Kamis, 27 September 2012

PUTRI KELABU -07-


BAB TUJUH


Raka tersenyum sekilas padaku. Aku membalasnya dengan mengaguk. Ia memberikan sekeranjang buah-buahan.
“Dari salah satu teman kantorku, tadinya ia akan ikut kesini, tapi ia mendapat panggilan yang lain,” ujar Raka. Aku mengaguk. Ini sudah minggu kedua komanya kakek. Om dan Tante Lia sudah kembali ke Australia setelah aku mengaguk setuju pada permintaan mereka kala itu. mereka masih rutin menelepon dan datang di akhir pekan. Sedangkan aku mulai kembali berkuliah meski terasa begitu berat meninggalkan kakek yang mendapat perawatan khusus dari rumah sakit. Raka sendiri selalu menyempatkan diri menemaniku di rumah sakit sepulang kerja. Belakangan barulah aku tau bahwa ia adalah CEO (chief executive officer) di suatu perusahan di Jakarta. Jadi selama ini ia berada satu kota denganku??
Namun ini tidak bisa menjadi alasan. Karena dari kabar yang aku dengar, selama ini Raka selalu berada di Jogjakarta, dan lebih suka mengurus perusahaannya dari sana.


Raka melepaskan jasnya dan melonggarkan darinya. Ia menyisir rambutnya tembaganya dengan jemarinya. Jantungku berdetak kencang saat menyadari pemuda tampan ini adalah tunanganku –atau lebih tepatnya calon tunanganku-. Aku selalu berbicara pada kakek tentang perasaanku ketika hanya kami yang berada di kamar. Aku tidak terlalu yakin apakah kakek dapat mendengarku atau tidak, hanya saja aku benar-benar butuh seseorang untuk berbagi perasaanku.
“Kau sudah makan?” tanyanya lembut. Aku mengaguk cepat, bahkan terlalu cepat. Ia tersenyum ramah, membuat hatiku meleleh karenanya. Kini aku sadar mengapa kakek mendapat perhatian khusus dari para suster. Ya tentu saja, pesona sahabat kecilku selalu membuat setiap orang ingin bersamanya selama mungkin. “Tapi kau terlihat pucat, apa kau oke?” tubuhku tersentak saat ia meraba keningku. “Kau dingin,” ia keheranan. Aku menggerutu dalam hati. Siapa yang tidak membeku saat berada di sampingnya seperti ini?!!
Raka meraih bahuku, memaksaku berdiri berhadapan dengannya. Ia begitu harum. “Astaga kau membuatku khawatir,” ujarnya seraya memelukku erat. Aku kembali terlonjak kaget karena perlakuannya. “Aku pikir aku kehilanganmu, namun rona wajahmu, menunjukan kau masih disini,” ujarnya lega. Rona wajah??? Apa aku memerah??? Dan tunggu dulu, masih disini??? Dia pikir aku ada di mana lagi??
“A... aku... tidak bisa bernafas,” bisikku tergagap. Refleks Raka langsung melepaskan pelukannya. Dan menatapku meminta maaf.
“Maaf, sungguh...” ujarnya tulus. “Sekarang kau ikut aku, kita harus makan. Aku tidak mau mom, dan semuanya menyalahkanku tentang keadaanmu yang menyedihkan ini,” ia menatapku dramatis. Aku memutar bola mataku. “lagipula kau pikir kakek mau melihat cucu kesayangannya tampak seperti tokoh kartun Tim Borton??” tanyanya lagi. Aku menatapnya tidak percaya. Corpse bride?? Yang benar saja. Itu tidak lebih dari tulang berbalut kulit dengan bentuk-bentuk aneh.
“Aku suka ekspresi wajahmu,” ujarnya seraya terkekeh. “Terlebih rona ini,” ia menyentuh pipi kiriku. Membuatku semakin tersipu. “Tapi sekarang kita harus pergi,” ujarnya. Aku mendesah panjang dan mengucapkan beberapa kata pada kakek.
Raka menggenggam jemariku di sepanjang koridor rumah sakit. Aku bisa melihat tatapan orang-orang yang kami lewati terpaku menatap kami. Mereka sepertinya begitu teropesona pada ketampanan dan aura karismatik Raka. Dan akupun masih merasakannya. Aku masih tidak percaya jika pemuda tampan ini adalah bocah yang dulu selalu menjahiliku dan kini adalah calon tunanganku. Tuhan, kenyataan itu membuat tubuhku kembali menegang bahagia.
Raka berjalan santai melewati beberapa gadis yang jelas-jelas melongo menatapnya. Ia memang tampak seperti pangeran. Dengan penampilan khas eksekutif muda lengkap dengan setelan jas abu-abunya, meski kini ia melepas dasinya dan meninggalkannya di kamar kakek. Namun ia masih tampak begitu menawan. Ditambah lagi wajah indonya, siapapun akan berlutut di hadapannya.


“Kau mau apa?” tanya Raka ketika kami sudah sampai disebuah restoran di bilangan Jakarta pusat. Aku melirik menu.
“Aku benar-benar sudah kenyang,” bisikku. Raka mendesah. “Mungkin aku bisa memakan sedikit chees cake dengan Almond dan strawbery float,” ujarku akhirnya. Raka tersenyum. Senyum itu lagi... oh God!
Raka menyebutkan pesanannya dan kembali menatapku.
“Jadi bagaimana kuliahmu?” tanya Raka. Aku mengangkat bahu berusaha terlihat cuek. Aku belum pernah menceritakan tentang kehidupanku pada siapa pun selain kakek selama ini, dan oh ya tentu saja pada Kirana juga. Kemarin ia mengirimiku email, mengabarkan ia akan segera pulang. Aku menyambut dengan sangat gembira. Namun sepertinya aku melakukan sebuah kesalahan dengan mengabarinya aku akan segera bertunangan, tentu saja ia kaget bukan main. Aku berjanji akan menceritakan padanya sesampainya ia di Indonesia. Dan itu membuatnya mempercepat kepulangannya 2 minggu.
“Kau hobi melamun,” tegurnya lembut. Aku terkesiap dan menunduk malu. “Apa yang kau lamunkan?”
Kau! Bawah sadarku berteriak. “Tidak ada,” dustaku. Baru saja ia akan menyangkal namun pramusaji sudah datang membawa pesanan kami.  Aku menghela nafas lega karenanya.


Aku menatap Raka tidak percaya saat ia memarkirkan mobilnya di halaman butik.
“Apa?” tanyanya santai. Aku bersidekap dan menghempaskan tubuhku kekursi penumpang. “Ayo turun,” ujarnya. Aku memalingkan wajahku, enggan. Raka terkekeh pelan, kemudian melepas self beltnya. “Jangan membuatku memaksamu turun,” ancamnya, namun aku masih bisa mendengar senyum di bibirnya. Aku menahan nafasku ketika ia mendekati tubuhku dan menekan tombol disampingku. Self beltku spontan terbuka. “Ayo turun,” ujarnya. Dan entah mengapa aku langsung mengaguk. Aku bisa melihatnya kembali tersenyum.
“Hai dear....” teriak Syasya ketika melihatku memasuki pintu butik. “Akhirnya kau da...” kata-katanya terpotong oleh keterkejutannya ketika Raka berjalan masuk tepat dibelakangku. “Oh dear...” desisnya tidak percaya. Aku mengutuk diriku sendiri kali ini. Astaga, bahkan seorang Syasa bisa terpaku tidak bergerak seperti itu.
“Hai,” sapa Raka sopan. “Sepertinya kalian sudah saling mengenal,” aku tidak tau apakah itu pernyataan atau pertanyaan.
“Ya,” jawabku akhirnya. “Dia salah satu teman di kampusku,” ujarku.
“Hai, Aku Syasa...” ujarnya dalam bahasa inggris yang terlalu dibuat-buat. Aku sampai geli mendengarnya. “Kau pasti Edward, atau Demon, atau mungkin Chad...” ujarnya antusias.
“Sa, dia bisa bahasa Indonesia, dan namanya bukan seperti yang kau sebutkan itu,” meskipun dalam hati aku mengakui kemiripannya dengan tokoh-tokoh menakjubkan itu. “Dia Raka,” tambahku. Raka tersenyum dan mengaguk. Syasa melongo.
“Tapi muka kamyu benar-benar Top...”desisnya. aku bergidik melihat sahabat wariaku yang satu ini.
“Bisakah kau mencarikan setelan yang cocok untuk gadis ini?” pinta Raka sopan.
“Oh ya, tentu. Tentu saja,” ujar Syasa masih terkaget-kaget, kemudian berjalan mendahului kami ke sebuah ruangan penuh gaun cantik.
“Nama aslinya Surya,” bisikku. Raka terkekeh dan menggeleng-geleng. “Tapi kau lihat dia lebih fashionable dari pada aku,”
“Ya, sangat terlihat,” balasnya berbisik. Aku mencibir ketika menyadari maksud kata-katanya. Aku memang tidak terlalu memikirkan brand dalam berpakaian. Aku mengenakan apa yang membuatku nyaman. Ia tersenyum geli, dan itu spontan menulariku. Setelah berhari-hari berkutat dengan kekhawatiran baru kali ini aku merasa begitu relaks dan nyaman.
“Aku suka melihat ronamu ketika kau seperti ini, kau terlihat lebih cantik,” aku menggigit bibir bawahku malu setengah mati. Dia bilang lebih cantik?? Apakah sebelumnya aku cukup cantik di matanya?
“Sayang, sepertinya kau kehilangan bobot tubuhmu,” ujar Syasa. “Ayo kita lihat apa yang kita punya untuk menanggulangi penampilanmu di depan pacarmu ini,” ujarnya. Wajahku memerah. “Astaga jadi kalian benar-benar pacaran?” pekik Syasa dalam nada kecewa yang tidak dibuat-buat.
Oh God!
“Baiklah-baiklah, ayo kita mulai memperbaiki penampilanmu yang seperti zombi. Anyway, aku turut mendoakan kakekmu sayang...” ujarnya. Aku tersenyum berterima kasih. Kemudian ia mendorongku ke dalam sebuah bilik untuk mencoba beberapa pasang baju pilihannya. Raka duduk tidak jauh dari sana sambil terus menatap layar handphonenya. Aku bersumpah, beberapa saat yang lalu, aku sempat melihat wajah itu lagi. Wajah yang menampilkan berjuta ketakutan yang tak terucap.
Pilihan pertama, red sweater dengan black leggings. Belum memakainya saja aku sudah merinding. Aku memang suka menggunakan sweater, namun bukan di hari yang panas seperti ini, yang benar saja?!!
Pilihan kedua, cukup manis, Vest denim dengan rok panjang yang sewarna. Namun aku sedang tidak ingin menggunakan bahan denim hari ini. Aku ingin sesuatu yang lebih ringan dan santai. Sesuai dengan suasana hatiku. Aku tersenyum tipis ketika melihat pilihan ketiga, sebuah dotty chiffon dress berwarna nude dengan belt kecil berwarna coklat tua dipinggangnya. Setidaknya ini ringan dan terkesan santai. Aku keluar dari ruang ganti dan menatap Syasa dan Raka bergantian. Syasa mengeluh melihat pilihanku. Namun aku merasa pandangan Raka tidak pernah berpaling.
“Kau seharusnya menyadari betapa cantiknya dirimu,” bisiknya seraya berjalan mendekatiku. Nafasku tercekat. Ia membalikan tubuhku hingga menghadap cermin besar di sisi kanan butik. Aku tertegun melihat pantulan sosok tampan yang tengah berdiri di belakangku memegang bahuku dengan lembut. “Jangan pandang aku,” ujarnya geli. Aku tersipu. “Pandanglah gadis ini,” ia menyentuh daguku dengan telunjuknya. Aku mengikuti pandangannya. Entah sudah berapa lama aku tidak melihat gadis itu. ia terlihat begitu anggun di sana berdiri dengan kakinya yang indah. Tubuhnya memang terlihat kurus namun kulitnya masih sehalus dulu, lembut dengan keharuman avocado dan milk. Rambutnya hitam, panjang sepunggung, dan ikal lembut. Gadis itu memiliki mata coklat indah, meski kini ada lingkaran hitam di bawah matanya. Namun wajah pucat itu tampak bertambah indah ketika rona merah kembali menghiasi pipinya.
“Cantik,” bisik Raka di telingaku. Aku menggigit bibir bawahku. Malu. “Huss,” dia menyentuh bibirku dengan jemarinya. “Jangan merusak suasana!” tegurnya. Aku langsung cemberut menatapnya.
“Ehm...” Syasa berdehem pelan. Kembali menyadarkan kami akan dunia nyata.
“Oke yang ini,” ujar Raka. Aku menahan senyum geli. “Kau menertawakanku?!” desis Raka. Aku mengatupakan bibirku dan menggeleng. Ia terkekeh pelan melihat senyumanku kemudian merangkulku santai. Membuatku kaku karena terkejut atas sikap manisnya.



PUTRI KELABU -06-


BAB ENAM

Hari kelima kakek koma setelah kambuhnya penyakit jantung sialan itu di kamis petang. Aku mulai merasa tenang melihat beberapa alat berat mulai disingkirkan. Meski aku masih tidak bisa meninggalkan kakek terlalu lama. Aku masih selalu khawatir. Dan keberadaan Raka disini memaksaku merasakan ketakutan yang lain.

“Kimi, tante ingin bicara,” ujar Tante Lia, ketika kami hanya berdua di kamar kakek. Om Arya dan Raka sudah berangkat ke kantor sejak pagi. Aku menatap tante Lia. “Hm, kau tau, sejak kecil tante dan orang tuamu sudah bersahabat,” ujarnya lembut, ia menggenggam jemariku. “bagi tante dan om, kau sudah seperti anak kami sendiri. Kami menyayangimu seperti kami menyayangi Raka dan Vero,” aku menunduk menyembunyikan genangan dimataku. “kamu turut terluka ketika Sam dan Alya meninggal karena kecelakaan itu, sudah lama kami ingin menjagamu... melindungimu,
“tapi kau tau, kakek sangat membutuhkanmu. Kami juga tau itu. dan saat ini, bukan berarti kami ingin memisahkanmu dari kakek dan menyatakan kalau kami sudah kehilangan harapan,” tante Lia terdiam. Sepertinya kaget mendengar kata-katanya sendiri. “Maaf,” bisiknya penuh sesal aku mengangkat wajahku dan menganguk. “Kami ingin menjagamu Kimi. Dan kau harus tau bahwa selama ini kami dan orang tuamu sudah merencanakan perjodohanmu dengan Raka...”
Deg.
Aku merasakan jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. “Dan tante rasa inilah jalan terbaik untuk menjagamu, untuk membuat Alya dan Sam tenang di sana. Kakek juga sudah mengetahui hal itu,” aku tercekat menatap kakek. “Ia pernah meminta kami mengambilmu ketika orang tuamu meninggal. Namun tante tau, kau lebih membutuhkan kakek dari pada Raka, pada saat itu,” aku mendelik. Bukan hanya pada waktu itu! namun begitu pula dengan hari ini.
“Tante harap kau menerima perjodohan ini,” bisiknya mengakhiri semua perkataan lembut yang entah mengapa terasa menusuk-nusuk dadaku. Aku menatapnya perih. “Tidak... tante mohon jangan menangis,” ujarnya lembut. Ia menarik tubuhku kedalam pelukannya. Aku bisa merasakan tetesan air matanya di bahuku. “Kau tau, aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Akupun sedih ketika Alya pergi. Akupun menangis...” baru kali ini tante Lia meng-aku-kan dirinya. “Dan saat ini akupun merasakan ketakutanmu akan apa yang terjadi di hari esok, aku juga menyayanginya Kimi... sama seperti kau menyayanginya,” aku terdiam dalam pelukannya. Menangis terisak berharap setelah ini aku terbangun dan mendapatiku bermimpi selama 15 tahun.

PUTRI KELABU -05-


BAB LIMA

Om Arya berjalan tergesa sepanjang koridor, ia bahkan hampir berlari. Ia mencium pipi istrinya sekilas, menepuk pundak Raka dan memelukku erat. Aku bisa merasakan kegelisahan dan kekhawatiran dari debaran jantungnya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Om Arya entah pada Raka atau tante Lia tanpa melepaskan pelukannya.
“Sudah stabil,” bisik tante Lia. Om Arya melepaskan pelukannya dan bernafas lega. “Jaga dia, aku akan menemui dokter,” ujar om Arya. Dengan sigap Raka kembali memegang bahuku seakan aku hanya seonggok daging tak bertulang. Dan hal itu kurang lebih benar, tulangku seakan menghilangkan fungsinya sebagai penopang tubuh.


Malam itu aku tidak pernah memalingkan wajah dari sosok kakek. Aku tidak bisa menerima ketakutan seperti siang tadi. Aku tidak bisa membayangkanya lagi...
“Kau sebaiknya istirahat,” ujar tante Lia. Aku menggeleng kaku. Aku bisa mendengar suara berat om Arya yang sedang menelepon di luar kamar.
“Tidak, batalkan semuanya! Aku bilang batalkan! Aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat. Ya... ya aku tau. Aku akan mengurusnya dari sini,” aku menggigit bibir bawahku ketika om Arya berteriak kepada seseorang di teleponnya. Meski ia menggunakan bahasa inggris yang sempurna, akupun bisa memahaminya dengan baik.
“Hm... Om, Tante...” bisikku setenang mungkin ketika om Arya memasuki kamar. “Aku akan baik-baik saja di sini, kalian tidak perlu khawatir... aku akan baik-baik saja di sini sendiri...” aku menekan kata-kata terakhirku. Mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa aku memang akan baik-baik saja.
“Jangan bergurau. Kami di sini karena kemauan kami Kim, kau tenang saja, kau tidak perlu memperdulikan om mu, dia bisa mengurus semuanya dengan baik,” ujar tante Lia seraya menegur om Arya dengan tatapannya. Aku mengigit bibir bawahku, aku benar-benar merasa tidak enak pada keluarga ini, dan sekarang bahkan Raka pun turut hadir di sini.
“Hm, om minta maaf atas teriakan om tadi,” tidak!! Om tidak seharusnya minta maaf. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutku.
“Kim, kami di sini karena kami menyayangimu dan kakek. Kita adalah sebuah keluarga, kau tidak bisa memisahkan sebuah keluarga,” kini suara tante Lia yang lembut. Ia membelai rambut hitam ikalku perlahan. “Kau tidak perlu khawatir sayang...” ucapannya begitu lembut membuatku benar-benar luluh lantah. Ku harap ayah dan ibu yang kini berada di sampingku. Memelukku, menguatkanku bahwa mereka masih disini untuk menyiapkan diri akan segala hal terburuk yang akan terjadi esok hari.


Aku terbangun lagi-lagi karena suara bising ranjang dorong di koridor rumah sakit. Namun kali ini aku merasa sedikit aneh. Aku tertidur di sofa?? Siapa yang memindahkanku??
Kakek??
Aku langsung tercekat ketika menyadari sosok kakek tidak ada di jarak pandangku. Aku langsung berdiri menghampiri ranjangnya, memeriksa segala sesuatunya dengan terliti. Memastikannya masih bernafas. Barulah aku sadar akan seorang pemuda yang tengah tidur dengan posisi duduk yang biasanya aku lakukan di samping ranjang kakek.
Wajah Raka begitu tenang dan tampan. Aku tergelitik untuk menyentuhnya, memastikan apakah wajah itu sehalus dan sedingin kelihatannya. Namun aku menarik lenganku lagi ketika kerutan di dahinya perlahan muncul. Ia terlihat sedang berfikir kali ini. Kemudian wajah itu tampak begitu cemas. Membuatku takut apakah ia baik-baik saja??
“Ah!” Raka terbangun dengan satu sentakan nafas. Aku sampai mundur beberapa inci karena terkejut. Pandangan Raka begitu dingin dan menusuk. Aku terpaku diam tak bergerak. Namun sesaat kemudian semua itu mencair. Mata abu-abunya kembali nyata. Aku mulai kembali bernafas lega. “Kau oke?” bukankah aku yang seharusnya mengatakan itu? namun tanpa sadar aku mengaguk kaku. Kami berdiri berserbangan di ranjang kakek. “Aku akan membeli kopi, kau mau?” tanyanya. Lagi-lagi aku mengaguk pelan. Dan ia berlalu pergi. Aku menghela nafas lega ketika ia menghilang dari balik pintu. dan barulah aku sadar begitu mengintimidasinya aura ia hingga aku merasa begitu lega saat ia tidak ada.
Aku menggeleng perlahan. Mengusir semua perasaan memuakan yang tidak pantas aku pikirkan saat ini. Tidak! Tidak untuk hal itu lagi.


Kami duduk dalam diam menunggu pagi. Baru kali itu aku merasa tenang tanpa harus menatap wajah kakek terus menerus dan memastikan dirinya oke. Aku menatap cairan hitam di cangkir kertasku.
“Bagaimana kuliahmu,” tanyanya memecah keheningan. Aku terkesiap dan meliriknya dari balik bulu mataku.
“Baik,” jawabku terkesan gugup. Dan itu memang benar. Ia menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya ke punggung sofa.
“Aku iri padamu,” bisiknya. aku menatapnya tidak percaya. Ia memijat pangkal hidungnya sambil memejamkan mata. “Aku ingin kembali kuliah, dan menjadi dokter sepertimu,” tambahnya. “Tapi semuanya sudah terlambat, aku tidak mungkin sempat,” baru saja aku akan menjawab, kalau tidak ada alasan usia dalam meraih mimpi, ia sudah kembali berbicara. “Pasti menyenangkan bisa menyembuhkan orang,” aku tercekat. Terguncang begitu dalam. Aku tersenyum pahit seraya menatap sosok kakek yang berbaring lemah. Aku berjalan mendekatinya. Meletakan pipiku di keningnya.
“Itu sangat menyakitkan,” bisikku. “Ketika kau menyadari, ternyata kau tidak bisa menolong orang yang kau sayangi. Ketika kau sendiri begitu paham dengan masalahnya namun hanya bisa berdiri menatap semua itu berlalu,”  aku terdiam sejenak, “ketika kau sadar saat kau kehilangan harapan...” ujarku seraya mencium kening kakek yang begitu tenang. “Dan berpura-pura masih memiliki harapan itu,” kini setetes air mata membasahi pipi kakek. Aku mengusapnya dengan sayang.
“Kimi, maaf...” aku mengangkat wajahku, menatapnya.
“Untuk apa meminta maaf?” tanyaku. Aku merasa hangat bertatapan dengannya. “Aku tidak pantas menerima kata maaf dari siapapun, bahkan dari takdir sekalipun. Meski ia telah meluluh lantahkan kehidupanku. Aku tidak berhak...”
“Kimi, maafkan aku,” tanpa ku sadar, aku sudah berada di dalam pelukan Raka. Aku terkejut, namun tidak bergerak menjauh ataupun membalas pelukannya. Aku hanya merasa perih, kecewa, dan ketakutan itu dalam waktu bersamaan memudar dan bertambah.

PUTRI KELABU -04-


BAB EMPAT

Melbourne, Australia 1996
“Raka, kenalkan ini Kimi,” ujar tante Lia. Aku menatap mata biru dihadapanku dengan takut. Kalau bukan karena dorongan mama, aku mungkin tidak akan pernah membalas uluran tangan pemuda kecil berpakaian koboi di depanku.
“Hai,” katanya. Aku membalas dengan kata hai yang tidak bersuara. Tiba-tiba aku merasakan telapak tanganku basah. Lengket dan lembek dibawahnya. Aku mendelik dan mendapatinya nyengir nakal. Aku menarik telapak tanganku. Nafasku tercekat ketika melihat sosok lembek mungil ditelapak tanganku.
“MAMA!!!!” teiakku histeris ketika menyadari cicak kecil itu terus menatapku. Aku menjerit dan menangis kencang. Cicak itu terasa begitu lembek. Membuatku mual setengah mati. Dan lengket, tentu saja karena bocah pirang itu memberikan banyak lem di punggung cicak itu hingga menempel erat di telapak tanganku. Ekornya dan empat kakinya juga dilem hingga hanya berupa gumpalan bola lembek yang memuakan.
Ia tertawa keras melihatku menangis. Namun sedetik kemudian aku bisa melihat tangan om Arya menamparnya keras. “Kau...” desis om Arya marah. Mata bocah itu membulat marah. Namun tidak berani membalas. Ia melirikku sinis sebelum berlalu pergi. Tidak pernah berbalik meski ayahnya meneriakinya beribu kali.

Jakarta, masa kini...
Aku terkesiap ketika tante Lia memanggilku beberapa kali. Mengembalikanku dari lamunan menakutkan itu. sosok Raka masih berdiri di hadapanku, mengulurkan tangannya. Tubuhku langsung membeku. Melirik sedikit pada telapak tangannya, memastikannya kosong tanpa hewan-hewan melata seperti dulu. Tante Lia tersenyum tipis ketika menyadari ketakutanku.
“Tenanglah Kimi, dia sudah berubah,” ujar tante Lia. Aku tersipu malu karena tertangkap basah memikirkan masa kecil kami. Raka tersenyum sedikit, dan aku bertanya-tanya dimana ia mempelajari senyuman miring yang begitu mempesona itu. aku kembali terpaku. Namun kali ini tidak terlalu lama. Karena sedetik kemudian aku sudah menjabat tangannya. Terasa besar, hangat namun dingin secara bersamaan.
“Hai, aku harap kau baik-baik saja,” ujarnya. Suaranya begitu tegas namun lembut. Aku pikir dengan wajah luarnya sangat mustahil ia bisa sefasih itu berbahasa indonesia. Aku lupa bagaimana kerasnya tante dan om Arya meng-indonesiakan putra dan putrinya, namun tentu saja aku bisa melihat mereka hanya berhasil 30 persen. Dari penampilannya, Raka tidak memiliki potongan Indonesia, ia benar-benar Australia, dengan rambut coklat tembaga, kulit putih dan mata abu-abu. Ya, kapan mata biru itu memudar hingga menjadi abu-abu?? Apa dulu aku salah melihat warna matanya??
Aku bertanya-tanya tentang Vero. Teman mainku sekaligus penghiburku ketika kakaknya menggangguku dengan senang hati. Apakah gadis itu masih memiliki rambut pirang strowberi seperti nenek Hudgens, ibu tante Lia. Atau kini berubah warna juga seperti milik Raka?
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Raka. Aku terjaga dan menganguk cepat. Sesaat kemudian hatiku mencelos melihat darah segar mengalir dari hidung kakek.
“DOKTER!!” teriakku seraya menekan tombol darurat di samping ranjang kakek.


Aku terpaku menatap beberapa dokter dan suster berjalan mondar mandir di kamar kakek. Tante Lia memeluk pundakku, menarikku menjauh untuk memberikan akses lebih luas untuk para dokter. Tubuhku menegang ketika sebuah cawan berisi kasa jatuh. Seorang dokter menegur perawat disampingnya dengan tatapannya.
“Sebaiknya kita keluar,” ujar Raka. Tante Lia menganguk di balik bahuku. Namun aku tidak ingin beranjak. Aku ketakutan. “Mom, sebaiknya mom keluar sekarang, biar aku yang menemani Kimi,” ujar Raka. Aku hampir lupa jika tante Lia menderita phobia akut pada darah. Tante Lia ragu sesaat, menatapku, namun kemudian menyerah juga. Aku menganguk, berusaha sekuat mungkin, namun saat rangkulannya terlepas, aku baru menyadari jika kakiku sudah selembek jeli. Raka cepat-cepat mengambil tubuhku dan menopangnya. Ia mengaguk sekali pada tante Lia sebelum wanita itu pergi dengan wajah pucat.
Air mataku perlahan mengalir lega saat nafas kakek mulai terlihat teratur. Kini aku mulai menyadari betapa takutnya diriku kehilangan satu-satunya tujuan hidupku.




PUTRI KELABU -03-


BAB TIGA

Raka Aryadinata?! Batinku menjerit. Ia adalah putra sulung keluarga kecil Aryadinata. Kakak dari seorang gadis cantik 3 tahun dibawahku, Veronica Swift Aryadinata. Dia pernah menjadi sahabat sekaligus musuh terberatku ketika kecil. Kami sama-sama dibesarkan di Australia. Tinggal di st. 5th avenue, sebelum akhirnya orang tuaku membawaku kembali tinggal di Indonesia ketika nenek meninggal.
Aku sudah lupa bagaimana tampangnya. Tapi sepertinya ia masih seperti dulu, nakal dan sombong. Suka menggangguku dan Vero. Meski kabar terakhir yang ku dengar ia pun tinggal di Indonesia, aku tidak pernah mencari tau keberadaannya. Bahkan aku sudah lupa padanya hingga hari ini ibunya sendiri mengingatkannya padaku.
Perutku melilit mengingat sebentar lagi akan bertemu dengannya. Aku harap ia masih nakal, masih menjengkelkan, hingga aku memiliki berjuta alasan untuk kembali memalingkan wajah darinya. Membencinya, atau lebih tepatnya, pura-pura membencinya seperti dulu.
Telepon tante Lia berdering. “Kamar VVIP, faviliun Kenanga,” ujar tante Lia. Kemudian meletakan kembali handphonenya di tas. Aku tidak bisa menghitung berapa saat kemudian pintu dibelakangku terbuka.
aku menoleh. Menatap asing sosok jangkung di belakangku. Pemuda itupun tampak terpaku di ambang pintu dengan tangan masih menggenggam handle pintu. aku menatapnya. Ia mengenakan setelan, kemeja putih, jas dan celana hitam yang begitu halus, namun terkesan angkuh di tubuhnya. Rambutnya coklat, dengan tatapan tajam terbingkai sempurna di wajahnya yang begitu maskulin dan tampan.
Tampan?? Apakan aku baru saja memikirkan kata itu untuk menggambarkannya? Satu-satunya hal yang menyadarkanku bahwa ia adalah sahabat sekaligus musuhku adalah panggilan tante Lia setelah itu.
“Raka,” keheningan mencekam itu mencair. Raka mengalihkan pandangannya pada tante Lia. Kemudian melangkah masuk, melewatiku, membungkuk mencium pipi kiri ibunya, kembali menatapku. Aku gelagapan ketika tante lia memperkenalkan kami, -lagi-. “Kau ingat dia? Dia Kimi,

PUTRI KELABU -02-


BAB DUA

Ping!
Aku melihat layar BlackBerryku menyala. Email dari Kirana.
From    : KiranaPinky@ymail.com
To        : Valentinegrey@yahoo.com
Rachel, kau ok??
Aku dengar kakek masuk ICCU. Aku sangat khawatir akan keadaanmu dan kakek. Aku harap kalian berdua selalu baik-baik saja. Aku selalu mendoakan mu dari sini.
Maaf aku tidak bisa mendampingimu. Saat ini aku sedang melakukan test prasemesterku. Kau harus baik-baik saja disana, aku akan pulang sesegera mungkin...
Aku menyayangimu.
Kirana A.L
Tokyo University.

Aku menatap kakek yang kini sudah dipindahkan keruang rawat inap sebelum mengetik balasan untuk Kirana.
To        : KiranaPinky@ymail.com
Aku baik-baik saja,
Dan akupun menyayangimu.
Rachel Valentine,
Siloam Hospital.

Hanya itu yang mampu aku tulis. Kemudian kembali terdiam dalam pikiran-pikiran semuku. Setetes air mata mengalir begitu saja. Aku seorang mahasiswi kedokteran, namun aku sama sekali tidak bisa membantu kakek. Aku hanya bisa menangisi keadaannya yang semakin hari terasa semakin memburuk. Apa sebesar itukah kesalahanku hingga mendapatkan balasan seberat ini?
“Kau sudah bangun,” ujar tante Lia saat memasuki kamar rawat inap kakek. Ia membawa dua bungkus makanan. “Makanlah dulu,” ujarnya. Memberikan aku satu dan membuka miliknya sendiri. Aku mengerutkan kening mencari Om Arya. “Dia mengurusi beberapa pekerjaan yang kemarin kami tinggal,” ujar tante Lia seakan menjawab pertanyaan tak terucapku.
“Pulang ke Australia?” tanyaku sedikit terkejut. Tante Lia terkekh pelan. Menampilkan deretan gigi putinya.
“Tentu saja tidak, ia hanya membutuhkan waktu sebentar di Wide tower,”
Wide tower? ya tentu saja. Itu adalah kantor manajemen keluarga Aryadinata di Indonesia. Aku pernah kesana sekali ketika berumur sepuluh tahun. Gedung pencakar langit yang begitu mewah, lengkap dengan furnitur minimalisnya yang mengagumkan.
Tante Lia melirik jam tangannya. Tampaknya sedikit gelisah, atau menunggu seseorang karena sedetik kemudian ia kembali melirik pintu di belakangku. “Seharusnya ia sudah datang,” bisik tante Lia, tampak ditunjukan pada dirinya sendiri.
“Siapa?” tanyaku tidak bisa menutupi rasa penasaranku.
“Raka,” satu jawaban, dan itu mampu membuatku membeku. 

PUTRI KELABU -01-


BAB SATU


Senja kala itu begitu memikau. Aku berdiri menatap pantai yang tenang. Alunan musik khas pernikahan mengalun lembut di belakangku. Sebuah tenda kokoh berwarna perpaduan putih dan gold menambah indah suasana pernikahan outdoor senja itu. aku menggenggam buket bungaku erat-erat, berharap aku memang tidak harus memberikannya pada siapa pun, tidak akan pernah.
                                                            ***
Langkah-langkah kaki mulai terdengar ketika jam dinding menunjukan pukul 9 malam. Hujan diluar sana tidak menghentikan orang-orang berlangkah tergesa itu. beberapa dari mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun beberapa yang lain mendiskusikan banyak hal satu sama lain. Wajah kelimanya terlihat tegang.
“Dokter...” aku berdiri ketika mereka sampai didepan ruang ICCU. Seorang dokter tua berkacamata menghentikan langkahnya, menatapku penuh optimistis. Mungkin ia berharap dapat menghapus luka yang berada dimataku. Tanpa ia ketahui, semua luka ini terasa terlalu dalam dan membekas.
“Kakek akan baik-baik saja Nak...” bisiknya sebelum masuk kedalam ruangan putih itu. aku mencoba tersenyum. Namun gagal. Dia pikir aku masih seperti gadis 15 tahun yang lalu, yang langsung percaya ketika mereka mengatakan hal yang sama padaku tentang kedua orang tuaku sesaat sebelum mereka akhirnya dinyatakan tewas.
                                                            ***
Jakarta, 2009.
‘Perfect!!!” teriak seorang gadis yang begitu familiar di mataku. Ia Kirana Aghata Lubis, gadis yang kerap ku panggil Kubis ketika kesal. Kirana menatap pita cantik buatannya dengan puas. Pita itu berwarna biru laut dengan empat simpul. Aku dan Luna menepuk tangan.
‘Kau tau, aku rasa pitanya terlihat lebih indah dari pada isi kado itu sendiri,’ ujarku. Luna memelototiku. ‘Well, bukan berarti aku mengatakan kado pilihanmu itu jelek,’ ujaku, nyengir menatap sosok Luna. Ia menatapku sinis untuk beberapa saat, kemudian menyeringai. Aku bernafas lega.
‘Hm...’ Kirana berdehem pelan. Merebahkan tubuhnya disampingku, memandang langit-langit kamarnya. ‘Setelah ini kita akan lulus SMA,’ ujarnya. Aku dan Luna saling pandang. ‘Apa kita akan tetap bersahabat seperti ini. Duduk-duduk dikamarku, makan ice cream kesukaan kita, belanja bersama...’ kata-kata Kirana tergantung di antara keheningan kami.
‘Ya iyalah!’ jawabku setelah diam sebentar. Luna merebahkan tubuhnya hingga kami bertiga menatap langit-langit secara bersamaan.
‘Di masa nanti, aku mau menikah dengan seorang pengusaha kaya,’ ujar Kirana. Aku terkekeh.
‘Kurasa, bukan Cuma kau yang menginginkan hal itu,’ ujarku. ‘Ya kan, Na?’ aku melirik Luna yang masih terdiam.
‘Aku tidak terlalu menginginkan itu. bagiku, asal ia mencintaiku apa adanya, tulus, tak berbagi... itu sudah cukup,’ aku tersenyum tipis dalam diam. Kirana menghela nafas panjang.
‘Perfect,’ bisik Kirana sungguh-sungguh.

Jakarta, saat ini.
Aku terbangun oleh suara gaduh dari ranjang dorong dihadapnku. Nafasku tercekat ketika melihat seorang pasien tertidur diatasnya. Tidak... itu bukan kakek... dia wanita. Aku menyeka peluhku lega. Tersenyum tipis mengingat mimpiku barusan. Luna dan Kiran, sahabatku yang begitu manis. Andai aku bisa berbagi kembali dengan mereka. Mungkin saat ini aku masih memiliki sedikit gambaran ketenangan. Namun seiring berjalannya waktu semua jarak itu terlihat semakin luas.
Sejauh kabar yang kudapat, Kirana kini masih berada di Tokyo untuk meneruskan studinya dibidang Ekonomi. Sedangkan Luna, sudah tiga tahun aku kehilangan kontak dengannya. Ia seperti hilang ditelan bumi. Tapi aku tau dia masih hidup. Ya dia harus masih hidup, karena aku mempunyai sebuah hutang untuknya.
“Kimi,” panggil seorang wanita cantik. Aku menoleh cepat. Cukup terkejut atas panggilannya. Hanya Ayah. Ibu dan kakek yang memanggilku dengan sebutan itu. dan kalaupun ada orang lain, maka harusnya mereka adalah orang-orang terdekat ayah, ibu dan Kakek.
Aku mengenal pasangan itu sebagai om dan Tante Aryadinata. Mereka adalah sahabat mama dan ayah ketika tinggal di Australia. Aku berdiri menyambut mereka. Tante Lia langsung memelukku erat. Kemudian disusul oleh om Arya.
“Bagaimana keadaan kakek?” tanyanya. Aku melirik pintu ICCU yang masih tertutup. “Kami berusaha datang kesini secepat yang kami bisa,” ujar tante Lia dengan logat yang sedikit aneh. Aku mencoba tersenyum mengerti. “Astaga, kau pasti lelah. Kau bisa pulang, biar tante dan om yang akan menjaganya,” ujar tante Lia tulus. Aku menggeleng cepat.
“Aku akan disini sampai kakek baik-baik saja,” bisikku pahit. Om Arya menganguk dan merangkul pundakku menguatkan. “Terima kasih sudah datang,” bisikku tulus.