Kamis, 22 November 2012

HUJAN KEMARIN -16-


BAB ENAM BELAS
Yang Terlewatkan


4 tahun kemudian.
Hujan masih turun dengan derasnya ketika aku berdiri di depan rumahku. Untuk sesaat aku hanya tersenyum tipis, mengingat semua kisah yang terukir di rumah ini. Senyum dan tangis itu. perih dan kebahagiaan itu. cinta dan tragedy itu. sudah dua tahun berlalu, namun rumah mungil berwarna putih itu tidaklah berbeda. Hanya ditambah beberapa tanaman merambat di bagian depannya. Mama adalah seorang penulis, dia lebih menyukai hal-hal yang menenangkan untuk membantunya mendapatkan suasana dalam penulisannya.
Aku tersenyum tipis seraya menggenggam erat payungku, sebelum akhirnya masuk kedalam rumah yang begitu ku rindukan.
“Mama…” panggilku pelan. pintu tidak terkunci, selalu ceroboh seperti biasa. aku melangkah perlahan sambil mencari-cari keberadaan mama. Aku sengaja tidak mengabari kedatanganku kepadanya, karena aku ingin memberikan sebuah kejutan. Namun aku tidak menyangka jika semuanya akan gagal hanya karena ketidak beradaan mama di rumah. Aku mendesah lelah kemudian mengambil ponselku dari dalam tas, menghubungi nomor mama. Berkali-kali nada sambung terdengar, namun tidak diangkat sama sekali. Lama-lama aku mulai kesal, aku sudah merindukan mama setengah mati, dan sekarang aku malah harus menunggu seperti orang bodoh begini. Lagi pula, kemana sih perginya mama? Ia bahkan tidak mengunci pintu rumahnya! Bagaimana jika ada pencuri masuk??! Aku mendesah ngeri ketika memikirkan semua hal itu. mulai mengutuki kebodohanku yang meninggalkan sosok mama sendirian di sini.
Aku meletakan koperku di kamar, kemudian kembali berjalan ke ruang tamu. Menghempaskan tubuhku dengan malas ke sofa terdekat. Suasana rumah itu begitu sunyi sehingga membuat tetesan hujan di luar sana terdengar begitu bising. Aku menatap hujan dari balik jendela ruang tamu, mencoba menghitung tetesan itu secara acak. Kemudian perhatianku tertuju pada tumpukan kertas di atas meja. Semuanya berantakan, beberapa buku ensiklopedia kedokteran terbuka lebar, kertas-kertas bertebaran di mana-mana, dan laptopnya sendiri masih menyala meskipun dalam mode log off.
Aku mulai penasaran, hm… mama pasti sedang menulis cerita tentang orang yang memiliki penyakit aneh lagi.
“Hemofilia?” aku membaca judul dari buku yang terbuka di hadapanku. Well, cukup unik, penyakit turunan yang sulit diditeksi dan cukup langka. Hm, mama sepertinya mulai mencari ide-ide yang masih fresh.
Aku membuka-buka buku besar itu sesaat, mulai menikmati kajian kedokteran di dalamnya. Kemudian keusilanku mulai muncul ketika melihat laptop yang masih berkedap-kedip. Mama selalu tidak suka jika tulisannya ku baca sebelum selesai semuanya. Namun kini mama sedang tidak ada, jadi mengapa aku harus khawatir?
Aku tersenyum perih ketika selesai membaca lemabran-lembaran terakhir novel itu. mama selalu hebat dalam menulis, seakan-akan ia memang merasakan semua hal itu. Aku mendesah menatap hujan yang semakin membesar. Merenungi kisah mengharukan yang mama tulis. Kisah tentang seorang ibu yang berjuang untuk menjaga anaknya yang menderita penyakit yang diturunkan oleh suaminya sendiri.
Krekk…
Pintu tiba-tiba terbuka. Aku sampai terlonjak kaget karenanya. “Mama…”desisku. Mama menatapku tidak percaya.
“Isabella?” tanyanya ragu. Aku mengaguk dan langsung berlari memeluknya.
“Aku rindu mama,” aku menangis di pelukannya. Mama menarik tubuhku menjauh.
“Mengapa kau tidak mengatakan kalau kau akan pulang hari ini?!” mama berteriak. Aku menatapnya dengan seringai jahil.
“Suprize…” bisikku.
“Anak nakal!” mama menarik tubuhku lagi ke dalam pelukan hangatnya. Ia mencium puncak kepalaku dengan sayang. “Mama sangat merindukanmu…” mama mencium pipi kiriku.
“Aku juga…” bisikku. untuk sesaat kami hanya berpelukan seperti itu. meresapi keberadaan masing-masing. “Papa titip salam untuk mama, dan aku sudah mengurus semua kepindahanku kembali,” ujarku setelah diam beberapa saat. Mama tersenyum dan mengaguk.
“Hm, putriku… sudah dua tahun berlalu dan kini kau sudah terlihat sangat dewasa,” aku memerah mendengar kata-kata mama. Apa-apaan sih mama berbicara seperti itu padaku??? Batinku. Mama tersenyum manis. Ia membelai wajahku. “Kau bahkan terlihat begitu cantik…”
“Mama!!!” aku berteriak risih. Mama tertawa kecil kemudian pergi ke dapur. Aku berjalan mengikutinya.
“Kemarin mama membuat ini,” ujar mama seraya mengeluarkan seloyang pudding coklat. Aku menjerit kegirangan. Pudding coklat adalah salah satu makanan kesukaanku dan kak Sam sewaktu kami kecil. Ah… mengingatnya membuatku kembali termenung. “Ada apa? Apa rasanya tidak enak?” Tanya mama. Aku menggeleng cepat. Ini sangat lezat seperti biasa.
“Mama menulis cerita baru?” tanyaku. Mama tertegun sejenak.
“Mama hanya ingin menuliskan perjuangan seorang ibu yang mengurus anaknya,”
“Mengapa mama tidak menulis kisah tentang kita kalau begitu?”
“Kisah kehidupan kita terlalu panjang sayang. Dan mama tidak ingin menebak apa yang akan terjadi di masa depan nanti,”
“Tapi kita bisa berharap,”
“Ya selalu ada harapan,” bisik mama.
                              ****
Untuk sesaat aku ingin melupakan kehidupanku. Keluar dari ruang lingkupku. Bukan, bukan untuk melanjutkan hidupku ke haluan yang lebih baik lagi. Atau, mungkin ya. Tapi kali ini aku ingin pergi tanpa membawa masa laluku. Aku ingin menjadi pribadi yang baru. Meninggallan semua masa laluku, semuanya! Aku ingin melupakannya. Memulai lembar baru, menjadi pribadi yang baru di tanah asing dan orang-orang yang berbeda.
Aku mendesah menatap hujan. Sudah empat tahun sejak kejadian itu. dan semuanya tampak begitu berbeda. Hanya satu hal yang sama, hujan hari ini dan hujan kemarin.
Dan rasanya hati ini sudah mulai bisa lebih dewasa lagi. Ya, aku tentu bisa menghalau perasaan masa mudaku dulu. Lagi pula itu dulu, luka hari yang lalu. Aku tidak mungkin menangis karena luka yang sama. Aku akan baik-baik saja.
“Isabella,” suara itu terdengar begitu indah di telingaku. Membuatku ingin memejamkan mata untuk meresapinya. Namun tetesan gerimis memaksaku untuk menoleh. Dan ia disana, berdiri dengan ketampanannya. Jeans gelap, T-shirt putih dan jas abu-abu. Aku tersenyum, seakan pernah lupa akan ketampanannya. Kemudian melambaikan tanganku perlahan.
Dia sahabat lamaku, teman SMA ku, lalu kenapa aku harus merasa ragu? Ku langkahkan kakiku ke kafe tempatnya berdiri. Kafe itu begitu putih dan bersih, penuh dengan nuansa alam dan pastel. Aku menyukainya, karena begitu sesuai dengan sosok tampan pemuda itu.
“Hai,” aku menjabat tangannya. Begitu besar dan hangat. Aku hampir saja tersentak ketika perasaan itu sekilas menghantui pikiranku. “Bagaimana kabarmu?” tanyaku. “Well, kau tampai baik.” Aku buru-buru menjawab pertanyaanku sendiri. Ia tersenyum tipis, kemudian duduk di beranda kafe yang menghadap ke jalanan. Aku mengikutinya. Turut memandang hujan dari balik bulu mataku.
“Aku minta maaf tentang masalah itu,” bisiknya. Aku tersenyum dan menggeleng.
“Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Atau mungkin aku yang seharusnya minta maaf,” bisikku. Ia menoleh menatapku, namun aku tidak ingin balas menatapnya, tidak untuk kali ini.
“Aku melakukan banyak kesalahan padamu. Aku…”
“Sudahlah Ethan, itu masa lalu. Semuanya baik-baik saja sekarang.” Ujarku penuh keyakinann. Ethan tampak sedikit terkejut di sampingku. Kemudian ia tersenyum senang.
“Jadi selama ini bisa kita anggap sebagai kesalah pahaman?” tanyanya. Aku mengangkat bahu, masih dengan senyuman di wajahku. “Kalau begitu bisakah kita kembali seperti dulu? aku benar-benar menyayangimu.” katanya. Aku menatapnya ragu, kemudian menggeleng.
“Ethan, aku memang sudah memaafkanmu. Aku sudah melupakan semua itu. tapi tidakkah kau mengerti hujan kemarin selalu meninggalkan bekas.” Tuturku. Ethan menatapku tidak mengerti. Namun aku bisa melihat kekhawatiran di mata indahnya. Ah… mata indah itu… “Aku memang sudah melupakan semua sakit hatiku. Tapi bukan berarti aku akan kembali jatuh di lubang yang sama. Stidaknya aku tidak ingin itu terjadi.”  Ujarku kemudian berdiri, tersenyum sekilas dan berbalik pergi.
“Isabella, tapi hujan hari itu bisa saja membawa pelangi,” katanya, aku menghentikan langkahku. Mendesah dan menggeleng.
“Sayangnya hujan kemarin hanya meninggalkan lumpur. Dan aku tidak ingin terjatuh di lumpur yang sama, maaf.” Setetes air mata membasahi pipiku. Aku tidak mengusapnya, hanya membiarkannya membaur dengan gerimis yang mengiringi langkahku menjauh. Ya inilah yang tertinggal dari hujan kemarin. Lumpur darinya dan pelangi dari mentari yang lain…
                              ****
Hembusan angin dengan hujan rintik-rintik menerpa wajahku. Namun aku tidak peduli. Aku ingin merasakan setiap tetesan itu. aku ingin mengenang setiap tekanan kecil darinya. Seperti aku mengenang semua keperihan dalam hati ini.
Kutatap pusaran itu dengan sedih, kemudian meletakan bunga mawar segar dekat batu nisannya. Aku tau aku sudah terlambat, namun aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menemuinya. Aku mencintainya sejak kecil. Menyayanginya setulus hati. Namun kini aku telah kehilangannya, kehilangan sosok yang paling ku kasihi.        
           





Selasa, 20 November 2012

HUJAN KEMARIN -15-


BAB LIMA BELAS
Just go…



Mungkin ini memang akhirnya. Akhir dari seluruh hidupku, hanya saja, jika boleh meminta dan pasti dikabulkan aku memilih untuk segera mati saat ini juga. Maaf Tuhan, bukan berarti aku tidak menghargai hidupku, hanya saja… aku mulai ragu, akankah aku dapat mengarungi sisa hidupku dengan hati serapuh ini.
Andai saja kata ‘andai’ itu berlaku di dunia ini, seperti sebuah lorong waktu yang bisa memperbaiki keadaan. Mungkin aku akan memintanya tetap tinggal bersamaku, atau aku akan pergi bersamanya, berangkat seperti biasa di hujan kala itu hingga kami tetap bersama hidup atau mati. Tapi ya, aku tau Tuhan. Ini adalah goresan takdirmu untukku. Hanya satu harapku, jika memang luka ini adalah sebuah ujian untukku, ku harap ujian ini akan membawa sebuah berkah.
Aku menghela nafas panjang ketika melihat langit yang belum juga menghilangkan kelabunya. Satu hal terakhir yang ingin ku lakukan saat ini adalah bertemu dengan kak Sam. Aku tidak terlalu yakin mengapa, tapi hati kecilku memaksaku untuk menemuinya, apapun alasannya.
Atau mungkin sebenarnya aku sudah tau apa yang akan ku katakan padanya. Hanya saja otakku menolak untuk mengakuinya. Aku terlalu keras hati untuk mengakui kebenarannya tentang Ethan. Ya, dia tentu sudah mengetahui hal ini. Aku merasa hatiku semakin sakit ketika mengingat hal memuakan itu. kekasihku… atau lebih tepatnya lagi, mantan kekasihku…
Aku sudah mencoba mencari kak Sam di sekolah, namun aku tidak bisa menemukannya. Dan sialnya tidak ada satu orangpun yang mengatakan dimana dia. Well, satu hal yang mereka semua lupakan adalah kedekatan kami.


“Isabella,” aku tersenyum santun pada wanita paruh baya yang berdiri di hadapanku. Wajahnya cantik meski memiliki sedikit keriput di sisi-sisi mata coklat mudanya.
“Hai tante Citra…” balasku sesopan mungkin. “Kak Sam ada?” tanyaku. Tante Citra tertegun sejenak. Ia memalingkan pandangannya ke sembarang arah. “Tante, ada apa?” tanyaku. Tante Citra mendesah dan melirik ke dalam rumahnya yang sunyi.
“Tante akan panggilkan,” bisiknya pelan. satu hal yang sama sekali tidak pernah dilakukannya, Memanggilkan kak Sam ketika aku datang. Karena dia lebih sering menyuruhku langsung masuk ke kamarnya.
Aku mengaguk sekali, dan tante Citra langsung masuk kedalam rumahnya. Tiga menit, lima menit, bahkan sampai sepuluh menit kemudian tante Citra tidak juga kembali. Aku mendesah, mulai merasa cemas dan bosan menunggu. Akhirnya dengan perlahan aku berjalan mendekati kamar kak Sam.
“Aku tidak ingin bertemu dengannya…” Langkahku terhenti seketika. “Mom, sudahlah aku lelah,” aku menghapus air mataku yang menetes secepat mungkin. Tidak. aku tidak boleh menangis karena ini. Aku tidak boleh menangis karena ini…
“Sammuel tidak bisakah kau hanya mengatakan hai kepadanya? Dia putri sahabat mom,” aku menggeleng sedih ketika mendengar permohonan tante Citra.
“Sebaiknya aku pergi dulu,” aku tersentak ketika pintu kamar kak Sam terbuka lebar. Seorang gadis cantik dengan dress berwarna magenta mematung di ambang pintu. Untuk sesaat kami hanya saling pandang tak bersuara.
“Izzi…” sampai kemudian gadis cantik itu menyebut namaku dengan perlahan. Aku mencoba tersenyum ramah, namun sepertinya wajahku malah terlihat aneh dengan sebam mataku yang tak juga menghilang.
“Isabella??!” kemudian sosok jangkung itu menerobos keluar. Menyingkirkan gadis cantik itu dengan satu gerakan. Aku menahan nafasku untuk sesaat. Aku tidak mengerti, namun hatiku terasa begitu perih melihat mereka berdua berdiri di sana. Well, aku memang tidak memiliki alasan untuk menangis dan kecewa, tapi entah mengapa hal yang ingin ku lakukan adalah berteriak kecewa pada mereka.
“Izzi, kau harus mendengarkan penjelasan kami,” suara kak Lolita terdengar parau. Aku menggeleng, merasa tidak pantas untuk mendengar penjelasan apapun dari mereka. kak Sam memalingkan wajahnya. Saat ini ia tidak mengenakan kaca matanya, hingga denagn jelas aku bisa melihat kemilau indah dari mata coklat mudanya.
“Tidak apa-apa, aku hanya mampir sebentar,” bisikku setelah mampu menguasai gemuruh hatiku lagi. Kak Sam masih terdiam. “Aku hanya ingin mengatakan maaf padamu,” bisikku seraya menatap lurus kearah pemuda yang sama sekali tidak menatapku. “Ya, Ethan menyakitiku,” tambahku perih.
“Izzi…” tangan kak Lolita terulur padaku. Aku mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.
“Ah…” aku menggeleng pada tangannya. “Dan satu lagi, aku ingin mengucapkan selamat tinggal, terima kasih karena telah membantuku selama ini,” mata kak Lolita melebar ketika mendengar perkataanku. Namun kak Sam masih terdiam dengan seluruh keangkuhannya. Aku merasakan begitu konyol ketika air mata itu menetes perlahan. “Bye…” bisikku sebelum berbalik pergi.
“Izzi…” panggil kak Lolita. Aku menggeleng tanpa berhenti.
“Sudahlah, dia gadis yang kuat. Biarkan dia pergi,” aku mulai terisak mendengar kata-kata angkuhnya. Kuat?? Ya kuharap aku masih memiliki kekuatan itu. namun nyatanya, aku terlalu rapuh…
Selamat tinggal kak Sam… selamat tinggal semuanya. Mimpiku, harapanku, dan masa laluku…
                              ****
Aku mencengkram kepalaku yang terasa berdenyut perih. mataku sudah kabur karena tidak tidur sejak kemarin sore. Well, sepertinya aku mempunyai hobi baru untuk memenuhi hari-hariku meratapi semua rasa depresi itu.
“Sayang…” suara mama begitu pelan. namun aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas. “Papa sudah menjemputmu,” aku terdiam. Setetes air mata kembali mengalir. “Kau bisa pergi sekarang,”
Aku berbalik memeluk mama yang menangis pelan. “Ma, maafkan aku…” bisikku pelan. mama mengaguk menguatkan.
“Sudahlah sayang, mama mengerti… lagi pula kau mungkin akan merasa lebih baik disana,” aku menatapnya sedih. Bagaimana mungkin aku bisa merasa lebih baik tanpanya. Pelindung dan pelita hidupku. “Mama sangat menyayangimu, dan sampai kapanpun pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu,” mama mengusap air mataku. Aku juga ingin melakukannya, mengusap air matanya, mengusap seluruh kesedihannya.
“Tidak bisakah mama ikut?” pintaku lirih. Mama tersenyum perih dan menggeleng. Ya, aku tau… mama sudah bercerai dengan papa sejak aku kecil. Tapi tidak bisakah aku meminta untuk sekali ini saja??
“Izzi…”
“Aku mengerti ma,” potongku, lelah mendengar penjelasannya tentang perceraian memuakan itu. “Mama menyayangimu…” aku tidak membalasnya. Hatiku terlalu lelah untuk sekedar melontarkan apa yang kini memenuhi benakku.
                              ****
“Aku menyerah…” bisikku. Aku bisa mendengar nada terkejut dari sebrang sana. Namun diriku mengabaikannya.
“Kau hampir sampai,” desis suara itu, sedikit perih ku rasa. Namun lagi-lagi aku mengabaikannya.
“Aku tidak akan pernah sampai Le. Aku sudah mencoba beribu kali dan yang ku temui hanya jalan buntu.” Tuturku berusaha seriang mungkin. Hujan di luar sana membaurkan getar suaraku.
“Kau masih bisa mencoba lagi,”
“Mencoba untuk gagal kembali?” ujarku sarkastis. Lena tercekat. Aku tertegun perih. “Maaf Le, pesawatku akan berangkat sebentar lagi. Aku akan pergi, entah sementara atau selamanya.” Lena tidak menjawab. Namun aku bisa mengdenagr isakannya yang begitu perlahan. “Satu hal yang harus kau tau, aku menyayangimu.”
Dan telepon itu terputus. Seperti benang tipis yang menghubungkan aku dengan Lena. Semuanya terputus begitu saja. Begitu mudahnya. Begitu singkatnya, dan begitu menyakitkannya.


Sesaat kemudian aku menatap layar handphoneku yang sudah mati sejak dua hari yang lalu. Hembusan angin menerpa wajahku yang membeku. Kepedihan menyentak hatiku. Well, aku memang tidak membutuhkan apapun lagi kali ini untuk berhubungan dengannya. Lena akan berada bersamaku setiap saat. Seperti kali ini.
Kulirik sosoknya yang pucat di sampingku. Tapi mereka benar, terkadang kita harus meninggalkan masa lalu, tidak tentu saja tidak melupakannya, hanya menyimpannya sebagai pelajaran hidup. Bukan hidup dengan masa lalu.
“Cheryl,” papa memanggilku. “Ada yang ingin bertemu denganmu, cepatlah. Pesawat kita akan segera berangkat. Papa tunggu di depan,” ujarnya. aku mengerutkan keningku namun tetap mengaguk mengiyakan.
Dan kemudian sosok itu berdiri disana, menatapku dengan sosoknya yang rupawan. Aku menatapnya penuh luka. Ia begitu indah, begitu menakjubkan. Mata itu, rambut itu, hidung itu… semuanya membuatku seakan ingin menyentuhnya. Merasakan keindahan yang tak terkira. Mengungkapkan kerinduan yang tak terucap. Namun aku tidak tau dimana aku meletakan seluruh suaraku.
“Izzi…” bahkan suaranya begitu indah. Seperti lonceng yang tak tersentuh. Selama ini aku selalu menghindarinya. Well, pengecut memang, namun wajah itu memberikan luka teramat dalam padaku. Pada memoriku tentang sahabatku. “Aku ingin minta maaf,” bisik kak Stefan. Aku ingin menjawab perkataannya. Namun lidahku kelu tak dapat bergerak. “Aku tau, ini memang sangat buruk.” kak Stefan menyisir rambutnya dengan jemarinya. Wajahnya begitu mirip dengan sosok cantik tak kasat mata di sampingku. “Aku tau kau mungkin membenciku karena semua ini. Tapi aku benar-benar meminta maaf karena telah membuatmu sebagai kamuflase hubunganku, dan maaf telah mempermainkan perasaanmu,” aku merasakan air mata itu menetes begitu perih. “Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Lena. dan aku benar-benar minta maaf tentang kejadian kemarin,”
“Sudahlah kak,” akhirnya aku menemukan suaraku. “Aku sudah mengetahuinya, hanya saja… terkadang aku sengaja menutup mata dan telingaku.” Bisikku. kak Stefan terlihat begitu sedih. Aku mendesah perih. namun kemudian aku merasakan kepedihan yang lebih dalam lagi dari genggaman tangan Lena. “Aku harus pergi,” bisikku tercekat. Kak Stefan menatap jalanan dari balik jendela disamping kami.
“Tidak bisakah kau tetap tinggal?” Tanya Ethan yang tiba-tiba berada di belakang kak Stefan. Aku tidak berani mengangkat wajahku lagi. Aku menggeleng dan berjalan pelan. Mungkin aku memang pengecut. Namun aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk melihat mereka lagi. Perlahan aku melepaskan genggaman tangan Lena.
“Aku menyayangimu Le,” bisikku teramat pelan kemudian berjalan menjauh. Tidak. aku takkan pernah kembali berbalik untuk melihat semua luka itu. Tidak sebelum aku bisa menghapus semua ketakutan ini.

Aku berjalan perlahan. Dan akhirnya aku pun harus pergi. Entah sementara atau selamanya. Hanya pergi untuk sejenak memejamkan mataku dari kenyataan itu. aku menarik nafas panjang dan memantapkan langkahku. Ya, aku akan pergi. Meninggalkan seluruh kehidupanku di sini, meninggalkan sahabat terbaikku, meninggalkan ibuku tersayang, meninggalkan  memoriku, meninggalkan kak Sam, meninggalkan seluruh cintaku dan lukaku, meninggalkan sosok tercintaku, Ethan yang kini tengah menggenggam erat tangan kak Stefan.




Minggu, 18 November 2012

HUJAN KEMARIN -14-


BAB EMPAT BELAS
Sad Beautiful Tragedy


Lena berdiri menatapku di ambang pintu kamarku. “Ada apa?” tanyanya, ia langsung memelukku erat, membuatku kembali merasakan duri itu menusuk semakin dalam. “Izz… ada apa?” ia terdengar begitu khawatir. Membuatku kembali menangis keras. Ku mohon, berhenti bersikap baik padaku. Karena aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa membenci orang yang menyayangiku. “Izz… katakan padaku, ada apa? Apa yang terjadi?”
Sampai kapan kau akan berpura-pura tidak mengetahui apa yang tengah terjadi?!
Aku menggeleng. “Aku ingin sendiri,” desisku. Lena tampak tercekat, membeku di tempatnya. “Tinggalkan aku sendiri!” teriakku histeris. Lena menggeleng perlahan. “Biarkan aku sendiri, kumohon…” pintaku. “Berhenti mencampuri urusanku! Tidak bisakah kau hanya pergi saja dari kehidupanku?”
“Kau benar…” bisik Lena. Suaranya datar dan melayang di udara di sekitarku. “Aku seharusnya tidak mencampuri masalahmu,” bisiknya. “Aku seharusnya pergi, aku seharusnya…” aku tercekat ketika melihat Lena mulai meracau.
“Tidak Le… maksudku…”
“Kau benar. Kau benar… aku seharusnya tidak di sini,” ia menatap jemarinya nanar. Hatiku benar-benar sakit melihat kesedihan itu. air matanya… “Aku seharusnya meninggalkanmu,”
“tidak!” teriakku keras. Lena menatap sedih kearahku. “Tidak ku mohon,” pintaku. “Aku ingin kau di sini, bersamaku.”
“Tapi aku tidak seharusnya di sini,” tangisnya.

PRANG…
aku membanting frame foto kami. Ia menatapku perih. “Dengar kalau kau berani pergi aku akan membunuh diriku sendiri!” ku raih pecahan kaca yang cukup runcing. Ia terbelalak dan menggeleng.
“Tidakkah kau mengerti kalau aku harus pergi??!!” teriaknya.
“Aku tidak ingin kau pergi!” teriakku kalut.
Plak!
Tamparan itu begitu keras di pipiku. Menyengatku hingga ke hati. Menumpahkan air mataku. Namun kemudian pandanganku kabur ketika tanganku menyentuh pipi kiriku. Tidak ada memar di sana. Tidak, tidak  pernah ada memar disana, karena memang tidak ada yang menamparku. Lena tidak akan pernah menamparku. Lena tidak akan pernah, karena dia memang tidak pernah ada lagi di sampingku.
Aku menatap hujan dengan perih. Membayangkan betapa menyenangkannya jika aku bisa menumpahkan air mataku seperti langit menumpahkan hujan dengan begitu derasnya. Aku menggeleng perlahan. Menahan gemuruh hatiku untuk tidak berteriak memberontak. Kemudian aku merasakan lengan Lena menyentuh jemariku. Aku membuka mataku dan tidak ada yang menyentuh jemariku selain diriku sendiri. Dan itu pulalah yang terjadi selama ini.
Lena tidak pernah menyuruhku menjadi seorang pejuang cinta, aku sendiri yang menginginkannya; Lena tidak pernah membawa barang-barangnya kerumahku, aku sendiri yang membeli barang-barang itu; Lena tidak pernah mengubah diriku, mengeriting rambutku kala itu. tapi aku sendirilah yang melakukannya!; Lena tidak pernah memperkenalkan diriku pada Sazkia, aku sendirilah yang berdiri disana, memohon untuk bisa bergabung ke dalam klub cheers; dia tidak pernah melakukan apapun. Tidak pernah sama sekali! Karena Lena tidak lagi ada bersamaku.
“Lena sudah tidak ada Isabella,” aku menatap mama yang datang karena mendenagr teriakanku. Aku menggeleng tidak terima dengan kata-kata menyakitkannya. “Lena sudah meninggal sayang,” air mata mama menetes perlahan. Aku membeku menatapnya. “Kau harus bisa menerimanya,”
“Ma, Lena ada dan dia baru saja berada di sini, bersamaku… dia baru saja menemaniku,” mama memelukku erat. Aku mengerutkan keningku. Namun hati kecilku menjerit perih. “Izzi, Lena sudah meninggalkan kita enam bulan yang lalu karena kecelakaan itu, kau harus menerimanya.” Aku menggeleng keras. Mendorong bahu mama hingga menjauh.
“Tidak ma!! Lena masih hidup! Dia masih bersamaku, menemaniku!!! Dia yang selalu membantuku mengerjakan pr matematikaku, dia yang selalu menyemangatiku untuk terus berusaha!! Dia yang melakukannya ma!! Dia!!” air mataku menetes ketika tubuhku mulai limbung. “Dia selalu bersamaku ma… Lena belum mati,” isakku lemah. Mama kembali memelukku. Namun kini aku tidak memiliki kekuatan untuk mendorongnya. “Dia masih menemaniku ma… dia selalu di sini,”
“Iya sayang, mama tau kau sangat kehilangannya,” mama memelukku erat. “Menangislah sayang, mungkin Lena butuh air mata itu untuk sesekali, tapi kau harus tegar setelah ini.” Ujarnya. Aku menjarit dalam tangisku. Tidak ma… dia tidak membuatuhkan apapun dariku, aku yang membutuhkannya teramat sangat… sahabat kecilku… Lenaku yang baik hati…
“Tapi dia selalu bersamaku ma… dia tidak pernah meninggalkan kita,” aku merajuk.
“ya, dia selalu bersama kita. Dan kau tau itu. tetapi bukan di dunia nyata sayang… hanya di hati dan benak kita…”  aku menangis keras. Aku berteriak memberontak dalam pelukannya. Aku tidak ingin mengakui kenyataan itu!!! aku tidak ingin mendengarnya!! Aku tidak ingin Lena mati!!
Aku menatap Lena yang berdiri di ambang pintu. Wajah cantiknya tersenyum sedih padaku. Ia mengaguk perlahan kemudian air matanya mengalir. Oh Tuhan… aku ingin merengkuh wajahnya, mengapus air matanya, meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin membuatnya kembali tersenyum! Tapi kemudian dia menggeleng. Aku menangis keras ketika ia menunduk dan mundur menjauh. Tidak ku mohon jangan pergi!! Ku mohon!!! Aku berteriak tanpa suara.
“Aku selalu di hatimu,” bisiknya sebelum tubuhnya menghilang. Aku berteriak histeris kemudian memberontak pada kegelapanku sendiri.
                              ****
Aku terdiam tak bergerak ketika jam menunjukan pukul 7.15. hujan di luar sana semakin membesar. Tubuhku kaku tak bergerak, mulai merasa takut pada kegelapan mendung dan petir itu. Kedua tanganku mencengkram sisi kursiku dengan erat. Aku sudah lelah menunggu, hingga akhirnya ketukan itu terdengar juga.
“Selamat pagi tante,” suaranya begitu akrab di telingaku.
“Tunggu yah Le, tante panggilkan Izzi dulu,” aku memalingkan wajahku ketika mendengar kata-kata mama. Tak lama kemudian ketukan kembali terdengar dari depan pintu kamarku. “Izzi, Lena sudah datang. Kau benar-benar tidak mau sekolah?” Tanya mama. Aku tidak menjawab. Masih terbungkam oleh kekesalanku padanya karena kejadian kemarin sore.
“Aku tidak mau sekolah!” teriakku. “Bilang saja aku sakit!” mama menatap marah kearahku. Namun aku tidak peduli. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Aku tidak ingin bertemu dengan orang yang dengan keras menentang kepergianku ke Australia untuk meneruskan studi disana. aku membencinya.
“Tidak apa-apa tante, mungkin Izzi memang sakit,” aku mendesis jijik mendengar suaranya yang lembut. “Aku akan memintakan izin untuknya,” tambah gadis itu. “Aku akan berangkat sendiri,”
“Hm… terima kasih Lena,” aku mencibir muak mendengar kata-kata mama padanya. “Kamu hati-hati,” tambahnya. Aku bisa melihat Lena mengaguk dan berbalik keluar dari kamarku.
“Tunggu dulu!!” teriakku. Mama dan Lena menoleh kearahku. Aku memutar bola mataku ketika bangkit dari ranjang. “Aku titip ini ke kantor jurnal,” aku menyerahkan setumpuk kertas kepadanya.
“Izzi!” tegur mama. Aku mendesis tidak acuh. “Hari ini hujan, dan Lena akan kerepotan membawa payung dan tumpukan kertas sebanyak itu.” baru saja aku ingin membantah perkataan mama, namun gadis itu sudah terlebih dahulu membuka mulutnya.
“Tidak apa-apa tante, aku bisa.” Jawabnya penuh keyakinan. Aku mengendus kepadanya.
“Dengar kan ma? Dia bisa melakukannya sendiri,” ujarku angkuh. Lena menunduk sesaat. Aku mengangkat bahuku seakan tidak peduli padanya.
“Hm, Izzi… maaf,” katanya pelan. “Aku tidak bermaksud melarangmu untuk pergi menemui ayahmu,” katanya. Aku berbalik tidak peduli dengan kata-katanya. “Aku hanya merasa terguncang karena kau akan meninggalkanku,” tambahnya. Aku mengendus dan mengangkat tanganku tanpa berbalik.
“Sudahlah, aku tidak peduli lagi.” Kataku dingin. Lena terdiam sejenak sebelum akhirnya pergi.


Aku meninggalkannya??? Well, setidaknya itulah yang memang tampaknya akan terjadi pada hari itu. Ayahku yang tinggal di Australia mengusahakan sebuah beasiswa pertukaran pelajar untukku. Dan tentu saja ketika itu berhasil aku bahagia bukan main. Tetapi sahabatku sendiri menentangku.
Aku marah padanya. Marah teramat sangat. Aku terluka melihat ketidak sukaannya akan rencana itu. bukankah dia tau aku merindukan ayahku??!! Bukankah dia tau???!! Tapi mengapa ia justru melarangku pergi??
Oke, mungkin dia iri. Itu adalah hal bodoh yang ku pikirkan di hari berhujan kala itu. tentu, tentu saja sahabatku iri padaku. Tapi dia adalah sahabatku. Bagaimana mungkin ia tega melakukan itu??!! bagaimana mungkin?!
Aku terluka, dan enggan bertemu dengannya untuk alasan apapun. Meski Lena selalu menjemputku untuk berangkat sekolah bersama. Aku selalu menghindarinya, entah berangkat terlebih dahulu atau berangkat setelahnya. Aku muak padanya.
Hingga di hari berhujan kala itu. ia dengan tubuh ringkihnya kembali menjemputku. Aku memang sedang merasa tidak enak badan. Well, berlebihan memang, tetapi aku benar-benar tidak ingin berangkat bersamanya. Dan untuk berangkat sendiri aku terlalu takut pada gelap mendung kala itu.
Lena disana, berdiri mematung di pintu kamarku, berbicara dengan suaranya yang sendu pada mamaku. Dan aku memakinya dengan tatapanku. Membuat gadis penuh semangat itu menunduk lesu. Membuatku kehilangan senyuman indah seorang sahabat.
Dan aku melihatnya. Ya aku melihatnya berjalan sendiri dengan tumpukan kertas di tangannya dari jendela kamarku. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi padanya. Sama sekali tidak.
Ia selalu mengatakan takut kehilanganku. Namun tentu saja itu semua hanya omong kosong. Apa yang ia takutkan? Kami masih bersama hingga hari itu. tapi tentu, jika aku tau sebesar ini sakitnya kehilangan sosok yang ku sayangi, takkan pernah ku katakan perkataan buruk itu padanya.
Ia meninggalkanku, pada akhirnya. Tewas seketika pada kecelakaan di hari berhujan kala itu. pergi menjauh dari hidupku untuk selama-lamanya.
Penyesalan?!
Tidak, jangan tanyakan aku tentang kata itu. hidupku sudah penuh dengan seluruh luka yang takkan bisa terobati. Aku kehilangan satu-satunya sahabat terbaik yang menyayangiku apa adanya. Sahabat yang menemaniku di kala suka dan duka. Sahabat yang tidak pernah berhenti membantuku, seburuk apapun perlakuanku. Sahabat yang begitu ku sayangi…
Aku depresi, terluka karena kehilangannya. Mama sampai harus menjagaku siang dan malam. Menemani tidurku untuk menyadarkanku ketika bermimpi buruk. 3 bulan lamanya aku terus menjerit ketika hujan datang. Dan sampai saat ini pun aku masih takut pada hujan. Aku takut pada gelap, aku takut pada mendung, aku takut pada banyak hal yang mengingatkanku padanya. Atau lebih tepatnya pada perasaan kehilangannya. Aku takut.
Hingga akhirnya mama mulai tersenyum ketika menemukanku kembali tersenyum. Aku bisa melihat kelegaan di matanya, untuk sesaat, dan sesaat kemudian, ia hanya bisa menatap putrinya yang mulai berbicara sendiri dengan sedih. 
                              **** 


Dua hari kemudian aku baru bisa bangun dari tempat tidurku. Aku tidak sakit, namun hanya sedikit lelah. aku sudah mendapat banyak dispensasi dari sekolah semenjak kejadian 6 bulan yang lalu. Mereka seakan membiarkanku menyendiri karena lelah melihat tangisku yang berlebihan di sekolah.
“Kau mau sekolah?” Tanya mama ketika melihatku keluar kamar dengan seragam SMA ku. Aku mengaguk pelan. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya lagi. Aku ingin menjawabnya. Mengatakan yang sejujurnya, namun itu hanya akan membuatnya semakin sedih.
“Aku baik ma,” bisikku akhirnya. Mama menyentuh pundakku perlahan. “Aku baik-baik saja…” tambahku penuh luka.


Hari ini adalah hari audisi terakhir klub cheers diadakan. Dan aku sendiri tidak mengerti mengapa diriku datang kesekolah untuk hal menjijikan ini. Aku menatap gerbang rumahku dengan sedih. Mencoba kembali mengingat sosok Lena di sana, seperti yang ku lakukan selama ini. Ya dia di sana, menatap pilu padaku. Kami berjalan beriringan tanpa suara. Aku ingin menggenggam tangannya, namun aku melihat ia semakin menjauh setiap kali aku ingin menggapainya.
“Izzi,” Sazkia terlihat sedikit terkejut melihat kehadiranku. “Aku pikir kau sakit,” sakit karena Lena? ya. Aku menggeleng. Suasana lapangan basket kala itu sudah sangat ramai. Penuh oleh siswa siswi yang ingin menonton audisi terakhir ini. Jiwaku terasa kosong. Namun aku tetap mendengarkan instruksi dari Sazkia. Aku menatap kesekeliling kursi penonton, berharap bisa melihat sosok Lena. sekali saja… namun hingga saatnya aku dipanggil, sosok itu tidak pernah hadir.
Aku akan melakukan beberapa gerakan dance secara berkelompok. Kami berenam, dua orang dari kelas 2, dan empat orang lainnya kelas 1. Kami sudah berlatih dengan baik, dan kurasa aku bisa melakukannya.
“Kau baik-baik saja?” lagi-lagi pertanyaan itu yang terdengar. Aku menatap Aura, salah satu teman sekelompokku dengan penuh keyakinan. “Kau tidak usah memaksakan,” tambahnya. Aku menggeleng perlahan. Andai mereka tau apa yang sudah terjadi, mungkin mereka malah akan memaksaku untuk tetap duduk diam di rumah, meratapi semua lukaku. Tetapi aku mulai lelah dengan kepedihan itu.
“Aku baik-baik saja,” bisikku. “Bisa kita mulai sekarang?” tanyaku. Sazkia menatap kelompok kami dan mengaguk. Ia memutarkan lagu happy sad dengan beat rap hip-hop. Otakku sepenuhnya kosong, namun entah bagaimana tubuhku bisa bergerak mengikuti irama, sesuai dengan latihan, dan tampak lebih menyatu dengan musik itu.
Seluruh penonton seakan tersihir, mereka diam menatap kelompok kami. Aku memejamkan mataku dan merasakan sesuatu tengah menggerakan tubuhku dengan mudahnya. Semakin lama aku menari, semakin gelap relung hatiku. Aku tergagap dan langsung membuka mataku, tepat ketika aku melakukan gerakan berputar cepat. Jantungku seakan berhenti berdetak ketika melihat sosok tampannya di belakang sana. Ia menatapku dengan kepedihan yang tak terbaca. Seketika itu juga aku kehilangan kekuatanku.
“IZZI!!!” teriakan itu menggema ketika tubuhku ambruk begitu saja. aku mendengar teriakan mereka. Namun aku tidak bisa menjawab satu pun panggilan mereka. Tatapanku kosong dan mulai kabur ketika air mata itu tergenang di sana, hingga akhirnya gelap menguasai seluruh pandanganku.
                              ****
Aku tercekat dalam kegelapan. Nafasku mulai tersenggal-senggal. Aku ingin memberontak, namun tubuhku kaku tak bergerak.
“Izzi!!” seseorang mengguncangkan bahuku. Aku tersentak ketika tersadar dari mimpi burukku lagi. Wajah cantik Sazkia terlihat pucat.
“Maaf,” bisikku. Sazkia menggeleng perlahan. “Aku seharusnya tidak melakukan ini, memaksakan diriku terjun ke dalam bisang yang tidak ku kuasai,” kataku setelah hening cukup lama. Mataku menatap langit-langit ruang UKS tak berkedip.
“Kau salah Izz, kau berbakat, kau hebat.”
“Kak, aku bukan Lena sang gadis multilalen,”
“Aku tidak pernah menyamakanmu dengannya. Walaupun, harus ku akui, kau selalu mengingatkanku padanya. Kau seakan membawanya kembali hidup bersamamu,”
“Dia memang ada,” bisikku tercekat. Sazkia menggenggam erat jemariku.
“Kita semua merasakan kehilangan akan dirinya Izz. Kita semua… kau, aku, tante dan om Irawan, dan semua teman-teman di sini. Tapi kita harus merelakannya.”
“Aku tidak bisa membiarkannya pergi,” bisikku perih. Sazkia memelukku erat.
“Tidak ada yang menginginkannya,” bisiknya di telingaku. “tapi tidak ada pula yang bisa mencegahnya Izzi… sadarlah,” air mataku menetes perlahan pada kata-kata terakhirnya. Sadarlah?? Ya, seharusnya aku sadar kalau saat ini aku sendirian. Aku kehilangan poin-poin penting dalam hidupku. Cahaya dan senyuman dalam kehidupanku. 

HUJAN KEMARIN -13-


BAB TIGA BELAS
Tears in the Rain


Gelap menyentak diriku terbangun di tengah malam. Aku tergagap, dadaku mulai terasa sakit, aku mencoba benafas, namun beban tak kasat mata itu terus menghimpitku. Aku mencoba berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Air mataku mengalir perlahan, dan entah mengapa seluruh memori itu berputar di benakku, bagaikan film flashback tentang kehidupanku. Belaian lembut mama, dukungan papa, senyuman kak Lolita, semangat Sazkia, kebaikan Ethan, dan cahaya kecil dari kak Sam.
Nafasku tercekat. Aku membutuhkannya. Aku membutuhkan cahaya itu. aku membutuhkannya!!!
                              ****
Sazkia tersenyum manis ketika melihatku di kantin sekolah. Ia mengenakan bandana berwarna Abu-abu, sesuai dengan rok sekolah kami. Wajahnya yang cantik tampak berbinar. “Kau sudah siap dengan audisi terakhir ini?” tanyanya ketika menghampiri mejaku. Aku mengaguk pelan. “Bagus, karena aku sudah merekomendasikan dirimu secara ekslusif kepada guru Pembina,”
“Terima kasih,” bisikku. ia mengaguk santai kemudian berlalu pergi.


Pagi ini lagi-lagi aku tidak berangkat bersama Lena, dan aku mulai merasa gelisah karenanya. Aku terbiasa untuk melihat cengiran cantiknya setiap pagi. Aku terbiasa mendengar ocehan selamat pagi darinya. Aku terbiasa bersamanya…
“Aku mencarimu,” bisiknya pelan kemudian duduk di sampingku. Mataku melebar karena kelegaan yang teramat sangat. Ingin rasanya ku peluk tubuh itu, ku jaga hingga akhir hidupku.
“Maaf aku berangkat duluan,” kataku setelah diam cukup lama. Lena mendesah dan menerawang jauh kedepan. “Aku tidak akan pernah membiarkanmu berangkat sendiri lagi, aku janji…” aku merasakan perih dalam dadaku ketika mengatakan semua janji itu. Namun lagi-lagi Lena hanya tersenyum.
“Suatu hari nanti, kau harus meninggalkanku,” bisik Lena. aku menggeleng. Tidak! aku tidak akan pernah meninggalkannya. “Atau aku yang meninggalkanmu,” aku tercekat.
“Ku mohon jangan katakan itu, jangan lakukan itu!” kataku mulai lepas kendali. Lena menggenggam erat tanganku.
“Tidak. tentu saja aku tidak ingin melakukannya. Tidak pernah!!” tuturnya mencoba menenangkan. “Asal kau tetap bersedia menjadi sahabatku sampai kapanpun,” aku memeluknya. Tidak peduli dengan suasana kantin yang mulai ramai.
                              ****
Aku tau, aku sudah melakukan banyak kesalahan. Dan sejujurnya aku merasa muak pada diriku sendiri karena semua kebodohan yang ku lakukan. Entah mengapa, mimpi ku beberapa hari yang lalu membuatku merasa semakin tertekan. Aku tau ini pasti berhubungan erat dengan sosok kak Sam. Walau aku masih tidak mengerti alasan akan sikap anehnya selama ini, tapi aku tetap harus minta maaf padanya, well… atau setidaknya, aku ingin bertemu dengannya.
Alina membeku ketika melihatku membuka pintu kantor jurnal. Aku mendesis kepada reaksinya yang seakan-akan melihat hantu. Aku mengerutkan kening heran melihat tumpukan kertas bertebaran dimana-mana. Bagaimana mungkin kak Sam yang super perfeksionis membiarkan kantornya berantakan seperti ini. Terlebih lagi kak Lolita yang juga menyukai kebersihan. “Mana kak Sam?” tudingku. Alina tampak gelagapan mendengar pertanyaanku. Dan tentu saja itu membuatku semakin penasaran.
“Dia sibuk,” bisik Alina setelah diam cukup lama. Aku mengendus, itu bukanlah jawaban yang ingin ku dengar.
“Dimana dia?” tanyaku lagi.
“Apa pedulimu?!” mataku terbelalak ketika mendengar teriakannya. “Dimanapun dia berada saat ini bukanlah urusanmu.” Aku menatapnya marah. “Pergilah, kau tidak lagi di butuhkan di sini.” Perkataan sinis itu menghujam tepat di dadaku.
“Baik,” desisku dingin sebelum berbalik dan pergi. Aku tidak terlalu yakin, namun rasanya hatiku seperti hancur berkeping-keping. Dan sialnya, semua yang di katakan Alina adalah benar adanya. Aku memang tidak lagi dibutuhkan di sana, sebesar apapun aku membutuhkan mereka.
                              ****
Setidaknya aku masih memiliki Lena dan Ethan yang masih setia bersamaku, menjagaku dan menghiburku dalam suka dan duka.
Dua hari menjelang audisi ketika klub cheers, aku sudah menghapal hampir semua gerakan itu. Sazkia tidak ragu-ragu untuk memuji gerakanku. Dan ku rasa, aku memang sudah siap untuk menampilkan diriku. Lagi pula, toh benar apa kata Lena, aku tidak memiliki alasan untuk ragu. Tidak sama sekali.
Hari ini aku pulang sendiri, lagi pula Ethan harus pergi ke bengkel untuk mengambil mobilnya. Lena, seperti biasa gadis itu sudah pulang sejak detik pertama bel berakhir di mulai. Well, sepi memang berjalan sendiri seperti ini, tetapi aku tau Lena sengaja meninggalkanku karena dia pikir aku akan pulang bersama Ethan lagi.
Aku tersenyum tipis ketika melewati toko coklat beberapa blok dari komplek perumahanku. Ya, mungkin aku bisa membeli beberapa coklat dan memakannya bersama Lena, batinku.
Gemerincing lonceng pintu terdengar nyaring ketika aku membuka pintu toko berwarna coklat itu. harum coklat langsung menyerbu indra penciumanku. Beberapa rak berjejer rapi di sisi kanan dan kiri toko itu. semuanya memamerkan keindahan makanan manis kesukaanku dan Lena. aku berjalan pelan kearah rak berisikan coklat batangan. Mengambil beberapa coklat hitam dan putih, dan ditambah beberapa permen caramel. Luna pasti suka ini…
Aku tersenyum di sepanjang jalan menuju rumahnya. Tidak sabar untuk memberinya kejutan manis ini.
Namun kemudian langkahku terhenti beberapa meter dari rumah abu-abu Lena. senyumanku perlahan menghilang, tergantikan oleh keheranan ketika melihat sosok jangkung itu di sana. Mungkin dengan jarak sejauh ini, aku bisa saja salah mengenali seseorang, mungkin saja.
Tetapi lain halnya jika kau mengenali orang itu dengan sangat baik. Ya, sebaik kau mengenali kekasihmu.
Bukankah ada banyak alasan yang bisa membuatnya tidak sengaja berada di rumah abu-abu itu? bukankah itu masuk akal?? Tapi mengapa hatiku tetap merasa sesak?? Mengapa tubuhku membeku tidak dapat bergerak??
Setelah kembali menguasai emosiku, ku raih ponselku dan menekan nomor yang sudah ku hafal di luar kepala. Pada deringan ketika telepon itu diangkat.
“Ya Izzi…” suara di sebrang sana cukup santai. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tangis. “Izzi kau di sana?” tanyanya seraya melihat layar handphonenya.
“Ya,” bisikku tercekat.
“Ah, aku pikir kau tidak sengaja meneleponku,” guraunya. Namun aku sama sekali tidak tertarik untuk tersenyum.
“Kau dimana?” tanyaku.
“Ah, aku baru saja pulang dari bengkel.” Katanya. Aku mendelikan mataku.
“Secepat ini?”
Ethan melirik jam tangannya. “I… itu, iya.” Katanya sedikit gelagapan. “Kau tau, ternyata mereka masih belum menyelesaikannya. Jadi tadi aku langsung pulang,” tuturnya lancar. aku mengaguk.
“Aku mengerti,” bisikku.
Ia mendesah. “Baiklah, aku harus pergi dulu sekarang. Kau beristirahatlah, nanti malam ku jemput jam tujuh, bye…”
“Bye.” Bisikku dan langsung menutup telepon itu. Aku berbalik secepat mungkin. Enggan melihat siapa yang membukakan pintu untuknya di rumah bercat abu-abu itu.
                              ****
Air mataku kembali menetes perlahan ketika suara riang di sebrang sana terdengar khawatir. “Ayolah Izz, apa aku perlu kesana untuk membantumu memilihkan pakaian?? Kau tau, kau cantik mengenakan apapun,” aku mendesah. Aku tidak bisa menjawabnya, khawatir jika tangis lah yang akan keluar dari mulutku. “Izzi sahabatku dengar, Dia mencintaimu!” tubuhku membeku di tempatku.
“Dia tidak.” kataku tercekat air mataku sendiri. Lena terdiam di sebrang sana.
“Kalau begitu buat dia mencintaimu,” desisnya, kini terdengan dingin dan perih. aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Aku terlalu lelah untuk berpura-pura.


Malam itu sesuai janjinya Ethan menjemputku pukul 7. Aku tersenyum manis melihat sosok tampannya. Ia mengenakan t-shirt abu-abu dan jeans hitam. Begitu kasual dan menawan. Sedangkan aku, sekeras apapun aku berusaha, aku tetaplah Izzi yang biasa.
Kami pergi ke sebuah kafe tidak jauh dari rumahku. Suasana kafe itu cukup romantis, dengan cahaya temaram dari lampu-lampu pijar yang di pasangkan di sekeliling kafe. Itu adalah kafe kesukaanku. Kafe dengan nuansa taman yang natural. Aku senang melihat bunga-bunga kecil yang di tanam berbaris di halamannya, aku suka tumbuhan merambat yang melingkari tiang-tiang kayunya.
“Kau mau pesan apa?” pertanyaan Ethan mengembalikan kesadaranku. Aku mengangkat bahuku, mengutarakan kata terserah padanya. Ethan mendesah sebelum mengatakan pesanannya pada pelayan. Dan kemudian aku kembali sibuk dengan bunga-bunga itu.
Tiba-tiba setetes demi setetes hujan mulai membasahi raya yang gersang. Ethan menggerutu tidak jelas pada hujan. Namun aku tidak berminat menanggapinya. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Aku terlalu sibuk dengan gemuruh hatiku yang tidak menentu.
Ethan memanggilku beberapa kali. Aku mendengarnya, namun enggan menoleh. Hingga akhirnya, pada panggilannya yang ketiga aku menatapnya. “Kau baik-baik saja?” tanyanya. Aku mengaguk pelan, kemudian membetulkan tatanan rambutku yang sedikit berantakan, menyelipkan sehelai rambutku kebelakang telinga.
Tubuh Ethan sedikit menegang di depanku. Aku menatapnya dengan tatapan hangat, tatapan penuh cinta yang takkan bisa ku berikan pada siapapun lagi. “Kau tau, hari ini semuanya begitu lucu,” bisikku sambil tersenyum lebar. “Kalau saja kau melihatnya,” tambahku, kini mulai tertawa perih. Ethan membeku di hadapanku. Ia mengalihkan pandangannya dari anting berbentuk bunga cantik di telingaku.  
“Izzi, aku ingin mengatakan sesuatu,” ujarnya. Aku menghentikan tawaku. Menatapnya tak berkedip, seolah-olah dengan serius menunggu kata-katanya. “Mungkin kita tidak bisa terus seperti ini,” ujarnya. Aku menatapnya tidak mengerti, kemudian mencoba mencari canda di wajahnya, sayangnya, tidak ada apapun di sana. Dan untuk sesaat, aku menyerah. “Aku mencintai orang lain,” aku menatapnya tidak percaya. Namun hati kecilku menjerit. Air mataku menetes perlahan. “Izzi, kau adalah gadis yang baik, kau adalah gadis yang sangat istimewa. Tapi aku tidak bisa terus bersamamu, menyakitimu…”
“Tapi kau tidak pernah menyakitiku,”
“Itu karena aku berusaha menutupinya darimu. Dan aku tau, terkadang kau sengaja menutup matamu dari kenyataan itu,” bisiknya. Aku menatapnya perih. Lalu tidak bisakah ia terus berdiri di sana??! Tidak bisakah ia terus berpura-pura di hadapanku??! Tidak bisakah ia berpura-pura mencintaiku?? Dan aku berjanji akan terus menutup mataku!
“Izzi…” panggil suara di depanku. Aku terkesiap dan mengangkat wajahku. “Kau baik-baik saja?” suara itu terdengar khawatir. Aku tersenyum dan mengangkat wajahku. “Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku lelah berpura-pura,” ujarnya. Aku menatapnya perih. Entah apa yang harus ku katakan pada Lena, ia tentu akan sangat kecewa dengan semua kenyataan ini.
“Siapa… siapa yang kau cintai?” tanyaku dingin. Ia tertunduk.
“Kau tidak perlu tau,” ujarnya. Aku mengaguk perih. “Izz, kau tau kau sangat berharga dan aku…”
“Aku mengerti,” bisikku. aku menatap hujan yang mengguyur raya di luar sana. Tuhan, aku memang bodoh. Bagaimana mungkin selama ini aku selalu menutup mataku dari kenyataan ini? Kenyataan bahwa ia memang tidak pernah menatapku sepenuhnya! Kenyataan bahwa ia selalu menyimpan senyumannya untuk orang lain! Kenyataan bahwa ia selalu menyayangi orang lain! Kenyataan bahwa ia tidak menyukaiku!
Tubuhku muak menerima kenyataan ini!
Bagaimana mungkin ia mencintai orang lain dan itu bukanlah aku. Aku benar-benar mencintainya. Aku mencintainya sejak pertama kali mata indah itu menyapa hatiku. Saat pertama kali aku menghirup aroma tubuhnya yang menyegarkan. Aku mencintainya sepenuh hatiku. Dan dia berdiri di sana mengatakan sama sekali tidak mencintaiku. Seharusnya aku sedih mendengarnya, namun aku terlalu muak untuk di katakan sedih. Aku muak pada diriku sendiri yang menutup diri pada ke anehan ini. Aku seharusnya sadar ia lebih sering berada di rumah Lena dari pada di rumahku. Aku harusnya menyadari itu. namun jiwaku tidak ingin mengakuinya! Cintaku memaksaku untuk menutup mata dan telingaku pada kenyataan itu.
“Izzi…” bisiknya. Aku merasakan amis darah dari bibir bawahku yang sengaja ku gigit untuk menahan isak. “Kau tentu akan mendapatkan yang lebih baik dariku,” 
Aku tertawa perih dan mengaguk. “Ya mungkin,” bisikku perih.

“Maafkan aku, tapi aku harus pergi,” ujarnya sebelum berlalu pergi meninggalkanku. Aku tidak berani menatapnya lagi. Aku tidak bisa menata hatiku lagi. Aku tidak tau bagaimana harus bersikap pada Lena. Aku tidak tau bagaimana. Aku menyayanginya sepenuh hatiku. Ia adalah mentari dalam gelapku. Hujan dalam gersangku. Tapi mengapa kini semuanya terasa menjadi duri dalam hatiku??