Selasa, 18 Juni 2013

INDIGO



Aku tersentak kaget ketika melihat sosok-sosok itu tepat beberapa senti di depan mobil yang tengah ku kendarai. Dengan reflex aku menginjak rem, karena lupa menginjak kopling dan memindahkan gigi, mesin itu pun mati.
Aku tersenyum kikuk pada kedua sosok yang tersenyum ramah sambil mengangguk kepadaku. “Hati-hati.” Kata bapak paruh baya yang mengenakan jaket abu-abu itu. bocah perempuan, yang tampaknya baru berumur 9 atau 10 tahun di sampingnya, menatapku tanpa berkedip. Rambutnya yang panjang sebahu menari-nari terbawa sepoi angin yang lembut siang itu.
Dengan sigap aku langsung menyalakan mesin mobil lagi dan kembali memasuki rute yang benar, kembali fokus pada latihan menyetirku lagi. Setelah kurang lebih setengah jam aku mendengar ocehan ayah tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan ketika menyetir, akhirnya ia membiarkanku tinggal sendiri di mobil, sedang ia pergi melihat pertandingan burung yang diadakan tidak jauh dari rute belajarku.
Tentu saja aku senang bukan main, selain bosan mendengar petuahnya yang tidak pernah ada perubahan sejak hari pertama aku belajar hingga kini menginjak hari ketiga, aku memang ingin memberanikan diri sendiri hingga aku terbiasa dengan mobil itu. Sesekali aku kehilangan control di beberapa tikungan, tapi aku berusaha tenang, berusaha menyesuaikan diriku dengan keadaan sekitar.
Rute tempatku belajar menyetir adalah sebuah jalanan tak terpakai, yang dulunya dibuat untuk menjadi pelengkap di lahan perumahan, namun entah karena alasan apa, perumahan itu tidak pernah terealisasi. Hanya menyisakan petakan-petakan tanah lapang yang di kelilingi jalanan aspal yang mulus. Sangat cocok untuk orang-orang yang ingin belajar menyetir sepertiku.
Siang itu, ada sekitar  6 mobil yang tengah berlatih; sebuah jeep, dua sedan, satu carry, satu avanza, beserta mobilku. Cukup sedikit jika di banding sore hari, yang biasanya bisa mencapai 8-10 mobil. Suasana yang terik membuatku membuka jendela  mobil lebar-lebar, beberapa kali aku belajar memindahkan gigi, dan itu berjalan sukses. Yang masih membuatku kikuk adalah ketika harus tiba-tiba berhenti. Otakku akan dengan senang hati melupakan kata-kata ayah yang mengharuskanku menginjak kopling, memindahkan gigi dan menginjak rem! Ah betapa cerdasnya aku!! Batinku sarkastis. Pantas saja pelajaran ayah tidak pernah berubah.
Aku membagi rute itu menjadi dua rute;  rute dalam dan rute luar. Rute luar berarti aku akan melewati jalanan yang mengitari seluruh tempat itu, persis seperti jalan monopoli yang berbentuk segi empat; sedangkan rute dalam adalah rute berkelok-kelok yang mengitari petak-petakan tanah lapang.
Biasanya aku hanya akan berada di rute dalam untuk melatih refleksku membelokan setir, karena rute luar hanya ku gunakan untuk belajar mengoper gigi, tapi saat itu, aku ingin mencoba hal baru, setelah mengitari rute dalam sekali, aku mulai memasuki rute luar, mengoper gigi hingga gigi tiga, mencoba menyeimbangkan laju mobil dan fokusku. Dengan perlahan ku injak rem ketika melihat sosok bapak dan anak yang kini tengah berjalan di hadapanku. Walau bagaimanapun aku masih belum terbiasa dengan keberadaan hal lain di dekatku, salah-salah aku malah akan menabrak mereka.
Bocah itu meloncat-loncat kecil sambil memainkan ujung-ujung baju coklatnya, mungkin ia tengah menyenandungkan sebuah lagu. Aku tersenyum tipis sambil menoleh sesaat ketika melewati sang bapak, namun sepertinya bapak itu tidak melihatku. Ia terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan, mungkin memandang putrinya. Tapi siapa peduli juga.
Aku mengitari rute luar untuk yang kedua kalinya, dan untuk yang ketiga kalinya aku memutar balikan arah mobilku, mencoba melawan arah. Aku yakin ayah akan memarahiku jika dia duduk di kursi penumpang mendampingiku, tapi toh saat ini dia tidak ada.
Dan kau bisa mengatakan mungkin aku memang benar-benar sial. Karena terlalu santai aku tidak memperhatikan keadaan sekitar, hingga ketika melihat sebuah mobil lain yang melaju dengan cepat ke arahku, aku mulai panic. Dengan cepat ku belokan mobilku ke tikungan yang membawaku ke jalur dalam, tikungan di mana pertama kali aku melihat sosok bapak dan anak perempuannya itu.
Masalah otakku, tentu saja, dengan kepanikan seperti itu tidak mungkin aku ingat untuk menginjak kopling dan memundurkan gigi, jadilah mobil yang ku kendarai berjalan tersendat.
“Pindah giginya!” aku tersentak ketika mendengar suara itu, sesaat sebelum mesin mobilku mati. Aku tersenyum kikuk lagi, dua kali sudah mereka melihatku terjebak dalam permainan mesin ini. Dan untuk kali ini aku mulai merasa malu. Dengan segera aku menyalakan mesin dan berlalu pergi dari hadapan mereka. Bapak itu masih tersenyum, sepertinya umurnya belum terlalu tua, mungkin berkisar 30-40 tahunan.
Ketika sampai ke tikungan pertama di rute dalam, aku mulai merasa aneh. Aku menghentikan laju mobilku dan menoleh kebelakang, ke tempat yang seharusnya aku bisa melihat kedua sosok itu. Tapi mereka tidak ada.
Aku memindahkan gigi, hingga menekan angka satu, kemudian dengan laju perlahan aku mulai memikirkan kedua sosok aneh itu.
Well, mereka sebenarnya tidak aneh, mereka berpenampilan biasa, dengan si bapak yang memiliki sedikit jenggot itu menggunakan celana bahan hitam dan jaket kaos abu-abu, dan bocah perempuan itu mengenakan baju selutut berwarna coklat tua. Tapi selama ini aku memang tidak pernah memperhatikan wajah bocah perempuan itu dengan seksama.  
Tapi jika dipikir-pikir lebih jauh lagi, sepertinya aku mulai menemukan beberapa keganjilan dengan keberadaan mereka. Saat itu pukul 2 siang, saat matahari benar-benar menampakan sinar terik yang membakar kulit, dan mereka berdiri di sana, di rute luar yang paling jauh dari keramaian, berdiri di balik semak di tikungan tajam yang menghubungkan rute luar dan rute dalam dengan santai, ku rasa hanya orang yang sedikit tidak waras yang mau berolah raga di hari seterik itu.
Yang kedua, sejauh mata memandang aku tidak menemukan motor di parkir di dekat-dekat daerah mereka berdiri, jadi mungkin kah mereka itu berjalan kaki ke sana?
Dan yang paling membuatku tak habis pikir adalah, keberadaan mereka. Pertama kali aku melihat mereka memang di tikungan itu, dan yang kedua kali mereka sudah berjalan jauh dari tempat itu, menelusuri jalur luar menuju tempat diadakannya pertandingan burung, dan yang ketiga kalinya, aku kembali melihat mereka di tempat semula, dengan posisi yang sama seperti yang ku lihat pertama kali.
Aku mulai mengerutkan keningku ketika memikirkan perhitungan waktu, aku memang tidak begitu mahir dalam matematika. Namun aku tidak juga terlalu bodoh hingga tidak bisa memastikan bahwa laju mobilku lebih cepat dari pada langkah kaki mereka. Bahkan meski mereka berlari.
Untuk ke dua kalinya aku mengitari jalur luar dalam di sekitar tikungan tajam itu, mataku mulai tidak fokus memandang jalan, karena aku sibuk menoleh ke arah semak-semak yang menutupi rute luar bagian itu. Tidak ada siapapun di sana, kecuali seorang bapak berkaos merah yang mengumpulkan kayu bakar. Selebihnya, sejauh mata memandang, hanya semak belukar berwarna hijau yang ada di sana.
Kata-kata bapak itu masih terngiang-ngiang ketika memerintahkanku untuk memindahkan gigi sebelum berhenti, dan entah bagaimana itu membuat bulu kudukku sedikit merinding.
Ciiitttt….
Ku injak dalam-dalam rem di bawah kakiku ketika hampir saja mobilku menabrak mobil lain yang melaju berlawanan arah denganku. Aku meringis memohon maaf, meskipun ini bukan sepenuhnya salahku. Untunglah semak di sekitar itu cukup tinggi, hingga ku yakin ayah tidak akan melihat kejadian ini.
Seorang pemuda jangkung keluar dari mobilnya dan membantu ibu yang mengendarai mobil di depanku untuk keluar dari rute yang mematikan itu. hahaha, aku bersyukur dia yang harus mengalah, karena kalau aku yang mengalah berarti aku harus mundur, dan sejauh ini aku belum pernah belajar memundurkan mobil. LOL!
“Sudah?!” teriak ayah dari kejauhan. Aku mengangguk dalam diam, masih merasa syok dengan rentetan kejadian yang tidak bisa masuk ke dalam nalarku. Dan kejaidan ‘hampir’ tabrakan beberapa saat yang lalu tentu saja. “Kita pulang?”
Lagi-lagi aku hanya mengangguk, lidahku terlalu lemas untuk sekedar mengatakan iya. Ayah mengambil posisinya, dan aku pindah ke kursi penumpang di sampingnya.
“Tadi hampir tambrakan,” bisikku dengan nada datar setelah cukup tenang. Ayah tampak tidak bergeming, matanya fokus memandang jalan. Mungkin ia tidak peduli selama aku menambahkan kata ‘hampir’ yang berarti tidak terjadi. Kemudian sekali lagi aku menoleh ke belakang, mencoba mencari kedua sosok aneh itu. “Tadi pas di tikungan itu, ada bapak-bapak yang selalu mengingatkan untuk memindahkan gigi,” ujarku sambil mengangkat bahu, berpura-pura tidak acuh dengan apa yang ku katakan. Ayah mengerutkan keningnya kemudian melirik ke kaca spion, “Tapi tadi aku cari lagi, mereka sudah menghilang.” Ujarku sambil membetulkan dudukku. Ayah hanya terdiam, tampak tidak tertarik dengan apa yang ku ceritakan, dan aku pun tidak ingin melanjutkannya. Memikirkannya membuatku merasa bodoh karena tidak bisa menemukan titik temu dari semua teoriku.
***
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali ketika mendengar kata-kata om ku dari earphone yang tengah ku kenakan. Saat ini aku sudah lancar menyetir, jadi aku bisa dengan leluasa pergi ke ke kampus menggunakan mobil. Biasanya ada beberapa teman yang akan ikut bersamaku, namun kali ini aku pulang sendiri, benar-benar membosankan, untungnya salah satu adik ayahku menelepon. Meski heran dengan maksudnya meneleponku malam-malam begini, aku tetap mengangkatnya.
“Jadi kamu sudah bertemu mereka?” tanyanya setelah berbasa-basi menanyakan kabar. Aku mengerutkan keningku tidak mengerti.
“Siapa?” tanyaku.
“Bapak dan anak korban perampokan itu.” ujarnya.
“Maksudnya?”
“Kamu nggak tau kabar yang menggemparkan di kota kamu itu? padahal beritanya sampai tersiar kemana-mana,” tuturnya, aku terdiam, mencoba mengingat, namun akhirnya menyerah. “Beberapa tahun yang lalu, ada seorang ayah dan anaknya yang mau pergi ke suatu tempat, karena macet maka melewati jalan yang biasa kamu gunakan untuk latihan menyetir, sialnya mereka tidak tau jika di daerah itu sering terjadi perampokan. Dan akhirnya mereka disergap perampok itu. pada awalnya sang ayah langsung meminta anaknya untuk bersembunyi di bawah jok mobil bagian depan. Sedangkan ia berusaha melawan, dan mengelabui mereka sambil mencari bantuan. Malam itu, mungkin ada 4 atau 5 orang pria yang menghadang mereka.
“beberapa diantaranya membawa senjata tajam, bahkan sebuah pedang panjang pun mereka bawa. Si bapak berdiri di samping pintu penumpang, untuk melindungi putrinya, dan ketika perampok itu memintanya menyingkir tentu saja si bapak tidak mau, ia bersikeras menjaga pintu itu, hingga salah satu dari mereka menariknya menjauh, membuka kasar pintu mobil itu dan dengan cepat menebaskan pedang panjangnya ke dalam mobil, pada awalnya mungkin ia hanya sekedar ingin menunjukan kepada teman-temannya bahwa tidak ada apapun di sana, namun ketika mendengar suara teriakan histeris dari bapak itu, pria berpedang panjang itu langsung menoleh ke arah ujung pedangnya yang sudah bersimbahkan darah. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok gadis kecil yang tergeletak tak bergerak di bagian bawah jok penumpang, bagian yang dulunya menjadi wajahnya sudah rata berwarna merah karena tebasan pedangnya yang sangat tajam. Darah mengalir dengan sangat deras, membuat mereka semua kalang kabut, dan tentu saja, dengan sekali tusukan, mereka membunuh ayah anak itu juga, dan membawa kabur mobil berdarah mereka.
“Keesokan harinya mobil itu di temukan hangus tidak jauh dari tempat tinggalmu, dengan 5 orang terpanggang hidup-hidup di dalamnya.”
Aku tersenyum miris ketika akhirnya ia menghentikan kisahnya. Jalanan tol malam itu cukup lenggang, dan itu justru membuatku tambah merasa ketakutan, karena kalau terjadi apa-apa tidak akan ada orang yang bisa membantuku.
Aku mengernyit ketika menyadari sesuatu yang sempat terlupakan, “Bagaimana om bisa mengetahui kisahnya sampai sejelas itu?” tanyaku dengan lugu.
Aku bisa mendengar suara tawanya yang renyah dari sebrang sana, “Karena saat ini aku sedang bersama bapak dari anak itu,” ujarnya santai. Ah sial! Tentu saja… desisku sinis. Aku meringis sambil mengutuki nasibku. “Ia hanya ingin mengatakan, bahwa kau tidak perlu takut pada putrinya. Gadis itu hanya ingin menemanimu, memastikanmu selamat sampai rumah.” Tambahnya. Aku tertawa hambar dan melirik kaca spion sebelah kiri. Air mukaku semakin tidak menentu ketika melihat sosok bocah yang cukup familiar di mataku tengah berjalan di samping mobilku. Berjalan?! Ya, tentu saja. Atau mungkin terbang, mengingat kecepatan mobilku yang sampai 80 km perjam.
“Om, bisakah kau tanyakan pada ayah anak itu, apakah putrinya masih tidak memiliki wajah?” tanyaku pelan.
“Ya, dia masih berwajah rata.”
Oh ya Tuhan…
Aku meringis pasrah dan memusatkan pandanganku ke jalanan yang kini terasa benar-benar sunyi. Bagaimana mungkin sejenak yang lalu aku bisa melupakan kapasitas om ku yang bisa berkomunikasi dengan mereka. Bukan! Om ku bukan seorang yang indigo, hingga bisa berbicara dengan mahkluk selain manusia. Kalian tidak usah heran, karena sebenarnya omku sejenis dengan mereka, jadi tentu saja dia bisa dengan leluasa berbicara dengan mereka.
“Jangan lupa pindahkan giginya,” aku meringis pasrah sambil memandang kaca spionku, kemudian tersenyum dan mengangguk pada sosok bapak dan om ku yang tengah duduk di kursi belakang mobilku dengan handphone yang masih menempel di telinganya.
Ah, kadang menjadi gadis indigo memang bukan hal yang mudah.


PELANGI HITAM PUTIH -12-

RAIHAN

Aku tersenyum puas pada bayangan di cermin itu. Ia memiliki struktur wajah yang begitu kokoh, yang selalu mendapat julukan tampan dari orang-orang yang melihatnya. Matanya berwarna coklat cemerlang, terbingkai indah dengan sepasang alis yang tebal, namun yang membuat kedua mata itu menarik bukanlah hal itu. Cahaya kehidupan yang kini terpancar dari balik iris coklatnya lah yang membuat semua tampak begitu mempesona. Binar indah yang sudah lama menghilang, binar indah yang ia dapatkan setiap kali tatapannya menangkap sosok cantik itu.
Berhasil, ya aku berhasil memasuki gerbang pertahanannya yang pertama. Dan selama ini aku memang tidak pernah gagal, seakan kegagalan tidak pernah termasuk dalam kamus kehidupanku. Aku adalah seorang pejuang. Sosok yang tidak akan pernah menyerah ketika menginginkan sesuatu. Terlebih gadis itu.
Ide tinggal di panti ini adalah ide yang paling cemerlang yang pernah ku dapatkan. Di tambah lagi dengan kelakuan-kelakuan bodoh wartawan itu, semuanya seakan menyatu bagai pelengkap kamuflaseku untuk mendekatinya. Aku tau Zahra akan sangat marah, namun ia tidak akan mengusirku. Ia tidak akan pernah membiarkanku terpuruk dalam kelumpuhan ini sendirian.
Lumpuh.
Wajah di cermin itu menarik sebelah bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman sarkastis. Kedua tanganku terulur untuk menyentuh lututku di balik selimut tebal berwarna coklat. Aku benar-benar bangga kepada diriku sendiri yang ternyata bisa bertahan sedemikian rupa. Saat itu, aku memang sengaja memisahkan diri dari kelompokku ketika kami sudah menemukan Raka. Sedikit naïf memang, tapi aku bersyukur ia baik-baik saja, dan saat itulah aku memutuskan untuk memberikan apa yang gadis itu inginkan. Kematianku. Untuk kali pertamanya aku merasa begitu terguncang atas penolakan sosok indah itu. kata-katanya tersengar seperti sebuah tantangan dalam benakku, memintaku menjemput kematianku sendiri. Dan aku melakukannya.
Meski pada akhirnya Tuhan berkata lain.
Malam itu, ketika pertama kalinya aku menemukan sosok lain dari gadis itu, aku tau aku sudah melukainya. Aku hampir saja menyerah, karena aku tau segala sesuatu tentang diriku hanya akan membuatnya terluka, hingga aku memutuskan untuk pergi. Ketika ia menahanku, aku tau jika aku masih memiliki sebuah kesempatan. Zahra memang gadis yang keras kepala, ia adalah gadis terangkuh yang pernah ku temui, namun di balik semua itu ia adalah gadis biasa yang begitu rapuh. Seperti yang kakek tua itu katakan. Aku hanya perlu sedikit bersabar, dan tetap berada di sampingnya. Aku akan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang mencintaiku.
Ketukan dipintu kamarku sontak membuyarkan sleuruh lamunanku. Aku berbalik dan mendorong kursi rodaku menuju pintu. Anna tersenyum manis ketika melihatku, aku tau ia sudah berusaha keras menyembunyikan tatapan iba yang paling ku benci, namun aku tetap bisa melihat goresan perih di mataku setiap kali ia memandangku. Seakan-akan ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada diriku saat ini.
“Aku dan Raka akan pulang dulu, kami masih harus membereskan kepindahan kami,” ujarnya, suaranya terlalu lembut hingga membuatku merasa muak.
“Ibu akan membantumu.” Ujar ibu yang entah sejak kapan berdiri di belakang Anna.
“Tidak ibu. Aku dan Raka bisa menyelesaikan semuanya, ibu tinggalah di sini bersama Raihan.” Ujarnya. Aku mendengus kesal, apa aku tampak selemah itu? mengapa semuanya tampak begitu memuakan dengan tatapan iba mereka. Seakan aku adalah seorang pria yang tak berguna, yang tidak bisa melakukan apapun.
“Kalian berdua tenanglah. Aku tidak selemah itu. Aku akan baik-baik saja dengan atau tanpa kalian.” Tuturku kesal. Anna tersenyum tipis, namun ibu masih menatapku dengan tatapan khawatirnya.
“Dia akan baik-baik saja,” ujar Kakek tiba-tiba. Wajah tuanya tersenyum penuh arti kepadaku, mau tidak mau itu membuatku tersenyum geli.
“Kami akan menemani paman Raihan di sini…” tiba-tiba segerombolan bocah kecil menghampiriku. Ya Tuhan! Bahkan kini anak-anak kecil itu pun turut menganggap remeh diriku.
“Paman Raihan tidak akan kesepian.” Ujar gadis kecil berjilbab kuning yang ku kenal sebagai sahabat dekat Aisah.
Aisah yang berdiri di tengah-tengah rombongan cilik itu tersenyum ramah padaku. Ia menyentuh pergelangan tanganku dengan lembut. “Aisah sudah menitipkan paman Raihan pada teman-teman Aisah di sini, mereka akan menemani paman selama Aisah tidak ada. Sekarang Aisah harus pulang dulu untuk membereskan kamar Aisah. Besok Aisah pasti kemari lagi.” Ujarnya dengan senyuman manisnya, wajah lugunya membuat kemarahanku terkubur begitu saja. Semenyebalkan apapun kata-kata gadis kecil itu, aku tidak akan pernah bisa marah kepadanya. Pada akhirnya aku malah mengangguk pelan dan membelai kepalanya.
“Cepat kembali lagi,” aku tidak pernah berniat merajuk kepada siapapun. Tidak pernah!! Tapi entah mengapa nada suaraku malah terdengar begitu lemah. Dan itu membuatku muak pada diriku sendiri. Namun lagi-lagi senyuman tulus dan anggukan penuh semangat gadis itu mampu mengusir rasa muakku. Ia mengulurkan tangan kecilnya dan memelukku, kemudian berbalik kepada rombongan kecil sahabatnya.
“Aku titip paman Raihan yah teman-teman.” Ujarnya sungguh-sungguh. Dan sontak saja itu membuatku tersenyum geli.
Anna berlutut di samping putrinya, dan tersenyum. “Sekarang sebaiknya kita segera pulang, ayah sudah menunggu di mobil.” Ujarnya lembut.
“Ya!” pekik Aisah penuh semangat. “Eyang, Nenek… Aisah pulang dulu, nanti kalau rumah baru Aisah sudah rapih, eyang dan nenek harus main dan menginap di rumah Aisah.” Kakek menggendong sosok kecil itu penuh sayang dan mengecup pipi kirinya.
“Tentu sayang.” Ujarnya penuh semangat. Aisah terkikik pelan ketika akhirnya kakek menurunkannya, ia mencium punggung tanganku, ibu dan kakek, melambai pada sahabat-sahabat kecilnya yang kini berdiri berbaris di belakang kursi rodaku. Ya Tuhan…
“Astaga Aisah lupa!!” pekik gadis kecil itu. kami langsung menatap waspada kepadanya. “Aisah belum menitipkan paman Raihan pada kak Zahra.” Ujarnya dengan mimic serius. Mau tidak mau itu membuatku dan semua yang berada di sana terkikik geli, namun tidak dengan gerombolan kecil sahabatnya tentu saja. Wajah mereka sama seriusnya dengan wajah lugu Aisah. Membuatku tidak bisa menahan tawaku.
“Aisah, tenang saja, walaupun kau tidak menitipkan paman pada kak Zahra secara langsung, ia pasti akan menjaga kakak dengan dangat baik.” Bisikku menenangkannya.
“Kau pasti bercanda.” Dengus seseorang di ambang pintu. Kami semua menoleh dan mendapati sosok cantik bungaku bersidekap di sana, ia menatapku dengan pandangan kesal yang aneh.
“Lihat kan, dia sudah berada di sini.” Bisikku lagi pada Aisah. Gadis kecil itu terkikik pelan.
“Dengar! Aku di sini untuk menyuruh anak-anak pergi tidur, sudah jam 8, dan mereka harus beristirahat.” Tutur gadis itu, wajah cantiknya sedikit memerah karena kesal. Begitu lucu dan menggemaskan.
“Tapi kak…” protes gerombolan kecil di belakangku.
Aku tersnyum tipis dan menatapnya, “Ah, alibi.” Desisku santai. “Bilang saja kau ingin mengusir sahabat-sahabat kecilku agar kau bisa berduaan denganku, bukan?” tudingku. Mata Zahra langsung membulat, ia mendengus tidak percaya, kemudian rahangnya mengeras, bahkan rasanya aku bisa mendengar suara gemeretuk giginya yang menyatu dalam kemarahannya.
“Kalian punya waktu hingga pukul 9!” ujar gadis itu pada gerombolan kecil di belakangku sebelum berlalu pergi begitu saja. Kakek terkekeh-kekeh pelan, dan aku tersenyum puas.
Ibu menyentuh pundakku, memberikanku pandangan menegur. “Kau tidak seharusnya berbuat seperti itu!” ujarnya memarahiku. Namun aku sama sekali tidak peduli. Aku mencintai gadis itu, dan aku akan selalu mencintainya.
***
Keesokan paginya aku bangun dengan perasaan tenang yang luar biasa. Aku sendiri sempat merasa aneh dengan apa yang ku rasakan saat ini. Kamar ini bukanlah kamar mewah yang biasanya ku tempati dimanapun aku berada, kamar ini bahkan tidak pernah masuk ke dalam kategori kamar yang akan ku tempati. Hanya terdapat sebuah tempat tidur single, sebuah lemari kayu yang cukup besar, dan meja kayu jati lengkap dengan tumpukan buku-bukunya. Ada sebuah jendela kecil di bagian depan kamar itu, yang menghadap langsung ke halaman panti. Dari sana aku bisa melihat seluruh keramaian yang berada di halaman panti.
Ramai?
Aku mengernyit dan melirik jam tanganku. Pukul berapa sekarang? Mengapa anak-anak itu sudah melakukan kegiatan ini itu?
Jam tanganku masih menunjukan pukul 6 pagi. Bahkan mentaripun masih bersinar malu-malu di balik kabut fajar, tapi anak-anak panti itu sudah siap dengan pakaian olah raga mereka. Beberapa anak tampak tengah melakukan pemanasan, berlari-lari kecil di tempat, seorang anak berumur 14 tahun tampak asik menirukan gerakan taekwondo, menendang ke sembarang arah dengan penuh semangat. Aku tersenyum tipis, merasa gemas untuk mengajarinya gerakan yang benar.
Gadis-gadis yang lebih dewasa tampak lebih asyik berbincang-bincang sambil membentuk lingkaran di atas rumput hijau yang sedikit berembun. Sebuah tepukan tangan membuatku terkesiap dari lamunanku. Sosok cantik Zahra sudah siap dengan seragam training berwarna birunya, tampak begitu sesuai dengan kulitnya yang putih halus.
“Ayo semuanya berkumpul, kita akan bersiap-siap untuk melakukan lari pagi hari ini.” Ujarnya penuh semangat. Mataku membulat, dan langsung mendorong kursi rodaku keluar  kamarku, melewati ruang tamu panti yang sepi hingga sampai di pintu kaca ganda itu. terkunci? Aku melirik ke kanan dan kiri untuk mencari sebuah kunci yang mungkin tergantung entah dimana, namun aku tidak menemukan apapun. Dengan panic aku menggetuk-ngetuk pintu kaca itu ketika rombongan anak-anak panti mulai bergerak ke luar gebrang. Kemudian ummi menoleh, dan mengernyit ketika melihatku di balik pintu.
“Zahra, mengapa kau mengunci pintunya?” tegur ummi. Gadis jangkung itu berbalik dan menatapku, sebelah alisnya naik, membentuk wajah kejam yang begitu cantik.
“Aku pikir kita akan meninggalkannya, jadi lebih aman jika ia tetap terkunci dari luar, tidak akan ada yang bisa melukainya.” Ujar gadis itu sinis. Aku mendengus kesal. ummi meraih kuci dari tangan gadis itu sambil menggeleng-geleng, kemudian membukakan pintu untukku.
“Tapi kau tidak sepatutnya menguncinya seperti ini.” Tegur ummi.
“Aku hanya ingin melindunginya.” Ujar gadis itu tak acuh.
“Terima kasih atas perhatianmu.” Sindirku dengan senyuman sarkastis. Ia mengangkat bahunya.
“Anytime.” Ujarnya sebelum kembali berlari menuju rombongan yang menunggunya di balik gerbang panti.
“Maaf, terkadang Zahra memang sedikit keterlaluan.” Ujar ummi dengan nada suara yang sangat keibuan. Aku tersenyum mengerti.
“Bukankah itu berarti ia memikirkanku…” gumamku dengan sebuah senyuman manis penuh arti. Ya, aku memang selalu berada dalam benaknya, ia hanya tidak menyadari hal itu, namun aku akan membuatnya menyadari semua itu, secepatnya…


Minggu, 16 Juni 2013

SKY OF LOVE -movie-

SKY OF LOVE.




Kenangan itu…
Lagi-lagi menyisakan luka.

Kisah ini tentang cinta pertama seorang gadis manis yang lugu, J called Mika. (ga tau mika apa kali namanya - yang pasti bukan mika handphone, LOL). 
Berawal dari pertemuan ga sengaja di koridor sekolah, sampai kisah mengharu biru dan romantisme yang manis.

Oke, mari bercerita. J
Mika, gadis cantik berambut panjang itu tidak pernah menyangka bahwa ia akan menemukan cintanya dengan cara yang aneh. Well, di suatu petang, Mika kehilangan ponselnya, ia mencari ke setiap sudut kelasnya, sampai ia ingat ‘mungkin’ ia menjatuhkannya di perpustakaan. Suasana petang itu begitu sunyi, namun Mika tidak peduli, ia terus mencari ponselnya. Hingga akhirnya menemukan ponsel itu di sela-sela rak buku, dan tengah berdering!

Itu prolog.

Kisahnya tidak berhenti sampai di situ. Mika mengangkat ponselnya dan berbicara dengan cowok yang memang sengaja meletakan ponselnya di tempat itu. hebatnya, cowok itu juga menghapus semua kontak Mika!! dan mengatakan bahwa jika ada yang ingin berbicara dnegannya, maka mereka akan meneleponnya.

Sejak saat itu si cowok yang mengaku namanya ‘rahasia’ selalu menelepon Mika, (beneran ga inget waktu nelponnya, pagi siang sore malem ß iriiiiii :D) . hingga Mika mulai terbiasa dengan keberadaan ‘telepon’ si cowok misterius itu.

And when the birthday comes… Si penelepon misterius memutuskan untuk membuka jati dirinya dan merayakan ulang tahun Mika. (Ga kebayang gimana deg degannya jadi Mika pas itu – antara seneng dan khawatir kalo tuh cowo bermuka rata. *PLAK!)

Mika benar-benar tidak pernah menyangka bahwa si penelepon itu adalah dia. DIA!!! Sosok tampan (menurut kacamata orang sono) yang begitu mudah memikat hatinya, begitu mudah dicintai. Sejak saat itu mereka memutuskan untuk terus bersama, and finally Mika got her first kiss and….!!! (tutup mata kucing sebelah, hihihihi).

Masalah pertama hadir dari sosok cewek mantannya si aa ganteng (Lupa nama cowoknya. Hehe) yang merasa tidak bisa menerima bahwa gadis biasa seperti Mika merebut kekasihnya. Lalu dengan bengisnya membayar beberapa pemuda untuk memperkosa Mika.
Disanalah pertama kali cinta mereka diuji. J
Selanjutnya rahasia film…….




Well, overall film ini cukup recommended, nilainya 9 lah dari skala 1-10. J . Sayangnya awal alur film ini sedikit lambat, kalo nontonnya ga pake serius pasti udah bosen nunggu intriknya.  Pas mulai memasuki bagian-bagian lain dari film ini, baru mulai kerasan dan jatuh cinta. (walaupun tetep aja gue ga sabar pengen tau endingnya. Plak!)
Kalo dari segi gregetnya, film ini kurang dapet. Tapi dari segi melownya… ya ampun… entah gimana film ini sukses membantuku menghabiskan selembar tisu, (karena sebelumnya ngelap ingus pake baju). :D

“That time, if I chose the other path, would our fate be different? Would I not have had to lose you?”

Ini kata-kata yang paling membekas, tentang kenangan dan penyesalan. L
Pokoknya, buat pecinta film ‘mata sipit’ silakan cek film ini. Romantic, sad movie.  Walau ada beberapa bagian yang bikin aku melongo ga percaya. Hihihi, mungkin beda Negara, beda Culture kali yah… (Ya iya lah!!!! ) -_-. Maksudnya cara mereka menyikapi kehamilan Mika itu benar-benar di luar ambang pikiran orang Indonesia (dalam hal ini, pikiran aku). Amazing, lucu, dan impossible bgt klo di Indonesia. Hihihihi
Uppss… keceplosan lagi deh. Pokoknya, film ini cukup worth it buat menjadi selingan nunggu inspirasi datang sebelum kembali belajar buat sidang. :D





 mika 



Hiro



PELANGI HITAM PUTIH -11-

ZAHRA

Aku menghela nafas panjang ketika melihat langit kembali terang setelah beberapa saat yang lalu mendung sempat menyelimuti langit pagi itu. Aku tidak pernah menyukai hujan, tidak sama sekali. Hujan selalu meninggalkan jejak lumpur yang menjengkelkan. Namun aku menyukai pelangi, dan aku sadar pelangi itu tidak akan pernah hadir tanpa hujan. Hujan dan pelangi, ah kata klise yang terdengar manis, hujan dengan kekelaman dan lukanya, pelangi dengan warna dan keceriannya.
“Zahra!!!” aku menutup telingaku ketika mendengar teriakan itu. Baru saja aku akan membaca kitab yang sedari tadi memang sudah terbuka lebar di hadapanku, namun teman ‘sepuluh’ ku, andhini dan Hanna, sudah merusak segalanya. Mereka berlari menerubus keramaian kelas kami, dan langsung menjatuhkan diri mereka masing-masing di kursi kosong sekitar kursiku. Aku mengernyit sambil menatap mereka.
“Apa?” tudingku kesal. Hanna memegang dadanya yang tampak masih kesulitan bernafas setelah berlari dari lift sampai ke kelas. Andhini menyeringai lebar sambil menatap wajahku lekat-lekat.
“Mengapa kau tidak pernah mengatakan bahwa dia adalah pangeran kaya raya?!!!” pekik Andhini sambil mengangkat majalah yang ia bawa. Aku mengerutkan keningku tidak mengerti. Siapa yang sedang mereka maksudkan?
“Astaga!! Dia benar-benar sempurna… tampan, dan kaya raya! Kau benar-benar beruntung.” Hanna turut menimpali dengan mata berbinar.
“Tunggu, siapa yang kalian maksud?” tanyaku bingung. Seringaian Andhini mencibir kemudian menunjukan majalah yang di bawanya ke hadapanku.
“Reynaldi dia pangeran yang selalu memaksamu untuk pulang bersamamu kan?!” Andhini menunjuk-nunjuk sebuah foto besar di halaman muka majalah itu. Aku mengernyit dan memalingkan wajahku, merasa jengah dengan apa yang ada di hadapanku. “Kau sangat beruntung…” desisnya tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari majalah itu.
Aku tersenyum sarkastis. “Yang beruntung itu adalah orang-orang yang bisa bersama dengan orang yang dicintainya.” Gumamku pelan, mataku nanar menatap lapangan parkir dari balik jendela kelasku di lantai lima. Andhini memalingkan wajahnya kemudian menarik kursi di sampingku tanpa berkata-kata lagi. Ia mendesah lelah kemudian menyibukan diri dengan majalah yang di bawanya. Gadis yang begitu mudah terpengaruh keadaan.
Hanna meringis menatapku dan Andhini. Ia menarik sebuah kursi di dekatnya dan membalikannya hingga menghadap kami. “Kalau begitu cobalah mencintainya Zahra! Ia adalah pangeran modern, pria yang digila-gilai banyak wanita. Dan hebatnya dia malah MENCINTAIMU!!” tutur Hanna dengan mata berbinar.
“Dia tidak mencintaiku-“
“Hanya orang bodoh yang tidak melihat cintanya kepadamu.” Andhini menimpali dengan gemas. Aku mendengus tak percaya. “Dan mungkin kau memang satu-satunya orang bodoh di sini. Kau pikir untuk apa dia melakukan perjalanan sejauh itu untuk hanya menjemputmu selama ini?!”
“Oke. Oke! Mungkin aku memang bodoh. Mungkin kalian benar, dia mungkin memiliki rasa untukku. Tapi aku sama sekali tidak mencintainya!”
“Zahra, bisakah kau tidak menyia-nyiakan orang yang mencintaimu?!” bentak Andhini, ia menutup majalahnya dengan keras. Kedua mata indahnya menatap tajam mataku.
“Aku…”
“Ini seperti kau harus memilih antara mencintai dan dicintai.” Tutur Hanna lebih lembut. Ia menggenggam tanganku dengan perlahan. Kata-katanya membuatku berpikir sejenak, dan anganku langsung menghampiri sosok yang paling ku cintai. “Tapi akan lebih mudah jika kau hidup dengan orang yang mencintaimu,” tambahnya.
“Aku ingin hubungan yang saling mencintai, bukan dicintai atau mencintai secara sepihak.” Bisikku perih.
“Sakit bukan?!” Tanya Andhini sinis. Aku menatap tidak mengerti kepadanya. “Sakit bukan, ketika kau mencintai seseorang secara sepihak?” ia tersenyum tipis, nada ketus dan mencibir dari suaranya membuatku curiga. “Kau sudah merasakannya bagaimana sakitnya, lalu mengapa sekarang kau malah membiarkan orang lain merasakan sakit itu?!”
“Apa maksudmu?!”
“Jangan berpura-pura Zahra. Kami semua tau apa yang terjadi padamu. Aku hanya tidak habis pikir bagaiamana mungkin kau bisa menutupi cintamu pada Reynaldi selama itu?”
“Aku tidak mencintainya!” bentakku kesal. Lagi-lagi gadis itu memberikan senyuman sinis penuh cibiran.
“Kalau begitu cobalah untuk mencintainya…” ujar Hanna menenangkan.
“Aku tidak bisa mencintainya!” ujarku tegas.
“Lalu mengapa kau menahannya pergi saat itu?” tanya Andhini. Aku mengernyit ketika mendengar pertanyaannya. Dari mana ia mengetahui semua itu.
“Aku tidak tau. Tapi yang ku tau, aku tidak akan pernah mencintainya.”
“Itu karena kau tidak pernah membuka hatimu! Kau selalu menutup seluruh indramu akan cintanya! Kau sengaja membutakan matamu sendiri dari kisah itu!” tuding Andhini. Wajah cantiknya memerah kesal. Nafasnya tersenggal-senggal karena teriakan itu, dan aku sendiri sudah tidak bisa membalasnya. Kemarahanku sendiri sudah sampai ke puncak kepalaku dengan alasan yang sama sekali tidak ku mengerti.
Dengan cepat  aku memalingkan wajahku, meraup seluruh barangku yang tergeletak di atas meja, memasukannya dengan kasar ke dalam tas lalu berlalu pergi dari hadapan mereka. Aku tidak peduli dengan tatapan heran dari orang-orang di dalam kelas itu, aku sudah tidak peduli pada teriakan Hanna yang terus memanggilku, bahkan hingga akhirnya suaranya menghilang ketika pintu lift di hadapanku tertutup rapat.
Aku menghela nafas panjang ketika sampai di lantai dasar gedung fakultasku. Mulai merasa lelah pada diriku sendiri, kemudian tangis itu pun pecah untuk kesekian kalinya.
***
Jam tanganku baru menunjukan pukul satu siang ketika akhirnya aku sampai di gerbang panti. Aku berjalan lesu menuju gedung utama. Yang kini ada di pikiranku adalah kamarku yang gelap, ranjangku yang nyaman, dimana aku bisa merebahkan tubuh lelahku, menumpahkan seluruh air mataku ke atas bantal hati yang selalu menjadi sahabat tidurku.
Aku mengernyit ketika mendengar suara tawa yang cukup ramai dari dalam kantor. Tasku jatuh begitu saja dari pundakku ketika aku sampai di ambang pintu. Sosok-sosok di ruang tamu itu langsung menoleh dan tersenyum ramah, menyapaku. Aku ingin membalas sapaan ramah mereka, namun melihat sosok itu di tengah-tengah mereka, hatiku mulai terasa kebas karena kelelahan yang teramat sangat.
Apa tidak bisa sejenak saja aku terbebas dari sosok itu?!
“Untuk sementara Raihan akan tinggal di sini.” Ujar ummi. Aku menatap sosok berjilbab coklat itu dengan tatapan tidak percaya.
“Well, ini memang tempat penampungan, tentu saja setiap orang bisa tinggal di sini.” Ujarku ketus. Ummi menegurku dengan tatapannya.
“Aku hanya ingin mempermudahmu untuk merawatku.” Ujar Raihan angkuh. Aku mencibir sarkastis.
“Lakukan sesukamu tuan hebat!” ujarku lelah kemudian melenggang masuk ke dalam kamarku. Aku bahkan tidak menyapa kakek Darmawan atau tante Luna yang duduk di sana, bahkan Anna dan Raka pun hanya seperti angin lalu bagiku. Aku hanya benar-benar merasa lelah saat ini.
***
“Wartawan mulai mengetahui keberadaannya,” ujar Anna seakan menjelaskan kepadaku. Aku tidak menanggapinya, ingin menunjukan ketidak pedulianku terhadap apapun yang terjadi pada sosok itu. “Kakek pikir, mungkin di sini ia akan lebih tenang menjalani masa pemulihannya. Lagi pula sampai saat ini mereka masih belum tau jika Raihan mengalami kelumpuhan.”
Kelumpuhan,
Ya kata itu entah bagaimana menohok dadaku sedemikian rupa, hingga untuk sesaat aku sempat lupa bagaimana caranya bernafas. Aku membalik lembaran buku tentang pembudidayaan bunga mawar itu dengan perlahan. Tatapanku mulai tidak focus, pikirannku berkelana entah kemana.
“Raihan bisa menggunakan kamar Raka.” Tambah Anna lagi. Saat itu sudah menjelang magrib, dan hanya ada kami di perpustakaan kecil itu. Karena hampir seluruh penghuni panti sudah berada di mushola Al Ikhlas untuk shalat magrib berjamaah. Aku mengedarkan pandanganku pada sekeliling perpustakaan itu. Hanya ada tiga rak besar di dalam ruangan itu, semuanya menutupi dinding bercat biru muda di baliknya, menyimpan buku-buku yang sudah terlampau tua untuk menjadi bahan bacaan bagi anak-anak. Dua buah meja besar terdapat di tengah-tengah ruangan, tidak ada kursi sama sekali di sana, hanya beralaskan sebuah karpet biru muda yang kasar sebagai alas duduk. Sebuah loker kayu Sembilan pintu berada tepat di bawah jendela perpustakaan tempat kami menyimpan alat-alat tulis dan kartu-kartu perpustakaan yang tidak pernah terpakai.
Aku tersenyum sarkastis pada diriku sendiri ketika menyadari sebuah kenyataan pahit, walau bagaimanapun mungkin hidupku sudah terikat kepadanya. Karena entah bagaimana aku merasa sedikit bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kedua kakinya. Konyol memang, tapi itulah yang kurasakan saat ini. Sebesar apapun keinginanku untuk menghindarinya, aku tidak akan pernah bisa.
“Zahra…” aku tersentak kaget ketika Anna menyentuh pundakku. “Sudah magrib, tidak baik kau melamun sendiri di sini,” ujarnya lembut. Aku mengangguk pelan dan beranjak untuk mengembalikan buku di pangkuanku ke rak buku-buku umum. Kemudian melangkah keluar perpus mengikutinya.
“Kau akan menginap?”
Anna menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku, “Tidak, seusai Raka dan Aisah shalat kami akan segera pulang.” Ujarnya masih dengan suara lembut yang begitu menenangkan. Aku terpaku menatap wajah cantik di hadapanku. Beberapa hari yang lalu mata indahnya masih meneteskan air mata yang sama denganku, air mata ketakutan. Dan kini, mata indah itu sudah kembali berbinar. Anna begitu cantik, dan ssangat mudah dicintai. Meski aku pun menyayanginya, namun sisi lain dalam diriku jelas merasa iri dengan apa yang ia miliki dan aku tidak. Ia terlalu sempurna untuk menjadi nyata.
“Zahra…” lagi-lagi Anna memanggilku dengan suara lembutnya, segores guratan cemas menghiasi kedua matanya. Aku tersenyum simpul dan mengangkat bahuku tak acuh.
“Hati-hati kalau begitu,” ujarku sebelum berlalu meninggalkannya di koridor gedung panti yang sunyi.




Sabtu, 15 Juni 2013

GALAKSI BINTANG



“Aku mau kita putus.” Aku tersentak mendengar bisikkannya yang begitu perlahan. Kata-kata itu terdengar amat lembut, selembut helaian rambut hitam panjangnya. Tapi justru mampu membekukan tubuhku, meremukan jiwaku menjadi berkeping-keping. Untuk pertama kalinya aku berusaha untuk tidak mengerti apa yang ia katakan. Tidak ingin mengerti. “Kita harus putus.” Ulangnya, kini lebih keras. mungkin berharap aku akan mendengar dan memberikan tanggapan pada pernyataannya.
“Kau mau es krim lagi?” tanyaku dengan keceriaan yang dibuat-buat. Gadis itu menatapku dengan mata indahnya yang begitu tulus. Pandangannya yang lembut meleburkan hatiku, membuatku dengan mudah kembali jatuh cinta padanya lagi. Kejernihannya menunjukan luka itu kepadaku, hingga aku bisa merasakan perih yang dirasakannya.
“Aku mau kita putus.” Bisiknya lebih tegas. Cengkramannya di tanganku mengerat. Membuatku yakin bahwa ia tidak ingin aku pergi.
Aku menyerah pada kepura-puraanku, kemudian duduk kembali di sampingnya. Mataku nanar menatap hamparan padang rumput di hadapan kami. Beberapa anak tampak asik bermain layang-layang, dua orang bocah perempuan duduk di kotakan pasir sambil memainkan ember, membangun tumpukan-tumpukan pasir yang menjulang, yang mereka pikir bisa menyerupai sebuah istana. Seorang wanita dengan stelan Armani tampak sibuk di sisi lain taman, matanya yang tertutup kaca mata memandang lurus layar laptopnya yang menyala, sedang mulutnya sibuk mengunyah makan siangnya.
“Al…” gadis di sampingku meremas lenganku. Ia melirik tetesan es krim yang mencair di tanganku. Aku bahkan sudah tidak bisa merasakan dinginnya es krim itu, tubuhku mati rasa. “Maafkan aku…” bisiknya. Aku tersenyum mencibir ketika melihat seorang bocah jatuh dari sepedahnya, dasar bodoh! Desisku dalam hati.
Ya bodoh! Bocah itu sangat bodoh. Bagaimana mungkin ia bisa berpikiran jika ia mampu mengayuh sepedah sampai ke puncak tumpukan pasir itu dengan kaki-kaki kecilnya. Bagaimana mungkin dia tidak memperhitungkan betapa sakitnya ketika ia terjatuh. Dan ketika bocah itu menangis, senyuman sinisku melebar. Dia benar-benar bodoh, dan kini ia menangisi lukanya.
“Al…” panggil gadis di sampingku. Aku mendengarnya, namun sama sekali tidak ingin menoleh. Tubuhku terlalu kaku, dan aku takut, jika bergerak sedikit saja maka semuanya akan hancur. “Al… maafkan aku…” ia kembali meremas lenganku. Tapi tatapanku masih kosong, jiwaku hampa, hilang entah kemana.
“Apa karena Bintang?” tanyaku setelah mampu menguasai seluruh emosi yang berkecamuk dalam hatiku. “Apa karena Bintang kau ingin meninggalkanku?” tanyaku datar. Gadis di sampingku terdiam. Namun aku bisa melihat tetesan air matanya mulai mengalir. Aku tersenyum sarkastis, merasa muak pada diriku yang teramat bodoh selama ini. Aku sudah tau sejak awal, jika keberadaan anak baru di sekolahku itu hanya akan menambah peliknya hubunganku dengan Pricilia, gadis lemah lembut yang ku pacari sejak seminggu kami duduk di kursi SMA.
“Kau tidak mengerti…” ujarnya di tengah isakannya.
“Apa kau mencintai Bintang?!” potongku. Gadis di sampingku kembali diam. Aku memalingkan wajahku, mencibir sinis pada kenyataan itu. Aku masih mengingat tulisan GALAKSI BINTANG yang tertulis dengan huruf besar di semua buku pelajarannya seminggu belakangan ini. Dan mungkin inilah puncaknya. Puncak segalanya! Mungkin mereka sudah tidak tahan untuk menunggu 3 bulan lagi sampai kelulusan tiba, hingga harus menyakitiku!
Menyakitiku?! Aku tersenyum sarkastis dengan pemikiran itu. selama ini aku selalu menjadi pihak yang menyakiti, selama ini hingga akhirnya aku bertemu dengan bidadari cantik itu. senyumannya yang menawan sudah menyita seluruh perhatianku sejak pertama kali kami bertemu, tatapan matanya yang lembut sudah mengunciku dalam kesenduannya, bahkan suaranya yang begitu merdu bagai dentingan lonceng itu sudah membiusku sejak pertama kali aku mendengarnya berkata halo pada gadis lain di sampingnya.
Pricilia Parrish, gadis rupawan yang akhirnya mengangguk pada kali ketujuh aku menyatakan rasa cintaku padanya. Ya, di hari ketujuh kami duduk di kursi kelas satu SMA. Sejak saat itu, hatiku terasa terkunci rapat-rapat. Tidak ada satu gadis pun yang mampu mengalihkan perhatianku dari gadis itu, kelembutannya, canda tawanya, wajah cantiknya… semua tentangnya telah membiusku.
Bahkan kata-kata putus darinya mampu menyakitiku.
“Al… aku minta maaf.”
“Berhenti meminta maaf, sialan!” makiku kasar. Tubuh Pricilia tampak menegang untuk sesaat. Air matanya kembali menetes deras. Dan aku muak pada diriku sendiri yang ingin merangkulnya, menyeka seluruh air matanya, meminta maafnya karena telah mengatakan perkataan buruk padanya.
Tapi di sini dia yang menyakitiku, menghianatiku. Dan dia sudah meminta maaf, mengapa aku tidak memaafkannya saja?
“Aku ingin kita berpisah,” bisiknya.
Ah, aku mengerti sekarang. Kalau saja ia tidak memintaku untuk berpisah dengannya, mungkin aku masih bisa memaafkannya, aku bisa berpura-pura melupakannya, aku bisa berpura-pura tidak pernah mendengar pengakuannya. Tapi jika ia ingin berpisah denganku untuk akhirnya bisa bersatu dengannya, aku tidak bisa.
“Kau boleh membenciku…”
AKU MEMBENCIMU! Teriakku dalam hati. Tapi sedetik kemudian aku sadar, aku tidak pernah bisa membencinya. Gadis itu adalah cinta pertamaku, satu-satunya gadis yang mengajariku bagaimana cara berbagi, bagaimana cara saling mengasihi. Dan kini mengajariku bagaimana rasanya tersakiti.
“Aku minta maaf…”
“Berhenti meminta maaf, brengsek!” makiku gusar. Aku menghempaskan cengkramannya dengan kasar. Memaki tidak jelas, menendang setiap kerikil yang menghalangi langkahku dan berlalu pergi.
“Al…” panggilnya lirih.
Aku ingin berbalik, aku ingin berbalik untuk memeluknya dan mengatakan bahwa aku tidak peduli dengan masalahnya bersama Bintang; bahwa aku tetap mencintainya meskipun ia mencintai pria lain; bahwa aku tidak peduli jika ia tidak mencintaiku!
Aku sudah hampir berbalik ketika gadis itu kembali berbicara, “Tolong jangan sakiti Bintang, karena aku sangat mencintai Bintang…”
Dan aku mati.
***
7 years later
“Kau menangis?” cibirku ketika melihat wanita di sampingku menyeka air matanya.
“Well, ini kisah yang cukup tragis.” Ujarnya sambil mengangkat bahunya, berpura-pura tidak peduli. “Lalu bagaimana kabarnya setelah hari itu?”
Aku terdiam sejenak, pandanganku menerawang jauh, menembus setiap dimensi waktu, mencoba menoleh pada kejadian 7 tahun yang lalu. Namun pada akhirnya aku menggeleng. Menyerah pada memori yang tidak tersentuh itu. “Aku tidak tau. Setelah kejadian itu ia pindah ke Bandung, dan sialnya bocah brengsek itu pun ikut pindah. Sejak itu aku sudah muak. Aku sama sekali tidak ingin mencari tau tentang mereka.” Ujarku datar, aku menghela nafas panjang untuk menyamarkan emosi yang selalu muncul ketika aku memikirkan tentang masa lalu itu.
Padahal sudah 7 tahun lamanya, aku sudah memiliki kehidupanku, aku sudah sukses dengan segala cita-citaku sebagai pengacara. Aku sudah berhasil. Namun 7 tahun lamanya juga jiwaku kosong, senyumanku palsu, semangatku hanya sebuah kamuflase. 7 tahun lamanya aku terluka.
“Aku sangat membencinya,” bisikku tanpa sadar. Wanita cantik di sampingku tersenyum tipis. Ia adalah satu-satunya wanita yang berhasil mengorek memori emosiku yang terdalam. Patnerku dalam ruang persidangan.
“Kau tidak ingin mengetahui bagaimana keadaannya?” Tanya gadis itu. Aku tersenyum mencibir dan menyeruput kopiku yang sudah kehilangan hawa panasnya.
“Untuk apa? Untuk kembali menyadarkan diriku bahwa dia tidak lagi mencintaiku?!”
“Bagaimana jika dia masih sangat mencintaimu?”
“Dia tidak mungkin mau meninggalkanku.”
“Dia tidak pernah mau meninggalkanmu, tapi dia harus… dan tidak bisa menolak…”
Aku mengernyit sambil memandang wajah wanita di sampingku. Baru kali itu aku melihat wajahnya dengan seksama, entah mengapa wajahnya terasa begitu familiar di mataku. Seakan di sanalah aku menyimpan luka itu.
“Mungkin ini bisa membantu.” Bisiknya seraya meletakan sebuah surat di atas meja kantin pengadilan negeri itu. Aku terdiam sejenak, mataku menatap tulisan tangan di depan amplop itu dengan tatapan tidak percaya.
GALAKSI BINTANG
Tulisannya masih sama. Dan kebencian yang ku rasa pun masih sama. Sialnya, cinta itu pun masih sama besarnya seperti 7 tahun yang lalu. Ketika ia masih tersenyum karena memandangku, tertawa karena candaku, dan masih mencintaiku sepenuhnya.
Aku menoleh kembali ketempat dimana wanita itu duduk di sampingku, namun tempatnya sudah kosong. Ia meninggalkanku sendiri dengan sepucuk surat itu. Memberikanku waktu untuk sekedar mengkaji bukti-bukti dari pembela. Rasa rinduku kembali membuncah, hingga sesak dadaku dibuatnya.


                                                                                    GALAKSI BINTANG, 2004

Hai.
Masih bisakah aku menyapamu? Menanyakan kabarmu?
Tapi kau tenang saja, aku sudah mengirimkan berjuta doa pada Tuhan untuk keselamatanmu, untuk kebahagiaanmu. Dan Tuhan pasti mendengar itu… dia harus mendengarnya.
Ingat ketika pertama kali kita terdampar di pantai ketika itu? ketika rombongan yang mengikuti acara penutupan MOS itu tanpa sengaja meninggalkan kita di sana, tanpa perbekalan, tanpa uang sepeserpun, dan tanpa alat komunikasi.
Aku menangis keras, dan kau merangkulku, menenangkanku meski kau sendiri tampak sangat cemas. Kau tau, itu adalah salah satu dari 7 saat terindah dalam hidupku. Ketika kita sama-sama berbaring di atas hamparan pasir yang hangat, memandang langit malam yang begitu indah, bertabur bintang-bintang bagai berlian di atas meja hitam.
Sejak saat itu, aku menyukai bintang.
Aku menyukaimu.

Aku tidak tau, apakah aku berhak menerima maafmu atau tidak.
Tapi aku benar-benar meminta maaf…
Maafkan aku…

Aku sudah terlalu banyak menyakitimu, aku tau itu. dan kau harus tau bahwa semua itu juga menyakitiku. Semua itu melukaiku sama dalamnya sepertimu… bahkan mungkin lebih dalam.
Kau tau… terkadang Tuhan memberikan pilihan yang tidak mudah dalam hidup ini. Mereka bilang ini adalah sebuah ujian hidup, sebuah jalan yang harus kita lalui untuk menaiki satu tingkat lebih tinggi lagi. Mereka, orang-orang itu, juga mengatakan bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian pada mahluknya lebih dari batas kemampuan mereka…
Tapi nyatanya mereka salah. Atau mungkin aku yang terlalu lemah??
Aku terluka…
Aku juga terluka Al. tapi aku tidak bisa mengelak. Ini adalah jalan yang diberikan Tuhan padaku, pilihan yang harus ku tentukan. Dan maafkan aku karena telah memilih jalan itu. Jalan yang pada akhirnya menyakiti kita berdua.
Andai bisa memutar balikan waktu, aku ingin mengulang segalanya. Mengulang setiap detikku bersamamu. Mengulang seluruh kisah itu, hingga kau bisa tau betapa besarnya cintaku untukmu.
Dunia ini begitu luas… begitu indah…
Dan aku tidak ingin meninggalkanmu dengan luka, tapi pada akhirnya aku tetap melukaimu. Maafkan aku…

Al, terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa kita ingkari. Seperti cintaku padamu.
Aku mencintaimu,
Aku sangat mencintaimu.
Tapi aku harus pergi…. Meski hal yang sebenarnya ku inginkan adalah tetap bersamamu, duduk di sampingmu, menemanimu sampai tua menjemput kita.
Tapi Tuhan memaksaku untuk pergi.

Mereka bilang… melupakan seseorang karena rasa benci itu akan lebih mudah. Dan aku ingin kau melupakanku… walaupun tentu saja itu akan menyakitiku teramat dalam. Tapi aku tidak ingin menjadi kenangan untukmu, aku tidak ingin membuatmu berandai-andai bahwa aku berada di sampingmu. Aku tidak ingin kau menyesali pertemuan kita. Dan jika dengan membenciku kau akan lebih mudah untuk melupakanku… aku rela…

Jangan bertanya tentang perih itu.
Aku sudah lelah menangis, aku sudah lelah menghitung hujan. Dan kini aku sadar sekeras apapun usahaku untuk menghitung tetesan air itu, aku tidak akan pernah mampu menemukan titik temunya. Aku sudah lelah menunggu keajaiban.

Al… aku sakit…
Aku mengidap kanker. Dan aku akan mati….
Kau tau apa yang pertama kali muncul di benakku ketika mengetahui hal itu?
Wajahmu… aku tidak ingin melihatmu menangis di samping makamku. Aku tidak ingin… karena saat itu aku tidak bisa kembali untuk menghapus air matamu. Ku mohon, jangan pernah menangis untukku.
Tetaplah membenciku, jangan pernah menangisiku…

Aku lelah… aku lelah merasa khawatir jika sewaktu-waktu jantungku akan berhenti. Aku lelah pada rasa takut akan membuatmu terluka, aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku sama sekali tidak ingin meninggalkamu.
Tapi Tuhan begitu jahat Al…
Dia memaksaku untuk pergi darimu. Dia memaksaku untuk berhenti berharap.

Aku tidak pernah merasa setakut ini untuk menghadapi kematian. Tidak pernah. Tapi ketika melihat wajahmu, aku takut… aku takut kau akan bersedih. Aku takut kau akan kesepian. Aku takut aku akan merasa kesepian tanpamu.
Aku mencintaimu Al…
Tapi pada akhirnya… kita tidak bisa melakukan apapun. Hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Kau tidak boleh menyalahkan Tuhan akan kejadian ini.
Aku mengerti…
Tuhan mempertemukan kita untuk mengajariku bagaimana caranya berbagi, bagaimana caranya saling mengasihi, dan menunjukan tentang keindahan cinta.
Terima kasih Al, terima kasih atas seluruh cinta yang kau berikan padaku. Terima kasih banyak. Kau adalah hal terindah yang pernah terjadi pada hidupku. Kau adalah segalanya untukku. Dan aku sudah menghabiskan sisa hidupku untuk terus mendoakan sisa hidupmu. Semoga kau bahagia Al…

Dan kisah bintang itu.
Aku tidak pernah mencintai orang lain.
Aku mencintai bintang karena dirimu, ketika pertama kali kita melihat hamparan bintang itu di pantai. Ketika kau menunjukan tentang galaksi galaksi bintang yang begitu menakjubkan. Konyol memang, tapi aku sampai menuliskan kata-kata itu di setiap lembaran yang ku temui. Bahkan di Koran ayahku. Berharap jika kita akan kembali bertemu di tengah kelamnya malam, saling menyinari satu sama lain seperti bintang-bintang itu.
Galang… aku mencintaimu, seperti bintang mencintai rembulan. Meski kadang bintang tak terlihat, tetapi ia selalu ada.

aku tidak tau apakah kau akan membaca ini atau tidak. Begitu banyak hal yang ingin ku utarakan, namun begitu sempit waktu yang ku miliki. Berjuta surat pun ku tulis takkan mampu mewakili rasa sayangku selama ini.

Aku pergi…
Membawa berjuta cinta itu…
Membawa berjuta kenangan itu…

Tetaplah bersinar Al… berikan cahayamu sebagai tanda agar aku bisa kembali menemukanmu suatu saat nanti.
                                                                                               


                                        With love Galaksi bintang
                                              Pricilia Parrish,
                             Galang and Sila love in the stars


Aku menutup surat itu dengan perlahan, begitu hati-hati khawatir peninggalannya yang terakhir akan rusak karena air mataku. Ku raba tulisan tangannya dengan ibu jariku, kemudian tersenyum tipis, sebelum akhirnya memantapkan hati untuk menemui wanita yang ku yakini bernama Arianna Parrish itu dan berterima kasih.
Kau lihat Pricilia, ternyata Anna sudah tidak segendut dulu, batinku ketika akhirnya menemukan sosok cantik adiknya di ruang sidang. Ia tersenyum tipis dan mengangguk untuk alasan yang sama-sama kami tidak mengerti.
The end