Selasa, 09 Oktober 2012

SOULMATE -05-


LIMA
THE SECRET...


Riana menyeka air matanya perlahan kemudian menatap wajahnya di cermin.
‘Maaf, gara-gara aku kita jadi terlihat jelek,’ ujarnya pelan. Aku tersenyum tipis. Walaupun benar, aku merasa ini yang terbaik. Aku lebih senang Riana mengetahui kebusukan Romi sebelum mereka menikah. Namun aku tau, semua angan yang sudah terlanjur tercipta tentu akan sangat menyakitkan terasa.
‘Kau tetap cantik,’ ujarku pelan. Ia mencoba tersenyum. ‘Tapi ku rasa sebaiknya kau segera keluar kamar, mom pasti sangat khawatir,’ ujarku lagi. Riana mengaguk perlahan kemudian berjalan keluar.
“Akhirnya kalian keluar kamar,” ujar mom seraya memeluk kami. Aku bisa merasakan kekhawatirannya dari debaran jantungnya. “Sayang, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya mom.
“Kami baik-baik saja mom, tapi mungkin aku butuh sedikit udara segar,” ujar Riana dan aku tidak menolak.
“Hm, sebenarnya tadi Citra menelepon, ia meminta Liana untuk mencoba gaunnya sekali lagi,” ujar mom ragu. Aku langsung terkejut. Aku tidak mau membuat Riana tertekan karena diriku.
“Kebetulan kalau begitu, aku sedang ingin keluar,”
‘Bohong,’ desisku. ‘sudahlah Ri, lebih baik kita ke taman atau cari tempat lain,’
‘Hey, aku tidak akan merepotkanmu,’ balas Riana. Aku mendesis. Tentu saja ia takan merepotkanku tapi akulah yang akan merepotkannya. ‘lagi pula aku bisa membantumu untuk memilih gaun cantik nanti,’ tambahnya. Aku melotot kemudian mencibir. Tiba-tiba Riana terkekeh pelan. Mom masih mematung menunggu kami berbincang dengan sabar. Dan ia selalu begitu. Andai aku menjadi dia mungkin aku bisa gila karena melihat putri satu-satunya sering bertingkah aneh.
“Jadi bagaimana? Kalian akan pergi?”
“Ya, tentu...” ujar Riana riang. Meski rasanya aku senang melihat senyumannya tapi aku merasa sedikit merasa risih.
                                                ***
“Akhirnya kau datang,” ujar Citra. Aku tersenyum begitu pula Riana. Citra terlihat begitu cantik dengan gaun putih panjang semata kaki dengan aksen renda yang begitu manis. Ia benar-benar cantik.
“Apa kau akan memakai gaun ini di pertunanganmu nanti?” tanya Riana tiba-tiba. Citra tersenyum dan mengaguk.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Citra.
‘Ri stop!!!’ desisku.
“Hm, ini terlalu polos untuk gaun pertunangan, bagaimana kalau renda ini di berikan sedikit warna peach atau mungkin ungu muda agar sedikit lebih hidup,”
‘astaga Ri stop!!’ ujarku keras. Citra menatap kami tidak percaya. Meneliti kami dari ujung kaki sampai ujung rambut. “Well, tapi kalau kau suka, kurasa ini cukup cantik...” ujarku mencoba mengusir rasa penasaran yang tampak dimatanya. Citra mengerutkan keningnya. “Lihat, kamu tetap cantik menggunakan gaun manapun,” aku membalikan wakahnya ke cermin.
“Oke cukup!!” bentaknya. Aku langsung tersentak. “Ri, mana Liana?” tanyanya ketus. Aku dan Riana langsung terdiam seribu bahasa. Jantung kami berdetak kencang, keringat dingin mulai membanjiri kening kami. “Ri, aku tau ini kau,” ujarnya. Riana membalikan wajahnya. “Aku bisa mengenali kalian berdua dengan mudah,” ujarnya lagi. Tiba-tiba Riana langsung menyeringai lebar.
“Sorry,” ujarnya pelan. “Well, Liana tidak bisa datang, jadi aku yang menggantikan, lagi pula, dia pikir mungkin aku lebih bisa membantu dalam hal fashion,” ujarnya lagi. Aku menatapnya tidak percaya. Kebohongan yang manis. Citra meghela nafas panjang.
“Ok, mungkin ia benar,” bisiknya. Aku tau dia tentu sangat kecewa. Dan aku merasa sangat bersalah. Namun berkali-kali Riana mengingatkanku bahwa ini adalah yang terbaik.
“Jadi bagaimana dengan usulanku tadi?” tanya Riana. Citra mengangkat wajahnya yang lesu.
“Patut di coba kurasa,” ujarnya pelan. Namun seiring berjalannya waktu aku bisa melihat ia mulai menikmati diskusi fashion bersama Riana. Sudah ku katakan, Riana memang lebih cocok menjadi sahabatnya di bandingkan dengan ku.
Aku menghentikan langkah Riana tiba-tiba. Riana mengerutkan keningnya saat melihat gaun pengantin di balik salah satu lemari kaca. Gaun itu sangat manis, elegan dan anggun.
“Cantik bukan?” tanya seorang wanita paruh baya.
“Ya sangat cantik,” ujarku. Riana tak sepenuhnya setuju. “Ini dipesan langsung oleh sang mempelai pria, namun sayangnya kekasihnya tidak begitu menyukai gaun ini,” ujar wanita yang ku duga sebagai designer di toko itu lemah.
“Bagaimana mungkin ada wanita yang tidak menyukai gaun ini?” tanyaku pelan. Wanita itu mengangkat bahunya.
“Padahal pemesannya adalah seorang pengusaha muda yang sangat mengerti fashion. Tapi yah mau bagaimana lagi,” ujarnya lemah. Aku tersenyum tipis menguatkan. “Lihat, ini adalah koleksi gambar gaun pengantinnya,” wanita itu menunjukan setumpuk kertas yang ia bawa.
Deg...
Aku terdiam. Senyumanku menghilang seketika. Kertas-kertas buram itu terlihat kabur dimataku. Riana menatap gambar-gambar itu tidak percaya. Tujuh lembar sketsa gaun pengantin manis yang selalu ku damba sejak kecil. Tujuh sketsa gaun pengantin yang selalu ku bawa kemanapun ku pergi. Tujuh sketsa gaun pengantin yang beberapa tahun silam ku cari dan akhirnya menyerah... karena kupikir mereka hilang dan takkan kembali.
Tapi ternyata aku salah menerka, gaun yang selalu hadir dimimpiku, kini ada di hadapanku. Bahkan satu diantaranya sudah menjadi nyata. Mimpi itu...
“Siapa yang memesan gaun ini?” tanyaku kikuk.
“Mereka berdua,” tunjuk wanita paruh baya itu kepada sepasang kekasih yang tengah berdiri di ambang pintu masuk.
Nafasku tercekat. Wajahku mulai memanas. Dan kurasa Riana merasakan itu. Ia mencoba terlihat sewajar mungkin. Menutupi gemuruh besar di hatiku. Dari ujung pandanganku aku bisa melihat sosok Citra yang memucat di ujung ruangan. Ia menatap kami dan pasangan itu bergantian.
‘bisa kita pergi?’ tanyaku perih. Riana tidak menjawab. Namun kemudian ia berbalik.
“Ri,” Citra menggenggam lengan Riana. “Please jangan katakan hal ini padanya,” ujar Citra pelan. Aku mengginggit bibir bawahku menahan tangis.
“No, I’ll never tell her,” ujar Riana tercekat. Aku terdiam. Perih mulai menghantam dada kami karena tangis yang tertahan.
“Citra,” panggil seorang gadis. Kami menoleh. Dan mereka disana. Gadis dengan rambut panjang sebahu. Ia terlihat cantik hanya sedikit manja. “Astaga kita bertemu lagi disini,” ujar gadis itu riang.
Deg...
Aku melihatnya. Ia disana. Berdiri terpaku melihat kami. Sedikit terkejut. Ia memalingkan wajahnya kepada Citra yang masih tersenyum palsu.
“Kenalkan ini Riana,” ujar Citra refleks, yang kurasa lebih ditujukan kepada pemuda di hadapannya. Are terlihat sedikit lega.
“Hai, aku Sylvia, dan ini tunanganku, Are,” tutur gadis cantik itu. Aku tersentak dan lengsung membalas uluran tangannya. Riana mencoba tersenyum sewajar mungkin. Meski akhirya ia menyerah.
“Senang bertemu denganmu, ya aku sudah mengenal tunanganmu, kami pernah satu sekolah dulu,” tutur Riana. “Tapi kurasa sudah saatnya aku pergi sekarang, senang bertemu kalian, bye...” ujar Riana semanis mungkin. Wajah Are dan Citra sedikit menegang. Sekali lagi Riana tersenyum kemudian berlalu pergi.
                                                ***

Senin, 08 Oktober 2012

SOULMATE -04-


EMPAT
          One tears.


          ‘Jadi bagaimana harimu ?’ tanya Riana saat kami sudah bersama lagi. Aku mendesah. ‘apa tidak berjalan baik ?’
          ‘Baik,’ jawabku singkat. Ia mengangkat kedua alisnya. Kemudian meneruskan kegiatannya untuk mempercantik diri. Aku terlalu berbeda dengannya dalam hal ini. Aku bahkan tidak mengetahui secara pasti nama barang-barang yang ada di meja riasnya. ‘Trims buat gaunnya, dan emm jepitannya juga,’  Riana mengaguk sekilas. ‘Dan untuk hari ini juga,’
          ‘Berhenti berterima kasih,’  ujarnya, terlihat jengkel. Aku tersenyum dan ia turut tersenyum. ‘Apa semuanya berjalan lancar ?’ tanyanya lagi.
          ‘Well, lancar. Jika pandangan kita akan kata itu sama,’  jawabku. Riana memalingkan wajahnya.
          ‘Kita tidak jauh berbeda,’ bisiknya. Aku mendesis. Kau salah Ri, bahkan kita terlalu berbeda dalam banyak hal untuk di katakan memiliki hubungan darah sebagai kakak dan adik. Tapi aku tidak ingin mengatakan hal ini kepadanya. Aku takut menyakiti perasaannya.
          ‘Aku mengantuk, kau siap untuk tidur?’ aku mengaguk. Well, seakan aku bisa menolak saja!!
                                                                   ***
          Pagi yang semu. Riana membuka sedikit jendelanya agar bisa melihat keluar. Mendung. Ia menggerutu tidak jelas sebelum menghampiri mom yang masih sibuk dengan tanamannya di halaman belakang. Sepertinya ia tidak menyadari kehadiran kami. Riana berdehem pelan.
          “Oh, hai sayang…” selalu kata itu yang terucap. Mom tidak terlalu sering memanggil kami dengan nama. Hanya sayang, cinta, honey dan kata-kata lainnya. Mungkinkah terlalu menyakitkan untuk menentukan siapakah yang berada di hadapannya saat ini?
          “Dad mana?” tanyaku pelan. Mom bangkit meluruskan punggungnya.
          “Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat, kalian mau sarapan?” nah itulah masalahnya. Kata kalian yang selalu mom pakai terkadang membuat Riana kesal. Ia merasa mom tidak sepenuhnya berharap ia yang hadir di sana. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Memang apa lagi yang bisa ku perbuat. Berteriak kepada Riana, bahwa semua pikirannya itu benar. Dan membuatnya semakin terluka? atau option ke dua, membentak mom. Dan mengatakan bahwa Liana sudah lama mati dan takkan pernah hadir kembali. Ah, baru memikirkannya saja hatiku sudah sakit.
          Tiba-tiba pintu di ketuk. Kami menoleh. Well, Riana menoleh dan langsung berlalu untuk membukakan pintu.
          ‘Biar aku saja,’ usulku. Riana tidak menjawab. Tapi kami tau apa yang sedang kami takutkan. Romi berdiri di ambang pintu. ‘Sudah ku katakan biar aku saja,’
          ‘Aku harus belajar menghadapi,’ ujar Riana tegas. Tapi aku memberontak.
          ‘Dia pria brengsek Ri,’ ujarku mengingatkan. Romi perlahan maju. Tangan Riana terulur memintanya untuk tetap diam di tempatnnya.
          “Ada apa?” tanya Riana setenang mungkin. Padahal aku tau betul bagaimana sakitnya ia saat ini. Dan itu membuatku ingin mencabik-cabiknya.
          ‘Dasar Srigala berbulu… ah berbulu landak,’ ujarku saat mendapatkan kata-kata yang tepat. ‘Luar dalamnya menyakitkan, pria tidak tau diri!!’ makiku. Riana mendesah.
          ‘Cukup Li,’ sergah Riana.
          ‘Aku tidak akan membiarkannya melakukan hal yang semena-mena terhadapmu lagi,’ tuturku tegas.
          “Ri, aku tau ini adalah kau,” ujar Romi lembut. Aku tertawa sinis.
          ‘Memang dia pikir siapa lagi,’
          ‘Cukup Li, dia tidak tau apa-apa, wajar saja ia beranggapan bahwa kita masih memiliki…’ Riana tidak meneruskan pemikirannya. Romi menggenggam tangan Riana erat. Refleks aku menariknya. Riana terlihat geram. Dan aku tidak peduli.
          “Ri aku benar-benar minta maaf, aku tidak pernah bermaksud begitu, aku bisa menjelaskan,” Romi memohon dengan sangat. Aku bisa melihat pertahanan Riana mulai hancur. Tiba-tiba sebuah mobil lain berhenti di depan rumah kami.
          “Romi,” panggil seorang gadis lantang. Riana menoleh. Dan kini aku bisa merasakan emosinua memuncak. Kalau itu adalah aku, tentu aku akan segera mencabik-cabik mereka berdua.
          “Anes?” geram Romi pelan. Anes menghampir kami dan langsung menggandeng tangan Romi dengan mesra. Meski Romi langsung melepaskannya secara paksa, kami sudah melihatnya. Dan aku tau hati Saudari kembarku mulai hancur berkeping-keping.
          “Cukup menjelaskan!!” ujar Riana dingin dan sinis.
          Brak…
          Pintu tertutup di depan kedua wajah menjijikan itu dengan kencang. Aku tersenyum senang. Namun sedetik kemudian aku terhenyak melihat Riana menangis begitu hebatnya. Baru kali ini aku melihatnya menangis seperti itu. Bahunya berguncang hebat. Aku mencoba menenangkannya. Mom pun turut membantu. Namun percuma. Saudariku sudah kepalang terluka.
                                                          ***

SOULMATE -03-


TIGA.
          Riana terluka.
          Ia menangis siang dan malam. Namun ia selalu mengatakan bahwa tangisnya bukan karena kehilangan Romi. Hanya saja ia merasa begitu bodoh karena bisa tertipu laki-laki itu. Kini ia hanya berjalan seperti robot. Tanpa senyuman dan air mata. Tatapannya kosong. Dan membuatku semakin tersiksa. Kini pikiranku hanya terisi oleh sensasi hatinya yang megharu biru.
          “Ri, ada yang ingin bertemu dengan Liana…” ujar mom suatu hari. Namun Riana tidak bergeming. “Ri…mom tau kamu masih sedih, namun kamu tidak bisa menyiksa Liana seperti ini…” ujar mom lagi.
          “Apa! menyiksa?” bentak Riana tiba-tiba. Aku sendiri sampai terkejut mendengar suaranya yang begitu keras. “Mom pikir aku menyiksa Liana, begitu?” tanya Riana geram. “Mom, it’s my body…right? Then let me manage it by my self…” tuturnya tajam. Andai bisa menangis aku pasti sudah menangis sedari tadi. Tapi toh, yang ia katakan memang benar.
          “Ri… mom minta maaf…”
          “Mom, aku minta maaf… tapi aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak ingin memiliki dua kepribadian… aku ga ingin memiliki dua jiwa…” tangisnya pecah. Mom memeluknya erat. Aku sendiri merasa begitu sedih.
          “Ri, mom minta maaf…tapi saat itu memang tidak ada pilihan lain, mom tidak siap bila harus kehilangan kalian berdua,” tangis mom pun pecah.
          “Mom, maafkan aku. Aku memang egois… aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Aku harusnya sadar, kalau bukan karena Liana mungkin aku sendiri sudah mati…” tutur Riana. “Baiklah mom, sebaiknya kita segera bersiap, nanti orang yang menunggunya pergi karena bosan,” mom menatapnya tak percaya, kemudian mengaguk senang.
          Riana mencoba beberapa baju koleksinya. Namun sama sekai tidak meminta pendapatku. Ia sengaja tidak bertanya kepada mom siapa yang sedang menungguku. Tentu saja agar aku penasaran setengah mati. Ia tersenyum senang saat mendengar pikiranku yang akan membunuhnya dengan tangannya sendiri.
          “Bagaimana mom?” tanya Riana saat mengenakan sebuah dress cantik selutut. Warnanya putih dengan aksen renda besar di sekitar lehernya. Bahannya sehalus sutra, dan beberapa hiasan bunga kecil berwarna merah menyala tampak menghidupkan gaun itu. Namun tetap saja aku tidak setuju. Karena selama ini aku lebih suka dengan gaun sederhana yang tidak memiliki aksen apapun.
          Riana membiarkan rambutnya tergerai, namun memberikan sepasang jepit kupu-kupu cantik di sisi kanannya. Aku meringis pelan saat ia menyentuh koleksi perhiasannya. Aku memang tidak suka memakai aksesoris apapun. Dan itulah yang membuatku tampak seperti putri yang sangat sederhana.
          Saat Riana mengarahkan tubuhnya ke cermin, aku bisa melihat sosok diriku dan dirinya menyatu. Gaun itu tampak melukiskan kepribadianku yang lembut sedangkan warna-warna lainnya melukiskan pribadi Riana yang begitu bersemangat.
          Wajah cantiknya hanya berhias beberapa warna lembut seperti coklat dan sedikit peach. Membuat kecantikan memancar begitu saja. Aku merasa begitu cantik. Meski tentu saja bukan kecantikanku seutuhnya.
          “Ayo turun...” ujar mom.
          “Hm, Li…aku serahkan semuanya…” ujarnya seraya memejamkan metanya. Dan saat ku membuka mata ia seakan menghilang. Itulah keajaiban kami. Meskipun dalam satu raga namun kami memiliki dua jiwa.
          Betapa terkejutnya aku saat melihat Are dengan berjuta pesonannya tengah menungguku di ruang tamu. Seakan terpana, ia menatapku tanpa berkedip. Wajahku langsung merona merah.
          “Hai…” sapaku pelan. Are langsung tersadar dari lamunannya. Dan tersenyum lebar.
          “Oh, hai…” katanya kikuk. “Well, tante kami pergi dulu…” ujar Are. Mom mengaguk senang.
                                                          ***
          Semilir angin menemani kesunyian yang tercipta di antara kami. Aku dan Are. Kami berjalan beriringan di dekat danau tidak jauh dari rumahku. Suasananya sunyi dan sangat tenang.
          Aku tidak berani melirik ke arahnya. Takut ia memergokiku sedang memandangnya. Ia menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon kelapa yang menjulang tinggi.
          “Hm…” Are memejamkan matanya. Aku menghela nafas lega. Dengan begitu aku bisa sedikit memandangi wajahnya yang begitu tampan.
          Tiba-tiba ia membuka matanya. Aku terhenyak. Dan ia menatapku heran. Aku memalingkan wajahku ke sisi yang lain. Mencoba berpura-pura terfokus pada sesuatu di depanku.
          “Sudah lama rasanya kita tidak berjalan seperti ini,”
          “Well, sudah lebih dari 4 tahun ku rasa,” tambahku. Ia tersenyum tipis.
          “Kau keberatan bila aku mengajakmu berjalan lebih jauh lagi ?” tanyanya ragu. Aku menggeleng pelan. Tentu saja aku akan dengan senang hati. bahkan mungkin aku akan bersedia berjalan berkilo-kilo meter jauhnya asalkan tetap berada di sampingnya.
          “Kau masih suka es krim coklat ?” aku memandangnya sesaat. Tatapan kamu beradu. Dan aku bisa melihat sosoknya yang rupawan lebih dalam lagi.
          “Entahlah, banyak hal berubah dalam hidupku,” termasuk selera makanku. Sejak kecil Riana sangat tidak menyukai rasa manis yang terdapat dalam setiap gigitan coklat. Dan tentu saja ia akan membunuhku,-well membunuh pikiranku, lebih tepatnya- jika aku sampai memasukan cairan manis itu ke dalam tubuhnya.
          “Ya aku bisa lihat…” ia memandangi dressku. Sudah ku bilang ini sangat berlebihan. Kemudian memandang jepit kupu-kupu di rambutku. Refleks aku menyentuhnya dengan jemariku. “Seleramu membaik sepertinya…” ujarnya. Aku melotot kepadanya. Astaga kata-kata yang cukup menyakitkan jika ku tela’ah lebih dalam.
          “Hah, lucu!!” desisku. Ia terkekeh. Tampan dan selalu begitu. Aku terpesona.
          “Well, aku tidak pandai berbohong kau tau… meski itu mungkin akan membuatmu lebih nyaman, tapi ku rasa selera Riana lebih baik dari pada seleramu,” aku menggeram. Taruhan pasti wajahku memerah. Ia semakin bersemangat menggodaku.
          “Oke. Cukup!! kau harusnya tau, kau sudah menyakiti egoku,” tuturku dingin. Ia menghentikan tawanya namun masih tetap tersenyum.
          “Sorry ma’am,” ujarnya pelan. Namun tanpa rasa bersalah. “Baik untuk menebus rasa bersalahku, aku akan mentraktirmu makan cake coklat terlezat di sini,” aku mengerang. “Hm, aku kira Riana hanya mengacaukan seleramu dalam hal fasion, tapi ternyata juga dalam hal makanan,” ujarnya sok dramatis.
          “Tapi aku tidak akan menolak jika kau memaksaku untuk memakan sepotong atau dua potong cake, mungkin…” aku bergumam pelan. –sudahlah, urusan Riana toh bisa di selesaikan nanti-. Are tertawa keras.
          “Ternyata kau masih tetap dirimu, syukurlah,” aku mengerutkan kening. “Aku kira Riana benar-benar sudah mengacaukan dirimu, mengendalikan dirimu,” aku terhenyak. Ia kurang lebih benar.
          “He eh,” aku memalingkan wajahku sesaat.
          “Oke, ayo kita pergi,” Are menyentuh pergelangan tanganku dan berlalu pergi. Aku menatap tangan kami yang saling bertautan. Aku bisa merasakan genggaman Are semakin kuat setiap detiknya. Dan sejujurnya itu membuatku sedikit kesakitan.
          Aku menatapnya masih dengan tidak percaya. Ini seakan mimpi. Dan parahnya aku khawatir ia tidak nyata. Tapi aku tau, warnanya terlalu terang untuk di katakan sekedar mimpi. Bahkan perasaan bahagia ini terlalu indah untuk di biaskan menjadi ketidak nyataan.
          Tapi aku masih tidak bisa berkutik. Aku takut mengedip. Takut saat membuka mata lagi ia sudah menghilang. Aku tau ini konyol. Tapi aku tidak ingin mengambil resiko. Well, kalaupun ini hanya mimpi, aku ingin mimpi ini bisa berjalan lebih lama lagi.
          Aku merasa dilema di dalam diriku sendiri. Bagaimana bisa aku tersenyum bahagia, sementara bagian tubuhku yang lain menderita. Riana masih belum sepenuhnya sembuh dari keperihannya atas apa yang dilakukan pemuda brengsek itu.
          “Li…” Are mengibaskan tangannya di depan mataku. Aku terkesiap. “Ada apa ? apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya sedikit cemas. Aku tersenyum tipis melihat kecemasannya.
          “Tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir tentang masa lalu. Astaga aku sangat merindukan yang lainnya. Padahal baru beberapa hari yang lalu kita mengadakan reuni,” ujarku setenang mungkin. Are terlihat kikuk. Apa aku salah bicara ?
          “Well, kita bisa mengadakan reuni lagi kapan-kapan,” usulnya.
          “Cukup membantu,” jawabku pelan kemudian memasukan sesendok penuh cake coklat kesukaanku.
          “Are, Liana ?” seseorang memanggil kami. Aku yang terlebih dahulu menoleh. Tiara dan Citra. Aku tersenyum lebar dan langsung melambaikan tanganku yang bebas kepada mereka.
          “Wow, jadi ada reuni lanjutan, hah ?” tanya Tiara. Aku melihat Are tersenyum tipis. “Oya, trims atas undangannya. Aku dan Dian pasti akan datang,” tutur Tiara. Aku menatapnya tidak mengerti.
          “Li, kelihatannya enak, apa ini ?” tanya Citra. Aku mengerutkan kening. Ia terlalu bodoh bila beranggapan bisa mengalihkan perhatianku. Lagi pula hanya orang tolol yang tidak mengenali cake coklat yang sedang ku makan. Memang bentuknya seperti apa hah ? bola bisbol ?
          “Hm,” aku berdehem pelan. Tau tidak akan bisa mengalihkan perhatianku, Citra menegakan lagi tubuhnya yang sempat membungkuk. Kemudian menatap Are dan Tiara secara bergantian.
                                                                   ***
          “Jadi bisa tolong dijelaskan?” tanyaku saat kami berdua lagi. Are menatap jauh keluar sana. Kemudian menoleh kepadaku. Aku menunggu.
          “Tentang?” tanyanya pelan. Aku menggeram.
          “Astaga, aku juga tidak tau minta penjelasan atas apa,” sindirku. Ia menyerah, sepertinya. Ia membungkuk menatap cakenya yang sudah tinggal setengah. Ia menggerakan jemarinya di bawah meja. Aku tidak tau apa persisnya yang ia lakukan.
          “Eh Li, ada yang mau aku bicarakan,” ujar Citra tiba-tiba. Bahkan terlalu tiba-tiba kurasa. Dan terkesan tidak alami. Well, walaupun kami bersahabat, tapi bukan berarti kami bisa mengusik privasi satu sama lain secara tiba-tiba, bukan?
          Aku menatapnya meminta penjelasan. Kemudian melirik ke arah pintu keluar.
          “Tiara sudah pulang,” ujarnya seakan menjawab pertanyaanku yang tak terlontar.
          “Duduklah,” titahku. Ia melirik sekilas kearah Are.
          “Ini hal yang sedikit sensitif,” ujarnya pelan. Aku mendesah. Sejak kapan Citra bisa begitu tidak sopan. Hingga menyela pertemuan seseorang dan mementingkan kepentingan pribadinya.
          Aku masih menatapnya. Kemudian berpaling kepada Are yang membisu.
          “Aku tidak ingin menyakitimu, sungguh. Tapi saat ini aku sedang bersama Are,” tuturku pelan. Are tersentak ketakutan.
          “Tidak, tidak apa-apa. Kau pergilah,” aku menatapnya tidak percaya. “Aku akan baik-baik saja, sepertinya ia benar-benar membutuhkanmu,” ujar Are. Aku menggeram pelan. Tentu ia akan baik-baik saja, tapi bagaiman denganku ? baru saja aku merasakan sedikit kebahagiaan. Ah Citra, ku harap masalahmu bisa membayar semua ini dengan setimpal.
          Aku mendesah. Berpaling sejenak. Kemudian berdiri.
          “Well, maaf kalau begitu,” ujarku pelan. Are menatap kami bergantian.
          “Kau berhutang padaku,” bisik Citra sinis. Aku menatapnya tidak mengerti. Tau aku memperhatikan, Citra langsung menatapku. “Kau berhutang membantuku…” ujarnya kikuk. Nadanya berbeda dengan yang tadi. Jelas tadi dia seakan membenciku. Namun sekarang terkesan memohon. Uh… aku hampir sinting. Dan aku tidak ingin benar-benar menjadi sinting saat ini. Riana masih membutuhkan diriku.
          “Oke kita pergi,” ujarku setelah berpikir cukup lama.
                                                          ***
          Aku menatap Citra sedikit kesal. Namun tidak menolak saat lengan jenjangnya meraihku ke dalam kamar pas.
          “Hm…” ia berpikir sejenak. Kemudian mengambil pilihan gaun yang lain. “Bagaimana dengan yang ini ?” Citra berpikir lagi sejenak. Ia sama sekali tidak memperdulikan keluh kesah serta protesku. Ia tetap asyik memjejalkan berbagai gaun aneh di tubuhku.
          Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir malam rupanya. Mom pasti mengkhawatirkan ku.
          “Well, yang ini…” bisik Citra membuyarkan lamunanku. Aku terkesiap melihat gaun cantik yang di pegangnya. Gaun itu berwarna ungu muda dengan aksen renda selembut sutra di sekeliling pundaknya. Aku tau pengetahuanku tentang fashion sangatlah dangkal, namun aku bisa membedakan mana gaun yang cantik dan tidak. Toh aku masih waras.
          “I… ini… ?” aku menatap Citra tidak percaya.
          “Kau lihat, gaun ini sangat cocok untuk mu, well… cukup manis dan anggun bila kau yang memakainya,” hah, bila aku yang memakainya. Lalu apa dia tidak cukup manis bila memakainya ? tentu tidak cukup manis. Karena pasti jawabannya sangatlah manis, atau mungkin sempurna. Ku pikir-pikir mungkin yang cocok menjadi sahabat Citra adalah Riana, bukan aku. Mereka mungkin bisa saling berdiskusi tentang baju apa yang akan mereka pakai dua jam mendatang.
          “Kau suka ?” Citra menegurku lagi. Aku menatapnya lelah. “Kau pasti suka. Kau sangat cantik dengan ini,” ia menatap gaun pilihannya dengan puas. Aku hanya terdiam. Toh sama saja aku menerima atau menolaknya. Ia akan tetap bersikeras dengan keputusannya. Tapi aku ingin mencoba.
          “Ra, ini berlebihan,” ujarku pelan. Ia menatapku tidak percaya.
          “Berlebihan ?” pekiknya. “Hei, ini adalah hari pertunanganku dengan Arya. Dan kau bilang aku berlebihan ?!! aku hanya ingin membuatmu terlihat cantik. Well, jangan tersinggung,” ia terlambat. Aku sudah tersinggung.
          “Kau selalu terlihat cantik sebenarnya, hanya saja aku tidak ingin melihatmu tampil sederhana di salah satu hari besarku. Kau sahabatku. Dan aku ingin yang terbaik untukmu…” tutur Citra. Aku tertegun. Terharu atas semua yang ia katakan. Ah Citra kau terlalu mengagungkanku. Kau tidak tau seburuk apa diriku. Maaf, andai bisa ingin ku beberkan semua rahasia memuakan ini kepadanya.
          Air mataku menetes.
          “Aku selalu bahagia untuk kalian,” ujarku pelan. Citra merangkulku.
          “Dan akupun akan membantumu untuk menemukan kebahagiaanmu,” tidak, ini semua sudah terlambat citra…
          “Well, sudah. Jangan mengharu biru lagi. Ayo kita bersenang-senang. Menurutmu dasi warna apa yang cocok di pakai Arya?” aku tersenyum tipis dan mulai turut mencari dasi yang cocok. Stidaknya mungkin ini hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya.
                                                          ***              

SOULMATE -02-


DUA.
Reuni…


          Gedung aula sekolah SMA ku terlihat begitu indah. Berhias pita-pita cantik berwarna-warni dengan lampu-lampu kecil yang juga beraneka warna. Aroma bunga mawar, krisan, melati, kenanga dan lavender langsung menusuk hidungku saat tubuhku melewati pintu utama.
          Rasanya seperti kembali ke beberapa tahun yang lalu. Saat rok abu-abu masih menjadi sahabat setiaku. Namun saat menyadari wajah-wajah baru yang familier itu aku kembali tersadar. Lagu Christina Agullera terdengar sahdu diantara kami. Beberapa anak tengan berdansa di tengah aula yang sudah disulap menjadi dance floor mini yang manis. Sekelompok yang lain tengah berdiri disamping meja berisikan berbagai macam makanan dan minuman. Aku sendiri masih mematung di ambang pintu. Rasanya begitu menyenangkan berada di tempat indah yang begitu familiar bagiku.
          “Liana…is it you?” tanya seorang gadis bergaun biru selutut ragu-ragu. Aku menatapnya dan tersenyum manis. “Oh my God, Li… benarkah ini dirimu?” tanya Fathia ragu. Sekali lagi aku hanya tersenyum simpul. Tiba-tiba Fathia memelukku erat. “Kau berhutang penjelasan kepada kami Li…” ujarnya. Aku hanya mengaguk sekali.
          “Hei… please, aku ga mau orang-orang beranggapan kalau aku membuatmu menangis…” candaku. Fathia melepas pelukannya dan menarikku ke suatu tempat.
          “Hm…” Fathia berdehem pelan saat kami sampai di depan sekerumunan orang. Karena ini adalah pesta topeng aku jadi tidak bisa mengenali siapa saja yang ada di hadapanku. Namun nampaknya mereka cukup mengenali diriku yang hanya berbalut gaun putih sederhana namun tentu saja bermerk -karena setau ku, Riana tidak memiliki gaun murahan-. Dan gaun ini adalah gaun yang paling sesuai dengan seleraku.
          “Liana…?” tanya seorang gadis cantik bergaun merah menyala. Ia menggeleng tak percaya, kemudian memelukku erat. Astaga separah inikah kerinduan mereka kepadaku?
          Perlahan-lahan aku mulai menyadari siapa saja yang ada di  hadapanku saat ini.
          Fathia, gadis pintar yang ambisius dan Fatan kekasihnya. Wine, gadis cantik yang mengenakan gaun merah menyala, sesuai dengan kepribadiannya yang begitu berani. Gilang, pemuda tampan mantan ketua osis kami. Hollie, sahabat indo kami yang meski berbadan besar namun memiliki wawasan yang begitu luas. Qia gadis bodoh namun menyenangkan. Dan yang terakhir Citra serta tunanggannya -yang dulunya akulah yang memperkenalkan mereka-.
          Setelah melepas rindu dengan berpelukan, mereka benar-benar mengintrogasiku. Dan entah mengapa kebohongan itu terasa nyata. Dan mereka bisa percaya begitu saja. Puas mengintrogasiku mereka bercerita pengalaman masing-masing.
          “Li, Riana mana?” tanya Citra. Aku tersenyum dan menggeleg. “Oya, aku dengar dia akan segera bertunangan dengan Romi?” aku mengaguk pelan.
          “So, how about you ?” goda Gilang. Aku hanya mengangkat bahu.
                                                          ***
          Pesta ini benar-benar menyenangkan. Namun aku tidak terbiasa berada di tengah orang banyak. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke belakang aula. Seingatku di sana ada sebuah kolam renang yang dulu sering aku datangi kala bosan.
          Tiba-tiba langkahku terhenti saat mendapati sebuah alunan piano dari atas panggung di sebelah kiri aula. Aku memalingkan wajahku sesaat. Dan dunia seakan berhenti berputar. Kebahagiaan merasuki seluruh relung hatiku. Rasanya seperti mimpiku menjadi kenyataan. Air mataku menetes perlahan. Dan itu adalah tanda kebahagiaanku yang begitu mendalam.
          Sosok pemuda jangkung yang kerap menemaniku di saat gundah. Seorang sahabat yang rela memikul beban sahabatnya. Seorang pria yang tanpa ku sadari kerap menghiasi lembaran buku diaryku. Astaga, akhirnya aku bisa kembali melihat sosok tampan yang memiliki tatapan tajam namun menyejukan. Dengan senyuman manis yang selalu terlukis di balik bingkai wajahnya yang begitu sempurna.
          “Because tonight will be the night that I will fall for you
          Over again don’t make me changes my mind…
          I want live to see you in another day, I swear it true…
          Because the girl like you is imposible to find…”
          Aku tersentak kaget saat tatapannya mengarah padaku ketika menyanyikan sebait lagunya yang indah. Aku langsung memalingkan wajahku. Entah mengapa air mata yang kini mengalir terasa begitu pedih. Apakah karena aku sadar akan apa yang tersirat dari balik semua lagunya. Bahkan di balik tatapan matanya.
          Kini aku benar-benar tidak bisa menahan tangis. Dan instingku memintaku untuk segera pergi.
          Aku berdiri sendiri di samping kolam renang yang sunyi. Rembulan tampak bersinar enggan di balik rimbunan awan. Ku tatap pantulan wajah cantik yang terukir di balik jernihnya air. Setetes air mata membuat bayangan itu memudar karena gelombang-gelombang kecil yang tercipta.
          “Hai!” aku tersentak kaget dan langsung menoleh. Ia disana. Dengan tuksedo yang begitu pas membalut tubuh jangkungnya.
          “Mm…hai…” balasku kikuk. Wajah tampannya tampak bercahaya. Seakan kebahagiaan terbesar berada di genggaman tangannya.
          “Bulannya indah…” ujarnya tanpa memalingkan wajahnya dari rembulan. Aku menatapnya ragu. Kemudian turut menatap rembulan. “Aku tau…” ujarnya pelan. Aku menatapnya tidak mengerti. “Can I have this dance with you ?” tanyanya saat sebuah lagu merdu mengalun dari dalam aula. “Can I have this dance?” ulangnya lagi. Aku tersentak kaget dan langsung mengaguk. Tentu saja aku akan mengatakan iya. Setidaknya, mungkin ini akan menjadi yang terakhir bagiku untuk menikmati kesempurnaan ciptaan Tuhan.
          Ku sandarkan kepalaku di dadanya yang bidang, dan membiaran air mata ini mengalir membasahi bagian depan kemejanya. Ia tidak berkomentar. Hanya mengayunkan tubuhku maju mundur sesuai irama. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang seirama. Andai waktu berhenti saat ini…
          Musik telah berhenti, namun Are nasih tetap mengayunkan tubuhku. Dan aku tidak menolak. Ini mungkin akan jadi sesuatu yang takkan pernah ku rasakan lagi di lain waktu dalam hidupku.
          “Jangan berhenti…” rengekku saat ia menghentikan langkahnya. Ku cengkram kemejanya kuat-kuat. Dan sesaat kemudian aku bisa merakan tetesan air mengenai tubuhku.
          “Hujan…” bisiknya di telingaku. Aku melepaskan pelukannya dan menatap hujan yang mulai membesar. “kita harus pergi…” ujarnya lembut.
          “Aku ingin tetap disini…” ujarku pelan. Are tersenyum manis dan menggeleng.
          “Terkadang ada satu hal yang tidak bisa kita lakukan meskipun kita ingin…” ujarnya. Aku tersentak kaget saat mendengar kata-katanya. Ia menatapku heran saat aku mundur beberapa langkah. “Li, ada apa?” tanyanya panik. Aku tau, saat ini pasti wajahku tampak ketakutan dan sulit dibaca. “Well, aku tidak bermaksud meninggalkanmu, aku Cuma mau kita pindah kesuatu tempat, karena hujannya semakin membesar…” teriaknya mencoba menandingi suara hujan yang menggema. Aku menggeleng pelan. Aku tau, dia tidak akan pernah bisa menginggalkanku, sebagaimana aku terhadapnya. Namun ia benar, terkadang ada hal yang tidak bisa kita lakukan meskipun kita ingin…
          “I have to go…” ujarku seraya berpaling dan tidak pernah menoleh lagi.
                                                          ***
          Akhirnya aku menyesali kedatanganku ke tempat ini. Akhirnya aku mengangisi keputusanku sendiri.  Dan akhirnya aku kembali terpuruk dalam kenyataan yang pahit.
          Ku tatap pantulan wajah itu di cermin. Hm, aku tau…walau bagaimana pun inilah jalan yang ku pilih. Dan tidak seharusnya aku menyesali semua yang sudah terjadi.
          Di luar hujan masih turun dengan derasnya. Namun sepertinya tidak mampu mengusik kebahagiaan yang tercipta dalam ruangan besar itu. Beberapa anak kecil berlarian ke sana kemari. Aku tersenyum tipis. Andai bisa, dulu aku slalu berharap langsung menikah setelah SMA. Agar aku bisa menjadi ibu muda. Tapi toh, mimpi hanyalah mimpi…
          Tiba-tiba aku mendengar suara Romi di luar toilet. Aku tersentak kaget. Bukankah ia mengatakan kepada Riana bahwa ia takkan datang? Baru saja ingin ku buka pintu, namun ku urungkan saat mendengar suara lain di luar sana. Suara seorang gadis yang tampaknya cukup ku kenal.
          Ragu-ragu ku langkahkan kaki keluar toilet. Dan akhirnya aku terpaku di depan pintu yang terbuka setengah. Aku menggigit bibirku keras-keras agar tidak berteriak. Kepalaku sakit melihat segala sesuatu yang ada di hadapanku. Berbagai perasaan langsung berkecamuk dalam benakku. Bagaiman ini semua terjadi. Romi dengan Anes, teman sebangku Riana semana SMA, melakukan hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Terlepas dari semua anggapan Riana tentang Romi, aku semakin muak akan semua ini. Dan sekarang aku ragu, haruskah aku memanggil Riana.
          Brak…
          Tanpa sengaja Anes menjatuhkan sebuah pot bunga kecil karena keterkejutannya saat melihatku. Romi sendiri tampak kalang kabut membetulkan pakaiannya.
          “Liana…” bisik Romi ragu. Aku menatap mereka dengan tatapan kosong. Ragu ingin melakukan apa. Namun akhirnya aku menghela nafas panjang. Mereka berdiri menunduk di hadapanku. Seakan mereka adalah murid bermasalah yang sedang berhadapan dengan guru BP.
          Aku sendiri bingung hendak melakukan apa. Rasanya semua kenyataan ini membuatku terlalu lelah. Namun aku tidak mungkin pergi begitu saja, berpura-pura tidak tau kemudian merestui Romi untuk menjadi iparku.
          “Hm…well…” aku mencoba bersuara setenang mungkin. Meski rasanya terlalu besar sensasi perasaan Riana disini. “Aku terkejut…” ujarku diplomatis. Anes sudah mulai menangis.
          “Aku ingin bicara empat mata dengan mu…” ujar Romi. Yang sepertinya di tunjukan kepada Anes. Aku mengangkat bahu tidak acuh. Kemudian berbalik.
          “Tidak ada yang perlu dikatakan kurasa…” tuturku tanpa menatap mereka berdua. Tiba-tiba Anes berlari kearahku.
          “Li, maaf… aku tau ini semua kesalahanku, tapi sungguh aku tidak bisa melupakan Romi begitu saja… dia cinta pertamaku,” ujarnya parau. Romi tampak salah tingkah dengan pengakuan Anes kepadaku. Aku berbalik menatapnya.
          “Lalu apa yang kau ingin aku lakukan sekarang, hah?” tanyaku, masih mencoba setenang mungkin.
          “Aku tidak tau, tapi kalau boleh meminta. Tolong sampaikan padanya jangan merebut Romi dari ku…” ujarnya. Aku terbelalak kaget, begitu pula Romi. Romi menarik tubuh Anes menjauh dariku. Dan aku sendiri masih mematung dengan perasaan yang semakin berbelit. “Katakan padanya, jangan merebut Romi dariku…” teriak Anes histeris. Aku bisa melihat Romi menyeret Anes dengan paksa.
          Tiba-tiba air mataku mengalir. Namun aku sadar ini bukan air mataku. Tapi Riana.
          Sedetik kemudian aku mulai bisa merasakan sakit yang mendalam dari hatiku. Dan barulah aku sadar betapa kerasnya Riana menahan sakitnya sedari tadi.
          “Cukup…” ujar Riana akhirnya. Aku sendiri mencoba berfikir sesuai dengan keadaannya. Romi dan Anes langsung tertegun. Suara lembut Riana tampak terdengar begitu berat.
          “Liana…” bisik Romi memastikan. Riana menggeleng. Kemudian dengan sigap menarik rambut pirangnya ke belakang hingga membuat sebuah butut kuda yang indah. Selama ini, perbedaan kami memag tipis. Aku paling tidak suka rambut panjang kami yang lembut diikat. Namun berbeda dengannya yang tidak suka membiarkan rambutnya tanpa ikatan sedikit saja.
          “Riana…” kini giliran Anes yang bersuara. Riana menatap mereka tajam.
          “Well, selamat malam…” ujar Riana pelan sebelum berbalik. Aku tak  mengerti dengan sikapnya. Romi dan Anes menatap kepergian kami dengan membisu.
          ‘Mengapa kamu melakukan itu ?’ tanyaku pelan. Riana menggeleng perlahan. ‘Maafkan aku Ri, aku tidak bermaksud menyakitimu…’
          “Bukan kau yang menyakitiku, lagi pula… seluruh hidupku toh memang berisikan rasa sakit…” tuturnya pelan. Andai bisa tersenyum tentu aku akan tersenyum. Namun bukan senyuman yang di penuhi kebahagiaan, hanya senyuman yang melukiskan betapa perihnya hidup ini.
          ‘Ayo pulang…aku lelah…’ ujarku. Ia mengaguk dan berlalu pergi.
                                                          ***

SOULMATE -01-


Satu.
Prolog…



Aku pernah bermimpi menjadi seorang putri; Dan rasanya mimpi itu belum juga terwujud; Dan aku ragu akankah semua mimpi itu terwujud??
          5 tahun yang lalu aku baru saja resmi menjadi alumni sebuah sekolah menengah atas ternama di Bandung. Namun, karena suatu alasan aku terpaksa pergi ke luar negri, meninggalkan separuh hidupku di kota permai ini.
          Tidak seperti orang lain, aku tidak pernah berambisi untuk tinggal dan sekolah di luar negri. Cukup berada di sekeliling orang –orang yang kusayangi… sudah cukup.
          Namun apa boleh buat… kami sekeluarga harus pindah dan tinggal hingga 4 tahun lamanya di Australia. Terkadang aku melihat tatapan sedih Mom karena harus rela meninggalkan pekerjaannya. Namun aku sendiri tak kuasa menahan keputusan yang sudah dibuatnya sendiri.
          Beberapa tahun yang lalu aku masih sering beranggapan bahwa kami adalah keluarga yang sangat sempurna. Dad adalah seorang perngacara kondang. Dan mom adalah seorang dokter spesialis jantung yang ternama. Sedangkan aku dan Riana adalah sepasang saudari kembar identik yang kerap memerankan tokoh putri ketika drama sekolah diadakan.
          Namun seiring berjalannya waktu, seluruh kerapuhan dalam keluargaku mulai bermunculan. Hingga kini mom masih sering merasa malu bila mengatakan apa yang sudah terjadi kepada keluarga yang dulu selalu menjadi kebanggaannya. Berkali-kali Riana menerangkan kepadaku jika perasaan mom itu bukan malu tapi sedih. Itu lah sebabnya hingga saat ini hanya keluarga terdekat kami yang mengetahui apa yang sudah terjadi.
          Dan aku sendiri tidak terlalu menuntut. Hanya saja… aku sedikit lelah…
                                                          ***

          Aku menatap pantulan wajah Riana di cermin. Ia terlihat cantik dengan kebaya khas Jawa yang akan ia gunakan di hari pertunangannya dengam Romi bulan Mei depan.
          Meski kami kembar identik, aku selalu merasa begitu berbeda dengan dirinya. Dan memang berbeda adanya.
          Dulu, eyang slalu mengatakan bahwa kami adalah dua putri yang berbeda. Seakan-akan ia adalah putri yang bermandikan cahaya mentari sedangkan aku adalah putri yang bermandikan cahaya rembulan. Kami mempunyai rambut pirang warisan eyang. Mata kami coklat keemasan khas orang-orang ber-IQ tinggi. Tubuh kami tinggi semampai, warisan dad. Dan tentu saja wajah kami cantik seperti mom.
          Namun terlepas dari semua keindahan itu, terdapat kerapuhan pada diri kami berdua. Layaknya sebuah telur kecil yang harus terbelah, maka tidak cukup bahan untuk menciptakan sebuah karya yang sempurna.
          Begitu pula kami dengan segala kerapuhan kami…
          “Gimana Li, kau suka?” tanya Riana tiba-tiba. Aku langsung kembai terjaga. Tentu saja aku suka. Ia terlihat cantik. Dan aku ragu apakan Romi pantas mendapatkan gadis secantik saudariku.
          Aku tau Riana sudah berhubungan dengan pria asli Bandung itu sejak beberapa tahun yang lalu. Namun rasanya aku masih tidak siap memikirkan tentang semua hal yang bersangkutan dengan pernikahan. Umur kami baru 23 tahun saat ini. Dan rasanya masih terlalu muda untuk mengurung diri sebagai seorang istri. Namun aku tidak bisa berbuat banyak. Ini adalah keputusan Riana dari hatinya yang terdalam.
          Aku hanya bisa turut berbahagia, dan berjanji untuk berfikir dengan sebaik-baiknya.
          Hari ini, ada sebuah pesta reuni. Dan dengan rendah diri Riana meminjamkan segalamya kepadaku. Aku bersorak kegirangan. Dan ku lihat Riana tersenyum lebar.
          Akhirnya aku akan pergi sebagai diriku…
                                                          ***