akan pernah berhenti sampai akhirnya aku benar-benar menghilang.