Tampilkan postingan dengan label MY LOVE IS YOU by mba thy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY LOVE IS YOU by mba thy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

MY LOVE IS YOU -02-



#Sekarang

“Diiiiaaaaaaannnn ada bunga nih buat lo!!” teriak Dion dari bawah di pagi hari.

“Ya mas, sebentar lagi Dian turun.” Jawab Dian dari dalam kamarnya di lantai dua.

"Mana mas bunganya?" Tak sampai lima menit Dian sudah ada di depan Dion dengan wajah berseri-seri. Dion mengangkat dagunya ke sebuah tempat menunjukkan bila bunga itu ia letakkan di tempat tersebut.

"Mas dimana taro bunganya?" Dian berteriak dari arah yang dimaksudkan Dion.

"Di tempat sepatu."

"Gak da mas. Mas gak lagi bohongin Dian kan?"

"Gak."

"Terus kok gak ada?"

"Gak tau. Dimakan cemong kali." Dion menjawab asal pertanyaan Dian.

"Mas.... Mas gak lagi bohongin Dian kan??" Tanya Dian yang tiba-tiba sudah berada di depan Dion.

"Iiissshhhh kamu itu kaya hantu aja datang tiba-tiba." Dion berucap tanpa menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Dian. Sementara Dian menatap Dion dengan penuh selidik. Matanya tak pernah lepas menatap Dion.

"Apaan sih kamu Di natap aku kaya gitu." Dion yang merasa risih berusaha memalingkan wajahnya.

"Mas taro dimana bunganya?" Dian yang merasa kesal kali ini sedikit meninggikan suaranya namun kemanjaan masih dapat dirasakan di nada suaranya.

"Di tadi gw taro di tempat sepatu. Kalo sekarang gak ada mana gw tau. Dimakan cemong kali." Dion tak mau kalah dengan Dian, ia pun menaikkan nada suaranya.

"Mas kok gitu naronya sembarangan banget. Kenapa naro di rak sepatu? Lagi mana ada kucing makan bunga." Dian kali ini benar-benar sudah kehabisan kesabarannya.

"Eh terserah gw mau taro dimana. Cemong lagi kelaperan kali makanya dia makan tuh bunga," ujar Dion santai.

"Mas Dion.....!!!"

"Ini ada apa masih pagi kok udah teriak-teriakan kaya di hutan," ujar mama Ina dari dapur yang diikuti Kyle, istri Dion.

"Ini ma mas Dion ngerjain aku pagi-pagi." Jelas Dian seraya mengerucutkan bibirnya.

"Iiihhh siapa juga yang ngerjain lo, Di. Gw kan udah bilang bunganya ada di tempar sepatu." Jelas Dion yang tak mau kalah.

"Kamu nih mas seneng banget godain adenya." Kata mama Ina sambil membelai kepala Dian penuh kasih sayang.

"Yee mama terus aja belain monster kecil itu jadi dia gak dewasa-dewasa kan ma. Pantesan ampe sekarang Dian gak punya pacar, manja gini." Balas Dion yang tak mau kalah seraya menghampiri Kyle dan mencuri ciuman di pipi dan bibir Kyle.

"Ada kok... Aku... Aku... Aku punya pacar," Dian menjawab dengan ragu perkataan Dion.

"Siapa? Ivan? Adduuuhh De, lo tuh udah gede masih aja percaya ama omongan laki-laki macam gitu. Mana ada laki-laki yang serius tapi gak pernah hubungin lo sama sekali,,,,"

"Diiiooonnnn!!!!" Teriak mama Ina dan Kyle bersamaan.

Sementara wajah Dian langsung berubah yang tadinya ceria menjadi murung. Tampak berfikir akan ucapan Dion yang semuanya merupakan kebenaran. Ivannya yang tak pernah menghubunginya selama lebih dari 8 tahun. Apakah ia masih harus setia menunggunya? Apakah ia masih harus percaya dengan kata-katanya? Akankah Ivan disana masih mengingatnya? Seribu tanya tapi tak ada satupun jawaban yang bisa menenangkan hatinya.

"Ma, Dian berangkat dulu ya," pamit Dian sembari mencium tangan dan pipi mamanya.

"Gak sarapan dulu, De?" Cemas dan kekhawatiran terlihat di wajah mama Ina. Dian menggeleng lemah. Sementara di sisi lain, Dion mendapatkan pelolotan dan cubitan dari Kyle. Dion hanya bisa meringis dan mengerucutkan mulutnya.

"Setidaknya minum susu dulu ya sayang," mama Ina masih berusaha agar Dian memasukkan makanan atau minuman yang dapat membuat perut Dian kenyang. Dian akhirnya menuruti perkataan mamanya, ia meminum susu coklat kesukaannya demi menghilangkan kekhawatiran mamanya.

Setelah menenggak habis susu coklatnya, Dian mencium tangan mama Ina, Kyle dan Dion. Lalu beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga di meja makan.

*****

"Mas Dion......" Teriak Dian setelah beberapa menit keluar dari rumahnya.

"Apalagi sih tuh anak, berisik banget," keluh Dion dengan santai menanggapi teriakkan Dian tanpa bangkit dari tempat duduknya.

"Mas, kamu apain lagi adikmu?" Tanya mama Ina kesal dengan tingkah putra keduanya.

"Iiihhh mama emang aku ngapain dia?" Dion membalikkan pertanyaan mama Ina. Kylie yang berada di samping Dion mencubit lengannya. Dion hanya meringis.

"Ayo ke depan. Mama mau liat apalagi kejahilan suamimu sekarang, Ky." Mama ina mengajak Kylie untuk melihat yang terjadi pada Dian. Sebelum mengikuti mama mertuanya, Kylie menarik lengan Dion untuk ikut serta ke arah asal suara Dian.

"Ayo ikut! Gak mau ikut gak aku kasih jatah nanti malam!" Ancam Kylie yang melihat Dion enggan beranjak dari tempat duduknya. Dion yang mendengar ancaman Kylie bergegas mengikuti mama dan istri tercintanya dengan setengah hati.

"Ada apa lagi sih Di?" Tanya Dion malas dari dalam rumah.

BRUG!!!

"Iiihhh apa-apaan sih kamu Di. Malu tuh sama mba Kylie peluk-peluk sembarangan." Dion yang merasa kaget mencoba berusaha melepaskan pelukan Dian. Tapi usahanya tidak berhasil karena Dian bukannya melepaskan malah menghujani Dion dengan kecupan di kedua pipinya.

"Biarin aja, mereka juga gak protes kan," ujar Dian setelah puas menciumi Dion.

Sementara mama Ina dan Kylie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka. Tak habis pikir dengan tingkah kedua kakak beradik tersebut.

"Mas kan yang taro bunganya di mobil Dian." Yang keluar dari mulut Dian bukanlah pertanyaan melainkan pernyataan.

"Hmmm ya..." Jawab Dion berpura-pura malas.

"Hehehe... Makasih ya masku yang paling baik..." Ucap Dian seraya mencubit pipi dan hidung Dion dengan gemas. Dion meringis...

"Sakit ah de..." Kata Dion seraya melepaskan tangan Dian. "Dah sana berangkat nti kesiangan diomelin mas Dani loh." Lanjut Dion.

"Siap boss!!" Ujar Dian seraya mengangkat tangan kanannya dan menempatkannya di salah satu alisnya layaknya seorang prajurit yang memberi hormat.

"Mam, mba... Dian berangkat dulu ya..." Pamit Dian sambil berjalan kembali ke mobilnya. Mama Ina dan Kylie tersenyum melihat kebahagiaan di mata Dian.

"Eh... Mas..." Tiba-tiba Dian berhenti lalu membalikkan badannya menghadap Dion.

"Apa lagi?" Dion, Kylie dan Mama Ina bertanya bersamaan.

"Uh kalian ini kompak bener..." Ledek Dian pada ketiganya.

"Diaaannn...." Lagi ketiganya kompak berteriak ke Dian.

"Ya... Ya... Ya... Aku berangkat..." Untuk kesekian kalinya Dian berpamitan pada ketiganya. Setelah itu Dianpun mengemudikan mobilnya keluar dari perkarangan rumahnya menembus kemacetan ibukota.

******

Belum lama mobil yang dikemudikan Dian menghilang dari perkarangan rumahnya, sebuah sms masuk ke handphone.

Mas siapa yang kirim?

Gak tau.

Kartunya dikemanain?

Gak dikemana-manain. Liat aja sendiri.

Mas lagi gak ngerjain aku lagi kan??

Iiihh malas kalo itu mah. Hei kamu lagi nyetir kenapa bisa smsan?

Lampu merah mas, macet. Seriuskan mas gak ada eh sebentar ada mas tapi kok gak ada nama pengirimnya?

Meneketehe... Udah simpen hp nya, bahaya tau....

Ya... Ya... Ya.... Boss.... Thanks ya mas :*

Dian memandang bunga-bunga itu dengan penuh tanya. Dibuka kartu yang terselip di salah satu bunga perlahan.

ASAP

Hanya kata itu yang terdapat di dalam kartunya. Entah siapa yang mengirim bunga-bunga itu karena Dian sama sekali tak mempunyai bayangan pengirim bunga-bunga tersebut.

*****

"Pagi.  Bu," sapa salah satu karyawannya.

"Pagi, Lis. Boleh saya lihat schedule saya hari ini?" Dian menyapa balik karyawannya yang bernama Lisa. Lisa langsung memberikan agenda yang berisikan schedule Dian selama sehari itu.

"Lis tolong nanti ingatkan saya ya, saya takut lupa," kata Dian sambil tersenyum malu. "Baik Bu," jawab Lisa singkat. Dian pun melangkah ke kantornya.

"Oh ya Bu ada kiriman buket bunga untuk Ibu, saya letakkan di meja," ujar Lisa yang hampir saja lupa dengan buket bunga yang datang pagi ini.

"Lagi?" Tanya Dian yang sebenarnya bertanya pada dirinya sendiri.

"Maksudnya, Bu?" Lisa balik bertanya yang tak mengerti pertanyaan Dian.

"Oh bukan sama kamu, Sa. Ya udah, makasih ya." Setelah mengucapkan terimakasih Dian pun berlalu dari hadapan Lisa.

*****

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan bunga-bunga itu selalu datang ke rumah dan kantor tempat Dian bekerja. Tak kenal waktu dan tak kenal lelah sang kurir selalu mengantarkan di setiap harinya. Hingga rumahnya kini dipenuhi oleh ketiga bunga kesayangannya.

Namun lama kelamaan Dian merasa jengah dengan pengirim bunga tersebut yang sama sekali tak mencantumkan namanya. Sebenarnya Dian ingin sekali menolaknya tapi mamanya melarangnya, sayang katanya. Di suatu hari Dian pernah mengikuti kurir tersebut tapi sia-sia. Sang kurir sepertinya tahu jika ia diikuti maka ia secepat mungkin mengemudikan motornya. Di kertas pun tak tertulis nama toko bunga. Akhirnya Dian hanya menerima dengan pasrah bunga-bunga tersebut.

******

"Pak tolong antarkan saya ke alamat ini," pinta Dian yang ingin menemui klien barunya, ia tak ingin membawa mobil sendiri karena ia terlalu lelah akhir-akhir ini. Supir tersebut mengangguk.

"Tumben," lirih Dian yang bingung supirnya tak banyak bertanya seperti biasanya. Dian pun tak ingin larut dalam pertanyaannya, ia hanya mengambil kesimpulan jika supir tersebut sudah tau kemana akan mengantar Dian.

Dalam perjalanan Dian yang merasa kelelahan akhirnya tertidur. Seperti orang yang tak tidur berhari-hari, Dian tidur sangat nyenyak. Tak dirasakan kemacetan di perjalanannya.

Perlahan Dian membuka matanya, ia merasa seharusnya sudah sampai di tempat tujuan. Namun kenyataannya mobil masih melaju. Dian pun melihat ke arah jam yang dikenakannya, jam pemberian Ivannya.

"Apa 1 jam belum sampai juga?" Dian tercengang memandang waktu yang ditunjukkan jamnya. Merasa tak percaya Dianpun melihat jam yang terpasang di mobil. Dan yang ditemukan adalah hal yang sama. Dian lebih tercengang lagi saat ia menemukan mobil tersebut berhenti di depan sebuah taman yang terletak di pinggir kota. Sang supir sudah tidak ada di tempatnya, Dian hanya sendirian di dalam mobil.

Belum sempat Dian melihat seluruh tempatnya berhenti, pintu mobil dibuka dengan cepat. Sebuah tangan menarik lengan Dian perlahan namun erat. Dian ingin berteriak namun diurungkannya karena tiba-tiba saja sebuah kain hitam menutup matanya, tangan Dian sendiri telah diikat terlebih dahulu.

"Pak apa-apaan ini? Kenapa mata saya ditutup? Mau dibawa kemana saya?" Percuma Dian bertanya karena tak ada satu jawabanpun yang keluar dari orang yang menyanderanya. Rontaan Dian pun sia-sia karena orang tersebut lebih kuat darinya.

"Pak jangan macam-macam ya. Saya ini pemegang sabuk hitam, kakak saya yang pertama komisaris polisi, kakak saya yang kedua jaksa. Kalo bapak macam-macam sama saya, mereka akan memburu bapak kemanapun!!!" Ancam Dian pada sang penculik. Tapi penculik tersebut bukannya takut, ia malah tertawa geli mendengar semua perkataan Dian.

"Iiiissshhh Bapak ini gak percaya sama perkataan saya ya. Ya udah kalo gak percaya yang penting saya udah kasih tau bapak." Ucap Dian jengkel.

"Percaya," jawab penculik tersebut singkat dan pelan.

"Hah? Apa?" Tanya Dian yang merasa mengenal pemilik suara tersebut. Dian sengaja bertanya untuk meyakinkan dugaannya. Tapi sayang sang penculik tak mau mengulangi perkataannya. Penculik tersebut hanya tersenyum mengetahui maksud Dian.

"Iiissshhh apa-apaan sih Bapak ini, pelit amat sama suara, mahal ya pak suaranya." Ledek Dian yang merasa ketakutannya kini mulai berkurang. Lagi-lagi penculik tersebut hanya tertawa tanpa suara. Dian hanya bisa mengerucutkan mulutnya karena tak tiknya tak berhasil.

Dengan mata tertutup Dian merasa perjalanan tersebut sangat lama. Tapi penantian Dian akhirnya selesai juga karena tiba-tiba langkah mereka berhenti. Dian mulai ditinggalkan sendiri, tangannya sudah mulai dilepaskan tapi tidak dengan penutup matanya. Dian cepat-cepat melepaskan penutup matanya, mencoba memfokuskan matanya agar dapat melihat orang yang menculiknya. Tapi sayang rupanya gerakkan orang tersebut lebih cepat dari Dian. Jadi disinilah ia sekarang sendiri di hamparan rumput nan luas. Anehnya di tengah danau tersebut terdapat hamparan kain kotak-kotak berwarna merah kuning. Di atasnya terdapat makanan, minuman dan 3 buket bunga lagi.

"Eh,,, hei apa-apaan ini? Siapa lo? Jangan tarik-tarik, sakit tau!!" Teriak Dian yang masih terkejut tangannya ditarik mendekati kain piknik. Dian berusaha untuk melepaskan diri namun lagi-lagi tenaga yang dimiliki orang tersebut lebih besar darinya. Walaupun langkah yang mereka jalani tidak terlalu cepat namun mampu membuat Dian menyeret kedua kakinya bahkan beberapa kali ia hampir terjatuh.

"Iiiihhh lepasin tangan gw, sakit tau." Maki Dian sambil menghentakkan tangannya saat mereka sudah berhenti tepat di depan kain yang terbentang. "Kamu itu siapa sih? Ngapain bawa-bawa gw kesini? Kurang kerjaan yah?" Dian terus saja bertanya tanpa melihat ke arah orang yang menariknya. Dian sibuk meniup tangannya bermaksud menghilangkan sakit akibat tarikan orang tersebut. Karena itulah Dian tak memperhatikan bahwa orang tersebut telah membalikkan badan menghadap ke arahnya.

"Apa kabar?" Tiba-tiba orang itupun bertanya. Dian hanya meringis mendengar pertanyaan orang tersebut. Dian enggan menjawabnya sebelum orang tersebut meminta maaf.

"Kamu udah besar sekarang, tambah cantik pula. Lo gak kangen sama gw?" Seperti tak memperdulikan aktivitas Dian, orang tersebut masih saja berbicara.

"Hei lo tuh ya... Gak bilang maaf malah tanya gw kangen apa gak sama kamu, emangnya lo...." Dian yang marah tiba-tiba berhenti saat ia perlahan mengangkat kepalanya dan melihat orang yang ada di depannya. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, mulut Dian terbuka, matanya melebar. Orang yang ada di depan Dian hanya tersenyum melihat tingkah Dian.


"Lo... Lo..." 

******

Senin, 15 Juli 2013

MY LOVE IS YOU -01-



#12 Tahun yang Lalu

"Diiiiiaannnn...." Teriak seorang laki-laki dari belakang, membuat Dian yang sedang berjalan berhenti sebentar. Dian melirik sesaat lalu mulai berjalan lagi.

'Uhh kenapa sih makhluk satu ini ngikutin gw terus. Gw kan bukan babysitternya apalagi emaknya' sungut Dian dalam hati sambil berlari kecil menghindarinya.

"Dian!!! Kenapa sih daritadi gw panggilin lo diem aja sekarang malah lari lagi. Gw kan bukan debt collector yang mesti lo takutin." Sekarang laki-laki itu sudah ada di depan Dian seraya berkacak pinggang dan muka merah karena lelah. Mulut laki-laki itupun  dikerucutkan, kesal. Dian hanya tersenyum lalu berjalan lagi.

"Dian bisa gak sih tungguin gw?"  Sekarang laki-laki tersebut menarik tangan Dian keras. Dian tersentak.

"Lo tuh apaan sih Van? Kenapa harus ngikutin gw terus. Mangnya ada apa sama gw? Gw kan bukan baby sitter apalagi emak lo, Van." Teriak Dian tak kalah kesalnya.

"Dian kok lo gitu? Gw kan janji sama emak lo bakal jagain lo." Jawab laki-laki itu dengan wajah memelas.

"Itu kan janji lo sama emak gw bukan sama gw, Ivan. Lagi lo dah kaya hansip aja mau-mauan disuruh jagain gw." Kali ini Dian tak membiarkan dirinya tertipu dengan wajah memelas laki-laki yang ternyata bernama Ivan. "Gw tuh sebel sama lo, lo dah kaya semut yang ngikutin kemanapun gula. Lo tuh lebih kecil dari gw. Jadi stop bertingkah kaya gitu." Lanjut Dian sambil melangkah pergi.

"Diiiiaaannn... Berenti!!!!!" Teriak Ivan lagi saat Dian telah melangkah sejauh beberapa meter darinya.

"Apa lagi sekarang Ivan?" Kemarahan Dian sudah sampai puncaknya. Sementara Ivan hanya tersenyum melihat wajah Dian.

"Muka lo lucu kalo lagi marah gini," Ujar Ivan seraya menghampiri dan mencubit pipi Dian.

"Ivan!!!!" Bentak Dian yang semakin kesal.

"Dah yuk ah kita pulang. Kasihan nyokap kita berdua nunguin kita," ajak Ivan seraya mengenggam jemari Dian dengan kuat. Dian berusaha melepaskan diri namun seberapa kuat usaha Dian tak membuat Ivan melepaskan genggamannya. Dengan terpaksa Dian pun akhirnya mengikuti Ivan dengan wajah ditekuk persis seperti cucian baju yang belom digosok.

*****

Ivan dan Dian, sepasang remaja yang dipertemukan karena takdir yang begitu sederhana. Ivan seorang siswa yang berumur 14 tahun namun telah duduk di kelas 3 SMA. Karena kepintarannya dia mampu melewati beberapa tingkat sekaligus tanpa kesulitan berarti.  Ivan yang mempunyai sifat pendiam, disiplin, tegas, sulit bergaul dan percaya kepada orang lain, suka olahraga renang dan catur.

Sedangkan Dian bukanlah siswi yang bodoh, hanya karena salah pergaulan Dian menjadi anak yang pemalas dan kurang disiplin. Hal ini dikarenakan Dian terlahir sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara yang mana kedua kakaknya adalah laki-laki. Dian sangat dimanja oleh keluarganya, apapun keinginana Dian akan dituruti. Namun saat Dian sudah menginjak kelas 3 SMA peraturan di rumahnya diperketat bahkan di sekolah juga. Setiap hari Dian harus berangkat dan pulang bersama Ivan. Setelah pulangpun Dian masih harus belajar bersama Ivan. Jika Dian tidak mau menurut dengan semuanya maka semua fasilitas yang diberikan kedua orang tuanya harus ditinggalkannya, tanpa terkecuali. Dian pun harus mau hidup di sebuah panti asuhan yang dikelola oleh keluarga besarnya. Ancaman yang sukses membuat Dian ngambek berbulan-bulan dan mau tak mau harus dipatuhi.

Dalam hati Dian tahu semua yang dilakukan kedua orangtuanya tak lebih untuk masa depannya kelak. Maka dari itu Dian pun mau melakukan semuanya dengan senang hati. Kebersamaan yang terjalin dengan Ivan selama satu tahun menumbuhkan benih-benih cinta di hati Dian. Cinta yang tak pernah dia sadari hingga perpisahan itu terjadi.

****

"I.. Van... lo kok ... tega sih sama gw? Kenapa lo pergi? Kenapa lo mesti kuliah jauh-jauh? Terus nanti gw belajar sama siapa? Katanya... katanya lo selalu ada untuk gw. Tapi apa buktinya? Lo malah pergi ninggalin gw. Terus nanti yang jadi kacung dan algojo untuk gw siapa??” rengek Dian manja saat mengantarkan Ivan di bandara Soetta. Ivan yang sedari tadi memperhatikan Dian hanya bisa tersenyum. Dibelainya rambut Dian pelan, penuh kasih sayang.

“Lo itu udah gede non masa masih nangis gini sih malu tuh diliatin sama anak kecil daritadi. Jaman sekarang kan banyak cara untuk tetap berhubungan bisa lewat telpon, internet bahkan kalo lo mau lo bisa nyusul gw hehehehe. Lagian yang mau ngajari lo, yang mau jadi  algojo dan kacung lo banyak kok dah pada antri tuh temen-temen cowok kita,” jelas Ivan dengan sedikit candaan yang bahkan tidak mampu memubuat Dian tersenyum.

“Bodo!!! Gak sama tau!!!” bentak Dian dengan suara serak membuat Ivan tertawa.

“Udah ah... Gw janji bakal cepet balik kesini, okey.” Janji Ivan seraya mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Dian.

"Janji jangan lama-lama disana, kalo perlu besok lo udah disini lagi." Ujar Dian yang sukses membuat Ivan terbahak-bahak. "Ivan... Kok ketawa, gw kan lagi marah." Ujar Dian dengan mulutnya yang dikerucutkan dan juga muka yang memerah. Dian tak lupa mendaratkan sebuah cubitan ke pinggang Ivan.

"AAAAWWWWWW!!!" Teriak Ivan kesakitan. "Sakit tau," gerutu Ivan sambil terus memegang tempat dimana Dian menyubitnya yang sekarang berwarna merah. Sementara Dian hanya menjulurkan lidahnya, kepuasan tampak di wajahnya karena berhasil menyubit Ivan.

Ivan yang tak dapat menahan lagi perasaannya kepada Dian tanpa izin daria Dian, Ivan merengkuh Dian ke dalam pelukannya. Dian tak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya namun ia bingung apa yang harus diperbuatnya. Sehingga ia hanya membalas pelukan Ivan dengan ragu.

“Sally Ardiani Zalika, gw cinta lo. Lo satu-satunya wanita yang pengen gw nikahin kelak...” bisik Ivan di telinga Dian. Lagi, Ivan membuatnya terkejut dengan pernyataan cintanya yang tak pernah Dian sangka-sangka. Lama mereka berpelukan hingga Ivan yang melepaskan pelukannya terlebih dahulu.

Ivan memandang Dian yang hanya menatap kosong kearahnya, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ivan mendekatkan wajahnya, hidungnya bertemu hidung Dian, keningnya bertemu dengan kening Dian. Satu langkah lagi, Ivan akan mencuri first kiss Dian. Dengan sabar Ivan memperhatikan reaksi Dian namun Dian hanya diam, tak menolak dan tidak juga menerima. Hanya keheningan yang tercipta diantara mereka berdua.

Keheningan yang mampu membuat keduanya dapat mendengarkan debar jantung masing-masing. Debar jantung yang sekarang entah memainkan irama apa yang jelas irama jantung mereka tak beraturan. Merekapun seperti sedang berebutan oksigen yang ada. Hingga akhirnya lagi-lagi Ivan yang memecah keheningan dengan satu hembusan nafas pelan lalu....

Ya Ivan mendekatkan mulut keduanya pelan dan lembut namun mampu membuat Dian terkejut lagi. Mata Dian terbelalak melihat apa yang Ivan lakukan. Senang, bingung, terkejut, kesal, semua rasa terkumpul menjadi satu seperti nano-nano. Lidah Ivan kian lama kian memaksa mulut Dian untuk terbuka. Ketika akhirnya mulut Dian terbuka, Ivan mengaitkan lidahnya dengan lidah Dian. Terkadang bibir bawah Dian digigitnya hingga membuat Dian mengerang. Inilah ciuman pertama Dian, sensasi baru yang ia rasakan bersama seorang pria. Dian tak hanya menerima ciuman Ivan, beberapa kali ia melakukan hal yang sama kepada Ivan. Walau dengan kemampuannya yang terbatas, Dian mampu membuat Ivan mengerang juga.

Entah berapa lama ciuman itu terjadi, sedetik, semenit, sejam entahlah. Mereka berdua tak ada yang menyadarinya hingga Ivan melepaskan ciuman tersebut. Namun dahi dan hidung mereka masih menempel satu sama lain, tangan Ivan masih menggenggam bahu Dian. Seakan mereka saling berpegangan untuk mencari keseimbangan, menenangkan debar jantung mereka. Menemukan kembali irama jantung yang dapat menentramkan jiwa mereka.

“Maaf... “ kata Ivan singkat. Dian menggeleng.
“Tak ada yang perlu dimaafkan.” Jawab Dian masih dengan menyembunyikan wajahnya, rona merah masih jelas terlihat di wajahnya. Senyum malu terukir di kedua wajah insan tersebut.

“Love you always my princess...” suara Ivan terdengar sangat merdu di telinga Dian yang memang sedang dimabuk asmara. Dian mengangguk. Ivan menunggu jawaban Dian dengan penuh ketidaksabaran. Tapi Dian hanya diam saja, Dian bingung mesti menjawab apa. Karena Dian sendiri bingung dengan perasaannya, ia tidak bisa mendefinisikan perasaannya sendiri.

“Dian...” panggil Ivan lembut sambil tangannya mengangkat dagu Dian. Memaksa Dian untuk menatapnya, mencari jawaban di mata Dian yang hijau. “Apa jawaban lo?” tanya Ivan yang merasa sudah tidak sabar lagi.

Dian yang merasa canggung segera melepaskan genggaman Ivan, tangannya dikaitkan di depannya. “Harus dijawab sekarang ya, Van?” tanya Dian polos.

“Ya iyalah Dian masa nunggu tahun depan sih.” Jawab Ivan kesal sambil mengacak-acak rambutnya. Dian tersenyum melihat tingkah Ivan.

“Ng... mmm... Gak boleh besok atau gak kapan gitu...” Dian masih berusaha untuk mengulur waktu agar tidak menjawab pertanyaan Ivan. Ivan menggeleng, Dian mendengus pasrah.

“Perhatian-perhatian... Kepada para penumpang tujuan Belanda segera.....” tiba-tiba suara pengumuman terdengar. Dian benar-benar merasa diselamatkan oleh suara itu. Dian membuang nafasnya, bahunya diturunkan sedikit, perasaan lega menghinggapinya. Ivan yang melihat reaksi Dian makin frustasi.

“Ya udahlah percuma juga gw nunggu disini, lo gak mau jawab juga. Mending gw masuk ke dalam.” Ujar Ivan seraya bangkit dari tempat duduknya berniat untuk melangkah masuk ke dalam.

Tapi sebuah tangan menariknya, membuatnya berputar menghadapi sang empunya tangan tersebut. Belum sempat Ivan mengeluarkan kata-kata sebuah ciuman mendarat di bibirnya, lembut. Ivan secara refleks mendekatkan tubuhnya, tangannya merengkuh tubuh mungil di depannya. Tangan yang tadi berada di lengannya mulai naik ke atas, berada di rambutnya.  Keduanyapun akhirnya melepaskan ciuman tersebut. Mereka saling memandang tanpa ada yang bersuara.

“Jadi?” tanya Ivan.

“Jawabannya nanti pas lo balik kesini.” Jawab Dian dengan sebuah senyum rahasia untuk Ivan.

“Kenapa gak sekarang sih Di?” tanya Ivan kesal yang merasa dipermainkan oleh Dian. Dian menggeleng, senyum rahasiapun masih menghiasi bibir indahnya.

“Jadiin motivasi lo supaya cepet selesai kuliah dan supaya lo cepet balik kesini.” Kata Dian seraya melepaskan pelukannya. Tanpa sadar mendorong Ivan untuk segera berangkat.

“Okey gw bakal cepet nyelesein kuliah. Gw tagih janji lo pas gw balik kesini.” Ivan menyerah, dia tau akan sia-sia jika berdebat dengan Dian. Yang ada bukan jawaban yang diinginkannya justru ia akan mendapatkan jawaban yang tidak diinginkannya. Dian mengangguk.


Ivanpun melangkah masuk namun sebelumnya Ivan telah berhasil mencium bibir, pipi dan kening Dian. Dian hanya tertawa melihat semuanya. Entah kapan cinta telah hadir di hati keduanya. Yang pasti perpisahan ini teramat menyakitkan untuk keduanya. Airmata tak berhenti mengalir di pipi Dian. Rona kesedihan tampak di wajah keduanya. Cinta yang baru disadari Dian kini harus diuji kekuatannya oleh rentang jarak dan waktu.