Aku
pasti bermimpi.
Ya,
tentu saja aku pasti bermimpi… mana mungkin gadis biasa sepertiku bisa
mendapatkan anugrah seindah ini, pria setampan ini, dan kesempatan yang
seistimewa ini.
Terima
kasih Tuhan, atas apa yang telah kau anugrahkan pada diriku. Terima kasih
banyak, terima kasih…
***
Aroma
melati itu mengusik indra penciumanku. Harumnya yang indah menanangkan
jantungku yang terus berdetak kencang.
“Kau
harus tenang sayang…” bisik ibuku dengan lembut. Aku terkikik pelan, bagaimana
aku bisa tenang menjelang detik-detik pernikahanku dengan pria yang paling ku
cintai???
“Kau
benar-benar cantik…” bisik Irina, adikku. Aku tersenyum tipis kepadanya, dengan
lembut kubelai tatanan bunga melati di sisi kanan leherku. Benar-benar mungil,
benar-benar cantik, dan benar-benar sakral.
Tidak
seperti gadis pada umumnya, aku hanya menginginkan pesta yang sederhana untuk
pesta pernikahanku, karena sesungguhnya, sampai menginjak ke jenjang pernikahan
saja sudah menjadi sebuah anugrah terbesar dalam hidupku.
“Ssstt…
jangan menangis, kau akan merusak riasanku. Dan sebentar lagi acaranya akan
dimulai. Kau tentu tidak ingin memperlihatkan wajah yang bernoda air mata pada
calon suamimu kan?” Tanya Irina. Aku langsung menggeleng. Aku tidak ingin
mengecewakan pria itu, tidak pernah ingin mengecewakaannya.
“Penghulunya
sudah datang,” ujar ayahku dari balik pintu. Ibu menggenggam erat jemariku dan
tersenyum dengan pandangan binar yang luar biasa indah. Aku membalas
senyumannya dengan kebahagiaan yang tiada tara. Akhirnya putrimu akan menikah
ibu… menikah dengan seorang pangeran tampan yang luar biasa…
Kemudian
kerumunan orang itu memasuki ruangan putih tempatku berada. Mereka tampak
begitu bahagia dengan tatapan haru yang memancarkan suka cita.
Meski
Irina sudah mengingatkanku untuk tidak menangis, tapi toh akhirnya aku tetap
menitikan air mata ketika melihat sosok jangkung calon suamiku itu. ia
tersenyum padaku dengan kebahagiaan yang tulus. Aku membalas senyumannya.
Kisahku
bukanlah kisah dongeng, namun aku merasa menjadi seorang putri yang mendapatkan
anugrah terbesar dengan bersanding bersama pria terhebat di muka bumi ini,
pangeran hatiku, pelita dalam gelapku, suamiku tercinta.
Ijab
Kabul itu berjalan lancar, membuat desahan lega orang-orang di sekelilingku
terdengar keras. Aku melirik kedua orang tuaku dengan mata yang basah. Perih bercampur
bahagia memenuhi relung hatiku. detak jantungku mendadak terpacu karena
kebahagiaan itu.
“Elena…”
tiba-tiba seorang lelaki paruh baya menegurku. Aku terkesiap dan berusaha
menenangkan detak jantungku. Pria di sampirngku menatapku dengan cemas.
“Aku
baik-baik saja,” bisikku menenangkan. Ia tersenyum tipis, namun aku masih bisa
melihat ketakutan itu dimatanya.
“Aku
tau kau baik-baik saja,” bisiknya lembut, wajahnya sudah kembali tenang. “Tenanglah
istriku,” bisiknya seraya membelai lembut rambutku. “Setelah ini tidak akan ada
yang mampu memisahkan cinta kita…” bisiknya. Suasana diruangan putih itu
mendadak hening. “Bahkan jika memang kelak Tuhan mengambil salah satu diantara
kita. Aku tetap akan mencintaimu,”
Aku
tersenyum dan mengangguk. Aku tau itu.
“Aku
juga mencintaimu suamiku, bahkan sampai seribu tahun yang akan datang pun aku
akan terus mencintaimu, meski mungkin aku tidak bisa terus berada di sampingmu,”
bisikku pelan.
Ia
tersenyum dan mengecup jemariku dengan lembut. “Dokter, aku sudah siap untuk
dioprasi pengangkatan kanker itu,” bisikku pelan. genggaman suamiku
semakin erat, senyumannya terus menggembang begitu pula dengan senyumanku. Setidaknya
kami berdua tidak ingin menunjukan tangis di saat-saat terakhir yang kami miliki. mungkin kematian itu akan memisahkan kami, tapi tidak akan menghancurkan cinta yang terjalin diantara kami, bahkan sampai seribu tahun yang akan datang.
1 komentar:
thank you very much for the information provided
Posting Komentar