RAIHAN
MATAKU MELEBAR KETIKA tubuh gadis di sampingku
memeluk tangan kiriku. Tapi bukan itu yang membuatku tersentak. Teriakannya
yang keras, yang memintaku untuk berhentilah yang membuatku membeku.
Aku hanya ingin melindunginya, aku ingin
menenangkannya, aku ingin menjaganya, ya, alasan klise di balik kenyataan bahwa
aku ingin memilikinya.
Namun kini, satu detik saja aku terlambat
menginjak rem, maka aku akan menghancurkan sosok yang paling ku inginkan di
dunia ini. Aku akan melukainya, atau mungkin membunuhnya.
Dengan cepat aku menginjak rem dan membanting
kemudi ke sebelah kiri, membuat mobil kami berputar sekali dengan suara decitan
ban yang akan terdengar memekakan telinga jika tidak ada suara derasnya hujan.
Namun licinnya jalanan karena hujan hari itu justru memperarah keadaan. Aku tidak
bisa mengendalikan kemudi lagi, tekanannya terlalu kuat.
Hatiku terasa begitu perih ketika merasakan
tubuh gadis di sampingku semakin menegang ketakutan, suara teriakannya menyatu
dengan hujan hingga akhirnya mobil kami berhenti setelah membuat goresan
melingkar di jalan raya yang langsung tertutup hujan itu. Kami beruntung karena
mobil yang berlalu lalang tidak lah terlalu padat, hingga tidak ada satu
mobilpun yang ikut lepas kendali dan menabrak mobil kami.
Aku menghempaskan tubuhku ke sandaran kursi,
nafasku masih memburu, mataku terbelalak menatap jalanan yang di tutupi hujan
deras, tanganku masih mencengkram kemudi dengan sangat erat, hingga buku-buku
jariku memutih.
Isakan tangis gadis di sampingku mengembalikan
sadarku. Dengan perlahan aku menoleh pada sosok yang masih bersembunyi di balik
tanganku. Cengkramannya terasa sangat kuat, membuatku yakin ia memang sangat
ketakutan. Dan kenyataan itu menggoncang jiwaku. Aku ingin melindunginya,
membuatnya bahagia. Bukan menakuti dan membuatnya menangis.
Aku ingin ia tau bahwa aku mencintainya.
“Maaf…” bisikku terbata. Gadis di sampingku
masih menangis tergugu. “Zahra… maafkan aku…” ujarku lagi. Dengan perlahan ia
mengankat wajahnya, dan melepaskan cengkramannya, duduk meringkuk di kursinya,
sambil memeluk kedua lututnya, wajahnya masih pias karena syok.
Ia menyandarkan kepalanya ke jendela, dan
memejamkan matanya dengan perlahan. Membuatku khawatir apakah dia pingsan atau
apa.
“Zahra… kau baik-baik saja?” tanyaku ketakutan.
Gadis itu kembali membuka matanya, membuatku merasa benar-benar seperti
bajingan brengsek ketika melihat pandangan matanya yang terluka-ketakutan-dan tampak
pasrah. “Aku akan membawamu pulang,” bisikku dan kembali menggenggam erat
kemudiku. Namun tanpa amarah kali ini.
***
Perjalanan yang selanjutnya terasa begitu sunyi,
dua jam perjalanan tersisa sebelum kami sampai di panti, dan sepanjang
perjalanan aku bisa melihat Zahra masih begitu syok. Ia sudah menurnkan
lututnya, kini duduk normal di sampingku. Matanya terus menatap keluar jendela,
dengan tangan yang saling bertautan di atas pangkuannya. Aku tau dia masih
ketakutan, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk menenangkannya, dan untuk
sesaat aku kembali berpikir apakah aku benar-benar pantas untuknya.
Aku tidak pernah berniat untuk jatuh cinta pada
gadis manapun lagi. Aku sudah pernah terluka dan tidak berniat untuk kembali
terjatuh. Tapi ketika pertama kali melihatnya, melihat dua mata coklatnya yang
tajam, aku tau aku sudah jatuh cinta. Begitu mudah, begitu sederhana. Aku
mencintainya meski tampak jelas dia sama sekali tidak menyukaiku. Terlebih
lagi, ketika itu dia sudah memiliki tunangan.
Tapi sosoknya sudah membuatku gila sejak pertama
kali melihatnya. Aku jatuh cinta tanpa mengetahui namanya, aku jatuh cinta
bahkan sebelum melihat mata indah itu berkedip, atau mulut manisnya berbicara.
Aku jatuh cinta dengan cara yang tidak ku mengerti. Meski selama ini aku selalu
mencibir pada kisah-kisah percintaan yang kadang ditunjukan orang-orang di
sekelilingku untuk sekedar membuatku iri dan akhirnya memutuskan untuk mencari
pendamping hidup.
Sejujurnya, bagiku wanita hanya seperti barang.
Ada yang berharga, ada juga yang seperti sampah. Namun jika kau berusaha, tidak
ada barang yang tidak bisa di beli dengan uang. Semuanya hidup demi uang bukan?
Barang antik pun akan terjual jika pembelinya berani membayar mahal. Begitu
pula dengan wanita, secantik apapun bisa kau dapatkan asalkan kau siap membayar
mahal. Dan, well… selayaknya barang, wanitapun bisa di tukar, dipinjamkan, atau
bahkan di buang ketika bosan.
Semudah itu.
Hingga aku melihat sosok cantik berkerudung
abu-abu di sampingku. Ketika itu, di tengah mendung, dengan mata sembab dan
wajah yang pucat, aku tanpa sengaja bertemu dengannya, dan jatuh cinta.
Memikirkan kata cinta itu membuat tubuhku
menegang. Atau lebih tepatnya memikirkan gadis di sampingku lah yang membuat
tubuhku kaku. Aku tidak pernah segugup ini sebelumnya. Aku adalah seorang
direktur, dan memiliki berpuluh-puluh perusahaan dalam berbagai bidang yang
tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tapi ketika berhadapan dengannya,
sekuat apapun usahaku, aku akan selalu merasa takut dan cemas. Aku takut dia
terluka, aku takut dia tidak bahagia, aku takut…
Dan kejadian beberapa saat yang lalu membuatku
berpikir, apakah aku pantas untuknya. Bagaimana jika semua ketakutan, kepedihan
dan lukanya itu disebabkan olehku. Bagaimana jika dia justru akan menangis
ketika bersamaku? Bagaimana jika…
Ah Persetan!!! Aku mencintainya, dan akan
mendapatkannya!
***
“Nak Raihan tidak masuk dulu?” Tanya wanita
paruh baya yang mereka panggil ummi. Aku tersenyum santun dan menggeleng.
Setelah mengantarkan Zahra sampai di depan pintu panti tempat tinggalnya selama
ini, aku berbalik memohon pamit. Aku
masih menatap gadis itu dari dalam mobil, seakan tersadar akan sesuatu, gadis
itu menoleh, menatap tajam tepat kearahku. Dan aku merasa tatapannya
menyiratkan kebenciannya padaku, bahkan mungkin mengharapkanku mati di
perjalanan pulang kali ini.
Aku tidak takut mati, aku tidak keberatan sama
sekali, toh jiwaku memang sudah lama mati. Namun tidak saat ini, tidak ketika
aku masih bisa melihat goresan luka di mata indahnya. Tidak sebelum ia akan
benar-benar tersenyum bahagia, dan saat itu mungkin aku bisa mati dengan
tenang. Tanpa permintaan siapapun.
Sejenak sebelum benar-benar mengeluarkan mobilku
dari halaman panti itu, aku kembali menoleh. Namun kali ini bukan untuk Zahra
atau siapapun, aku hanya ingin menoleh dan memastikan bahwa pikiranku selama
ini tidaklah benar. Mungkin mataku sedikit bermasalah hingga akhirnya malah
berhayal melihat gadis itu lagi. Gadis yang sempat ku kenal beberapa waktu yang
lalu.
***
“Ada apa?” tanyaku ketika melihat sosok jangkung
Lucky tengah berdiri membelakangiku. Ia berdiri mematung sambil menatap kemilau
lampu kota bandung dari jendela besar apartemenku.
“Aku mencarimu kemana-mana.” Ujarnya datar. Ku
hempaskan tubuhku di sofa setelah sebelumnya melemparkan kunci mobilku ke atas
meja. Memijit pangkal hidungku untuk meringankan peningku.
“Ada masalah apa?”
“Tidak ada, hanya saja kau sudah harus
menandatangani semua berkas itu.” Lucky menunjuk tumpukan berkas di atas meja
dengan tatapannya. Aku melirik kertas-kertas itu sekilas, dan sepertinya Lucky
bisa membaca kejengahanku pada kertas-kertas itu, karena ia segera menambahkan.
“Perjanjianmu dengan mr. Chad sudah harus dilakukan.” Ujarnya mengingatkan. Aku
mengangguk dan meraih berkas itu.
Aku membaca lampiran kedua dari berkas itu dan
menemukan sebuah nama yang ku kenal dengan cukup baik. Untuk sesaat aku
merasakan bayangan keraguan menyelinap dalam diriku, namun pada akhirnya aku
langsung menanda tangani berkas itu dalam diam. Lucky menatapku, seperti biasa,
ia adalah sosok yang bekerja dalam kebisuan. Satu hal yang selalu membuatku
merasa cocok dengannya. Lucky tidak pernah sekalipun berpura-pura ramah pada
siapapun, bahkan pada atasannya, yaitu aku sendiri. Ia mengatakan apa yang ia
pikirkan, melakukan apa yang ku perintahkan. Tapi dia bukan sahabatku, hingga
rasanya, sebesar apapun keinginanku untuk berbagi kisah tentang khayalanku akan
wanita itu, aku tetap tidak bisa mengatakannya, meski mungkin itu akan
membuatnya sedikit bahagia.
***
3 komentar:
ya ampun, Ayolah Zahra move on. kasian aa Raihan.
Yach.. Raihan cra pdkt Πγª Ɣªήğ lembut dong. Heheh.
@mba Nao..... susah tau move on ituuu... *malah curhat* hihihihihi
@mba Nira: klo Raihan lembut, ntar di panggilnya Alan ke 2, hehe... tapi dia lembut kok... :)
Posting Komentar