Tampilkan postingan dengan label I Found u in London by mba Fathy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I Found u in London by mba Fathy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

I FOUND YOU IN LONDON -15-




"Mmmm mana calon menantu mama? Ah ini calon menantu mama, cantiknya." Perkataan mama selalu berputar-putar di memoriku seperti kaset rusak. Hatiku ingin berteriak, tak terima dengan semua ini. Hatiku ingin mempertanyakan semuanya tapi bibirku kelu. Entah mengapa semua pertanyaan tak bisa ku keluarkan hanya ada rasa sesak yang kini menghimpitku. Ah aku benar-benar pengecut tak berani memperjuangkan cintaku, mempertahankannya di sisiku. Sanggupkah aku kehilangannya? Sanggupkah aku melihatnya bersanding dengan adikku sendiri?

Tuhan jangan biarkan aku memilih diantara kedua orang yang ku kasihi. Dua orang yang demi mereka aku rela melepaskan kebahagiaanku, rela memberikan nyawaku untuk mereka.

Sedang asyiknya aku melamun, tak kusadari Keysha yang memperhatikanku dengan amarah, kecewa, sedih yang tak terkira di wajah cantiknya. Tak ada senyum hangat yang selalu ia tampakkan, tak ada wajah ceria yang biasa menghiasi wajahnya yang mungil. Tak ada cahaya yang bersinar di mata indahnya. Cahaya itu redup tergantikan dengan mendung yang menutupnya. Mata itu kita juga berkaca-kaca, airmata sudah siap jatuh bebas di pipinya yang lembut selembut sutra, halus sehalus batu pualam. Matanya yang selalu menatapku dengan cinta kini menatapku dengan kebenciaan. Nafasnya pun kini tak lagi teratur, menahan amarah. Suara gemeretak rahang dan tangan tiba-tiba terdengar darinya.

"Key..." Suara Frank tiba-tiba menyadarkanku dari lamunanku.

Frank yang tiba-tiba sudah ada di depan Keysha menarik tubuh Keysha dalam pelukannya dan membawanya masuk ke dalam. Keysha mengikuti Frank namun matanya masih menatapku, tak sedetikpun ia alihkan pandangannya hingga mereka berdua menghilang di ruang keluarga.

"Ayo masuk jangan berdiri saja di depan pintu," tante Keira menggiring kami masuk ke ruang keluarga. Satu persatu kami berjalan mengikuti tante Keira.

*****

"Kian apa kabarnya Sandra?" Tanya Papa saat kami semua berkumpul di ruang keluarga. Papa, mama, dan Mark duduk dalam satu sofa. Sementara om Leo dan tante Keira duduk di sebelah kiri sofa mereka. Om Marcus dan aku duduk berdampingan di sebelah kanan sofa ketiganya. Frank dan Keysha duduk di depan ketiganya. Keysha membenamkan wajahnya tak berani untuk mengangkat takut mungkin. Takut jika semua yang dipikirkan menjadi kenyataan, takut jika apa yang menjadi keinginannya tak sesuai kenyataan. Dan itu semua salahku.

"Baik Pa." Jawabku singkat.

"Bagaimana anaknya?" Tanya Papa lagi.

"Baik juga...."

"Hei sudah-sudah kenapa bertanya tentang Sandra terus sih. Kita kesini itu untuk membicarakan tentang Keysha, calon menantu kita...." Ujar mama yang merasa tidak nyaman dengan obrolan tentang kak Sandra.

"Key gimana? Udah siapkan jadi calon istri...."

"Sebentar ma..." Potongku cepat. Aku benar-benar tak ingin membuat Keysha merasa berjuang sendiri, merasa jika aku pengecut. Ini adalah akhirnya dimana aku harus bisa memperjuangkan cintaku, berjuang bersama orang yang aku cintai.

Aku tahu berapa kali perjuanganku tak membuahkan hasil. Semua yang ku lakukan seakan hanya seperti angin lalu di mata om Leo dan Frank.

Ini usaha terakhirku. Entah mereka akan menyetujui atau tidak hubunganku dengan Keysha, aku sama sekali tidak perduli. Aku hanya ingin membuktikan pada gadisku tercinta jika aku memang layak untuk dicintainya. 'Berjuang hingga titik darah penghabisan' kini itulah yang menjadi tujuanku.

Aku berdiri membuat semua orang menatapku kecuali Keysha yang masih menundukkan kepalanya. Setiap orang di ruangan itu memandangku tapi aku tak perduli. Aku hanya memandang dirinya. Perlahan menghampirinya dan setibanya aku di depan Keysha, aku berlutut. Ku raih tangannya yang mungil, ku kecup dalam. Hal tersebut membuat Keysha membelalakan matanya, menatapku tak percaya.

"Maafkan aku...." Ucapku tulus. Keysha menatapku, airmatanya tak urung mengalir dari matanya beningnya. Aku sungguh tak bisa melihat airmatanya, ku hapus dengan ibu jariku. Ku gelengkan kepalaku tanda jika ia tak boleh menangis lagi. Semua kesedihannya akan berakhir sekarang. Tak perduli mereka akan menyetujui atau tidak, aku akan tetap menikahinya. Sebuah senyum tercipta di bibirku, senyum untuk menenangkan hatinya yang gundah, yang tak tenang.

"Semua akan baik-baik saja." Bisikku di telinganya saat aku merengkuhnya ke dalam pelukkanku. Ku kecup keningnya saat aku melepaskan pelukkanku, Keysha memejamkan matanya saat aku melakukan itu.

"Buka matamu dan lihatlah." Bisikku lagi. Keysha menggelengkan kepalanya pelan matanya masih terpejam.

"Key buka..." Bukan sebuah permintaan tapi sebuah perintah yang kuucapkan. Perlahan Keysha membuka kedua matanya, menatapku dengan mata beningnya yang berkaca-kaca. Senyum menenangkan terkembang di wajahku.

"Keysha Admira, aku mencintaimu dengan seluruh hati dan jiwa ragaku. Aku rela mengorbankan semua yang ku miliki untukmu, menjaga dirimu dengan seluruh tenaga yang ku miliki, membahagiakanmu dengan seluruh kemampuan yang ku miliki. Aku tahu masa laluku sangatlah buruk bahkan sangat memalukan dan aku tidak akan bisa mengubahnya serta aku tak ingin membuatnya tampak bagus di matamu tapi aku berjanji tidak akan pernah ada wanita lain yang ingin aku nikahi selain dirimu. Aku tak menjanjikan akan membawakanmu bulan, bintang, seluruh kemewahan yang ada di dunia ini. Tapi aku berjanji akan membuatmu bahagia, membuatmu tersenyum, takkan membiarkanmu satu tetes airmatapun keluar dari matamu yang indah. Hari ini aku ingin semua orang mengetahui perasaanku padamu. Tak perduli mereka menerima atau tidak, tak perduli jika saat ini adalah tarikan nafasku yang terakhir, tak perduli jika saat ini adalah waktu terakhirku bersamamu. Aku hanya ingin mengatakan, I love you in every breath I take, with all my soul. Want you marry me?" Aku melamar Keysha tanpa memandang sekeliling.

Keysha mengulurkan tangannya membelai seluruh wajahku perlahan seakan tak percaya jika aku telah melamarnya tanpa perduli dengan larangan om Leo dan Frank. Saat ia melakukannya, aku menutup mataku menikmati sentuhannya di kulitku. Tangannya berhenti di kedua mataku, menarik kepalaku mendekat dan mengecup keningku lembut.

"I do." Suaranya terdengar lirih tapi tanpa ada keraguan di dalamnya.

Aku membuka mataku menatap dirinya yang sedang menatapku. Hidung dan kening kami saling menempel. Tanganku memeluk pinggangnya. Senyum bahagia terpancar dari kami berdua.

Prok!!! Prok!!! Prol!!!

Seketika seluruh ruangan bergemuruh dengan suara tepukkan dari orang-orang yang ada di sekitar kami membuat aku dan Keysha terkejut.

Kami menoleh ke semua orang menatap mereka satu per satu. Mencoba mencari penolakan yang biasa kami dapatkan dari om Leo dan Frank tapi semuanya sia-sia. Di mata mereka hanya ada senyum bahagia, hanya ada sebuah restu untuk kami berdua.

"Mark maafkan aku tapi aku mencintai Keysha. Aku tak bisa hidup tanpa dirinya. Maaf karena aku mengambil milikmu." Ucapku tulus meminta maaf pada Mark.

"Hai siapa bilang aku mencintainya. Dia itu bukan tipeku, bro. Terlalu lugu, polos, mungil, pintar..." Kata Mark acuh. Aku melongo mendengar penjelasan Mark. Lalu apa yang dimaksud mama tadi? Aku mengalihkan pandanganku ke mama tapi hanya mengangkat bahu acuh seakan berbicara "yes, kita berhasil mengerjaimu, Kian." Aku tersenyum malu saat menyadarinya.

"Kalian... Kalian..." Keysha tiba-tiba mengeluarkan suaranya walau gugup. Matanya melebar menatap tak percaya jika mereka sanggup melakukan semua itu pada kami berdua. Aku menggenggam erat Keysha dalam pelukanku.

"Maaf ya Key. Kami semua hanya ingin melihat kesungguhan kalian untuk bersama, mendengar dan menyaksikan semuanya dengan jelas. Papa tidak ingin anak papa kecewa, menangis, meratapi kisah cintanya kelak. Sekarang papa yakin jika Kian mencintaimu dengan sepenuh hati, akan selalu membahagiakanmu." Jelas om Leo yang langsung mendapat cubitan dari Keysha yang tiba-tiba saja berlari dan memeluknya. Om Leo meringis meringis menerima cubitan Keysha tapi langsung berubah menjadi ceria saat Keysha memeluknya. Om Leo mengecup puncak kepala Keysha penuh kasih sayang. Tante Keira merengkuh keduanya dalam pelukan. Sementara aku sendiri menghampiri mama, papa, Mark dan om Marcus memeluk mereka. Tak pernah aku merasa sebahagia ini dengan kehadiran mereka.

Aku dan Keysha saling memandang penuh arti. Pandangan kami beralih ke Frank.

"Hei apa-apaan kalian? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Frank yang merasa risih dengan tatapan kami berdua. Aku dan Keyshapun sama-sama melangkah mendekati Frank, mengunci tepatnya.

"Hmmm begini kamu mau ngomong sendiri atau perlu kami lakukan pemaksaan?" Tanyaku dengan sedikit jahil padanya.

"Apaan sih kamu, Ki?" Frank pura-pura tak mengerti.

"Ayolah kak, kami berdua sudah tahu." Sekarang giliran Keysha yang menjahili Frank dengan mendekatkan tubuhnya lalu tanpa terlihat Frank, tangannya langsung mencubit pinggang Frank.

"Aaaaaaawwwww!!!! Sakit Key." Teriakkan memenuhi seluruh ruangan. Kami semua tertawa melihat wajah Frank yang seakan-akan tersiksa.

"Key udah dong, lepasin..." Pinta Frank dengan wajah memelasnya. Aku yakin cubitan Keysha akan berbekas hingga beberapa hari ke depan, sadis kan gadisku ini. Tapi tak apalah itung-itung pembalasan kami berdua pada Frank. Hahahaha rasakan kau, Frank.

"Ngaku dulu abis itu minta maaf sama kita berdua." Keysha berusaha tampak galak pada Frank.

"Ya... Ya... Ya... Aku ngaku aku yang merencanakan semuanya. Aku minta maaf sama kalian berdua." Akhirnya Frank mengakui segala rencananya dan Keyshapun melepaskan cubitannya.

"Gila sakit banget ya cubitanmu, Key. Kamu jahat amat Ki gak mau nolongin aku." Kata Frank sembari mengipas-ngipasi bagian yang tubuhnya yang dicubiti Keysha.

"Malas amat nolongin kamu, Frank. Lagi itu gak setimpal sama apa yang udah kamu lakukan sama kita berdua." Ledekku sambil merengkuh keysha ke dalam pelukanku. Tangan Keysha melingkar di sepanjang pinggangku.

"Eh sebentar darimana kalian tahu jika kami saling mencintai?" Keysha tampak ragu mengajukan pertanyaannya.

"Saya." Sebuah suara tiba-tiba tersengar dari arah belakang aku dan Keysha. Reflek kami menoleh ke belakang.


"Ka... Ka... Kamu..."

****




Kamis, 13 Juni 2013

I Found You In London -14-




"Kian!!!" Suara Om Leo penuh rasa senang dan kerinduan.

"Om Marcus!!" Seruku tak kalah senang dan rindu pada sosok omku satu-satunya. Bedanya aku ditambah dengan perasaan terkejut karena sangat tidak biasa om Marcus datang tanpa memberitahuku dulu. Satu lagi perasaan yang muncul, aku akan bingung menjawab saat ia akan bertanya mengapa aku membawa koperku? Aku tak mungkin menjawab jika aku diusir secara halus oleh pemilik rumah ini, om Leo.

"Hai Kian, om sangat kangen sama kamu dan Sandra. Mana kakakmu?"  Om Marcus memelukku layaknya seorang ayah terhadap anaknya. Aku pun memeluk om Marcus balik.

"Hai Kian." Satu suara lagi benar-benar sukses membuatku terkejut. Aku melihat sosok itu sama dengan pertama kali aku melihat om Marcus.

"Hai Mark." Sapaku sambil menarik tangan adikku, Mark dan memeluknya. Segala perasaan hinggap di diriku. "Kapan kalian tiba di London? Dan kenapa tak ada yang memberitahuku? Kenapa...."

"Hai Marcus!!!" Sapaan om Leo memotong pertanyaanku. Dari nada suaranya tampak rasa senang tidak terkejut seperti diriku. Om Leo seperti sudah menantikan kedatangan om Marcus berhari-hari.

"Hai my man, Leo." Om Marcus mengulurkan tangannya yang disambut oleh Om Leo. Mereka berjabat tangan dan saling berpelukan sekilas. Canda tawa mengiringi pertemuan mereka.

"Hai Mark!" Sapa om Leo sekarang berganti kepadanya. "Hai om, gimana sehat??" Sikap om Leo kepada Mark sama seperti sikapnya kepada om Marcus.

"Come in you, guys," om Leo mengajak om Marcus dan Mark masuk tanpa melihat ke arahku. "Hopely tidak ada yang menyadari sikap dan tingkah om Leo," ucapku dalam hati. Namun telat karena Mark menyadarinya tapi aku hanya mengangkat bahuku sambil menghadiahkannya sebuah senyuman. Mark pun tak ambil pusing. Hah? Semudah itu Mark sekarang? Entahlah mungkin ia tak ingin bertanya sekarang tapi nanti.

"Mark, Marcus duduklah di ruang keluarga nanti istri dan anak-anakku menyusul. Oh ya Sandra ada di kamarnya bersama Mbok Nah." Kata om Leo sambil berjalan ke arahku. Aku hanya diam tak ingin berdebat dengannya kali ini. Aku tak ingin merusak persahabatan om Leo dan om Marcus dengan masalah kecilku.

"Sepertinya kamu harus menunda kepergianmu dulu. Selama om dan adikmu ada di rumahku bersikaplah seperti biasa." Bisik om Leo di telingaku, dingin. Aku mengangguk. "Oh ya letakkan tas dan kopermu sementara di ruang kerjaku." Bisik om Leo lagi sebelum pergi menghampiri om Marcus dan Mark. Sementara aku ke ruang kerja om Leo dulu sebelum bergabung dengan mereka.

Setelah meletakkan semuanya, aku menyeret kakiku ke ruang keluarga dengan malas. Disana semua keluarga telah berkumpul termasuk mbo Nah dan kak Sandra. Aku duduk di salah satu sofa yang masih kosong yang tersedia untukku. Sofa yang hanya diduduki satu orang dengan mata sembap dan penuh kesakitan. Seseorang yang sedari tadi tak menampakkan dirinya, Keysha.

Aku sengaja duduk agak jauh darinya agar aku bisa melihat wajah Keysha. Ya mencuri-curi pandang dengan alasan aku melihat ke om Marcus atau Mark. Ah aku memang licik batinku sambil tersenyum tipis. Aku berpuas-puas diri untuk melihatnya, ah sungguh aku akan merindukan dirinya yang manja, tegas, dewasa dan juga sikap lugunya. Keysha yang tersadar sedang keperhatikan langsung memutar tubuhnya. Hah?? Sebegitu bencikah dia padaku? Apa dia tak tahu jika aku juga tak mau berpisah darinya? Aku juga merasakan sakit yang sama. Ah mengapa om Leo begitu jahat padaku?

Ku mencoba untuk mengalihkan perhatianku dari Keysha. Ku tatap satu-satu semua yang di ruangan tersebut. Aku menemukan Frank sedang memperhatikanku. Apa dia melihat semua yang ku lakukan dari awal? Apa dia tau kalo aku mencuri kesempatan untuk melihat Keysha? Hei seringai apa itu?? Sebentar-sebentar kenapa semua orang tidak ada yang mengajak aku dan Keysha berbicara? Apa mereka semua sengaja? Lalu ku perhatikan lagi masing-masing sofa. Hei kenapa masih banyak sofa kosong yang bisa aku atau Keysha duduki tapi kenapa mereka seperti sengaja menempatkanku dan Keysha dalam satu sofa? Ah mungkin hanya fikiranku saja batinku. Dan aku pun berusaha untuk kembali terlibat dalam perbincangan mereka.

Huuuuffftttt sepertinya percuma aku melibatkan diri, karena lagi-lagi aku tak didengar. Apa sebenarnya yang mereka perbincangkan? Kenapa aku tak mengerti sama sekali? Mereka berbicara menggunakan bahasa manusia kan? Bukan bahasa planet Mars atau Pluto? Waduh otakku benar-benar tak bisa berfikir sekarang ini. Aku menggelengkan kepalaku mencoba mencari untuk bisa lebih berkonsetrasi.

Rupanya bukan hanya aku yang merasakan semua itu. Keysha yang duduk di sebelahku pun merasakan hal yang sama. Dia nampak bosan terlihat dari beberapa tarikan nafas panjang yang dia lakukan. Ah seandainya saja kami baik-baik saja. Sudah pasti ku ajak Keysha berbicara berdua. Tanpa perduli orang-orang itu yang asyik berbicara. Hmmm mungkin aku akan mencuri sedikit ciuman darinya. Membayangkan itu membuatku bibirku tersenyum. Ku lirik Keysha untuk kesekian kalinya. Kali ini sepertinya Keysha berfikiran yang sama denganku. Kenapa aku bisa berfikir seperti itu karena pipinya merona merah. Seandainya bisa ku cubit sedikit pipimu, Key.

"Jadi bagaimana dengan orangtuamu, Mark?" Tanya om Leo tiba-tiba memecah lamunanku. Mark tersenyum manis. Sejak kapan senyum Mark bisa begitu manis? Tak hanya manis tapi juga penuh rahasia. Ihhh anak ini sejak kapan maen rahasia-rahasian sama aku, kakaknya yang ganteng ini. Akan kutanyakan nanti saat kami hanya berdua saja.

"Baik, Om... Mereka menitip salam sama om dan tante serta seluruh keluarga disini." Jawab Mark mulus seperti jalan tol. Sebuah kejutan lagi datang di depanku. Sejak kapan orang tuaku mau berbasa basi dengan keluarga om Leo? Ya orangtuaku terutama papaku sangat tidak menyukai keluarga om Leo.

Sebenarnya dulu papaku, om Marcus dan om Leo bersahabat baik. Sampai pada satu kejadian, papaku mengkhianati kepercayaan om Leo dengan membocorkan rahasia perusahaan om Leo pada lawan bisnisnya. Yah siapa yang takkan marah mendengar semuanya? Akupun sangat marah.

Lain lagi dengan mamaku. Sebelum om Leo menikah dengan tante Keira, om Leo pernah menjalin hubungan dengan mamaku. Namun lagi-lagi om Leo dikhianati, mamaku selingkuh dengan sahabat baiknya, siapa lagi kalau bukan papaku. Heran bukan bagaimana mereka bisa begitu buruk perilakunya. Jangan tanya, kamipun sebagai anak-anaknya bingung. Tapi satu hal yang pasti, kak Sandra bukan anak hasil di luar nikah. Kak Sandra lahir setelah dua tahun mereka menikah. Sebenarnya aku mempunyai satu kakak perempuan, Medelline namanya. Kakakku inilah yang lahir hasil hubungan di luar nikah kedua orangtuaku.

Kak Medelline dan kak Sandra sangat dekat hingga orang-orang berfikir mereka anak kembar. Oh ya bukan hanya akrab tapi mereka juga sangat mirip. Terdapat beberapa perbedaan dari keduanya. Kak Medelline orang tegas, tidak suka berbasa basi, berani mengutarakan pendapatnya. Sedangkan kak Sandra orangnya lembut, pendiam, selalu bertindak berhati-hati.

Sayangnya kebersamaan kami hanya berlangsung singkat. Pada saat ulang tahunnya yang ke 14, kak Medelline dipanggil sang Maha Kuasa. Dua tahun sebelum kak Medelline meninggal, dokter memvonis kak Medelline dengan penyakit kanker otaknya. Sebenarnya kakek tak mau jika kak Medelline mengetahuinya tapi tanpa sepengetahuan kakek, kak Medelline mencari penyebab dia gampang sakit. Kak Medelline sangat rapi dan pintar menutup mulutnya sehingga kami tak tahu jika ia sakit.

Semenjak mengetahui sakitnya, kak Medelline melatih kak Sandra untuk menjadi seorang kakak, menggantikan dirinya. Aku dan Mark yang waktu itu masih berusia 6 dan 4 tahun hanya melihat dari kejauhan. Kak Medelline sangat keras dan tegas sekaligus lembut mengajar kak Sandra. Hasilnya dapat terlihat setelah kepergian kak Medelline.

Kami bertiga banyak diam saat pertama kali melalui hari tanpa kak Medelline. Kami hanya senang mengurung diri di kamar, makan atau apapun selalu dibawakan ke kamar. Hingga suatu saat mbok Nah memanggil kami semua ke kamar kak Medelline.

"Sandara, Kian dan Mark maaf mbok baru bisa memberikan ini kepada kalian." Mbok Nah menyerahkan sebuah amplop hijau di sertai kecupan bibir. Kak Sandra mengambilnya, dibuka perlahan amplop tersebut. Amplop coklat yang diatasnya terdapat tulisan kak Medelline untuk kami bertiga.
Dear my lovely sister and brother,

Hai Sandra, Kian dan Mark.... Saat kalian membuka amplop ini ada dua kemungkinan. Yang pertama aku sudah ada di taman surga kalo aku masuk surga :). Yang kedua aku sedang terbaring koma di rumah sakit. Sejujunya aku akan memilih yang pertama...... Tapi dimanapun sekarang aku berada percayalah,,,,,,, aku akan selalu menyayangi dan mencintai kalian bertiga.

Sandra maafkan aku di saat-saat terakhirku..... tak ada kenangan indah yang kita buat. Aku malah sibuk mendidikmu ...... menjadi anak yang kuat, berani dan tegas dengan keras. Aku berbuat ......... seperti itu karena aku ingin kamu menggantikan posisiku saat aku tak ada......... Sandra buang jauh-jauh sifat lemahmu sayang karena untuk menghadapi kedua orang tua kita tak hanya dengan sikap lemahmu. Jika kamu tetap demikian,,,,,,, percayalah mereka akan menginjak-nginjakmu. Walau aku keras padamu,,,,, tak pernah sedetikpun aku tak menangis melihatmu tersiksa dengan sikapku. Bahkan hingga sampai saat ini menyesal karena haru meninggalkanmu seperti ini...... Maafkan aku, Sandra.

Kian dan Mark, dua adik laki-lakiku tercinta....... Hai ganteng entah kalian sudah atau belum mengerti....... dengan semuanya. Bagaimanapun kalian masih kecil, masih ....... banyak yang perlu kalian lihat, dengar dan alami. Aku hanya minta saat ...... kalian dewasa nanti jagalah Sandra untukku...................... Sayangi, hormati ia. Ketika nanti orang tua kita berbuat buruk kepada kalian, jangan pernah benci mereka...... Apapun dan bagaimanapun mereka, mereka tetap orang tua kita yang harus kalian hor....mati dan .......hargai. Jika kalian merasa perlu melepaskan kekesalan dan kejenuhan, ikutlah kalian ke dalam suatu kegiatan yang bermanfaat. Jangan tiru sikap dan sifat kedua orang tua kita......

Sandra, Kian dan Mark... Aku tau kepergianku telah meninggalkan banyak kesedihan kalian..... Membuat lubang besar di hati kalian. Tapi tolong lanjutkanlah hidup kalian,,,,,,, hapus airmata kalian, berbahagialah kalian setelah aku tiada......  Tersenyumlah kalian untukku karena aku sangat ingin melihat kalian ....... tersenyum dari atas sana. Jika kalian membutuhkan sosok orang tua sejati maka.... belajarlah kalian dari kakek, om Marcus dan mbo Nah. Jangan pernah kalian melepaskan genggaman erat tangan mereka pada kalian.

Kakek seorang yang keras namun sangat perhatian dan penya....yang. Sosok ayah yang selalu memaafkan dan bijak dalam hidupnya, seorang pe......kerja keras juga. Om Marcus seorang yang keras, kaku, tegas dan galak ...... apalagi sama jenggot dan kumis yang ada makin terlihat sangar ya. Tapi jangan ..... salah jika kalian dekat dengannya sejuta kasih sayang, semilyar pelukan,,,,,,,,,,,,, setrilyun  perlindungan. Mbo Nah jangan pernah memandangnya hanya sebagai pembantu di rumah kita.......... Sesungguhnya ia lah yang selalu ada untuk kita, yang se......lalu menjaga kita setiap harinya. Yang akan mengantarkan kita hingga terlelap dalam tidur, yang akan .......menghapus airmata kita, yang akan mengobati setiap luka di hati dan tubuh kita.

Andai waktuku lebih lama, aku akan sangat senang bermain bersama,,,,,,,, tertawa bersama bahkan mungkin berkeliling dunia bersama...... Ah indah tentunya jika kita bisa melakukan semua itu. Tapi sayang.... semuanya hanya bisa ku bawa dalam mimpi di tiap malamku. Ternyata ......Tuhan lebih menyayangiku dibandingkan kalian. Jangan iri ya :)... Tuhan punya rencana indah untuk kalian.

Cukup sampai disini tulisanku yang tak karuan. Mataku sudah mengantuk.... Semoga kalian bisa terus seperti sekarang....


With love

Your beloved sister
Medelline

Surat panjang dan membosankan ku pikir waktu itu. Tapi menyimpan sejuta nasehat yang harusnya ku dengar dan ku ingat. Surat yang banyak noda darah itu masih tetap tersimpan rapi di rak buku kak Sandra. Aku yakin saat menulis surat itu kak Medelline pasti merasakan sakit yang sangat teramat di kepalanya. Karena kak Medelline tak boleh berfikir terlalu keras.

Kak, aku merindukanmu. Sedang apa kau di atas sana? Apa kau merindukan kami? Karena kami merindukanmu. Jika kau masih ada, kak Sandra takkan seperti sekarang. Kak semoga engkau bahagia di atas sana. Batinku sedih.

Entah karena beban hatiku terpancar jelas di wajahku atau karena secara tak sadar aku telah mendekati Keysha. Karena tiba-tiba tangan Keysha menggenggam tanganku. Tangan mungilnya terasa dingin, lemah tapi juga terasa lembut. Pelan ia mulai mempererat genggamannya, berusaha untuk menghilangkan resah dan gelisahku. Ah Key lagi-lagi kau membuat aku ingin menarikmu ke dalam pelukanku lalu menciummu lembut dan panas. Sayangnya sekarang ini yang bisa kulakukan hanya membalas genggamanmu, erat.

Wajahnya pun sekarang lebih melembut dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Pipimu pun sekarang lebih berwarna, senyummu walaupun sedikit tapi terukir indah di bibirmu yang tipis. Apa yang terlihat di wajahmu sekarang sangat menenangkan jiwaku, Key. Pelan kuangkat tanganmu, kuletakkan di depan bibirku. Ku miringkan kepalaku ke satu sisi untuk menatapnya, meminta izinnya untuk mencium tangannya. Tanpa kata, Keysha memperbolehkanku mencium tangannya yang sedang ku genggam. Yessss!!!! Keysha mengizinkan aku menciumnya seruku senang dalam hati. Maka dengan gerak cepat aku mencium tangannya, lama?? Entahlah....

Uhuk!! Uhuk!!!

Suara batuk om Leo menyadarkan kegiatanku. Cepat kulepaskan tangan Keysha yang ku genggam, Keysha segera mengepal tangannya. Pipinya merona merah, segera menggeser duduknya membuat sedikit jarak antara kami.

Key kenapa kamu harus menjauh sih? Rungutku dalam hati. Ingin rasanya aku mendekatimu, menggenggam tanganmu dan menciumnya seperti yang baru saja kulakukan. Bahkan jika semua orang tidak memperhatikan kita, aku ingin menciummu di bibirmu yang tipis dan orange itu. Membawamu ke kamar dan.... Hufffttt berpikiran apa aku ini?? Kenapa sih otakku hanya berpikiran ke arah situ? Haaaaaaaaaa teriakku dalam hati. Frustasi, aku mengajak-ajak rambutku sendiri. Menggelengkan kepala agar semua yang terlintas di otakku bisa rontok seperti ketombe.

"Kian kamu kenapa?" Tanya om Marcus yang rupa-rupanya memperhatikan tingkahku.

"Oh... Eh... Ehmmm... Anu om... Anu..."

"Ana anu ani... Apaan sih kamu, Ki. Tinggal jawab aja susah bener. Kamu kenapa gagap gitu ampe muka merah pula." Ledek om Marcus. Aku nyengir.

"Isssshhhhh apa-apaan kamu malah nyengir kaya kuda gitu," om Marcus tampak sangat kesal dengan sikapku.

"Jadi cowok itu jangan lembek Kian. Kalo punya sesuatu yang diinginkan perjuangkan sampai titik darah penghabisan. Jangan nyerah sebelum dunia kiamat, pantang mundur demi keinginanmu. Tapi ingat kamu berjuang gak serta merta menghilangkan tata krama dan norma." Tiba-tiba om Marcus memberiku nasehat tentang perjuangan. Emang kita masih perang ya om. Hiihihihi... Okey-okey aku ngerti dengan yang diucapkan om Marcus. Tapi kenapa om Marcus bicara seperti itu. Ada yang ku lewatkan ya? Memang berapa lama sih aku melamun? Sampe-sampe aku bingung sendiri. Dan kenapa semua orang senyam senyum gak jelas gitu liatin aku? Ada yang aneh sama mukaku? Isssshhhhh udah dong Kian fokus-fokus gak da untungnya melamun.

"Mark kapan papa dan mam datang?" Tanyaku tak sepenuh hati. Aku bertanya agar bisa menghilangkan rasa bingungku dan tidak melamun lagi.

"Mungkin malam ini," jawabnya santai. Udah santai, singkat bener jawaban Mark. Kenapa dia jadi seperti ini? Ah terserahlah....

"Sudah-sudah sebaiknya sekarang Marcus dan Mark istirahat dulu." Tante Keira mengajak Mark dan om Marcus ke kamar mereka masing-masing.

Setelahnya mereka mengangkat tubuh mereka satu-satu dari sofa. Dan lagi aku dan om Leo yang terakhir ada di ruang tamu. Om Leo tak menyapaku sama sekali, aku menatap punggungnya yang menjauh. Bahuku turun ke bawah, relaks. Karena tak harus lagi "berperang" dengan om Leo.

Beberapa menit kemudian om Leo menghilang dari hadapanku. Masuk ke dalam kamarnya, mungkin. Aku hendak beranjak pergi namun belum genap 5 langkah tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipiku dengan lembut dan tanpa permisi.

"Key," suaraku serak.

Keysha seperti ingin segera pergi. Tapi terlambat aku telah menariknya dulu, mendekapnya dari belakang. Ku hirup wangi rambut dan tubuhnya yang beraroma green tea. Ku sematkan ciuman di belakang telinga, leher dan bahunya. Tubuh Keysha menegang begitu pula tubuhku.

"Aku merindukanmu," bisikku di telinganya sambil menghentikan ciumanku.

Keysha terdiam, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya sebuah nafas lega yang dihembuskannya. Tangan Keysha perlahan diletakkan di atas tanganku. Melepaskan pelukanku, ia berbalik menghadapku. Matanya sayu, senyum pedih terlihat sedikit di wajahnya yang mungil.

"Kamu gak jadi pergi kan? Kamu gak akan meninggalkan aku sendiri? Kamu masih mau kan berjuang bersamaku untuk mendapat restu mama dan papa?" Keysha bertanya sambil merangkum wajahku dengan kedua tangannya. Sementara tanganku mengepal di belakang tubuhnya. Tak tahu jawaban apa yang ingin ku katakan padanya. Aku sama sekali tak ingin merusak suasana hatinya. Aku mengangguk lemah. Maafkan aku, Key bisikku dalam hati, maaf karena telah membohongimu.

Wajah Keysha berubah, menjadi bersemangat, matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Aku sungguh tak tega menghilangkan semua sinar harapan tersebut. Biarlah dia merasakan semuanya baik-baik saja bisa kembali seperti dulu. Setidaknya hingga om Marcus dan Mark serta kedua orangtuaku pergi.

Setelah mengetahui jawabanku, Keysha pun berlalu dari hadapanku. Dengan langkah dan senandung gembira ia kembali ke kamarnya. Meninggalkanku sendiri dalam keheningan.



“Kian....” sebuah suara memanggilku pelan hampir berupa bisikkan. Aku mencari asal suara tersebut. Mengangkat alisku pertanda kebingungan menyelimutiku saat mendengar suaranya. Kenapa juga ia berbisik? Kan gak ada orang di sekitar kami.  Aku mendekati orang tersebut dan ia mempersilahkan aku masuk ke kamarnya.

“Apa kabarmu dan kak Sandra sekarang? Gimana sama kerjaanmu? Yakin gak mau ke balik ke Indonesia? Gak kangen sama rumah, sama kakek?” bertubi pertanyaan dilontarkan orang tersebut saat kami berdua berbaring di kamarnya menatap langit kamar. Aku mendesah, nafasku terasa berat. Apa aku harus bercerita semua kepadanya? Ah sudahlah lupakan, aku gak mau menambahkan persoalan dalam keluargaku. Biar ini menjadi masalahku sendiri, pikirku.

“Kian, kamu tuh kenapa sih? Daritadi kerjaannya diem aja kalo ditanya gelagepan gak jelas gitu.” Kali ini suara di sampingku terdengar kesal. Aku tersenyum mendengar dan melihat tingkahnya.

“Aku kangen kakek dan kak Medelline... Andai mereka masih hidup, aku ingin memeluk mereka, tidur bertiga dengan mereka, bercerita dan mendengarkan ocehan mereka...” Mataku menerawang mengenang orang-orang yang teramat menyayangi kami. Membayangkan wajah mereka berdua dengan tatapan lembutnya. Orang di sebelahku menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataanku.

Lama kami terdiam tanpa sepatah katapun yang keluar. Hening,,,,

“Hei Mark gimana sama kuliahmu?” suaraku memecah keheningan diantara kami berdua.

“Biasa aja Ki....” jawabnya singkat.

“Kamu kenapa Mark setiap aku bertanya jawabanmu sangat singkat?” tanyaku yang diliputi rasa keheranan.

“Nah kamu juga kenapa setiap ditanya gak dijawab. Kalo pun dihawab selalu aja gelagepan.” Mark tak mau kalah dariku. Aku tersenyum getir.

“Jangan berenti kuliah ya Mark. Gapai semua yang kamu cita-citakan dulu, raih dan kejar mimpimu. Bahagiakanlah orang-orang ynag kamu cintai dan mencintaimu dengan tulus. Inget selalu pesan kak Medelline untuk kita bertiga.” Jataju sanbil terus memandang langit kamar Mark. Selintas raut wajah dan senyum Keysha terlintas di kepalaku. Mau tak mau akupun tersenyum. Tapi aku segera tersadar saat ini sekecil apapun tingkahku yang aneh akan terlihat oleh Mark.

“Ki ada apa sebenarnya tumben kamu seperti ini?” Mark menatapku sekilas lalu kembali melihat langit kamar. Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum samar. Mark disebelahku mendesah.

“Okey Mark gak ada lagi yang mau kamu tanyakan kan? Aku mau ke kamar ya.” Aku mengangkat tubuhku dari tempat tidur. Mark membuka mulutnya hendak bertanya tapi ia mengurungkan niatnya. Aku pun berlalu dari kamar Mark.


Ting tong!!! Ting tong!!!

Suara bel berbunyi kembali tepat saat matahari sudah tak menampakkan wajahnya lagi alias malam. Aku bergegas turun, diikuti Mark, om Marcus. Seperti kami sedang berlomba lari kami bergegas ke pintu depan. Keluarga om Leo mengikuti kami dari belakang.

“Hai Mcarcus....” sapa mamaku saat pintu terbuka.

“Hai... “ sapa om Marcus datar.

Terlihat sekali jika hubungan kedua orang tuaku dan om Marcus memang tak bisa harmonis. Aku mengerti keenganan om Marcus dikarenakan sikap kedua orang tuaku sendiri.

Mama tanpa rasa sungkan segera mempersilahkan dirinya sendiri masuk. Papa mengikuti mama dari belakang. Berbeda dengan mama, papa seperti malu harus datang ke rumah om Leo. Papa tampak lebih diam dari biasanya.

Mama tanpa malu-malu mengecup pipi om Leo, tante Keira dan Frank. Sedang papa hanya menjabat tangan mereka dengan menundukkan wajahnya.

HAHH? Punya rasa malu juga kau, Pa. Rungutku dalam hati.

"Kian sayang kemari boy, you not miss your mom..." Kata mama sambil menarik dan memelukku. Aku hanya bisa diam, tak ingin rasanya berbasa basi dengan mereka. Jadi aku hanya menyunggingkan sebuah senyum saat terlepas dari pelukkannya.

"Hai Mark,,," sapa mama tak lupa memeluk Mark. Mark sama seperti aku hanya tersenyum.

"Mmmm mana calon menantu mama?" Tanya mama saat didekat Mark.

"Menantu?" Tanya hatiku dalam hati. Jadi mereka kesini untuk meminang calon istrinya Mark tapi kenapa tak ada yang menceritakan apapun padaku.

"Ahhh ini calon menantu mama, cantiknya." Puji mama saat melihat Keysha turun. Pandangan mama tak lepas dari Mark dan Keysha.

"Ya Tuhan jangan bilang apa yang kupikirkan ini menjadi kenyataan. Karena jika memang itu benar maka aku tak akan bisa membuatnya terluka, menyakiti hatinya. Aku akan mengalah..." Jeritku dalam hati saat menyadari sikap mama.

"Apa calon suami yang dibilang om Leo itu, Mark? Kenapa mereka tak ada yang memberitahuku? Kenapa suratan takdirku harus seperti ini? Mengapa mereka harus begitu tega padaku?" Beribu tanya mendera batinku. Aku melirik ke arah Keysha yang rupanya juga terpaku mendengar perkataan mama. Matanya berkaca-kaca menahan tangis dan sejuta pertanyaan.


Akankah aku mengalah pada adikku satu-satunya. Tempat aku berbagi rasa, orang yang dengannya berbagi sedih, tawa, senang, tangis, tanggung jawab. Aku tak ingin mengalah pada takdir tapi jika Mark yang harus ku hadapi, apa yang harus aku lakukan, Tuhan.



Sabtu, 25 Mei 2013

I Found You In London -13-


Bab 13



Pagi harinya tanpa membangunkan Keysha yang masih terlelap tidur, aku menemui om Leo di ruang kerjanya.

"Masuk," teriak om Leo dari dalam. "Ah kamu, Kian ada apa?" Nada suara dan ekspresi om Leo saat melihatku masuk ke ruangannya.

"Om tolong restui hubungan kami," aku tak ingin basa basi dengan om Leo. "Aku tau aku bukanlah manusia baik-baik, hidupku dulu penuh dengan dosa. Tapi om semenjak bertemu dengan Keysha tak ada lagi yang aku inginkan selain bersamanya hingga akhir hidupku." Lanjutku dengan penuh keyakinan.

"Kamu pikir aku akan percaya, hah??" Walau tidak berteriak namun suara om Leo bisa terdengar di seluruh ruangan kerjanya. "Keysha anak gadisku satu-satunya, aku tidak ingin nantinya dia menderita karena perbuatanmu. Aku tak yakin kalau kamu bisa berubah. Kamu juga belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anakku. Hidup tak bisa hanya bermodal cinta, Kian." Om Leo menurunkan sedikit nada suaranya.

"Tapi om demi Keysha, aku akan berubah. Sekarang ini Keysha segala-segalanya untukku. Mengenai hidup Keysha kelak, aku berjanji akan membahagiakannya. Aku akan bekerja keras untuk dapat memenuhi semua kebutuhan Keysa."

"Sudah lupakan cintamu pada Keysha, om telah menjodohkannya dengan orang lain yang jauh lebih baik daripada kamu,,,"

"Apa om? Dijodohkan?" Perkataan om Leo membuat diriku seperti petir saat hujan tiba. Tak percaya dengan apa yang ku dengar.

"Ya. Om rasa Keysha akan sangat menyukai orang tersebut dan akan segera melupakanmu. Dia dulu tinggal di Indonesia juga, tampan, memimpin sebuah perusahaan ternama, bertanggung jawab, pintar dan yang terpenting dia tulus mencintai Keysha." Lanjut om Leo, matanya menerawang membayangkan orang yang dimaksudnya.

"Jadi lebih baik sekarang kamu jangan pernah berharap aku akan merestui kalian. Pergilah..." Mata om Leo tertuju pada pintu ruangan kerjanya.

"Om... Jika hanya tentang ketampanan wajah, harta dan kepintaran, aku memang kalah. Namun jika menyangkut cinta, aku yakin cintaku lebih besar dari pria itu." Aku masih mencoba meyakinkan om Leo.

"Sudah sekarang pergilah, aku tak ingin melihatmu lagi," kini om Leo benar-benar mengusirku secara jelas.

"Om, aku mohon restui kami," aku bersimpuh di hadapan om Leo, menundukkan kepala. Jika dengan bersimpuh seperti ini om Leo dapat merestui kami, aku rela walaupun nanti kakiku akan sakit ketika bangun.

"Walaupun kamu bersimpuh sepanjang hari, om tetap tak akan merestui kalian. Jadi percuma kamu melakukannya. Sekarang bangun dan pergilah," om Leo meninggikan suaranya. Tapi aku tak bergeming, inilah usahaku yang terakhir. Jika memang dengan seperti ini om Leo tidak juga merestui kami, entah apa yang aku lakukan. Menghamili Keysha?? Ku rasa itu bukan solusi yang baik.

"Kian pergi atau aku akan menyeretmu dari ruangan ini," perkataan om Leo menyadarkanku.

"Kian, kamu gak dengar apa yang papaku katakan hah?" Tiba-tiba saja Frank berdiri di hadapanku. Mungkin jika aku yang dulu akan menantang Frank untuk berkelahi karena aku benar-benar tak tahan dengan sikapnya padaku dan Keysha.

"Kian pergi!" Teriakkan om Leo, kurasa bisa terdengar hingga ke lantai dua. Aku berdiri dan menatap wajah om Leo dan Frank. Setelah beberapa saat, ku melangkah pergi.

"Oh ya om harap kamu mau datang untuk menyambut kedatangan tunangan Keysha nanti siang," ujar om Leo saat aku memegang handle pintu.

"Pasti om," kataku pelan tanpa menatap lagi ke arah om Leo dan Frank.

Keputusan om Leo sudah final, aku tak bisa meyakinkan dirinya untuk merestui kami. Haruskah aku menyerah dengan keadaan? Harukah aku menerima perpisahanku dengan Keysha? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mengapa saat ku menemukan cinta, takdir sepertinya tak berpihak padaku?

"Key," aku terkejut ketika membuka pintu, mendapati Keysha berdiri dengan airmata yang membanjiri mata dan pipinya. Kurengkuh tubuh Keysha yang berguncang pelan, kukecup puncak kepalanya. Keysha terus menangis tak bersuara di pelukanku. Keysha melepaskan pelukanku, melihat ke dalam dan hendak menemui om Leo. Aku menggelengkan kepala, Keysha menatapku dengan keras. Ku genggam tangan Keysha, menariknya menjauh dari ruang kerja om Leo. Walau dengan berat hati Keysha menurutiku. Tanpa ada satu katapun, aku membawa Keysha ke kamarnya.

Setelah mengantar Keysha, aku kembali ke kamarku, aku langsung merapihkan pakaian dan barang-barangku. Aku tak ingin tinggal di rumah om Leo hanya untuk melihat pesta penyambutan calon tunangan Keysha. Saat asyik merapihkan barang-barangku, pintu kamarku diketuk dari luar.

"Siapa?" Tanyaku kesal. Bukannya menjawab pertanyaanku, orang itu malah makin keras mengetuk pintu kamarku. Ku dekati dan membuka pintu dengan kesal.

"Key. Ada apa??" Ku lembutkan suaraku saat melihat sosok Keysha dengan mata sembabnya.

"Boleh aku masuk?"

"Maaf tapi aku sedang membersihkan kamarku."

"Apa yang kamu sembunyikan Kian?" Keysha rupanya tak mudah percaya dengan perkataanku. Tubuhnya mendesak tubuhku untuk masuk ke dalam.

"Nggak ada yang kusembunyikan Key." Aku masih berusaha agar Keysha tak mengetahui jika aku sedang merapihkan barang-barangku.

"Kalau tidak ada yang kamu sembunyikan biarkan aku masuk." Keysha memaksa masuk ke dalam kamarku.

"Key hentikan!!!!!" Aku tak sengaja berteriak padanya. Tapi Keysha tak terpengaruh dengan teriakanku, ia makin berusaha keras untuk masuk. Entah karena aku lengah atau karena tiba-tiba Keysha mempunyai tenaga yang besar, akhirnya ia bisa masuk ke dalam. Keysha memperhatikan seluruh kamarku. Ia tak menghiraukan teriakan dan panggilanku. Matanya tertuju pada koper yang belum sempat kusembunyikan, ia mendekati dan memperhatikannya. Aku tak berani mendekatinya, betapa pengecutnya bukan aku.

"Jadi hanya sampai disini?" Tanyanya beberapa saat setelah ia berada di dekat koper.

"Key..." Aku berusaha untuk tetap bersikap tenang.

"Jawab aku." Suaranya hampir seperti bisikkan.

"Key, aku..."

"Jawab aku, Kian!" Kini suaranya telah berubah menjadi sebuah teriakan, tubuhnya bergetar hebat. Sampai disinikah perjuanganku? Tidak. Aku tidak ingin berhenti memperjuangkan cintanya. Tapi apa yang bisa kuperbuat sekarang? Om Leo tidak bisa merestui kami, keputusannya pun telah mutlak untuk menjodohkan Keysha dan siang ini calon tunangannya akan datang. Aku tak sanggup untuk melihat semuanya, melepas cintaku untuk orang lain. Saat cinta terbentur restu orang tua, kawin larikah jawabannya? Tidak. Karena hal itu hanya akan memperburuk keadaan, makin menambah kesan negatif yang dirasakan om Leo padaku. Andai waktu yang kumiliki lebih lama untuk bisa meyakinkan om Leo.

"Tak bisakah kau hanya menjawab pertanyaan sederhanaku, Kian?" Keysha kini memutar tubuhnya. Matanya semakin sembab, tak ada lagi sinar kebahagiaan yang muncul di dalamnya. Kini hanya ada rasa luka, kecewa, sakit hati. Ku mendekatinya namun ia mengangkat kedua tangannya, penolakan. Aku terpaku.

"Jika memang ini yang kamu inginkan, baiklah." Kepasrahannya membuat hatiku makin teriris perih. Ku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tak gatal. Keysha memutari tempatku berdiri, menutup pintu dengan suara kencang.

"Keysha... Keysha... Keysha..." Aku memanggilnya lirih namun tak mengejarnya. Hancur sudah kepercayaan Keysha pada diriku. Tamat sudah riwayat percintaan kami. Ini bukan karena Keysha tapi karena aku yang tak berani untuk terus berjuang, untuk bisa meyakinkan om Leo. Aku terduduk lemah di lantai. Entah berapa lama aku terduduk disana hingga sebuah ketukan menyadarkanku.

"Keysha..." Ku panggil namanya sambil membuka pintu. Membayangkan Keysha berdiri di depan pintu membuatku bersemangat, hatiku bersorak gembira.

"Key..." Kekecewaan menyergapku saat membuka pintu. Bukan Keysha yang berdiri disana tapi Frank. Raut wajahnya tak terbaca jelas, sedikit kemarahan, kesombongan, kebencian. Tapi apa yang kuperbuat sehingga aku pantas mendapat perlakuan seperti ini darinya.

"Apa yang kamu perbuat padanya?" Frank bertanya dengan ketus, nada suaranya dijaga agar tak berteriak. Matanya mengintip ke arah kamarku.

"Nggak ada," jawabku singkat, aku tak ingin meladeni segala perkataannya.

"Aku tak percaya," suaranya sinis.

"Terserah," aku tak kalah sinis dengannya. Yah jika ia bisa berfikir karenanyalah, Keysha seperti sekarang. Memaksaku untuk menjauh dari Keysha tak pernahkah ia fikirkan perasaan adiknya. Apa akibat dari perbuatannya.

"Baiklah, aku percaya padamu." Frank berujar ringan. "Tumben," lirihku dalam hati. Frank memutar tubuhnya, menjauh dariku.

"Oh ya papa titip pesan, pertemuan di percepat. Tak sampai jam makan siang, mungkin sekitar satu jam dari sekarang mereka akan datang. Jadi jangan berbuat macam-macam, ikut dengan kami menyambut calon keluarga besan," senyum puas dan licik diukir Frank di bibirnya. Tak dapat kusembunyikan keterkejutan di wajahku. Aku yakin wajahku kini bagai vampire yang sudah lama tak menghisap darah. Jiwaku seperti meninggalkan ragaku, hampa dan kosong.

"Satu jam." Aku mengulangi perkataan Frank, tak mempercayai apa yang ku dengar. Bagaimana aku bisa pergi dari rumah ini dalam waktu kurang dari satu jam? Aku belum membereskan semua barang-barangku dan kak Sandra. Ya aku memutuskan pindah ke rumah yang kubeli untuk kak Sandra. Tak bisa pergi. Aku harus bisa menghadapi semuanya dengan lapang dada dan hati ikhlas.

****

Tok! Tok!

"Masuk!" Suara om Leo begitu tegas dan datar. Ku melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Berdiri beberapa senti dari tempat om Leo duduk.

"Ada apa Kian?" Tanya om Leo saat mengangkat kepalanya dari tumpukan kertas. Kedua tangannya ditautkan, sikunya di atas meja menopang dagunya. Matanya tajam menatapku dingin.

"Om maaf jika aku lancang. Tapi aku rasa kehadiranku di acara pertunangan Keysha takkan ada gunanya. Aku hanya orang luar yang kebetulan menumpang di rumah om dan juga mencintai anak om. Saat om tak juga merestui hubungan kami sebenarnya aku dan Keysha masih ingin terus bejuang tapi aku tak ingin membuat Keysha menjadi anak yang durhaka dengan menentang setiap perkataan orang tuanya." Wajah om Leo masih tak bergeming mendengarkan perkataanku.

"Om, aku ikhlas dan rela Keysha dijodohkan dengan orang lain. Aku berjanji hari ini adalah hari terakhir om dapat melihatku di rumah ini. Aku juga mengundurkan diri dari perusahaan yang om pimpin sekarang. Aku  yakin Keysha tak bisa menerima pertunangannya dengan orang lain jika aku masih di sekelilingnya." Kataku lebih lanjut.

"Hanya itu?" Suara dan wajah om Leo masih sedingin es di kutub utara. Aku mengangguk pelan. "Kalau begitu silahkan kamu angkat barang-barangmu." Aku terkejut mendengar jawaban om Leo sungguh berbeda dengan yang diucapkan Frank. "Kenapa bengong? Silahkan kemasi barang-barangmu, bukankah itu yang kamu mau?" Om Leo menyadarkanku dari lamunan. Ku balikkan badanku menuju pintu kantor. Rasa lega sedikit menghampiri hatiku tapi rasa itu terkalahkan dengan kekhawatiranku akan sikap Keysha. Akankah ia bisa memaklumi segala tindakanku? Akankah ia bahagia bersama dengan laki-laki pilihan ayahnya? Marahkah ia nanti setelah mengetahui keputusan yang kuambil? Key, ku harap kamu mengerti kataku dalam hati.

Di kamar aku segera membereskan semua barang-barangku. Foto-fotoku bersama Keysha tak luput ku masukkan ke dalam koper, setidaknya aku bisa mengobati kerinduanku padanya kelak. Setelah selesai, aku beranjak pergi ke kamar kak Sandra membantu mbok Nah membereskan barang-barangnya. Yah aku tak ingin berpisah dengan kak Sandra sedetikpun.

"Hai kak sudah siapkah?" Tanyaku setibanya di kamar kak Sandra. Walau tak pernah ada jawaban darinya, aku selalu berusaha bersikap senormal mungkin dengan kak Sandra.

"Mbok sudah semua dibereskan?" Tanyaku saat melihat ke arah mbok Nah yang membereskan barang-barang kak Sandra. Mbok Nah mengangguk setelahnya beliau keluar dari kamar.

"Kak maafkan aku harus memisahkan kalian berdua. Bukan niat dan keinginanku tapi aku tak kuat untuk tetap berada di rumah ini melihat orang yang ku cintai bersanding dengan orang lain." Ku kecup punggung tangan kak Sandra. Wajah kak Sandra terlihat murung, mungkin karena kak Sandra ikut merasakan penderitaanku.

"Siapa yang mengizinkanmu membawa Sandra dari sini." Sebuah suara berasal dari belakang mencegahku.

"Dia kakakku jadi dia tanggung jawabku, om," kataku dengan menahan emosi. Apa-apaan om Leo ini, aku masih terima jika aku harus berpisah dengan Keysha tapi jika harus berpisah dengan kak Sandra, issshhh tak akan ku biarkan om Leo menghalangiku.

"Letakkan Sandra di tempat tidurnya." Suara Om Leo menggema di ruangan. Aku berusaha untuk melawan kali ini. Kak Sandra bagaimanapun adalah tanggung jawabku. Perdebatan kami berdua sangat panjang, ego kami yang bermain disini. Tapi pada akhirnya aku lagi yang harus mengalah.

"Untuk sekarang aku biarkan kak Sandra untuk tetap tinggal di rumah ini. Tapi suatu saat aku akan membawanya pergi dari rumah ini." Menyerahkah aku? Untuk sekarang ya, karena aku lelah berdebat dengan om Leo.

"Kak maaf kakak sementara tinggal disini dulu ya. Aku janji tidak akan lama kita akan bersama kembali." Bisikku sebelum meninggalkan kamar kak Sandra, tak lupa aku mengecup keningnya. Tak terasa pula airmataku jatuh di wajah kak Sandra. Sementara om Leo masih tetap bersandar di pintu kamar memperhatikan kami berdua. Aku melewati om Leo tanpa menegurnya sama sekali. Bahkan memandangnya pun aku tak ingin.

Sesampainya di kamar, aku merebahkan diriku sejenak, memandangi kamarku yang beberapa bulan terakhir ini menjadi tempatku beristirahat. Menemukan cinta sejatiku, cinta yang sayangnya tak bisa kumenangkan. Cinta yang mampu membuatku hari-hariku berwarna. Cinta yang mengajarkanku kedewasaan, kelembutan, perjuangan dan pengorbanan.

Tiga puluh menit aku berdiam diri di kamar. Memandangi langit dan mencoba merekam semua kenanganku bersama Keysha. Setelah semuanya terasa cukup, ku angkat ransel dan koperku melangkah meninggalkan kamar. Perlahan aku menutup pintu kamar, melangkah ke lantai satu lalu melangkah pergi meninggalkan rumah om Leo. Sepanjang perjalananku yang singkat dari lantai satu ke lantai dua, tak ku temukan sosok Keysha. "Dimana kamu, Key? Aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya." Ujarku pelan. Namun tak jua aku melihatnya. "Key, maafkan aku sayang." Batinku berteriak. Dengan berat hati aku mempercepat langkahku ke depan pintu rumah om Leo.

Ting tong!!! Ting tong!!!

Belum sampai ku buka pintu tersebut, suara bel berbunyi berulang. "Siapa sih nggak sabar bener?" Rungutku sambil menghitung berapa kali bel berbunyi. "Hmmm pasti si kutu kupret bersama keluarganya," gerutuku pada diri sendiri. Kutu kupret julukanku pada pria yang akan menikahi Keysha. Aku tak beranjak dari tempatku berdiri. Tak sudi aku membukakan pintu untuknya.

"Hei tak adakah yang mendengar bel pintu berbunyi?" Teriak om Leo sambil keluar dari kamarnya. "Wah kebetulan Kian, kamu dekat dengan pintu. Tolong bukakan pintu itu, sebentar lagi aku keluar." Ucap Om Leo yang melihatku masih berdiri di depan pintu.

"Hah, aku? Bukain pintu untuk kutu kupret itu? Emangnya aku among tamu apa?" Sewotku.

"Apa kamu bilang Kian?" Tanya om Leo yang rupanya belum terlalu jauh berjalan.

"Hah? Apa om?? Bukan apa-apa. Aku akan bukakan pintunya," jawabku setengah hati.

"Okey, terimakasih," jawab om Leo ramah. Hah?? Dasar om Leo stress kenapa harus aku sih? Kemana pembantu di rumah ini? Kenapa semua orang menghilang? Seribu tanya di hatiku yang merasa semuanya begitu aneh.

Ku buka pintu rumah om Leo dengan wajah masam. Terserah apa anggapan kutu kupret dan keluarganya tentang sikapku. Toh aku bukan bagian dari keluarga ini.

"Kenapa lama sekali sih?" Rupanya orang di luar sana sudah tak sabar. Hmmm dikerjain enak kali ya? Pikirku dalam hati. Tapi aku penasaran sama mukanya pria pilihan om Leo. Maka segera ku buka pintu.

"Kian!!!"

"Om Marcus???!!!!"