Selasa, 21 Juli 2015

VEIN AMORA - 1


“Miss Fara, ini sudah nggak bisa dibiarkan. Di kelas saya, bahkan dia nggak mau bicara sama sekali! Kita harus lebih tegas.”

Fara menghela nafas panjang sambil menatap buku laporan penilaian siswa kelas dua di tangannya. Ruangan kepala sekolah itu terasa hening mencekam. Seorang bapak paruh baya dengan kaca mata yang hampir melorot di hidungnya, ikut menunggu komentar dari Fara. Ia adalah kepala sekolah di sekolah itu sejak 5 tahun yang lalu. Dan ia sudah jatuh cinta pada sosok guru bahasa inggris yang dianggapnya sangat tangguh itu, jadi ia hanya menunggu Fara berkomentar.

Foto gadis kecil di tangan Fara terlihat memudar di matanya. Kepalanya pening.

“Kita harus keluarkan dia.” Ujar Manda, sang guru matematika dengan tegas. Umurnya tidak terpaut jauh dari Fara. Hanya 3 tahun di atasnya. Namun dengan kaca mata bundar, dan rambut yang selalu tersanggul, membuatnya terlihat lebih tua 10 tahun dari pada umur yang sebenarnya.

No,” potong Fara cepat. Kepala yang hampir botak di sampingnya menoleh. “Pak Abraham, saya 
yakin dia masih bisa berubah.”

“Berubah?! Miss, anda udah bilang itu seribu kali, dan sekarang anda liat, dia malah semakin menjadi-jadi. Dia hampir aja buat celaka siswa yang lain!”

“Itu nggak disengaja bu!” ujar Fara dengan tegas. Ia sangat tidak suka kalau ada yang menjelek-jelekan muridnya.

“Nggak disengaja?! Maksud anda dia nggak sengaja bawa korek dari rumahnya, lalu bakar Koran di dalem kelas? Itu nggak disengaja??!”

“Dia nggak sengaja mencelakakan orang lain!”

“Oke, sudah hampir jam lima, sepertinya kita lanjutkan pembahasan ini besok. Bu Manda, saya sudah menerima semua buktinya, dan rekaman cctv juga, akan saya perlajari. Miss Fara, kita akan bahas ini besok.” Ujar Abraham tua menengahkan. Manda melirik sinis Fara yang masih terduduk, sebelum berpamitan dan pergi.

“Pak…” bisik Fara ketika wanita itu benar-benar sudah menghilang.

“Sudah Fara, saya akan pelajari ini, kita bahas besok.” Ujar Abraham, membungkam Fara dalam ketidak puasan.

Ia berjalan keluar ruang kepala sekolah dengan perasaan gundah. Lorong sekolah yang panjang sudah sepi. Murid-murid sudah pulang sejak jam 3. Ekstrakulikuler sudah selelsai sejak jam 4, sekarang hanya tersisa segelintir orang di sekolah, dan itu membuat semuanya semakin hening.

***

“Ngelamun lagi…” tegur seorang pria berumur 28 tahun sambil membawa dua cangkir teh di tangannya. ia meletakannya di atas meja, lalu merangkul kekasihnya yang terngah duduk memeluk lutut di atas sofa.

“Aku lagi nonton tv…” gumam gadis itu sambil mengganti chanel tv di hadapannya.

“Fara…” pria itu meraih remote di tangan Fara, membuat gadis itu mendesah pelan. “Kenapa? Coba cerita sama aku.” Ia mengarahkan tubuh mungil Fara hingga menghadap kearahnya. “Aku nggak suka ada kerutan di sini,” ia meraba kerutan di antara kedua mata Fara dengan ibu jarinya. “Apa lagi kalau mata ini nggak bersinar kayak biasanya.” Mengecup kedua mata itu dengan lembut, Fara terkekeh pelan. “Nah, gitu dong, kan cantik kalau senyum.” Fara manyun. Namun matanya mulai kembali bersinar. “Masalah di sekolah lagi?” tanyanya dengan lembut.

Fara mendesah, lalu mengangguk samar. “Hari ini Danisa ngebakar ruang penyimpanan di belakang kelas.”

“Hahahahaha…” tawa pria itu meledak.

“Serius masss… kenapa malah diketawain sih??” Fara mencubit pinggang pria di sampingnya dengan gemas.

“Hahahaha abis kayaknya makin hari dia makin hebat aja.”

Fara memutar matanya. “Iya hebat. Tapi kali ini hampir aja ngebahayain murid yang lain. Dan si 
Wanda ngotot banget mau keluarin dia!”

“Hahahaha dan kamu kalah argument sama Wanda?”

Fara menatap sinis pria di sampingnya. “Jangan panggil aku Fabian Fara kalau aku nggak bisa pertahanin Danisa!” katanya dengan angkuh.

Pria di sampingnya mengulum senyum bangga. “Aku tau, kamu nggak mungkin jadi Fabian Fara calon istri Dimas Fahryan, kalau kamu nggak tangguh.”

Fara terkikik pelan. Lalu ketika Dimas menariknya kedalam pelukannya, ia tidak menolak. Fara menyandarkan kepalanya ke dada Dimas yang bidang. Membiarkan pria itu memeluk tubuhnya dengan santai, meletakan dagunya di atas rambut Fara, sambil sesekali mencium puncak kepalanya. Meringkuk di sofa, dalam pelukan pria itu, adalah hal yang paling disukai Fara. Ia bisa tahan berjam-jam dalam keadaan seperti itu, mendengarkan irama konstan jantung kekasihnya.

“Tapi Sayang…” bisiknya perlahan, “Kalau kamu capek. Kamu bisa keluar dari sekolah.” Suara baritone Dimas terdengar samar.

“Aku masih menikmati mas,” jawab Fara di dalam pelukan pria itu.

“Hm…” Dimas mempererat pelukannya. “Iya, tapi setelah dua bulan ini, kamu harus lepas yah. Aku mau istriku tinggal di rumah. Cari nafkah itu urusan suami. Kamu nggak perlu pusingin kepala kecil kamu sama urusan yang lain.” Dimas mencium puncak kepala gadis di dalam dekapannya itu dengan penuh sayang, menghirup aroma sampo yang selalu menjadi kesukaannya. Fara menarik nafas panjang, lalu mengadah untuk menatap kedua mata indah Dimas.

“Kalau aku nggak kerja, nanti aku kerjaannya Cuma ngabisin uang mas.”

“Aku nggak keberatan kok.” Dimas menatap kedua mata mungil Fara dengan sungguh-sungguh. “Itu emang tanggung jawab aku sebagai suami. Tanggung jawab kamu sebagai istri ya ngurus aku sama rumah kita. Aku akan lakuin apapun asal kamu bahagia. Itu komitmen aku. Aku akan coba jadi suami yang baik, dan ayah yang baik buat anak-anak kita nanti.”

Wajah Fara bersemu merah. Dadanya hangat, penuh perasaan berbunga-bunga. Tapi ia masih belum lelah berargumen. “Kalau aku bosen gimana?” tanyanya lugu.

“Kan ada aku, kamu berhak telpon aku kapanpun kamu mau.” Ujar Dimas sebelum mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir tipis Fara. “Aku akan selalu ada buat kamu.” katanya sungguh-sungguh, lalu menciumnya lebih dalam lagi.

***

“Lo bakal merit???!!!! Astagaa Faryunn!!!!! Gue seneng banget dengernya!!!” Fara menutup telinganya ketika mendengar teriakan dari sahabatnya, Camela. “Hahahaha gue pikir nggak akan ada cowok waras yang mau nikahin cewek angkuh kayak elo.” Katanya lagi diiringi tawa yang sangat keras.

“Oh, Thanks Cam.” senyum Fara berpura-pura sinis.

“Ya ampun Far… gue juga seneng banget loh.” Kalisa, gadis hitam manis yang duduk semeja dengan mereka menyeka air mata harunya. “Gue pikir lo udah nggak peduli sama cowok.”

“Hihihihi rese. Emang gue lesbi?!” gerutu Fara.

“Jadi akhirnya Dimas mau juga nikahin lo?” masih dengan nada tidak percaya, Cam menatap sinis sahabatnya. didalam lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat iri. Namun ia tidak mungkin mengatakannya.

“Yah… gitulah…” Fara tersenyum malu-malu. Hatinya masih penuh dengan perasaan bahagia. “Gue juga nggak nyangka.” Katanya sungguh-sungguh. Selama masa kuliah, Dimas adalah seniornya, dan ia jatuh cinta pada pria cerdas itu. seluruh kata-katanya mampu mengalihkan dunia Fara, hingga ia bertekuk lutut pada sosok Dimas Fahrayyan. “Tapi jangan kasih tau yang lainnya dulu yah. Gue nggak mau jadi pada heboh.”

“Hahahahaha berita penting masa kita tahan-tahan?” goda Cam.

“Serius… gue nggak mau mereka pada rame. Lo tau sendiri lah.”

“Hahahaha okay. Jadi apa yang bisa kita bantu?” tanya Cam lagi. “Prawedding, udah tentuin mau tema apa? undangan? Tempat? Tanggal?”

“Hahahaha belummm… ternyata ribet banget yah… hahaha.”

“Ya iyalahh… merit kan sekali seumur hidup Far!” ujar Kalisa penuh semangat.

“Gue sebenernya Cuma mau akad aja sama Dimas.”

“Seriusss lo??!!! Tanpa resepsi?” pekik Cam tidak percaya.

Fara mengangkat bahu. “Nggak tau deh, tapi rasanya akad juga udah cukup. Yang penting sah.” Katanya dengan senyuman manis. “Itu lebih dari cukup.”

Kalisa menggenggam jemari Fara di atas meja. Matanya ikut tersenyum menatap wajah indah Fara. “Gue bener-bener bahagia liat lo bahagia Far.” Ujarnya sungguh-sungguh. “Lo berhak bahagia.”

“Thanks Lis.” Balas Fara. “Gue juga nggak nyangka ternyata gue bisa sebahagia ini sama Dimas. 
Rasanya kayak mimpi. Gue masih nggak percaya kalau Dimas ngelamar gue. dia manis banget. Dan dia cerdas! He’s hot as hell!!”

Mereka tertawa.

“Tetep aja nggak ada yang ngalahin keseksian Mike.” Seloroh Cam, menyebutkan pacar terbarunya, seorang bankir muda yang sangat seksi bagi Cam.

“Ah Faraaa… gue jadi pengen nangis…” ujar Kalisa seraya memeluk tubuh Fara.

“Hahahaha lebay ah Lis!”

“Hahahaha jadi sekarang udah siap nih jadi nyonya Fara Fahryan?”

Fara terkikik pada panggilan itu. Nama itu terasa sangat pas bersanding dengan namanya, seakan Tuhan memang sudah menyiapkan nama itu untuknya. “Lebih dari pada sekedar siap.” Katanya dengan mantap. Ternyata cinta bisa mengubah segalanya.

 ***

VEIN AMORA - Prolog -

PROLOG

“Can we pretending that we are alright?” gadis itu bertanya dalam suara yang serak. Tidak ada jawaban, hening, meski ia bisa mendengar desahan nafas orang disebrang sana dari balik ponselnya, entah berapa mil jauhnya ia darinya. “Please… I love you so much. You know it… please… don’t leave me…”

Klik.

Itu adalah kata terakhir yang ia ucapkan, entah didengar atau tidak. Sambungan telepon sore itu menjadi sambungan terakhir dirinya dengan orang yang sangat dicintainya selama ini. Rasanya seperti menelan sebilah pisau. Bahkan bernafas pun ia merasa perih.

Ditatapnya ruangan kamar yang membisu itu dengan perasaan hampa. Ia tidak percaya, masih tidak ingin percaya. ruangan itu masih sama, masih penuh dengan barang-barangnya, masih tersemat aroma parfumnya. Tidak ada yang berubah, kecuali kenyataan bahwa pemilik kamar itu tidak akan pernah kembali untuk menginjakan kakinya lagi di sana. Tidak akan pernah.

Fara, nama gadis yang terngah menggenggam erat ponselnya itu, terduduk lemas di balik pintu kamar kontrakan kekasihnya. Ia mencengkram celana jeansnya dengan sangat keras, sampai-sampai buku jarinya memutih. Di dalam dadanya, ia masih berharap bahwa semua ini hanya tipuan belaka, bahwa kekasihnya hanya sedang mengerjainya. Lalu setelah puas melihatnya menangis, ia akan kembali. Kekasihnya akan kembali…

Sekali lagi Fara membuka ponselnya, memeriksa pesan masuk di inboxnya. Pesan yang mampu meremukan hatinya yang tulus mencinta.


-Aku mau kita putus-


SHADE


Seperti pejuang yang kalah.

Tik tok tik tok.

Aku mendengar suara detak jam tanganku ketika daguku bertumpu pada tangan kiriku. Tik tok, tik tok. Suaranya bergetar sampai ke dadaku yang terdalam. Apa aku kalah?

Sekali lagi aku menatap layar ponselku yang menghitam, tidak ada pesan yang masuk, atau mungkin yang akan masuk, yang sangat aku harapkan. Semuanya membisu. Tapi aku tau mereka tidak menertawakanku, mereka menatap iba, dan itu justru terasa semakin buruk.

Perasaan bahagia mengenai kepulangannya beberapa hari yang lalu mendadak sirna. Binar indah di mataku ketika melihatnya berpose di depan Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri palu, sesaat sebelum keberangkatannya menuju bandara Soekarno Hatta, hilang sudah. Tergantikan oleh pandangan kosong dari mataku.

Mulutku pahit, mungkin karena selama hampir dua hari tidak membiarkan makanan apapun masuk ke dalam lambungku, selain dua aspirin dan CTM semalam untuk membantuku tidur tanpa gangguan pikiran apapun.

Jam 1 di gramedia.

Itu adalah janji yang kutetapkan tanpa menunggu atau mengharapkan jawabannya. Aku sudah memperisapkan diriku untuk kenyataan terburuk yang mungkin akan kutemui. Tapi nyatanya aku tidak pernah bisa kuat. Hatiku hancur lebur, kehilangan harap. Sialnya, aku sama sekali tidak bisa menangis, aku kehilangan rasa sedihku. Atau mungkin semua ini sudah terlalu menyakitkan hingga aku tidak bisa lagi merasa sedih? Aku pias, mati rasa.

H-1 menjelang lebaran aku mendapatkan pesan singkatnya, lengkap dengan fotonya di samping jendela pesawat. Aku masih menertawakannya, lalu sedikit mengomelinya karena masih menggunakan ponsel ketika di pesawat. Aku ingin ia pulang dengan selamat, bukan hanya sekedar nama. Aku ingin menjemputnya di bandara. Seperti yang kerap kulihat di film-film, dimana sang wanita akan berlari untuk memeluk kekasihnya yang baru saja pulang. Tapi di Indonesia? Aku pasti akan membunuh diriku sendiri jika melakukan hal itu. Terlebih, aku memang tidak mengambil cuti hingga hari lebaran.

Kepulangannya hanya dalam hitungan hari, 6 hari. Dengan hati-hati aku menentukan tanggal untuk bertemu dengannya. Aku tidak ingin mengganggunya ketika sedang bersama keluarganya. Ia pasti merindukan mereka lebih dari apapun. Dan aku tidak ingin menjadi penengah yang tidak diharapkan.
Minggu, tanggal 19.

Aku tidak bisa berhenti tersenyum di hari sabtu. Ini akan menjadi first date-ku dengannya. Aku sudah memikirkan tentang apa yang mungkin aku kenakan ketika bertemu dengannya. Sepatu, pakaian, kerudung, bahkan make up seperti apa yang harus aku gunakan ketika saat istimewa itu datang. Aku sudah memikirkannya lama sebelum aku tau ia akan pulang. Aku sudah mempersiapkan diriku dengan sangat matang. Aku ingin tampil secantik mungkin di hadapannya, tanpa menjadi orang lain. Aku ingin ia mencintaiku karena diriku sendiri. Aku ingin menjadi satu-satunya gadis yang bersemayam dihatinya.

Muhammad Rayyan : Yang, kalau bukan minggu, senin aja yah?

Sebuah pesan singkat masuk ketika aku tengah memilih sepatu mana yang akan kugunakan besok. Aku terduduk di depan lemariku. Dua sepatu yang sedang kujajal langsung kutinggalkan.

Sabilla Amira : Apanya?

tanyaku, berpura-pura lugu, berpura-pura tidak tau, tidak mengerti. Berharap ia menjelaskan dengan lebih baik.

Muhammad Rayyan : Ya ampun, pikiran kamu lagi kemana sih yang?!

Nadanya marah, atau tidak, aku tidak tau. Itulah buruknya sosial media. Semuanya tergantung yang membaca, bukan yang menulis. Semua ketikan itu.

Aku diam, bingung harus menjawab apa. Aku tau apa yang dia maksud, hanya saja aku ingin memastikannya.

Sabilla Amira : Oh, I got it. Maksud kamu hari ketemuan kita kan?

ketikku, tanpa balasan.

Sabilla Amira : Yang, kalau kamu nggak mau ketemu aku, its okay. Aku nggak apa-apa. kayaknya di sini, Cuma aku yang mau ketemu. Tapi kamu sama sekali nggak mau. Terus aku harus gimana?

Marah, atau lebih tepatnya kecewa. Aku sangat kecewa. Aku sudah memimpikan hari esok entah sejak kapan. Aku sudah membicarakannya dengan semua orang disekitarku. Apa yang harus aku katakan pada dunia kelak?

Lama tidak berbalas. Itu adalah sikap yang selalu ia ambil ketika keadaan menjadi runyam. Lari. Kabur. Ia memilih untuk diam, untuk meredakan amarahku, atau mungkin untuk mengabaikanku.

Dengan perasaan yang tidak menentu aku menendang sepatu-sepatuku, percuma!

Lalu pergi tidur.

***

Keesokan harinya, keadaan memburuk. Pesanku tidak berbalas. Dan saat aku coba meneleponnya, sepertinya nomorku sengaja ia blokir. Aku tidak terlalu yakin, tapi aku sama sekali kehilangan kontaknya. Ini membuatku semakin ketakutan. Aku pernah mengalaminya 2 bulan yang lalu. Ketika aku kehilangan kontaknya, lalu kami putus begitu saja.

Sabilla Amira : Please, udahan main-mainnya, kalau mau putus, bilang baik-baik. Toh aku juga nggak akan tahan kamu, kalau kamu yang mau pergi. Jangan kabur gini!

Tulisku dengan kegalauan yang luar biasa.

Minggu pagi yang buruk. Minggu pagi yang memuakan.

Sabilla Amira : Yang, kamu marah?

Tulisku lagi, tanpa balasan.

Sabilla Amira : Aku sebenernya diajak pergi ke Jogja entah hari senin atau hari selasa berangkatnya. Makanya aku seneng waktu kamu bilang kita ketemu hari minggu.

Tulisku lagi, masih tanpa balasan.

Menjelang tengah hari, tidak ada yang berubah. Membuatku semakin yakin kalau dia memang mengabaikanku dengan sengaja. Mungkin ini memang akhirnya. Dan aku mulai lelah. Aku merasa seperti perempuan hamil yang sedang menuntut pertanggung jawaban darinya.

Aku sudah menjatuhkan seluruh harga diriku di hadapannya.

Dan lihat, ia menginjak-nginjaknya.

Muhammad Rayyan : Kalau gitu kan kamu tinggal bilang kalau kamu diajak ke Jogja, kenapa harus marah-marah segala semalem?

Pesan singkatnya, balasan yang kutunggu sejak 1000 tahun yang lalu.

Muhammad Rayyan : Bisa nggak jangan terlalu berlebihan. Dan sms tadi pagi, apa maksudnya? Kalau kamu udah nggak tahan, aku nggak masalah. Ya udah. Aku sih santai aja.

Tak berharga. Aku merasa sangat rendah. Tapi aku bukan tipikal yang ingin segera menyerah. Entah itu sebuah anugrah atau musibah untuk diriku sendiri. Tapi aku belum puas!

Sabilla Amira : Iya… iya maaf…

Balasku, seakan ini hanya sebuah lelucon.

Muhammad Rayyan : Oke, kalau mau jam 5 aja yang.

Hatiku sudah mulai tak tersentuh, kembali melambung oleh harap. Tapi jam 5? Apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin pulang larut.

Sabilla Amira : Kalau kamu sibuk, besok aja yang, nggak apa-apa.

Aku memutuskan untuk memberikan jawaban itu, yang akhirnya sekarang sangat aku sesali!!

***

Minggu malam.

Aku masih penuh oleh harap. Namun tidak berlebihan seperti kemarin.

Muhammad Rayyan : Yang, besok jam berapa?

pesan itu datang tanpa kuminta.

Sabilla Amira : Terserah kamu bisanya jam berapa.

Jawabku tanpa jeda waktu karena terlalu antusias. Lama tak berbalas. Aku berdoa agar pesan itu segela terbalas.  

Muhammad Rayyan : Hm… gini, kayaknya kamu harus pikirin lagi yang. Aku mau kamu coba untuk dewasa dulu gimanapun caranya. Aku nggak mau kejadian kayak kemarin malem keulang lagi, sms-sms kamu, kegalauan kamu yang berlebihan, cara pandang kamu. Aku nggak mau kita terlanjur melangkah terlalu jauh. Kadang aku kasian sama kamu, aku cuek banget sama kamu, dan akan selalu begitu. Aku enek banget sama kegalauan atau ini itu yang selalu kamu risauin. Coba kamu pikir lagi yang.

Oke. sekarang aku berharap pesan itu tidak pernah terbalas. Tidak sama sekali.

Di otakku pesan itu dengan sederhana mengatakan, kalau dia tidak ingin bertemu denganku. Itu sudah jelas. Tapi sebagian jiwaku tidak bisa menerimanya. Aku tidak ingin menerimanya. Aku tidak bisa membiarkannya.

Sabilla Amira : Terus intinya?
Sabilla Amira : Aku Cuma kamu ketemu kamu, tapi kayaknya itu susah banget!

Tak berbalas. Aku tidak butuh balasan.

Sabilla Amira : Lama-lama sosial media ini bikin aku pusing! Hahahaha apa kita nggak bisa ngomong langsung, putusin gimana baiknya pas ketemu nanti?

Muhammad Rayyan : Lah, yang selama ini bikin ribet itu kamu kan? Dan ini bukan masalah gimana baiknya nanti!

Ia marah, aku tau.

Muhammad Rayyan : Ini soal prinsip!

Ini yang tidak aku mengerti. Prinsip apa yang dia pegang???!!!! Prinsip apa????????!!! kalau kamu tidak boleh menemui pacarmu?!!! Apa itu prinsip yang ia anut?!

Brengsek.

Aku sudah terjun terlalu dalam, lalu kenapa tidak sekalian saja aku ceburkan seluruh tubuhku ke dalam lumpur itu?

Sabilla Amira : Oke, gini yang. Aku tunggu kamu di gramedia besok jam 1 siang. Terserah kamu mau datang atau nggak. Aku pusing. Alergiku kambuh, aku tidur duluan. Kamu jangan tidur larut, masalah ini nggak usah kamu pikirin berlebihan, sekarang mending kamu lepasin kangen ke keluarga kamu. love you.

Muhammad Rayyan : Ok.

Jawaban yang kubaca keesokan harinya ketika terbangun setelah menenggak aspirin dan ctm.

Aku sudah mempersiapkan diriku untuk kemungkinan terburuk. Oke di sana bukan menentukan apakah ia akan datang. Atau pun tidak akan datang. Tapi otakku tau dia tidak akan datang. Dia tidak mungkin datang.  Aku sudah mengenal perangainya. Ia akan memilih untuk melarikan diri, dari pada menghadapi hal yang tidak ia sukai. Sialnya, hatiku tetap menaruh harap.

Entah datang atau tidak, setidaknya aku sudah mencoba. Betapa kata yang sangat menyemangati.

12.33

Muhammad Rayyan : Yang, aku sakit, kita ketemu besok aja yah.

Dan besok kamu sudah berangkat. Tidakkah itu terlalu klise dan dibuat-buat. Bagaimana caranya kami bertemu besok? Dia akan membatalkan penerbangannya? Mustahil! Ini bukan film, dan aku sudah lelah.

Tidakkah aku bisa mengerti satu hal yang sudah jelas terjadi di sini?

Bahwa dia tidak ingin menemuiku?? Tidakkah hatiku bisa mengerti mengenai hal ini?!

Aku sudah berada di dalam mobil, dan kakiku terlalu berat untuk kembali, tapi juga tidak ingin melanjutkan perjalanan. Aku hanya ingin dengan leluasa melamun, mengosongkan isi kepalaku. Meratapi kesakitanku sendiri.

Memposting foto buku-buku di hadapanku, ku harap dia tau aku sudah di gramedia tanpa harus mengatakan hal itu kepadanya. Dengan sebuah harapan lain, ia tiba-tiba datang, tersenyum lemas dalam kesakitannya.

Aku menunggu dari jam 1 sampai jam 5 sore, dengan sebuah harapan kecil mengenai kedatangannya yang tidak terduga-duga, seakan aku tidak mengenalnya. Aku kehilangan arah. Aku terluka. Aku ingin menangis, tapi tidak ada rasa sakit di dadaku, mungkin karena semuanya sudah terlalu dalam, aku mati rasa.

Berdoa, aku berharap itu bisa mengubah kenyataan. Aku sangat menginginkan kehadirannya. Tapi semakin jauh aku melangkah, semakin perih dan lelah jiwaku.

Bibirku terkatup rapat ketika aku memasuki gramedia yang cukup ramai. Aku baru setengah membaca buku Mary Riana ketika terakhir kali aku kesini, dan aku ingin membaca kelanjutannya. Dulu aku kuat membaca berjam-jam di tempat ini. toko buku selalu menjadi surga untukku. Tapi hari ini, efek penelantaran makanan mulai berdampak. Aku hampir saja oleng karena lemas-lapar.

Tapi aku tidak ingin pulang, aku belum ingin pulang, sekali lagi karena sebuah pengharapan bodoh yang tidak pernah menjadi nyata.

Ini bukan dongeng!!

Otakku meneriaki.

Tapi bagaimana jika tiba-tiba dia datang saat aku pergi?

Hatiku menyelak dengan membabi buta.

Aku mengambil salah satu buku, membayarnya di kasir, lalu pergi ke food court terdekat. Memesan Chicken wrap dan milo dingin di sebuah outlet makanan cepat saji untuk sekedar mengganjal perutku. Lalu duduk di pojok sambil berpura-pura asyik membaca buku yang baru kubeli.

Dari luar mungkin aku terlihat normal.

Atau mungkin tidak?

Aku duduk sendirian, mengunyah chicken wrap dengan tangan sedikit bergetar karena kelaparan yang tak lagi bisa kurasakan. Anganku jauh melambung. Tak terkedali. Tidak satu katapun dari buku yang kubaca terserap. Halaman 25, dan aku bahkan tidak tau siapa nama pemeran dalam novel itu.
Sesekali aku melirik jam, lalu melirik ponselku, masih dengan harapan sebuah pesan darinya masuk,
Kamu dimana? Aku udah sampai.

Betapa aku mendamba kata-kata itu. Tapi hatiku pias tidak bisa merasakan apapun.

Seorang ibu berkerudung kuning mengangkat wajahnya, ia duduk satu meja di sebrangku. Matanya seakan bisa membaca wajahku. Cemas, kualihkan lagi wajahku ke buku, menyeruput pelan milo, lalu berpura-pura membaca lagi.

Apa aku masih boleh berharap?
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Apa hati sudah puas dengan penantian omong kosongnya?
Apa aku sudah siap menerima kekalahanku?
Apa aku sudah bisa menerima kenyataan kalau dia tidak akan pernah datang untukku? bahkan meski aku mati sekalipun?

5 jam dalam penantian.

Kosong.

Jiwaku lelah, tapi hatiku belum puas bermimpi.

Tidak bisakah aku menerima kenyataan bahwa dia tidak mencintaiku sebesar aku mencintainya?
Seperti di dalam film. Seorang wanita yang tengah menanti kekasihnya. Tapi di film itu, kekasihnya selalu datang, meski sangat terlambat. Sedang aku? Berapa kali aku harus meneriaki diriku sendiri kalau ini bukan film!!!! Ini kehidupan nyata!

Kebas. Aku tidak bisa menangis.

Dengan langkah gontai aku beranjak dari restoran cepat saji itu. Mataku menerawang jauh pada keramaian yang terasa sangat sunyi. Oke. ini sudah berakhir. Aku menghapus nomornya dari kontakku, berharap bisa semudah itu menghapus bayang-bayangnya dari kehidupanku. Berharap kini hatiku sudah benar-benar tersadar bahwa semuanya sudah berakhir.

Bermain dengan takdir.

Aku berdiri di trotoar menunggu taksi. Cahaya sore sang senja menerpa wajahku. Aku merasa kalah, aku merasa hina. Sebagai seorang perempuan, aku merasa terluka dan kecewa. Dan hal yang ingin aku lakukan saat ini adalah menangis, menumpahkan seluruh perasaan sakitku. Tapi tidak ada air mata yang menetes. Tidak ada sama sekali.

Aku mati rasa. Aku hanya ingin mengatupkan bibirku. Menatap jauh kedepan, meraih kekosongan. Menabrakan diriku pada kenyataan. Aku hanya bisa terdiam menerpa takdir.

Sabilla Amira : Nggak apa-apa, jangan dipaksain. Kamu istirahat aja, persiapan buat berangkat ke Palu lagi besok.

Tulisku sebagai balasan. Berharap ia bisa membaca ketegaranku dari pesan yang kutulis. Di sisi lain, aku berharap ia tau, bahwa semua ini sudah berakhir. Atau lebih tepatnya, aku berharap diriku sadar kalau semua ini sudah berakhir!
Kami tidak akan pernah bertemu.
Mimpiku tidak akan pernah terwujud.
Cintaku tidak berbalas.

Minggu, 14 September 2014

DOMINOS

“KAMU BISA DIAM?!!”
Bentakan itu luar biasa keras, membuat seorang gadis remaja yang sedari tadi tengah berbicara mengenai banyak hal langsung terdiam. Wajahnya langsung membeku, kedua tangannya saling bertautan dengan erat, ketakutan dengan apa yang ia lihat.
Seorang pemuda berumur beberapa tahun lebih tua darinya tampak berdiri menjulang di hadapannya. Matanya melotot, bulat, nyalang penuh kemarahan. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, menahan gejolak amarahnya kepada gadis itu.
“Dari tadi kamu tanya ini dan itu! sebenarnya apa yang sedang kamu kerjakan?! Kalau kamu butuh informasi yang terpercaya kenapa kamu nggak tanyakan saja pada penjual alat-alat itu?! atau pergi ke perpustakaan! Baca bukunya!” bentaknya kesal.
Suasana kelas hari itu memang tidak terlalu ramai. Murid-murid yang lain sudah banyak yang pulang. Hanya ada dua orang siswi dan satu orang siswa yang masih mengerjakan tugas mereka, serta ia dan gadis itu. semua mata sontak tertuju ke arah mereka, membuat sang gadis salah tingkah.
“Kamu tau! Kamu adalah orang yang paling merepotkan yang pernah aku temui di muka bumi ini! orang yang paling menyebalkan! Berhenti menanyaiku tentang hal-hal aneh itu!” ujarnya sebelum menutup buku yang tengah ia baca kemudian menarik ranselnya dengan asal, membuat sekotak kartu domino terjatuh begitu saja dari dalam tasnya yang tertutup sebagian.
Lima menit berlalu, gadis itu masih duduk di kursi yang sama, masih dengan ketakutan yang sama, masih dengan air mata yang sama.
***
“Kamu datang?” pertanyaan itu tak terjawab, dan memang tidak membutuhkan jawaban apapun. Gadis itu kembali menatap langit-langit kamar rawat inapnya. Matanya terbuka lebar, dengan usaha menahan air matanya yang sia-sia. “Maaf…” katanya dengan lirih, terdengar samar di balik alat pernafasannya. “Maaf, karena selalu merepotkanmu… tapi kamu pasti senang. Setelah ini, kalau aku mati…” ia terdiam sejenak, perih menahan isak di dadanya. “… kamu nggak akan pernah diganggu lagi,” tetesan yang lain, ia hampir terisak. “…kamu akan tenang kalau aku mati…”katanya dengan rapuh.
“Kalau kamu mati, aku juga akan mati…” itu pernyataan yang tidak pernah terduga sebelumnya, baik oleh gadis itu, maupun oleh dirinya sendiri. Mereka tertegun dalam kebingungan masing-masing. “Aku akan mati karena bosan.” Tambah sosok itu. Ia menatap sepatu sekolahnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu harus sembuh. Aku berjanji nggak akan membentakmu lagi.”
“Tapi aku menyebalkan…”
“Aku tau.”
“Tapi mereka bilang, mereka akan mengambil ginjalku, aku akan bergantung dengan obat. Aku nggak akan bisa berlari lagi, aku nggak akan bisa bernang lagi, aku nggak akan sama lagi.”
“Aku tau. Aku akan menjagamu, seumur hidupku. Akan ku jawab semua pertanyaan konyolmu, siang dan malam. Akan aku lakukan apapun untuk menjagamu tetap hidup. Aku akan menjagamu. Percayalah. Sembuhlah. Ku mohon…”
Senyuman gadis itu perlahan tersungging tipis. Ia begitu menyukai pemuda itu. Pemuda pintar yang terkadang menggunakan kaca mata di dalam kelas. Pemuda yang selalu menjadi favoritnya ketika menonton pertandingan basket. Pemuda yang mempesona. Pemuda yang sudah ia sukai sejak pertama kali ia berada di sekolah itu.
Gadis itu mengangguk perlahan ketika seorang suster masuk ke dalam kamar rawat inapnya. “Sudah saatnya sayang…” kata suster itu dengan ramah.
Lagi-lagi gadis itu mengangguk. Pemuda itu turut berdiri dari kursinya, membiarkan sang suster mempersiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk oprasi gadis itu.
“Tunggu…” kata gadis itu dengan perlahan. “Ini…” ia mengulurkan tangannya dengan sekotak kartu domino yang mulai lusuh. “Aku senang, kita tidak seperti domino. Aku menyayangimu, dan kamu menyayangi orang lain.” Terangnya dengan lugu.
“Tidak Raihana, aku hanya menyayangimu. Cepat sembuh.”
***

Minggu, 07 September 2014

CHERISH

Itu bukan pertama kali aku melihatnya, cukup sering, mungkin beribu kali. Sesosok pria muda sebayaku, tampan dengan caranya sendiri. Tapi aku tidak yakin sejak kapan tepatnya rasa itu tiba-tiba saja muncul. Sebuah rasa yang membuatku selalu ingin pergi ke sekolah lebih pagi hanya agar bisa melihatnya lebih puas ketika berlatih basket dengan seragam yang ia gulung lengannya. Entah sejak kapan pula aku memiliki hobi-hobi aneh lainnya. Dari suka melamun sendirian, hingga berkali-kali pergi ke kantin hanya agar bisa melewati pinggiran lapangan basket, tempat biasanya ia dengan teman-temannya berkumpul untuk membincangkan segala sesuatu tentang basket yang tidak aku mengerti.
Ia menawan.
Entah sejak kapan aku berpikiran seperti itu. Namun rasanya, hanya sedetik yang lalu, pertama kalinya aku beradu pandang dengannya, dan tiba-tiba saja aku tau, aku menyukainya. Aku merindukan senyumannya, aku menyukai caranya tertawa, aku menyukai caranya berbicara, caranya mengangguk, bahkan caranya mengedipkan kedua kelopak matanya.
Ia istimewa.
Pria yang membuatku tidak bisa berkutik; yang membuatku ingin terus menatap kedua matanya, menguncinya agar hanya terpaku menatapku. Agar ia tetap hanya tersenyum kepadaku. untukku.
Berdekatan dengannya, membuatku merasakan suatu rasa nyaman yang luar biasa. Seperti zat adiktif, seperti magnet berlawanan arah, saling menarik.
Bersamanya, meski hanya dalam diam, aku takkan pernah merasa bosan, bahkan jika sampai seribu tahun berlalu pun, rasa nyaman itu selalu ada. Ia membuatku merasa aman dengan caranya sendiri. membuatku merasa tidak perlu berlari untuk mencari pundak lain ketika aku lelah.
Satu detik yang sangat berharga, yang mengubah seluruh hidupku dalam sekali kedipan.
Andai saja ia tau hal itu.
***
“Aku minta maaf…”
Aku tidak mengerti. “Untuk apa?” tanyaku dengan polos. Kami hanya duduk berselang satu meja di kantin. Aku menatap kedua matanya, seperti biasa, namun ia menghindari tatapanku. Tangannya bergerak dengan gelisah, seakan menyembunyikan sesuatu.
“Aku nggak mau terjadi kesalah pahaman di sini. Antara kita berdua.”
Aku mulai gelisah. Aku tidak bisa membaca pikirannya. Aku tidak mengerti. Tapi aku hafal seluruh raut wajahnya. Terutama saat ia mulai lelah. Ketika semua yang ada di benaknya mulai membuatnya ingin menghilang di telan bumi. Ketika mungkin tidur seribu tahun tidak akan mengubah seluruh masalahnya.
Tapi aku tidak ingin mendengar. Aku tidak ingin mendengar sama sekali!!
“Sepertinya kamu sedikit salah paham. Selama ini, aku menganggapmu hanya sekedar teman biasa. Seperti aku dengan yang lain, atau kamu dengan yang lain. Ku mohon jangan berpikiran lain. Aku hanya mencoba untuk berbuat baik kepada semua orang.”
“Jangan mengharapkan lebih.” Katanya sungguh-sungguh, membuatku sejenak tertegun. Apa aku sekarang sedang terlihat tertawa di matanya? hingga ia bisa dengan santai mengatakan seluruh kata itu dengan sangat lugas dan mudah. “Aku hanya ingin bersahabat dengan semua orang.” tambahnya. “Lagi pula, kamu pasti sudah mendengar kabar mengenai aku dan Raihana. Ya, itu benar. Aku menyukai Raihana.”
***
Hujan petang itu, menghapus jejak mimpi yang sempat tersulam. Terisolasi dengan segenggam nyata yang tak terelak.
Aku menatap hujan dari balik jendela, mencoba menghapus bayang-bayang punggung bidangnya ketika akhirnya berjalan menjauh setelah mengatakan apa yang mungkin ia pikir perlu ia katakan untuk kebaikannya, untuk menyakitiku.
Mungkin pada akhirnya dia benar. Aku terlalu berharap lebih. Cinta itu selalu membuat seseorang menjadi lebih bodoh. Menjadi lebih dramatis. Selalu melebih-lebihkan seluruh rasa yang ada. Mungkin selama ini, rasa itu yang membuatku sedikit buta, bahwa yang ia lihat bukan hanya kedua bola mataku. Bukan kepada pandanganku, kedua matanya terkunci. pada gadis lain, mungkin.
Mungkin aku yang salah mengartikan senyumannya. Mungkin seluruh hormon di dalam jiwa remajaku yang sudah membuat otakku tumpul untuk lebih bijaksana dalam berpikir. Atau mungkin aku memang benar-benar bodoh karena mempercayai bahwa dia juga cukup menyukaiku?
Mungkin aku terlalu bodoh, atau cinta itu yang membuatku bodoh.  
Hujan petang itu, akan menjadi hujan terindah. Ketika kamu hanyaberbicara kepadaku, ketika pandangan itu memang ditujukan hanya kepadaku, meski akhirnya hanya untuk menuai luka yang lebih dalam. Tapi siapa peduli? Toh, gadis itu juga sudah tidak memiliki hati. lalu bagian mana yang tersakiti?
Mungkin ia akan menangis sejenak, menangisi kebodohannya, karena mempercayai, bahwa cinta itu ada. Tapi lalu ia akan segera lupa, seperti biasanya.