Sabtu, 06 Juli 2013

RELEASE YOU


“Kita selesai!”
dan klik. Sambungan telepon itu terputus begitu saja. Aku bahkan masih belum mencerna maksud dari perkataannya dengan benar. Otakku kosong, mataku terbuka lebar tak berkedip, keningku sedikit berkerut, bingung. Ada apa ini? Apa? Kenapa? Apa yang ia katakan? Dan masih ada beribu tanda Tanya di dalam benakku, yang tampaknya sedikit meragu untuk mendapat sebuah jawaban.
“Vey… kamu kenapa?” Tanya sahabatku yang duduk tepat di sampingku, ia mengibaskan tangannya di depan mataku. Membuatku sejenak tersadar.
“Aku harus pergi.” Ujarku linglung, kemudian beranjak dari kursiku, tak ada satu bendapun yang ku bawa, seluruh isi tasku masih berserakan di meja, bahkan buku pelajaran ku masih terbuka lebar, tapi aku seakan lupa pada semuanya, yang ku ingat hanya handphone di tanganku, bahkan aku pun melupakan sosok bu Tia yang tengah menatapku geram dari balik meja guru.
Aku berjalan dengan kepala kosong menuju perpustakaan. Satu-satunya tempat yang kosong ketika jam pelajaran sedang berlangsung. Kemudian dengan cepat menekan tombol angka-angka yang sudah ku hafas di luar kepala pada ponselku, “Dimas, ada apa?” tanyaku ketika nada dering di sebrang sana berhenti. Dimas mendesah perlahan, tampak lelah atau mungkin kesal, aku tidak terlalu menyadarinya.
“Dengar Vey, aku mau kita putus.”
“Putus?!!?” pekikku kaget, seakan baru saja mendengar kata-kata itu di sepanjang hidupku. “Kamu pasti bercanda.”
“Aku serius. Aku muak, aku lelah, aku butuh waktu untuk diriku sendiri.”
“Tapi aku sayang kamu…” bisikku perih. Dimas tertawa mencibir di sebrang sana. “Kita baru saja jadian kembali satu minggu setelah putus bulan lalu…” rengekku.
“Ya! Satu minggu, dan itu cukup meyakinkan diriku sendiri, kalau aku memang sudah nggak sayang kamu Vey. Aku muak dengan sikap kekanakan kamu yang selalu menuntut perhatian.”
“Aku minta maaf, aku janji nggak akan menuntut apapun lagi dari kamu.”
“Ah bullshit. Aku tau kamu. Kamu pasti akan selalu begitu, pengekang, manja dan super menyebalkan. Kamu pikir aku nggak punya pekerjaan lain selain mengurusi rasa manjamu itu, hah?! Aku adalah kapten basket, aku juga sibuk. Dan keberadaan kamu itu menggangguku.”
“Dimas…”
“Kita putus!” teriaknya dan klik. Lagi-lagi ia memutuskan sambungan teleponnya setelah mengucapkan kata menyakitkan itu. Tapi kali ini aku tidak lagi ternganga bingung dengan kata-katanya. Aku tau betul apa yang ia maksud, dan itu  membuat dadaku terasa begitu perih, begitu sesak. Berkali-kali aku mencoba kembali menghubungi handphonenya, namun ia sama sekali tidak menjawab. Kelima kalinya aku menghubungi telepon itu, ia mematikannya. Membuatku merasa terpuruk dan putus asa, putus harapan hingga rasanya aku lebih memilih mati dari pada menjalani rasa perih ini.
***
Hari-hari indahku yang singkat itu sudah sepenuhnya berakhir, tidak ada lagi pelangi di mataku, semuanya berubah menjadi mendung yang menyelimuti pandanganku. Aku tau ini berlebihan, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tidak bisa berhenti mencintainya begitu saja. Dia adalah kekasih pertamaku, sosok yang paling ku cintai sejak pertama kali aku mengenakan seragam putih abu-abu ini. Aku tidak terbiasa tanpanya, aku merindukan semua kisah manis kami. Aku merindukan pesan-pesan singkatnya yang terkadang tampak begitu romantis, aku merindukan suaranya ketika memanggil namaku, aku merindukan senyumannya ketika menatapku. Aku merindukannya!!
Beribu kali aku mencoba menghubunginya, namun semuanya tampak sia-sia. Terakhir kali aku menghubungi ponselnya, kakaknya lah yang mengangkat, mengatakan dengan sinis bahwa Dimas tidak lagi ingin berbicara dan berhubungan denganku.
Jangan Tanya tentang perih. karena rasanya aku sudah menghabiskan sebagian stok air mataku untuk menangisinya, mengisi doa-doaku dengan namanya, menuliskan kisah-kisah penuh air mata di buku diariku dengan sosoknya. Aku merindukannya!!!

Hari ini, tanggal 14 February, kami sudah merencanakan untuk merayakan hari valentine berdua, tapi tentu saja itu tidak akan pernah terjadi. Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun sekolahku, dan pihak sekolah selalu membuat festifal hari kasih sayang untuk memperingati hari jadinya sekolahku. Sebenarnya ku rasa itu hanya sebuah trik yang diadakan untuk memantau kegiatan siswa dan siswinya di hari valentine. Aku tidak tau, dan aku juga tidak peduli.
Festival hari kasih sayang itu dibuka untuk umum, dan tentu saja super menarik, karena selain mendirikan stand-stan bazaar, kami juga menampilkan band sekolah, dan beberapa band indi. Selalu meriah di setiap tahunnya. Sebagai siswi kelas 2 SMA aku bertugas menjaga stand bazaar makanan di bagian samping panggung.
“Vey, lihat siapa yang datang…” Risa menyikut tanganku ketika kami tengah merapihkan permen-permen lollipop beraneka warna. Aku menegakan tubuhku dan mengikuti arah pandangannya. Dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati sosok Dimas di depan meja kami. Seorang gadis berambut panjang tampak bergelayut manja di lengannya, bagai seekor monyet betina yang menggunakan terlalu banyak lipstick. Membuatku mual setengah mati.
Mataku mulai memanas ketika pandangan kami bertemu. Sebisa mungkin aku membuat air mukaku tetap datar, tetap dengan mimic seorang penjaga stand bazaar yang ramah.
“Dimas…” panggilku lirih. Gadis berambut panjang itu menaikan sebelah alisnya, kemudian melirik Dimas dengan gerutuan manjanya.
“Kamu mengenal dia sayang?” tanyanya dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Aku menatap Dimas penuh harap, berdoa agar ia segera mengangguk, dan melepaskan gelayutan gadis aneh itu, kemudian meraih tanganku, menggandengku, membawaku kesebuah tempat dimana aku bisa mengutarakan rasa rinduku padanya.
Tapi ia menggeleng, dan hatiku hancur.
“Tapi dia mengenalmu…”
“Siapa yang nggak mengenal aku? Aku kan kapten basket di sekolah kita, mungkin dia salah satu penggemar fanatikku. Sudahlah Kamu mau apa, rasa stroberi atau melon?”
Aku ternganga tidak percaya, telapak tanganku terasa perih karena terlalu keras mengepal, dadaku sesak menahan tangis. Tiba-tiba Risa menarik lenganku, mendorongku dan membalikan tubuhku. Menghadapkanku pada meja penuh dengan cupcake yang belum ditata.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya sinis.
“Aku mau yang rasa melon itu…” rengeknya manja.
“Oh, ini dua puluh ribu.” Ujar Risa dengan senyuman miringnya, aku mengernyit di belakangnya. Bukankah semua lollipop itu hanya berharga 5.000 rupiah??
“Yang benar saja, lollipop ini 20.000?” Tanya Dimas terkejut. Risa terkekeh pelan.
“Ups maaf, aku tidak tau jika seorang kapten basket tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk membeli sebuah permen lollipop. Sudahlah, anggap saja aku bersedekah. Kau, ambil saja ini. Aku sedang baik hati, kalian segera pergilah, aku tidak ingin aura negative kalian menyelimuti stand kami.”
“Kamu…” geram Dimas marah. Namun bertepatan dengan itu salah satu guru kami datang, dan menciutkan kemarahan Dimas.
“Dasar kambing.” Bisik Risa sinis, dan aku terkekeh serta menangis di saat yang sama.
***
Aku menghela nafas panjang untuk yang ketiga kalinya, mencoba menenangkan rasa gugupku. “Raveline, sudah waktunya…” ujar seorang gadis berseragam hitam dengan earphone di telinganya. Aku mengangguk dan tersenyum ramah padanya, kemudian berjalan mengikutinya ke belakang panggung.
“Vey??!” panggilan itu mendadak menghentikan langkahku, dua orang pria besar yang berjalan di kedua sisiku turut berhenti dan menoleh ke belakang. Mataku menyipit ketika menyadari siapa yang sudah memanggilku. Sosok itu sedikit membungkukan tubuhnya, tangannya memegang dadanya, dengan nafas yang tersenggal-senggal, tampak ia baru saja berlari jauh. “Vey… astaga, aku tidak bisa percaya kalau akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi.”
“Lagi?” tanyaku bingung.
“Vey, aku Dimas…” ujarnya penuh semangat.
“Kau mengenalnya?” Tanya salah satu pria di sampingku. Aku menaikan sebelah alisku, dan menggeleng.
“Raveline adalah seorang penyanyi terkenal, orang-orang sudah barang tentu mengenalnya, tapi ia belum tentu mengenal mereka. Mungkin ia hanyalah salah satu penggemar fanatiknya.” Ujar seorang gadis berkaos ungu muda yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Aku menatap terkejut kepadanya, namun ketika melihat senyuman miringnya yang khas, aku hanya bisa ikut tersenyum tipis.
“Tapi aku mantan kekasihmu 3 tahun yang lalu, bagaimana kau bisa melupakanku???! Vey, aku minta maaf… dulu aku melakukan kesalahan yang fatal dan menyia-nyiakanmu. Itu adalah kebodohanku, aku benar-benar minta maaf… tapi tidak bisakah kita kembali bersama seperti tiga tahun yang silam?” tanyanya ketika aku berbalik dan meneruskan langkahku ke panggung.
Aku tersentak kaget mendengar perkataannya, kemudian menghentikan langkahku lagi. Risa menggeleng pelan kepadaku, jelas tidak setuju dengan apa yang akan ku lakukan. Namun sebisa mungkin aku menunjukan sebuah tatapan yang meyakinkan, hingga akhirnya ia mendesah pelan dan melepaskan lenganku.
“Dengar, aku mungkin pernah sebodoh itu, dulu. Tapi saat ini, aku tidak akan pernah kembali berhubungan dengan seekor kedelai dan mengikutinya untuk jatuh ke jurang yang sama kesekian kalinya.” Tuturku sinis. Dimas tampak terkejut mendengar penuturanku. Matanya membulat, dengan mulut ternganga lebar. Apa dia benar-benar berpikir bahwa aku masih gadis yang lemah seperti 3 tahun yang lalu?? Well konyol.
“Oya, dan satu lagi. Namaku Raveline, bukan Vey.” Ujarku sebelum kembali berbalik dan meneruskan langkahku menuju panggung besar tempatku mengadakan konser tunggal untuk yang ketujuh kalinya di tahun itu.


***
Aku pernah mencintainya, begitu dalam. Hingga membuatku terbiasa terinjak-injak oleh keangkuhannya,
Tapi saat ini, ketika waktu telah menamparku, aku berhenti. Merasa lelah tersakiti.
Aku masih mencintainya, aku hanya tidak ingin lagi berhubungan dengannya, kemudian menyeretku masuk ke dalam jurang yang sama dengan keledai yang sama pula untuk kesekian kalinya.
***
I used to build you up, to watch you tear me down
I always let u in, and let you to kick me out
You used to make me laugh, but now you make me sick
Thought you were just so dope, but now you full of shit

Coz all day, and all night, I would take all your shit.
Ya all day and all night, but I’m over it.
It’s all good ya Baby, it’s alright. I’m release you tonight
It’s all cool no need to think twice.
I’M RELEASE YOU!
GOODBYE

You said you need your space, how about a 1000 miles?!
How about I change the locks, in case you change your mind.
I waited patiently for you to come around,
I used to hold it in, but now I’m freaking out!

Hey baby I know I’m good without you

Hey baby I never think about you!

MEGAN&LIZ-RELEASE YOU


PELANGI HITAM PUTIH -20-

RAIHAN


            PRANG
Mataku menyipit waspada ketika mendengar suara barang pecah itu. Dengan cepat aku menoleh kearah asal suara itu, dan mendapati ibuku berdiri di depan rak hitam yang memajang berbagai foto keluarga kami. Sebuah bingkai berwarna hitam jatuh berantakan di depan kakinya. Matanya nanar menatap foto itu, tubuhnya bergetar entah mengapa. Aku meraih foto itu dan membersihkannya dari pecahan kaca.
“Ibu…” panggilku pelan. Ibu menoleh dengan mata berkaca-kaca, membuatku kembali diliputi rasa bingung. “Ibu aku akan baik-baik saja,” ujarku menenangkan.
Ibu merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang hangat, menatap kedua mataku dengan pandangannya yang menyejukan, namun jelas penuh kecemasan. “Berjanjilah kau akan baik-baik saja.. berjanjilah Raihan. Kau putra ibu satu-satunya, harta terbesar ibu… berjanjilah.”
“Ibu…” bisikku sedikit risih. “Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Aku hanya ingin ibu menjaga diri ibu sendiri. Aku ingin ibu dan kakek lebih berhati-hati. Aku akan baik-baik saja. Aku bisa melindungi diriku sendiri, dan aku juga akan melindungi Zahra bagaimanapun caranya.”
Ibu mengangguk membuat air matanya kembali menetes. “Ibu percaya padamu.” Ujarnya penuh keyakinan, dan aku merasa sudah cukup mendapatkan amunisi untuk diriku sendiri.
“Ibu maafkan aku…”
“Kau tidak pernah melakukan kesalahan sayang. Pergilah, jemput Zahra, lindungi ia. Kau tidak perlu mencemaskan ibu dan kakek.” Ibu memelukku erat, membuat bulir-bulir semangatku kembali terisi penuh. Membuatku kembali yakin pada apa yang ku lakukan.  Sekali lagi aku membalas pelukan ibu dengan sangat erat, kemudian mengangguk santun pada sosok kakek yang berdiri di ambang pintu dengan David. Kakek menepuk pundakku perlahan, dan tersenyum ramah.
“Semuanya akan baik-baik saja kek.” Bisikku.
“Kakek tau, sampaikan salam kakek pada Zahra dan yang lainnya. Kakek akan segera menyusul.” Aku mengangguk dan berjalan melewati kakek menuju mobilku.
***
Sudah tujuh toko bunga yang kudatangi, namun aku masih belum bisa menemukan bunga tulip yang diinginkan Zahra. Aku tidak ingin menyerah, namun aku benar-benar merindukan gadis itu. Ah, dia pasti mengerti jika aku tidak membawa bunga yang diinginkannya. toh yang terpenting sekarang adalah keselamatannya. Aku mengangguk setuju ketika pelayan di toko bunga terakhir yang ku datangi menunjukan bunga lily, Zahra pasti menyukainya.

Senyumanku akan kembali terukir jelas setiap kali aku memikirkan gadis itu, memikirkan tingkah lakunya yang keras kepala namun terasa begitu manis, begitu mempesona. Gadisku, belahan jiwaku, satu-satunya sosok yang membuatku tak berkutik.
“Saya senang melihat tuan muda yang seperti ini…” ujar David tiba-tiba. Aku mengernyit, menatap matanya dari kaca spion. “Rasanya seperti kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika nona Christine masih bersama kita.” Tambahnya. Tubuhku menegang ketika mendengar nama itu. “Tapi kali ini cahaya yang terpancar lebih indah.”
Aku menatap lily-lily itu dengan pandangan nanar. Itu adalah bunga kesukaan Christine, satu-satunya bunga yang ku anggap indah. Seindah sosok lemah lembut itu. “Kurasa kita harus membeli bunga lain.” Ujarku  pelan. Namun David tidak membawaku ke toko bunga yang lain. Dan aku sama sekali tidak mengatakan apapun lagi, hanya terdiam sambil terus memandang kelopak putih sang lily.
***
Aku menghentikan langkahku ketika sampai di pintu gerbang panti. Hatiku mulai merasakan kelegaan yang luar biasa, aku bahkan hampir sesak kehabisan nafas karena merasa terlalu bahagia. Ku genggam erat-erat buket lily di tangan kiriku, senyuman itu kini benar-benar terukir dengan alasan yang pasti. Sosok itu, sosok cantik yang tengah berdiri di ambang pintu itu adalah satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan. Aku tersenyum sambil terus memandangnya, kemudian dengan perlahan bangun dari kursi rodaku. Berdiri diatas kedua kakiku.
Mata indahnya melebar ketika aku melangkah tertatih kearahnya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menangis terharu menatapku. Andai saja aku lebih kuat, mungkin kini aku sudah bisa berlari dan memeluknya, namun aku baru melakukan terapi beberapa kali, hingga otot-ototku masih terlalu keras jika harus dibawa berlari.
Tubuhku mendadak kaku ketika menangkap pandangan Zahra kearah buket lily yang ku bawa. Pada awalnya ia terlihat sedikit terkejut, kemudian tampak terguncang, lalu tertunduk sedih. Aku mulai merasa kesal kepada diriku sendiri yang tidak terus berusaha mencari bunga yang ia inginkan. Kemudian sosok cantik itu berbalik, masuk ke gedung panti tanpa berkata apapun. Aku berjalan tertatih mengikutinya memasuki ruang tamu. Zahra menghentikan langkahnya ketika aku sampai di ambang pintu, kemudian menoleh. Aku tersentak kaget ketika melihat luka di kedua matanya, tangis itu bukan lagi sebuah tangis haru, tapi tangis itu tampak lebih menyakitkan dari pada tangis yang ku lihat beberapa tahun lalu. Tangis yang mampu meluluhkan seluruh jiwaku.
Aku mengulurkan tanganku untuk meraihnya, menanyakan ada apa, dan memeluknya. Namun Zahra tidak bergerak mendekat atau menjauh. Ia tetap berdiri diam di tempatnya, memandang perih kepadaku, menyatakan kata ‘menyerah’ yang tak terdengar. Aku mengernyit tidak mengerti.
“Aldi??” panggilan itu begitu lembut. Hingga sejenak ku pikir itu hanya laga hembusan angin yang mempermainkanku. Tapi air mata gadis itu membuatku takut. Aku tidak ingin melepaskan pandanganku darinya, aku bahkan tidak ingin berkedip, khawatir ketika aku membuka mata nanti sosok cantiknya akan menghilang. “Aldi… kau kah itu??”
Zahra memalingkan wajahnya, tersenyum sarkastis kepada dirinya sendiri. “Aldi…” panggilan itu kembali menggelitikku. Dengan perlahan aku menolehkan kepalaku ke asal suara itu, dan terpaku di sana. Tersentak oleh detak jantungku yang sejenak berhenti. Aku mulai merasa kehabisan udara, otakku pening, tubuhku lemas. Namun aku tidak bisa berhenti berpikir. Dengan cepat sel-sel otakku mulai mencerna apa yang di pandang oleh kedua mataku. Menyatukan gambar-gambar masa lalu, membuka berkas-berkas kenangan yang sudah lama ku buang dalam-dalam, mengorek luka yang baru saja mengering.
“Christine… Amanda Christine??” bisikku tidak percaya, sebagian diriku mulai menertawakan kewarasanku yang masih belum bisa melupakan gadis itu, namun sebagian yang lain mulai merasakan perih yang entah dari mana datangnya.
Aku masih sangat mengingatnya, sosok lemah lembut yang menjadi satu-satunya gadis yang mampu membuatku dimabuk karena cinta. Gadis yang mampu mengubah duniaku, membuatku begitu kuat dan rapuh pada waktu yang bersamaan, gadis yang membuat diriku seperti saat ini. Namun sosok cantik itu sedikit berbeda dengan sosok Amanda Christine yang ku kenal, sosok lugu yang lemah lembut. Ia masih tampak sangat cantik, dengan tatapan lembut yang menyejukan, yang membuat siapapun luluh di hadapannya.
Gadis cantik berkerudung abu-abu itu berjalan mendekat. Ia melirik buket lily di tanganku sekilas, kemudian tersenyum tipis. Wajah cantiknya tampak begitu lelah menghadapi hidup. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajahku. Tubuhku menegang kaku ketika merasakan sentuhan tangannya yang dingin. Ini seperti mimpi. Melihat mata indahnya kembali terbuka, berbinar penuh air mata, wajah cantiknya yang lembut, senyumannya yang menawan. Ini adalah mimpiku, tapi mimpi beberapa tahun yang lalu… mimpi yang kerap ku harapkan menjadi nyata sebelum hari ini.
“Kau masih hidup…” tanyanya tidak percaya. Aku tidak mampu menjawab. Tubuhku sudah terlalu lelah untuk sekedar mengangguk. Terlebih jantungku kini sudah jatuh begitu saja, tepat ketika sosok cantik di sebrang ruang tamu itu berpaling dan berlari pergi.

***

Jumat, 05 Juli 2013

PELANGI HITAM PUTIH -19-

ZAHRA


Hujan hari itu masih begitu besar, membuatku enggan bergerak dari tempat dudukku. Aku meremas bahan di atas pangkuanku dengan erat, berusaha menahan gejolak amarah. Wanita paruh baya yang tampak tetap cantik di usianya yang tak lagi muda itu berdeham pelan. Mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan tante Luna, tapi jelas ia memiliki selera fashion yang lebih tinggi. Ia mengenakan longdress berwarna hitam yang begitu cantik, berhiaskan selendang berwarna emas, sesuai dengan bunga di kerudungnya. Kuku-kukunya terpotong rapih, kulitnya halus tak bercelah, wajahnya begitu cantik, begitu familiar dengan mataku.
“Aku harap kau mengerti dengan maksudku.” Ujarnya tenang. Namun bukan padaku, melainkan pada sosok lain di sampingku, sosok yang kini menunduk dalam, seakan-akan akan segela menciut di balik sepatunya dan menghilang. Aku melirik Amy dengan pandangan perih. “Aku tidak bisa membiarkan kalian, Arya adalah putra satu-satunya di keluarga kami. Kalau sampai dia tidak bisa mendapatkan keturunan, maka silsilah keluarga kami akan berhenti di sini.”
Aku merasa tubuhku hampir saja pingsan karena amarah itu.
“Aku tidak menyalahkanmu atas masa lalumu. Kau tau, setiap orang memiliki kesalahan. Tapi aku tidak ingin putraku terjebak dengan wanita yang bahkan tidak memiliki rahim.”
“Terjebak?” desisku tidak percaya pada apa yang ku dengar. “Mereka saling mencintai.” Bentakku keras.
“Mungkin jika kau berhubungan dengan pria lain, kau bisa saja menjadi istri kedua atau ketiganya. Namun tidak dengan putraku, dengan keluargaku. Mempersunting wanita lain ketika sudah menikah adalah sebuah aib yang besar. Aku tidak bisa membiarkan kalian menikah.”
“Saya mengerti.” Jawab Amy. Aku menggeleng keras kepadanya. Apa-apaan wanita itu?!!
“Tolong jangan terima Arya kembali, dia baru akan pulang dari makkah besok, dan aku ingin kau tidak menemuinya lagi. Mungkin kau bisa berpura-pura pergi, atau kau bisa memalsukan kematianmu.”
“Anda!!” geramku marah. Baru saja aku akan beranjak untuk menampar wanita itu, namun cengkraman Amy di tanganku menahanku sedemikian rupa. Membuatku menyerah pada kepedihan dan amarah itu.
“Saya mengerti, maaf telah membuat anda repot-repot datang dari Aceh ke tempat ini.” Bisiknya santun, dan itu membuatku muak padanya. Muak pada sikapnya yang terlalu baik!
“Baiklah, ku pikir cukup sampai di sini, assalamualaikum…” salamnya kemudian pergi begitu saja. Seorang lelaki berjas hitam langsung menghampirinya, memayunginya bagai ratu, membuatku semakin muak padanya. Namun isakan Amy di sampingku mengalihkan kebencianku. Tubuhku ambruk di bawah kakinya, menangis di pangkuannya, meneriakan kata tidak adil, entak kepada siapa.
“Aku baik-baik saja, ini bukan kali pertamanya aku di campakan oleh cinta.” Bisik Amy pelan, mencoba tegar, meski aku bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat. Aku tidak bisa menanggapi kata-katanya. Aku terlalu lelah untuk menjadi tegar. Aku terlalu lelah untuk bersikap sabar dan menerima apa yang takdir gariskan. Aku muak!
“Zahra… berjanjilah, kau tidak akan pernah menceritakan kedatangan ibunda Arya hari ini kepada siapapun.” Pintanya perih. Aku mengepalkan tanganku dengan begitu erat, hingga telapak tanganku terasa sakit karena terus tertekan oleh kuku-ku. Lalu aku menangis keras.
***
BRAK!
Aku tersentak kaget ketika melihat Arya meninju pintu kamar Amy hari itu. Anna merangkul tubuhku yang bergetar keras, memberikan ketenangan yang menghilang dari kamus kehidupanku. Raka tidak menghentikan apa yang sahabatnya lakukan, ia hanya duduk dengan mata sendu, menatap lurus pada meja ruang tamu yang mulai usang.
“Aku tidak bisa membiarkan ini!” teriak Arya. “Amy, ku mohon… buka pintunya, izinkan aku menemuimu. Maafkan aku. Aku tidak peduli kalau kau tidak bisa memberikan keturunan, aku tidak peduli. Aku tetap mencintaimu! Ku mohon…” tangisnya di depan pintu kamar sahabatku. Aku menggeleng tidak kuasa menahan pemandangan perih itu. “Amy kita bisa melewatinya bersama.” Tubuh jangkung Arya tiba-tiba saja ambruk ke lantai, terduduk bersandar dengan kedua tangan menutupi matanya. Raka mendesah dan menghampirinya, membimbingnya untuk duduk di sofa.
“Pikirkanlah dengan kepala dingin. Pasti ada jalan keluarnya.” Tutur Raka. Anna mengangguk di sampingku.
“Kalau saja… kalau saja aku yang lebih dulu bertemu dengan Amy dibandingkan pria brengsek itu. Kalau saja, aku bisa melindungi Amy sejak awal!!!” geram Arya marah. Tangannya terkepal keras, rahangnya mengeras, pandangannya menyiratkan kebencian yang teramat sangat. “Aku akan membalas siapapun yang sudah menyakiti gadis yang paling ku cintai, aku akan mengejarnya sampai ke neraka. Akan ku balaskan seluruh luka yang sudah diberikannya kepada Amy. Akan ku balaskan…”
“Arya istigfar…” bisik Anna seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepalan tangan pria berdarah Aceh itu.
“Amy tidak pantas mengalami luka ini. Aku akan membalaskannya!”
“Arya…”
“Kau tidak perlu menyalahkan siapa-siapa.” Seluruh ruangan mendadak hening ketika mendengar suara lembut Amy dari belakang punggung Arya. Wajah cantiknya terliat begitu lemah, penuh oleh air mata dan luka. “Kalaupun ada yang harus di salahkan, berarti itu adalah aku. Aku tidak ingin meneruskan rencana pernikahan ini. Bukan karena apapun, tapi pada akhirnya aku sadar, aku tidak bisa berhenti mencintainya. Aku tidak bisa mencintaimu Arya, seperti aku tidak bisa melupakan ia dari kehidupanku. Ia adalah cinta pertamaku, sosok yang untuk pertama kalinya membuatku merasa aman menjadi diriku sendiri, sosok yang rela mati untuk melindungiku, sosok yang paling ku cintai seumur hidupku…”
Aku tercekat menatapnya, Anna baru saja akan meraih tubuhnya, menawarkan pelukan lain, namun Amy bergerak mundur. Dengan perlahan ia meletakan selembar foto ke hadapan Arya yang masih tertunduk memandang meja. “Aku tidak pernah bisa berhenti mencintai Christopher Reynaldi…”

Dan aku merasakan jantungku berhenti berdetak. 

Kamis, 04 Juli 2013

PELANGI HITAM PUTIH -18-

RAIHAN


Ku pandang rembulan itu tanpa berkedip, mencoba mencari titik pusat pada keindahan itu. Berharap aku bisa meraihnya dan memberikannya pada sosok indah yang tidak pernah bisa hilang dari benakku walau sekejap. Aku menoleh pada David yang sedari tadi berdiri di belakang kursi rodaku. Wajahnya yang datar begitu pandai menyembunyikan kerutan cemas di antara kedua matanya. Namun aku sudah terlalu lama bekerja bersamanya, hingga aku bisa merasakan kecemasan itu, bukan melihatnya. Aku menoleh pada sosok lain berkaca mata yang berumur dua kali lipat dari umurku. Ia membetulkan letak kaca matanya dengan gelisah. Menggenggam erat tablet pc di dekapannya.
“Bagaimana mungkin saham kita bisa jatuh separah ini?” tanyaku datar. Pria tua yang dipanggil Beni itu kembali membetulkan posisi kaca matanya, yang bahkan tidak bergerak satu senti pun dari pangkal hidungnya, seakan memang sudah ditempel di sana, sesuai dengan wajahnya yang selalu terlihat cemas.
“Mr.Chad menarik investasinya, dan menggagalkan tender kita.” Ujar Beni gugup. Aku mulai merasa marah ketika mendengar nama itu. “Dia sepertinya tau tentang proyek pembangunan hotel di Paris itu, dan memutuskan untuk ikut terjun dalam pihak oposisi.”
Aku melirik Lucky yang berdiri dengan kedua tangan di dalam saku jeansnya, matanya menatap langit malam yang kelam, menatap rembulan, menatap kesunyian. Wajahnya yang kaku tak berekspresi terus tengadah meneliti gelapnya langit malam itu. membuatku enggan berbicara banyak.
“Kau tau apa yang dia inginkan.” Ujar Lucky tiba-tiba. Aku menggeram kesal. ia menoleh kepadaku, wajahnya tetap datar, namun aku bisa melihat kilatan amarah di matanya. “Kau tau.” Bisiknya dingin. “Dia tidak akan melepaskanmu.”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
“Jangan membahayakan dirimu sendiri!” bentak Lucky keras. Aku bisa melihat Beni tua yang malang tersentak kaget mendengar teriakannya. “Dia tidak pernah main-main.”
“Tapi aku tetap tidak bisa melakukannya.”
“Seharusnya kau memikirkan hal itu sebelum memutuskan untuk berhubungan dengan mafia bejat itu!” ujar Lucky geram kemudian berlalu pergi dari ruanganku dengan langkah kasar.
“Haruskah kita menghubungi tuan Darmawan?” Tanya David. Aku ingin mencibir pada kata-katanya, namun pada akhirnya aku hanya menggeleng tanpa memandang wajahnya. “Tuan… telepon dari Mr. Chad.” David mengulurkan ponselnya kepadaku. Aku menyipitkan mataku, sekeras mungkin mencoba menahan emosiku, kemudian meraih ponselnya.
“Christopher Reynaldi… ah… betapa sulitnya menghubungimu.”
“Apa yang kau inginkan?!”
“Kau tau apa yang ku inginkan… sesuai perjanjian awal kita.”
“Aku sudah membatalkan perjanjian itu. dan aku sudah membayar seluruhnya.”
“Kau membatalkan secara sepihak, aku bahkan belum melihat surat-surat itu. Dan kau tau, aku tidak membutuhkan uangmu.” Aku menggeram ketika mendengar suara angkuh itu. “Berikan apa yang menjadi bagianku, dan aku akan membiarkanmu hidup.”
“Jangan pernah bermimpi!”
“SStt… anak muda… sudah habis rasanya waktumu untuk bermain-main. Kalau kau tidak memberikannya, maka aku yang akan mengambilnya dengan caraku.” Ujarnya santai, namun aku bisa merasakan berjuta ancaman di balik semua kata-katanya. “Dan satu lagi, kau harus ingat bahwa aku bisa dengan mudah menghancurkanmu anak muda, bahkan menghancurkan orang-orang di sekelilingmu, menghancurkan hatimu yang kini tengah berbunga-bunga karena gadis itu…” ujarnya sarkastis. Mataku terbelalak lebar, jantungku mulai berdetak melebihi batas normal. “Ah… masa muda,” gumamnya. “Aku juga pernah melaluinya. Untuk orang sepertimu, mungkin kau membutuhkan waktu lima bulan untuk kembali pulih setelah melihat kekasihmu di tembak mati tepat di depan matamu.”
“Brengsek!”
“Tapi aku akan membuatnya lebih menyakitkan… itu keahlianku…” bisiknya penuh ancaman sebelum mematikan sambungan teleponnya. Aku merasakan tubuhku bergetar karena amarah yang memuncak, rahangku mengeras, mengeluarkan suara geraman yang tidak lagi bisa ku tahan, mataku nanar menatap guratan-guratan halus meja di hadapanku.
“Hubungi kakek!” teriakku kalut.

***

Rabu, 03 Juli 2013

PELANGI HITAM PUTIH -17-

ZAHRA 

Purnama malam itu tidak seindah biasanya, ia memang menunjukan bentuk bulatnya yang sempurna, bersinar terang tanpa awan-awan tipis yang menghalangi. Lingkaran cahaya mengelilinginya, melingkar bagai halo yang cantik. Bertemankan bintang, tentu saja, namun tetap tidak membawa kedamaian untukku, untuk kami.
Sudah tiga jam sejak kepulangannya Amy tidak juga berhenti menangis. Anna dan ummi terus mendampinginya, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa setegar itu untuk siapapun, bahkan untuk diriku sendiri. Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam benakku, namun aku tidak memiliki kesempatan untuk bertanya sedikitpun. Dan itu membuat dadaku mulai terasa sesak. Aku mulai merasa frustasi pada keadaan yang memberikanku banyak tanda Tanya ke dalam otakku, tanpa sedikitpun petunjuk untuk membantuku memecahkan tanda Tanya itu.
Ketika aku berlari dari lapangan menuju panti, aku sudah menyiapkan berjuta kata selamat untuknya dan Arya, menyiapkan diriku agar turut bahagia atas rencana indah yang mereka bawa, menjaga rasa iriku ketika akhirnya melihat undangan yang bertuliskan nama mereka berdua. Namun semuanya mendadak berubah ketika aku melihat sisa-sisa air mata kering di kedua sudut mata indah sahabatku. Tidak ada yang berubah dari sosok cantiknya, ia tetap menjadi gadis yang lemah lembut seperti yang ku kenal, hanya saja kini lebih terlihat pucat. Kedua matanya terlihat lebih sayu, dengan dua lembayung hitam di setiap sisinya, dan binar indah yang biasanya terpancar pun menghilang.
Bibi tidak mengizinkanku untuk menghubungi Arya, meski itu adalah hal yang paling ingin ku lakukan saat ini. Aku sudah hampir gila karena rasa ingin tahuku, namun semuanya nihil jika berkaitan dengan kata cinta dan pernikahan. Lihat kan, bagaimana kata itu bisa mengundang berjuta luka. Lalu mengapa orang-orang masih berharap untuk segera mendapatkan cinta itu? tidak mengertikah mereka bahwa di dunia ini tidak pernah ada cinta sejati?!
Aku mendesah pelan ketika merasakan ponselku bergetar untuk yang kesekian kalinya hari itu. telepon dari Raihan, aku tau. Aku hanya tidak tau bagaimana cara untuk menyikapi semuanya. Sebagian dari diriku mulai merasa takut kepada kata yang menyesakan dada itu, dan itu membuatku kembali meragu untuk menyentuhnya.
Getaran ponselku akhirnya berhenti. Aku memejamkan mataku perlahan, mencoba mencari celah dalam benakku untuk sekedar menenangkan jiwaku.
“Zahra…” aku menoleh ketika tiba-tiba Anna masuk ke kamarku dengan ponsel di telinganya. “Raihan ingin berbicara denganmu…” ujarnya, mengulurkan ponselnya kepadaku. Aku ingin kembali menggeleng, kembali menghindarinya, namun pandangan Anna membuatku mengulurkan tangan untuk menerima ponselnya, dengan perlahan meletakannya di telingaku. Anna tersenyum tipis kepadaku, namun senyuman itu sama sekali tidak menyentuh matanya, lalu ia berlalu dan menutup pintu kamarku dengan perlahan di belakangnya.
“Zahra!!! Astaga, ada apa denganmu?! Apa kau baik-baik saja?! Mengapa kau tidak mengangkat teleponku???!!! Aku sudah ratusan kali meneleponmu!!” teriak suara di sebrang sana dengan kecemasan yang tidak dibuat-buat. Tubuhku mendadak lemas, bahkan lidahku terasa terlalu kelu untuk sekedar mengatakan halo. “Zahra… apa kau baik-baik saja?!”
Aku ingin mengatakan ‘ya’, tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Aku terlalu lelah.
“Zahra… ku mohon bicaralah, aku sudah hampir gila karenamu. Aku tidak bisa terus begini, aku ingin mendengar suaramu, aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja, ku mohon…”
Air mataku perlahan menetes mendengar suaranya yang putus asa. Aku merindukannya, dan yang kuinginkan saat ini adalah keberadaannya. Keberadaannya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa cinta itu masih memiliki eksistensi dalam kehidupanku.
“Zahra… aku sangat merindukanmu…” isaknya pelan. “Aku akan segera kembali…”
“Tidak.” Bisikku tercekat. “Jangan kembali lagi…”
“Demi Tuhan Zahra… aku sangat lega mendengar suaramu… kau baik-baik saja kan? Aku akan segera kembali untukmu…”
“Jangan kembali.” Desisku dengan penekanan di setiap kata yang ku ucapkan. “Tidak kah kau mengerti?! Aku tidak ingin kau kembali!!” dan membuatku lemah karena cinta itu.
“Tapi aku mencintaimu…”
Tapi cinta itu tidak pernah ada di dalam kehidupanku! Cinta itu hanya akan menyesakan luka, hanya akan menyakitiku!
“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu,” bisiknya lebih pelan. “Jangan memintaku untuk melupakanmu, karena sebelum kau memintanya, aku sudah pernah mencoba melakukan itu. Aku tidak pernah ingin jatuh cinta. Karena itu hanya akan membuatku lemah. Tapi ketika bersamamu, aku merasa hidup, aku merasa kekosongan yang selama ini menghantuiku mulai menghilang. Aku merasa menemukan jiwaku lagi.” Ia terdiam sejenak, kemudian berdeham, membersihkan tenggorokannya dan kembali berbicara, “Aku sudah mencoba menghindarimu, tapi semakin aku mencoba, semakin aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, lalu pada akhirnya aku menyerah, karena aku tau… kaulah yang ku cari selama ini…”
Tidak! Ku mohon… cinta itu hanya akan membunuhku…
“Aku minta maaf…” bisiknya teramat pelan. “Tapi aku tidak bisa berhenti mencintaimu…”
“Kalau begitu cepatlah kembali,” bisikku.
“Zahra?!” panggilnya tidak percaya.
“Cepat kembali, temui aku, karena aku juga merindukanmu…” sosok di sebrang sana terdiam cukup lama, mungkin terkejut dengan apa yang baru saja ku katakan. Dan aku tidak bisa menyembunyikan senyumku dari pemikiran itu.
“Tentu!” ujarnya bersemangat. Aku tersenyum geli ketika membayangakan wajahnya yang penuh semangat, matanya yang berbinar indah, senyumannya yang mengembang lebar. Ya Tuhan bagaimana mungkin aku bisa sangat merindukannya seperti ini???
“Aku akan segera pulang. Sesegera mungkin!!! Kau tunggulah aku di sana, aku akan membawakan bunga mawar yang paling indah untukmu.”
“Aku tidak ingin bunga mawar.” Gerutuku. “Aku ingin bunga tulip ungu,”
“Zahra tapi…”
“Kau akan mendapatkannya untukku kan?” tantangku geli. Raihan mendesah pelan.
“Ya, apapun itu, akan ku dapatkan untukmu!” ujarnya kembali penuh semangat. Ah… aku sangat merindukan sosok itu. bahkan kupu-kupu di dalam perutku mulai menyiapkan tarian baru untuk menyambutnya.
“Maaf untuk hari ini,” bisikku setelah terdiam cukup lama. “Dua hari yang lalu Amy pulang…”
“Amy?”
“Ya, salah satu pengurus panti juga. Dia baru saja kembali dari Aceh, pergi bersama Arya tapi kembali sendiri.” Aku memandang rembulan yang bersinar enggan dari balik jendela kamarku. “Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi ia tidak pernah berhenti menangis. Bibi dan Anna melarangku menghubungi Arya. Pada awalnya aku pikir mereka akan kembali dengan sebuah undangan pernikahan, tapi kini semuanya terlihat tidak mungkin.”
“Apa Arya meninggalkannya?”
“Bukan Arya yang meninggalkannya, tapi cinta yang mencampakkannya.”
“Zahra-“
“Untuk sejenak keadaan Amy saat ini membuatku takut. Arya sangat mencintai Amy, begitu pula sebaliknya. Tapi pada akhirnya Amy tetap menangis seperti ini. Bagaimana mungkin kata cinta itu bisa dipercaya? Bukankah cinta pada akhirnya hanya menimbulkan luka yang akan menyesakan dada?”
“Zahra aku-“
“Itu membuatku takut.” Bisikku pelan.
“Aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau harus percaya padaku. Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi nanti, kau harus tau bahwa aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu.”
“Tidakkah kau berpikir mungkin dulu Arya juga mengatakan kata-kata yang sama seperti itu kepada Amy?”
“Zahra-“
“Sudahlah, segeralah kembali. Buktikan kata-katamu tuan angkuh.” Ujarku mencoba terdengar seriang mungkin. Raihan masih terdiam hingga di detik ke tujuh, lalu ia menghela nafas panjang.

“Aku akan segera kembali.” Ujarnya, dan setelah mengucapkan salam aku menutup ponselku, meletakannya di pangkuanku, lalu kembali meneliti rembulan. Kau lihat… dia akan kembali, dia akan kembali menemuiku… karena dia mencintaiku… karena dia benar-benar mencintaiku…

PELANGI HITAM PUTIH -16-

ZAHRA


“Kau pasti bercanda!” pekikku keras ketika mendengar penuturan salah satu sahabat baikku pada jum’at siang itu. Andhini tertunduk malu-malu, kemudian dengan perlahan menyentuh tanganku.
“Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bisa menunggumu. Kau dan Reynaldi benar-benar lambat. Kalau saja kau lebih cepat menyadari rasa cintamu padanya, mungkin aku tidak harus melakukan ini, aku tidak harus menikah mendahuluimu…”
“Ergh… aku tidak mencintai dia!” elakku geram. Namun sosok cantik di hadapanku tampak tidak peduli dengan bantahanku. Ia mengangkat bahunya tak acuh, kemudian berpaling memandang Hanna yang duduk di sampingku.
“Sebenarnya aku ingin memberitahukan ini pada kalian sejak awal, tapi aku khawatir kau akan melarangku untuk menikah!” ujarnya seraya melirikku. Mataku terbelalak menatapnya.
“Apa kau gila?! Aku tidak akan marah. Ini adalah masa-masa bahagiamu, dan tentu saja aku juga akan ikut bahagia karenanya. Kau adalah sahabatku…” tuturku lebih lembut. Risa turut tersenyum di sampingku.
“Kau benar-benar tidak marah?” Tanya Hanna dengan mata membulat.
“Apa-apaan kalian, memangnya aku siapa yang bisa melarang sahabatku sendiri untuk menikah dengan orang yang dicintainya. Aku akan sangat bahagia jika melihat kalian bahagia.” Ujarku bijaksana. Dalam hati aku terkikik geli mendengar kata-kataku sendiri, merasa kata-kata itu terlalu tua untuk kepribadianku.
“Jadi kau juga tidak akan marah padaku karena pertunanganku kan?” Tanya Hanna tiba-tiba. Keningku mengernyit, dan menatapnya penuh rasa ingin tau. Tubuh besar Hanna beranjak dari ruang tamu rumah sewaan kami, memasuki kamarnya, dan ketika keluar ia membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam. “Maaf aku sudah menyembunyikannya pada kalian.” Ujarnya seraya membuka kotak kecil itu, membuatku dan kedua sahabatku yang lain terperangah menatap cincin cantik bertahtakan mutiara berbentuk air mata itu.
“HANA!!!!!!” teriak kami bersamaan, sebelum melemparinya dengan bantal sofa.
***
Aku tidak bisa berhenti tersenyum ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, ketika kami semua berkumpul di ruang tamu rumah sewaan kami yang sempit, dan pada akhirnya mereka mengakui hal-hal itu. Sebagian dari diriku merasa sangat tersanjung atas sikap mereka yang benar-benar ingin menjaga perasaanku. Pada awal perkuliahan kami memang berjanji untuk menikah bersama, well, janji yang konyol memang, tapi kami tetap mengingat janji itu hingga hari ini. Tapi sebagian lain dari diriku juga sedikit sedih karena setelah beberapa bulan ini aku akan menjadi satu-satunya orang yang tidak akan bisa mengikuti arah perbincangan mereka jika sudah menyangkut topic pernikahan. Namun aku tetap bahagia atas kebahagiaan mereka. Ya, aku bahagia. :)
Ternyata Hana sudah menyembunyikan pertunangannya dengan sosok pengusaha asal Palembang itu sejak tiga bulan yang lalu. Jadi, tidak ada yang bisa menyalahkan kami jika marah pada gadis berbadan besar itu. Berkali kali aku menggenggam tangannya dan tersenyum bahagia padanya, membayangkan kebahagian yang dialaminya ketika akhirnya kekasih hatinya melamar untuk menikahnya. Kini ia tidak perlu lagi menyembunyikan cincin cantiknya, dan bahkan rona wajahnya pun tampak lebih indah dari biasanya. Ah… bagaimana mungkin kami bisa tidak menyadari perubahannya selama ini?!
Sentuhan Risa di pundakku membangunkanku dari lamunan sesaat tentang kedua sahabatku. Ia tersenyum padaku, kemudian berbalik menatap pantulan sosok cantik di cermin besar di hadapan kami. Aku tersenyum tipis ketika mengikuti arah pandangannya. Aku, Risa dan Hanna berdiri bersampingan di depan cermin, mengenakan kebaya berwarna coklat keemasan yang begitu anggun, sedangkan sosok cantik Andhini mengenakan kebaya putih yang luar biasa cantik.
“Aku sangat bahagia kalian mau menjadi pendampingku di hari pernikahanku nanti,” bisik Andhini penuh haru.
“Kami merasa sangat terhormat atas permintaanmu ini sayang…” ujar Risa lembut. Aku dan Hana mengangguk setuju.
“Ah! Kalian benar-benar cantik, bisakah kalian berpose sebentar, aku ingin mengabadikan momen ini. Kalian benar-benar indah…” pekik Jean, pemilik butik yang kami datangi siang itu. ia menyeka air matanya dengan perlahan, aku sampai melongo menatapnya, tidak percaya jika ia sampai menangis. “Cepat… cepat bergeserlah ke sini, di depan rak-rak gaun ini, tersenyumlah terus seperti ini, kalian tampak sangat bahagia, kalian membuatku terharu. Kalian sangat cantik… aku tidak bisa mempercayai ini…”
“Jean… kau sangat manis…” bisik Andhini tulus.
Kami mengikuti apa yang Jean katakan, dan ia mengambil beberapa gambar kami. Aku tersenyum manis ketika melihat foto itu, aku bahkan hampir tidak mengenali sosok-sosok dalam foto itu, rona bahagia mereka seakan membuat foto itu bercahaya indah. Membuatku terus ingin memandangnya.
Sekali lagi jiwaku tersenyum ketika memikirkan kata itu… pernikahan dan cinta…
***
Aku tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi pada diriku, namun entah mengapa aku benar-benar ingin segera pulang ke panti. Perjalanan pulang yang hanya memakan waktu tiga jam itu terasa seperti tiga tahun lamanya. Aku hampir saja menangis kesal ketika akhirnya terjebak macet di tengah-tengah perjalanan, aku bahkan tidak bisa duduk dengan tenang sama sekali, berkali-kali aku mengubah posisi dudukku, namun aku tetap tidak bisa merasa nyaman. Aku sudah mencoba untuk tidur, berharap ketika terbangun aku sudah berada dipanti, dan bertemu dengannya.
Astaga, apa yang sebenarnya aku pikirkan. Aku pasti sudah gila. Berhenti memikirkan hal-hal aneh! Bentak otakku kesal. Aku mengerutkan bibirku, kesal pada diriku sendiri.


Aku berlari-lari kecil ketika akhirnya sampai ke gerbang panti. Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk menyembunyikan senyuman itu, tapi aku tidak bisa. Seakan wajahku sudah di bentuk dengan bentuk bibir yang terus tersenyum lebar seperti orang idiot.
“Assalamualaikum…!” salamku riang ketika membuka pintu. Namun tidak ada siapapun di sana. Aku mengernyit dan memandang kesekeliling, benar-benar sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamar, mengganti pakaian, baru setelahnya mencari semua orang.
Kerutan di keningku semakin terukir dalam ketika menemukan selembar kertas terlipat di atas mejaku, dengan ragu aku membuka kertas itu. Entah mengapa aku mulai merasakan gugup ketika menyadari pemilik tulisan tangan itu.
Zahra,
Aku harus pergi, tapi aku akan segera kembali. Bisakah kau menyimpan rindumu untuk beberapa saat? Aku tau itu akan sangat sulit, tapi untuk kali ini kau harus menahannya. Untuk sementara waktu aku tidak akan bisa menghubungimu, aku memiliki urusan serius yang tidak bisa ku tinggalkan, ku harap kau mengerti. Tenang saja sayang, aku akan baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Percayalah padaku.

Aku mencibir sinis sambil melempar kertas itu ke atas meja. Rindu katanya?! Khawatir padanya?! Apa dia gila?!! Dia pikir siapa dia? Untuk apa aku merindukannya?! Untuk apa aku mengkhawatirkannya!! Aku bahkan tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Aku tidak peduli!!
Aku merebahkan tubuhku ke atas kasur, merasa kesal pada emosi aneh yang memenuhi relung hatiku. Wajahku mulai terasa memanas, dan aku sangat membenci hal itu! lihat kan, semua kisah itu tidak akan pernah terjalin indah!
“Pergi jauh jauh dan jangan pernah kembali!!!” Teriakku sebelum menangis dan tertidur karena kelelahan. 
Aku tidak yakin sudah berapa lama aku tertidur, namun ketika terbangun aku merasa tubuhku keram dan kaku. Wajahku kuyu dengan mata yang sembab. Dengan segera aku beranjak ke kamar mandi kemudian menunaikan shalat ashar. Ya Allah, aku bahkan lupa menemui bibi. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?!!
Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku mengulurkan tanganku ke atas meja, meraihnya. Telepon dari nomor baru. Setelah berdeham dua kali, dan memastikan bahwa tenggorokanku tak lagi serak, barulah aku menekan tombol yes.
“Zahra…” suara di sebrang sana begitu pelan, namun bisa membekukanku dalam sekejap. Detik itu juga aku merasa wajahku kembali memanas, pandanganku mulai kabur karena tertutup air mata.
“Aku pikir kau tidak akan menghubungiku.” Ujarku ketus.
Sosok di sebrang sana mendesah pelan. “Aku merindukanmu,” bisiknya tulus, suaranya yang sangat pelan membuat hatiku bertambah perih. “Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, tapi aku tidak bisa kembali sekarang.” Tambahnya. Ku genggam erat-erat ponsel di telingaku, berusaha menahan gemuruh hati yang kian tidak menentu.
“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku, berusaha sekuat mungkin memunculkan nada suara dingin.
“Ada beberapa pekerjaan yang harus ku tangani, kau tau… terkadang kita tidak bisa mempercayakan segala hal pada orang lain.” Ujarnya lelah. “Maafkan aku.”
“Untuk apa?” tanyaku seraya mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir.
“Karena telah membuatmu menangis, karena telah membuatmu merindukanku.” aku ternganga mendengar perkataannya, saat itu juga hilang sudah rasa perihku. Aku menaikan wajahku, menatap pantulan wajahku di cermin dengan angkuh.
“Kau pasti sudah gila!” desisku sinis. “Aku sama sekali tidak merindukanmu! Dan aku tidak juga menangis karena mu! Kau pergilah jauh-jauh. Jangan pernah menghubungiku lagi! Aku tidak peduli dengan apapun yang kau lakukan pria sombong!” tuturku kejam.
Raihan terkekeh pelan, dan entah bagaimana suara tawanya yang merdu mampu menggetarkan hatiku. “Tentu nona angkuh, aku juga mencintaimu!”
“Kau—“
“Aku akan menghubungimu lagi nanti, sampai jumpa.” Ujarnya sesaat sebelum terdengar suara klik, dan sambungan telepon itu terputus. Aku masih membeku untuk beberapa detik setelahnya, kemudian tersenyum dan menangis secara bersamaan. Dengan perlahan aku bisa melihat kemilau indah warna pelangi yang dibiaskan air mataku sendiri, lalu turut menari dengan sekumpulan kupu-kupu cantik di dalam perutku.
***
“Aku yakin kau akan kerasukan jin jika terus melamun seperti ini.” Aku tersentak kaget dari lamunanku, wajahku memerah karena tegurannya. Raka duduk di sebelahku dan tersenyum sambil terus memandang anak-anak panti yang tengah bermain bola di lapangan tidak jauh dari panti.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, mencoba mencerna kejadian ini, meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukanlah mimpi. Kami, aku dan Raka, duduk berdua di bawah pohon yang rindang, menikmati hari, menikmati angin, menikmati kasih. Wajah tampannya tampak begitu tenang, tidak ada kerutan sama sekali di antara kedua matanya, seakan sepoi angin itu mengusir semua asa dalam pikirannya. Tenang dan nyaman. Aku tersenyum tipis dan mengikuti arah pandangannya, menangkap bayang-bayang anak-anak panti yang tengah berlari mengejar bola dengan tawa riang mereka. Semilir angin sore itu menerbangkan ujung-ujung jilbabku, dan aku mulai merasakan ketenangan yang luar biasa. Merasakan damai yang indah.
Aku pernah mencintai sosok itu, bahkan mungkin masih sangat mencintainya. Tapi kini aku mengerti, ia memang bukan untukku. Well, aku sadar, hal tersulit dalam hidup ini adalah ketika kau harus meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau sudah merelakan orang yang kau sayangi bersama dengan kekasih pilihan hatinya, dan bukan dirimu. Aku sudah melewati fase itu, melewatinya dengan berbagai luka dan air mata. Terkadang aku masih tidak bisa menerima keadaan, aku masih tidak rela melihat Raka menggenggam jemari Anna, bukan jemariku. Lalu aku akan merasakan sakit yang luar biasa, terlebih ketika aku sadar, sebesar apapun cintaku padanya, hal itu tidak akan pernah mengubah keadaan ini. Akan selalu menjadi aku yang terluka dan tak tersentuh cinta. Lalu aku menyerah.
Lelah akan kekalahan, dan mulai berhenti bermimpi. Aku hanya berpikiran, jika jatuh cinta hanya menyisakan luka seperih ini, maka aku tidak akan pernah lagi jatuh cinta. Aku akan berdiri sendiri menghadapi hidup, dan akan membuat diriku sendiri bahagia sepenuhnya. Meski pada akhirnya aku tau, itu salah.
“Kak Zahra, kak Raka!” panggil koko, baik aku maupun Raka langsung menoleh kearahnya. “Kak Amy sudah pulang!” teriaknya lagi. Aku tersentak tidak percaya, begitu banyak kata yang ingin ku rangkai dan ku ucapkan kepadanya, begitu banyak bulir-bulir rindu yang ingin ku berikan kepadanya. Dengan cepat aku bangun, kemudian berlari menuju panti, menyambut sahabatku dan undangan pernikahannya. Lupa sudah akan semua rasa yang tertinggal di bawah pohon rindang itu.