Kamis, 03 Januari 2013

PUTRI KELABU -28-


Valerina mendelikan matanya. Mengehentikan pencariannya pada ibu gadis itu. ia melirik takut pada wajah gadis kecil yang memerah itu. kata-katanya memang tidak begitu jelas, namun Valerina bisa memahaminya dengan sangat baik. Kemudian ia merengkuh wajah mungilnya. Meneliti setiap aspek wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan rambutnya… semuanya begitu sama.
“Ibu peli…” bisik gadis itu. air mata Velarina perlahan menetes. “Ini,” gadis kecil itu memberikan sebuah jepit berbentuk bunga lily. Valerina menggeleng tidak percaya kemudian memeluknya erat. Hatinya perih menahan tangis dan isak.
Kau… ini tidak mungkin, tapi kau… ya Tuhan… Luna…
Ia terus memeluk sosok mungil itu penuh kerinduan. Hatinya perih dan bahagia dalam waktu yang bersamaan. “Sayang, di mana ibumu?” Tanya Valerina setelah menghapus air matanya. Dan betapa terkejutnya ia melihat sosok mungil itu turut menangis.
“Rachel?!” teriak seseorang penuh khawatir. Dan kedua wajah itu menoleh. “Astaga…” bisiknya tidak percaya. Ia mematung beberapa meter di depan kedua orang yang tengah ia cari dan sangat ia rindukan. Valerina berdiri menatap sosok di hadapannya penuh kasih.
“Mama Tilana, Lahel sudah menemutan ibu pelinya, tetalang kita bisa membanunkan bunda,” ujar Rachel kecil di samping Valerina, memecahkan kesunyian yang tiba-tiba tercipta diantara mereka. Kirana menghapus air matanya dan berlutut di hadapan Rachel.
“Iya sayang, kita sudah menemukan ibu perinya,” bisik Kirana penuh kasih. Valerina tidak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk Kirana dan Rachel secara bersamaan, menumpahkan seluruh kerinduannya.
                                                ***
“Bunda, atu sudah beltemu ibu peli,” teriak Rachel ketika ia memasuki sebuah kamar di sebuah rumah besar di bilangan Jakarta pusat. Valerina dan Kirana berjalan di belakagnya. “Bunda, ayo banun…aku tudah bawa ibu pelinya…” rengek gadis itu. Valerina menghentikan langkahnya di ambang pintu kemudian mundur menjauh. Kirana menatapnya tidak mengerti.
“Apa yang terjadi dengannya?” Tanya Valerina perih.
“Kau bisa melihatnya sendiri,”
“Katakan padaku!” desis Valerina. Kirana memalingkan wajahnya.
“Dia koma setelah melahirkan Rachel,” bisik Kirana. “Hampir dua tahun lamanya,” tambah Kirana perih. “Rachel adalah sebuah mukjijat yang tak terkira. Dan kau tau, seharusnya saat ini aku marah kepadamu yang menghilang selama tiga tahun. Tapi ternyata aku malah berterima kasih padamu, karena kepergianmu Luna seakan-akan memiliki kekuatan untuk menunggumu kembali, meski dalam keadaan koma.” Tuturnya. Hati Valerina mencelos. Bibirnya bergetar tak bersuara. “Sekarang kau di sini, kau sebaiknya menemuinya, ia sudah menunggumu.” Ujar Kirana. Valerina menggeleng, membuat Kirana heran dan terkejut.
“Aku tidak akan menemuinya,” bisik Valerina. Kirana menatapnya tidak percaya.
“Dia sudah menunggumu!!” bentak Kirana kesal. Valerina menghempaskan cengkraman Kirana di tangannya dengan kasar.
“Itu dia masalahnya!” balas Valerina. “Tidakkah kau mengerti Ki?” bisik Valerina lebih pelan. “Aku tidak ingin ia mati,” kirana tercekat menatap Valerina.
“Apa maksudmu?”
“Setelah bertemu denganku, kau pikir apa lagi yang akan menahannya pergi?” tanyanya. Kirana membeku di tempatnya. Melirik sedikit kea rah kamar.
“Tapi bukankah ada kemungkinan untuknya kembali sadar karena bertemu denganmu. Seperti biasa, kau akan menjadi kekuatan untuknya.” Bisik Kirana. Valerina menggeleng perih.
“Aku tidak bisa mengambil resiko apapun,” bisiknya. Kemudian menangis terduduk. Tanpa mereka sadari Rachel kecil tempak terpaku menatap pertengkaran mereka. Ia memang tidak mengerti dengan semua perkataan kedua orang dewasa di hadapannya. Tetapi entah mengapa ia tetap meneteskan air matanya. Kemudian ia kembali beranjak ke ranjang bundanya. Naik dengan susah payah dan meringkuk di samping tubuh Luna yang kaku.
“Bunda…” bisiknya pelan. “Apa bunda atan mati?” tanyanya. Namun kemudian ia menangis sesenggukan. Menarik lengan bundanya hingga memeluknya sedemikian rupa. “Lahel tayang bunda,” isaknya.
                                                ***
Kirana duduk termenung di samping Valerina. Mereka hanya terdiam beberapa saat melihat hujan dari belik jendela di ruang tamu. Kirana sudah melihat Rachel tertidur pulas disamping ibunya. Dan ia merasa sedikit tenang.
“Kirana,” bisik Valerina pelan. “Bagaimana dengan perasaanmu?” tanyanya. Kirana masih termenung menerawang jauh kedepan.
“Sama perihnya denganmu.” Bisik Kirana akhirnya. “Hel, apa kau menginginkan Luna mati?” pertanyaan itu berupa bisikan, namun bisa menghancurkan dinding ketakutan diantara kedua gadis itu.
  “Apa maksudmu?” Tanya Valerina tanpa memandang Kirana.
“Tidak apa. Aku hanya merasa sangat senang ketika akhirnya istri Leo bercerai dengannya, pergi menjauh.” Valerina menatapnya tidak percaya.
“Kau mengetahui hal itu?” tanyanya. Kirana mengaguk pelan.
“Aku merasakan perih yang sama denganmu saat Leo menikah. Atau mungkin beberapa tingkat di bawahmu karena istri Leo bukanlah orang yang ku kenal, terlebih sahabatku. Namun aku begitu senang ketika akhirnya mereka berpisah.” Kirana menarik nafas panjang. “Dan selama ini aku selalu bertanya-tanya apakah kau menginginkan kematian Luna ketika ia akan menikah dengan Raka tiga tahun yang lalu?” tanyanya. Tubuh Valerina menegang ketika mendengar nama terakhir itu. air matanya mengalir perlahan tanpa kompromi. Membawanya kembali menatap memori yang begitu menyedihkan itu.
“Ya,” bisik Valerina.

PUTRI KELABU -27-


“Aku ingin kau menjadi bintang dalam iklan bulan kesehatan kali ini,” ujar Are malam itu. ia dan Valerina baru saja selesai makan malam bersama kakek. Dan seperti biasa kakek tua itu akan langsung masuk kamar dengan bermacam keluhan tentang umurnya yang tidak lagi muda. Padahal tentu saja Valerina dan Are bukan lagi anak kecil yang bisa dikelabui oleh kakek tua itu.
“Aku?” Tanya Valerina, menatap Are yang duduk di belakangnya. Menontonnya mencuci piring. “Tapi kenapa harus aku?” Tanya Valerina.
“Kau sangat cantik, dan kau tentu saja sangat cocok menjadi seorang putri yang berada di tengah anak-anak kecil itu.” Valerina mengeringkan tangannya kemudian berbalik menatap Are. “Kau juga seorang designer terkenal, tentu menyenangkan jika kau bisa menjadi duta kesehatan tahun ini. Ini sebuah kehormatan yang sangat besar untuk kami.” Are melingkarkan tanganya di sekitar pinggang Valerina.
“Aku tidak yakin,” ujarnya. Mengingat Kikan putri Leo. “Dan aku merasa tidak pantas untuk ini, aku bahkan tidak meneruskan kuliah kedokteranku,” keluhnya, kemudian meletakan kedua tangannya diatas bahu Are.
“Kakek rasa kau sangat cocok!” teriak kakek tiba-tiba di balik pintu kamarnya. Are dan Valerina langsung menjauh, kemudian mereka menyipitkan matanya pada kakek tua yang tiba-tiba tertegun mengutuki kebodohannya.
“Aku kira migrant kakek kambuh,” desis Valerina tajam. Brian membulatkan bola matanya.
“Aduh, astaga… kenapa kepala kakek terasa tambah sakit… sepertinya kakek harus tidur,” ujar kakek tua itu seraya memegang kepala sebelah kirinya kemudian berjalan ke kamarnya lagi. Valerina mencibir. Baru saja ia akan melangkah kepada kakeknya, tangan Are sudah menarik Valerina hingga duduk di atas pangkuannya.  Valerina terkejut, namun masih terlalu kesal pada Brian dari pada perlakuan mengejutkan Are.
“Padahal dia memiliki migran kepala sebelah kanan!” desisnya.
“Sudahlah,” Are membelai lembut tanganya.
“Dan apa-apaan kau ini, kau ingin melindunginya? Lepaskan, aku ingin memberikan kakek tua itu pelajaran!” ujar Valerina kesal ketika menyadari tangan Are sudah melingkari pinggangnya.
“Aku tidak berusaha melindungi siapapun, aku melakukan hal yang aku inginkan,” elak Are. Valerina kemudian terkikik pelan dan melepas kaca mata Are sebelum mencium bibirnya perlahan. “Katakan kalau kau setuju,” bisik Are, menjauhkan wajahnya sesaat.
Valerina mengerutkan keningnya. “Bagaimana bisa aku menolak permintaan seorang dokter tampan sepertimu. Tentu saja iya,” bisiknya. Dan Are kembali mencium Valerina.
***
“Apa??!” pekik Keysa tidak percaya keesokan harinya. “Kau akan membintangi iklan bulan kesehatan tahun ini?” ulangnya. Valerina mengaguk pelan. Wajahnya sedikit memerah. “Kau akan terekspos,” desis Keysa ngeri.
“Aku rasa tidak salahnya menjadi terkenal,” ujar Valerina setelah diam beberapa saat. Keysa kembali menatapnya tidak percaya. Kemudian terkekh pelan.
“Ya tentu, tapi aku tidak yakin bisakah kau menandingi terkenalnya brand pakaianmu,” ujarnya riang. Valerina hanya tersenyum tipis.
Keysa mendesah lega. Akhirnya, ia menemukan sosok asli gadis kelabu ini. Dan tentu saja ia sama sekali tidak meragukan kepiawaian gadis ini untuk membintangi iklan itu. Valerina adalah gadis multi talented pertama yang ia temui, terlebih saat mengetahui masa lalunya sebagai mahasiswa kedokteran. Ia yakin, jika Valerina meneruskan kuliahnya ia tentu sudah menjadi dokter yang paling menawan saat ini.
“Eh, tapi kemana dokter tampan itu? aku melihatmu berangkat sendiri hari ini,” ujar Keysa. Ia bisa mendengar desahan nafas sang putri.
“Dia ada pertemuan di Malaysia,” jawab Valerina pelan. “Jadi aku akan memulai syuting tanpanya,” Keysa menutup buku besarnya perlahan. Entah mengapa bukan masalah itu yang membuatnya merasakan mendung yang tersembunyi apik di balik keceriaan valerina hari ini.
                                                ***
“Nona Rachel, ah maksud saya nona Valerina. Senang bertemu dengan anda,” ujar seorang lelaki berumur 40-an ketika melihat Valerina memasuki rumah bermain anak yang disetting sebagai tempat lokasi syuting yang pertama. “Saya Rio, sutradara iklan ini.” Ujarnya. Valerina mengaguk santun. “Santailah dulu, syutingnya akan dimulai satu jam lagi.” Lagi-lagi Valerina mengaguk dan mengedarkan pandangannya ke ruangan besar warna warni itu. sesuai dengan namanya, rumah ini memang di peruntukan untuk tempat bermain anak-anak.
Ceritanya adalah, Valerina akan menjadi seorang dokter muda yang baik hati, yang membatu beberapa ibu yang tengah kesusahan menghadapi wabah penyakit pada anak-anak mereka. Wabah penyakit itu di akibatkan karena kebiasaan hidup kotor di kebanyakan keluarga. Dan disanalah Valerina, yang berperan sebagai dokter namun lebih tampak seperti bidadari, datang membantu para ibu menyembuhkan anak-anak mereka dan mengadakan penyuluhan untuk membiasakan hidup bersih.
Semuanya tampak sederhana namun begitu dalam maknanya. Kebersihan memang salah satu hal yang patut dijaga dimanapun.
Pada bagian awal ini Valerina hanya perlu berakting menjadi dokter yang mendapatkan kabar tentang wabah yang mengenai beberapa anak itu. dan selebihnya adegan itu di lakukan oleh beberapa anak balita dan ibu mereka. Valerina memutuskan untuk langsung pulang ketika pengambilan gambarnya selesai. Meski ia sedikit tertarik untuk melihat akting bocah-bocah kecil itu, tetapi telepon darurat dari Keysa memaksanya untuk segera pulang.
                                                ***
“Ya semuanya berjalan lancar,” ujar Valerina keesokan harinya di telepon. “Aku akan pergi ke lokasi syuting kedua sekarang. Kapan kau pulang?” valerina mendengar desahan nafas di sebrang sana. Sebelum Are menjelaskan ketertundaan kepulangannya. “Baiklah, jaga dirimu baik-baik,” bisik Valerina pelan sebelum menutup teleponnya.
Syuting kali ini berlokasikan di puncak bogor. Sebenarnya Rio sudah menawarinya untuk pergi dengan mereka sejak kemarin, namun karena urusan mendadak ia baru bisa datang hari ini.
Valerina menarik nafas dalam-dalam ketika sampai di lokasi syuting. Aroma pegunungan yang sejuk langsung menerpa wajahnya. Begitu damai dan lembut. Padang rumput yang luas dan indah terbentang di hadapannya, dan kini sudah berhiaskan balon-balon berwarna warni. Ia akan menari bersama anak-anak itu hari ini. Berputar bahagia. Ya, itulah skenarionya, menggambarkan kesehatan dan betapa bahagianya anak-anak itu.
“Ibu peli,” bisik seorang gadis kecil. Valerina membuka matanya dan menatap gadis kecil itu. “Ibu peli,” bisiknya lagi. Valerina mengerutkan keningnya, kemudian berlutut di hadapan gadis kecil itu, ia sedikit heran mendengar getaran di suara gadis itu.
“Hai cantik, siapa namamu?” tanyanya lembut. Gadis kecil itu menatap wajah Valerina tak berkedip. “Mana mamamu?” tanyanya lagi, mengedarkan pandangannya ke sekeliling padang rumput yang cukup ramai. Namun ia tidak mendapati seorang ibu yang tengah sibuk mencari anaknya.
“Dik, siapa namamu?” tanyanya sekali lagi. Mulai sedikit khawatir ketika mata gadis kecil itu mulai berair.
“Lahel,” bisiknya pelan.











PUTRI KELABU -26-


Keysa menatap atasannya tidak percaya. Gadis itu tampak begitu natural, tersenyum dan tertawa, dan lebih hidup. Wajah kakunya seakan menghilang sedikit demi sedikit. Menampilakn aura cantik yang begitu indah di pandang. Bahkan gaya bicaranya sudah melembut, dan ia yakin ini ada hubungannya dengan sosok dokter tampan yang kerap menjemputnya pulang dari butik.
Gadis itu memang selalu cantik dengan caranya. Namun Keysa sebagai asisten pribadinya selalu merasa ia tengah terluka. Tatapan matanya tampak selalu gelap dan perih. Jadi tentu saja saat pandangan itu menampakan binarnya ia bahagia bukan main. Ia menyayangi Valerina lebih dari dirinya sendiri. Terlebih saat ini, saat senyuman itu sudah menyentuh matanya indahnya.
“Bagaimana kalau musim ini kita menggunakan tema fullcolour,” usul Keysa suatu hari. Valerina yang tengah tertegun di ruang kerjanya melirik tumpukan bahannya yang hampir keseluruhan berwarna kelabu dan gelap.
“Entahlah, aku tidak tau bagaimana menyatukan warna warna itu,”
“Aku tau siapa yang bisa membantu,” ujar Keysa penuh semangat. Valerina hanya mendesah pelan kemudian melirik jam tangannya. “Kita bisa membicarakannya besok, kau bisa pulang dengannya lebih cepat hari ini. Serahkan saja semua urusan butik padaku.” Ujar Keysa. Valerina terkekeh pelan dan menggeleng. “Kau tau, terkadang aku lebih bisa membayangkan dirimu memakai jas putih dokter dari pada berdiri di tengah tumpukan bahan dan sketsa ini,” ujarnya seraya merapihkan beberapa design di atas meja.
“Aku memang pernah menjadi mahasiswi kedokteran selama tiga tahun,” ujar Valerina. Tanpa sadar Keysa menjatuhkan tumpukan kertasnya begitu saja.
“Dan kau malah beralih menjadi designer?” tanyanya tidak percaya. Valerina menerawang jauh.
“Ya, seperti itulah.” Jawabnya, kemudian meraih selembar kertas kosong, memainkan pensilnya perlahan, lima menit kemudian ia mendesah dan meletakan sketsanya. Keysa melongo menatap design kasar sebuah dress manis di hadapannya. Dalam jangka waktu lima menit dan gadis itu bisa membuat sebuah design dress semanis ini? Keysa mendelik ngeri dan kagum. “Aku rasa musim ini kita akan menggunakan tema valentine.” Ujar Valerina. Keysa tersenyum, mengaguk senang.
                                                                  ***
Are tersenyum lebar ketika melihat gadis cantik itu duduk di depan butiknya. Ia sengaja melambatkan laju mobilnya untuk melihat sosok cantik Valerina lebih lama. Tiga tahun berlalu, dan gadis itu sudah banyak berubah. Wajahnya tampak lebih dewasa dan anggun. Rambutnya tidak lagi ikal seperti dulu, meski masih tetap indah, namun kini lurus sebahu. Matanya indah seperti biasa, namun memang tidak berbinar lugu seperti dulu. Ia tampak begitu cantik dan indah.
Are tau, bibir indah itu selalu ingin melontarkan beberapa pertanyaan tentang sahabat-sahabatnya. Namun, entah bagaimana kemudian pertanyaan itu menghilang begitu saja. Dan Are tidak sampai hati menceritakan kisah sepeninggalannya tiga tahun yang lalu. Ia tidak ingin merusak sedikit binar matanya yang baru saja ia temukan kembali.
“Kau menungguku?” Tanya Are ramah. Valerina mendesah kesal kemudian melirik jam tangannya. Marah akan keterlambatan Are. “Maaf, mencari bunga ini sedikit lebih sulit dari pada mencari bunga biasa,” ujarnya seraya memberikan Valerina sebuket lily indah. Wajah Valerina langsung melunak. Ia memang menyukai bunga indah itu.
“Terima kasih, tapi kau tetap belum mendapatkan maafku,” ujarnya. Are pura-pura mendesah frustasi. Kemudian duduk di samping gadis terkasihnya. Ia menatap Valerina yang masih memandangi lily itu. “Aku jadi menyesal membawa bunga itu.” ujarnya. Valerina meliriknya sekilas, kemudian kembali menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. “Astaga, aku benar-benar iri padanya.” Ujar Are dengan nada kesal yang tidak dibuat-buat ketika Valerina mencium kelopak bunga itu.
“Ada apa sih denganmu?” Tanya Valerina akhirnya.
“Lihat, betapa menyenangkannya menjadi bunga itu. kau tidak pernah melepaskan pandanganmu darinya, kau bahkan menciumnya.” Ujar Are kesal. Valerina menatap sosok tampan di sampingnya tidak percaya. Wajah jenakanya membuat Valerina tidak bisa menahan tawanya. Namun sedetik kemudian ia menarik lengan kiri Are, membuatnya mendekat dan berhenti mendesah kesal. Are melongo ketika Valerina mencium lembut pipi kirinya dengan singkat.
“Terima kasih,” bisiknya. “Aduh,” Valerina mengusap keningnya yang terbentur pelan dengan kaca mata Are. Are menghela nafas panjang kemudian menatap gadis yang masih meringis di sampingnya.
“Lakukan yang benar jika kau memang ingin,” ujarnya seraya melepas kaca matanya kemudian mencium lembut bibir Valerina.







PUTRI KELABU -25-


“Papa aku mau yang ini!” teriak seorang gadis kecil berambut kriting. Valerina yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya mendongkak sedikit. Menatap gadis kecil yang tengah berusaha menggapai sebuah topi cantik di hadapannya. Valerina tersenyum dan berjalan mengelilingi butiknya, menuju gadis kecil itu.
“Ini?” Tanya Valerina lembut, ia membungkuk untuk memberikan topi itu.. Gadis itu menatapnya sumingrah.
“Ibu Peri… Telima kasih.” Ujar gadis itu. wajahnya begitu cantik dan lucu, dan sedikit familiar.
“Yang mana sayang?” Tanya seseorang tiba-tiba.
“Yang ini, papa.” Gadis kecil berbaju kuning itu memeluk kaki pemuda di hadapannya.
Deg…
Valerina menatapnya tidak percaya. Begitu pula dengan pria di hadapannya. Valerina mendelikan matanya ketika gadis kecil itu merengek meminta perhatian ayahnya. Ia tersenyum kikuk dan mundur beberapa langkah.
“Hai Leo,” bisiknya pelan. Pemuda itu terdiam. “Putrimu sangat cantik,” tambahnya. Entah mengapa hatinya terasa sedikit perih mengingat Kirana. Ia hanya bisa berharap gadis itu sudah melupakan kisah cintanya pada sang pangeran.
“Bagaimana kabarmu dan Luna dan… Kirana,” Valerina tersenyum tipis, mencoba menenangkan gemuruh hatinya. Ini bukan salahnya, jika ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang putri. Batin Valerina. Namun ia masih tidak bisa memikirkan bagaimana perasaan Kirana jika tau tentang semua ini. “Well, aku dengar kau pergi ke luar negri, senang melihatmu sudah kembali. Dan, aku tidak tau jika kau bekerja di sini,” ujarnya. Valerina kembali tersenyum, namun lebih santai.
“Ya, tiga tahun yang lalu,” bisik Valerina mengenang. “Aku memang pergi, tapi seperti yang kau lihat, aku sudah kembali.” Suaranya sedikit bergetar.
“Tunggu dulu, apakah kau Valerina pemilik butik GreyLine ini?” Tanya Leo seakan baru tersadar akan sesuatu.
“Perkenalkan, aku Rachel Valerina Kimberly,” ujarnya. Leo menatapnya tidak percaya.
“Aku tidak tau jika kau punya nama tengah Valerina.”
“Aku jarang menggunakannya. Itu nama keluarga ibuku,” terang Valerina. Leo mengaguk-ngaguk mengerti. “Dan anyway, siapa gadis kecil ini?” tanyanya lembut, kembali membungkuk pada gadis kecil itu.
“Dia putriku, Kikan Natasha mahadewi,” Valerina mengaguk mengerti. Kemudian mengulurkan tangannya. Ia tidak berani untuk menanyakan siapa ibu dari gadis ini, meski ingin. “Well, Rachel senang bertemu denganmu, tapi kami sudah harus pergi.” Ujarnya. Valerina tersenyum dan mengaguk.
“Pakailah ini,” ia memakaikan topi itu pada Kikan. “Sebagai tanda perkenalan dari tante,” ujarnya. Leo mengucapkan terima kasih sebelum berlalu pergi bersama putri kecilnya.
Valerina mendesah pelan. Mencoba kembali tersenyum, namun akhirnya gagal. Ia melirik butiknya yang cukup ramai kemudian berlalu kembali kebelakang mejanya.
                                                ***
Sesuai janji, Valerina menyempatkan makan siang bersama kakeknya di tempat praktek kakeknya yang baru. Ia tersenyum ketika melihat kakek tua itu tengah berbincang dengan seorang ibu di depan kliniknya. Begitu berwibawa dan bijaksana. Dokter yang baik.
“Nah, ini adalah cucuku.” Ujarnya mengenalkan saat Valerina sudah berada di hadapan mereka.
“Wah, benar-benar cantik. Anda tentu sangat bangga kepadanya dok,” ujar ibu itu. valerina hanya bisa tersenyum kikuk. Sedikit risih dengan tatapan kagum ibu di hadapannya.
“Ya, dia adalah hal yang terindah dalam hidupku,” ujarnya.
“Ah kakek berlebihan.” Bisik Valerina akhirnya.
“Oya, kakek sudah membeli makanan, mungkin kau bisa menyiapkannya dulu, sementara itu masih ada yang ingin kakek bicarakan dengan ibu ini,” ujarnya. Valerina menggaguk santun dan berlalu pergi.

Deg…
Valerina menghentikan langkahnya di ambang pintu. Matanya membulat menatap sosok yang berdiri membelakanginya. Sosok itu begitu jangkung, dengan punggung yang bidang. Ia membaca beberapa label obat-obatan yang ada di hadapannya kemudian berbalik menghadap meja, menuliskan sesuatu, dan kembali mencari sesuatu di rak obat-obatan. Valerina menahan nafasnya, kerinduan mulai menyeruak di relung hatinya. Wajah jenaka itu kembali memenuhi memorinya, tawanya, mata indahnya, kebaikannya…
Tiba-tiba gadis itu berlari memeluk sosok di hadapannya dari belakang. Dokter muda itu sampai terlonjak kaget, ia menarik tubuhnya dari pelukan tiba-tiba gadis itu. kemudian berbalik menghadap sosok cantik itu.
“Ra… Rachel…” bisiknya tidak percaya. Valerina menatapnya dengan deraian air mata kerinduan. Kemudian ia kembali berada dalam pelukan erat pemuda di hadapannya.
“Hai Are,” bisiknya susah payah. Kerinduannya sudah sampai di puncak hatinya. Mereka berpelukan selama beberapa saat. Menumpahkan kerinduan yang tak terucap.
Are memjamkan matanya, mencoba merasakan tubuh di hadapannya dengan seksama. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan lagi sebagai mimpi yang selalu ia alami. Ia menghirup aroma harum rambut Valerina. Begitu menyenangkan. Ia tidak akan pernah ingin melepaskannya lagi. Tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama dengan tiga tahun yang lalu. Ia akan menjaganya, meyakinkannya bahwa iapun bisa membuatnya tersenyum. Meyakinkannya untuk tetap tinggal bersamanya.
“Wah, sepertinya kakek salah masuk ruangan,” ujar Brian sedikit linglung. Valerina dan Are langsung melepaskan pelukan mereka. Wajah mereka memerah, namun tampak begitu bahagia. “Kalian bisa melanjutkan reuni ini. Pria tua ini hanya perlu membeli beberapa roti untuk makan siangnya,” ujar Brian lagi. Valerina memelototinya.
“Jadi kakek belum membeli apa-apa?” tanyanya tidak percaya, sedikit kesal.
“Well, kakek lupa.” Ujar kakek tua itu dengan wajahnya yang polos tidak ingin disalahkan. Valerina mendesah dan memutar bola matanya. Are terkekeh pelan.
“Mungkin kita bisa makan siang bersama di luar,” ujar Are.
“Oke. Tapi cepatlah, kakek tua ini tidak lagi mempunyai stamina yang cukup seperti kalian anak muda untuk tetap berdiri di sana,” ujarnya sedikit dramatis kemudian melangkah keluar. Valerina dan Are saling pandang kemudian terkekeh pelan.
“Ayo, atau kakekmu akan mengeluh lagi,” ujar Are seraya berjalan ke pintu keluar. Valerina tertawa kecil kemudian berjalan di samping Are. Pelan namun pasti, Are menautkan jemarinya pada Valerina, menggenggamnya erat.

Written In the Stars -01-


Mendung masih menghiasi langit saat Dara keluar dari sekolahnya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, pikir Dara. Dan sesaat kemudian setetes air hujan mengawali tetesan yang lain, membuat Dara terpaksa mematung di halte.
“Dara, kamu belum pulang? Ayo masuk!” teriak Stela dari dalam mobilnya. Tanpa pikir panjang Dara langsung memasuki mobil Stela. “Oya, ada anak baru lho di kelasku,” ujar Stela antusias. Dara menoleh sekilas dan tersenyum tipis. “Namanya Damar. Orangnya manis… mirip-mirip Steve Imanuel,” Stela terkekeh pelan mendengar kata-katanya sendiri. Lagi-lagi Dara hanya bisa tersenyum tipis. 
“Ra, sudah sampai,” ujar Stela ketika sampai di depan rumah Dara.
                                                            ***
Dara menatap langit malam yang tak berbintang. Lagi-lagi terdengar teriakan keras dari kamar kedua orang tuanya. Entah apa yang membuat mereka selalu bertengkar. Namun, Dara sudah mulai terbiasa, ia sudah lelah menangis, ia sudah lelah berpura-pura tersenyum diatas tangisannya. Seperti saat ini, ia tidak pernah lagi tersenyum. karena ia tau, itu tidak akan memperbaiki keadaan.
Prang…
Piring-piring terbang itu kembali membentur dinding dan lantai yang menjadi saksi bisu pertengkaran mereka di malam yang kelabu. Dara meneteskan air matanya perlahan, hingga akhirnya ia terlelap dalam kelelahannya.

Sinar lembut sang mentari membangunkan Dara keesokan harinya. ia beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap pergi kesekolah. Dilihatnya meja berbentuk oval itu dengan sedih. Tidak ada siapapun disana, hanya makanan-makanan yang mungkin lezat namun tidak menarik. Membuat Dara enggan untuk menyentuhnya.
                                                            ***
Pantulan bola basket terdengar nyaring. Dara menolehkan wajah cantiknya yang muram, kemudian kembali menelusuri koridor sekolah yang sepi.
“Hei…” panggil seseorang. Dara menoleh namun tak menjawab. “Hm, kenalkan aku Damar,” ujar pemuda itu lantang. Dara membalas uluran tangan Damar dan menariknya kembali dengan cepat. Damar mengerutkan keningnya heran. “Boleh aku tau siapa nama kamu?” tanyanya. Dara membeku, wajah cantiknya sedikit memucat. Damar menatapnya dengan tatapan tidak sabar. Namun belum sempat ia kembali mengulang pertanyaannya, Stela sudah berlari menghampiri mereka.
“Hai Damar,” sapa Stela girang. “Wah sepertinya kalian sedang berkenalan,” ujar Stela. Dara menatapnya sesaat. Stela tersenyum tipis seolah-olah mengerti kata-kata yang terukir dalam benak sahabat terbaiknya. “Damar, kenalkan dia Dara,” ujar Stela, sesaat sebelum Dara berlalu pergi. “Dia bisu,” bisik Stela pelan. namun bisa membuat Damar menahan nafas karena terkejut.
“Gadis cantik itu bisu?” tanyanya tidak percaya. Stela mengangguk perlahan. “Hm… La, aku harus pergi,” Damar melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik lapangan. “Dara!!” panggil Damar. Dara menghentikan langkahnya dan berbalik. “Hh… aku… hh… minta… hh… maaf…” ujar Damar dengan nafasnya yang masih terengah-engah. Dara mengeluarkan selembar kertas dari sakunya dan menuliskan sebuah kalimat.
‘Untuk apa?’
Damar membaca kertas itu sesaat. “Sorry, aku nggak tau kalau kamu bisu,” ujar Damar penuh penyesalan. Dara tersenyum manis dan kembali menulis.
‘Nggak apa-apa kok,’
“Hm, boleh aku jadi teman kamu?” Tanya Damar tiba-tiba. Matanya berbinar penuh harap. Dara menatapnya tidak percaya, sebelum akhirnya mengangguk senang.
                                                            ***
                                                                                    27 February 2008
Senin yang sendu… aku terduduk sendiri di depan meja riasku. Ku tatap pantulan wajahku di cermin, berusaha mengukir senyum palsu seperti biasanya. Namun bukannya wajah tersenyum yang kulihat, malah sebaliknya. Wajah dicermin itu seakan mengejekku karena sudah lupa caranya tersenyum…
Senin yang semu…
Hari ini adalah hari ulang tahunku. Dan orang tuaku memintaku untuk menghadiri perceraian mereka. Aku tersenyum pahit penuh luka. Perih rasanya mengingat kata yang selalu ku takutkan selama ini…
Ku tatap wajah semu di hadapanku dengan pilu. Apakah selama ini wajahku selalu menampilkan kebahagiaan? Sampai-sampai tidak ada satu orangpun yang datang untuk menghapus air mataku?
Samar-samar ku dengar teriakan mama memanggilku. Dengan langkah berat aku menghampirinya yang sudah berada di mobil. Sedangkan papa berada di mobil yang lain. Aku sendiri lebih memilih pergi bersama papa, karena aku sama sekali tida tega melihat wajah mama yang tampak sangat terpukul.

Pukul 11.25 sidang terakhir itu selesai. Aku bisa melihat sirat kelegaan dari wajah kedua orang tuaku. Tapi bagaimana denganku? Haruskah aku merasa lega seperti mereka? apa wajahku sedang tersenyum sehingga tidak ada satu orangpun yang menahan bahuku agar tidak terjatuh?
Ingin rasanya aku memberontak. Berteriak dengan suara yang lantang. Namun, aku tidak kuasa… karena aku hanyalah seorang gadis bisu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kadang aku bertanya-tanya mengapa aku bisa mendengar? Padahal bukankah kebanyakan orang bisu itu tidak bisa mendengar? Dan akupun berharap tidak bisa mendengar! Agar aku tidak perlu mendengar tawa papa seusai sidang…

Aku bersedih, namun tidak untuk menangis, hanya ingin mengetahui kapan semua ini akan usai.
Aku menepi bukan lelah mengarungi, hanya saja aku tak kuasa menahan semua pahit hidup ini.
Andai aku bisa meminta dan pasti dikabulkan… aku memilih mati…
Bukan aku tidak mensyukuri hidup ini, hanya saja aku sudah terlalu lelah menjalani semua kisah semu ini…
                                                            ***
Sidang sudah usai, sekarang tinggalah Dara yang harus memilih dengan siapa ia akan tinggal setelah ini. Entah mengapa pilihannya jatuh pada papanya, dan ternyata sang ibunda bisa sangat menerima, bakan di wajahnya tersirat kelegaan yang mendalam. Seakan baru saja terlepas dari beban yang teramat berat. Dara meringis pilu. Ia benar-benar tidak berani melihat mamanya yang kabarnya akna pergi ke Meksiko. Dara sudah tidak peduli, hatinya terlalu sakit dengan semua ini…

Pukul 15:30 Dara baru saja sampai di rumah mewahnya. Kesepian itu mulai menyeruak. Kini tidak ada lagi sosok ibu yang selalu ia nanti untuk memeluknya. Dara menangis pilu, namun seperti biasa, tanpa suara. Hanya sebuah isakan yang mengiris hati. Tiba-tiba telepon berdering. Dengan lesu Dara mengangkatnya. Setetes air mata mengawali kepedihannya yang baru. Tubuhnya terjatuh lemas di samping meja telepon. Hatinya sakit menahan luka yang benar-benar memuncak. Sebuah kabar kelabu yang baru telah menghiasi harinya yang semu. 

INDEKS

Rabu, 02 Januari 2013

MIMPI ITU...


“Apa aku mengenalmu?” tanyaku ragu. Wajah di hadapanku tersenyum tipis. Matanya yang indah berbinar lembut penuh kasih.
“Seharusnya, iya.” Jawabnya, masih dengan senyuman manis yang menghiasi wajah lembutnya. Aku mengangkat sebelah alisku, sedikit bingung dengan wanita ini. Wajah itu begitu familiar di mataku, namun otakku tidak bisa mengumpulkan informasi apapun tentangnya. Tentang sosok cantik yang begitu lembut di hadapanku.
“Maaf?” bisikku benar-benar tulus. “Tapi aku tidak mengenalmu,” bisikku. Ia masih tersenyum.
“Kau pernah mengenalku,” ujarnya. “Ketika kau masih memiliki mimpi itu,”
Aku terdiam.  Kemudian menggeleng. Mimpi??  Aku tidak pernah memiliki mimpi. Well, kalaupun ada mungkin sudah ku kubur dalam-dalam.
“Ya, saat kau belum mengubur semua mimpi indah itu,” bisiknya. Aku tersentak ketika mendengar kata-katanya. Apakah wanita ini bisa membaca pikiranku?
“Kau memiliki mimpi yang indah, kau memiliki harapan terbesar. Semangatmu, senyumanmu, semua keindahan itu…”
“Aku tidak pernah memilikinya,” potongku cepat. Wajah di hadapanku membeku, namun binarnya tidak menghilang.
“Kau memiliki mimpi itu. sebuah kepercayaan bahwa kau akan mencapai seluruh mimpi dan anganku,”
“Itu adalah diriku yang bodoh. Diriku yang menutup mataku sendiri dari kenyataan. Bersembunyi di balik mimpi-mimpi semu,”
“Tapi kau pernah memiliki kepercayaan itu,” wajahnya berubah sedih. Aku mencibir sarkastis.
“Itu adalah diriku yang bodoh,” ulangku sarkastis. Wajah cantik itu menatapku dengan padandangan anehnya.
“Apa aku terlihat bodoh?” tanyanya pelan. “Apa aku yang mempercayai mimpi itu terlihat bodoh?” ulangnya lagi ketika aku hanya terdiam. Perlahan namun pasti gadis dihadapanku menyentuh pergelangan tanganku yang memerah. Aku membeku tak bisa bergerak. Air mataku menetes perlahan.
“Kau terlihat indah. begitu manis dengan binar penuh kepercayaan akan masa depan. penuh harapan,” bisikku perih.
“Kalau begitu, jadilah begitu. Kembalikan kepercayaan itu,” bisiknya. Aku menggeleng perlahan. untuk sesaat genggamanku pada benda tajam itu mengendur.
“Maafkan aku, tapi aku lelah bermimpi, aku lelah memiliki harapan yang akhirnya hanya menjatuhkanku semakin dalam. Maafkan aku, tapi kini aku sudah kehilangan semua harap itu,” bisikku perih, lebih perih dari pada sakit yang timbul karena sayatan dalam di pergelangan tanganku.
Wajah dihadapanku membeku, matanya menatapku perih. aku tersenyum mengejek. Tertawa sinis pada sosok dalam diriku yang masih ingin bermimpi, namun maaf, seluruh kenyataan ini begitu pahit, seluruh jalan hidupku terlalu berliku. Hingga aku lelah untuk kembali bermimpi.
Karena aku tau, sekeras apapun usahaku untuk mempercayai bahwa suatu hari nanti aku akan bisa terbang, semuanya hanyalah omong kosong, sia-sia belaka. Karena semua orangpun tahu jika kucing tidak pernah bisa terbang.
Tapi ya, aku mengakui, aku memang pernah memiliki mimpi itu…





CINTA ITU


Aku berdiri menatap hujan, menyerah lelah karena tidak bisa menghitung tetesan itu. Samar-samar ku dengar petir mulai bersahut-sahutan, menemani hujan yang kian membesar. 

Aku masih terdiam, bukan enggan berbicara, namun memang tidak tau apa yang harus ku katakan. Aku mencintainya, teramat dalam. Aku mencintainya sejak pertama kali kami bertemu di perpustakaan kota hari itu. Aku mencintainya tidak peduli dengan wajah kusutnya karena hujan yang mengguyur raya. Aku mencintainya sejak pertama kali ia tersenyum. Aku mencintainya sejak itu...

Aku tidak pernah mempercayai tentang cinta sejati. Tidak pernah ada cinta yang tulus. Selalu ada maksud lain di balik semua kata semu berbunyi cinta itu. Seperti yang dilakukan orang tuaku, yang dengan jelas menikah untuk menutupi aib akibat hormon remaja mereka. 

Ironis memang, tapi ya, semua orang juga tau, aku anak diluar nikah. 

Ah tapi itu hanya sepintas masa laluku, sepintas lembaran gelap yang 'sialnya' tidak bisa ku hapuskan. 

Tapi ketika mata itu menatapku, aku tau, cinta itu memang ada. Binar matanya yang indah, senyuman bibirnya yang menawan, seketika itu juga membekukanku. Aku mencintainya. Aku tau itu. 

"Kau mau kemana?" suara itu mengagetkanku. Aku menoleh ragu-ragu. Menatap sosok imamku. "Kalau kau ingin menemuinya lagi, aku tidak akan melarangmu," bisiknya tenang, namun aku bisa merasakan kegetiran dari suaranya. "Aku hanya tidak ingin kau terluka," bisiknya lagi. Aku tertegun untuk sejenak, namun entah mengapa aku malah berlalu meninggalkannya. 

"Maafkan aku, tapi biarkan aku pergi kepadanya sekali ini saja," bisikku. 

"Ya, pergilah. Tapi ku pikir kau sudah tau kalau dia alergi kucing," bisiknya. Aku tertegun, ingatanku kembali berputar pada hari berhujan kala itu. Bagaimana indahnya senyumannya, binar matanya yang begitu bahagia... namun sayangnya bukan untukku. Karena sedetik kemudian ia mencibir ketakutan menatapku. Menunjukan rasa jijiknya. 

Namun cinta itu membutakanku, menutup naluriku, hingga tega-teganya aku berniat meninggalkan kucing manis yang menjadi pendamping hidupku. 

"Maafkan aku sayang," bisikku seraya menjilat wajahnya. "Aku hanya berselingkuh sekali itu..."