Sabtu, 15 Juni 2013

PELANGI HITAM PUTIH -10-

RAIHAN


“Bangun!”
“Aku sudah bangun.”
“Tapi kau masih memejamkan matamu!” aku mendesah pelan kemudian membuka sebelah mataku, mengintip wajah cantiknya yang tampak lebih segar pagi ini. “Aku bilang bangun!” teriaknya lebih kencang.
“Tapi ini masih terlalu pagi…” gerutuku sungguh-sungguh. “Dan aku kurang tidur semalam.” tambahku, mencoba memberikan alibi agar aku memiliki kesempatan untuk bisa memejamkan mataku lagi.
“Kau seharusnya menerima sebuah hukuman karena perkataanmu! Kau sakit dan malah sengaja tidur larut malam. Sekarang aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Kau harus bangun dan menghabiskan sarapanmu sekarang juga, lalu minum obat-obatan ini.” Tutur Zahra dalam satu tarikan nafas sambil membuka bungkusan obat-obatan bertuliskan namaku. Aku meringis lelah melihat butiran kapsul yang cukup besar itu.
“Kau berlebihan, kemarin obat ku tidak sebanyak itu. kau pasti salah.” Bisikku lemah. Sedetik kemudian aku menyesali perkataanku, karena tatapan yang ku terima selanjutnya sangatlah meresahkan jiwa. Mata bulat Zahra menyipit, bibir tipisnya membentuk sebuah garis lurus yang tampak sangat kokoh, dagunya sedikit terangkat, dengan sebelah alisnya naik. Benar-benar wajah sinis yang sempurna.
“Aku yang merawatmu. Apa kau meragukanku?!”
“Tidak, tentu saja tidak. Tapi kau benar-benar berlebihan. Bahkan perawat biasa pun akan membiarkan pasiennya beristirahat sebanyak mungkin,” untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa gugup. Dan ini sungguh menggelikan, mengingat aku tidak pernah merasakan semua rasa ini sebelumnya.
“Oh,” ujarnya datar. “Asal kau tau, aku ingin agar kau segera sembuh. Karena aku juga masih banyak pekerjaan selain merawatmu di sini! aku harus mengajar ke panti, menyelesaikan kuliahku. Dan banyak hal lain yang lebih penting yang harus ku lakukan dari pada hanya sekedar merawatmu!” tuturnya geram.
“Kalau begitu berhenti merawatku!”
“Oh, tentu. Dengan senang hati. Lagi pula sepertinya kau lebih nyaman dirawat oleh perawat biasa!” bentak gadis itu sambil meletakan bungkusan obat yang tengah di bukanya. Kemdian meraih tas tangannya yang tergeletak di atas lemari es. Aku terbelalak tidak percaya ketika gadis itu benar-benar membuka pintu dan berlalu pergi.
Ya Tuhan!!!
Lagi-lagi aku menyesali perkataanku beberapa saat yang lalu. Tapi, jika dia memang tidak pernah ingin benar-benar merawatku, untuk apa ia mencegahku pergi beberapa hari yang lalu?!
Aku mengacak rambutku dengan frustasi ketika otakku tidak bisa menemukan titik temu tentang gadis itu.
“Nasi sudah menjadi bubur, kau tidak perlu menyesalinya, karena tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mengubahnya lagi menjadi nasi.” Aku menoleh kearah pintu, kakek berdiri di sana dengan senyuman tuanya yang menunjukan sosok sok tahunya. Kedua tangannya tersembunyi di balik saku celananya. Perut buncitnya menyembul sedikit di balik jas hitam yang ia kenakan. “Tadi kakek lihat Zahra di tempat parkir.”
“Jadi dia benar-benar pergi?!” tanyaku frustasi. Kakek terkekeh dan mengangguk.
“Gadis itu tidak pernah main-main dengan perkataannya.” Ujar kakek sambil berjalan mengitari kamar rawat inapku. Ia berdiri sejenak di samping meja kecil di depan sofa, sudah ada vas baru di sana dengan buket mawar merah yang sangat cantik. “Ia benari mengambil keputusan, bahkan yang terekstrim sekalipun.” Tambahnya, dengan perlahan ia memetik daun yang mulai menguning pada salah satu tangkai mawar itu. “Tapi di balik itu semua, ia juga seorang gadis biasa. Yang begitu rapuh… dan butuh perlindungan. Ia hanya terlalu angkuh untuk sekedar menyadari kerapuhan dirinya sendiri.”
Aku terdiam sejenak, mencoba meresapi seluruh kata-kata pria tua yang biasanya selalu menjadi sainganku dalam setiap hal itu. “Hanya pria bermental baja yang akan bisa bertahan dengannya.” Ujar kakek dengan senyuman miringnya yang bijaksana. “Kalau saja kakek tidak mencintai almarhumah nenekmu sedalam ini, mungkin kakek sudah mendekatinya.”
Aku terkekeh sarkastis. “Jadi kakek merasa memiliki mental yang kuat?” ejekku.
“Wah, nenekmu tidak jauh berbeda dengannya. Dia juga seorang wanita yang sangat keras kepala. Tapi dia adalah wanita yang paling berharga.” Mata tua kakek menerawang jauh ke luar jendela. Senyuamannya mengembang dengan mimic yang begitu tenang, mimic yang selalu muncul ketika ia mengingat tentang nenekku yang sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu pergi dari muka bumi ini. Aku termenung sejenak, jika suatu saat nanti Tuhan mengambil gadis itu dari muka bumi ini, bisakah aku tersenyum tenang seperti yang kakek lakukan saat ini? Bisakah aku merelakannya?
Pemikiran itu langsung mengubah suasana hatiku. Ketakutanku akan kehilangannya membuat seluruh tubuhku menggigil. Tidak, aku bukan kakek, aku tidak mungkin bisa dengan tenang melewati kelamnya malam tanpa sosok gadis itu. Jadi mungkin aku memang bukan pria bermental kuat seperti yang dimaksudkan kakek.
“Apa yang seharusnya ku lakukan?” bisikku pada akhirnya, mulai menyerah pada egoku yang biasanya ku junjung tinggi. Namun ketakutanku akan kehilangannya membuat jiwaku menciut ketakutan.
Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa hidup tanpanya. Sedang dia adalah gadis yang sangat kuat, dan aku bersyukur karenanya. Karena jika pada akhirnya waktuku habis, dia pasti akan tetap kuat menjalani hidupnya. Ya, dia harus kuat.
“Perjuangkan cintamu.” Ujar kakek dengan tatapan penuh semangat. “Kau pasti bisa meluluhkan hatinya.”
“Bukankah kakek tau sendiri jika ia adalah gadis yang sangat keras.” keluhku, kakek tertawa hambar sambil menggaruk kepalanya yang hampir botak dengan perlahan.
“Kau benar juga…” ujarnya miris.
“Lalu bagaimana?!” tanyaku frustasi.
“Cari tau titik lemahnya, masuki zona nyamannya.”
“Kakek tau?” tanyaku mulai menemukan secercah harapan. Namun ketika kakek menyeringai sambil mengangkat bahu, aku menyerah.
Aku berpikir sejenak sambil menatap buket mawar merah itu. “Ah! Aku tau…” ujarku berapi-api.
***

Jumat, 14 Juni 2013

REMBULAN MARYLIN



Hembusan angin malam itu tampak begitu asing, tidak seperti malam-malam sebelumnya yang berhembus lembut di antara dedaunan yang terdiam sunyi menunggu fajar. Seakan menunggu akan datangnya sebuah keajaiban, malam pun turut membeku. Jangkrik-jangkrik yang biasanya bersuara nyaring kini bersembunyi di balik bebatuan, bahkan nyamuk-nyamuk pun lebih memiliki berkumpul dengan kelompoknya dari pada harus keluar persembunyian mereka. Bukan, bukan karena mereka tidak lapar, tapi mungkin mereka hanya enggan melihat gadis itu lagi, melihat air mata itu lagi, melihat kekecewaan itu lagi.
Setetes air mata mengiringi setiap kedipan gadis itu, sayangnya, sebanyak apapun ia sudah menangis, air matanya takkan pernah mengering, dan lukanya tidak pernah terobati. Rindu yang takkan pernah bertepi.
Sekali lagi Mary menyeka air matanya, mengukir sebuah senyuman simpul di wajah manisnya, dan memantapkan hatinya, bahwa masih ada purnama-purnama yang selanjutnya, malam purnama di mana rindunya akan terobati. Ia meraih tasnya yang tergeletak di kursi sebelahnya, kemudian bangun dari duduknya, bersiap untuk meninggalkan taman yang sunyi.
Keningnya sedikit berkerut ketika merasakan ponsel di saku jeansnya bergetar. Telepon dari Rama, sahabatnya.
“Dimana kau?” Tanya Rama sebelum Mary sempat mengucapkan kata Halo.
“Di rumah.” Jawab Mary pelan.
“Bohong. Aku di rumahmu sekarang, dan kau tidak ada.” Tukasnya geram. Mary mendesah lelah dan menutup teleponnya. Ia menjejalkan ponselnya kembali ke dalam saku jeans, berpura-pura tidak peduli pada getaran-getaran yang disebabkan oleh telepon Rama yang selanjutnya.
***
“Kau sudah dewasa, kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Rama mencintaimu, dan kau tau itu, kita semua tau.” Ujar Ny. Lisa pagi itu. Mary yang tengah menyiangi tanaman mawar kesayangannya terdiam sejenak, namun tidak menoleh. “Ibu tidak pernah memaksamu untuk menikah. Ibu percaya padamu, ibu hanya ingin kau memberi kesempatan pada Rama.” Tambah wanita berumur 56 tahun itu. Mary mendesah pelan kemudian kembali menyibukkan dirinya dengan mawar-mawar itu. Ia memotong setangkai mawar yang melayu, dan setangkai yang masih begitu segar. Namun keduanya ia buang begitu saja di tempat sampah bersamaan dengan daun-daun kering lainnya.
“Kenapa kakak membuang mawar itu?!” Tanya Nila adiknya.
“Karena mawar itu rusak,”
“Tapi dia masih segar.”
“Tapi dia rusak. Kalau dibiarkan dia akan merusak yang lainnya.” Ujar Mary sebelum berlalu pergi ke kamarnya. Nila tertegun mendengar perkataan kakaknya. kemudian merapihkan rok abu-abunya dalam diam, berusaha menutupi kegalauannya akan sikap kakaknya yang tidak lagi bersahabat.
Baginya Mary adalah kakak yang sangat sempurna, ia baik hati, pintar dan cantik. Sikapnya yang lemah lembut membuatnya selalu merasa tenang, meski begitu ketegarannya yang tak tergoyahkan juga berhasil membantu mereka semua keluar dari keterpurukan ketika ayah mereka meninggal. Hingga hari itu tiba, ketika tanpa sengaja malam bulan purnama berubah menjadi malam berhujan yang begitu kelam. Mary yang dikenalnya pun menghilang, seperti rembulan yang ditelan kelabu malam itu.
***
Mary tersentak kaget dari lamunannya ketika ia mendengar pintu ruangannya dibanting dengan keras. Seakan baru tersadar dari lamunannya, ia merasa tubuhnya mendadak bergetar, menggigil kedinginan meski ac di ruangannya sudah dimatikan. Kata-kata pria itu kembali terngiang di telinganya. Kata-kata yang entah bagaimana mampu membius sosok muda Mary.
“Tunggu, tunggu aku. Aku pasti akan segera kembali. Tepat di malam bulan purnama yang selanjutnya, aku akan menemuimu. Di tempat ini, di taman ini. Tunggu aku, karena aku mencintaimu.”
Ia memejamkan matanya dengan perlahan, mencoba mengingat seluruh rentetan kejadian yang manis itu. menjoba mengingat 7 menit yang paling indah dalam hidupnya, 7 menit yang paling berharga untuknya. Kemudian ketika kenyataan itu menghampiri, ia akan jatuh menangid si depan meja nya, menutup matanya untuk menyembunyikan air matanya yang tidak pernah mengering.
Entah sudah kali keberapanya ia menangis di dalam ruangan kantornya yang sunyi, untuk sesaat semuanya akan tampak bagai malam yang kelam, melengkapi sosok cantik Mary dengan segenggam lukanya.
Mary menyeka air matanya ketika mendengar sebuah ketukan di pintunya, seorang gadis sebayanya tersenyum kikuk ketika muncul dari balik pintu itu, sadar bahwa atasannya baru saja menangis. “Maaf Mar, ada telepon di line satu dari orang yang bernama Hana,” ujarnya. Mary mengangguk dan langsung menyibukan dirinya dengan gagang telepon di mejanya.
“MARRY!!!”
“Hai Han…” sapa Mary lesu.
“Kau kenapa?! Kau sakit? Atau habis menangis.”
“Jangan bodoh, mana mungkin aku menangis.”
“Jangan membodohiku Mary, aku sahabatmu!”
“Sahabat yang tidak pernah bertemu.” Ralat Mary. Hanna meringis pelan.
“Tapi aku tetap sahabatmu, meski kita sudah sepuluh tahun tidak pernah bertemu. Aku masih menyayangimu, seperti ketika kita masih SD.” Tutur Hanna lirih. Mary terkekeh pelan mendengar nada suara Hanna. “Dan sebentar lagi kita juga akan bertemu,” ujarnya. Mary tersenyum tipis dan mengangguk, meski ia sadar Hanna tidak akan melihat anggukannya.
“Iya aku tau.” Ujarnya dengan sebuah senyuman simpul.
“Aku menyayangimu Mary,”
“Sudahlah Hanna, kita bukan pasangan lesbi, oke?!”
“Hahahaha, kau benar. Kalau saja aku belum menerima pinangan pangeranku, aku pasti akan menjadi pasangan lesbi terbaikmu.”
“Bodoh!” desis Mary sambil tersenyum tipis.
“Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang hari pernikahanku!”
“Aku tidak pernah lupa, kau meneleponku lima kali sehari untuk mengabari hal ini. Ku harap pangeranmu itu benar-benar setampan yang kau ceritakan itu, ratu dongeng!”
“Hey! Kau akan melihatnya sendiri. Kau juga pasti akan terpesona! Dia itu sangat teramat menawan!!!” teriak Hanna bersemangat. Mary tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Jangan lupa bawa pangeran Rama-mu!” tambahnya. Kening gadis itu berkerut, bagaimana mungkin Hanna mengetahui tentang Rama? “Jangan mengelak, Nila sudah menceritakannya padaku. Aku tidak habis pikir bagaimana mungkin kau bisa menyembunyikan ini dariku?!” tudingnya geram.
“Aku tidak ada hubungan apapun dengannya.” Ujar Mary perlahan.
“Ah, berhenti berpura-pura. Bawa dia ke pernikahanku, aku tidak ingin sahabatku datang sendiri di acara spesialku.” Tutur Hanna sebelum menutup teleponnya. Mary mendesah lelah dan melirik kotak kecil hitam di atas mejanya dengan perih. Kotak yang berisikan cincin yang tidak pernah bisa ia terima.
***
“Kau tidak mengenaliku?” pertanyaan itu menghentakan jiwa gadis yang tengah membeku itu. Matanya nanar menatap sosok tampan yang berdiri di hadapannya. Perlahan segores senyuman terukir samar di wajah cantiknya. Ia menatap wajah di hadapannya dengan penuh rindu. Kedua mata itu masih begitu indah dengan warna coklatnya yang sangat cemerlang, rambutnya yang hitam tersisir rapih dengan gaya yang elegan, membingkai apik wajah tampannya.
Tidak, tidak ada yang berkurang dari pria itu. bahkan ia tampak bertambah tampan, dengan stelan jas kasualnya, dengan senyuman hangatnya, dengan tatapan menyejukannya.
“Aku sahabatmu, kau ingat? Kita pernah satu kelas dua tahun di SMA.” Ujarnya. Namun Mary hanya terdiam. “Hm… kita pernah dihukum bersama-sama membersihkan gudang karena bertengkar di perpustakaan.” Ujarnya mengingat-ngingat. Ia memijat pangkal hidungnya sambil memejamkan matanya, mencoba mengorek memori lama yang tampaknya sudah terlupakan. “Oya, ketika kelas satu kita juga pernah bertengkar di lapangan basket. Ketika itu kau meminta timku untuk pergi karena ingin menggunakan lapangan basket sebagai tempat penelitian kelompok kimia-mu.” Pria itu tersenyum geli ketika mengingat masa lalunya. Ia berbalik ke arah pantai di sampingnya, kedua tangannya tersembunyi di balik saku celananya.
“Kita bahkan pernah tertinggal bus pariwisata ketika liburan kelas dua, hingga kita harus berjalan lima kilometer untuk menyusul bis yang tengah beristirahat di pom bensin terdekat. Dan sialnya tidak ada yang menyadari ketidak beradaan kita hingga kita datang,” ia menggeleng-geleng pelan sambil terus tersenyum. “Oya, kita pernah menanam pohon apel bersama. Hm… entah bagaimana kabarnya sekarang. Aku ingat kau selalu bersikeras bahwa pohon itu akan mati karena suhunya tidak sesuai. Tapi akhirnya kau tetap membantuku untuk menanamnya juga.”
“Kau adalah murid teladan, dan semenjak kita bersahabat di kelas tiga, kau selalu terlambat karena aku telat menjemputmu berangkat ke sekolah, maaf soal itu,” pria itu mendesah pelan. Tampak tulus dengan permintaan maafnya. “Aku ingat ketika kita menggabungkan perayaan hari ulang tahun kita di taman. Walaupun sedikit tidak adil untukku, karena hari ulang tahunku masih berselang dua bulan lagi. tapi itu adalah perayaan terindah yang pernah ku alami.”
Mary menghela nafas panjang dan membungkuk untuk mengambil segenggam pasir. Matanya nanar menatap birunya lautan di hadapan mereka.
“Sepertinya kau mengingat hampir semuanya…” bisik Mary pelan.
“Ya, dan sayangnya tidak ada satu hal pun yang kau ingat tentang kita.”
“Tentang kita…” Mary tersenyum sinis. Ia mengulurkan tangannya yang menggenggam pasir, kemudian membuka genggamannya dengan perlahan, hingga angin pantai sore itu menerbangkan butiran pasir di genggamannya. “Kenangan itu… akan seperti ini… menguap sedikit demi sedikit, hingga akhirnya hilang sama sekali…” bisiknya sambil membuka jemarinya lebih lebar lagi, hingga butiran pasir itu menghilang seluruhnya dari genggamannya.
Hembusan angin bertambah kencang kala itu, menjemput pasang air yang mulai naik, menjemput malam dengan segala kekelamannya. Mary berdiri di sana, dengan gaun terindahnya, dengan penampilannya yang paling teristimewa, seakan ia sudah tau jika ia akan menemui sosok sempurna itu hari ini. Ia tersenyum tipis melihat warna senja yang perlahan menghilang, tergantikan oleh kemilau cahaya rembulan.
“Tentang kita…” bisik pria itu pelan.
“Tentang kita…” potong Mary cepat. “Aku hanya bisa mengingat 7 menit terindah dalam hidupku. 7 menit teristimewa dalam hatiku. Sekaligus menjadi 7 menit kenangan terbaikku. Dan kini terasa seperti 7 menit yang begitu menyakitiku.” Ia tersenyum pahit pada malam yang menyapa dalam diam. “Kau lihat rembulan itu. hampir bulat sempurna, namun belum sepenuhnya bulat. Ada sisi sisi yang masih belum terlihat. Dan aku sangat mengharapkan jika suatu hari nanti aku bisa melihat bulan dengan bulatan yang sempurna. Tapi nyatanya aku tidak pernah bisa, sebulat apapun ia, ia akan selalu memiliki bagian yang terpotong oleh kelamnya malam. Ia tidak pernah menjadi purnama di mataku.”
“Mary…”
“Purnama di mataku.” Mary mengulangi kata-katanya dengan senyuman meremehkan. “Dan bodohnya, meski aku tau rembulan itu tidak pernah menjadi purnama, aku tetap menanti. Aku tetap duduk bodoh di sana, menanti sang rembulan memberikan cahayanya sepenuhnya kepadaku.”
“Mary…”
“Kau… ingatkah janji itu? janji manis yang kau ucap dengan sepenuh hati… janji bahwa kau akan kembali… janji untuk menemuiku di malam indah ketika purnama hadir, janji yang tidak pernah kau tepati..
“Kau mengingat banyak hal, namun tidak dengan janji itu, karena kau memang sengaja melupakannya. Melupakan 7 menit kenangan yang selalu ku ingat di sepanjang hidupku. Melupakannya karena kau tidak benar-benar ingin kembali.”
“Mary… aku…”
“Sudahlah. Itu hanya sebuah kisah kelam seorang gadis bodoh dengan rembulan di matanya. Hanya sebuah kisah klise tentang cinta dan kenangan yang mengundang perih jika dikenang. Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku terluka karena kebodohanku sendiri. Dan maaf, kau memang kenangan terindah dalam hidupku, tapi aku tidak bisa terus mengingatmu, karena itu hanya menaburkan luka ketika akhirnya aku sadar bahwa kisah kita hanya sebuah kenangan yang takkan pernah terulang. Maaf, tapi aku harus melupakanmu…” Mary membalikan tubuhnya, bersiap pergi meninggalkan pantai, meninggalkan rembulan, meninggalkan pangerannya.
“Aku tidak bisa kembali… bukan tidak ingin…”
Setetes air mata mengalir begitu saja ketika Mary mendengar kata-kata pria itu. ia menghela nafas panjang dan tersenyum tipis, menertawakan dirinya yang begitu lemah di hadapan kata cinta itu.
“Dan Adit, aku ingin mengucapkan selamat untuk pernikahanmu dan Hanna besok. Sampaikan maafku pada Hanna karena tidak bisa menghadiri pernikahan kalian.” Mary menyeka air matanya perlahan. “Karena rasanya aku tidak sekuat itu…” bisiknya sebelum berlalu pergi menuju hotel tempat pernikahan sahabatnya akan diadakan esok hari.

The end

Kamis, 13 Juni 2013

I Found You In London -14-




"Kian!!!" Suara Om Leo penuh rasa senang dan kerinduan.

"Om Marcus!!" Seruku tak kalah senang dan rindu pada sosok omku satu-satunya. Bedanya aku ditambah dengan perasaan terkejut karena sangat tidak biasa om Marcus datang tanpa memberitahuku dulu. Satu lagi perasaan yang muncul, aku akan bingung menjawab saat ia akan bertanya mengapa aku membawa koperku? Aku tak mungkin menjawab jika aku diusir secara halus oleh pemilik rumah ini, om Leo.

"Hai Kian, om sangat kangen sama kamu dan Sandra. Mana kakakmu?"  Om Marcus memelukku layaknya seorang ayah terhadap anaknya. Aku pun memeluk om Marcus balik.

"Hai Kian." Satu suara lagi benar-benar sukses membuatku terkejut. Aku melihat sosok itu sama dengan pertama kali aku melihat om Marcus.

"Hai Mark." Sapaku sambil menarik tangan adikku, Mark dan memeluknya. Segala perasaan hinggap di diriku. "Kapan kalian tiba di London? Dan kenapa tak ada yang memberitahuku? Kenapa...."

"Hai Marcus!!!" Sapaan om Leo memotong pertanyaanku. Dari nada suaranya tampak rasa senang tidak terkejut seperti diriku. Om Leo seperti sudah menantikan kedatangan om Marcus berhari-hari.

"Hai my man, Leo." Om Marcus mengulurkan tangannya yang disambut oleh Om Leo. Mereka berjabat tangan dan saling berpelukan sekilas. Canda tawa mengiringi pertemuan mereka.

"Hai Mark!" Sapa om Leo sekarang berganti kepadanya. "Hai om, gimana sehat??" Sikap om Leo kepada Mark sama seperti sikapnya kepada om Marcus.

"Come in you, guys," om Leo mengajak om Marcus dan Mark masuk tanpa melihat ke arahku. "Hopely tidak ada yang menyadari sikap dan tingkah om Leo," ucapku dalam hati. Namun telat karena Mark menyadarinya tapi aku hanya mengangkat bahuku sambil menghadiahkannya sebuah senyuman. Mark pun tak ambil pusing. Hah? Semudah itu Mark sekarang? Entahlah mungkin ia tak ingin bertanya sekarang tapi nanti.

"Mark, Marcus duduklah di ruang keluarga nanti istri dan anak-anakku menyusul. Oh ya Sandra ada di kamarnya bersama Mbok Nah." Kata om Leo sambil berjalan ke arahku. Aku hanya diam tak ingin berdebat dengannya kali ini. Aku tak ingin merusak persahabatan om Leo dan om Marcus dengan masalah kecilku.

"Sepertinya kamu harus menunda kepergianmu dulu. Selama om dan adikmu ada di rumahku bersikaplah seperti biasa." Bisik om Leo di telingaku, dingin. Aku mengangguk. "Oh ya letakkan tas dan kopermu sementara di ruang kerjaku." Bisik om Leo lagi sebelum pergi menghampiri om Marcus dan Mark. Sementara aku ke ruang kerja om Leo dulu sebelum bergabung dengan mereka.

Setelah meletakkan semuanya, aku menyeret kakiku ke ruang keluarga dengan malas. Disana semua keluarga telah berkumpul termasuk mbo Nah dan kak Sandra. Aku duduk di salah satu sofa yang masih kosong yang tersedia untukku. Sofa yang hanya diduduki satu orang dengan mata sembap dan penuh kesakitan. Seseorang yang sedari tadi tak menampakkan dirinya, Keysha.

Aku sengaja duduk agak jauh darinya agar aku bisa melihat wajah Keysha. Ya mencuri-curi pandang dengan alasan aku melihat ke om Marcus atau Mark. Ah aku memang licik batinku sambil tersenyum tipis. Aku berpuas-puas diri untuk melihatnya, ah sungguh aku akan merindukan dirinya yang manja, tegas, dewasa dan juga sikap lugunya. Keysha yang tersadar sedang keperhatikan langsung memutar tubuhnya. Hah?? Sebegitu bencikah dia padaku? Apa dia tak tahu jika aku juga tak mau berpisah darinya? Aku juga merasakan sakit yang sama. Ah mengapa om Leo begitu jahat padaku?

Ku mencoba untuk mengalihkan perhatianku dari Keysha. Ku tatap satu-satu semua yang di ruangan tersebut. Aku menemukan Frank sedang memperhatikanku. Apa dia melihat semua yang ku lakukan dari awal? Apa dia tau kalo aku mencuri kesempatan untuk melihat Keysha? Hei seringai apa itu?? Sebentar-sebentar kenapa semua orang tidak ada yang mengajak aku dan Keysha berbicara? Apa mereka semua sengaja? Lalu ku perhatikan lagi masing-masing sofa. Hei kenapa masih banyak sofa kosong yang bisa aku atau Keysha duduki tapi kenapa mereka seperti sengaja menempatkanku dan Keysha dalam satu sofa? Ah mungkin hanya fikiranku saja batinku. Dan aku pun berusaha untuk kembali terlibat dalam perbincangan mereka.

Huuuuffftttt sepertinya percuma aku melibatkan diri, karena lagi-lagi aku tak didengar. Apa sebenarnya yang mereka perbincangkan? Kenapa aku tak mengerti sama sekali? Mereka berbicara menggunakan bahasa manusia kan? Bukan bahasa planet Mars atau Pluto? Waduh otakku benar-benar tak bisa berfikir sekarang ini. Aku menggelengkan kepalaku mencoba mencari untuk bisa lebih berkonsetrasi.

Rupanya bukan hanya aku yang merasakan semua itu. Keysha yang duduk di sebelahku pun merasakan hal yang sama. Dia nampak bosan terlihat dari beberapa tarikan nafas panjang yang dia lakukan. Ah seandainya saja kami baik-baik saja. Sudah pasti ku ajak Keysha berbicara berdua. Tanpa perduli orang-orang itu yang asyik berbicara. Hmmm mungkin aku akan mencuri sedikit ciuman darinya. Membayangkan itu membuatku bibirku tersenyum. Ku lirik Keysha untuk kesekian kalinya. Kali ini sepertinya Keysha berfikiran yang sama denganku. Kenapa aku bisa berfikir seperti itu karena pipinya merona merah. Seandainya bisa ku cubit sedikit pipimu, Key.

"Jadi bagaimana dengan orangtuamu, Mark?" Tanya om Leo tiba-tiba memecah lamunanku. Mark tersenyum manis. Sejak kapan senyum Mark bisa begitu manis? Tak hanya manis tapi juga penuh rahasia. Ihhh anak ini sejak kapan maen rahasia-rahasian sama aku, kakaknya yang ganteng ini. Akan kutanyakan nanti saat kami hanya berdua saja.

"Baik, Om... Mereka menitip salam sama om dan tante serta seluruh keluarga disini." Jawab Mark mulus seperti jalan tol. Sebuah kejutan lagi datang di depanku. Sejak kapan orang tuaku mau berbasa basi dengan keluarga om Leo? Ya orangtuaku terutama papaku sangat tidak menyukai keluarga om Leo.

Sebenarnya dulu papaku, om Marcus dan om Leo bersahabat baik. Sampai pada satu kejadian, papaku mengkhianati kepercayaan om Leo dengan membocorkan rahasia perusahaan om Leo pada lawan bisnisnya. Yah siapa yang takkan marah mendengar semuanya? Akupun sangat marah.

Lain lagi dengan mamaku. Sebelum om Leo menikah dengan tante Keira, om Leo pernah menjalin hubungan dengan mamaku. Namun lagi-lagi om Leo dikhianati, mamaku selingkuh dengan sahabat baiknya, siapa lagi kalau bukan papaku. Heran bukan bagaimana mereka bisa begitu buruk perilakunya. Jangan tanya, kamipun sebagai anak-anaknya bingung. Tapi satu hal yang pasti, kak Sandra bukan anak hasil di luar nikah. Kak Sandra lahir setelah dua tahun mereka menikah. Sebenarnya aku mempunyai satu kakak perempuan, Medelline namanya. Kakakku inilah yang lahir hasil hubungan di luar nikah kedua orangtuaku.

Kak Medelline dan kak Sandra sangat dekat hingga orang-orang berfikir mereka anak kembar. Oh ya bukan hanya akrab tapi mereka juga sangat mirip. Terdapat beberapa perbedaan dari keduanya. Kak Medelline orang tegas, tidak suka berbasa basi, berani mengutarakan pendapatnya. Sedangkan kak Sandra orangnya lembut, pendiam, selalu bertindak berhati-hati.

Sayangnya kebersamaan kami hanya berlangsung singkat. Pada saat ulang tahunnya yang ke 14, kak Medelline dipanggil sang Maha Kuasa. Dua tahun sebelum kak Medelline meninggal, dokter memvonis kak Medelline dengan penyakit kanker otaknya. Sebenarnya kakek tak mau jika kak Medelline mengetahuinya tapi tanpa sepengetahuan kakek, kak Medelline mencari penyebab dia gampang sakit. Kak Medelline sangat rapi dan pintar menutup mulutnya sehingga kami tak tahu jika ia sakit.

Semenjak mengetahui sakitnya, kak Medelline melatih kak Sandra untuk menjadi seorang kakak, menggantikan dirinya. Aku dan Mark yang waktu itu masih berusia 6 dan 4 tahun hanya melihat dari kejauhan. Kak Medelline sangat keras dan tegas sekaligus lembut mengajar kak Sandra. Hasilnya dapat terlihat setelah kepergian kak Medelline.

Kami bertiga banyak diam saat pertama kali melalui hari tanpa kak Medelline. Kami hanya senang mengurung diri di kamar, makan atau apapun selalu dibawakan ke kamar. Hingga suatu saat mbok Nah memanggil kami semua ke kamar kak Medelline.

"Sandara, Kian dan Mark maaf mbok baru bisa memberikan ini kepada kalian." Mbok Nah menyerahkan sebuah amplop hijau di sertai kecupan bibir. Kak Sandra mengambilnya, dibuka perlahan amplop tersebut. Amplop coklat yang diatasnya terdapat tulisan kak Medelline untuk kami bertiga.
Dear my lovely sister and brother,

Hai Sandra, Kian dan Mark.... Saat kalian membuka amplop ini ada dua kemungkinan. Yang pertama aku sudah ada di taman surga kalo aku masuk surga :). Yang kedua aku sedang terbaring koma di rumah sakit. Sejujunya aku akan memilih yang pertama...... Tapi dimanapun sekarang aku berada percayalah,,,,,,, aku akan selalu menyayangi dan mencintai kalian bertiga.

Sandra maafkan aku di saat-saat terakhirku..... tak ada kenangan indah yang kita buat. Aku malah sibuk mendidikmu ...... menjadi anak yang kuat, berani dan tegas dengan keras. Aku berbuat ......... seperti itu karena aku ingin kamu menggantikan posisiku saat aku tak ada......... Sandra buang jauh-jauh sifat lemahmu sayang karena untuk menghadapi kedua orang tua kita tak hanya dengan sikap lemahmu. Jika kamu tetap demikian,,,,,,, percayalah mereka akan menginjak-nginjakmu. Walau aku keras padamu,,,,, tak pernah sedetikpun aku tak menangis melihatmu tersiksa dengan sikapku. Bahkan hingga sampai saat ini menyesal karena haru meninggalkanmu seperti ini...... Maafkan aku, Sandra.

Kian dan Mark, dua adik laki-lakiku tercinta....... Hai ganteng entah kalian sudah atau belum mengerti....... dengan semuanya. Bagaimanapun kalian masih kecil, masih ....... banyak yang perlu kalian lihat, dengar dan alami. Aku hanya minta saat ...... kalian dewasa nanti jagalah Sandra untukku...................... Sayangi, hormati ia. Ketika nanti orang tua kita berbuat buruk kepada kalian, jangan pernah benci mereka...... Apapun dan bagaimanapun mereka, mereka tetap orang tua kita yang harus kalian hor....mati dan .......hargai. Jika kalian merasa perlu melepaskan kekesalan dan kejenuhan, ikutlah kalian ke dalam suatu kegiatan yang bermanfaat. Jangan tiru sikap dan sifat kedua orang tua kita......

Sandra, Kian dan Mark... Aku tau kepergianku telah meninggalkan banyak kesedihan kalian..... Membuat lubang besar di hati kalian. Tapi tolong lanjutkanlah hidup kalian,,,,,,, hapus airmata kalian, berbahagialah kalian setelah aku tiada......  Tersenyumlah kalian untukku karena aku sangat ingin melihat kalian ....... tersenyum dari atas sana. Jika kalian membutuhkan sosok orang tua sejati maka.... belajarlah kalian dari kakek, om Marcus dan mbo Nah. Jangan pernah kalian melepaskan genggaman erat tangan mereka pada kalian.

Kakek seorang yang keras namun sangat perhatian dan penya....yang. Sosok ayah yang selalu memaafkan dan bijak dalam hidupnya, seorang pe......kerja keras juga. Om Marcus seorang yang keras, kaku, tegas dan galak ...... apalagi sama jenggot dan kumis yang ada makin terlihat sangar ya. Tapi jangan ..... salah jika kalian dekat dengannya sejuta kasih sayang, semilyar pelukan,,,,,,,,,,,,, setrilyun  perlindungan. Mbo Nah jangan pernah memandangnya hanya sebagai pembantu di rumah kita.......... Sesungguhnya ia lah yang selalu ada untuk kita, yang se......lalu menjaga kita setiap harinya. Yang akan mengantarkan kita hingga terlelap dalam tidur, yang akan .......menghapus airmata kita, yang akan mengobati setiap luka di hati dan tubuh kita.

Andai waktuku lebih lama, aku akan sangat senang bermain bersama,,,,,,,, tertawa bersama bahkan mungkin berkeliling dunia bersama...... Ah indah tentunya jika kita bisa melakukan semua itu. Tapi sayang.... semuanya hanya bisa ku bawa dalam mimpi di tiap malamku. Ternyata ......Tuhan lebih menyayangiku dibandingkan kalian. Jangan iri ya :)... Tuhan punya rencana indah untuk kalian.

Cukup sampai disini tulisanku yang tak karuan. Mataku sudah mengantuk.... Semoga kalian bisa terus seperti sekarang....


With love

Your beloved sister
Medelline

Surat panjang dan membosankan ku pikir waktu itu. Tapi menyimpan sejuta nasehat yang harusnya ku dengar dan ku ingat. Surat yang banyak noda darah itu masih tetap tersimpan rapi di rak buku kak Sandra. Aku yakin saat menulis surat itu kak Medelline pasti merasakan sakit yang sangat teramat di kepalanya. Karena kak Medelline tak boleh berfikir terlalu keras.

Kak, aku merindukanmu. Sedang apa kau di atas sana? Apa kau merindukan kami? Karena kami merindukanmu. Jika kau masih ada, kak Sandra takkan seperti sekarang. Kak semoga engkau bahagia di atas sana. Batinku sedih.

Entah karena beban hatiku terpancar jelas di wajahku atau karena secara tak sadar aku telah mendekati Keysha. Karena tiba-tiba tangan Keysha menggenggam tanganku. Tangan mungilnya terasa dingin, lemah tapi juga terasa lembut. Pelan ia mulai mempererat genggamannya, berusaha untuk menghilangkan resah dan gelisahku. Ah Key lagi-lagi kau membuat aku ingin menarikmu ke dalam pelukanku lalu menciummu lembut dan panas. Sayangnya sekarang ini yang bisa kulakukan hanya membalas genggamanmu, erat.

Wajahnya pun sekarang lebih melembut dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Pipimu pun sekarang lebih berwarna, senyummu walaupun sedikit tapi terukir indah di bibirmu yang tipis. Apa yang terlihat di wajahmu sekarang sangat menenangkan jiwaku, Key. Pelan kuangkat tanganmu, kuletakkan di depan bibirku. Ku miringkan kepalaku ke satu sisi untuk menatapnya, meminta izinnya untuk mencium tangannya. Tanpa kata, Keysha memperbolehkanku mencium tangannya yang sedang ku genggam. Yessss!!!! Keysha mengizinkan aku menciumnya seruku senang dalam hati. Maka dengan gerak cepat aku mencium tangannya, lama?? Entahlah....

Uhuk!! Uhuk!!!

Suara batuk om Leo menyadarkan kegiatanku. Cepat kulepaskan tangan Keysha yang ku genggam, Keysha segera mengepal tangannya. Pipinya merona merah, segera menggeser duduknya membuat sedikit jarak antara kami.

Key kenapa kamu harus menjauh sih? Rungutku dalam hati. Ingin rasanya aku mendekatimu, menggenggam tanganmu dan menciumnya seperti yang baru saja kulakukan. Bahkan jika semua orang tidak memperhatikan kita, aku ingin menciummu di bibirmu yang tipis dan orange itu. Membawamu ke kamar dan.... Hufffttt berpikiran apa aku ini?? Kenapa sih otakku hanya berpikiran ke arah situ? Haaaaaaaaaa teriakku dalam hati. Frustasi, aku mengajak-ajak rambutku sendiri. Menggelengkan kepala agar semua yang terlintas di otakku bisa rontok seperti ketombe.

"Kian kamu kenapa?" Tanya om Marcus yang rupa-rupanya memperhatikan tingkahku.

"Oh... Eh... Ehmmm... Anu om... Anu..."

"Ana anu ani... Apaan sih kamu, Ki. Tinggal jawab aja susah bener. Kamu kenapa gagap gitu ampe muka merah pula." Ledek om Marcus. Aku nyengir.

"Isssshhhhh apa-apaan kamu malah nyengir kaya kuda gitu," om Marcus tampak sangat kesal dengan sikapku.

"Jadi cowok itu jangan lembek Kian. Kalo punya sesuatu yang diinginkan perjuangkan sampai titik darah penghabisan. Jangan nyerah sebelum dunia kiamat, pantang mundur demi keinginanmu. Tapi ingat kamu berjuang gak serta merta menghilangkan tata krama dan norma." Tiba-tiba om Marcus memberiku nasehat tentang perjuangan. Emang kita masih perang ya om. Hiihihihi... Okey-okey aku ngerti dengan yang diucapkan om Marcus. Tapi kenapa om Marcus bicara seperti itu. Ada yang ku lewatkan ya? Memang berapa lama sih aku melamun? Sampe-sampe aku bingung sendiri. Dan kenapa semua orang senyam senyum gak jelas gitu liatin aku? Ada yang aneh sama mukaku? Isssshhhhh udah dong Kian fokus-fokus gak da untungnya melamun.

"Mark kapan papa dan mam datang?" Tanyaku tak sepenuh hati. Aku bertanya agar bisa menghilangkan rasa bingungku dan tidak melamun lagi.

"Mungkin malam ini," jawabnya santai. Udah santai, singkat bener jawaban Mark. Kenapa dia jadi seperti ini? Ah terserahlah....

"Sudah-sudah sebaiknya sekarang Marcus dan Mark istirahat dulu." Tante Keira mengajak Mark dan om Marcus ke kamar mereka masing-masing.

Setelahnya mereka mengangkat tubuh mereka satu-satu dari sofa. Dan lagi aku dan om Leo yang terakhir ada di ruang tamu. Om Leo tak menyapaku sama sekali, aku menatap punggungnya yang menjauh. Bahuku turun ke bawah, relaks. Karena tak harus lagi "berperang" dengan om Leo.

Beberapa menit kemudian om Leo menghilang dari hadapanku. Masuk ke dalam kamarnya, mungkin. Aku hendak beranjak pergi namun belum genap 5 langkah tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipiku dengan lembut dan tanpa permisi.

"Key," suaraku serak.

Keysha seperti ingin segera pergi. Tapi terlambat aku telah menariknya dulu, mendekapnya dari belakang. Ku hirup wangi rambut dan tubuhnya yang beraroma green tea. Ku sematkan ciuman di belakang telinga, leher dan bahunya. Tubuh Keysha menegang begitu pula tubuhku.

"Aku merindukanmu," bisikku di telinganya sambil menghentikan ciumanku.

Keysha terdiam, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya sebuah nafas lega yang dihembuskannya. Tangan Keysha perlahan diletakkan di atas tanganku. Melepaskan pelukanku, ia berbalik menghadapku. Matanya sayu, senyum pedih terlihat sedikit di wajahnya yang mungil.

"Kamu gak jadi pergi kan? Kamu gak akan meninggalkan aku sendiri? Kamu masih mau kan berjuang bersamaku untuk mendapat restu mama dan papa?" Keysha bertanya sambil merangkum wajahku dengan kedua tangannya. Sementara tanganku mengepal di belakang tubuhnya. Tak tahu jawaban apa yang ingin ku katakan padanya. Aku sama sekali tak ingin merusak suasana hatinya. Aku mengangguk lemah. Maafkan aku, Key bisikku dalam hati, maaf karena telah membohongimu.

Wajah Keysha berubah, menjadi bersemangat, matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Aku sungguh tak tega menghilangkan semua sinar harapan tersebut. Biarlah dia merasakan semuanya baik-baik saja bisa kembali seperti dulu. Setidaknya hingga om Marcus dan Mark serta kedua orangtuaku pergi.

Setelah mengetahui jawabanku, Keysha pun berlalu dari hadapanku. Dengan langkah dan senandung gembira ia kembali ke kamarnya. Meninggalkanku sendiri dalam keheningan.



“Kian....” sebuah suara memanggilku pelan hampir berupa bisikkan. Aku mencari asal suara tersebut. Mengangkat alisku pertanda kebingungan menyelimutiku saat mendengar suaranya. Kenapa juga ia berbisik? Kan gak ada orang di sekitar kami.  Aku mendekati orang tersebut dan ia mempersilahkan aku masuk ke kamarnya.

“Apa kabarmu dan kak Sandra sekarang? Gimana sama kerjaanmu? Yakin gak mau ke balik ke Indonesia? Gak kangen sama rumah, sama kakek?” bertubi pertanyaan dilontarkan orang tersebut saat kami berdua berbaring di kamarnya menatap langit kamar. Aku mendesah, nafasku terasa berat. Apa aku harus bercerita semua kepadanya? Ah sudahlah lupakan, aku gak mau menambahkan persoalan dalam keluargaku. Biar ini menjadi masalahku sendiri, pikirku.

“Kian, kamu tuh kenapa sih? Daritadi kerjaannya diem aja kalo ditanya gelagepan gak jelas gitu.” Kali ini suara di sampingku terdengar kesal. Aku tersenyum mendengar dan melihat tingkahnya.

“Aku kangen kakek dan kak Medelline... Andai mereka masih hidup, aku ingin memeluk mereka, tidur bertiga dengan mereka, bercerita dan mendengarkan ocehan mereka...” Mataku menerawang mengenang orang-orang yang teramat menyayangi kami. Membayangkan wajah mereka berdua dengan tatapan lembutnya. Orang di sebelahku menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataanku.

Lama kami terdiam tanpa sepatah katapun yang keluar. Hening,,,,

“Hei Mark gimana sama kuliahmu?” suaraku memecah keheningan diantara kami berdua.

“Biasa aja Ki....” jawabnya singkat.

“Kamu kenapa Mark setiap aku bertanya jawabanmu sangat singkat?” tanyaku yang diliputi rasa keheranan.

“Nah kamu juga kenapa setiap ditanya gak dijawab. Kalo pun dihawab selalu aja gelagepan.” Mark tak mau kalah dariku. Aku tersenyum getir.

“Jangan berenti kuliah ya Mark. Gapai semua yang kamu cita-citakan dulu, raih dan kejar mimpimu. Bahagiakanlah orang-orang ynag kamu cintai dan mencintaimu dengan tulus. Inget selalu pesan kak Medelline untuk kita bertiga.” Jataju sanbil terus memandang langit kamar Mark. Selintas raut wajah dan senyum Keysha terlintas di kepalaku. Mau tak mau akupun tersenyum. Tapi aku segera tersadar saat ini sekecil apapun tingkahku yang aneh akan terlihat oleh Mark.

“Ki ada apa sebenarnya tumben kamu seperti ini?” Mark menatapku sekilas lalu kembali melihat langit kamar. Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum samar. Mark disebelahku mendesah.

“Okey Mark gak ada lagi yang mau kamu tanyakan kan? Aku mau ke kamar ya.” Aku mengangkat tubuhku dari tempat tidur. Mark membuka mulutnya hendak bertanya tapi ia mengurungkan niatnya. Aku pun berlalu dari kamar Mark.


Ting tong!!! Ting tong!!!

Suara bel berbunyi kembali tepat saat matahari sudah tak menampakkan wajahnya lagi alias malam. Aku bergegas turun, diikuti Mark, om Marcus. Seperti kami sedang berlomba lari kami bergegas ke pintu depan. Keluarga om Leo mengikuti kami dari belakang.

“Hai Mcarcus....” sapa mamaku saat pintu terbuka.

“Hai... “ sapa om Marcus datar.

Terlihat sekali jika hubungan kedua orang tuaku dan om Marcus memang tak bisa harmonis. Aku mengerti keenganan om Marcus dikarenakan sikap kedua orang tuaku sendiri.

Mama tanpa rasa sungkan segera mempersilahkan dirinya sendiri masuk. Papa mengikuti mama dari belakang. Berbeda dengan mama, papa seperti malu harus datang ke rumah om Leo. Papa tampak lebih diam dari biasanya.

Mama tanpa malu-malu mengecup pipi om Leo, tante Keira dan Frank. Sedang papa hanya menjabat tangan mereka dengan menundukkan wajahnya.

HAHH? Punya rasa malu juga kau, Pa. Rungutku dalam hati.

"Kian sayang kemari boy, you not miss your mom..." Kata mama sambil menarik dan memelukku. Aku hanya bisa diam, tak ingin rasanya berbasa basi dengan mereka. Jadi aku hanya menyunggingkan sebuah senyum saat terlepas dari pelukkannya.

"Hai Mark,,," sapa mama tak lupa memeluk Mark. Mark sama seperti aku hanya tersenyum.

"Mmmm mana calon menantu mama?" Tanya mama saat didekat Mark.

"Menantu?" Tanya hatiku dalam hati. Jadi mereka kesini untuk meminang calon istrinya Mark tapi kenapa tak ada yang menceritakan apapun padaku.

"Ahhh ini calon menantu mama, cantiknya." Puji mama saat melihat Keysha turun. Pandangan mama tak lepas dari Mark dan Keysha.

"Ya Tuhan jangan bilang apa yang kupikirkan ini menjadi kenyataan. Karena jika memang itu benar maka aku tak akan bisa membuatnya terluka, menyakiti hatinya. Aku akan mengalah..." Jeritku dalam hati saat menyadari sikap mama.

"Apa calon suami yang dibilang om Leo itu, Mark? Kenapa mereka tak ada yang memberitahuku? Kenapa suratan takdirku harus seperti ini? Mengapa mereka harus begitu tega padaku?" Beribu tanya mendera batinku. Aku melirik ke arah Keysha yang rupanya juga terpaku mendengar perkataan mama. Matanya berkaca-kaca menahan tangis dan sejuta pertanyaan.


Akankah aku mengalah pada adikku satu-satunya. Tempat aku berbagi rasa, orang yang dengannya berbagi sedih, tawa, senang, tangis, tanggung jawab. Aku tak ingin mengalah pada takdir tapi jika Mark yang harus ku hadapi, apa yang harus aku lakukan, Tuhan.