Senin, 18 Februari 2013

CAHAYA CINTA -11-



Pagi itu begitu dingin, seusai shalat subuh berjamaah di masjid rumah sakit Raka berjalan perlahan menuju kamar Anna. Telepon Zahra malam itu masih menari-nari di pikirannya. Rasa bersalahnya pada gadis itu semakin menjadi-jadi. Terlebih ketika ia menyadari perasaannya pada Anna tidak pernah bisa berubah.
“Kau bisa pulang dulu, ibu akan menjaganya,” ujar Luna saat Raka berdiri di ambang pintu kamar Anna. “Kau sudah menjaganya semalaman. Kau pasti lelah,” tambahnya lembut. Wanita paruh baya itu menatap Anna penuh kasih, ia membelai kepala Anna. “Dia juga sepertinya sangat kelelahan…” bisiknya pelan. Raka mengangguk.
“Aku akan segera kembali lagi,” ujarnya pelan. Luna mengangguk pelan dan menjawab salam pemuda itu. Dengan perih ia kembali menatap sosok cantik yang masih tertidur pulas itu.
Raka tidak tau apa yang akan ia lakukan, namun hati kecilnya memintanya untuk segera menemui Zahra, ibunya dan ummi. Ia harus mengatakan pada mereka apa yang terjadi. Ia tidak ingin melukai siapapun. Ia tidak ingin mengecewakan gadis itu.
***
Hembusan angin pagi itu cukup kencang, hingga membuat anak-anak panti itu sedikit menggigil. Zahra memandang langit yang mendung dari balik jendela kelas tiga yang tengah diajarnya. Ia mendesah pelan sebelum akhirnya berjalan mendekati anak muridnya yang masih sibuk mengerjakan tugas sederhana. Hingga akhirnya jam pelajaran kedua itu usai, anak-anak itu langsung berhamburan keluar kelas. Beberapa dari mereka langsung memasuki perpustakaan mini milik panti, yang lainnya tampak bermain di halaman panti. Zahra berjalan perlahan di belakang mereka, ia mendekap bukunya di dadanya. Bibirnya tersenyum tipis ketika melihat senyuman bocah-bocah yang tengah bermain di halaman panti. Ada beribu cara yang membuat mereka disini, dari dibuang sejak bayi, hingga ditelantarkan ketika mereka pertama kali bisa mengucapkan kata pertamanya. Begitu menyakitkan jalan-jalan itu, namun saat ini, mereka masih tetap bisa tersenyum lebar, seakan tidak terganggu sama sekali dengan masa lalu mereka.
Namun tidak untuk Zahra. Ia sudah melakukan banyak kesalahan di masa lalunya, hingga rasanya ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Sekali lagi ia menyesali seluruh kebodohannya yang menyia-nyiakan saat-saat keberadaan orang tuanya, dan kini menyesalinya bagai orang idiot ketika mereka sudah tiada.
Zahra pribadi yang angkuh dan pemberontak. Dan kehilangan orang tuanya adalah salah satu pukulan terberat untuk gadis manja sepertinya. Ia masih bisa merasakan perihnya ketika harus berdiri diambang pintu kamar mayat rumah sakit dan memastikan bahwa kedua jasad kaku itu adalah orang tuanya. Saat itu Zahra tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya memberontak, otaknya terus mengingkari kebenaran bahwa mereka adalah kedua orang tuanya. Berbulan-bulan lamanya ia tenggelam dalam kesedihan itu, terpuruk dalan luka dan penyesalan.
“Zahra…” panggil Aisah pelan. Zahra terkesiap, dan buru-buru menyeka air matanya yang entah sejak kapan mengalir. Hembusan angin pagi itu kembali menyadarkannya tentang keberadaannya di koridor utama panti. Ia tersenyum tipis pada bibinya. “Ada apa?” Tanya Aisah sedikit cemas.
“Tidak apa bi… aku hanya merindukan ayah dan bunda,” bisiknya pelan. Aisah meremas pelan lengan Zahra. “Andai aku tau mereka akan pergi secepat itu mungkin aku tidak akan menyia-nyiakan mereka bi, aku tidak akan membantah mereka. Akan ku lakuakan apapun untuk membuat mereka bahagia dan bangga padaku,” tutur Zahra perih.
“Sstt…. Itu adalah takdir Zahra,”
“Tapi bi, aku hanya ingin mereka berada di sisiku ketika aku menikah, mendampingiku.” Tetesan air mata Zahra kembali hadir. “Aku ingin mereka menemaniku, setidaknya menyaksikan tangisan bahagiaku karena cinta itu bi…”
Lagi-lagi sosok tua Aisah terdiam. Cinta itu… betapa indahnya kata itu. Andai semua cinta itu menggoreskan senyuman bagi para pencintanya.
***
Raka menghentikan langkahnya, matanya menatap nanar sosok yang tengah berdiri di koridor utama gedung panti itu. Wajahnya yang cantik tampak sendu berhiaskan genangan air mata di kedua pelupuk matanya. Raka berjalan perlahan mendekati Zahra dan Aisah. Wajah tampannya melembut ketika gadis itu menyadari keberadaannya. Wajahnya yang tampak rapuh membuat Raka ingin merengkuhnya, menenangkannya, menghapus seluruh kesedihan di mata indahnya.
Aisah tersenyum tipis di samping Zahra. Hatinya begitu tenang ketika melihat sorot hangat dari mata Raka. Pemuda itu sudah kembali hidup, pemuda itu sudah kembali menemukan jiwanya.
“Aku pikir kau masih sibuk…” ujar Zahra dengan wajahnya bersemu merah. Raka menggeleng.
“Ya, tapi aku juga masih memiliki sebuah tugas penting di sini.” Ujarnya. Zahra tampak salah tingkah, ia memalingkan wajahnya yang merona. “Ah tapi bukan di sini,” ralat Raka membuat gadis itu mengernyit. “Bisakah kau ikut aku sebentar Zahra?”
“Kemana?” Tanya Zahra.
“Ummi, aku akan membawa Zahra sebentar,” ujar Raka seraya menggenggam erat jemari Zahra. Zahra langsung ternganga menatap sosok jangkung di hadapannya. Wajahnya langsung memucat-kemudian bersemu merah-kemudian memucat lagi karena tegang. Aisah sampai harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa hormon muda Zahra lah yang membuat gadis itu tampak sepucat mayat.
“Ya kalian berhati-hatilah,” ujar Aisah ketika mampu mengatur keterkejutannya. Zahra menatap bibinya dengan wajahnya yang masih ternganga.
“Ki…kita mau kemana?” tanyanya terbata. Raka tersenyum tipis.
“Aku rasa, jika ingin menikahi putrinya, aku harus meminta izin dulu pada orang tuanya.” Jawab Raka tenang. Mata Zahra langsung melebar, ia kembali melirik bibinya yang tersenyum lebar.
“Ki…Kita… mau menemui ayah… dan bunda?” tanyanya ragu. Raka mengernyit dan mengangguk.
“Apa kau tidak mau?” tanyanya heran.
“Aku mau.” Jawab Zahra cepat, bahkan tampak terlalu cepat hingga membuat Raka dan Aisah terkekeh pelan. Zahra meringis malu, namun genggaman tangan Raka membuat hatinya tegang dan tenang dalam waktu yang sama. Dengan malu-malu ia melirik sosok tampan Raka dari balik bulu matanya yang lentik, dan membalas genggamannya.
***
Luna berdiri diambang pintu kamar rawat inap putranya. Kebahagiaannya karena kesadaran Alan yang singkat itu mendadak sirna. Ia tau apa yang akan terjadi, hanya saja ia tidak pernah berpikir jika akan seperih ini. Sejak awal Luna tidak pernah ingin merelakan putranya, lagi pula ibu mana yang akan merelakan putranya pergi begitu saja. Ia sangat mencintai Alan, sosok baik hati yang menjadi lenteranya ketika suaminya meninggal dunia karena penyakit jantung pada usianya yang masih cukup muda.
Lagi-lagi Luna menggeleng pada dokter tua yang berdiri di sampingnya. Ia mendesah lelah penuh kegetiran.
“Luna, tim dokter sudah menyerah. Kalau bukan karena alat-alat pembantu itu, kita tidak tau apakah dia masih akan bisa bertahan atau tidak.”
“Kalau begitu kita akan terus memasang semua alat bantu itu dan menunggu.”
“Sampai kapan?”
Luna terdiam. Sudah dua tahun ia menunggu kesadaran putranya, namun semuanya masih tetap sama. Keheningan dan wajah kaku itu masih seperti dua tahun yang lalu, ketika putranya mengalami kecelakaan di jalan tol bersama Anna. “Kalau memang dia ingin pergi, dia pasti sudah pergi sejak dulu dok,” bisik Luna pelan. Air matanya mulai kembali tergenang. “Tapi nyatanya dia masih bertahan. Dia masih ingin hidup, ia masih ingin menemani kami semua.” Jemari Luna mengepal di kedua sisi tubuhnya ketika ia mulai meracau tentang kehidupan putra tercintanya.
“Ya, dia masih belum tenang Luna, itulah mengapa dia masih di sini. Tapi aku khawatir semua itu akan menyakitinya. Aku khawatir ketakutan kita akan kehilangannya akan menahannya, dan menyakitinya.” Dokter tua itu menatap sosok cantik di sampingnya dengan sedih. Sosok putrid yang tengah ketakutan kehilangan lenteranya, sosok ibu yang tengah ketakutan kehilangan putranya.
“Ibu…”
Luna dan Harun menoleh dengan cepat ketika mendengar suara lembut di belakang mereka.
“Anna kau sudah siuman?” Tanya Luna seraya menyeka air mata yang menetes perlahan. Anna tersenyum tipis, mata indahnya tampak sayu, namun wajahnya terlihat tenang. Ia menghela nafas panjang untuk kembali menenangkan hatinya, kemudian berjalan menghampiri ibu mertua dan dokter pribadi suaminya.
“Aku sudah memutuskan,” bisiknya pelan. Langkahnya terhenti dua kaki dari ranjang Alan. “Aku akan mengadopsi anak,” tambahnya. Baik Luna maupun Harun langsung menatapnya tidak percaya. “Kalau aku memiliki anak, mungkin ia memiliki alasan yang lebih besar untuk tetap bertahan…”
“Anna…” Harun mengulurkan tangannya pada sosok gadis itu, namun ia tidak menyentuhnya, ia malah menarik tangannya kembali, menyembunyikannya di balik saku jas putih yang dulu selalu menjadi kebanggaannya. Tubuhnya tegang, matanya berpaling pada fokus lain.
“Anna,” Luna berjalan perlahan mendekati gadis itu. “Tapi…”
“Ku mohon bu…”

***

“Amy!!!!”
Amy mengernyitkan keningnya ketika mendengar teriakan yang menyebutkan namanya, ia baru saja selesai melipat mukenanya selepas shalat magrib. Dengan perlahan diletakannya tumpukan mukena itu di sisi kanan ranjangnya, kemudian kembali mengenakan hijabnya dan berjalan ke pintu.
“Masya Allah Zahra ada apa?” Tanya Amy ketika melihat sosok cantik itu berlari-lari ke kamarnya.
“Kau tau aku pergi dengan siapa hari ini?”
Aku tau.  “Dengan siapa?”
“Raka!!! Dan coba tebak kemana dia membawaku?”
Ke makam orang tuamu.  “Kemana?”
“Ke makam orang tuaku!” pekik Zahra. Amy tersenyum lembut. Mata gadis itu begitu indah dengan binar yang sangat menawan, membuat Amy tidak bisa berkata apapun selain turut tersenyum akan kebahagiaan sahabatnya. “Aku tidak percaya dia membawaku kesana. Kau tau, aku pikir dia tidak mencintaiku.”
“Kau terlalu berlebihan Zahra, Raka bukanlah pemuda seperti itu.” Ujar Amy dengan senyuman tulus. “Oya, tadi ummi bilang gaun pengantinmu sudah datang. Ayo kita lihat.”
“Astaga,” Zahra membulatkan matanya, mulutnya ternganga lebar. “Secepat itu?” tanyanya tidak percaya. Amy terkikik pelan melihat ekspresi Zahra yang lucu. Ia mengangguk dan mengamit sikut gadis yang masih terbengong-bengong itu; berjalan menuruni tangga, menuju lantai bawah, ke kamar ummi yang menjadi tempat penyimpanan kebaya putih nan indah itu untuk sementara.
Raka tengah berbincang serius dengan Arya ketika Amy dan Zahra menuruni tangga. Keningnya sedikit berkerut ketika melihat wajah Zahra yang masih tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Amy. Amy tersenyum kikuk pada Raka dan Arya sambil terus menyeret lengan Zahra menuju kamar ummi Aisah.
“Amy, ada apa?” Tanya Raka, ia menjulurkan lehernya untuk melihat kedua gadis itu di balik pundak Arya. Amy tersenyum kikuk dan menggeleng.
“Ga… Gaun…”
“Ssttt…” dengan cepat Amy menutup mulut gadis itu. “Bukan apa-apa.” Ujarnya gugup. Arya ikut mengernyitkan keningnya, sepenuhnya teralihkan dari topik pembahasannya bersama Raka petang itu.
Zahra menatap Amy dengan tatapan –mengapa dia tidak boleh tau?-. kerutan di antara kedua matanya semakin dalam. Amy memutar matanya pada gadis itu. “Zahra kau tentu tidak ingin dia mengetahuinya sebelum waktunya kan?” Tanya Amy gemas, namun gadis itu masih menatapnya dengan pandangan penuh Tanya.
“Mengetahui apa?” Tanya Raka yang kini berdiri dari sofa yang didudukinya. Tiba-tiba pintu kamar Aisah terbuka.
“Ah Zahra, bibi sudah menunggumu. Ayo cepat kau harus mencoba kebaya untuk pernikahanmu nanti. Baru saja datang setengah jam yang lalu,”
Amy meringis mendengar kata-kata wanita tua itu, dengan kikuk ia menyeringai bodoh pada Arya dan Raka yang melongo menatapnya. Aisah tidak tau apa yang terjadi, namun yang ia lihat saat ini adalah wajah pucat-ternganga-tak percaya di hadapannya. Membuatnya kembali memikirkan apa yang salah dengan perkataannya.
“Assalamu’alaikum,” keheningan yang kikuk itu sontak saja terpecahkan ketika terdengar salam dari ambang pintu. Ke lima pasang mata itu langsung menoleh kearah pintu utama rumah-kantor panti. Dan tatapan mereka terpaku pada sosok itu, untuk pertama kalinya Aisah -tanpa alasan yang bisa ia mengerti- merasa ingin memutar kembali waktu, hingga ia bisa menarik lagi kata-katanya.

Minggu, 17 Februari 2013

Kupu-Kupu Irina



Irina termenung sendiri di kamarnya, memutar-mutar pulpennya ke kanan dan ke kiri, sesekali melirik ke arah handphone di samping buku tulisnya yg terbuka lebar, tidak, bukan sesekali, tetapi ratusan kali, berharap layar hitam yang tampak bergores-gores karena pemiliknya selalu membukanya dengan tidak sabar itu, akan menyala. Ia mendesah lelah, menunjukan keputus asaannya atas harapan bahwa touchscreen itu akan menyala, dan menunjukan masuknya pesan singkat atau apalah yang menunjukan kepedulian sosok itu akan dirinya. Namun hingga 30 menit kemudian layar itu tetap mati, diam tak bergerak di sudut mejanya yang penuh oleh benda-benda berdebu tipis. Ia melirik bingkai foto yang berdiri tepat di depan loker kosmetiknya, kemudian membalikannya dengan kesal. Hilang sudah mood mambaca bukunya.



Irina merangkak ke ranjangnya yang berjarak hanya dua langkah dari meja belajarnya, lagi-lagi sambil membawa ponsel itu bersamanya, memutar-mutar sisinya dan berharap (bahkan berdoa sepenuh hati) jika sosok itu akan menghubunginya. 

Ya tuhan, jika seperti ini resahnya mencintai seseorang itu, ia tidak akan pernah ingin jatuh cinta. Akan ia bakar semua kupu-kupu yang semakin hari semakin bertambah di perutnya, seakan melahirkan 1000 anakan per setiap detiknya. Ia hampir mual dengan kupu-kupu itu, perutnya sudah seperti taman lavender atau mawar yang di penuhi kupu-kupu berjuta warna dan bentuk. Dan sialnya tidak ada satupun yg terbang menjauh atau mati. Mereka malah bertambah banyak dan banyak dan banyak. Hingga kini memenuhi perutnya bagai toples beling dengan ribuan kupu di dalamnya, berdesak-desakan memperebutkan udara, namun mereka hidup.


Irina menatap jam bulat di dinding kamarnya, memicingkan matanya agar bisa melihat dengan jelas di balik kegelapan.


Pukul 22:22
Dan 'masih' tidak ada tanda-tanda layar ponselnya akan menyala. 
"Ah! Peduli setan denganya!" runtuknya kesal, menyerah pada harapan mustahil itu. Ia merebakan kepalanya di atas bantal, mencoba menciptakan posisi senyaman mungkin, berguling sedikit ke kanan, menarik ujung bantalnya, menepuk-nepuk pelan, merebahkan lagi kepalanya, menarik bantal kecil untuk menutupi matanya, menggeser-geser kakinya, dan beribu cara lain terus ia lakukan untuk mencapai kata 'nyaman' itu.


Namun hingga pukul 00.51 ia nasih terjaga, tidak peduli berapa domba yang sudah ia hitung.
Dasar bodoh! Makinya dalam gelap, kemudian mengeser sedikit tubuhnya ke sisi kiri ranjang, meraih remote tv dan mengarahkannya kedepan, ketempat tv plasma itu di tempelkan dengan apik, namun lagi-lagi berselimutkan debu tipis. 

Ia menyalakannya dengan sekali tekan, mencari-cari acara malam yang mungkin layak untuk di tonton, menuju saluran paling jauh, hingga kembali lagi pada saluran di urutan pertama. 1 jam berlalu dan ia masih tidak menemukan sesuatu yang layak di lihat, dan tentunya bisa mengalihkan pikirannya atas pemuda itu.

Ah lagi-lagi kupu-kupu dalam perutnya berterbangan kesana-kemari, seakan menari riang untuk merayakan sebuah hal tak kasat mata namun jelas terasa. Semakin sering mereka berputar, semakin mual irina dibuatnya.

Irina duduk di ranjangnya, lelah berbaring karena hanya akan membuat kupu-kupu itu semakin leluasa menarikan tarian konyol mereka. Mengitari sesuatu yang mereka anggap api unggun, dengan bongkahan berwarna merah kekuningan sebagai pusatnya. Saling berdansa berpasangan, membentuk sebuah gerakan acak namun teratur. Diluarnya, irina mulai nerasakan lututnya gemetar, ia merasakan hatinya terjepit resah dan kesal. Dengan perlahan di tekuknya kedua lututnya hingga ia bisa memeluk keduanya erat-erat, menahan nafasnya sesekali, kemudian.menghembuskannya dengan segera.

Ia sudah lelah dengan semua rasa ini, ia sudah muak. Sosok ringkih Irina berjalan perlahan ke sudut kanannya, tempat lemari pintu gesernya diletakan, ia menggeser pintu sebelah kirinya dengan perlahan. Tidak mau mengganggu orang lain di malam selarut ini. Kemudian jari kecilnya merogoh kedalam lemari, wajahnya menghadap kesamping karena terhalang baju yang di gantung. Baunya tampak penuh oleh kamper pengharum pakaian, membuatnya terpaksa mengernyitkan hidung sambil tangannya terus merogoh ke dalam.
"Nah dapat!" pekiknya, kemudian menarik sebuah kantong plastik berwarna pink pucat tanpa label toko atau apapun di kedua sisinya, pegangannya berwarna lebih gelap, namun jelas cocok untuk menjadi tempat kado valentine beberapa hari kedepan.

Irina tersenyum sendiri dalam kegelapan, kaki kirinya mendorong pintu lemari itu kembali menutup, kemudian ia berjalan kembali ke ranjang dengan senyuman dan mata yang tidak pernah lepas dari bungkusan berwarna pink itu. Ia duduk di sisi ranjangnya, menghadap cermin panjang sekaki yang terpasang di pintu lemarinya. Ia tersenyum pada bayangannya, kemudian melihat gadis di cermin itu mengangguk, maka hatinya semakin riang.

Bagi orang lain, mungkin kantung itu akan seperti bungkus coklat, permen, jepit atau kosmetik terbaru. Dengan warna pink feminim dan bahan yang berkualitas baik. Gemersiknya menimbulkan ide lain, mungkin botol parfum isi ulang, atau botol lotion untuk tubuh, atau mungkin krim wajah pemutih. Tapi jika melihat seringaian gadis itu siapapun akan berpikiran jika benda di dalam sana adalah sebuah berlian indah, cincin bermahkota mutiara besar, atau giwang berwarna keperakan. Apapun itu jelas membuat sang gadis tersenyum lebar penuh kemenangan dan kebahagiaan.

Ia sudah muak dengan tingkah kupu-kupu aneh di dalam perutnya, dan tadi, sepulang sekolah ia mampir kesebuah toko hewan kecil di ujung blok perumahannya. Seorang wanita berumur sekitar 23 tahun berdiri di belakang meja kasir, menyapanya dengan ramah, namun segera kembali sibuk menghitung receh untuk kembalian pembeli selanjutnya. Irina tidak peduli juga, langkah kakinya menelusuri lorong-lorong yang dibatasi oleh rak rak tinggi menjulang, tempat makanan berbagai macam binatang di tumpuk dalam berbagai ukuran dan rasa. Ada juga benda-benda mungil berwarna warni dengan label mainan hamster. Irina tersenyum geli ketika melihat jungkat-jungkit kecil yang juga di peruntukan bagi para hamster gendut yang kebanyakan makan kuaci bergaram, dan jelas menjadi bulan-bulanan pemiliknya. Lagi pula mana ada permainan jungkat-jungkit di kehidupan asli para hamster itu?!

Irina meneruskan langkahnya, menatap rak memancing dengan tak acuh, pancingan berbagai jenis dengan kail dan benang aneh yang akan menyayat kulit jika tidak hati-hati, penyerok ikan dari ukuran teri hingga tuna besar, atau bahkan umpan ikan-ikanan imitasi yang sangat-teramat-tidak menyerupai ikan sungguhan, Apa yang pemancing itu harapkan dengan mengumpan ikan imitasi berwarna mencolok ini? Batinnya penuh keraguan.

Kamudian langkahnya terhenti saat melewati rak penuh bungkusan pembasmi hama. Ah... Ya, rak pembunuh, rak racun. Irina berdiri di depan rak itu selama sepuluh menit, mulai ragu dengan apa yang hendak ia lakukan. Jantungnya berdegub kencang, namun matanya terus mempelajari setiap bungkusan itu dengan teliti. Mencoba mencari sesuatu yang sesuai dengan yang di butuhkannya.

"Mencari sesuatu?" Irina tersentak ketika mendengar suara itu, ia menyingkir selangkah ke belakang, dengan mata yang masih terbelalak pada sosok di hadapannya. Sosok itu tersenyum ramah, namun Irina yakin itu hanya topeng yang di gunakannya pada setiap pengunjung. Kemudian ekor matanya menyapu tubuh sang pemilik suara merdu itu. Tubuhnya tegap dengan tinggi 170-180 -mungkin, rambut hitam sedikit berantakan, tangannya terpaut di belakang punggungnya, dengan kaos merah hitam ciri pekerja di toko hewan itu.

Bukannya tidak tau kalau pemuda itu bekerja di sini, namun tetap saja setiap kali melihat sosok itu ia akan terperangah seperti idiot melihat keajaiban. Dan kupu-kupu itu akan kembali beranak pinak kemudian menari riang di perutnya.

Hatinya terasa perih, terlebih ketika menyadari senyuman itu bukan dikhususkan untuknya, tapi untuk seluruh mahluk yang melewati pintu kaca toko ini, dan mendentingkan loncengnya, terlebih jika sampai membuat laci kasir bergemerincing tanda selembar rupiah berpindah tangan.

Ada kurungan-kurungan besi di sisi kanan toko itu, tepat bersebrangan dengan kasir, hingga sang penjaga kasir bisa memperhatikan hewan-hewan kecil yang menjadi bahan dagangannya. Seekor kucing mengeong-ngeong kelaparan, bau pesing hamster tercium dimana-mana meski mereka sudah memasangkan berbagai pewangi ruangan di setiap sudut, bahkan seekor kelinci tampak mengendus-endus makanannya bagai anjing pelacak mencari buruannya. Semuanya berkaki, tapi tidak ada yg bersayap. Toko ini tidak menjual burung atau apapun yang memiliki sayap, kecuali jangkrik kecil untuk pakan -jika sayap kecilnya di perhitungkan.

"itu," katanya sambil menunjuk kotak kayu di sudut ruangan, tertutup dengan lubang-lubang kecil untuk udara. Wajah pemuda di hadapannya menoleh, mengikuti arah telunjuknya berhenti. Ia mengernyit menatap kotak tempat jangkrik hidup itu disemayamkan.

"kau mau jangkrik?" tanyanya sedikit ragu, tautan jemarinya sudah jatuh di kedua sisi tubuhnya. Menggantung seperti jambu monyet di pohonnya yang kekar.

Kepala cantik Irina menggeleng, membuat kerutan di kening pemuda itu semakin dalam. Tidak ada benda lain di pojok itu, selain dua peti jangkrik hidup dan bebatuan untuk akuarium yang disimpan dengan apik di dalam akuarium pecah tak terpakai.

"Racun, Racun seranggga," ujar Irina pelan, tubuhnya kaku bagai robot, kembali menghadap rak berisi bungkusan yang memiliki isian berbau aneh di dalamnya.

"Untuk apa?" itu bukan pertanyaan yang pantas dilontarkan pada pembeli manapun kecuali bocah di bawah sepuluh tahun yang membeli racun serangga atau alat-alat tajam. Itu pun mereka akan berpikiran jika bocah itu ditugasi oleh ayahnya dengan upah seperak dua perak. Namun tatapan aneh gadis itu membuatnya ingin bertanya.

"membunuh kupu-kupu," jawab Irina masih sekaku tadi. Wajah pemuda itu kembali menampakan mimik heran.

Bukan kah wanita menyukai kupu-kupu? Batinnya penuh tanya. Namun tangan panjangnya tetap meraih bungkusan berwarna gelap bergambar serangga di bahian teratas rak. Dengan ragu-ragu ia menyerahkannya pada Irina, dan gadis itu langsung berjalan ke kasir, menghampiri wanita yang sedari tadi sudah menyelesaikan tugas menghitung koinnya.

Seperti biasa ia tidak memperdulikan apa yang pengunjung itu beli, baginya asal semuanya sesuai aturan, maka ia tidak akan mengusik sama sekali. Wanita itu menekankan sisi belakang bungkusan racun serangga itu ke mesin berlampu merah di hadapannya, matanya terfokus ke layar komputer untuk memastikan entrinya masuk dengan jelas, kemudian menyebutkan harganya, dan memasukan bungkusan itu ke kantung plastik pink pucat tak berlabel.

Irina mendesah lega ketika akhirnya transaksi itu selesai, buru-buru ia menyerahkan uangnya kemudian berbalik ke arah pintu, berharap segera terlepas dari tatapan aneh pemuda yang kini berdiri di samping rak majalah hewan dan tumbuhan di samping meja kasir.


Teng.
Satu dentingan lonceng terdengar ketika Irina membuka pintu kaca itu, matanya sedikit awas dengan jantung yg masih berdetak kencang.


"Irina,tunggu!" Irina terpaku tepat di ambang pintu, matanya menatap lalu lintas di depan toko, tangan kirinya menggenggam handle pintu dengan erat, menyeimbangkan detak jantungnya yang semakin tak menentu. "Aku akan membantumu mengusir kupu-kupu itu, tanpa menggunakan racun," tambahnya.

Irina sedikit melirik kebelakang, dan meski hatinya memberontak, ia tetap mengangguk. "Aku akan meneleponmu nanti sore," ujarnya, dan Irina pun berlalu pergi dengan mencengkram erat-erat bungkusan berwarna pink pucat itu. Segores senyum bahagia terpampang jelas di wajahnya yang polos. Dan untuk pertama kalinya ia turut menari dengan jutaan kupu-kupu di perutnya.

Ia merasakan kebahagiaan yang teramat sangat ketika pemuda itu menanggil namanya, merdu, santai dan indah. Ia bahkan berkata hendak meneleponnya tanpa sebelumnya meminta nomer ponselnya terlebih dahulu, bukankah itu berarti pemuda tampan itu sudah memiliki nomornya? ah pemikiran yang sangat indah. Membuatnya tersenyum begitu lebarnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika pemuda tampan yang sudah menjadi teman sekelasnya selama 3 tahun di bangku SMP ini mengetahui namanya, bahkan nomor ponselnya!

Dan begitulah, hingga akhirnya hari itu berganti, tepat pukul 1.26 WIB, Irina sudah melahap habis isi bungkusan berwarna pink pucat itu, menyiram jutaan kupu-kupu yang bersemayam dalam perutnya, menyerah pada harapan semu akan kepedulian sang pemuda tampan itu kepadanya. Dan di detik ketiga cairan panas itu menuruni tenggorokannya, ia bisa melihat jutaan kupu itu melayu, sayap mereka perlahan menciut, melemas bagai kain tak bertopang, hingga akhirnya berubah warna dari terang ke merah, merah ke biru, biru ke hitam, dan semakin gelap dan gelap setiap detiknya, segelap pandangannya sebelum akhirnya hilang sama sekali. dan mati.



-the end-
C.A

I Found You In London -12-





Berselang satu jam, pelan-pelan aku mengetuk kamar Keysha. Aku tak ingin membangunkan semua orang yang mungkin sekarang sedang tertidur.

"Key," aku berbisik di depan pintu kamar Keysha.

"Key," ulangku karena tak ada jawaban dari Keysha. "Key, aku mau bicara." Aku masih mencoba memanggilnya lewat sela-sela pintu.

Lama aku mencoba memanggil Keysha tak ada juga jawabannya. Mungkin kamu sudah tidur Ya Key, lirihku dalam hati. Ku langkahkan kakiku menjauh dari kamarnya. Walaupun berat aku tetap melangkah. Aku butuh untuk berbicara dengannya atau dengan seseorang sekarang.

Aku tak kembali ke kamar tapi aku melangkah ke kamar kak Sandra. Aku rindu dirinya, merindukan nasehat-nasehatnya, merindukan belaian di kepalaku dan kecupan sayang di keningku. Sekarang kak Sandra memang tak bisa melakukan semua itu tapi aku percaya kak Sandra masih bisa mendengarku. Tak perlu kak Sandra berbicara, aku hanya ingin menumpahkan Yang ada dalam hatiku. Sedih rasanya tak ada seorangpun Yang bisa aku ajak bicara. Rupanya beginilah Yang dialami kak Sandra dulu.

"Kak sudah tidurkah?" Walaupun kak Sandra tak bisa menjawab aku tetap bertanya padanya. Aku berjalan ke tempat tidur kak Sandra pelan-pelan, tanpa suara.

"Kak kenapa belum tidur? Kemana mbok Nah? Biasanya dia akan menunggumu sampai tertidur," ku lihat sekeliling kamar namun tak ku liat sosok mbok Nah di dalam kamar.

Kak Sandra tak berbicara, matanya menatap ke depan namun pandangannya kosong. Aku berbaring di samping kak Sandra. Dulu sering kami tidur bersama dengan Mark juga tentunya. Mendengarkan kak Sandra bercerita sebagai pengantar tidur kami. Kak Sandra tak pernah bosan untuk bercerita walau terkadang aku dan Mark tak pernah mendengarkan.

"Kak, aku boleh tidur denganmu? Aku kangen tidur denganmu, mendengar dongeng yang kau ceritakan, celotehan, nasehat darimu. Ku harap kakak lekas kembali menjadi kak Sandra yang dulu." Kukaitkan jemari kami berdua. Sungguh kecil dan pucat kulit kak Sandra. Berbeda sekali dengan kulitnya dulu. Tak ada lagi aura indah yang terpancar dari kulitnya. Tak terasa airmata keluar dari mataku. Setelah itu tanpa kusadari, aku tertidur di sampingnya.

Pukul 3 pagi, aku membuka mataku. Kak Sandra sudah terlelap dalam tidurnya, terbuai dengan mimpinya yang indah kurasa. Ku kecup kening kak Sandra, ku tinggalkan kak Sandra dengan mimpinya.

"Keysha!" Seruku saat melihat Keysha terlelap di ranjangku. Keysha menggeliat, membuka matanya perlahan.

"Hai Kian,,," sapa Keysha sambil mengucek-ngucek matanya.

"Apa Yang kamu lakukan disini? Sejak kapan kamu di kamarku? Ada Yang melihatmu ke kamarku?" Rasa panik bercampur senang melandaku. "Apa Yang kamu kenakan?" Emosiku meningkat ketika melihat tubuhnya hanya dibalut baju tidur tipis Yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Tak ada laki-laki yang tak senang melihat tubuh perempuan hanya berbalut kain tipis, termasuk aku. Hatiku bersorak gembira membayangkan namun tak bisa berlangsung lama kesadaranku kembali mengingat om Leo Yang tak menyetujui hubungan kami. Apa Yang akan dikatakan om Leo jika ia melihat Keysha masuk ke kamarku hanya dengan balutan kain tipis di tubuhny. Yang pasti om Leo lebih tidak akan menyetujui hubungan kami.

"Apa? Baju tidur." Keysha berpura-pura tak mengerti dengan pertanyaanku. "Ada Yang salah?" Keysha melihat ke seluruh baju tidur Yang ia kenakan. Tangannya tak berhenti untuk memainkan baju Yang dikenakannya.

Aku merangkak naik ke tempat tidur mendekatkan tubuh kami berdua. Keysha tersenyum senang karena berhasil menggodaku pikirnya tapi ia takkan tau apa yang akan ku lakukan. Jari telunjuk dan ibu jariku memegang dagu Keysha, membuatnya menatap dalam mataku. Dengan cepat, panas dan keras ku pagut bibirnya, Keysha Yang terkejut hanya bisa membelalakkan matanya. Tanganku juga dengan kasar menyibak baju tidurnya. Masing-masing tanganku bermain dengan kasar dan keras di payudara dan kemaluannya. Keysha mendorong tubuhku dengan kedua tangannya tapi usahanya sia-sia karena tubuhku lebih kuat darinya.

Keysha makin tersiksa dengan perbuatanku tak ada sinar kenikmatan Yang dipancarkan matanya. Hanya ada kepedihan, rasa sakit dan terluka dalam matanya. Airmata perlahan semakin banyak Yang keluar dari matanya. Sesaat ku tarik bibirku dari bibirnya. Keysha mengalihkan pandangannya dariku. Bibirku memang telah berhenti tapi kedua tanganku belum berhenti dari "aktivitasnya".

"Kian hentikan." Suara Keysha terdengar lirih di telingaku. Nafasnya masih terengah-engah menerima semua Yang aku lakukan padanya.

"Kian, aku benci kamu! Benci! Benci!" Suaranya makin lama makin keras, matanya kini menatapku dengan tajam. Tatapannya tak mau kalah dengan tatapanku, ia benar-benar sudah putus asa dengan perbuatanku. Seketika itu juga aku menghentikan kedua tanganku. Pada saat itu pula Keysha langsung bangkit dan turun dari tempat tidurku, meninggalkan diriku Yang sedang menyesali perbuatanku.

"Selamat malam Kian. Apa Yang kamu lakukan malam ini takkan pernah ku ingat. Aku hanya akan menganggapnya sebuah mimpi buruk, aku harap kamu juga demikian." Keysha berhenti di ujung tempat tidur, memandangku sedih. Lalu berjalan mendekati pintu kamar.

"Key maafkan aku." Dengan cepat kuraih tangan Keysha dan menariknya ke dalam pelukanku.

"Kian lepaskan," Keysha berusaha melepaskan diri dariku. Hatinya berdegup kencang, nafasnya tersengal-sengal. Kedua tanganku melingkar di sekitar dadanya, mengunci dirinya dengan kencang.

"Kian lepaskan!" Ia masih berusaha melepaskan diri meski dengan sedikit tenaga Yang dimilikinya. Peganganku makin erat mengunci dirinya dalam pelukanku.

"Kian, ku mohon lepaskan." Kini perlawanannya terhadapku semakin melemah. Kesempatan untukku untuk membawanya kembali ke tempat tidurku. Satu tanganku beralih ke lutut bagian belakangnya. Dan Yang lainnya berada tepat di belakang lehernya. Tangannya reflek melingkar di leherku.  Aku mengecup kening dan mata serta pipinya Yang masih basah.

Kubaringkan Keysha perlahan. Lama kami terdiam, tak ada Yang mengeluarkan satu patah katapun. Aku masih menatapnya dengan rasa bersalah. Kepala ku topang dengan salah satu tanganku.

"Maaf aku tak bermaksud kasar. Tapi saat kamu bersikap seakan-akan tak perduli dengan apapun, darahku mendidih. Aku ingin memberimu pelajaran tapi aku tak memikirkan perasaanmu. Sekali lagi maafkan aku Key."

Keysha menarik wajahku dengan kedua tangannya. "Kian Alvaro Reynaldi. Aku Yang salah seharusnya aku Yang meminta maaf padamu. Aku datang ke kamarmu sekitar 1 jam Yang lalu. Aku mendengar kamu memanggil-manggilku sebelumnya. Tapi aku tidak bisa keluar karena ibuku sedang bersamaku, ayahku menyuruhnya mengawasiku. Aku terpaksa berpura-pura tertidur. Setelah ibuku pergi dari kamarku dan tertidur, aku langsung pergi ke kamarmu. Tapi kamu tak ada, menunggumu membuatku mengantuk. Jadi disinilah aku dengan baju tipis ini." Keysha menunjuk baju Yang dikenakannya dengan matanya.

Aku tersenyum mendengar perkataan Keysha. "Dingin?" Keysha mengangguk. "Apa Yang kamu pikirkan dengan memakai ini?" Kini giliranku Yang menunjuk ke bajunya dengan mulutku.

"Aku mau membuat diriku hamil. Aku pikir itulah satu-satunya cara agar ayahku menyetujui hubungan kita," pipi Keysha merona merah. Membuatku gemas untuk menyentuhnya. Senyumku mengembang mendengarnya berbicara. Lalu berubah menjadi sebuah tawa Yang tak dapat kutahan.

"Kenapa tertawa? Jangan tertawa." Keysha merengut.

"My little lady are you angry with me?" Aku menggodanya.

"Menurutmu?" Keysha memutar tubuhnya, memunggungiku.

"Keysha sayang apa kamu benar-benar mau melakukannya? Key situasi ini tidak bisa diselesaikan dengan cara seperti ini. Aku fikir ayahmu bukan orang Yang sulit diajak bicara, ia bukan orang kuno tapi ia masih memegang teguh ajaran dari orang tuanya dulu dan adat ketimuran. Bersabarlah, aku sudah bilang aku akan berusaha untuk berbicara lagi dengan ayahmu. Kali ini aku yakin bisa mendapatkan restu darinya. Aku suka ayahmu, ia menjagamu dengan baik seperti berlian." Janjiku saat indah dikatakan tapi jauh dalam lubuk hatiku, aku meragukannya.

"Ya aku tau aku salah. Aku seperti anak kecil tak berfikir panjang. Tapi aku bukan berlian, aku hanya seorang gadis Yang mencintai laki-laki dan ingin mendapat restu dari ayahku." Keysha masih merasa kesal dengan tawaku. Diangkat tubuhnya Yang berbaring.

"Mau kemana?" Tanyaku cepat.

"Kamar." Jawabnya singkat.

"Tidurlah." Kutarik lengan Keysha sehingga kini tubuhnya kembali berbaring bersamaku. "Kita tak bisa melakukan hal tersebut tapi kita masih bisa tidur bersama bukan? Aku ingin tidur sambil memelukmu," ku bisikkan di telinganya, aku memeluknya erat dari belakang. Keysha mengangguk senang. Ia membetulkan cara tidurnya mencari posisi Yang paling enak dalam pelukanku. Tangan kami saling berpegangan erat di depan tubuh Keysha.

Malam ini aku membutuhkan Keysha disampingku, meyakinkanku jika ia masih mau memperjuangkan cinta kami. Esok pagi aku akan siap menghadapi om Leo lagi apapun Yang terjadi aku takkan mundur 1 langkahpun. Walaupun itu artinya aku harus menghilangkan harga diriku. Sekeras-kerasnya batu, ia akan pecah juga jika ditetesi air terus menerus. Kami terlelap dalam tidur Yang sangat damai dan nyaman.




Sabtu, 02 Februari 2013

TANIA



Mentari itu begitu indah, berwarna jingga dengan latar biru langit yang mempesona. Beberapa saat yang lalu baru saja hujan berhenti turun menyerbu bumi, menyisakan kesejukan yang menenangkan beberapa hati. Namun tidak untuk beberapa hati yang lainnya, hati dari orang-orang yang tengah menunduk di depan ruang ICCU. Mereka terdiam, namun hati mereka terus berteriak, memberontak, menuntut keadilan untuk setetes kehidupan putri yang mereka sayangi.
Seorang ibu paruh baya menangis di rangkulan suaminya. Ia terisak perih memikirkan nasib putrinya. Gadis itu bukanlah gadis penurut seperti yang diharapkannya ketika mengandung, namun gadis itu adalah pelita pertamanya, penghias harinya ketika ia gundah, pengukir tawanya.
Sudah lima jam mereka di duduk di tempat yang sama, hingga akhirnya ketika dokter itu keluar, mereka langsung terjaga dari kebisuan yang memilukan itu.
“Masa kritisnya sudah berlalu,” bisik dokter itu. desahan nafas lega langsung terbebas keluar dari dada orang tua sang putri. “Tapi, virus ini sudah menggeroroti persendiannya, ia terancam lumpuh, terutama bagian kakinya. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Namun sampai sekarang kami belum bisa menghentikan virus itu.” ujar sang dokter pelan, dan lagi-lagi air mata itu mengalir.
Warna senja itu begitu indah, begitu lembut dan mempesona, begitu kontras dengan warna sendu yang terbiaskan dari air mata seorang ibu untuk putrinya.
***
Tania mengerjapkan matanya beberapa kali. Sudah seminggu ia terbaring di rumah sakit itu. Tubuh yang sebelumnya sehat kini mulai tampak kurus tak bertenaga. Ia begitu lemah hingga tidak bisa menggerakan jemarinya. Namun entah mengapa matanya tidak pernah lelah meneteskan air mata.
Hari itu, 10 januari 2012, Tania mengernyit ketika melihat sosok lain dari keluarganya memasuki kamar rawat inapnya. Sosok itu mengenakan pakaian kasual, jeans dan t-shirt. Jaket hitam berada di genggaman tangan kananya. Ia mengenakan ransel besar, dengan sepatu kets yang tampak sedikit lusuh.
“Siapa kau?” Tanya Tania lemah. Sosok itu mendekatinya perlahan, menjatuhkan jaketnya begitu saja, kemudian mengulurkan tangannya pada Tania.
“Aku Reza,” bisiknya. Nafas Tania tercekat ketika mendengar nama itu. Nama yang selama ini selalu ingin di dengarnya, nama yang selama ini menghiasi mimpi-mimpi semunya. Nama sahabat kecilnya yang pergi bertahun-tahun lamanya.
“Terima kasih sudah datang,” bisik Tania pada pemuda itu, ia memejamkan matanya dan membiarkan setetes air mata mengalir dari matanya.
***
Tidak pernah ada yang tau apa yang terjadi pada hembusan angin itu, seakan rahasia yang tertutup rapat, namun jelas mempesona. Seperti cinta aneh yang mengalir pada mereka yang tidak pernah bertemu bertahun-tahun lamanya. Namun jelas terikat pada seutas benang yang tak terputuskan. Semenjak hari itu, Reza tidak pernah meninggalkan sosok Tania barang sejenak pun, bagai magnet yang saling menarik. Tania bergerak, ia akan turut bergerak.
“Kau harus pulang,” bisik Tania di minggu kedua ia dirawat. Sore itu begitu hening, hingga rasanya Reza bisa mendengar berbagai gurat perih dari kata-kata Tania. Ia masih berdiri di samping jendela, kedua tangannya tersembunyi di balik kantong jeansnya. “Kau punya pekerjaan di Makasar,” tambah Tania mencoba terdengar logis. Pemuda itu menoleh, matanya mengunci mata Tania, kemudian berjalan mendekat, dan duduk di kursi samping ranjangnya.
“Aku tau,” bisiknya perih. “Tapi aku akan segera kembali.”
“Kau tidak perlu kembali.” Ujar Tania lembut. Reza menatap Tania tak berkedip. “Aku ingin kau pergi dengan kenangan indah ini. Dengan keadaan aku yang masih hidup. Aku tidak ingin kau pergi ketika akhirnya aku mati kelak.”
Reza mengepalkan tangannya diatas pangkuannya, wajah tampannya berpaling begitu saja.
“Kau memiliki kehidupanmu sendiri, pekerjaanmu, kekasihmu—“
“Dari mana kau tau tentang itu?” potong Reza. Dengan lemah Tania tersenyum.
“Aku hanya menebak, dan jika itu benar, ia pasti sangat mengkhawtirkanmu. Kau sudah 7 malam bersamaku, pergilah. Aku tidak ingin kau melihatku mati.” Suara itu begitu lemah, begitu pelan. Hingga walaupun Reza marah dengan perkataannya, ia hanya bisa terdiam memendam amarahnya sendiri.
Reza bangkit dari kursinya ketika gadis itu memejamkan matanya kembali, bergerak ke sofa yang berada tidak jauh dari ranjang Tania, memasukan barang-barangnya kedalam ransel dan meraih jaketnya.
“Kak Reza mau pergi?” Tanya seorang gadis kecil yang baru saja membuka pintu. Wajahnya mendadak diliputi kesedihan. “Jangan pergi…” rengeknya pelan, tampak jelas menahan isakan yang mungkin bisa membangunkan kakaknya jika mendengarnya.
Reza berjalan perlahan ke arah gadis berumur 9 tahun itu, ia membungkuk dan mengecup keningnya perlahan. “Tenanglah Elena, jaga kakakmu baik-baik.” Bisik Reza sebelum berlalu pergi. Gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya keras-keras, jemarinya memilin ujung bajunya, mencoba menahan tangis itu lagi. Namun ketika ia melihat mata yang tengah terpejam itu meneteskan air mata, isakkannya pun pecah.
***
Tania memandang hujan dari balik jendela kamarnya, entah sudah berapa banyak hujan itu turun, namun tampaknya tidak setara dengan deraian air matanya. Setiap hari, setiap detik hatinya akan terus terpilin perih ketika melihat sorot ketakutan dari orang-orang di sekitarnya. Mereka mencoba mengabadikan setiap detik dengan berbagai kamera, mereka datang mengelilingi Tania dan menceritakan kisah konyol yang membuat mereka semua tergelak, tenggelam dalam tawa palsu yang mereka harap bisa menyembunyikan keperihan itu. Namun Tania sangat menghargai semua uasaha itu, ia terus tersenyum manis ketika mereka datang satu persatu, ia tau, ini adalah kesempatannya meminta maaf atas semua kesalahannya sebelum akhirnya virus mematikan itu merenggut kehidupannya.
Kini, setelah dua minggu berlalu sejak kepergian Reza, dua lembayung hitam tampak menghiasi mata cekung Tania. Ia hampir tidak bisa beristirahat, matanya akan terus terjaga untuk menatap pintu kamar itu, berharap jika suatu saat sosok itu akan kembali membuka pintu kamarnya, dan hadir kembali untuknya. Namun ia tau, hidupnya tidak akan lama lagi. Virus yang dideritanya masih menjadi bahan penelitian di berbagai tempat. Virus mematikan yang baru saja dialami beberapa orang di seluruh belahan dunia.
Tania sudah menyerah, ia menyerah pada pengobatan itu. Ia mulai lelah berharap. Karena baginya, semua harapan itu sia-sia belaka, seperti usahanya menghitung tetesan hujan.
***
“Tania… Tania…” suara itu menggelitik kesadaran Tania. Kemudian terdengar petir dan derasnya hujan. Tania tersenyum miris dalam kegelapan, bahkan kini hujan menggodanya dengan menirukan suara yang paling dirindukannya. “Tania, aku datang,” suara itu begitu lembut, begitu tenang. Membuat hati Tania yang membeku pun mulai kembali mencair. Dan kemudian, kecupan lembut di keningnya mengetuk hati Tania, setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam, perlahan bibirnya membentuk goresan senyum tipis, ia tau, pangerannya sudah kembali, tepat di hari berhujan ke tiga belas.

“Kau lihat, aku sudah memakai jas.” Kata Reza keesokan paginya. Tania mengernyit. “Aku masih ingat kau pernah menuliskan kalau kau menyukai pria ber-jas di emailmu.” Ujarnya, Tania mendesah geli. Selama ini, selama bertahun-tahun lamanya mereka berdua memang terus berhubungan dengan segala macam tekhnologi terbaru. Belanda-Indonesia. Hingga akhirnya, hubungan indah itu terputus, ketika Tania didiagnosa mengalami kelumpuhan. “Aku mendapatkan pekerjaan di sini. Kau tidak bisa mengusirku, aku adalah seorang direktur baru perusahaan elektronik di kota ini.”
Lagi-lagi Tania tersenyum lemah padanya. “Kau pantas mendapatkannya,” bisik Tania lemah. Ia tau pemuda di hadapannya memang pemuda luar biasa, ia bahkan bisa menyelesaikan S2nya dengan begitu cepat di Belanda.
“Sekarang kau tidak bisa memintaku pergi lagi. Aku sudah memiliki pekerjaanku di sini, aku sudah membeli sebuah apartemen, dan aku juga sedang membangun rumah. Kehidupanku di sini Tania, kehidupanku adalah dirimu.” Tania tercekat mendengar kata-kata pemuda itu, ia sempat melihat sosok orang tuanya yang tersenyum dan menangis secara bersamaan di balik pintu kamarnya, sebelum akhirnya mereka kembali berlalu meninggalkannya bersama Reza.
“Tapi aku bukanlah gadis yang sempurna. Aku bahkan belum menyelesaikan tugas akhir perkuliahanku, aku belum bekerja.”
“Ssst…” Reza meletakan jari telunjuknya di sisi bibir Tania. “Aku akan membantumu menyelesaikannya. Kau tau, aku adalah murid yang pintar.” Tania menatap geli sekaligus perih padanya. “Dan kau mendapatkan undangan wawancara dari lamaranmu, kau akan menjadi editor di sebuah perusahaan penerbitan sesuai keinginanmu.” Ujar Reza dengan binar penuh harapan di matanya.
“Tapi aku sakit. Aku bisa mati kapan saja. Aku hanya akan mengecewakanmu, aku hanya akan menyulitkan kehidupanmu…”
Reza terdiam. Ia menggenggam erat jemari gadis yang paling dicintainya. “Aku adalah pria yang tangguh Na, aku pintar, aku sukses. Namun aku tidak akan berarti tanpamu. Kita akan kuat jika terus bersama. Tidakkah kau mengerti itu?” tanyanya perih. Tania tidak menjawab. Ia tau Reza adalah pria terbaik yang pernah di temuinya. Ia tidak mengingkari hal itu, namun ia meragukan dirinya sendiri, pantaskah ia untuk pria terbaik itu.
“Kalau begitu, cium aku.” Bisik Tania. Reza hampir saja tersentak karena terkejut. Ia masih menggenggam jemari Tania. Wajahnya yang tampan mendadak linglung, khawatir jika dirinya salah mendengar. “Apa kau tidak—“
Kata-kata Tania terpotong ketika Reza mendekatkan wajahnya, dan mencium kening gadis itu, kemudian mencium kedua matanya yang terpejam, dan berakhir di bibirnya yang lembut.
“Tapi aku ingin memiliki suami seorang mentri.” Ujar Tania pelan.
“Kau akan mendapatkannya.” Bisik Reza penuh janji.
***
16 February 2012.
“Kakak!!” teriak Elena ketika memasuki kamar rawat inap Tania. Wajahnya yang cantik tampak berseri-seri, tangan kanannya mengangkat sebuah benda kotak bersampul kuning. Tania yang tengah menyantap makan siangnya langsung mendelik. “Lihat, aku di belikan Barbie yang baru… lihat… lihat… dia bisa menari, rambutnya panjang seperti kakak,” ujarnya riang. Ia memainkan boneka itu, menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. Tania melirik sosok ibunya penuh Tanya.
“Itu dibelikan oleh Reza. Bahkah Riana juga di belikan handphone terbaru. Tapi layarnya terlalu besar,” ujar ibu paruh baya itu. Tania mengernyit, apa yang dilakukan Reza?
“Aku juga sekarang diantar kesekolah pakai mobil baru kak Riana!” sorak Elena lagi. Kerutan di dahi Tania semakin dalam, ia menatap kesal pada ibunya.
“Belakangan kan sering hujan, Reza mengajari Riana mengendarai mobil. Dan ketika dia bisa, Reza membelikannya mobil berwarna pink itu. jangan salahkan ibu. Ibu sudah menolaknya, tapi Reza seakan-akan tidak mendengar kata-kata ibu.” Ujar ibu itu lagi. Tania mendesah pelan, mencoba meredam kemarahannya untuk sementara.

“Apa yang kau lakukan?” tuding Tania ketika Reza datang sore harinya. Ia melepaskan dasi dan jasnya, kemudian duduk di samping Tania. “Apa yang kau lakukan pada keluargaku?” Tanya Tania lagi. Seakan baru mendengar perkataan Tania, wajah Reza mendadak membeku. “Apa kau pikir aku adalah wanita murahan, hah?” Tanya Tania marah. Tangannya yang sejak lima hari yang lalu sudah bisa di gerakan terkepal di kedua sisi tubuhnya.
“Tidak Tania, tidak seperti itu.”
“Lalu apa?”
“Kau justru adalah wanita yang sangat mahal, hingga kalaupun aku mempertaruhkan hidupku untuk dapat bersamamu, itu tidaklah cukup. Aku hanya ingin mereka bahagia, aku ingin kau melihat orang-orang disekelilingmu bahagia.” Bisiknya perih, amarah Tania yang sebelumnya menggebu-gebu mendadak surut. Wajah tampan itu begitu lelah, begitu perih.
“Maafkan aku,” bisik Tania, ia membelai wajah pemuda itu dengan perlahan.
“Kau tidak perlu minta maaf,” ujar Reza, matanya menatap penuh kasih gadis yang terpaut 8 tahun itu dengannya. “Lagi pula, itu memang sebuah sogokan agar mereka mau mengizinkanku membawamu malam ini.” Sebuah kilatan geli terlihat dari tatapan Reza. Tania mengerutkan keningnya penuh curiga. “Aku ingin membawamu ke suatu tempat,” ujarnya seraya berdiri dari kursinya, ia meraih kursi roda di sudut kamar Tania, mengambil ponsel dan kunci mobilnya, kemudian menggendong Tania ke kursi rodanya.
***
Tania mendelikan matanya tidak percaya. Ia terus menatap hamparan indah lampu-lampu yang berkelap kelip di bawah mereka. “Belakangan ini, sangat sulit menemukan bintang karena mendung yang selalu datang. Dan aku tau kau sangat ingin melihat bintang. Ku rasa, meski tidak seindah bintang asli, tapi kelipan lampu itu—“
“Ini sangat indah.” potong Tania cepat. Mereka ada di ketinggian atap gedung pencakar langit di kawasan Jakarta pusat, memandang kemilau indah lampu-lampu kota metropolitan yang seakan tidak pernah mati.
“Aku senang kau menyukainya.” Reza membungkukan tubuhnya hingga bisa mengecup pipi kiri Tania. “Dan… um… satu lagi…” bisiknya. Tania menoleh padanya, kemudian langsung menoleh kebelakang ketika Reza berbalik.
“HAPPY BIRTHDAY!!!” sorak sorai itu membekukan Tania, mendadak suasana malam itu langsung ramai dan terang menderang oleh lilin dari kue yang mereka bawa. Tania ternganga tak percaya. Seluruh keluarganya, sahabatnya, semuanya menyatu di hadapannya.
“Selamat ulang Tahun yang ke dua puluh satu, Tania,” bisik Reza lembut di telinga Tania. Tania menatap sosok tampan itu dengan pandangan tidak percaya. Tiba-tiba Reza berlutut di hadapan kursi roda Tania, tangannya membuka sebuah kotak hitam kecil berisi cincin berlian yang begitu indah.
“Tania, hari ini, di hadapan semua orang. Aku ingin memintamu menjadi pendamping hidupku. Memintamu menjadi satu-satunya wanita teristimewa dalam hidupku. Memintamu untuk bersamaku menghadapi apapun yang terjadi di masa depan, memintamu untuk menjadi istriku.”
Hening.
Tania terdiam cukup lama, namun ketika air mata itu menetes, ia menganggukan kepalanya pada pemuda itu. “Ya,” ujar Tania lantang.

Sorak sorai itu kembali terdengar dan pesta itu pun dimulai. Begitu banyak orang yang tidak ia ingat namanya, namun jelas ia kenali. Bahkan ada sahabat-sahabat taman kanak-kanaknya dulu. Selama pesta itu berlangsung tidak sedetikpun Reza melepas rangkulannya dari sosok lemah Tania, membuat beberapa gadis berdecak iri padanya. 
“Jadi kau dengan dia?” cibir Tika salah satu teman masa kecilnya. Tania melirik sosok Reza malu-malu. “Aku pikir kau sangat membencinya,” ujar Tika lagi. Tania tersenyum tipis, dulu ia memang sangat membencinya. Ketika ia duduk di kelas nol kecil bersama teman-teman barunya, dan bertemu bocah angkuh yang super menyebalkan yang ternyata adalah putra tunggal pemilik yayasan taman kanak-kanak itu. Bocah itu selalu mengganggu kelasnya, bahkan hingga akhirnya ia sekolah SD dan bocah itu memasuki masa SMPnya, ia terus mengganggu Tania. “Dia tidak pernah berhenti mengganggumu,” ujar Tika dengan senyuman penuh arti. Tania terkekeh dan menggeleng, diremasnya jemari Reza yang berada di pangkuannya, hingga pemuda itu menoleh.
“Kau mau berdansa?” Tanya Reza. Tania langsung menggeleng, namun sosok itu tidak memperdulikannya, ia mengangkat tubuh Tania dengan begitu mudah, menggendongnya bagai benda tak bermassa. Tania terpekik dan langsung melingkarkan tangannya di leher Reza.
“Turunkan aku,” pinta Tania, malu sekaligus takut.
“Hus. Diamlah, atau kau akan jatuh. Ayo kita berdansa.” Ujar Reza seraya terus menggendong Tania menuju sisi yang sudah di hias seperti lantai dansa darurat yang manis. Sedetik kemudian Tania menyerah dalam dekapan Reza, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Reza, tangannya masih melingkari leher pemuda itu, meski ia tau ia tidak akan terjatuh. Dengan perlahan Tania mengangkat wajahnya dan mencium leher Reza.
Tubuh Reza mendadak membeku. Matanya melebar dengan sorot aneh yang belum pernah dilihat Tania sebelumnya.
“Apa?” Tanya Tania cemas.
“Itu adalah bagian sensitifku,” ujar Reza dengan seringai lebar. Matanya menatap dalam mata Tania. Wajah cantik itu langsung bersemu merah.
“Sudah ku catat.” Bisik Tania pelan seraya kembali menyandarkan kepalanya di dada Reza. Ia tersenyum manis kemudian memejamkan matanya, mencoba merasakan irama jantung Reza yang berirama.
Reza mengecup kepala gadis itu penuh kasih, ia masih bergerak perlahan dengan Tania dalam dekapannya. Sudah setengah jam mereka seperti itu, namun ia sama sekali tidak lelah, kehangatan tubuh Tania menenangkan batinnya. Hingga akhirnya hujan itu datang dan menawarkan berjuta hawa dingin, Reza hanya terdiam. Ia menghela nafas panjang kemudian mempererat dekapannya.
“Terima kasih untuk pesta yang dimajukan 10 hari ini.” Bisik Tania pelan, Reza bisa merasakan senyuman gadis itu. Dan mau tidak mau ia pun turut tersenyum meski akhirnya air matanya menetes ketika rangkulan tangan gadis itu dilehernya terlepas begitu saja.

***
10 tahun kemudian.
Seorang gadis cantik mendesah lelah seraya menyeka peluhnya yang memenuhi setiap sudut tubuhnya. Ia benar-benar lelah berorasi di tengah hari seterik ini, namun sebagai mahasiswi yang menjungjung keadilan, ia tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan kehidupan orang-orang yang terbelakang di sekelilingnya.
“Ada bapak Reza Chairil!” pekik gadis berambut kriting di sampingnya. Gadis itu langsung menoleh, dan saat itu pula tatapannya bertemu dengan tatapan bapak mentri pendidikan itu. "Beliau kan mentri pendidikan," gumam gadis itu.
"Beliau memang mentri pendidikan, namun beliau juga manusia yang hatinya turut terpilin ketika melihat ketidak adilan di negara kita," 
“Kau kenal beliau Elena?” Tanya Sonia sahabatnya, ketika melihat sosok berwibawa itu mengangguk pada Tania.
“Dia mantan kekasih kakakku,” jawab Tania pelan.
“Mentri itu?! mantan kakakmu! Maksudmu kak Riana?” tanyanya takjub. Elena memutar bola matanya kepada gadis itu.
“Bukan.” Ujar Elena gemas. Namun ia tidak bisa menyalahkan ketidak tahuan gadis yang baru menjadi sahabatnya selama beberapa bulan itu. “Dia mantan kekasih kak Tania,”
“Tapi aku dengar dia belum menikah,”
“Dia sudah hampir menikah dengan kak Tania.” Ujar Elena, matanya menerawang jauh ke langit yang tak berhujan. Sedetik kemudian hujan itu turun, mengguyur raya yang gersang, mengguyur emosi yang memenuhi setiap senti kota Jakarta itu.
“Hampir?” Tanya Sonia penuh rasa ingin tau. Elena memutar matanya pada gadis itu.
“Ya. Hampir, sebelum akhirnya kak Tiana meninggal di hari ulang tahunnya yang ke duapuluh satu kurang sepuluh hari.” Tuturnya gemas. Sonia ternganga menatapnya, namun gadis itu sudah tidak peduli.
Lagi-lagi Elena tersenyum pada sosok paruh baya itu. Ia mengangguk santun dengan senyuman lebarnya. Reza memabalas anggukannya, kemudian turut berorasi untuk memberantas ketidak adilan yang berada di sekelilingnya. Menemani sahabat mahasiswanya menuntut hak-hak bagi mereka yang tertindas.
Sekali lagi Elena tersenyum, namun kini bukan pada siapapun di sekelilingnya, tapi pada hujan itu, pada sosok kakaknya yang tak kasat mata. “Kau lihat kak, kak Reza sudah menjadi mentri. Kau harus bangga memiliki mantan kekasih seperti dia, kau harus bangga menjadi istrinya. Ia mentri yang bijaksana dan jujur, berbahagialah kau di sana.” bisiknya penuh kasih.
 _the end_