Sabtu, 09 Maret 2013

CAHAYA CINTA -14-





Hujan… Hujan turunlah… pinta katak itu di samping danau yang mengering.
Anna masih mengingat kisah katak dan hujan yang memilukan itu. Ia tidak terlalu yakin di usia berapa tepatnya sang ibu mengisahkan cerita katak dan hujan itu. Namun hingga saat ini ia masih bisa mengingat seluruh detailnya. Bagaimana katak itu tidak pernah berhenti berdoa akan turunnya hujan di kala kemarau panjang yang mematikan. Hingga akhirnya katak itu sakit. Ia tau dia akan mati, meski saat itu juga hujan turun membasahi raya. Namun ia tetap berdoa dan meminta hujan pada sang kuasa. Katak-katak lain mencemoohnya yang tidak pernah berhenti berdoa. Dan ketika hujan itu turun tepat di hari kepergian sang katak malang, katak-katak yang lainnya baru tersadar, jika doanya selama ini bukan diperuntukan bagi dirinya sendiri. Namun bagi saudara-saudaranya yang lain.
Anna kecil akan menangis tersedu jika mendengar kisah itu, dan mempertanyakan mengapa katak malang itu tidak hidup saja? Mengapa begini dan mengapa begitu? Namun dengan lembut ibunya akan mengatakan bahwa semua itu adalah takdir Illahi. Tidak ada yang mampu mengubahnya, tidak ada yang mampu mengubah takdir yang sudah di gariskan sang Khalik untuk makhluknya.

Isakan tangis Zahra begitu pelan dan samar, namun bisa mengeruk seluruh isi hati Anna hingga berdarah. Ia sendiri tidak tau apa yang kini ada di dalam hatinya, apa yang tengah ia rasakan. Ia mencintai Raka, sangat mencintainya, namun ia tidak pernah ingin menyakiti hati lain. Bukan hal itu yang ia inginkan. Anna sudah lama memahami semua itu, sebesar apapun cintanya pada pemuda tampan berbudi baik itu jika ia memang bukan jodoh yang ditakdirkan Allah untuknya, maka semuanya akan sia-sia belaka. Menghilang dan tenggelam.
Remasan tangan Aminah pada jemarinya kembali membangunkan Anna dari lamunan semunya. Mata tua itu berbinar penuh harap. Senyumannya mengembang, dan hati kecil Anna mulai ragu, mampukah ia menyakiti wanita yang begitu disayanginya itu. Tapi hatinya benar-benar terpilin mendengar isakan Zahra yang begitu samar, ia pernah merasakan bagaimana perihnya semua kekecewaan dan ketakutan itu, dan sejujurnya ia pun masih merasakannya hingga saat ini. Dan ia tidak ingin membiarkan wanita lain merasakannya. Meski harus ia akui, sebagian kecil dirinya merasa begitu tersanjung ketika wanita tua di hadapannya menyebutkan namanya.
Dengan perlahan namun pasti Anna menggelengkan kepalanya pada Aminah, wajahnya menyiratkan kepedihan yang teramat sangat ketika mata tua di hadapannya mendadak sayu.
“Aku bersedia.”
Ruangan yang hanya berisikan lima jantung manusia yang berdetak itu langsung hening seketika. Aisah menatap keponakannya dengan pandangan yang menyiratkan kecemasan.
“Aku bersedia jika Raka akan menikahi Anna. Aku bersedia.” Jawabnya sambil meremas roknya semakin keras, membuat kerutan-kerutan di sekeliling genggamannya semakin jelas terlihat.
“Zahra?” bisik Raka, matanya menatap tajam sosok gadis itu.
“Aku tau kalian saling mencintai. Bagaimanapun aku berusaha, aku tidak pernah bisa menjadi pengganti Anna. Aku hanya akan menjadi bayangan di antara kalian. Dan aku lelah. Aku sangat lelah. Tapi aku juga mencintaimu…” ia memandang Raka dengan wajahnya yang dipenuhi air mata luka. “Aku tidak bisa hidup tanpamu. Maafkan aku, aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Namun aku bersedia menjadi yang kedua. Aku bersedia menjadi bayangan kalian…”
Anna menatap gadis itu penuh kepedihan. Betapa kejamnya ia hingga membuat gadis secantik Zahra merasa tidak aman dengan perasaannya sendiri. Betapa jahatnya ia…
“Aku tau, aku sangat egois. Aku ingin melihat kalian bahagia, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi… maafkan aku…”
“Zahra hentikan.” Tegur Raka begitu dingin.
“Maafkan aku…” bisik Zahra sambil terus menggeleng-geleng hingg tetesan air matanya jatuh ke sembarang arah. Saat itu juga Anna langsung memeluknya, mendekapnya dengan penuh kasih.
“Tidak Zahra, kau tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah, rasa cintamu sama sekali tidak bersalah. Aku yang telah mengacaukan semuanya. Aku yang salah karena berdiri diantara kalian berdua. Aku yang telah melukaimu, jadi ku mohon terimalah maafku ini,” Anna menangis sesenggukan di balik pundak Zahra. “Dan kau tidak perlu takut lagi… aku akan pergi…” bisiknya seraya melepaskan pelukannya pada gadis itu. “Aku akan pergi jauh, entah untuk sementara atau selamanya dan aku ingin kau kembali merasa tenang. Raka sangat mencintaimu, dia akan menjagamu.” Suara Anna terdengar seperti bisikan yang begitu lirih.
“Kalian akan menjadi pasangan yang sangat menawan. Kau akan menjadi mempelai yang paling cantik, jadi lupakanlah ketakutanmu akan wanita bodoh yang tidak tahu diri ini. Aku akan pergi—“
“Tapi kau mencintai Raka.” Bisik Zahra.
Anna tersenyum manis dan menoleh pada sosok Raka yang masih membeku menatap perih kepadanya. “Dia adalah sahabat terbaikku. Dan akan selalu begitu. Mungkin sampai nanti, sampai kami akhirnya menutup mata.” Setetes air mata menghiasi pelupuknya ketika mengatakan semua itu. “Sudahlah, hapus air matamu, bersiaplah untuk menjadi pengantin tercantik. Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian.” Anna menyeka air mata yang menghiasi wajah cantik Zahra dengan jemarinya kemudian menghela nafas panjang. “Sudah waktunya aku pergi, Assalamu’alaikum ummi, ibu maafkan aku…” bisiknya ketika mencium punggung tangan wanita itu. “Selamat tinggal Raka, jaga ia baik-baik.” Tambahnya.
“Biarkan aku mengantarmu,”
“Tidak!” seluruh wajah di tempat itu langsung menoleh ke arah pintu. Seorang pria jangkung dengan jas abu-abu tampak berdiri di sana. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang teramat sangat.
“Raihan?” bisik Anna.
“Aku yang akan membawanya pulang.” Ujar Raihan dingin, kata-katanya tampak jelas ditunjukan pada Raka, namun tatapannya tidak pernah terlepas dari sosok Zahra yang kini tengah mematung menatapnya.
Anna berjalan perlahan menuju pintu. “Aku akan memanggil Aisah dulu.” Ujarnya ketika melewati sosok Raihan.
“Dia sudah di mobil.” Jawab Raihan tanpa memandangnya, suaranya terdengar begitu lirih, namun wajahnya tetap menunjukan sisi tegas dan liciknya yang jelas sangat berbahaya. Anna mengangguk, dan untuk yang terakhir kalinya ia menoleh sambil mengucapkan salam sebelum akhirnya berlalu pergi dengan Raihan yang berjalan tepat di belakangnya.
Ketika melihat sosok mungil Aisah tengah tertidur di kursi belakang, Anna hanya tersenyum tipis dan duduk di samping kursi kemudi. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa berat dan kosong, mata indahnya terus memandang jalanan yang padat dari jendela mobil Raihan.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Raihan memecah keheningan. Anna mengangguk sangat pelan, kemudian air mata itu mengalir perlahan. “Bisakah kau tetap tinggal di sini?” Anna menoleh dengan pandangan penuh Tanya pada sosok tampan di sampingnya. “Aku ingin melihatmu bahagia, tapi jika kau berada sejauh itu… akan sangat sulit rasanya untuk menjagamu.”
“Kau tidak perlu menjagaku Raihan,” bisik Anna. “Aku sudah memikirkannya matang-matang, kakek dan ibu sudah menyetujui. Kami juga sudah mempersiapkan rumah sakit untuk kak Alan.”
“Anna…”
“Aku tau ini sangat buruk, ini seperti aku tidak bisa menerima kenyataan, menerima takdir yang sudah dituliskan Tuhan untuk kita semua. Tapi aku hanya ingin memulai hidupku kembali, sudah terlalu lama aku terpuruk dalam kepedihan itu. kini aku memiliki Aisah, aku harus tegar untuknya, untuk menjaganya.”
Raihan mencengkram erat kemudinya, mata elangnya menatap jalanan tanpa berkedip. “Apa kau akan kembali?” tanyanya. Anna kembali menyandarkan kepalanya pada kursi penumpang itu, ia tidak mengangguk atau menggeleng, karena sebesar apapun keinginannya untuk kembali, ia tetap tidak akan pernah bisa melangkah lagi.
***
Zahra tersenyum malu-malu ketika mendengar pujian beberapa ibu-ibu yang datang untuk membantunya menyiapkan pesta pernikahan yang di percepat dua minggu itu. Wajah cantiknya tidak pernah berhenti tersenyum, membuat suasana panti yang ramai itu kian semarak dengan canda tawa. Sudah satu minggu ia tidak bertemu Raka dengan alasan sedang dipingit, dan sejujurnya itu benar-benar membuat hatinya resah karena merindu.
Pesta pernikahan itu akan diadakan sangat sederhana. Namun kebahagiaan Zahra adalah kebahagian yang tiada tara. Ia berdiri mematung di balik jendela, menatap halaman panti yang sudah berhiaskan tenda putih dengan warna emas di setiap pusatnya, kursi-kursi plastik yang di tutupi sarung yang senada dengan warna tendanya di buat melingkari meja bundar yang juga bertamplakkan kain putih dengan renda berwarna emas yang begitu romantis dan elegan. Pelaminannya sendiri sudah di atur sedemikian rupa hingga bisa terlihat dari berbagai sudut tenda itu. Ada taman buatan di hadapannya, lengkap dengan air mancur mini yang begitu manis, pot-pot untuk potongan bunga hidup sudah diletakan di kedua sisi pelaminan, meski masih kosong namun rasanya Zahra bisa merasakan semerbak aromanya, mawar, melati, krisan, sedap malam dan lainnya.
Meja untuk makanan pun sudah di persiapkan, semuanya bernuansa putih dan emas, begitu sederhana namun jelas istimewa. Seperti cintanya pada pemuda tampan itu. Ia kembali merasakan mual karena gugup ketika mengingat bahwa sebentar lagi ia sudah akan menjadi istri sah dari pangeran impiannya. Pemuda tampan yang sudah membuatnya menghabiskan sebagian besar stok air matanya.
“Zahra, di sini kau rupanya,”ujar Amy. “Ada telepon untukmu, aku tidak tau dari siapa. Segeralah.” Tambah gadis berkerudung hijau itu. Zahra mengerutkan keningnya, kemudian berjalan perlahan ke ruang tamu yang kini pun telah berhiaskan kain-kain putih yang mengkilap di setiap sisinya.
“Hallo, Asalamu’alaikum,”
“Batalkan pernikahan itu sekarang juga!”
Suara di sebrang sana begitu dingin penuh dengan nada ancaman yang mampu membuat tubuh Zahra merinding meski ia masih belum paham dengan apa yang didengarnya.
“Apa?” tanyanya bingung.
“Batalkan pernikahanmu!” bentak suara itu.
Zahra mendengus. Siapa dia? Apa-apaan ini? Mengapa ia harus membatalkan pernikahannya sendiri? “Siapa ini?” Tanya Zahra.
“Dengar. Batalakan semuanya, atau aku akan membuat semuanya batal dengan caraku.” Suara itu begitu kejam, penuh ancaman. Namun Zahra tidak bergeming, hati kecilnya malah memaki siapapun yang berada di sebrang telepon itu. Ia benar-benar tidak mengerti, dan sampaik kapanpun ia tidak akan membatalkan pernikahannya. Terlebih karena penelepon asing yang aneh itu.
“Aku tidak akan pernah membatalkannya!” Zahra menekankan setiap kata-katanya.
“Kau akan menyesalinya…” bisik suara itu lebih kejam. Dan teleponnya terputus begitu saja sesaat sebelum Zahra ingin menumpahkan amarahnya. Ia menghela nafas panjang sambil menatap pesawat telepon di genggamannya. Kemudian mendengus jijik sebelum berlalu pergi ke kamarnya untuk menenangkan hatinya dengan melihat kebaya cantik yang kini masih tersimpan rapih di dalam lemarinya.
***
Hingga menjelang malam Zahra masih tidak bisa berhenti tersenyum, lupa sudah kisah penelepon asing siang itu. Ia merasa begitu gugup selayaknya calon mempelai lain pada umumnya. Ia berjalan mondar-mandir ke seluruh arah, namun tidak ada satu hal pun yang benar-benar ia lakukan. Sosoknya akan menjadi resah sendiri dalam duduknya, kemudian ia akan tersenyum dan meletakan apa yang di sentuhnya begitu saja, lalu berlalu pergi. Amy terkikik pelan ketika melihat Zahra berjalan di hadapannya untuk yang kesekian kalinya. Ia menggeleng-geleng mewajarkan, karena dulu, dulu sekali… ia pun pernah merasakan hal yang sama… bahagia-gugup-tidak sabar-takut-bahagia-tidak sabar- gugup- dan gugup… meski akhirnya kisahnya tidak seindah itu. Tanpa sadar Amy membelai perutnya perlahan, kemudian memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. Sebuah kebiasaan baru yang selalu ia lakukan ketika kenangan pahit itu menghampirinya.
“Melamun lagi,” tegur Arya dari belakang. Kemeja hijaunya di gulung sampai siku dengan telapak tangan yang kotor setelah membereskan jalanan untuk tamu yang datang esok hari.
“Aku tidak melamun.” Jawab Amy sambil terus melipat tisu untuk diletakan di meja tambahan.
“Arya!” baik Arya maupun Amy langsung menoleh ke asal suara itu. Zahra tampak berdiri dengan wajah yang sedikit memerah. Kerudung birunya berkibar karena sepoi angin dari kipas yang berada tepat di sampingnya. “Aku ingin berbicara padamu sebentar.” Ujarnya sedikit kikuk dan gugup. Amy yang duduk bersama beberapa gadis kecil langsung menaikan sebelah alisnya penuh Tanya. “Tapi tidak di sini.” Bisik Zahra seraya melirik sosok Amy dari balik punggung bidang Arya.
Amy terkekeh dan melambaikan tangannya, mempersilahkan mereka pergi. “Pergilah.” Katanya sambil tersenyum.
“Kami pergi dulu Amy, mungkin gadis ini ingin menanyakan keberadaan calon suaminya untuk kesekian kalinya.” Ujar Arya santai, yang langsung mendapatkan tatapan geram dari Zahra. Amy tertawa lebar.
“Aku kan sudah bilang jangan beritahu pada siapapun!” geram Zahra.
“Sudahlah Zahra, kau tidak perlu malu karena merindukan calon mempelaimu di hari sebelum pernikahan kalian.” Ujar Amy gemas sambil menjawil hidung indah Zahra dan berlalu ke dapur dengan sekardus tisu yang sudah rapih. Meninggalkan sosok Zahra yang masih melongo – malu.
“Kurasa Amy benar.” Gumam Arya sambil menatap kepergian Amy dengan pandangan terpesona. Zahra menggeram pelan dan memutar bola matanya pada pria itu.
“Apapun yang dikatakan Amy kau akan selalu membenarkannya!” sergah Zahra jengah. Kemudian seakan beru tersadar akan sesuatu, ia langsung menatap tajam sosok yang masih terpaku menatap kepergian Amy, meskipun tentu saja gadis itu sudah menghilang di balik dapur. “Kau menyukai Amy?” tuding Zahra.
“Apa?? Aku??? Tidak mungkin!!” Arya menggerak-gerakan tangannya di depan dadanya, menegaskan penyangkalannya, matanya sedikit menyipit ketika ia mengatakan semua kata-kata sangkalannya sambil tersenyum kikuk.
“Oh,” bisik Zahra santai. “Tadinya ku pikir jika kau mencintai Amy, aku akan mengambilkan sebuah melatiku ketika acara ijab qabul besok. Kau tau mitosnya? Mereka bilang gadis yang mendapatkan melati itu akan segera menyusul menikah.” Zahra mengangkat bahunya tak acuh, kemudian memutar tubuhnya bersiap pergi.
“Benarkah?” Tanya Arya antusias dengan mata yang berbinar penuh harapan. Zahra sampai tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terpingkal di hadapan pria itu, hingga membuat beberapa orang yang berllau lalang menatap heran padanya.
“Ya Allah Arya, itu hanya mitos, aku tidak percaya. Dan apakah kau percaya?” tanyanya di sela tawanya. Arya langsung menegakan tubuhnya sambil mendesis. “Maaf… maaf…” bisiknya susah payah. “Tapi aku akan mengambilkannya untuk Amy.” Ujarnya dengan mata jahil yang begitu hidup. Meski masih kesal, namun akhirnya Arya mengangguk antusias, menepiskan rasa malunya.
“Terima kasih…”
“Eh, tapi itu tidak cukup dengan kata terima kasih. Sekarang kau harus meneleponkan Raka untukku, aku ingin mendengar suaranya.”
“Tapi kalian akan bertemu besok…” desah Arya lelah. “Mengapa kau tidak istirahat saja agar besok bisa bagung dengan keadaan segar bugar.” Tuturnya. Zahra menatapnya dengan menaikan sebelah alisnya. Menunjukan kata ‘Mau tidak?’ dengan tatapannya. Akhirnya Arya menyerah dan meraih ponsel di saku celananya.
Tepat pada saat itu seorang bapak paruh baya yang sedari sore menyiapkan keperluan-keperluan terakhir pesta pernikahannya besok, memasuki ruang tamu dengan nafas terengah.
“Raka Kecelakaan!”
***
“Raka kecelakaan.”
Deg…
Setetes air mata jatuh begitu saja, meski sang pemilik mata indah itu masih belum kembali ke bumi dari keterkejutannya. Dengan susah payah ia menelan ludahnya, menghela nafas panjang, kemudian menutup matanya, membuat air matanya semakin deras menetes.
“Astagfirullah… Inalillahi wa inailaihi rajiun…” bisiknya perih.
“Ibu baru saja mengetahuinya dari kakek, sekarang kakek sedang berada di rumah sakit. Mobil yang dikendarai Raka tertabrak truk dan masuk ke jurang pukul setengah delapan. Bagian sisi mobilnya hancur. Tapi ia masih selamat, hanya saja bagian kiri perutnya terluka, terluka parah, hingga merusak sebagian ginjal dan hatinya. Dia harus segera melakukan transplantasi Anna, atau dia tidak akan selamat…” wanita itu menangis terisak di sofa, di depan sosok cantik yang kini tampak bagaikan mayat hidup, dengan wajah yang pucat pasi, mata yang menatap kosong pada kegelapan malam dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir. Tubuhnya sudah lemas, ia sudah tidak bisa bergerak, meski hanya untuk mengedipkan kelopak matanya, hatinya terlalu sakit.
“Anna… Raka membutuhkan persetujuanmu sayang…” Luna meremas tangan menantunya dengan perlahan, Anna menoleh kaku padanya, matanya menatapkan luka yang sangat mendalam. “Ibu sudah mengikhlaskan Alan—“
“Tidak…. Tidak bu… tidak… ku mohon…” Isakan Anna langung pecah berkeping. Matanya kembali hidup dengan segala luka yang semakin dalam dan dalam. Air matanya terus menetes, kepalanya menggeleng-geleng pelan sambil terus mengatakan satu buah kata ‘tidak’ berulang kali. “Tidak bu… ku mohon… tidak kak Alan… tidak…”
“Anna tapi mungkin inilah alasan Alan bertahan sampai hari ini nak. Mungkin inilah takdir yang dituliskan Allah untuknya. Agar dia tetap berguna bagi orang-orang di sekelilingnya.”
“Astagfirullah… ibu… ku mohon… jangan lakukan itu… tidak… tidak suamiku… tidak suamiku ibu… tidak…” ujar Anna penuh ketakutan sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.
***

Selasa, 05 Maret 2013

CAHAYA CINTA -13-



Dunia akan selalu berputar, Anna meyakini hal itu. Ia sudah mempelajarinya sejak duduk di sekolah dasar dari setiap orang yang ditemuinya, bersabar dan bertawakal, niscaya Allah memberikan jalan. Bertahun-tahun lamanya ia meyakini hal itu, dan saat ini, ketika rasanya semua kisah itu terlalu perih untuk dijalaninya Anna merasakan mendapat sebuah cahaya lain di tengah keterpurukannya.
Sosok kecil itu, sosok Aisah yang tengah tidur di atas ranjang kecilnya, membuat hati Anna kembali mendesir. Ia tidak lagi sendiri, ia memang tidak tau apakah Alan akan sadar kembali atau tidak. Tapi ia tidak sendiri lagi, ada seorang gadis kecil yang berada di bawah tanggung jawabnya, gadis kecil yang begitu disayanginya.
Anna berjalan perlahan menuju ranjang Aisah yang berbalut seprai berwarna pink dengan motif bunga berwarna-warni, kemudian ia merebahkan tubuhnya sendiri di samping Aisah, mendekapnya erat-erat, menangis terisak di balik rambut hitamnya, menghujani kening gadis itu dengan air matanya.
“Sayang… kakak akan menjagamu, apapun yang terjadi.” Bisik Anna di telinga Aisah sebelum terlelap dalam kelelahannya.
***
Hujan itu turun dengan sangat deras, dengan petir yang saling bersahut-sahutan membuat malam semakin mencekam. Seorang gadis berkerudung abu-abu muda tampak berdiri sendiri di samping jendela kamarnya di lantai dua. Matanya terfokus menatap jalanan yang gelap dan basah, kedua tangannya terlipat di dadanya, tidak ada setetes air mata pun yang mengalir di wajahnya, begitu datar dan dingin. Tubuhnya yang kaku menghadap lurus pada lemarinya yang terbuka, menampakan kebaya cantik yang membisu dalam keheningan malam. Tidak ada suara lain yang terdengar kecuali suara hujan, petir dan detakan jarum jam yang menunjukan kesunyian di sekitar sosok cantik itu.
Mata indahnya sedikit menyipit ketika melihat sebuah mobil bergerak masuk ke pekarangan panti. Ia tidak mengenali mobil itu, namun sekilas ia bisa melihat sosok tampan yang duduk di balik kemudinya. Dengan kemeja krem dan rambut hitam yang berantakan, kedua tangannya mencengkram kemudi, matanya terpaku pada setir di hadapannya. Tampak begitu sibuk dengan segala pemikirannya.
Zahra mulai merasa perutnya melilit karena perasaan bahagianya. Raka kembali! Dan Raka kembali untuknya! Untuknya seorang!!
Dengan cepat Zahra berlari menuruni tangga, mencoba mengejar semua mimpi yang ada di hadapannya, mencoba meraih cintanya. Namun lagi-lagi ia terlambat, lima detik sebelum ia membuka pintu ganda gedung tua itu, mobil yang dikendarai Raka sudah melaju dengan sangat cepat. Meninggalkan Zahra yang mematung di ambang pintu dengan tatapan tidak percaya. Tangannya masih menggenggam handle pintu, kerudung abu-abunya masih berkibar karena udara malam yang di sertai hujan itu, bahkan dadanya masih terasa sesak karena berlari. Namun ia tetap saja terlambat. Atau mungkin ia memang tidak pernah memiliki kesempatan itu? Kesempatan untuk mendapatkan cinta yang mereka katakan indah itu?
***
“Bunda…”
Anna mengernyitkan keningnya ketika merasakan sentuhan lembut di pipinya. Dengan perlahan ia membuka kedua matanya, dan mendapati senyuman indah dari wajah polos di hadapannya. Anna tersenyum lembut dan mengecup kening gadis itu.
“Bolehkah aku memanggil kak Anna dengan sebutan itu?” tanyanya lugu. Anna melepaskan dekapannya sedikit agar bisa menatap kedua mata jernih milik Aisah.
“Tentu sayang, tentu saja…” bisiknya lembut penuh kasih, kemudian kembali mendekap sosok mungil di hadapannya. “Ayo kita shalat subuh, lalu nanti kita akan menjenguk ayah.” Ujar Anna dengan senyuman mengembang. Aisah tersenyum tipis dan mengangguk, betapa indahnya senyuman itu, tampak sangat berbeda dengan air mata yang mengalir ketika sosok cantik itu memejamkan matanya.
***
“Kau tidak bisa melakukan itu!”
“Melakukan apa ibu?”
“Menyakiti Zahra.”
Lalu hening cukup lama.
Raka yang tengah membereskan berkas-berkasnya di ruang tamu langsung tertegun. Ia meletakan kembali lembaran terakhir yang ia pegang ke atas meja, membiarkannya membaur dengan kertas-kertas polos lainnya. Kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa, memejamkan matanya dan memijit pangkal hidungnya. Mencoba menenangkan kerutan di antara kedua matanya.
“Ibu, aku tidak bermaksud—“
“Tapi kau sangat melukainya. Zahra mencintaimu Raka, ia sangat mencintaimu, tidakkah kau melihat itu? Tidak kah kau menyadarinya? Bagaimana mungkin kau tega melukainya. Ia sangat rentan jatuh Raka.”
“Ibu—“
“Kau harus memutuskannya Raka. Ibu sudah tau tentang kehidupan Anna. Ibu sudah tau semuanya dari Amy, dan sejujurnya ibu pun merasa kasihan kepadanya. Tapi kau sudah mengkhitbah Zahra. Kalian akan segera menikah sebulan lagi. Tidakkah kau mengerti?
“Aku—“
“Ibu tidak pernah mengharapkan kau menjadi anak yang sempurna Raka. Ibu menyayangimu dengan sepenuh hati ibu. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Hidup ini selalu memiliki pilihan, kau pun tentu mengerti hal itu. Dan terkadang pilihan yang diberikan tidaklah selalu sesuai dengan hati kita. Tapi itu jalannya Raka. Tidak selalu ada cahaya di hadapanmu, terkadang kau harus berusaha terbangun dari mimpi indahmu, meninggalkan seluruh imajinasi semumu, dan akhirnya menemukan cahaya indah yang sebenarnya.”
“Aku mengerti ibu,” ujar Raka pelan, wajahnya masih tertunduk menatap huruf-huruf yang tertulis di lembaran putih di hadapannya.
***
            Aisah mencium punggung tangan pria yang masih terbujur lemah itu dengan perlahan. Ia tidak mengenalnya, belum, namun hatinya terasa begitu pedih ketika melihat tatapan sendu Anna yang kini duduk di samping ranjangnya.
“Assalamua’alaikum papa…” bisiknya pelan. Segores senyuman manis terukir di wajahnya yang mungil. Luna yang berdiri di belakang Anna tampak terhanyut oleh pemandangan itu. Kini ia baru menyadari betapa semunya kehidupan mereka di rumah itu, betapa kelamnya. Dan kehadiran sosok mungil Aisah seakan menjadi lentera untuk mereka semua.
Anna tersenyum tipis pada putri kecilnya, mata indahnya tampak basah oleh air mata haru, dengan perlahan ia melirik sosok mertuanya yang juga turut tersenyum menatap sosok Aisah.
“Ayah, hari ini Aisah dan bunda memetik beberapa bunga mawar. Ayah pasti suka, warnanya putih dan pink. Aisah tidak pernah memetik bunga itu sebelumnya, di panti semua bunga dibiarkan melayu sendiri di pohonnya. Tapi di sini begitu banyak bunga yang indah. Aisah juga suka bunga yang berwarna ungu dari kebun nenek, semuanya harum.” Tutur Aisah sambil terus tersenyum. Air mata Luna perlahan menetes ketika mendengar kisah dari mulut mungil gadis itu. Direngkuhnya wajah Aisah secara tiba-tiba, membuat gadis kecil itu langsung menghentikan ceritanya dan menatap Luna penuh Tanya.
“Apa Aisah tidak boleh memetik bunga itu nek?” tanyanya takut.
“Tidak sayang. Kau boleh memetiknya sesukamu. Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan. Semua itu milikmu.” Ujarnya dengan senyuman dan air mata di saat yang sama. Wajah mungil Aisah kembali tersenyum, hilang sudah kerutan ketakutan yang sempat terukir di wajahnya.
“Kalau begitu Aisah akan memetikan beberapa bunga lagi untuk ayah.” Katanya riang sambil turun dari ranjang Alan. Tangan kecilnya merapihkan gamis putih yang sedikit kusut di bagian pahanya.
“Boleh eyang ikut denganmu?” Tanya Darmawan yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar putranya. “Eyang bisa membantumu membersihkan duri-duri mawarnya, kalau tidak keberatan.” Tambah Darmawan sedikit kikuk. Anna menatap sedih lelaki tua itu. baru kali ini ia melihat sosoknya yang tegas tampak lebih hidup. Mata tuanya tampak berbinar indah.
“Hm, sebenarnya Aisah tidak ingin memetik mawar,” ujar Aisah sambil mengangkat bahu kecilnya. “Aisah ingin memetik bunga lily,” tambahnya membuat sosok tua Darmawan tersenyum tipis dan mengangguk. “Tapi kalau eyang mau, eyang bisa membantu Aisah membawanya.” Ujar Aisah dengan senyuman yang mampu membius siapapun yang melihatnya untuk turut tersenyum.
“Eyang mau.” Ujar Darmawan cepat.
“Kalau begitu ayo! Siang nanti Aisah masih memiliki banyak janji,” ia meraih jemari tua Darmawan dengan penuh sayang.
“Janji?” Tanya Darmawan geli.
“Iya, Aisah akan menemui Anisa dip anti. Iya kan bun?” wajah kecilnya kembali menoleh pada Anna yang langsung menangguk sambil tersenyum.
“Iya sayang…” jawabnya lembut.
Kemudian dengan senyum yang masih mengembang Aisah menarik tangan tua Darmawan keluar kamar yang bernuansa biru itu. Ia berjalan satu langkah di hadapan Darmawan, sebisa mungkin menyembunyikan air mata yang perlahan menetes dari mata indahnya.
***
“Aisah!!!” teriak Anisa ketika melihat sosok gadis kecil bergamis putih itu berlari-lari kecil di pekarangan panti. Hari itu adalah hari jum’at, waktunya seluruh sahabat panti libur sekolah dan melakukan kerja bakti bersama untuk membersihkan panti. Ummi Aisah yang tengah menyapu halaman dengan beberapa gadis lain langsung menoleh dan tersenyum pada Anna yang berjalan di belakang sosok mungil Aisah.
“Assalamua’alaikum Ummi, mana Amy dan Arya?” Tanya Anna sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling panti.
“Walaikum salam Anna. Arya sedang mengantarkan Amy ke kampus. Ada yang harus diselesaikan lagi.” Jawab ummi seraya meletakan sapunya di samping pohon belimbing yang cukup besar. “Bagaimana kabar suamimu?”
Anna tersenyum tipis kemudian menatap sosok Aisah yang tampak tengah berbincang seru dengan sahabatnya. “Apa Anisa benar-benar tidak bisa pergi dari sini Ummi?” tanyanya pelan.
“Ibunya berjanji akan kembali mengambil Anisa di usianya yang ke sepuluh.” Jawab Ummi seraya turut menatap kedua gadis itu. Anna menghela nafas perlahan dan mengangguk.
“Kak Alan masih baik-baik saja Ummi, tapi saat ini aku tidak lagi memikirkan tentang hal itu. Bukan berarti aku tidak lagi memikirkan suamiku, bukan seperti itu. Hanya saja, sekarang aku memiliki Aisah yang harus ku jaga baik-baik. Aku berencana membawanya pergi ke Kairo. Aku ingin meneruskan studiku, dan aku tidak ingin meninggalkannya sendiri.”
Ummi tersenyum tipis penuh pengertian. “Ummi mengerti Anna.” Bisiknya begitu lembut dan keibuan.
“Tapi mungkin Aisah akan sangat sedih jika harus berpisah dengan sahabatnya.” Pandangan Anna kembali menerawang jauh.
“Anna…”
Anna menolehkan kepalanya ketika mendengar panggilan itu. Matanya menyipit dengan pandangan tidak percaya. Namun dengan perlahan senyumannya mulai mengembang. “Ibu…” bisiknya pelan seraya berlari memeluk sosok tua Aminah yang datang bersama putranya.
Aminah mencium puncak kepala gadis itu berkali-kali, memeluk erat tubuhnya dan menangis di balik pundaknya, membuat sepasang mata lain tampak basah penuh air mata kecewa.


Anna duduk di samping Aminah, dengan kedua tangan wanita tua itu terus menggenggam tangannya. Mereka tidak lagi berkata-kata, hanya saling memandang, menumpahkan seluruh kerinduannya selama ini. Raka duduk tidak jauh dari tempat duduk Anna dengan ibunya. Berkali-kali ia memalingkan wajahnya dengan perih, merasa hatinya mulai kembali luluh melihat pemandangan itu. Di hadapannya, sosok Zahra tampak tegang dengan mata yang sedikit sembab.
“Maaf, mungkin sebaiknya aku pergi.” Ujar Anna.
“Tidak sayang, tidak. Kau tidak harus pergi. Ini juga tentangmu.” Ujar Aminah. Baik Raka, Zahra maupun Anna sendiri langsung menatapnya penuh Tanya. Ummi yang sedari tadi hanya terdiam ikut menghela nafas panjang.
“Ibu…” tegur Raka pelan.
“Raka, ibu sudah memutuskan. Kalau nak Zahra tidak keberatan ibu ingin Raka menikahi Anna juga.” Ujarnya.
Deg…
Mata indah Zahra langsung terbelalak. Kedua tangannya jatuh begitu saja di sisi tubuhnya, mulutnya ternyanga lebar dengan pandangan yang menyiratkan ketidak percayaannya.
“Ibu!” Raka menatap ibunya tak berkedip.
“Maafkan ibu,” bisiknya pada putranya sambil meremas jemari Anna yang membeku di sampingnya.
Dengan perlahan Zahra menyandarkan punggungnya yang tegang ke sandaran sofa. Ia memalingkan wajahnya ketika tetesan air mata itu mengalir di pipinya. Hatinya hancur berkeping, penuh kekecewaan dan luka. Ia menggeleng-geleng perlahan sambil meremas rok panjangnya. Ia sudah memperkirakan kemungkinan ini akan terjadi, ia hanya kurang menyiapkan dirinya sendiri ketika akhirnya jatuh terhantam pada kepahitan itu.

Aku tau…. Aku tau akan seperti ini jadinya, aku hanya merasa belum bisa menahan sakitnya.
Ya Allah… mereka bilang kau penguasa segala hati di dunia ini, ku mohon, ku mohon… butakan lah hatiku untuk kali ini saja, karena rasanya aku sudah tidak bisa menahan luka itu. ku mohon…

Senin, 04 Maret 2013

LOVE RAIN part 2



10 tahun kemudian.
Hari itu hujan turun dengan begitu derasnya, menemani petir yang seakan ingin berlomba menunjukan suaranya yang paling memekakan telinga.
Aku berdiri sendiri memangdang hujan dari balik jendela kamarku yang usang. Jemariku menggenggam erat pegangan kursi yang ku duduki. Mata rabunku menatap tetesan hujan itu dengan hati perih.
“Hujan lagi,” bisik suara di belakangku. Aku tersenyum, namun tidak menoleh. Bahkan ketika ia duduk di sampingku, dan menarik tubuh tuaku ke dalam pelukannya aku hanya bisa tersenyum tipis. Mencoba menyesapi aroma tubuhnya yang membaur dengan aroma hujan. “Aku masih ingat ketika hujan kala itu, ketika aku hampir saja menyerah dan kehilanganmu,” bisiknya di telingaku. Aku tersenyum tipis dan terus menatap hujan. “Itu adalah hari yang paling buruk dalam hidupku.”
“Tapi aku sangat menyukai hujan,” bisikku di dadanya. Aku bisa melihat segores senyumannya dari balik bulu mataku. “Karena hujan mengingatkanku padamu. Pada hari pertama kedatanganmu, pada kala pertama aku melihat sosokmu mendengus di depan ruang kepala sekolah, pada luka yang juga kau berikan ketika akhirnya kau pergi untuk mengambil beasiswa itu.”
“Maafkan aku…” bisiknya tulus. Aku menggeleng di dalam dekapannya.
“Tapi toh akhirnya aku bersyukur, karena hujan jugalah aku mengalami kecelakaan itu dan membawamu kembali kepadaku.”
“Jangan berkata bodoh. Tidak ada hal baik dari kejadian yang hampir menewaskanmu itu!” ujarnya sungguh-sungguh. Aku terkikik pelan di dadanya.
“Tapi jika bukan karena itu, kau tidak akan mengakui betapa kau mencintaiku.”
“Aku mencintaimu,”
“Aku tau.”
“Aku tidak membutuhkan kejadian itu lagi untuk meyakinkan diriku betapa takutnya aku kehilanganmu.”
“Aku tau.” Balasku sambil tersenyum. Sosok itu mendekapku semakin erat.
“Ayo tidur.” Ajaknya, dan aku berjalan mengikutinya menuju ranjang yang sudah kami tempati bersama selama sepuluh tahun lamanya. Seperti biasa ia akan mendekapku dalam tidurnya, mencium keningku sepanjan malam, menghangatkanku dengan pelukannya.
“Aku mencintaimu.” Bisikku pelan. Ia tersenyum dan mengangguk dengan mata terpejam.
“Aku tau, sekarang ayo tidur.” Ujarnya.
“Aku senang kau tau, tapi kau tetap tidak akan pernah menyadari seberapa besarnya cinta itu.”
“Elena…” bisiknya menegur. “Aku tau, karena akupun memiliki rasa yang sama besarnya denganmu,” tuturnya sambil menatap kedua mataku dalam-dalam. Aku tersenyum tipis dan mengecup bibirnya perlahan.
“Terima kasih.” Bisikku kemudian membenamkan wajahku di dadanya, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang menenangkan.
Sudah sepuluh tahun lamanya sejak kejadian di rumah sakit senja berhujan kala itu, dan semuanya tampak terus membaik. Aku memiliki keluarga kecil yang sangat manis. Dengan Clara dan Sara sebagai buah hati kami. Aku benar-benar bahagia, dan tidak membutuhkan lain untuk hidupku.

Saat itu, aku pikir aku yang akan meninggalkannya terlebih dahulu. Dan kami akan terpisah begitu saja, namun ketika aku membuka mataku pagi itu, aku sadar, aku tidak akan pernah bisa meninggalkannya sebenci apapun aku padanya. Selalu ia yang meninggalkanku, seperti saat ini. Ketika dengan tenang wajahnya terpejam di sampingku, aku mulai merasakan kedinginan dan kekosongan dalam hatiku. Namun melihat wajahnya yang begitu tenang, yang bisa ku lakukan hanya tersenyum tipis, kemudian mencium keningnya perlahan. Mengucapkan selamat pagi dan selamat tinggal – untuk yang terkahir kalinya.
Ya, pada akhirnya selalu ia yang meninggalkanku, namun kali ini aku tidak merasakan keperihan sama sekali. Karena ketika hujan itu datang, aku masih tetap bisa merasakan kehangatannya seperti dulu.
***
“Moma…” bisik putri cantik di sampingku. “Sebentar lagi hujan, sebaiknya kita segera pulang.” Ujarnya lagi. Aku mendongkak untuk melihat langit yang mendung kemudian mengangguk padanya. Tanpa ia sadari aku memang menunggu hujan itu datang, karena hanya dengan kehadirannya lah aku bisa merasakan kehadiran pria terbaikku.
“Tapi—“
“Moma, Clara sudah menunggu di mobil. Kalisa sudah mengamuk.” Tegur Sara dengan senyuman kikuknya. Aku terkekeh pelan. Ah Danis, kau lihat, semuanya tampak begitu indah bukan?
Sara memiliki dua mata indah sama seperti matamu, dan Clara mewarisi struktur wajahmu yang sempurna, dan bahkan sekarang cucu kecil kita, Kalisa, juga mewarisi bibir indahmu. Kau harus berbahagia di sana, karena aku juga bahagia di sini, dan aku tidak ingin mendengar keluhanmu akan hujan kala itu lagi.
Aku mencintai hujan. Kau tau itu. Seperti aku mencintaimu, dulu, sekarang dan selamanya.

THE END

LOVE RAIN part 1



“Ku pikir kau menyukai hujan.”
Aku tersentak mendengar suara merdu yang menyejukan itu, dan tersesat sejenak di kelamnya mata indah miliknya. Kemudian ketika otakku kembali menampar jiwaku yang lemah, aku menundukkan kepalaku lagi. Menatap genangan hitam dalam hatiku yang terasa semakin akrab dan jelas menyakitkan. Pemuda di hadapanku menghela nafas pelan, wajah tampannya menatap hujan dari balik jendela besar yang memisahkan kami dengan dunia luar. Tetesan-tetesan hujan itu terus membesar, menyerbu daratan Jakarta yang penuh debu.
 “Aku selalu berpikir kau menyukai hujan,” aku bisa mendengar senyuman simpul dari suaranya. Ia menyesap kopinya sekali, kemudian kembali menatap hujan. Seakan hanyut dalam setiap tetesannya yang indah. “Aku ingat kau selalu berteriak kegirangan ketika bertemu hujan, dan aku selalu menggodamu dengan memanggilmu katak.” Ia terkekeh pelan. “Wajahmu akan langsung tersenyum sumingrah ketika mencium aroma tanah yang di guyur hujan, bahkan saat tetesan pertama kali itu muncul kau sudah tersenyum.”
Aku masih terdiam, dengan susah payah aku menjaga air mataku agar tidak kembali mengalir di pipiku.
“Lalu ketika kelas usai, kau akan segera berlari ke luar kelas. Mengulurkan tanganmu untuk menyentuh tetesan hujan itu. Matamu akan terpejam dan senyummu akan merekah indah. Kau akan berdiri disana untuk beberapa saat, seakan menikmati hujan, seakan berbicara pada hujan,” Ia terdiam sejenak, kemudian kembali melanjutkan. “Kau bahkan membeli payung transparan agar bisa melihat hujan dengan sesuka hati. Saat itu, aku selalu berpikir jika kau adalah putri katak atau mungkin dewi air.” Guraunya.
Aku bukan seorang putri, batinku.
Seakan bisa membaca pikiranku, Ia tampak tersentak, dan diam untuk sejenak. Menyesap kopinya namun sama sekali tidak menatapku. Matanya masih terfokus memandang hujan yang semakin besar.
“Kau benar,” bisiknya pelan seraya meletakan cangkir kopinya di meja. “Sudah Lima tahun… sepertinya kau banyak berubah.” Lanjutnya lagi. Aku mengerutkan keningku.
Berubah katanya? Aku? Aku tidak pernah berubah. Dia yang berubah.
“Kau adalah gadis yang paling unik yang pernah ku temui selama ini. Kau tersenyum bahagia dalam kesendirianmu, ketika gadis-gadis lain menangis karena cinta monyet mereka. Kau benar-benar menakjubkan.”
Lagi-lagi aku terdiam, mulai merasa jengah dengan semua yang ku dengar dari mulutnya. Mulai merasa muak pada diriku sendiri yang tidak bisa menahan gemuruh hatiku yang semakin tak menentu.
“Kau gadis yang tidak bisa disentuh,” ujarnya sambil tersenyum. “Kau begitu jauh dari raihan semua tangan di sekelilingmu. Kau seakan memiliki duniamu sendiri, kau tersenyum bahagia di setiap harinya. Seakan kau tidak pernah memiliki rasa perih dalam jiwamu. Atau mungkin kata kesedihan bukanlah kata yang terdapat di dalam kamus kehidupanmu?” nadanya terdengar seperti pertanyaan. Namun aku sama sekali tidak ingin menjawabnya. Karena ia pun tidak menunggu jawabanku.
“Aku selalu bertanya-tanya apa hubunganmu dengan hujan. Mengapa kau tampak begitu bahagia ketika melihatnya,” suaranya terdengar ragu dan mengambang di sekeliling ruangan itu. “Tapi aku tidak berani menanyakannya padamu, sudah ku katakan bukan jika kau adalah sosok yang sangat sulit di sentuh. Aku selalu merasa takut setiap kali ingin berjalan mendekatimu, aku tidak tau mengapa. Namun hati kecilku khawatir jika kehadiranku hanya akan menghapus senyuman indahmu.”
Ya Tuhan… kumohon… jagalah hatiku. Bantulah aku untuk terus menjaga air mata itu. Aku sudah lelah menangis, aku sudah lelah…
“Setiap hujan itu datang, secara diam-diam aku akan mengintipmu dari balik jendela kelas kita. Aku akan berdiri di sana selama kau berbincang dengan hujan. Aku senang melihat senyumanmu. Wajahmu yang tenang akan langsung mendamaikan hatiku. Hembusan angin yang menemani hujan kala itu akan mengantarkan aroma harum tubuhmu sampai ke tempatku berdiri. Dan saat itu aku akan menghirupnya dalam-dalam, menyimpannya di memori khusus dalam otakku.”
Aku merasa tubuhku mulai menegang, dadaku benar-benar perih menahan isak tangis yang menumpuk hingga ke tenggorokan.
“Kau terlihat sangat cantik ketika tersenyum bersama hujan, langkahmu tampak seperti tarian di bawah hujan. Kau sama sekali tidak peduli dengan lumpur yang menciprati sepatu hitammu. Kau akan tersenyum lebar ketika gadis-gadis lainnya mengeluh karena hujan. Kau akan dengan tenang berjalan di bawah serbuan hujan.”
Aku tersentak ketika mendengar kegetiran dalam kata-katanya.
“Kau ingat ketika kita bertemu di perpustakaan hari itu? kau tidak akan pernah tau betapa aku bahagia melihatmu berdiri dengan tumpukan buku di tanganmu. Matamu yang indah membulat ketika melihatku datang, keningmu sedikit berkerut dan salah satu alismu naik. Tampak jelas jika kau heran melihatku di sana.” Ia mengusap peluhnya dengan punggung tangannya. “Dan sejujurnya aku juga merasa sangat heran dengan kedatanganku ke tempat itu. Aku adalah kapten basket, orang yang mereka panggil sebagai pangeran lapangan,” ia mendengus pelan. “Tempatku bukan di perpustakaan, tapi tepat di hadapannya, di lapangan basket yang tidak pernah sepi penonton ketika aku bermain.”
“Tapi aku sama sekali tidak menyesali kedatanganku hari itu ke perpustakaan. Aku bahkan tidak merasa malu. Aku justru merasa sangat bahagia ketika tau kau selalu duduk di tempat yang sama, di dalam perpustakaan. Di kursi yang terletak di sudut ruangan, tepat di depan sebuah jendela besar yang menghadap ke lapangan basket. Kau tau apa yang ku harapkan saat itu? konyol memang, namun aku berharap selama ini permainanku sedikit menarik perhatianmu, dan setidaknya kau menontonku dari dalam sana.”
Aku merasakan hatiku perlahan pecah. Bagai bongkahan es yang terlempar dari ketinggian, dan pecah berkeping ketika menyentuh daratan. Namun aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak lagi menangis untuknya. Tidak akan pernah lagi.
Aku bisa mendengarnya mengehla nafas lelah. Kemudian tangannya tidak lagi menyeka peluhnya, tapi ia menyeka air mata yang entah sejak kapan membasahi pipinya. Aku meringis perih menyadari kenyataan itu.
“Aku tau, aku adalah sosok yang paling pengecut di muka bumi ini. Aku bahkan tidak pernah bisa menyapamu, meskipun setiap hari aku akan berjalan di belakangmu, secara diam-diam tentu saja. Kau pasti akan bertanya-tanya siapa yang menyelipkan permen gula-gula manis ke dalam lokermu setiap usai pelajaran olah raga. Ya, itu aku. Aku ingin kau memiliki energi lagi. Dan dari yang ku dengar gula-gula itu akan memberikanmu beberapa persen energy tambahan untuk harimu.
“Kau juga pasti bertanya-tanya siapa yang selalu mengirimkan bunga-bunga itu di hari valentine dan ketika hari ulang tahunmu. Ya, itu juga aku. Aku benar-benar seorang pecundang. Aku bahkan akan berpura-pura tidak melihatmu ketika tanpa sengaja kita berjalan berpapasan di lorong sekolah yang sunyi. Aku akan dengan angkuh mengangkat wajahku, berjalan santai tanpa mempedulikanmu ketika yang sebenarnya ku rasakan dalam hatiku adalah gemuruh yang tak menentu.
“Aku pikir aku sudah mulai gila saat itu. Bahkan ketika akhirnya aku mulai memimpikanmu, memimpikan wajah indahmu ketika tersenyum bersama hujan. Ketika tanganmu terulur untuk meraih hujan yang seakan ikut tersenyum bersamamu. Tapi sekali lagi, aku adalah pecundang. Sebesar apapun rasa itu, aku akan selalu mengelak. Menutup mataku dari kenyataan itu.
“Dan hari itu, ketika pertama kali aku melihat tetesan air mata di kedua sisi wajahmu, aku sangat ingin memelukmu, menenangkanmu, mengingatkanmu jika masih ada aku di sini. Ada aku yang akan selalu menemanimu. Ada aku…” ia terdiam sejenak, mengatur nafasnya yang terdengar tak menentu. “Tapi aku terlalu takut. Aku takut kau justru tidak membutuhkanku. Aku takut kau justru akan menghindariku, dan akhirnya meninggalkanku, menutup kemungkinan untukku duduk diam-diam menatapmu dari balik jendela kelas kita.”
Aku sudah tidak tahan. Hatiku terpilin perih ketika mendengar luka dari dalam kata-katanya.
“Aku tau, kau sangat terpuruk ketika kedua orang tuamu meninggal. Aku tidak pernah melihat tatapan menyakitkan itu sebelumnya, aku tidak pernah. Dan sejujurnya, itu juga menyakitiku. Tapi bodohnya aku karena terus menjunjung tinggi egoku. Bodohnya aku!”
Tidak… ku mohon…
“Aku hampir saja membunuh diriku karena muak ketika akhirnya pemuda itu merangkul pundakmu, mengangkat lukamu. Menemanimu meneruskan hari, menyongsong esok yang tidak pernah terprediksi. Aku sangat menyesali kebodohanku. Kau tidak pernah tau betapa aku ingin membunuhnya, betapa aku ingin merebutmu dari pelukannya, betapa aku ingin memilikimu, memilikimu secara ekslusif untukku seorang.
“Tapi kemudian aku sadar. Aku bukanlah sosok yang baik untukmu, aku bahkan tidak pernah membuatmu tersenyum. Aku selalu memalingkan wajahku darimu, aku selalu menghindarimu, aku selalu menyakitimu dengan kata-kata ketusku. Aku akan selalu meninggalkanmu, tidak peduli berapa kali kau memanggilku kala itu.”
“Aku mencintaimu Elena…”
Air mataku menetes perlahan, hancur sudah seluruh bendungan yang selama ini ku jaga rapat-rapat. Hancur sudah seluruh dinding yang menahan hatiku agar tetap kokoh dan membeku dalam kesunyian itu. hancur sudah semuanya…
Aku ingin merengkuh wajahnya, mengatakan bahwa aku juga mencintainya. Namun kenyataan tentang kepergiaannya kala itu kembali menampar diriku.
Dia tidak akan pergi meninggalkanmu jika dia mencintaimu…. Teriak otakku dengan angkuh.
Aku ingin menggeleng dan menyangkal, namun sisi logisku tidak bisa di bohongi. Ia pergi tepat sebulan setelah kepergian orang tuaku. Ketika langkahku kian gontai di setiap harinya, ketika semua yang ku butuhkan adalah sebuah penopang lain agar aku tidak terjatuh dalam jurang duka yang semakin dalam. Namun pada kenyataannya ia pergi juga. Pergi meninggalkanku, meninggalkan sekolah kami, kenangan kami, meninggalkan hujan kami.
Ia tidak pernah tau betapa itu sangat menyakitkan hatiku. Dia salah jika selama ini beranggapan telah melukaiku dengan sikapnya yang dingin. Aku sama sekali tidak keberatan, aku tidak pernah terluka, asalkan bisa melihatnya, asalkan ia berada dalam jarak pandangku, aku akan selalu tersenyum, aku akan selalu tersenyum bahagia.
Tapi pada akhirnya ia tetap pergi meninggalkanku.
Dan hujan itu, semuanya terasa hambar ketika akhirnya ia berlalu pergi. Semuanya terasa semu, dan dingin. Hujan itu kembali menjadi hujan yang semua orang rasakan tanpa kehadirannya. Hujan itu akan sama menusuknya dengan hujan-hujan yang gadis lain rasakan!
Aku memang menyukai hujan, namun hanya ketika ia bersamaku. Karena senja berhujan kala itu lah aku pertama kali melihat sosok tampannya. Ketika ia berdiri mendengus sambil menutup pintu ruang kepala sekolah di belakang tubuhnya. Ia adalah orang asing yang langsung membuat hatiku terketuk. Orang asing yang mengubah senja berhujanku yang dingin terasa begitu hangat dan manis. Dan sejak saat itu aku tau, aku menyukainya.
Aku menyukai pemuda itu. Pemuda tampan yang menjadi murid baru di kelasku, duduk berselang tiga kursi di belakang kursiku. Sosok rupawan yang selalu menjadi pusat fokusku ketika duduk di dalam perpustakaan dengan buku terbuka di hadapanku.
Aku hanyalah gadis biasa, dan ketika merasakan hal aneh itu, aku hanya bisa terdiam seribu bahasa. Tersenyum diam-diam dalam setiap kedipan mataku. Mencuri pandang sosoknya dalam kesunyian ruang perpustakaan. Mengaguminya sepenuh hati tanpa sekalipun menyentuh sosoknya.
Tapi aku tau.
Aku mencintainya.
Sangat.

“Aku sudah melakukan banyak kesalahan Elena, aku sudah sering kali mengambil langkah yang salah. Aku sudah sering merasa terpuruk karena egoku sendiri. Dan saat ini, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku lagi. Aku ingin bersamamu, aku bahkan akan memaksamu untuk tetap tinggal bersamaku, tidak peduli apakah kau suka atau tidak. Tapi aku akan tetap memaksa. Aku akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkanmu. Aku sungguh-sungguh.”
Tubuhku membeku mendengar pengakuannya. Tidak! Ia tidak perlu memaksaku, karena aku akan senang hati berjalan menghampirinya. Aku sangat mencintainya, dan tidak ada alasan untukku, untuk tetap berdiri dan akhirnya menjauh darinya. Tidak lagi.
“Jadi ku mohon Elena… sadarlah…”

DEG…
Kepalaku seakan terbentur begitu saja, membentur segala kenyataan yang sejenak terlupakan. Dadaku mulai terasa sesak karena tersesat dalam kegelapan itu. Aku ingin menggerakan tubuhku, atau mungkin sekedar menggerakan tanganku untuk dapat menyentuhnya, menggenggam tangannya dan merasakan keperihannya. Meringankannya, menyeka air matanya.
Tapi tubuhku kaku tak bisa bergerak. Kedua tanganku membeku di kedua sisi tubuhku yang terbalut selimut rumah sakit. Bibirku diam, terkunci rapat. Bahkan kelopak mataku tetap tertutup tak bergerak. Aku ingin berteriak, aku ingin memanggil namanya, dan mengatakan bahwa aku juga mencintainya!!! Aku ingin hidup bersamanya, selamanya.
“Ku mohon Elena… bangunlah…” bisiknya pelan. Aku bisa merasakan semburan ketakutan dari suaranya.
Ya, Danies… aku akan sadar untukmu…
“Berusahalah Elena, bertahanlah… ku mohon,”
Tidak. Kau tidak perlu memohon. Aku akan terus bertahan. Aku akan terus bertahan di sini untukmu dan untuk diriku sendiri.
“Aku mencintaimu Elena,” ia mengecup punggung tanganku dengan perlahan. Membuat hatiku jatuh begitu saja, meninggalkan tubuhku yang kaku tak bergerak karena kecelakaan dua atau tiga hari yang lalu.
Aku juga mencintaimu Danies melebihi apapun di dunia ini. Aku mencintaimu!
Tiba-tiba aku merasakan sentuhan hangat di keningku, lalu turun ke bibirku. Ia menciumku dengan sangat lembut, membuatku bisa merasakan seluruh duka yang tersembunyi di balik jiwanya.
“Tapi jika memang sudah waktunya, aku tidak akan menahanmu lagi. Sudah banyak kesalahan yang ku lakukan selama ini. Dan aku tidak ingin melakukanya lagi, tidak untuk menyakitimu.”
Apa?!?!
Dia pasti bercanda.
“Aku menyayangimu Elena, aku takkan bisa hidup tanpamu. Dan keputusanku untuk pergi saat itu adalah hal terburuk yang pernah ku lakukan. Aku minta maaf,”
Kalau begitu jangan biarkan aku pergi saat ini.
“Tapi aku tidak akan menahanmu sekarang.”
TIDAK!
“Kau berhak pergi sesukamu, aku pantas mendapatkan ganjarannya.”
TIDAK DAN TIDAK! Aku tidak ingin pergi kemanapun Danies, tidak sama sekali!!!!
“Kau hanya perlu tau, cintaku untukmu tidak akan pernah hilang. Sampai akhirnya aku pergi menyusulmu. Tapi kau tau, itu tidak akan memakan waktu lama. Aku akan terus memohon pada Tuhan agar segera menyabut nyawaku.”
Tidak Danies… ku mohon…
“Selamat tinggal Elena. Aku mencintaimu,” bisiknya pelan.
Dan air mataku menetes semakin dalam, bisa ku dengar suara hujan di luar sana semakin membesar, bahkan kini petir tampak saling bersahut-sahutan. Menemaniku yang terjerumus semakin dalam ke dalam lukaku. Jika sosok yang menjadi penyemangat hidupku sudah menyerah, apa lagi yang bisa ku lakukan? Apa lagi yang bisa ku lakukan selain ikut menyerahkan diri dan jiwaku untuk masuk semakin dalam pada kelamnya jurang kepedihan itu sendiri.
Danies mungkin benar, aku memang merasa lelah. Aku lelah menghitung hujan, dan mulai menyadari bahwa yang ku lakukan hanyalah sia-sia belaka. Aku tidak akan pernah bisa menghitung hujan sekeras apapun aku berusaha. Seperti cintaku pada sosok Danies, mungkin sudah waktunya aku berhenti berharap, dan menyerahkan jiwaku pada sisi kelam lain dalam dunia ini. Kematian…

***