Minggu, 04 November 2012

Midnight Wishes -05-



LIMA
KOBOI KECIL


Davela menghentikan langkahnya saat melihat setumpuk kertas di meja ruang tamu. Ia terduduk sejenak kemudian membaca beberapa kertas itu. Kertas-kertas milik seorang dokter tentu saja. Hampir sebagian kata-katanya tidak dapat ia mengerti. Ia tersenyum tipis saat melihat selembar foto usang. Foto seorang pemuda kecil dengan topi koboi yang begitu lucu. Pemuda itu tersenyum namun dengan mata yang sembab sehabis menangis.
DEG...
Davela terhenyak saat melihat foto kedua yang ia dapat. Foto yang memuat seorang gadis cilik dengan gaun pink menjuntai. Ia memang tidak begitu mengenalinya, namun wanita disampingnya tampak begitu familiar. Senyuman itu adalah satu-satunya yang selalu ia nanti selama ini.

‘Selamat ulang tahun Vella,’ ujar seorang pemuda cilik dengan topi koboinya. Davela mengendus kesal.
‘Panggil aku putri!!’ teriaknya keras sebelum menangis. Koboi kecil itu menggigit bibir bawahnya ketakutan.
‘Maaf putri...’ ujarnya gugup. Davela tersenyum lebar.

Davela tersenyum tipis. Koboi kecil itu kini sudah berubah. Koboi kecil yang selalu berusaha membuatnya menjadi seorang putri. Koboi kecil yang selalu melindunginya. Koboi kecil yang akhirnya pergi seiring dengan harapannya.
Davela menggeleng perlahan dan berlari menuju kamar sang koboi cilik. Ia menggenggam erat foto-foto usang itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat sang koboi kecil tengah termenung menatap rembulan yang tak berbintang di ujung taman.
“Vella...”
“Ah ibu ada apa??”
“Ini ada surat untuk dokter Raka,”
“Biar Vella yang berikan,” Laras memberikan surat itu kepada Davela. Kemudian berlalu pergi.
Davela mengerutkan keningnya saat membaca pengirim surat itu.

KEMILITERAN ANGKATAN LAUT

Davela terhenyak. Namun ia tetap menghampiri sang dokter.
“Ada surat untukmu,” ujar Davela pelan. Raka terlonjak kaget kemudian berbalik. Ia mengaguk santun dan tersenyum. “Apa  maksudnya itu?” tanya Davela ragu. Raka tak bergeming kemudian tersenyum tipis.
“Bukan apa-apa, mungkin hanya persetujuan dari pusat,”
“Persetujuan untuk apa?”
“Aku melamar untuk menjadi relawan di Afganistan selepas tugasku disini,”
“Maksudmu??? Tugas di sini itu aku?? Jadi masalahku sudah selesai??” tanya Davela tidak percaya. Raka tersenyum getir tanpa memalingkan wajahnya dari rembulan.
“Maaf, tapi apa lagi yang bisa seorang dokter lakukan jika pasiennya sendiri sudah menyerah, lagi pula, tujuan hidupku sendiri sudah tidak menentu, aku hanya ingin sedikit berguna. Di sini aku sudah tidak di butuhkan lagi bukan? Dan urusan kesehatanmu sudah ku bereskan, dokter Surya akan menanganimu, dia lebih berpengalaman dibandinganku yang hanya memiliki semangat, namun melupakan kemauan pasienku sendiri,” tutur Raka perih.
“Jadi kau menyerah?” bisik Davela lirih.
“Tidak, tentu saja aku tidak ingin menyerah. Namun kau sudah membuka mataku, dunia ini luas. Dan banyak hal yang tidak sejalan dengan yang kita harapkan. Kau benar percuma saja kita melakukan segala pengobatan ini. Aku memang dokter terbodoh. Aku bahkan sempat membuang semua pelajaran yang ku dapat tentang kematian. Aku bahkan sempat berharap pada mimpi yang takkan pernah jadi nyata, hahaha aku sangat bodoh,” ujarnya getir. Davela meraba dadanya perlahan. Tetesan airmatanya mulai membanjiri relung hatinya yang terdalam.
Kau bilang kau akan selalu melindungiku, tapi kau bohong... kau menyerah...
“Maaf Nona, sudah terlalu larut, anda sebaiknya beristirahat,” ujar Raka  dingin. Davela mengaguk dalam diam kemudian berbalik.
Koboi kecilnya sudah menghilang... koboi kecilnya...
BRUK....
“Davela...!!!”
***

Midnight Wishes -04-


 EMPAT
LUKA KEDUA


Gunawan tertawa renyah saat mendengar lelucon dari cucu terkasihnya. Disampingnya Raka dan Laras turut tersenyum lebar.
“Kakek...” bisiknya lemah seraya bersandar di dada tua Gunawan. “Jika keberuntungan tidak berpihak padaku, aku ingin kakek bertahan,” ujarnya perih seraya menatap danau di hadapan mereka. Gunawan tidak menjawab hanya terus mengelus rambut cucu kesayangannya yang mulai rontok karena melakukan kemoterapi. “Kakek... dunia ini sangatlah luas, tapi aku tidak akan pernah pergi jauh dari kakek... aku akan selalu tinggal di dalam hati kakek jika kakek mengizinkan, aku akan selalu di sini,” Davela menunjuk dada Gunawan dengan lemah. Gunawan menatapnya perih.
“Tapi jika saatnya nanti, aku tidak ingin kakek menangis, seperti saat kepergian mom dan nenek, aku ingin kakek tersenyum dan mengikhlaskanku, aku ingin kakek bahagia... aku ingin kakek tetap berdiri tegar... aku ingin melihat kakekku yang berwibawa dan tenang... aku ingin melihat kakekku yang tabah...” Davela membenamkan wajahnya lebih dalam. Ia bisa merasakan tetesan air mata kakeknya yang hangat.
Laras memalingkan wajahnya sebelum akhirnya menghapus airmatanya. Keperihannyapun tidak bisa di ungkap dengan seribu katapun. Lukanya kembali terbuka. Mengingatkannya akan lukanya bertahun-tahun silam. Saat majikan yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri berucap pisah. Tersenyum melambaikan tangan dan tak kembali. Hanya mengukir lembayung luka mendalam.
Dan ternyata rencana Tuhan tidak berhenti disana, sang putri... Riana Vanessa Ashlyn Giraldy harus berucap pisah juga pada umur yang bagitu muda. Setahun setelah kepergian sang suami karena kecelakaan pesawat terbang. Menggoreskan berjuta luka yang semakin mendalam.
Dan kini, sang kuncup terakhir dan terindah terancam layu di tengah lukanya. Laras kembali menyeka air matanya. Mencoba melihat sejernih mungkin. Ia tidak ingin kedua majikannya melihat luka dimata tuanya. Namun Rasa sanyangnya pada sang putri tidak akan mampu membendung air matanya.
“Ibu, apa ibu baik-baik saja?” tanya Raka ketika melihat Laras mulai kehilangan keseimbangan. Laras terenyum lemah dan mengaguk.
***
Davela sudah tidak pernah sekolah, keadaannya mulai sedikit memburuk meskipun sudah mengikuti kemoterapi yang dianjurkan Surya. Gadis cantik itu masih dalam pendiriannya untuk menolak pengangkatan pada payudaranya.
Kesehariannya kini dipenuhi berbagai aktivitas untuk mencoba keberuntungannya untuk tetap hidup. Meskipun ia sering tersenyum mengejek dunia yang masih terus membisu.
“Apa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain pengangkatan itu dok?” tanya Davela lemah.
“Vella, ini adalah satu-satunya cara terbaik untuk membunuh sel kanker itu,” ujar Surya. Davela menatap rembulan dari kamar pribadinya di rumah sakit. Sedetik kemudian nafasnya terhenti. Sakit yang mendalam mulai menusuk dadanya. Namun ia sadar ini bukan karena sel kanker itu. Ini lebih buruk lagi.
“Nona Davela, tuan besar kecelakaan...”
DEG...
Davela terhenyak. Namun tidak bergeming. Hanya terpaku menatap rembulan yang membisu. Setetes air mata mewakili berjuta kepedihannya.
Kakek...
Seakan baru tersadar dari keterkejutannya ia barulah berbalik dan berlari ke segala arah, mencari cahaya kehidupannya yang perlahan meredup.
Tuhan ku mohon... ku mohon...
***
“tuan Giraldy koma, dia mendapatkan benturan keras di kepalanya,” ujar salah satu dokter di rumah sakit itu. Davela menatapnya lemah. Berkali-kali ia pingsan dan menangis. Berharap sang kakek akan menatapnya iba kemudian terbangun dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun ia sadar itu adalah harapan yang terlalu jauh dari kenyataan yang ada.
“Aku pikir, aku yang akan segera meninggalkan kakek, tapi ternyata Tuhan mempunyai rencana lain,” ujar Davela saat Raka memasuki kamarnya.
“Kakek... please... jangan pergi... please... kakek... kumohon... aku janji, aku akan melakukan apapun untuk membuatku hidup lebih lama... kakek please...” pinta Davela lirih. Raka menyentuh pundaknya perlahan. “Kakek, lihat aku sudah menandatangani persetujuan untuk pengangkatan kanker ini... kakek lihat, ini semua hanya untuk kakek... kakek... please...”
“Nona...”
“Dokter, katakan padanya kalau aku baik-baik saja dan akan segera sembuh... katakan padanya dok...”
“Nona...” Raka memeluk tubuh Davela yang bergetar. “Ayo kita menghirup udara segar,” ujarnya lirih.
***
Davela tidak bergeming saat Raka membawakannya sebotol minuman kesukaannya. Ia hanya terpaku menatap guguran dedaunan di hadapannya. Raka terhenyak saat melihat sobekan kertas di hadapan Davela.
“Mengapa nona melakukan ini?” tanya Raka dengan nafas tercekat.
“Berhenti memanggilku nona!” ujar Davela dingin.
“Oke, tapi bisakah kau menjelaskan semua ini?” tanya Raka geram. Davela tertawa mengejek.
“Apa kau belum mengerti juga hah??!! Ini adalah jalan yang diberikan oleh Tuhan, ini adalah jalannya. Ia sungguh baik karena tidak membiarkan kakek bersedih dalam kesendiriannya, lalu apakah aku akan mengambil jalan yang sengaja kakek lewati??” Rakak tercekat.
“Apa maksudmu!?”
“Dokter, tujuan hidupku sudah meredup, atau bahkan sudah padam. Aku tau, jika bukan karena berjuta alat bantu di tubuhnya mungkin kakek sudah tidak bisa bernafas lagi... lalu untuk apa aku masih bertahan pada harapan yang aku sendiri tidak miliki?”
“Tidakkah kau memiliki tujuan hidup yang lain?”
“Hahahaha... apa lagi yang bisa ku harapkan dari kehidupan ini, kalaupun aku selamat dari kanker ini mungkin aku akan segera mati karena kesendirianku, dokter pikir pria mana yang akan menikahi wanita tidak sempurna sepertiku??” Davela menyeka air matanya perlahan. “Hanya pria bodoh yang mau menerimaku, dan aku tidak ingin mati dalam kesendirian, aku tidak ingin mati dalam kesepianku sendiri...” ujarnya sedikit histeris. Raka terdiam seribu bahasa.
“Lagi pula, walaupun ada... mungkin aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta lagi... mungkin hatiku sudah mati... dan aku tidak ingin merasakan cinta itu lagi dok... aku lelah mencintai, aku lelah melihat harapan-harapan semu itu... aku hanya ingin sendiri, menjaga kakek sampai waktunya... dan setelah itu... pergi bersamanya... hanya itu...”
Raka terdiam. Ia tersenyum pahit sebelum berbalik.
“Rencana yang sempurna...” bisiknya pelan sebelum berlalu.
***
Tuhan, hatiku hancur.... hidupku bahkan tak bisa ku raba lagi... Tuhan... inikah yang kau inginkan dariku??? Tuhan... aku sakit... aku sakit... dan aku ingin semua rasa ini segera pergi... sungguh...
Tuhan... maaf...tapi aku lelah... aku lelah dengan semua luka ini...
***






Midnight WIshes -03


TIGA
BULAN DAN BINTANG


“kenapa dokter tersenyum??!!” tanya Davela kesal. Raka hanya menggeleng. “Dokter mengejekku karena aku berubah fikiran?? Asal dokter tau, kalau bukan karena kakek, aku juga tidak akan pernah mau mempunyai seorang dokter pribadi seperti anda!!” ujar Davela dari dalam mobil. Raka hanya tersenyum dan mengaguk. Ia memang sudah mulai bertugas. Bahkan ia sudah mulai tinggal di rumah salah satu orang terkaya tersebut untuk mengurus cucu kesayangannya.
“Nona, sudah sampai,” ujar Raka. Davela mengendus kesal kemudian keluar dari mobilnya. “Nona, jangan lupa, saya jemput pukul 12 tepat,” ujarnya. Davela memicingkan matanya kesal. Dalam hati ia merindukan mang Ujang, supir pribadinya kala itu.
“Davela!!” panggil Lexa dan Lena. “Siapa tadi? Jangan katakan kalau dia adalah supir pribadimu,”
“Kalau iya memang kenapa?”  tanya Davela ketus.
“Astaga Vella, apa kau serius? Dia benar-benar tampan,” puji Lena. Davela mengendus kesal kemudian memalingkan wajahnya. Hanya gadis bodoh yang tidak menyukainya, batinnya.
“Vell, siapa tadi? Semua anak di perpustakaan ribut,” ujar Rasti. “apa dia pacar barumu?”
“Bukan. supir,” ujar Davela lagi.
“Impossible, he’s too perfect,”
“Ras... cukup!!” ujar Davela geram sebelum berlalu pergi.
***
Davela menggeram pelan saat melihat kerumunan di depan sekolahnya. Ia tersenyum mengejek saat melihat sosok Raka di mobilnya. Namun sedetik kemudian ia terdiam. Wajah itu sangat berbeda dengan wajah yang ia lihat pagi tadi. Wajahnya seakan mengeras. Terpaku pada titik yang tak pasti. Terdiam membisu mengukir sebuah pahatan yang tak ternilai. Tampan dan angkuh, berkarisma namun tampak sangat dingin. Namun Davela sadar dokter itu tengah ketakutan. Ketakutan yang tak akan bisa di ucap dengan sepatah katapun.
Tanpa sadar Davela berlari. Ia mengetuk kaca mobilnya keras. Membangunkan sang pangeran dari lamunannya. Kemudian wajah itu mencair. Raka tersenyum lebar. Membuat seluruh gadis di tempat itu terhenyak karena ketampanannya. Davela menunduk dalam.
“Ayo pulang,” ujar Davela dingin.
“Kita harus langsung ke rumah sakit,” ujar Raka. Davela mengangkat bahu tak acuh kemudian kembali menatap jalanan dari kaca mobilnya yang berdebu. “Tuan besar ingin agar nona melakukan mammografie lagi,” ujar Raka seraya melirik Nona besarnya dari kaca spion. Davela tersenyum mengejek namun tidak menjawab. Ia hanya terdiam. Karena saat ini rasanya diam adalah sahabat terbaiknya. Diam... dan mati...
****
Davela terduduk di kursinya. Ia baru saja melakukan mammografie dan saat ini sedang menunggu hasilnya. Berkali-kali ia tersenyum mengejek dirinya sendiri yang selalu memiliki harapan bahwa ini hanyalah mimpi. Bahkan betapa bodohnya ia hingga mau mengikuti tes kedua kalinya untuk memastikan hal yang tidak bisa diragukan lagi.
“Kita akan melakukan oprasi kecil, untuk mengambil contoh jaringan sel itu dan memastikannya lagi,” tutur Raka. “Apakah nona ingin didampingi kakek anda?” tanya Raka. Davela tertawa samar.
“Lalu apa gunanya anda di sini sebagai dokter pribadiku? Aku tidak ingin dia kelelahan... dia sudah terlalu tua... dan sibuk...” tutur Davela lirih. Raka menghela nafas berat sebelum mengaguk dan berlalu pergi.
Raka menahan nafasnya sesaat. Berharap pada keajaiban yang tak kunjung menghampiri.
“Positif, stadium 2,” ujar seorang ahli patologi anatomi. Raka memejamkan matanya perlahan. “Dokter Raka, saya rasa kita harus sesegera mungkin melakukan pengangkatan,” ujarnya lagi. Raka menatap dokter tua di sampingnya. Surya menggeleng lelah. “Jika beruntung kita bisa mengangkat seluruh sel kankernya, lagi pula, sel kankernya masih belum menyebar sampai kelenjar getah bening, mungkin setelah melakukan penyinaran semuanya akan kembali normal,”
Raka terdiam.
“Biar aku yang membicarakan ini pada tuan Gunawan,” ujar Surya. Raka hanya mengaguk lemah kemudian berlalu pergi. Ia membetulkan letak kacamatnya sebelum menghampiri sang putri yang masih terdiam.
“Bagaimana, sudah ada keajaiban?” tanya Davela sinis. Kemudian tertawa hambar. “Bodoh, kenapa aku masih bertanya, padahal jawabannya sudah ku ketahui!!” ujarnya perih.
“Saya antar Nona pulang,” ujar Raka santun. Davela menatapnya geram.
“Anda tidak menceritakan hasilnya?” tanya Davela tidak percaya. Raka menatapnya lelah.
“Apa yang ingin nona ketahui?” tanya Raka pahit.
“Semuanya!! Semuanya tentang penyakit kanker sialan ini, berapa lama lagi hidupku? Berapa persen tingkat kesembuhanku? Berapa lama lagi sampai semuanya berakhir?” tanya Davela histeris. Raka menggeleng perlahan kemudian merangkulnya lembut.
“Tidak nona, nona akan baik-baik saja, nona akan selamat, kami akan melakukan hal terbaik untuk nona, nona akan baik-baik saja... aku berjanji...” ujar Raka seraya memeluk Davela yang masih terisak. “Aku berjanji...” ujarnya lagi.
***
“Dokter,” panggil Davela pelan malam itu. Raka sedikit terhenyak, baru kali ini  ia melihat sang putri menghampirinya. “Apa anda sedang sibuk?” tanya Davela seraya melirik tumpukan buku di hadapan Raka. Raka langsung menggeleng dan menutup semua bukunya.
“Ada yang bisa ku bantu?” tanya Raka.
“Bisa kita bicara sebentar, ada yang ingin aku tanyakan pada anda,” ujar Davela lemah. Raka mengaguk dan berjalan mengikuti Davela ke taman belakang.
“Dokter, aku sudah membaca beberapa artikel tentang kanker payudara, apakah aku masih berada di stadium dini?” tanya Davela pelan. Raka terdiam. Ia tersenyum tipis saat mendenga kata-kata sang putri, semua ke angkuhannya selama ini mulai menghilang. Dan kembali menampakan putri terindah yang pernah ada.
“Nona mengidap kanker stadium 2, dan kemungkinan sembuhnya masih 30-40%, itu semua tergantung luas penyebarannya, dilihat dari pemeriksaan kemarin, sel-sel kanker nona masih belum menyebar luas, bahkan belum sampai menyebar ke dalam kelenjar getah bening,”
“Apakah itu kabar baik?” tanya Davela palan. Raka terhenyak kemudian tersenyum lebar. “Dokter tahu, rembulan itu tidak seindah yang kita pandang dari sini, dia tidak seindah itu, tapi dia selalu akan bahagia, dia memiliki berjuta bintang yang akan menemaninya, dia akan selalu bahagia, akan selalu...
“Aku ingin kakek seperti rembulan, selalu bahagia... selalu bahagia sepanjang hidupnya... namun aku tidak bisa menjadi bintang yang selalu menemaninya, aku tidak bisa... aku tidak bisa...
“Dalam hidupku, aku tidak pernah mengharapkan apapun, bahkan untuk menjadi seorang putripun tidak, hanya satu yang ku inginkan, membuatnya tersenyum selebar mungkin, ia sudah terlalu tua dok, dia sudah terlalu tua untuk merasakan sakit ini... dia sudah terlalu merasakan berjuta kesakitan, aku tidak ingin kembali menyakitinya, aku ingin selalu bersamanya, menemaninya di hari tuanya...
“Ku mohon dok... lakukan apa saja untuk membuatku dapat menemaninya lebih lama lagi... ku mohon... ku mohon... aku tidak ingin membuatnya menangis lagi... aku tidak ingin meninggalkannya seperti yang di lakukan nenek dan ibuku, aku ingin menemaninya...” Davela menatap Raka penuh harap. Raka menganguk dan memeluk gadis itu erat.
“Bukankah aku sudah berjanji,” ujarnya parau.
***

Midnight Wishes -02-


  DUA
PELANGI PERTAMA


Davela menatap hujan di balik jendela kamarnya. Ia masih terdiam. Menata hati yang tak beraturan. Menatap segala kenyataan yang tak bisa ia hindari. Ia kembali terdiam. Menatap hujan yang mengguyur raya tanpa ampun. Kemudian mulai tersenyum menggejek dunia yang membisu.
“Davela,” panggil Gunawan pelan. Davela tidak menoleh. Ia hanya terdiam di kursinya. Masih menatap hujan dengan segala warna kelabuya. “Ada dokter Surya,” ujar Gunawan lagi. Davela masih terdiam. Jemarinya mengukir beberapa sketsa di jendelanya yang berembun.
“Davela... boleh dokter masuk?” tanya Surya perlahan. Davela tidak menjawab. Ia tersenyum mengejek dirinya sendiri. “Vella, banyak hal yang bisa kita lakukan sayang, kamu tenang saja... kamu akan baik-baik saja...” ujar Surya dengan nafas tertahan. Davela tersenyum getir. Kemudian menoleh. Memperlihatkan seluruh kepedihan di matanya.
“Apa yang bisa anda lakukan untuk menghentikan bom kematian seseorang dok?” tanya Davela getir. Gunawan memalingkan wajahnya. “Tidak ada yang perlu aku lakukan, mungkin cukup hanya mempersiapan batinku untuk melihat kematian...”
“Vella, tapi kamu masih bisa sembuh sayang, kamu masih dalam stadium dini...” ujar Gunawan perih.
“Apa kata-kata itu juga yang kakek berikan pada mom dihari sebelum ia pergi???” tanya Davela perih. Gunawan tercekat kemudian menunduk.
“Aku hanya lelaki tua,” ujarnya seraya duduk di samping putri kecilnya. “Aku hanya lelaki tua yang kesepian, seluruh hidupku sudah kau ambil Tuhan, lalu kenapa aku masih bisa bernafas??? Mengapa kau tak mengambil nyawaku??? Mengapa kau membuatku merasakan sakit ini???!!” bisiknya perih. “Aku hanya lelaki tua!!”
“Kakek...” bisik Davela parau.
“Maafkan kakek sayang, kakek tidak bisa menjaga kamu dengan baik, kakek tidak bisa mempertahankan nenekmu atau bahkan ibumu, kakek tidak bisa...”
“Kakek... maaf...” Davela berlari memeluk kakeknya yang terisak.
Ia hanya lelaki tua Tuhan... ia hanya lelaki tua...mengapa kau membuatnya bersedih... mengapa Tuhan...
                                                ***
Putri Davela Vanessa Ashlyn Geraldy adalah salah satu gadis tercantik di sekolahnya. Kepintarannya membuat para guru menaruh harapan besar padanya. Kekayaannya membuat setiap mata gadis yang melihatnya iri. Cantik, kaya, dan pintar namun sangat rendah diri. Davela adalah cerminan seorang putri masa kini. Namun siapapun tau, kehidupan putri itu tidaklah selamanya begitu, kehidupan seorang putri tidaklah seindah itu. Sama sekali tidak.
“Kamu masih sakit?” tanya Irene salah satu sahabatnya di sekolah. Davela tersenyum dan menggeleng.
“Cuma masih sedikit terpengaruh obat,” ujar Davela lirih. Irene mengangkat bahu dan berlalu.
“Tapi Vell, kamu keliatan pucat banget,” ujar Rasty. Lexa dan Lena menggaguk setuju.
“I’m Ok,” ujar Davela lagi.
“Ya udah, kalau ada apa-apa jangan lupa bilang sama kita ya,” ujar Lexa. Davela mengaguk. “Kamu ikut latihan cheers hari ini?”
“Ya iya lah,” ujar Davela seriang mungkin. Ke empat sahabatnya mengaguk senang.
                                                ***
“Kakek...”
“Vella, astaga, kamu siuman juga,” Gunawan memeluk cucunya erat. “Mulai sekarang kamu tidak boleh ikut kegiatan apapun,” Davela tercekat. “Kakek tidak mau kamu  memperburuk keadaan kamu sendiri,” ujar Gunawan tegas.
“Tapi kek,”
“Kamu sudah kakek carikan dokter pribadi, jadi kamu tidak bisa macam-macam lagi!!” ujarnya ketus. Davela menghela nafas panjang.
“Kek, bagaimana dengan teman-temanku? Apa mereka tau?” tanya Davela cemas. Gunawan menggeleng perlahan.
“Tuan Gunawan,” panggil Surya. “Davela, kebetulan sekali kamu sudah siuman, ini kenalkan dokter Raka yang akan mengurus kamu di rumah,” ujar Surya.
DEG...
Davela terhenyak sesaat. Ia menatap sosok Dokter di hadapannya dengan sekasama. Dokter jangkung dengan tatapan dingin namun menyejukan. Dokter tampan dengan senyuman yang tampaknya akan sangat jarang terlihat. Dokter berkacamata yang begitu menawan.
“Dokter Raka, ini tuan Gunawan Geraldy dan cucunya Nona Davela Geraldy,” ujar Surya. Raka menjabat  tangan keduanya dengan santun.
“Aku nggak mau punya dokter pribadi!!” ujar Davela tiba-tiba. Tiga pasang mata langsung menatapnya tidak mengerti.
“Tapi sayang...”
“Kakek!! Cukup, aku Cuma mau hidup normal, aku ga mau punya sesuatu pribadi yang menunjukan kepada semua orang tentang keadaanku... kakek tau, ini hanya akan membuatku semakin sedih, karena setiap saat aku akan sadar kalau aku ini sakit dan akan mati!!!”
“Davela... kakek tidak bermaksud begitu... kakek hanya ingin yang terbaik untukmu,”
“Terima kasih kek, tapi please... aku Cuma mau sendiri...” ujar gadis pewaris Geraldy Group itu pelan. Raka tercekat kemudian menghela nafas panjang. Ia membuka kacamatanya yang sedikit berembun.
                                                ***
25 Januari
Tuhan boleh kah aku menyebutnya sebagai catatan kematian???
Aku hanya ingin meninggalkan sesuatu untuk kakek, agar dia tau bahwa aku sama sekali tidak ingin meninggalkannya... aku sangat menyayanginya...
Tuhan ku mohon, jika ini memang jalan hidupku, ku mohon buatlah ia setabah mungkin... ia sudah terlalu sering terluka... ia sudah terlalu sering menangis...
Ia hanya lelaki tua tuhan... ku mohon...

“Non Davela...” panggil Laras. Davela langsung menutup bukunya.
“Ibu masuk,”ujarnya. Laras masuk dengan senampan obat-obatan. Davela menghela nafas panjang. 
“Kata tuan, Non minum saja dulu obatnya nanti tuan akan kesini,”
“Loh buat apa? Bukannya kakek sedang ada tamu?”
“Tapi kata tuan, Tuan ingin menjaga Non, Tuan ingin memantaunya sendiri, Tuan sudah tidak percaya pada ibu, Tuan bilang, ibu terlalu memanjakan Non Davela,” Davela tersenyum pahit kemudian memalingkan wajahnya.
“Bu, katakan pada kakek, malam ini dia tidak usah repot repot ke kamarku, karena aku sudah meminum obatnya, dan satu lagi... aku rasa aku butuh seorang dokter pribadi,” ujar Davela pahit. Laras mengaguk perlahan. “Dan ibu, bisakah ibu berhenti memanggilku Nona,” pintanya. Laras sedikit tercekat. Namun kemudian tersenyum tipis. Ia menggaguk perlahan. Memorinya kembali berputar, memperlihatkan gadis cantik yang selalu tersenyum manis sama seperti putrinya.
                                                                                ***

Midnight Wishes -01-


SATU
MY LIFE.

“I can't take it any longer... Thought that we were stronger... All we do is linger... Slipping through my fingers... I don't wanna try now... All that's left's goodbye to... Find a way that I can tell you...”
“My princess!!!”
“Oh shit!!! Ya kek, I’m coming,” teriak gadis cantik berbandana pink itu sedikit kesal. Ia mematikan musiknya kemudian berlari keruang makan. “pagi kakek...” ia mencium pipi kiri kakeknya.
“Oya, hari ini kakek ada rapat, mungkin akan pulang terlambat,” ujar lelaki paruh baya itu sebelum menggingit potongan sandwic terakhirnya.
“It’s ok, aku juga pulang terlambat, aku harus latihan Cheers, les piano, dan...”
“Tuan putri, kau masih sakit...”
“kakek... walaupun aku sakit aku masih punya stamina yang tinggi, aku masih muda, jadi bagaimana mungkin seorang kakek tua bisa bekerja sampai larut sedangkan aku tidak...”
“Oke, kakek pulang tepat waktu!!” ujar Gunawan akhirnya. Davela tersenyum puas. Seorang wanita paruh baya turut tersenyum melihat tingkah kedua majikannya.
“Ya udah, aku berangkat dulu ya kek,” Devela mencium kening kakeknnya yang masih kesal. Kemudian menghampiri wanita yang kerap di panggil ibu itu. “Bu, titip kakek ya,” ujarnya riang. Wanita itu tersenyum dan menggaguk. Davela tersenyum senang kemudian berlalu pergi.
Brak...
“Tuan besar... Nona Davela pingsan!!”
***
18 Januari
“kakek...” bisik Davela lemah. Gunawan tersenyum lebar.
“Ya sayang, syukurlah kamu sudah siuman,” ujarnya sedikit lega. Davela tersenyum tipis.
“Kek...” bisiknya seraya menghapus air mata yang mengalir di mata tua kakeknya. “Aku baik-baik aja, ini pasti karena aku jarang minum vitamin, tapi aku janji, aku ga akan lupa lagi...” ujar Davela. Gunawan menggaguk lemah. “Kakek... please, I’m Ok, please... no more tears, please...”
“Nona Davela...”
“Dok, tolong bilang padanya kalau kau baik-baik aja, aku Cuma kurang stamina... aku baik-baik saja kan dok?” tanya Davela saat dokter Surya memasuki kamarnya. Surya menatap gadis cantik itu sesaat kemudian menggaguk perlahan.
“Kamu baik-baik saja, kamu harus baik...” ujar dokter tua itu dengan senyuman hangatnya. Davela tersenyum lega.
“Kek, lihat, dokter juga bilang aku baik...” ujar Davela. Gunawan menghapus air matanya dan menggaguk perlahan.
I must be ok... I must be Ok...
                                                ***
Davela berkali-kali menghela nafas panjang saat melihat sosoknya di hadapan cermin. Kemudian menggeleng-geleng seraya tersenyum mengejek. Namun sedetik kemudian ia kembali terdiam.
“Huft, lama-lama aku bisa gila!!” desisnya.
“Non Vela,”
“Iya bu masuk,” ujar Davela seraya merapikan bajunya. “Loh kok vitaminnya banyak banget bu, hm... ini pasti gara-gara aku pingsan tadi pagi, ah kakek keterlaluan, kalo gini sih aku bisa overdosis vitamin,” tutur Davela seraya memperhatikan satu persatu obat yang dibawa Laras. “Loh ini kan obat penghilang rasa sakit,” ujar Davela heran seraya menatap setablet acetaminophen.
“Biar ibu tanya sama tuan Non,”
“Ga usah, udah malem, ibu tidur aja, nanti Vella yang tanya ma kakek,” ujar Davela. Laras mengaguk dan berlalu pergi. “Hm... kakek harus ngejelasin ini semua!!” ujar Davela geram seraya membawa obat-obatannya.
                                                ***
“Ku mohon...” Davela menghentikan langkahnya saat mendengar suara kakeknya dari ruang kerjanya yang tidak tertutup. Ia mengerutkan keningnya. Baru kali ini ia mendengar kakeknya memohon seperti itu. “Aku mohon, pasti masih banyak cara untuk menyelamatkannya, ya lakukan apa saja... ku mohon... apa saja... ku mohon...” Nafas Davela tercekat. Ia mendekatkan telinganya lebih rapat.
“Ku mohon Surya, bebaskan putri kecilku dari kanker sialan itu...”
DEG...
Davela terhenyak. Setetes air mata mengawali kepedihannya. Obat-obatan yang di tangannya terjatuh begitu saja. Ia menatap jemarinya yang mulai kabur. Kemudian jatuh terduduk di depan pintu. Tubuhnya seakan tak betenaga sama sekali bahkan meski hanya untuk sekedar mangeluarkan isakannya yang tertahan.
Kata-kata itu kembali terngiang. Seakan menjadi film yang terputar begitu saja.
‘Mom baik-baik saja sayang, tapi kamu tetap harus janji, kamu akan menjadi gadis yang baik, mom pergi dulu. Kamu tidak boleh berulah pada kakek, dia menyayangimu seperti mom dan dad menyayangimu, mom pergi dulu... mom pergi... pergi...’
Davela kecil mengaguk bersemangat dan tersenyum lebar. Barkali-kali ia mengejek kakeknya yang terus menangis sepeninggalan ibunya. dan saat ini ia mengerti, andai saja saat itu ia memahami semuanya, mungkin ia akan menangis lebih keras lagi saat mendengar kata kanker.
                                                ***

MIDNIGHT WISHES






                                                                             Midnight wishes


                                                          

HUJAN KEMARIN -01-


BAB SATU
Pejuang Cinta??!

aku berteriak keras ketika sebuah bola mengenai kepalaku. “AWww!!!!” teriakku. Beberapa orang langsung mendesis kaget dan sebagian yang lainnya tampak jelas menertawakanku. Aku meringis sambil mengusap kepalaku. Mungkin sedikit benjol mengingat benturanna yang cukup keras.
“Maaf, kau tidak apa-apa?” sebuah tangan terulur kepadaku, menyentuh keningku yang berdenyut. Aku melongo menatapnya. Terpesona akan wajah tampan di hadapanku. Matanya indah dan sangat menyejukan; Rambutnya berantakan, berkeringat; hidungnya begitu indah dan pas di wajahnya. Aku merasakan hatiku sedikit bergetar, kemudian meleleh bagai ice cream yang diletakan di microwave. Ia begitu sempurna.
“IZZI!!!” aku tersentak, kemudian refleks mundur beberapa langkah. Lena sahabatku menggantikan pangeranku. Ia berdiri menatapku. Matanya menyiratkan kekesalan dan kekhawatiran. Aku menyeringai kikuk. Kemudian memutar pandanganku, mencari pangeran tampan itu.
“Hai…” sapaku kikuk. Lena melongo menatapku.
“Hai??!” tanyanya tidak percaya. “Sepertinya benturannya terlalu keras. Kau amnesia ya?!”  aku mengerutkan keningku, memasang wajah ngeri.
“Apa dia baik-baik saja?” nah itulah suara pangeranku. Aku meliriknya yang berdiri di balik punggung sahabatku. Wajah tampannya terlihat khawatir. Aku mencelos, dan merasakan hatiku jatuh begitu saja. “Dia terlihat pucat,” katanya pada seseorang disampingnya. hah?? Dia?? Dia siapa?? Aku??
“Kau akan baik-baik saja,” desis Lena kemudian. Aku meronta ketika ia menarikku menjauhi pangeran tampanku. “Berhenti mempermalukan dirimu sendiri, bodoh!” ujar Lena.
                              ***
“Melamun lagi??!” tegur Lena di tengah pelajaran Matematika siang itu. aku menatapnya sinis. “Kau akan mendapatkan masalah kalau terus begini, kerjakan nomor dua belas!” perintahnya. Aku mengulurkan lidahku cepat, kemudian memeriksa buku LKS ku. Astaga, soal macam apa ini??!! Aku mendesis kemudian melirik Lena yang tengah asyik mengerjakan. Lena memutar bola matanya ketika melihat seringaianku. Kemudian menunjukan jawabannya sendiri.
“Kau jatuh cinta?” tebak Lena ketika pelajaran itu usai. Aku tersentak dan mencibir padanya. “Izzi!!! Kau suka Ethan?!” tanyanya lagi. Ethan?? Siapa pula si Ethan itu?? pikirku. “Kau lupa? Anak baru yang melemparkan bola ke kepalamu tadi siang.” Tambahnya. Wajahku memanas. “Astaga… jadi kau menyukainya?”
“Jadi namanya Ethan?” tanyaku. Ia mengaguk antusias.
“Astaga Izzi, akhirnya kau jatuh cinta. Kau tau aku samppai khawatir memikirkan kalau-kalau kau tidak menyukai makhluk berjenis kelamin laki-laki.” Tuturnya. Aku mendelik menatapnya. “Ups… hehehe…” ia menutup mulutnya dan menatapku kikuk. “Sudahlah, tidak penting. Pokoknya mulai saat ini aku akan membantumu untuk mendapatkan cinta Ethan. Kita akan menjadi pejuang cinta!” ujarnya benar-benar bersemangat. Aku sampai ngeri menatapnya. Namun, apa tadi katanya? Pejuang cinta? Yang benar saja? Wajahku kembali memerah.
                              ***
Aku menatap Lena tidak percaya ketika ia mengeluarkan semua bawaannya. “Kau mau pindah rumah?” tanyaku. Ia memutar matanya padaku kemudian tersenyum misterius. Ia mengeluarkan beberapa barang lainnya dari tas besarnya. Aku mendesis.
“Ini untukmu, sebelum memulai perjuangan cintamu, kau harus merubah dirimu.” Lena menarik tubuhku ke depan meja belajarku. Menghadapkanku pada cermin seukuran papan jalan di kamarku. “Dia pindahan dari Bandung, dan kabarnya dia keturunan Jerman…. Wow seleramu benar-benar bagus.” Wajahku kembali memerah. “Dan kau tentu sadar bukan, kalau kau mempunyai berjuta saingan?” aku menatapnya takut. Saingan? “Ayolah Izz… dia itu murid baru, dan lumayan tampan juga, pasti banyak yang menyukainya.” Aku mendesah setuju akan kata-kata terakhirnya. “Tapi aku akan membuatmu menjadi gadis tercantik untuk menarik perhatiannya.” Ia tersenyum menatapku dari cermin. “Kau akan menjadi gadis tercantik.” Ujarnya lagi. Aku menatap ngeri antusiasmenya.
                              ***
“Izzi?” aku menyeringai kikuk menatap mama. Ia tampak begitu heran menatapku. Dan sejujurnya aku juga sangat terkejut dengan penampilan baruku. “Kau yakin akan berangkat kesekolah seperti itu?” Tanya mama. Penuh rasa ragu. Aku mendesah dan mengaguk. “Oke, hati-hati kalau begitu.” Ujar mama. Aku mengaguk sekali lagi dan berlalu.
Lena tersenyum kepadaku ketika melihatku dibalik tikungan rumahku. “Kau sangat cantik.” Ujarnya antusias. Aku hanya mengangkat bahu. Namun sejujurnya, dengan rambut yang di kriting seperti ini, dan aksesoris yang menurutku terlampau berlebihan membuatku lebih seperti wanita murahan dari pada cantik. Tapi melihat antusiasme Lena aku hanya bisa mendesah patuh.
Aku merasa semua tatapan itu mengarah padaku. Mereka berbisik di belakangku kemudian terkekeh-kekeh. Aku menatap Lena yang dengan santainya mengaguk pasti ke arahku. Oh Tuhan. “Izzi, dia datang!!” desis Lena. Aku membeku ketika melihat pangeran tampanku datang. Kini ia masih mengenakan seragam sekolahnya, namun melihat bola itu di tangannya aku kembali meringis. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Aku menatap wajah tampannya dan mulai merasakan lututku kembali melemas. Lena menyikutku dari samping. Aku terkesiap.
“A..A..Ku…” bicara idiot!! Runtukku dalam hati. “Aku baik,” bisikku susah payah. Ia tersenyum lebar. Astaga… ia benar-benar tampan.
“Syukurlah kalau begitu,” ujarnya kemudian kembali berlari ke lapangan. Aku mencelos menatapnya. Lena menatapku kesal.
“Apa kau bercanda?!?! Itu adalah kesempatan emas, dan kau malah tergagap mengucapkan satu kata. Astaga Issabela, kau bisa menanyakan hal lainnya!!” Lena berteriak frustasi. Aku menunduk di hadapannya. “Hm, karena dia pemain basket maka kau harus menjadi anggota cheers,” ujarnya. Aku melotot tidak percaya.
“Itu terlalu berlebihan Le…” desisku.
“Berlebihan?? Tidak sama sekali! Kau harus bisa menjadi sedekat mungkin dengannya.” Aku menatapnya lelah. Astaga Tuhan… “Ayo, aku kenal ketuanya, kau mungkin bisa mendapatkan posisi yang bagus,” ujarnya. Aku mencibir. Seluruh sekolah pun tau siapa ketua Cheers yang fenomenal itu. Sazkia fayadita.


“Hai kak fay!” teriak Lena. Fay?? Baru kali ini aku mendengar gadis jangkung itu dipanggil lain. Sazkia menatap kami.
“Hai Le, ada apa?” tanyanya. Aku menatap ngeri kakinya yang panjang. Tampak begitu halus namun begitu menyeramkan.
“Bisakah kau menerima satu anggota lagi?”
“Ah, akhirnya kau mau mengikuti klub ini juga,”
“Bukan, bukan aku, tapi Izzi, sahabatku.”  Sazkia mendelikan matanya padaku, menilaiku. “Bisakah?” tanyanya. “Dia sangat tertarik menjadi cheers, tapi dia tidak berani mengajukan diri.”  Aku memelototi Lena. “Mungkin kau bisa mengajarinya sedikit, kau tau dia sangat berbakat.” Aku mendesis ngeri. “Dia hanya butuh sedikit latihan.” Sedikit latihan??? Yang benar saja?! Aku sama sekali tidak bisa menari! Aku payah dalam segala hal.
“Well, mungkin kita bisa lihat nanti. Tapi kau tau sendiri sekarang klub Cheers sedang banyak peminat.” Sazkia menunjuk beberapa gadis dengan tatapannya. Kami mengikuti arah pandangannya kemudian mengaguk.
“Tapi kau tentu bisa melakukan sesuatu untuk sahabatku ini kan kak?”  pinta Lena. Lagi-lagi Sazkia menilaiku dengan tatapannya. Ia satu tingkat di atas kami. Dan tatapannya benar-benar menunjukan hal itu. mungkin kalau bukan karena Lena yang membawaku, ia sudah mengusirku dari tadi.
“Aku tidak terlalu yakin. Tapi kalau memang dia berbakat sebagaimana yang kau katakan tadi, aku bisa melakukan beberapa hal.” Ujarnya.
“Terima kasih kak,” ujar Lena dengan keriangan yang tidak dibuat-buat. Sazkia mengaguk dan kembali berlalu pergi.
“Apa yang kau lakukan sih?” tanyaku kesal.
“Mempromosikanmu,” ujarnya santai. Astaga… Tuhan… inikah pengorbanan sebagai pejuang cinta sialan itu??!
                              ***